[Book Review] The Boy in the Striped Pyjamas by John Boyne

book_info

stripedbook_blurb

Kisah tentang Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis ini sulit sekali digambarkan. Biasanya kami memberikan ringkasan cerita di sampul belakang buku, tapi untuk kisah yang satu ini sengaja tidak diberikan ringkasan cerita, supaya tidak merusak keseluruhannya. Lebih baik Anda langsung saja membaca, tanpa mengetahui tentang apa kisah ini sebenarnya.

Kalau Anda membaca buku ini, Anda akan mengikuti perjalanan seorang anak lelaki umur sembilan tahun bernama Bruno (Meski buku ini bukanlah buku untuk anak kecil). Dan cepat atau lambat, Anda akan tiba di sebuah pagar, bersama Bruno.

Pagar seperti ini ada di seluruh dunia. Semoga Anda tidak pernah terpaksa dihadapkan pada pagar ini dalam hidup Anda.

thou-ghtsSuatu hari, Brun0 mendapati Maria, pelayan keluarganya, mengepak barang-barangnya. Sejak saat itu, garis hidup Bruno berubah. Ayahnya adalah ‘orang penting’ di dunia militer Jerman, bahkan The Fury (Hitler) beberapa kali datang menemui orangtuanya di rumahnya.

Keluarga Bruno pindah ke Out-With (Auschwitz), tempat orang Yahudi ditempatkan di kamp konsentrasi. Awalnya Bruno sedih, dan mengalami homesick. Ia teringat ketiga sahabatnya, Karl, Martin, dan Daniel. Tetapi, tentu saja Bruno tidak bisa kembali ke Berlin karena ayahnya adalah komandan tentara yang bertugas di Auschwitz.

Bruno yang menyukai petualangan, mulai berani menjelajah daerah yang membuat ia penasaran: pondok-pondok dengan kumpulan orang berpiyama garis-garis yang kerap ia perhatikan dari jendela kamarnya. Karena sangat penasaran, ia menelusuri jalan hingga sampai di daerah gersang yang dihadang oleh pagar kawat berduri. Di sana ia berkenalan dengan Shmuel, seorang anak Yahudi yang lahir pada tanggal, bulan dan tahun yang sama dengan Bruno.

Persahabatan backstreet mereka berlangsung hingga suatu saat, karena ibu Bruno tak tahan dengan suasana mencekam di Auschwitz, Bruno, Gretel (kakak Bruno) dan ibunya diminta untuk kembali ke Berlin. Bruno sedih karena ia mulai bersahabat dengan Shmuel.

Bruno adalah anak yang cerdas dan penuh dengan curiosity. Sedangkan Shmuel adalah anak dengan hati yang tulus. Pagar kawat pemisah antara dunia luar dengan kamp konsentrasi adalah simbol tentang ‘perbedaan’ yang memagari orang-orang untuk ‘berbaur’.

Novel ini sukses membuat gue banjir airmata, memikirkan Bruno dan Shmuel, hingga sampai saat ini masih belum bisa move on ke novel lain. (Damn you, John Boyne).

Gue bakal baca ulang novel ini dan mewariskannya pada AJ.

bookj5

20130322-091443.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on June 3, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. Baru beli buku ini kemarin, tapi udah captivated d bab-bab awal, dan ga sabar buat habisin hehehe…. Yes, mbak, salah satu kenapa saya ga suka pinjem buku itu supaya kalo beli kan bisa diwarisin kepada generasi selanjutnya hahahaha

  2. Novel ini ‘ganggu’ di pikiran berhari-hari setelah baca. A lil bit spooky, tapi tetep netesin air mata ><

    Malah awalnya sempet gak tertarik baca, tapi setelah baca gak nyesel karna buku ini bikin gak bisa berhenti baca mbaaaaaaaaaaaaaaa……

  1. Pingback: Jan – June Wrap Up Post | lustandcoffee

  2. Pingback: End of the Year #ReadingCram: Top Ten Books in 2013 | lustandcoffee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: