Monthly Archives: September 2013

#STPC Interview: Meet the Author Robin Wijaya @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

robin copy

Akhirnya sampai juga kita di penghujung program #STPC di blog ini. Karena ada hal yang harus eykeh kerjakan dan tidak bisa ditunda, jadilah postingan ini agak terlambat. Maafken ya.

Kali ini, Lust and Coffee berhasil mewawancarai Robin Wjaya, penulis novel Roma: Con Amore. Seperti apa sih proses pembuatan novel Roma? Simak aja wawancara berikut ya 🙂

 

 

1. Mengapa memilih Roma sebagai setting novelnya?

Sebetulnya, waktu pertama kali ditawari ikutan STPC, ada 3 kota yang masih tersisa di list: London, Paris dan Roma. Waktu milih 1 di antara 3 kota itu lebih kayak cap-cip-cup sih. Spontan aja bilang ke editor ‘Roma’, lalu dijawab ‘pilihan yang tepat sekali’ (eh, berasa lagi pesan pizza ya). Tapi rasanya pilihan tersebut memang tepat. Saya menyukai Roma: kesenian, sejarah, makanan dan liga Italianya.

 

2. Apa kesan pertama Robin ketika diminta untuk menulis novel dengan setting Roma?

Excited! Saking excited-nya, satu hari pertama yang harusnya dipakai untuk nulis sinopsis malah cuma diisi bengong-bengong karena bingung mau nulis apa. Hehehehehe.

 

3. Satu kata yang bisa mendeskripsikan Roma:

Hangat

 

4. Berapa lama proses menulis novel ini?

3 bulan. Nggak dalam sepanjang waktu itu nulis terus ya, kadang-kadang diisi bengong dan ngopi-ngopi. Proses nulis paling maksimal di 1 bulan terakhir.

 

5. Apakah ada pengalaman menarik selama proses penulisan Roma?

Ada. Pertama riset. Baru kali ini nulis novel bersetting luar negeri. Dan karena saya orangnya melankolis, kalau nyari satu lokasi yang akan dijadikan setting saya mesti tahu sedetail-detailnya seperti: rute transportasi ke sana dan berapa lama, nama gang-gang kecil di sekitar tempat itu, ada toko apa aja, bagaimana suasananya, jalanannya berbatu atau aspal, bagaimana cuacanya, dll.

Kedua adalah pengalaman sejarah. Menjelajah Roma berarti menjelajah peninggalan budaya masa lalu. Saya menyukai cerita-cerita epic dan kesenian, sisa-sisa kejayaan emporium Romawi yang masih berdiri sampai sekarang, dan cerita tentang Michelangelo sendiri merupakan pengalaman menjelajah masa lalu yang menyenangkan selama menulis novel Roma ini.

 

6. Jika novel Roma difilmkan, siapa yang cocok untuk memerankan:

Agak susah ya, karena bicara tokoh dan karakter seperti bicara manusia sebenarnya. Tapi waktu menulis Roma, saya menggunakan foto-foto aktor dan aktris untuk menggambarkan sosok tersebut. Ini nih foto yang saya pajang di desktop selama nulis Roma. Mirip nggak kira-kira sama bayangan teman-teman?

con amore roma

7. Berapa lama riset yang dibutuhkan sebelum menulis novel ini? Apakah ada narasumber yang membantu?

1 bulan untuk riset sendiri. Memang agak lama sih, karena kebanyakan diisi untuk ngumpulin data dari internet, terus dibaca satu-satu.

Ada beberapa teman juga yang membantu. Untuk Michelangelo, Prisca Primasari (penulis Paris) bantuin saya nyari buku tentang maestro tersebut (makasih ya, Pris). Untuk kota Roma nya sendiri blogging aja, nanya-nanya teman blogger yang pernah travelling ke sana. Ada juga info-info yang didapat dari perpustakaan sekolah. Dan bersyukur sekali sekarang ada youtube yang bisa ngasih gambaran real suasana di kota tersebut.

 

8. Bagaimana cara Robin melakukan riset untuk tokoh?

Physically lewat gambar yang tadi di atas. Untuk karakter, begitu melihat orangnya aku langsung membayangkan kalau si A tipe orang yang seperti apa, kebiasaannya apa, bagaimana cara dia berpikir, bertindak, dll.

Mungkin agak lebih susah di profesi tokohnya. Biar bagaimana pun, orang dengan latar belakang profesi yang berbeda punya kebiasaan, tempat hang out, gaya penampilan, lingkungan pergaulan, dan komunitas yang berbeda juga. Dan almost semua yang disebut di novel ini based on real, termasuk komunitas Sanggar Pejeng, seniman jalanan yang disebut-sebut Dewa di kawasan Glodok sampai Kota Tua.

 

9. Adakah tokoh yang mirip dengan kepribadian Robin?

Kalau kepribadiannya yang mirip sih kayaknya nggak, tapi saya dan Leo sama-sama suka melukis. Bedanya, Leo lebih ke lukisan realis, aku suka vignet dan surealis

 

10. Ada pesan untuk penulis baru yang ingin mengirim naskah ke Gagasmedia? Apa saja yang perlu diperhatikan?

Ini udah banyak banget yang nanya di twitter dan facebook ya. Dan kebanyakan tentang pertimbangan-pertimbangan naskah apa yang layak diterima oleh GagasMedia. Menurut saya, kita nggak akan tahu kemampuan kita kalo nggak mencoba. Kalau memang punya naskah, dikirimkan saja. Toh, hasilnya akan ketahuan setelah naskah dikirim. Daripada numpuk di laptop jadi unsent draft.

Semangat mengirimkan naskahmu… biar saya bisa tambah teman penulis yang banyak 😀

 

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^

Sama-sama, terima kasih juga sudah menyediakan ruang untuk berbagi cerita tentang novel Roma

 

It’s a wrap! Terima kasih banyak untuk Gagasmedia, Bukune, para penulis STPC, editor, Bang Ino, juga proofreader. Tidak ketinggalan cover designernya juga yang sudah berpartisipasi dan bersedia saya rempongin selama event STPC ini. Terima kasih juga untuk teman-teman pembaca yang rajin menjambangi blog ini untuk meninggalkan komentar.

Sampai ketemu tanggal 5 Oktober untuk pengumuman pemenangnya.

 

Tschuss,

20130923-121453.jpg

Advertisements

[Book Review+Giveaway] Roma: Con Amore by Robin Wijaya @Gagasmedia

20130819-105102.jpgbook_info

17446796

Judul Buku: Roma: Con Amore
Penulis: Robin Wijaya
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: Februari 2013, Cetakan Pertama
Jumlah Halaman: 384
ISBN: 9789797806149
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Travel Literature
Kalimat pertama:

book_blurb

Pembaca tersayang,

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cerita berujung cinta. Robin Wijaya, penulis novel Before Us dan Menunggu mempersembahkan cerita cinta dari Kota Tujuh Bukit.

Leonardo Halim, pelukis muda berbakat Indonesia, menyaksikan perempuan itu hadir. Sosok yang datang bersama cahaya dari balik sela-sela kaca gereja Saint Agnes. Hangatnya menorehkan warna, seperti senja yang merekah merah di langit Kota Roma. Namun, bagaimana jika ia juga membawa luka?

Leo hanya ingin menjadi cahaya, mengantar perempuan itu menembus gelap masa lalu. Mungkinkah ia percaya? Sementara sore itu, di luar ruang yang dipenuhi easel, palet, dan kanvas, seseorang hadir untuk rindu yang telah menunggu.

Setiap tempat punya cerita. Roma seperti sebuah lukisan yang bicara tanpa kata-kata.

Enjoy the journey,

EDITOR

thoughts

——————————————————————————————————————————————————————-

“Dia? Leo menyeringai kecil ketika mengenangnya. Kalau pun takdir mengharuskan mereka bertemu lagi, suatu hari nanti, Leo berharap semoga ada cara lebih baik untuk mempertemukan mereka, bukan karena masalah lukisan yang tertukar.

Leonardo Halim adalah seorang seniman muda Indonesia yang mempunyai masterpiece seperti jajaran pelukis kelas dunia. Ia kemudian mendapat kesempatan untuk ikut proyek pameran seni di Roma, Italia. Kemampuan melukisnya bahkan diakui di Roma, dan salah satu lukisannya yang berjudul Tedak Siten terjual di pameran tersebut. Akan tetapi masalah datang saat si pembeli mengatakan bahwa lukisan tersebut tidak sampai ke tangannya – padahal kurir sudah sampai di alamat pengiriman. Masalah itulah yang mempertemukan Leo dengan seorang perempuan Indonesia di Roma bernama Felice Patricia.

“Bayangan dan tingkah polah perempuan itu masih melekat jelas dalam kepalanya. Aneh, mestinya sesuatu yang menyebalkan harus segera diusir pergi, bukan malah berdiam dan mengambil tempat dalam memori…. Kejadian hari ini… Mungkin ia akan ingat selamanya.

Pertemuan pertama Leo dan Felice tidak berjalan menyenangkan; karena meskipun sebenarnya Felice yang bersalah, perempuan itu sama sekali tidak mau mengakuinya. Keduanya pun berpisah dengan kesan pertama yang tidak begitu baik. Setelah menyelesaikan pameran tersebut, Leo berpulang kembali ke Indonesia. Kehidupannya di Indonesia ia habiskan bersama dengan Marla, kekasihnya, yang selalu merawat Leo saat ia terlalu sibuk mengerjakan lukisan. Tak lama kemudian, sahabat Leo bernama Dewa menawarkan lelaki itu untuk ikut sebuah pameran seni di Bali. Setelah mendapat persetujuan dari Marla, akhirnya Leo berangkat untuk menghadiri pameran itu.

Sedangkan kehidupan Felice di Italia ia habiskan dengan sahabatnya, Tenny, dan kekasihnya yang bernama Franco – yang adalah seorang pemain sepakbola. Bagi Felice, Franco adalah sosok kekasih yang begitu mencintainya dan seringkali menghujaninya dengan gombalan-gombalan yang manis. Meskipun Franco selalu sibuk, Felice selalu berusaha bertemu dengan lelaki itu – terlebih lagi ia akan segera berpulang ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan kakaknya, Anna. Awalnya Felice sempat ragu soal kepulangannya, karena ia tidak ingin bertemu Mama. Sejak Mama-nya berpacaran dengan seorang lelaki beristri, hubungan Felice dengannya semakin memburuk. Namun Felice tetap memantapkan hati, dan berangkat ke Bali.

“Suatu hari. Suatu waktu. Ketika kita dipertemukan kembali, tanyakan pada hati; apakah kita akan mengulang cerita lalu atau mengisinya dengan yang baru?

“Kita menggantung kata perpisahan. Diam-diam menaruh harapan dan keinginan untuk dipertemukan lagi kelak.

Leo dan Felice pun dipertemukan kembali di Bali. Felice mengalami pertengkaran hebat dengan Mamanya, membuat ia pergi keluar begitu saja dari penginapan. Tidak mempunyai arah tujuan, Felice menemukan brosur pameran seni yang diadakan di Taman Budaya – dan memutuskan untuk pergi ke sana. Nama Leonardo Halim adalah satu-satunya yang ia kenal, dan Felice memutuskan untuk menemui lelaki itu. Tanpa mereka rencanakan, secara alami pembicaraan pun mengalir, kebersamaan keduanya pun berlangsung lama. Leo menceritakan banyak tentang lukisan dan idolanya, Michelangelo. Satu waktu itu menjadi momen yang berkesan untuk keduanya.

“Tak pernah Felice merasa hatinya demikian hangat, seperti disinari matahari musim semi yang selalu mampu memberi kehidupan baru.
Dan lebih dari itu semua, lelaki itu tahu, bagaimana cara untuk membuat Felice merasa dihargai.

Meskipun keduanya harus berpisah sekali lagi, Leo dan Felice dipertemukan kembali di Roma – tempat mereka pertama kali bertemu. Perlahan-lahan tanpa disadari, perasaan yang lebih mulai muncul dalam hati masing-masing. Meskipun demikian, ada banyak sekali masalah yang ada di sekitar mereka. Fakta tentang Franco, masalah keluarga Felice yang tak kunjung selesai, dan juga fakta tentang kekasih Leo yang sama sekali tidak pernah diketahui oleh Felice. Kisah cinta mereka yang bermula di Roma, lukisan The Lady yang amat berharga bagi keduanya, akankah berakhir dengan bahagia?

Cinta? Tenny menyebutnya begitu. Terdengar aneh dan naif, bahkan keduanya tak punya status spesial. Tapi bukankah cinta memang datang perlahan? Menghuni hati tanpa perencanaan lebih dulu? Bahkan, sebelum perasaan terungkap, manusia sudah lebih dulu menyimpannya.”
Baca kisah selengkapnya di Roma: Con Amore.
Ini adalah buku ketiga Robin Wijaya yang aku baca setelah Before Us dan Menunggu; dan lewat Roma: Con Amore aku masih sangat terkesan dengan penulisannya yang manis dan mengalir dengan baik. Membaca buku ini seperti membawaku ke Roma dan melihat berbagai macam tempat yang indah. Terlebih lagi dengan kisah cinta yang manis, dan latar belakang karakter yang dalam, cerita ini menjadi semakin mudah untuk kunikmati.Buku ini ditulis dari sudut pandang orang ketiga, dan tema yang diangkat adalah tentang romance (tentunya), dan juga terselip tentang keluarga. Alurnya tentu saja dimulai dengan perkenalan dua karakter utama kisah ini: Leo dan Felice. Ceritanya dimulai dengan pertemuan keduanya yang tidak berjalan dengan baik. Kemunculan pertama Felice dalam cerita ini membuat karakternya terkesan angkuh, sombong, dan sama sekali tidak mau mengakui kesalahannya. Sedangkan Leo adalah karakter yang amat cool dan tenang menghadapi segala sesuatu. Meskipun awalnya aku sedikit sebal dengan karakter Felice, pada akhirnya aku merasa itu adalah karakteristik yang terbentuk oleh latar belakangnya – sehingga aku bisa memaklumi. Setelah perpisahan di Roma, cerita tentang Leo dan Felice berjalan sendiri-sendiri. Sehingga aku merasa gatal dan ingin terus membalik halaman karena ingin melihat lebih banyak interaksi antara Leo-Felice. Seiring dengan perkembangan hubungan Leo-Felice, banyak terselip penjelasan yang lebih mendalam tentang keluarga Felice, hubungan Leo dan Felice dengan kekasih mereka, dan lain sebagainya. Salah satu hal yang sedikit aku sayangkan adalah saat Leo-Felice berkeliling Roma dan mengunjungi tempat-tempat populernya. Meskipun aku senang karena ada banyak nama-nama tempat di Roma yang bisa aku ketahui, tetapi aku berharap akan terjadi lebih banyak hal saat mereka berwisata – dibandingkan hanya penjelasan dan fakta tentang tempatnya 🙂 Akan tetapi setelah bagian itu, konflik semakin muncul ke permukaan dan alurnya mencapai klimaks – sehingga aku sama sekali tidak ada waktu untuk merasa bosan. Aku juga cukup puas dengan ending-nya yang menyelesaikan semua masalah dengan baik pada akhirnya.

Dari seluruh karakter yang ada, aku rasa karakter Felice yang paling terasa dalam karena pembaca juga mengetahui latar belakang keluarganya. Akan tetapi karakter yang menjadi favoritku dalam cerita ini adalah Marla. Meskipun aku tidak akan menceritakan konfliknya secara detil (no-spoiler), tetapi aku sangat kagum dengan tindakan dan pilihan yang diambil oleh Marla. Jika aku dalam posisi yang sama sepertinya, mungkin aku akan melakukan hal yang serupa. Kemunculan Marla dalam cerita ini memang tidak banyak, tetapi ia adalah karakter yang meninggalkan kesan paling dalam untukku 🙂

Secara keseluruhan, aku sangat menikmati kisah cinta manis yang dituliskan oleh Robin Wijaya ini. Gaya penulisannya yang mengalir dilengkapi dengan deskripsi detil membuatku merasakan suasana Roma yang terasa romantis. Beberapa penggunaan bahasa Italia dalam ceritanya membuatku sedikit belajar 🙂 Aku selalu menikmati karya tulisan Robin Wijaya dan akan menantikan karya yang selanjutnya :))

Reviewed by.stefaniesugia♥

.STPCGA

Yuk, yang mau mendapatkan 3 paket novel serial #STPC @Gagasmedia @Bukune merapat kemari. Caranya gampang banget:

1. Follow akun @Gagasmedia @Bukune dan @robinBIEwijaya

2. Twit link review + giveaway ini dengan kalimat seperti ini:

Mau dapetin paket novel #STPC dari @yuska77 @Gagasmedia @Bukune? Klik aja

3. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel Roma: Con Amore. Jangan lupa untuk mencantumkan:

Nama, akun twitter, dan email.

4. Setiap komentar yang kamu tinggalkan di tiap postingan dan twit selama proyek #STPC berlangsung akan mendapat 1 entry. Misalnya, kamu ngetwit link review + giveaway Roma juga meninggalkan komentar, maka kamu mendapatkan 2 entries.

5. Jangan lupa, besok ada postingan interview bersama Robin Wijaya. So, stay tuned ya.

6. Giveaway STPC dimulai dari tanggal 1 September – 30 September 2013. Kamu bisa mengisi kolom komentar + tweet giveaway ini selama event STPC berlangsung.

7. Pengumuman pemenang tanggal 5 Oktober 2013

Good luck 🙂

20130330-114856.jpg

#STPC Interview: Meet the Editor Widyawati Oktavia @Bukune

20130819-105102.jpgwidya copy

Ketemu lagi dengan segmen Meet the Editor. Senang banget bisa menculik mbak Widya untuk bertanya-tanya tentang rahasia dapur STPC Bukune. Langsung aja kita simak wawancara berikut 🙂

 

Bisa diceritakan bagaimana proses novel serial STPC, mulai dari ide, brainstorming, hingga pemilihan penulis?

Ide serial STPC ini diajukan oleh Mbak Windy Ariestanty—pemred GagasMedia & koordinator Bukune—ke GagasMedia dan Bukune. Kami diharapkan menggarap seri ini bersama agar memberi warna pada novel-novel yang sudah ada.         GagasMedia dan Bukune berbagi negara-negara yang akan diceritakan, lalu kami mengonsep ciri khas penerbit masing-masing. Hal ini termasuk penulis, isi cerita, setting isi, desain cover, dan sebagainya. Setelah hal tersebut ada, Bukune dan GagasMedia duduk bareng untuk sharing dan brainstroming agar konsep yang diberikan kepada pembaca lebih maksimal dan ada ciri “pembeda” juga di antara kedua penerbit.

Untuk pemilihan penulis sendiri, berdasarkan pertimbangan penerbit masing-masing. Kalau di Bukune, kami menawarkan negara dan “gong” waktu (sunset, sunrise, night, sunny, rainy, snowy) kepada penulis yang ditunjuk. Penulis dapat memilih negara yang lebih dikuasai dan dipersilakan saling diskusi juga jika ada yang ingin tukar negara dengan penulis lain. Outline para penulis ini dikirimkan ke semua penulis yang ikut proyek ini untuk menghindari kesamaan cerita. Waktu penulisan dibagi berdasarkan urutan cerita yang akan terbit. Hal ini juga didiskusikan dengan para penulis agar deadline yang dibuat sesuai dengan jadwal mereka.

 

Apa mbak Widya suka traveling? Jika iya, dari semua tempat yang dibuat setting novel STPC, kota/negara mana yang paling ingin mbak kunjungi?

Ya, saya termasuk orang yang suka traveling. Dulu, sempat menelusuri beberapa gunung dalam beberapa pendakian bersama teman-teman kuliah. Kalau untuk harapan, saya sangat ingin mengunjungi Venesia. Ingin naik gondola dan menyusuri lorong-lorong tempat yang digambarkan indah dan unik itu. Juga pastinya ingin mendapatkan suasana romantisnya. 😀

 

Ada pengalaman menarik sewaktu mengedit novel-novel STPC?

Yang paling menarik saat mengedit adalah semua cerita di seri STPC membuat saya ingin mengunjungi tempat-tempat itu. Jadi, setiap ganti lokasi cerita, berganti lagi kepenginannya. Pastinya, ingin juga merasakan kisah cinta dan momen-momen romantis seperti yang dialami tokoh-tokohnya. :’)

 

Saya terkesan dengan cover novel STPC Bukune terkesan klasik. Dari semua novel tersebut, mana yang covernya paling Mbak sukai? Alasannya?

Kalau disuruh memilih, saya bingung, nih, soalnya semua cover punya keunikan tersendiri. Juga mewakili setiap tempat dalam cerita tersebut. Ilustrasi yang ada di cover dipilih yang paling khas dan paling menarik dari lokasi yang ada di cerita. Jadi, saya suka semuanya. Langsung tergambar “cerita” yang ada di balik “tempat” tersebut.

Tapi, aura klasik tempat-tempat di Barcelona membuat saya semakin ingin ke Venesia. Membuat saya berpikir, kalau tidak kesampaian ke Venesia, Barcelona juga boleh. Ada yang mau mengajak saya ke sana? :p

 

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuat sebuah novel, mulai dari awal hingga selesai editing?

Untuk seri STPC ini, para penulis diberi waktu sekitar tiga bulan untuk menyelesaikan novelnya. Waktu editing dan revisi sekitar satu-dua bulan, tergantung tingkat revisinya.

 

Seandainya Mbak Widya diminta untuk menulis novel STPC, lokasi yang menurut Mbak paling keren untuk dijadikan setting di mana?

Saya ingin menulis cerita dengan lokasi Venesia. Ada banyak cerita yang sepertinya bisa saya ceritakan dari sana, terutama kisah cinta. Dengan latar senja, mungkin saja, tokoh saya menghanyutkan cinta dari gondola atau juga malah menemukan sebuah cinta tak terduga.

 

Satu kata yang mewakili (judul-judul novel sbb):

Manhattan: Sunset

Barcelona: Sketsa

Zurich: Salju

Beijing: Nostalgia

Leiden: Kanal

Canada: Sunrise

 

Kita berandai-andai ya ^^. Dari dua penulis ini, siapa yang Mbak Widya ingin ajak untuk terlibat dalam proyek STPC? Alasannya?

1. Dee Lestari

2. Fira Basuki

Saya mau ajak Dee Lestari. Saya suka cerita Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh yang sampai sekarang masih melekat di benak. Dee pastinya sudah terbiasa menggarap latar dan tokoh yang khas.

Dengan gaya penceritaan ala Perahu Kertas, sepertinya, seri STPC yang akan ditulis Dee akan mampu mengisahkan cinta dari sebuah tempat yang unik dan mengesankan.

 

Apa proyek novel serial selanjutnya yang akan Mbak Widya garap?

Saat ini, Bukune sedang ada proyek roman kultural. Novel romance yang mengangkat budaya kental di berbagai daerah Indonesia dengan kemasan dan gaya penceritaan roman modern (bukan klasik). Elemen kuat dalam novel dengan genre kategori dewasa ini adalah kisah percintaan yang dilatari budaya setempat.

Sebenarnya, novela “Carano” di buku Penjual Kenangan (Bukune, 2013) yang saya tulis diharapkan mampu menjadi salah satu pembuka untuk masuk ke seri ini. Namun, akan perbedaan kemasan dan gaya penceritaan dengan seri roman kultural yang sedang digarap (yang berupa novel utuh). Kesamaannya adalah adanya unsur konflik budaya dan nuansa lokalitas.

Dalam cerita “Carano”, budaya Minangkabau mewarnai konflik dan membalut kisah cinta sang tokoh. Namun, tentu saja, ada nilai-nilai luhur yang ada di balik konflik tersebut. Tokoh cerita harus mampu melihat peluang konflik itu untuk menjadi tokoh yang lebih baik.

Seri ini diharapkan mampu mengingatkan kita kembali bahwa tradisi dalam budaya kita begitu kaya—yang terkadang mungkin “terlupakan”. Namun, apakah hal itu akan menjadi penghalang bagi kita yang sudah bersentuhan dengan zaman yang modern ataukah nilai-nilai luhurnya mampu mengembalikan kita ke “rumah”  yang sebenarnya? Kita tunggu, ya, Seri Roman Kultural Bukune. Coming soon!

 

Ada tip singkat untuk penulis baru yang ingin mengirim naskahnya ke Bukune? Apa yang harus diperhatikan?

Perhatikan konflik ceritamu. Konflik itu tidak harus tokohnya menderita penyakit yang sangat-sangat parah, kecelakaan fatal, ataupun mati. Kembangkan dan perkuat unsur-unsur utama dalam cerita, antara lain tema, tokoh, latar (tempat, waktu, suasana), konflik, sudut pandang cerita, gaya bahasa. Jika hal itu saling berkesinambungan, kamu akan menghasilkan cerita yang kuat dan khas meski dengan tema yang mungkin “pasaran”.

Perhatikan juga cara penulisan novel. Ejaan, pemilihan diksi, pembagian paragraf, bagaimana pembagian dialog dan narasi, dan hal-hal penting lainnya.

Perihal unsur cerita, bahasa, dan semacamnya itu, kamu bisa pelajari dari novel-novel “best seller/recommended” yang sudah terbit ataupun dari buku-buku tip menulis, ataupun dari web tentang kepenulisan yang ada saat ini.

Lakukan self-editing agar kamu juga paham di mana “kekurangan” naskahmu dan memperbaikinya lebih dahulu sebelum sampai ke tangan editor.

Paling penting juga, jangan menyerah kalau mengalami penolakan naskah. Jadikan hal itu sebagai motivasi diri kamu buat belajar dan memperbaiki ceritamu lagi.

Jangan bosan untuk terus belajar dan berusaha. Dan, menulis, tentunya. 🙂

 

Salam,

 

Widyawati Oktavia

 

 

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^

 

Jangan kemana-mana karena program giveaway STPC belum berakhir. Sampai ketemu besok.

 

20130923-121453.jpg

 

#STPC Interview: Meet the Author Alvi Syahrin @Bukune

20130819-105102.jpg

alvi

Halo, ketemu lagi di segmen Meet the Author. Sepertinya pembaca sudah tahu pattern-nya ya. Setelah mereview bukunya, keesokannya ada wawancara dengan penulisnya.

Setelah kemarin ada postingan review Swiss: Little Snow in Zurich, hari ini Lust and Coffee berkesempatan berbincang dengan penulisnya, Alvi Syahrin. Mau tahu lebih banyak tentang novel Swiss? Check out the interview below.

 

Bisa diceritakan dari mana dapat ide untuk novel Little Snow in Zurich?

Idenya datang begitu saja, tentunya ada pemicu dari saya. Jadi, saya berkata pada diri saya sendiri bahwa saya ingin menulis kisah cinta yang manis antar dua remaja—sederhana, manis, dan getir. Selagi berpikir dan berpikir, muncullah Rakel, kemudian Yasmine, dan akhirnya kisah mereka. Setiap kali hendak menulis novel, saya selalu begini: berkata pada diri saya apa yang ingin saya tulis, and the idea will come just like a butterfly.

 

Kenapa Alvi memutuskan untuk mengambil setting di Swiss?

Waktu itu, saya dihadapkan oleh beberapa pilihan negara. Ketika Mbak Widyawati Oktavia (Editor Bukune) menyebutkan Swiss, saya dengan excited langsung menyetujuinya. Saya suka negara Swiss. Semua orang tahu bahwa Swiss adalah negara yang luar biasa indah, tapi masih jarang penulis Indonesia yang mengambil setting ini. Jadi, inilah kesempatan saya untuk mengajak pembaca ke tempat baru yang mungkin belum pernah mereka kunjungi dari novel-novel lain: Zurich, Swiss.

 

Berapa lama proses penulisan novel ini?

Proses penulisannya sekitar 1,5 bulan. Belum termasuk pematangan outline dan riset.

 

Satu kata yang bisa mendeskripsikan Zurich:

Bersih.

 

Jika novel Little Snow in Zurich difilmkan, siapa yang cocok untuk memerankan: Yasmine, Rakel, Elena dan Dylan?

Saya sama sekali tidak punya ide untuk yang satu ini, hehe. 😀 Pertama, saya jarang sekali nonton film, jadi jarang tahu aktor/aktris. Kedua, saya punya bayangan tersendiri mengenai keempat tokoh tersebut, sebagaimana yang saya ciri-cirikan pada novel.

 

Berapa lama riset untuk novel ini? Apa saja yang dilakukan Alvi ketika riset?

Saya riset sekitar 4 bulan, mungkin. Selagi menulis juga saya tetap riset. Alasan mengapa riset saya selama ini adalah, karena terlalu sering merasa belum siap untuk menulis.

Yang saya lakukan selama riset:

– Googling artikel mengenai Swiss (terutama Zurich), seperti kehidupan kotanya, tempat-tempat yang sering dikunjungi, dst. Seiring banyak membaca artikel tentang Zurich, saya jadi cukup tahu hal-hal tentang Zurich. Tapi, saya tetap belum merasa cukup siap untuk menulis saat itu.

– Melihat foto-foto, tentunya, untuk kenal lebih dalam.

– Interview. Awalnya, saya mengirimkan pesan di Facebook kepada beberapa penduduk Zurich, tapi tak ada satu pun yang membalasnya. Akhirnya, saya menemukan seorang pelajar Indonesia yang pernah studi di Zurich—di Facebook juga. Saya banyak tanya ke dia tentang Zurich. Dia pun memperkenalkan saya pada temannya yang memang dari Zurich. Saya pun bisa interview langsung dengan orang asli Zurich. J

– Lihat di video-video yang menampilkan pemandangan di Zurich di Youtube, sehingga lebih berasa lihat langsung—ini saran dari Mbak Kireina Enno. Dan ini sangat membantu untuk menambah feel Swiss-nya. Saya jadi bisa merasakan dinginnya Swiss, indahnya Zurich, dan enaknya bila tinggal di sana.

– Google Earth. Ini yang paling membantu. Apalagi Google Earth memiliki fitur 3D pada bangunan-bangunannya, juga foto-foto yang tersebar pada lokasi ybs. Dari sini, saya mengenal Zurich lebih detil, tahu nama jalan-jalan, bentuk bangunan, rute untuk ke sana-sini, dan lain sebagainya. Bahkan dermaga yang menjadi tempat favorit Rakel dan Yasmine saya temukan ketika lagi “berpetualang” di Zurich lewat Google Earth. Tempat itu sedikit tersembunyi, meski dekat pusat kota, tapi benar-benar sangat indah. Jadi, saya memasukkannya sebagai lokasi utama.

Saya benar-benar mengenal Zurich dari sini. Oya, suatu ketika, saya pernah lihat tv sekilas. Acara tersebut menampilkan sebuah sudut  kotanya, dan saya tebak itu Zurich, dan ternyata benar. 😀 Setelah itulah, saya mulai berani menulis. Sembari menulis pun tetap riset supaya bisa merasa benar-benar di sana.

 

Ada pengalaman menarik selama proses penulisan novel ini?

Banyak sekali. Mulai dari ketika diajak Bukune untuk ikutan STPC, lalu eksplor ide, riset, kemudian masa-masa stres ketika mematangkan outline novel, masa-masa nggak pede sama naskah sendiri, sampai proses penulisan yang menyenangkan, hingga berhasil menuliskan kata ENDE. Setiap bagian dari penulisan novel ini adalah pengalaman menarik. Dan sekarang saya benar-benar rindu sama Zurich, Rakel, Yasmine, dan butir-butiran salju itu.

 

Bisa share playlist yang Alvi dengarkan ketika menggarap novel ini?

Saya lupa—komputer saya terpaksa install ulang sehingga semua playlistnya hilang. Yang jelas, saya malah nggak bisa mendengar lagu ketika sedang menulis. Jadi nggak konsentrasi.

 

Waduh, sayang banget ya. Semoga kompinya sudah betul. Apa proyek novel selanjutnya yang akan Alvi kerjakan?

Novel yang sekarang saya kerjakan lumayan terpengaruh oleh STPC (So, thanks to Bukune yang sudah membantu mengembangkan saya). Tapi, settingnya bukan di luar negeri, melainkan Indonesia. Pada suatu tempat yang cukup terkenal, tapi saya belum pernah membaca novel-novel yang menggunakan setting di tempat ini. Ada unsur petualangannya, keluarga, dan tentu kisah cinta. Tapi, kali ini, saya ingin membahas cinta dari sudut pandang yang berbeda, yang mungkin bisa membuat kita berpikir, “Ah, ya, cinta nggak semudah mengatakan ‘I love you’”. Insya Allah, mudah-mudahan, ini bakalan jadi cerita yang seru dan manis.
Sekarang saya baru sampai di bab 2. Mohon bantu doanya ya supaya bisa segera selesai.

 

Ada tips singkat untuk penulis yang ingin mengirim naskahnya ke Bukune? Apa saja yang harus diperhatikan?

Banyak-banyaklah membaca novel dari Bukune, supaya kamu tahu taste-nya Bukune itu seperti apa. Seringlah berlatih menulis, setiap hari. Ketika hendak mengirimkan naskah ke redaksi Bukune, perhatikan kembali aturan-aturan yang Bukune berikan; seperti jenis dan ukuran font, ukuran kertas, spasi dan margin, banyaknya halaman, formulir pengecekan naskah, dan lain sebagainya. Jangan sampai naskah kerenmu nggak sampai di meja editor, hanya karena melupakan hal-hal sepele itu.

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^

 

Besok masih ada interview kejutan dengan … (nggak surprised dong kalau dikasih tahu sekarang). Masih ada juga review novel STPC  dan wawancara dengan penulisnya. Jangan lupa mampir kemari ya.

 

Tschuss,

20130725-125307.jpg

[Book Review+Giveaway] Swiss: Little Snow in Zurich by Alvi Syahrin @Bukune

20130819-105102.jpg

book_info

20130927-023445.jpg

Judul Buku: Swiss: Little Snow in Zurich
Penulis: Alvi Syahrin
Penerbit: Bukune
Terbit: Juni 2013, Cetakan Pertama
Jumlah Halaman: 308
ISBN: 978-602-220-105-2
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Travel Literature
Harga: Rp. 52,000
Kalimat pertama:Angin menyentilku.

book_blurb

Di Zürich,

Ada kisah tentang salju yang hangat, tentang tawa yang mencair. Membuat Yasmine tersenyum bahagia.

“Ich liebe dich,”—aku mencintaimu—bisik gadis itu, membiarkan repih salju membias di wajahnya. Manis cinta dalam cokelat yang laki-laki itu berikan membeku menjadi kenangan di benaknya, tak akan hilang.

Di puncak gunung Uetliberg—yang memancarkan seluruh panorama Kota Zürich—bola-bola salju terasa hangat di tangannya, kala mereka bersisian. Dan Jembatan Münsterbrücke, jembatan terindah dan tertua di Zürich, seolah bersinar di bawah nyala lampu seperti bintang.

“Jika aku jatuh cinta, tolong tuliskan cerita yang indah,” bisik gadis itu. Ia tahu ia telah jatuh cinta, dan berharap tak tersesat.

Namun, entah bagaimana, semua ini terasa bagai dongeng. Indah, tetapi terasa tidak nyata.

Tschüs—sampai jumpa—
Yasmine, semoga akhir kisahmu indah.

thoughts

First I need to say that I was really schocked when I realize that the author is a boy. Gosh! I mean, I have read many books written my male authors, but those are fantasy books, not romance! And you know what surprised me more? This book is really good. It is romantic, sweet, and realistic at the same time! Kadang-kadang ketika saya membaca buku roman, saya merasa ceritanya terlalu dibuat-buat. But not this! Saya merasa buku ini benar-benar romantis tapi tidak berlebihan. Mungkin karena laki-laki yang menulisnya, sehingga terasa lebih logis. If you read the book, you won’t see lots of sweet talking or cheesy date. But you’ll see two people , doing something that only they can enjoy! ( I’m talking about their winter plans 😀 ).

Pada awalnya, saya merasakan atmosfir yang sama seperti yang saya rasakan pada Till We Meet Again karangan Yoana Dianika, mungkin karena sama-sama bersetting di Eropa. But actually, both of them are totally different! Even though this book felt a little bit sad and touchy, it doesn’t felt dark. Saya merasa sedih ketika Yasmine ditinggalkan oleh Rakel, saya juga merasa sedih ketika ada tokoh yang meninggal.

The ideas of the book is fantastic. Ide-ide itu juga diceritakan dengan cara yang menyenangkan. Love,friendship,family. Everything is wrapped in one. Also the setting, I love it! Saya merasakan bagaimana dinginnya musim dingin di Zurich, seberapa indahnya banguna-bangunan kota Zurich yang diselimuti salju, juga cerahnya cuaca Zurich yang bersalju. Hanya saja, saya merasa alurnya kurang rapi. Terkadang saya merasa alurnya berjalan lambat di satu waktu lalu cepat dan meloncat-loncat di waktu lain.

One thing that bothered me most : there’s too much naration. Sangat sedikit dialog dalam buku ini, sehingga interaksi antar karakter susah di dapat. Contohnya adalah ketika Yasmine jatuh cinta dengan Rakel. Dari kegiatan yang mereka lakukan, mungkin sebenarnya besar kemungkinannya agar Yasmine menyukai Rakel. But somehow, I felt that she fell in love to fast. Saya belum merasakan buih-buih cinta yang tercipta di antara mereka berdua ketika Yasmine mengatakan bahwa dirinya mencintai Rakel.

For the characters, usually I love stubborn and strong female character. But somehow, saya menyukai kepolosan dan kelembutan yang dimiliki Yasmine. Saya tidak merasa Yasmine adalah gadis cengeng. Saya justru merasa Yasmine adalah gadis unik yang memiliki dunia fotografi yang menyenangkan. For the male lead, Rakel, I guess I don’t have much to say. Begitu pula dengan Elena. But for Dylan, I really wish he would meet a girl that will love him back. Saya juga ingin melihat bagaimana Dylan jatuh cinta pada Yasmine, dan saya merasa agak kecewa karena tidak diceritakan.

Well, I guess that’s all I can say. But remember this, read this book and before you realize it you are on a romantic adventure in Zurich! Saya tidak dapat menjelaskan satu-satu kesan saya mengenai buku ini. Karena , jujur saja, cerita dalam buku ini sangat padat, tapi tentu saja, this book is really great. And, for the author, I’m really pleased with your work and looking forward for the next one.

Reviewed by:
Verina

GR

ve

STPCGA

Yuk, yang mau mendapatkan 3 paket novel serial #STPC @Gagasmedia @Bukune merapat kemari. Caranya gampang banget:

1. Follow akun @Gagasmedia @Bukune dan @AlviSyhrn

2. Twit link review + giveaway ini dengan kalimat seperti ini:

Mau dapetin paket novel #STPC dari @yuska77 @Gagasmedia @Bukune? Klik aja bit.ly/17YRdVb

3. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel Swiss: Little Snow in Zurich. Jangan lupa untuk mencantumkan:

Nama, akun twitter, dan email.

4. Setiap komentar yang kamu tinggalkan di tiap postingan dan twit selama proyek #STPC berlangsung akan mendapat 1 entry. Misalnya, kamu ngetwit link review + giveaway Swiss juga meninggalkan komentar, maka kamu mendapatkan 2 entries.

5. Jangan lupa, besok ada postingan interview bersama Alvi Syahrin. So, stay tuned ya.

6. Giveaway STPC dimulai dari tanggal 1 September – 30 September 2013. Kamu bisa mengisi kolom komentar + tweet giveaway ini selama event STPC berlangsung.

7. Pengumuman pemenang tanggal 5 Oktober 2013

Good luck 🙂

20130330-114856.jpg

[Book Review] Ordeal by Linda Lovelace

book_info

20130901-054741.jpg

Title: Ordeal
Authors: Linda Lovelace with Mike McGrady
Publisher: Citadel Press
Published: March 1989, Fourth Printing
ISBN: 0-8065-0687-3
Format: Hardcover
No. of Pages: 252
Category: Non-Fiction
Genre: Sex memoir, biography, true crime
Bought at: Betterworldbooks for $6.25
Opening sentences: My name is not Linda Lovelace. Not these days.

book_blurb

Linda Lovelace became a household name in 1972, when Deep Throat–a film made for only $25.000–became the first pornographic movie ever to cross over to mainstream audiences, to the tune of $600 million and counting. Despite being the face that launched the film’s phenomenal success, behind the scenes Linda was suffering unspeakable torture and abuse at the hands of her husband, Chuck Traynor, and she never earned a dollar from the film’s huge success. A harrowing tale of the pursuit of happiness and the will to survive amid years of horrific abuse, Ordeal reveals the dark reality behind Deep Throat, and its star’s tragic, yet ultimately triumphant, life.

thoughts

ATTENTION! If you’re under 21 y-o, please do not read this review. It contains explicit and graphic sexual descriptions that might be offensive.

I’ve read many porn stars and ex-porn stars memoirs, but nothing can beat Ordeal. It’s the most sadistic and disturbing book I’ve ever read.

The story begins when Linda Boreman had a car accident. She met Chuck Traynor who seemed so sweet. Later, Linda found that Chuck is a monster who physically, verbally, and sexually abused her. From then on, her nightmares came to life.

Linda wanted to flee from home. She couldn’t stand her abusive mother. Chuck took her home and began pimping her. Linda was a virgin, but then Chuck took her virginity. Chuck had debts and he sold Linda for money. He was always violent, even pointed a gun to Linda, his wife.

Chuck was a perv, a sadomasochist who was aroused everytime Linda was in pain. Then one thing led to another. Linda and Chuck met a pornographer and the rest is history. Linda Boreman became ‘Linda Lovelace’, a porn icon who got (so-called) respect from people in Hollywood. She’s famous of her ability to swallow penis (even the larbe one), just like a performer who can swallow a sword. Apparently, Chuck trained her to relax her throat muscle to do this.

I had to hold my breath while reading this book. There’s too many graphic details. Linda was forced to do a scene with a dog, can you imagine? She was beaten and threatened. Chuck always used his weapon, that he would kill whoever got in the way, including Linda’s parents. Later on, Linda was forced to perform BDSM, paraphilia, zoophilia, whatever sickness and degrading that you can imagine (my stomach was churning when I read that part. It’s beyond sick).

So many times, Linda tried to escape, but she failed and went back to Chuck. This always happens to domestic violence victims. They’re brainwashed and afraid to meet another monster if they have guts to leave the abuser. They’re torn to pieces. Their self esteem was peeled off until they’ve got nothing and become numb. That’s what happened to Linda. She said she’s not herself while having sex with strangers.

Hugh Hefner and Sammy Davis Jr were two of many prominent Hollywood celebrities who put interests on Linda Lovelace. Chuck and Linda were regulars at Hefner’s lavish parties. They’re allowed to crash at the mansion. Somehow I can relate Hefner to Jay Gatsby.

In the end, Linda could free herself from Chuck. She met one or two men before settling down to be a housewife. She was against pornography until the car accident took her life in 2002.

As far as I know, pornography is degrading for women. Many porn stars confessed that they were drugged, abused, and forced to get involve in freaky sexual acts, mostly against their will. Watching porn, to me, is like watching rape in action. I have no desire to see “Deep Throat” even though media claimed it’s a cult movie. Linda was raped during filming. I think it’s wise to ban the film. Just like what they did to Traci Lords. At 15, she began posing for adult magazines, and quickly ventured into porn. She appeared in more than 100 movies before she turned 18. All of her movies were banned by the authorities. Sadly, a lot of people are still glamoring porn. Young celebrities like Miley, Lilo, and the likes think taking topless selca is cool. Remember Miley’s scandal with Vanity Fair? That happened long before VMA scandal. Nowadays, female celebrities like Rihanna, Lady Gaga, and Nicki Minaj are not ashamed to show some skin for free through instagram or tweetpic. It’s porn goes mainstream. Watch out, parents.

Back to Ordeal, I read this book before I see “Lovelace”, Linda’s biopic starring Amanda Seyfried. I’ll review the movie asap.

Ordeal is an eye-opener. To learn about the danger of porn, you should read books like this.

quotes

He could tell me the sky was green and I’d believe him, even though I was looking right up into a blue sky. (p. 28)

It wasn’t the fact of the sex that upset me; it was the nature of the sex. I couldn’t imagine anyone-even prostitutes-doing something so incredibly personal with other people around.

Melody was a strange kind of a hooker. She was very intellogent and always carried a book to read with her, even on jobs.

As soon as Chuck saw how much pain in this experience caused me, he made sure that it became a key part of my repertoire.

I know a dozen Chucks, a hundred Chucks and they’re all monsters.

“How come you never got away?”
“Because it’s kind of hard to get away when there’s a gun pointed at your head.”

Recently when several Playboy bunnies in Great Gorge, New Jersey, were drugged, photographed and forced to work as whores, I could understand the process.

The first time I met Rob, I wondered how this could be. Here’s this real doll-he was adorable!-tall and blond and cute. How could a guy who looked like that do what he did for a living? What problems did he have to get into something like this? I will never undetstand that. (p. 104)

What kind of world do we live in? Would you believe that a doctor, a professional man, would accept sexual favors as payment for the bill?

I learned that it was illegal to have silicone injected into your breasts. It seems to me when something is illegal, there’s usually a danger connected with it.

Chuck and I had been given to run of the (Playboy) Mansion. We were practically living there. We had joined the rest of the freeloaders for the movies, the food, the parties and the regular Wednesday night orgies.

Living in Hollywood, yoi begin to forget that outside there is still a normal world with normal people. California is the land of the super-freaks and they all seem to come to Hollywood sooner or later.

I guess they figure that half a truth is better than no truth at all. To me, it’s still a lie.

Any beating, no matter how severe, would be better than being raped by a dog. (p. 109)
I think I’d rather be dead than not really be living. (p. 221)

 

20130923-121407.jpg

 

More reviews on Ordeal

We Love This Book here

Articles on Porn

The Truth about the Porn Industry here
Porn and the End of Masculinity here
Pornography is Bad for Your Health here

Submitted for:
Books in English Challenge here
Baca Bareng BBI biografi here
Year Long Memoir Challenge here

Until next time:)

20130330-114856.jpg

I give this book for Brigidda 🙂

Roald Dahl Read-a-long and Giveaway

38083b72-de0a-4256-ae86-4d8fa2e7c83f_zpse0cd0586

Memperingati hari lahirnya Roald Dahl, mbak Maria mengadakan event keren yang berhubungan dengan Roald Dahl. Karena gue juga memperingati hari Roald Dahl Mischief Mayhem, maka nggak ada salahnya sekalian ikut 🙂

Selama satu bulan penuh, mbak Maria mengadakan event seru, ada kuis seputar Roald Dahl, dan lain sebagainya. Untuk lebih lengkapnya silahkan berkunjung ke mari.

Untuk rekapan, buku-buku karya Roald Dahl yang sudah gue baca (masih sedikit sih):

The Twits here
James and the Giant Peach here
James and the Giant Peach Movie Review here

Moga-moga masih punya waktu untuk membaca satu atau dua buku Roald Dahl lagi.

20130923-121453.jpg

[Movie Review] James and the Giant Peach

933899_10151449978871173_860358812_n

movie_info

James_and_the_giant_peachTitle: James and the Giant Peach

Directed by: Henry Selick

Produced by: Tim Burton and Denise DiNovi

Screenplay: Steven Bloom, Karey Kirkpatrick, Jonathan Roberts

Based on: James and the Giant Peach by Roald Dahl

Starring: Paul Terry, Simon Callow, Richard Dreyfuss, Susan Sarandon

Music: Randy Newman

Cinematography: Pete Kozahik, Hiro Narita

Studio: Walt Disney Pictures, Allied Filmmakers, Skellington Productions

Distributed by: Buena Vista Pictures

Running Time: 79 Minutes

Budget: $38 Mill

Box Office: $37,734,758

thoughts

James and the Giant Peach tidak beda jauh dengan bukunya. Hanya visualisasinya yang berbeda. Pada saat James masih tinggal bersama kedua bibinya yang jahat, ia masih berbentuk manusia. Ketika si lidah buaya tak sengaja tertelan, ia berubah bentuk menjadi kartun, seperti teman-teman serangganya.

Gue suka sekali dengan scoring James and the Giant Peach, nggak sedangdut Charlie. Sepertinya Tim Burton memang penggemar berat Roald Dahl, karena sudah beberapa kali ia menggarap karya Roald Dahl.

Beberapa adegan diperhalus, seperti siksaan terhadap James tidak ditampilkan eksplisit, juga kedua bibi James tergilas saat keduanya berada di dalam mobil. Mereka sehat wal’afiat tidak kekurangan apa pun, hanya mobilnya saja yang penyok.

Untuk animasi, gue melihat kemiripan dengan The Nightmare Before Christmas yang juga gue suka. Mungkin memang ciri khas Selick dan Burton adalah senang dengan nuansa gelap dan mencekam. Agak-agak gothic gitu. Demikian juga dengan James and the Giant Peach yang kemuramannya lebih dominan sebetulnya.

Karena sudah membaca bukunya, gue jadi tidak surprised menonton adegan demi adegan, walau gue masih menikmatinya.

Apakah gue merekomendasikan James and the Giant Peach? Yes, tonton aja di TubePlus kalau mau menonton streaming.

Gue selalu suka dengan film tema persahabatan. This is definitely one of my favorites.

Salah satu adegan favorit adalah ketika laba-laba membuat tempat tidur untuk James, dan lalu laba-laba berkata, “You are a brave boy.” Kening James dikecup, seperti layaknya ibu kepada anaknya. I was really touched.

Lalu, ketika sampai di New York, kedua bibi James muncul dengan dandanan layaknya kuntilanak. Of course, ketebak seperti apa endingnya.

Tonton aja supaya tahu serunya film ini 🙂

 

Submitted for:

Books  into Movie Challenge

#STPC Interview: Meet the Proofreader Jia Effendie @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

Ketemu lagi di segmen interview bersama salah satu orangdi balik layar novel London: Angel. Maaf banget atas keterlambatan postingannya, karena Lust and Coffee sedang sakit dan meringkuk dengan manis di tempat tidur.

Kali ini, Lust and Coffee berhasil mewawancarai salah satu proofreader (yang juga editor di Gagasmedia). Selain itu, dia juga seorang penulis yang aktif melahirkan karya berupa cerita pendek.

2886980fab52f4a59e89ae8074dbedef

Nama: Jia Effendie

Twitter: @JiaEffendie
Facebook

Goodreads

Web

Blog

Penulis favorit: Neil Gaiman, Jostein Gaarder, Seno Gumira Ajidarma, Pramoedya Ananta Toer, Roald Dahl.

Menurut Jia, London itu identik dengan:

Kabut, gerimis, Shakespeare, sihir.

Seandainya Jia diminta untuk menulis novel STPC, di mana lokasi yang menurut Jia paling keren untuk dijadikan setting?

Hmm… di mana, ya? Dari dulu sih aku kepingin nulis yang settingnya di Pantai Selatan #halah. Tapi ga masuk sama konsep STPC

OMG, horror jugaPantai Selatan, hihihi. Satu kata yang mewakili London:

Gloomy

Kita berandai-andai ya ^^. Kalau Jia boleh mengajak satu penulis luar negeri untuk terlibat dalam proyek STPC, siapa yang ingin Jia ajak?

Hmm hmm… ga kepikiran

Apa proyek novel selanjutnya yang akan Jia garap? Apa ada rencana untuk merilis novel sendiri?

Ada proyek serial lainnya setelah STPC dan SCHOOL. Tunggu aja. Rencana merilis novel sendiri? Tentu saja!

Ada tips singkat untuk penulis baru yang ingin mengirim naskahnya ke Gagasmedia? Apa yang harus diperhatikan?

Perhatikan benar kelengkapannya. Formulir harus diisi dengan benar, dan tulislah sinopsisnya semenarik mungkin dengan gaya bahasa lugas (jangan kebanyakan pakai metafor, ya, karena ini sinopsis). Sinopsis adalah bahan jualan kamu. Terus, pastikan naskahmu enggak dimulai dengan kalimat: “Seperti biasa, hariku dimulai dengan suara alarm…” atau “Matahari bersinar cerah.”

Tulis naskahmu dengan EYD yang benar. Minimalisasi kesalahan ketik. Artinya, edit dan edit lagi naskahmu sebelum dikirim ke penerbit.

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab pertanyaan dari saya.

Jangan kemana-mana karena masih ada postingan review, wawancara dengan penulis #STPC dan pengumuman pemenang STPC Giveaway.

Kisses,

20130725-125307.jpg

Wishful Wednesday 30: Call the Midwife

20130403-124544

Udah berapa lama ya gue absen Wishful Wednesday? Yang jelas hari ini gue menyempatkan untuk ikut ngewish masal sama teman-teman, hehehe.

Iseng banget kemaren browsing buku lalu ketemu deh satu memoar yang kelihatannya menarik untuk dibaca:

20130924-034650.jpg

Jennifer Worth came from a sheltered background when she became a midwife in the Docklands in the 1950s. The conditions in which many women gave birth just half a century ago were horrifying, not only because of their grimly impoverished surroundings, but also because of what they were expected to endure. But while Jennifer witnessed brutality and tragedy, she also met with amazing kindness and understanding, tempered by a great deal of Cockney humour. She also earned the confidences of some whose lives were truly stranger, more poignant and more terrifying than could ever be recounted in fiction. Attached to an order of nuns who had been working in the slums since the 1870s, Jennifer tells the story not only of the women she treated, but also of the community of nuns (including one who was accused of stealing jewels from Hatton Garden) and the camaraderie of the midwives with whom she trained. Funny, disturbing and incredibly moving, Jennifer’s stories bring to life the colourful world of the East End in the 1950s.

B uku ini sudah dibuat serial TVnya dengan judul yang sama. Cek reviewnya di sini.

Buku berlatar pasca PD2 ini bikin gue panasaran karena memang profesi midwife alias bidan pasti banyak sekali suka-dukanya pada masa itu. Kebayang dramanya pasti cukup banyak secara midwife dan perawat kan mayoritas cewek.

Yang mau ikutan Wishful Wednesday:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam <emwishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr Linky yang ada di akhir postingan. Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Happy Wednesday.

20130622-091605.jpg