Blog Archives

[Book Review] A Life of Spice by Monica Bhide

image

image

Title: A Life Of Spice: Stories of food, culture and life
Author: Monica Bhide
Publisher: CreateSpace Independent
Author’s Web: here
Date of Release: April 27, 2015
No. of Pages: 180
ASIN: B00VAGJNYM
Format: Kindle
Category: Non-Fiction
Genre: Food memoir, family, culture
Where to Buy: Amazon, $2.99 link
Opening Line:
Intricate patterns of fish and peacocks are etched deeply into the fine wooden dining table, providing perfect hiding places for tiny marble dice.

image

In A Life of Spice celebrated writer Monica Bhide explores her romance with food. As in any romance, there are moments of great heartache and unbelievable happiness; betrayals and breakups; and, of course, intimacy. This collection of powerful and thought-provoking vignettes makes us examine our relationship with food deeply–and what food really means to us.

image

I always appreciate comfort, feel-good book after a long holiday. A Life of Spice has fulfilled my need. I didn’t plan to buy this book. I received a notification from Bookbub, and as a sucker for bargain books, I bought this one. I read the reviews on Goodreads. Mostly gave 4 or 5 stars, so I gave it a go.

The prolog is very interesting. Monica told about how her father landed in the USA. She was an engineer but then she followed her passion in food-writing.

I like learning about cultures. I believe the first gate to experience a culture is through food.

Monica also explained why food eaten or cooked with hands tastes better than the ones using tools. The energy from the cook is transfered through the hands.

So many interesting tidbits about Indian vs Western food culture.

What bothered me the most is the repetition. I understand this book is a compilation of articles, but it would be better if it was edited.

Overall, this book is worth the hype, and I’m looking forward to reading other books by this author.

image

What we eat and how we eat it gives us identity; it helps us to define who we are.

image

image

Advertisements

[Book Review] The Murder of King Tut by James Patterson

image

image

Judul: The Murder of King Tut
Penulis: James Patterson and Martin Dugard
Alih Bahasa: Julanda Tantani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Web Penerbit: klik
Terbit: Juni 2013
Tebal: 392 halaman
ISBN: 978-979-22-9713-3
Format: Paperback
Kategori: Fiksi
Genre: Mystery
Bisa dibeli di: Blibli
Harga: IDR 52rb
Kalimat Pembuka:
Saat itu Malam Tahun Baru, ketika seorang penjelajah serius dan tampan bernama Howard Carter, yang lancar berbahasa Arab, memberikan perintah untuk memulai penggalian.

image

Tutankhamun, si Raja Bocah, terpaksa naik takhta pada usia Sembilan tahun. Baru sembilan tahun memerintah, Raja Tut wafat tiba-tiba, namanya lenyap dari sejarah Mesir dan sampai hari ini kematiannya masih terselubung misteri.

Howard Carter berniat mengungkap jawaban atas misteri yang telah berumur tiga ribu tahun ini dan bertekad untuk menemukan makam tersembunyi sang Firaun. Dia memulai penelitiannya pada tahun 1907, namun menghadapi banyak halangan, sebelum akhirnya usahanya membawa hasil.

Berdasarkan bukti-bukti X-ray, arsip-arsip Carter, dan lainlainnya, James Patterson dan Martin Dugard menyusun kisah tentang kehidupan dan kematian Raja Tut dalam sebuah novel yang penuh intrik dan pengkhianatan.

image
Saya sudah memiliki buku ini sejak buku ini baru dirilis, tapi baru sempat membacanya dua tahun kemudian (bookhoarder alert.)

Gara-gara menonton miniseri Tut, saya mencari-cari buku ini yang berada di tumpukan kontener paling bawah.

Tidak seperti karya-karya sebelumnya, James Patterson menggabungkan fakta sejarah dengan fiksi di buku ini. Menarik karena buku ini bercerita tentang tokoh-tokoh lintas generasi (menggunakan alur maju-mundur), juga tokoh-tokoh nyata (Howard Carter, Akhenaten, Nefertiti, Tutankhamun hingga James Patterson sendiri selaku narator), membaca novel ini serasa melakukan time traveling. Tidak selalu mulus karena setiap perpindahan waktu, saya butuh mengumpulkan mood agar saya ngeh berada di era tersebut.

Howard Carter, seorang ahli peradaban Mesir, berambisi ingin mencari menemukan kubur firaun yang baru agar namanya bisa terkenal, juga kaya raya.
Namun, pencarian kubur firaun yang tidak terkenal itu tidak mudah. Selain faktor dana dan waktu, letak makam Tut memang tidak lazim dan sangat tersembunyi.

Flashback ke masa lalu, dikisahkan Tut adalah putra yang tidak disukai Akhenaten. Namun, berbeda dengan ayahnya yang mabuk kuasa, wanita, juga alkohol, Tut tumbuh menjadi pribadi yang sangat berbeda dengan ayahnya. Ia tumbuh tanpa ibu kandung, tapi Nefertiti sangat menyayanginya dan menyiapkannya untuk menjadi seorang firaun.

OK, saya tidak mau spoiler jadi cukup sampai di sini rangkumannya.

Sesuai dengan judul bukunya, berdasarkan riset yang dilakukan Patterson, dia menyimpulkan bahwa Tut dibunuh. Berbeda dengan miniseri yang saya tonton, Tut tewas karena infeksi pada kaki.
Kebenarannya seperti apa, saya juga tidak tahu. Yang pasti, semua pihak yang terlibat dalam penggalian makam Tutankhamen pasti terkena sial. Konon, ada kutuk mengerikan di makam firaun muda ini.

Yang saya pelajari dari buku ini antara lain:
1. Proses mumifikasi itu sangat mengerikan.
2. Praktik inses sangat lazim dilakukan untuk menjaga kemurnian darah.
3. Sulit untuk mempercayai seseorang. Bagaimana pun meyakinkannya seorang bawahan, risiko untuk berkhianat selalu ada.
4. Dalam politik, selalu ada pihak yang dikorbankan demi kepentingan seseorang.
5. Kebenaran kolektif dijadikan alat politik.
6. Sejarah bisa diubah sesuai keinginan penguasa saat itu demi membangun ‘citra-nya’.
7. Ketika seseorang sukses, dia akan dirubung oleh orang-orang yang ingin kecipratan dan yang merasa ikut andil atau berkepentingan atas kesuksesan orang tersebut.
8. Pada mulanya, para penguasa Mesir dimakamkan di dalam piramida-piramida batu yang indah. Namun gara-gara para penjarah, para firaun menyembunyikan makam mereka.

Overall, menurut saya buku ini adalah salah satu karya terbaik James Patterson. Kalau kamu suka sejarah, buku ini cocok untuk kamu baca.

image

Meninggikan suara berarti menunjukkan kelemahan.

image

Need second opinion?

Books to Share (review dalam Bahasa Indonesia)

Luxury Reading (Review dalam Bahasa Inggris)

image

[Book Review] Maharani by Pearl S. Buck

image

image

image

Judul: Maharani (The Imperial Woman)
Penulis: Pearl S. Buck
Alih bahasa: Lily Wibisono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Web Penerbit: klik
Terbit: Agustus 1993, cetakan kedua
Tebal: 800 halaman (Buku 1 & 2)
ISBN: 979-511-563-4
Format: paperback
Kategori: Fiksi
Genre: Romance, Historical Fiction
Beli di: Second OLshop
Harga: IDR 30,000
Kalimat Pembuka:
Suatu hari di bulan April, di kota Peking, pada bulan keempat tahun Masehi 1852, bulan ketiga perhitungan Cina, tahun kedua ratus delapan Manchu, pada zaman Dinasti Ch’ing yang agung.

image

Maharani merupakan kisah yang banyak menggambarkan intrik-intrik khas timur, serta kekejaman yang tersembunyi di balik kemegahan dan kemewahan istana kekaisaran Manchu di Cina. Novel ini juga menyajikan kisah yang romantis dan mendebarkan tentang seorang wanita ambisius yang rela mengorbankan ikatan kekeluargaan serta pria yang dicintainya demi meraih kekuasaan. Ia berhasil selamat dari usaha-usaha untuk menyingkirkan dirinya serta percobaan-percobaan pembunuhan yang ditujukan terhadapnya, hingga dapat mempertahankan kedudukannya sebagai penguasa suatu negeri yang amat besar. Wanita cantik dan cerdas ini adalah Tzu Hsi, selir favorit seorang kaisar yang lemah, ibu sang Pewaris, wanita terakhir dan terbesar yang memerintah Cina. Ia adalah Sang Ratu Takhta Naga.

image

Ketika saya mengetik blurb, saya membacanya dengan suara Maria Oentoe. Siapakah beliau? Googling ya, adik-adik 😁.

Ok, sekarang pendapat saya tentang buku ini. Karena saya membaca buku edisi jadul, buku ini terasa panjang. Bayangkan saja, buku 1 dan 2 digabungkan jadi 800 halaman. Lumayan tebal. Saya juga agak lama membaca buku ini, karena selingkuh dulu dengan buku yang lain.
Bukan karena buku ini jelek (malah sebaliknya, saya suka banget sama buku ini), tapi karena saya butuh selingan ketika membaca buku ini.

Maharani bercerita tentang Orchid yang dipanggil ke istana untuk menjadi selir kaisar. Di istana, selir juga ada tingkatan. Orchid terpilih menjadi selir kelas 3, yang paling rendah. Seiring waktu, karena ia memiliki tubuh yang molek, wajah yang cantik, juga kepandaian yang bahkan melebihi calon istri kaisar, Orchid diangkat menjadi selir kelas satu dan menjadi kesayangan kaisar.
Sepupu Orchid, Sakota, yang dipilih kaisar untuk menjadi istrinya, posisinya tergeser karena Orchid lebih disayang oleh kaisar.

Sebenarnya, Orchid sudah dijodohkan dengan Jung Lu, pengawal istana. Keduanya saling mencintai. Namun Orchid memilih untuk menjadi selir istana demi meraih kekuasaan. Orchid (atau Ci Xi) mengandung dan melahirkan seorang putra, membuat kedudukannya semakin kuat di kerajaan.

Ci Xi adalah tipe wanita yang rela melakukan apa saja demi mencapai tujuan. Ia pintar mengambil hati ibu suri, kaisar, hingga kasim istana. Ia juga lihai dalam melakukan strategi politik untuk menjatuhkan lawannya.

Ketika puteranya menduduki tahta kaisar, Ci Xi masih berkuasa. Ia juga merasa insecure saat kaisar memiliki istri yang dicintainya, membuat Ci Xi ketakutan menantunya ingin merebut kekuasaan. Dan yang membuat Ci Xi cemburu adalah kaisar dan istrinya saling mencintai, tidak seperti dirinya yang harus berpisah dengan kekasihnya, Jung Lu, dan menikah dengan almarhum kaisar yang ia benci.

Buku ini alurnya tidak terlalu lambat walau cukup panjang. Saya juga suka dengan pemikiran Ci Xi yang praktis, tidak seperti kebanyakan wanita. Ia juga pintar berdiplomasi, suka membaca buku politik, pintar melukis, dan lihai membaca kelemahan lawan. Sedikit banyak saya jadi membandingkan Ci Xi dengan Empress Ki.

Maharani pertama kali terbit tahun 1956. Bayangkan bagaimana jadulnya bahasa yang digunakan Pearl S. Buck. Namun, saya tidak terganggu sama sekali. Gaya bercerita Pearl S. Buck tidak manis dan puitis, tapi lebih straight to the point dan menghentak-hentak penuh luapan emosi. Apalagi latar waktu Maharani di era dinasti Qing yang penuh gejolak di mana bangsa Barat datang untuk ‘mengacau’ dan terjadi perubahan pandangan terhadap budaya dan tradisi Tiongkok karena pengaruh bangsa Barat. Pada masa itu perdagangan opium juga marak di Cina, membuat banyak orang Cina jadi pecandu.
Karena saya suka dengan sejarah, mau tidak mau saya jadi membandingkan buku ini dengan sejarahnya. Dan saya menemukan buku ini:

image

Nanti saya akan baca dan tulis resensinya sebagai bahan perbandingan.

Satu pepatah yang mewakili cerita ini adalah “You can’t always get what you want.” Selalu harus ada yang dikorbankan dalam hidup.

image

Apakah seorang yang berjiwa besar akan menyombongkan jasanya?

Aku tidak mengerti mengapa kita harus menerima agama asing, sementara kita sendiri telah mempunyai tiga agama yang baik.

Wanita yang berkuasa tak pernah punya orang kepercayaan.

image

image

[Book Review] Peach Blossom Pavilion by Mingmei Yip

image

image

image

Title Peach Blossom Pavilion
Author: Mingmei Yip
Publisher: Kensington
Author’s Link: link
Date of Release: June 1, 2008
No. of Pages: 432
ISBN: 9781617739088
Format: Ebook
Category: Fiction
Genre: Chinese Lit, Historical Fiction, Romance
Where to Buy: Better World Books, $7.99 here
Opening Line:
The California sun slowly streams in through my apartment window, then gropes its way past a bamboo plant, a Chinese vase spilling with plum blossoms, a small incense burner, then finally lands on Bao Lan-Precious Orchid-the woman lying opposite me without a stitch on.

image

In a sunny California apartment, a young woman and her fiancé arrive to record her great-grandmother’s story. The story that unfolds of Precious Orchid’s life in China, where she rises from a childhood of shame to become one of the most successful courtesans in the land, is unlike any they’ve heard before. . .

When Precious Orchid’s father is falsely accused of a crime and found guilty, he is executed, leaving his family a legacy of dishonor. Her mother’s only option is to enter a Buddhist nunnery, so she gives her daughter over to the care of her sister in Shanghai.

At first, life at Peach Blossom Pavilion feels like a dream. Surrounded by exotic flowers, murmuring fountains, colorful fishponds, and bamboo groves, Precious Orchid sees herself thriving. She is schooled in music, literature, painting, calligraphy, and to her innocent surprise, the art of pleasuring men. For the beautiful Pavilion hides its darker purpose as an elite house of prostitution. And even as she commands the devotion of China’s most powerful men, Precious Orchid never gives up on her dream to escape the Pavilion, be reunited with her mother, avenge her father’s death, and find true love. And as the richest, most celebrated Ming Ji or “prestigious courtesan” in all of China, she just might have her way even if it comes with a devastating price. . .

Sweeping in scope and stunning in its evocation of China, Peach Blossom Pavilion is a remarkable novel with an unforgettable heroine at the heart of its powerful story. . .

image

Peach Blossom Pavilion adalah buku kedua karya Mingmei Yip yang saya baca. Saya pertama kali berkenalan dengan karya beliau melalui Petals From The Sky (link review), dan saya baca versi terjemahannya. Meskipun mendapat rating ‘pas-pasan’ di Goodreads, saya menyukai buku ini. Bahasanya puitis dan ceritanya bikin hati ‘nyes’.
Saya agak heran dengan rating buku Peach Blossom Pavilion yang lebih tinggi tapi saya nggak suka dengan buku ini.

Alasan saya:
1. Ceritanya terlalu mirip dengan Memoirs of a Geisha. Biaa dibilang Peach Blossom Pavilion adalah ripoff-nya MoaG.
2. Bahasa yang digunakan nggak seindah Petals from the Sky. Terlalu brutal vulgar untuk ukuran buku historical fiction. Terlalu banyak kata fuck yang bikin saya risih. Saya nggak akan protes menemukan fuck yang bertebaran di buku erotica, misalnya. Pemilihan kosa katanya kurang tepat.
3. Di luar kemiripan dengan MoaG, buku ini terlalu sinetronish. Xiang Xiang anak orang berada. Bapaknya dieksekusi padahal nggak bersalah. Ibunya jadi biksuni. Xiang Xiang dititipkan pada kenalannya, Fang Rong, yang mengaku orang kaya dan berjanji untuk membesarkan Xiang Xiang. Ibunya ini tidak tahu latar belakang Fang Rong, asal kasih dan percaya. Sesampainya di rumah bordil, Fang Rong dan suaminya tertawa seperti orang-orang jahat di sinetron gitu, mengejek ibu Xiang Xiang, berkata bahwa mereka mendapatkan anak cantik dengan gratis. Oh my
4. Ciri-ciri fisik yang digambarkan Mingmei Yip di buku ini juga sangat stereotip. Fang Rong digambarkan gemuk dengan tompel di pipi dan penampilan lebay.

Jujur aja, saya kecewa dengan buku ini, tidak sesuai dengan harapan. Seandainya saya membaca buku ini lebih dulu, mungkin saya tidak mau lagi membaca buku karya Mingmei Yip.

Yang saya sukai dari buku ini mungkin hanya pace-nya cepat dan bahasanya yang mudah dipahami.

Saya belum kapok untuk membaca buku karya Mingmei Yip. Tapi, jika mengecewakan lagi, saya akan berhenti dan melupakan Mingmei Yip.

image

image

Kid Reads: The Little Engine that Could

image

Welcome to our new segment. Starting this month, I’m going to review children’s books, and perhaps, give some recommendations. Kid’s books are fun to read. It’s full colors, lightweight, and easy to absorb. The message is clear too. Each book has a purpose and, I feel a bit nostalgic everytime I read it. It always gives a good feeling. That’s what it’s all about, right?

And, our first book is:

image

The Little Engine That Could by Watty Piper
Illustrator: Cristina Ong
Published: March 28th 1991 by Grosset & Dunlap
Format: Board Book, 32 pages
ISBN: 9780448401010
Price: $5.98 (20% discount)
Purchased at: Better World Books
Age: 4 – 6
Goodreads Link: here

Designed especially for toddlers, this large die-cut board book features an intriguing locomotive shape, bright, cheery illustrations, and a simple retelling of the original story just right for reading aloud.

I bought this book merely because I was given a list of readings that teach about The 7 Habits of Highly Effective Kids. It’s not compulsory to buy the books, but I think teaching kids through reading is very effective.
Since AJ’s school implements the 7 habits daily, it’s good to prolong the learning at home.

I love this book. It teaches kids to empower them to overcome difficulties.

My favorite quote:

image

What AJ thinks about the book:

I like the book. I want to be like the little blue engine.

Creds: here and here

Enjoy this rainy Wednesday!

image

[Book Review] The Translator by Leila Aboulela

image

image

image

Judul: The Translator (Sang Penerjemah)
Penulis: Leila Aboulela
Web Penulis: di sini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Web Link: di sini
Terbit: Oktober 2011
Tebal: 272 halaman
ISBN: 9789792275865
Format: paperback
Kategori: Fiksi
Genre: Romance, Religion, Cultural
Beli di: Bazaar Gramedia Bintaro Plasa
Harga: IDR 15,000
Kalimat Pembuka:
Dia bermimpi hari itu hujan dan dia tidak bisa pergi keluar untuk menemui lelaki itu seperti yang telah direncanakannya.

image

Sammar, janda berkebangsaan Sudan, bekerja sebagai penerjemah bahasa Arab di universitas di Skotlandia. Sejak kematian mendadak suaminya, anak lelaki satu-satunya tinggal dengan keluarga Sammar di Khartoum, meninggalkan dia sendirian di Aberdeen yang dingin dan kelabu, berduka dan kesepian. Tetapi ketika dia mulai menerjemahkan untuk Rae, peneliti Islam dari Skotlandia, keduanya menjalin persahabatan yang sangat kuat yang membangunkan keinginan hidup Sammar yang selama ini dikubur dalam-dalam. Saat mereka mulai jatuh cinta, Sammar tahu mereka harus lebih dulu mengatasi perbedaan di antara mereka dalam menyikapi keyakinan masing-masing. Gabungan kisah cinta, antara manusia dan Tuhan-nya dirangkum dengan indah dalam cerita ini, The Translator adalah kisah keberanian seorang wanita untuk tetap teguh dengan keyakinan, diri, dan cintanya.

image

Terus terang saya bingung bagaimana meresensi buku ini. Dari awal hingga halaman 50an terasa flat dan tersendat-sendat, tidak jelas ke mana tujuannya. Pikiran Sammar, tokoh utamanya, juga melompat-lompat maju mundur, membuat saya jadi maju mundur juga bacanya.

Seperti yang sudah disebutkan di blurb, Sammar adalah penerjemah bahasa Arab di Skotlandia. Ia bekerja dengan Rae, peneliti Islam asal Skotlandia. Hubungan yang terjalin sangat lamban.
Profesi Sammar sebagai penerjemah juga tidak terlalu dalam tergali. Ia lebih banyak bercerita tentang keluarganya.

Rangkaian kata yang ditulis Aboulela puitis, tapi terkesan jadi bertele-tele karena lama sekali menuju tujuan.

Buku ini cocok untuk pembaca yang sabar.

image

[Book Review] An Abundance of Katherines by John Green

image

image

image

Judul: An Abundance of Katherines (Tentang Katherine)
Penulis: John Green
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Web link: klik
Tanggal terbit: September 2014
Tebal: 320 halaman
ISBN: 978-602-03-0893-7
Format: paperback
Kategori: Fiksi
Genre: Romance, Young Adult, Friendship
Beli di: Dapat dari Santa
Kalimat pembuka:
Pada pagi hari si anak ajaib Colin Singleton lulus SMA dan ditinggalkan untuk kesembilan belas kalinya oleh gadis bernama Katherine.

image

Katherine V menganggap cowok menjijikkan.
Katherine X hanya ingin berteman.
Katherine XVIII memutuskan Colin lewat email.

Kalau soal pacar, ternyata tipe yang disukai Colin Singleton adalah cewek-cewek bernama Katherine.

Dan kalau soal Katherine, Colin selalu jadi yang tercampak. Setelah diputuskan Katherine XIX, cowok genius yang hobi mengotak-atik anagram ini mengadakan perjalanan panjang bersama teman baiknya. Colin ingin membuktikan teori matematika karyanya, supaya dapat memprediksi hubungan asmara apa pun, menolong para Tercampak, dan akhirnya mendapatkan cinta sang gadis.

image

Memang pendapat Kirkus Review tidak bohong, buku ini sangat menghibur. Coba baca saja kalimat pembukanya, ngenes banget nasib Colin.
Membaca buku ini membuat saya kembali lagi ke masa SMA, di mana kaum geeks malah lebih populer daripada jocks (karena 90% siswa di SMA saya memang kaum culun).

Adalah Colin yang cerdas dan memiliki 19 pacar yang semuanya bernama Katherine (huruf depan ‘K’ bukan ‘C’) dan, sialnya, semua Katherine mencampakkan Colin.
Yang membuat saya heran, nerds itu biasanya susah dapat pacar, tapi kenapa Colin bisa ya punya 19 pacar?

Lalu, setelah dicampakkan oleh Katherine ke-19, Colin bersama sahabatnya, Hassan, bertualang demi mencari makna hidup, juga mencari tahu perhitungan tentang hubungan percintaan. Saya yang alergi dengan matematika sempat jeda sebentar demi memahami kurva-kurvaan dan tetek bengek ilmu matematika di buku ini.

Saya memang percaya, tiap orang memiliki pola, tapi saya nggak sedetail Colin yang sampai memakai rumus. Memang Colin ini aneh.

Colin dan Hassan berhenti di suatu tempat bernama Gutshot dan mereka berkenalan dengan seorang gadis bernama Lindsey Lee Wells (Southern abis memang namanya).

Ok, stop sampai di sini kalau nggak nanti jadi spoiler.

Sesuai dengan judulnya, An Abundance of Katherines memang buku yang unik dan bisa dikatakan one in a million. Saya lebih menyukai buku ini daripada The Fault in Our Stars.
John Green mampu membuat saya, yang bukan penggemar genre Young Adult, betah membaca karyanya hingga habis.

Yang bikin saya agak kesal tentu saja kelakuan Colin yang aneh dan cenderung annoying dengan segala keanehan dan OCD-nya. Sebaliknya, Hassan yang lucu dan menyenangkan jadi terlihat lebih ‘menonjol’.

Dan… saya suka banget sama covernya. Sampai saya otak-atik keisengan bikin versi ‘orang’-nya.

image

image

Nah, sekarang saatnya saya membuka jati diri Santa yang riddle-nya sudah dipost di sini.
Mudah-mudahan bener ya… apakah benar Santa saya Non Inge? Kalau benar, ditunggu pengakuannya ya 😂😁. Terima kasih banyak sudah mengirim 2 buku keren untuk saya *kecup virtual*

Sampai bertemu di even Secret Santa berikutnya 😍

image

image

[Book Review] Adultery by Paulo Coelho

image

image

image

Judul: Adultery (Selingkuh)
Penulis: Paulo Coelho
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Web Link: klik
Tanggal terbit: 8 Januari, 2015
Tebal: 320 halaman
ISBN: 978-602-03-1207-1
Format: paperback
Kategori: Fiksi
Genre: Romance, Family, Marriage, Literature
Usia pembaca: 18 tahun keatas
Beli di: Mbak Maria
Harga: IDR 48rb (ikut PO)
Kalimat pembuka:
Setiap pagi ketika aku membuka mata menyambut apa yang disebut dengan “hari yang baru”, rasanya aku ingin memejamkan mata kembali, tetap di tempat tidur, dan tidak turun.

image

Linda tahu dia perempuan yang beruntung.

Tapi setiap pagi, begitu membuka mata menyambut hari baru, dia merasa ingin tidur lagi.

Teman-temannya menyarankan dia minum obat saja. Tetapi Linda ingin menajamkan rasa, bukan menumpulkannya.

Maka dia pun terjun ke dalam suatu petualangan nekat dan tak terduga yang membangunkan dirinya yang dulu, yang dikiranya telah hilang sejak dia menjadi istri baik-baik, ibu yang penuh cinta, dan jurnalis yang ambisius.

Dia sungguh tak bisa menebak apa yang akan terjadi berikutnya…

Kadang-kadang kau harus kehilangan dirimu dulu untuk bisa menemukan dirimu yang sejati.

image

Selingkuh adalah buku pertama yang saya baca di tahun 2015 dan saya melonjak kegirangan saking sukanya dengan buku ini.

Penggemar Paulo Coelho pasti tahu, apapun genre tulisan beliau, pasti sarat dengan perenungan tentang makna hidup seseorang di dunia ini.

Linda, jurnalis ambisius dan cerdas, menemukan dirinya dalam kehampaan. Kelebihan materi dan keluarga utuh yang harmonis tidak membuatnya puas dan bahagia. Rutinitas yang monoton dan aktivitas yang mudah ditebak membuatnya depresi.

Bagi orang lain, Linda mungkin dianggap sebagai orang yang tidak bersyukur. Tetapi, kehampaan jiwa, seperti halnya agama dan orientasi seksual, bersifat pribadi dan hanya orang yang merasakan yang memahaminya.

Linda memulai petualangannya dengan mengubah rutinitasnya. Tinggal di negara Swiss yang sangat teratur dan aman membuatnya pengap. Pemberontakan demi pemberontakan dilakukan Linda untuk memuaskan dahaga, untuk mencari kesenangan batin.

Dosa pertama yang Linda lakukan terjadi secara tidak sengaja. Berlanjut dengan pertemuan berikutnya. Hubungan gelap tanpa ikatan yang ia lakukan dengan mantan kekasihnya, Jacob König, tidak membuat Linda merasa bersalah.
Jacob yang memiliki seorang istri, yang dalam gambaran saya mirip dengan sosok Jackie Kennedy, berkata ia tidak ingin bertemu lagi dengan Linda. Merasa dicampakkan, muncul pikiran-pikiran jahat dalam kepala Linda. Ia ingin menjebak istri Jacob sekaligus membuat skandal nasional yang akan menguntungkannya sebagai jurnalis.

Saya ingin membenci Linda, tapi saya tidak bisa. Saya yakin, 1 dari 3 orang istri pernah membayangkan membunuh suaminya dan pikiran-pikiran jahat lain yang tidak diketahui orang lain. Saya juga yakin, tidak ada pasangan menikah yang tidak pernah mengalami depresi, juga jenuh dengan hubungan seks dalam perkawinan.

Ada beberapa bagian buku ini yang membuat saya bosan, yaitu penjabaran ayat Injil yang agak panjang. Mungkin saya tipe pembaca yang tidak sabaran jadi saya ingin segera mengetahui kenekatan yang akan dilakukan Linda.

Sekali lagi, Paulo Coelho berhasil membuktikan kepiawaiannya dalam merangkai kata-kata puitis yang lembut sekaligus meledak-ledak. Beliau juga mampu menuliskan adegan seks yang brutal tanpa terkesan porno dan murahan. Walau tema yang diusung klise, Coelho mengolahnya menjadi bacaan yang membuat saya merenung selama beberapa jam setelah membaca buku ini.

Selingkuh diceritakan dari sudut pandang orang pertama, yaitu Linda, dan uniknya, kalimat langsung yang diucapkan Linda jarang menggunakan tanda petik.

Setelah membaca Selingkuh versi terjemahan, saya jadi ingin membaca versi Bahasa Inggrisnya. Dan yang paling utama, saya menjadi lebih bersyukur diberi suami dan anak yang membuat hidup saya lebih berarti. Thank you, Sir Coelho 😚.

image

Kata mereka, seks dalam perkawinan hanya menarik selama lima tahun pertama, dan setelah itu dibutuhkan sedikit “imajinasi”. (hal. 15)

Kenyataannya adalah, aku lelah memiliki kehidupan sempurna yang bahagia. Dan itu hanya bisa berarti pertanda penyakit mental. (hal. 26)

“Kita bukan orang yang semula kita inginkan. Kita adalah yang dituntut masyarakat. Kita adalah apa yang dipilih orangtua kita.” (hal. 165)

Cinta tidak cukup dan tidak pernah cukup. (hal. 229)

Paulo Coelho Reading Challenge – #CoelhoRC

image

image

[Book Review] The Moon Opera by Bi Feiyu @Elexmedia

book_info

20141212-060641.jpg

Judul: The Moon Opera
Penulis: Bi Feiyu
Penerjemah: Indrayati Soebakdi J.A.
Penerbit: Elex Media Komputindo
Web Penerbit: klik
Goodreads: klik
Terbit: 30 Oktober 2013
Tebal: 144 halaman
ISBN: 9786020224084
Kategori: Fiksi
Genre: Budaya, Chinese Literature
Beli di: Mbak Maria
Harga: Rp. 15,000 (Clearance Sale)
Kalimat pembuka:
Bagi Qiao Bingzhang acara makan malam itu seperti kencan buta, dan dia baru menyadari setelah separuh acara berlangsung, bahwa lelaki yang duduk di seberangnya adalah seorang pengusaha pabrik rokok.

book_blurb

Bi Feiyu—seorang pujangga muda dari Cina yang berbakat—mengangkat kehidupan opera Cina dan bintangnya, menciptakan kembali segala godaan dan kesuksesan yang dihasilkan dari pementasan itu.

Seorang diva yang iri hati, Xiao Yanqiu, bintang dari Opera Rembulan—sebuah opera Cina yang sukses di zamannya—mencelakai pemeran penggantinya dengan air mendidih hingga cacat wajah seumur hidup. Dengan alasan itulah dia dikucilkan oleh anggota rombongan sandiwaranya, dan beralih menjadi seorang pengajar di sebuah akademi drama.

Dua puluh tahun kemudian, seorang bos pabrik rokok menawarkan diri untuk menanggung semua biaya pementasan ulang opera terkutuk itu, namun hanya jika Xiao Yanqiu yang memerankan peran Chang’e. Maka dia pun melakukannya, dan percaya bahwa dia adalah seorang dewi bulan yang hidup dalam keabadian.

Kisah yang dipenuhi dengan intrik, drama, dan kecemburuan di belakang panggung sebuah opera Peking, The Moon Opera menyajikan gambaran mengagumkan tentang seorang wanita dengan dunia yang secara tidak sadar telah menjunjung sekaligus membatasinya.

Editor’s Note
Kisah ini dituliskan dengan singkat namun dramatis oleh sang penulis. Sang penulis menampilkan emosi yang mengena dalam tulisannya. Membawa kita masuk ke dalamnya sehingga kita dapat mengikuti aliran emosi yang dibawa sang penulis ke dalam kisah itu. Dinominasikan dalam Independent Foreign Fiction Prize tahun 2008.

thoughts

The torment of envy is like a grain of sand in the eye.
(Chinese Proverb)

Di mana wanita berkumpul, di situ ada iri hati. Mungkin perempuan memiliki kadar iri dan cemburu yang lebih besar daripada pria. Entahlah. Dalam kehidupan sehari-hari banyak ditemui kasus pencemaran nama baik hingga kriminal yang pelakunya wanita atas dasar iri hati atau cemburu.

Xiao Yanqiu, tokoh sentral dalam The Moon Opera, dikisahkan berparas cantik, memiliki tubuh indah dan lentur, serta suara merdu yang mampu memukau penonton opera. Di usia sembilan belas, Yanqiu tampil sebagai Chang’e (pemeran utama wanita dalam pertunjukan opera Cina). Dalam setiap pertunjukan opera, selalu ada pemeran pengganti untuk mendukung pemeran utama. Li Xuefen, aktris tersohor pada zamannya, bertugas sebagai pemeran pengganti dalam Opera Rembulan. Yanqiu yang tidak mau berbagi dengan Xuefen, memonopoli peran dalam panggung dan tidak memberi kesempatan pada Xuefen untuk unjuk kebolehan di depan penonton.

Konflik tak terelakkan. Yanqiu menyiram wajah Xuefen dengan air panas. Opera Rembulan tidak jadi dipentaskan.

Waktu berlalu dan Yanqiu bertambah usia. Pemilik pabrik rokok ingin agar Opera Rembulan kembali dipentaskan. Yanqiu bersemangat ingin kembali naik pentas, tapi kemampuan yang dulu ia miliki telah hilang. Chunlai, Chang’e baru yang masih muda didapuk untuk menggantikan Yanqiu. Sadar akan kemampuannya, Yanqiu melatih Chunlai agar penampilannya sempurna. Namun dalam hati, Yanqiu masih belum rela untuk mundur sebagai pemeran pengganti.

Selain konflik dalam grup opera, rumah tangga Yanqiu dengan suaminya, Miangua, juga mengalami turbulensi. Pada akhirnya, saya sebagai pembaca merasa kasihan pada Yanqiu.

Novel ini pendek dan sebenarnya bisa dibaca dalam sekali duduk. Namun saya tidak menemukan greget seperti saat membaca Farewell, My Concubine yang juga berkisah tentang pemain opera Cina dan rasa cemburu yang memicu konflik. Beberapa bagian The Moon Opera membuat saya bosan, terutama bagian Yanqiu dan Miangua. Novel ini singkat tapi kurang padat. Tokoh Yanqiu juga sangat menyebalkan. Airmata penyesalan seolah palsu dan tetap tidak menimbulkan rasa simpati.
Mungkin jika membaca bahasa aslinya, buku ini akan lebih enak dibaca. Sayang saya tidak bisa bahasa Mandarin.

Yang saya sukai dari buku ini adalah kutipannya. I’m a sucker for beautiful quotes. Gara-gara membaca buku ini, saya jadi kepikiran ingin punya 1 notebook khusus berisi kutipan.

Saya masih punya 1 buku karya Bi Feiyu lagi yang mengantri di timbunan. Semoga lebih seru dari The Moon Opera.

image

Ada saat ketika seorang wanita seakan memang terlahir untuk menjadi milik pria yang ditangisinya. (hal. 37)

Lelaki berkelahi dengan lelaki lain, tetapi perempuan menghabiskan seluruh hidup mereka untuk memerangi diri sendiri. (hal. 46)

20141212-072005.jpg

Need a second opinion?
Juushika

Have a fantastic day!

image

[Book Review] My Crazy Beautiful Life by Kesha

image

image

Title: My Crazy Beautiful Life
Author: Kesha
Publisher: Touchstone
Web Link: here
Date of Release: November 20, 2012
No. of Pages: 192
ISBN: 1476704163
Format: Coffee Table
Category: Non Fiction
Genre: Biography, Memoir, Autobiography, Music

image

In less than three years, I’ve gone from being the worst waitress in LA to living out my childhood dreams of singing my songs to people all over the world. Sometimes, it feels as if the last few years have encompassed a few decades. . . . You might have heard my voice on the radio, seen me onstage and on the red carpet, or in a music video, but that’s only a part of the story. In these pages, I’m revealing a more complete picture of what my life is really like. It’s not all glamorous and it’s not all pretty, but it’s all real. . . . I want you to come on a whirlwind journey with an all-access pass to My Crazy Beautiful Life.

image

I bought this book on Periplus website (bargain bin FTW! Thank you, Ren). Not a huge fan of Ke$ha but I was quite intrigued by her antics.

I read the introduction and I liked it. I postponed my reading as I lost interest in reading (reader’s block?). Seriously, I’ve been trapped in this zone for quite some time. Then I got sick, had bedrest, and I picked it up again. I finished this book in an hour.

This book tells a bit about Kesha’s childhood, how her brother got her into music (they formed a garage band called “Dynamite Cop”), and she tells about her tough school years as she moves a lot. She starts writing music when she was 4 years old.

Kesha was born at a party, getting accepted into Ivy Leagues, but soon dropping out of high school to pursue music career. Moving to Los Angeles from Nashville, she works as a waitress, a telemarketer, a TV extra, etc, just to pay gas.

After 4 years, all her hardwork is paid. She hears “Tik Tok” on the radio and the rest is history.

This book is jam-packed with beautiful quotes, family and stage pictures, journals, and lyric sheets. I got a big picture of Kesha’s life as an artist. If you’re looking for an in-depth memoir, this is not the book for you. But if you want to read a fun and fast-paced book, you can give it a try.

Kesha is suing Dr. Luke (her producer) for alleged sexual assault and emotional abuse (link)

image

I know how it feels to be bullied; I know that it can stay with you for a long time.

I wanted to write a massive party anthem that would get the whole world moving.

I never have expectations, because as soon as you expect something, you can be disappointed.

image

image