Blog Archives

[Movie Review] James and the Giant Peach

933899_10151449978871173_860358812_n

movie_info

James_and_the_giant_peachTitle: James and the Giant Peach

Directed by: Henry Selick

Produced by: Tim Burton and Denise DiNovi

Screenplay: Steven Bloom, Karey Kirkpatrick, Jonathan Roberts

Based on: James and the Giant Peach by Roald Dahl

Starring: Paul Terry, Simon Callow, Richard Dreyfuss, Susan Sarandon

Music: Randy Newman

Cinematography: Pete Kozahik, Hiro Narita

Studio: Walt Disney Pictures, Allied Filmmakers, Skellington Productions

Distributed by: Buena Vista Pictures

Running Time: 79 Minutes

Budget: $38 Mill

Box Office: $37,734,758

thoughts

James and the Giant Peach tidak beda jauh dengan bukunya. Hanya visualisasinya yang berbeda. Pada saat James masih tinggal bersama kedua bibinya yang jahat, ia masih berbentuk manusia. Ketika si lidah buaya tak sengaja tertelan, ia berubah bentuk menjadi kartun, seperti teman-teman serangganya.

Gue suka sekali dengan scoring James and the Giant Peach, nggak sedangdut Charlie. Sepertinya Tim Burton memang penggemar berat Roald Dahl, karena sudah beberapa kali ia menggarap karya Roald Dahl.

Beberapa adegan diperhalus, seperti siksaan terhadap James tidak ditampilkan eksplisit, juga kedua bibi James tergilas saat keduanya berada di dalam mobil. Mereka sehat wal’afiat tidak kekurangan apa pun, hanya mobilnya saja yang penyok.

Untuk animasi, gue melihat kemiripan dengan The Nightmare Before Christmas yang juga gue suka. Mungkin memang ciri khas Selick dan Burton adalah senang dengan nuansa gelap dan mencekam. Agak-agak gothic gitu. Demikian juga dengan James and the Giant Peach yang kemuramannya lebih dominan sebetulnya.

Karena sudah membaca bukunya, gue jadi tidak surprised menonton adegan demi adegan, walau gue masih menikmatinya.

Apakah gue merekomendasikan James and the Giant Peach? Yes, tonton aja di TubePlus kalau mau menonton streaming.

Gue selalu suka dengan film tema persahabatan. This is definitely one of my favorites.

Salah satu adegan favorit adalah ketika laba-laba membuat tempat tidur untuk James, dan lalu laba-laba berkata, “You are a brave boy.” Kening James dikecup, seperti layaknya ibu kepada anaknya. I was really touched.

Lalu, ketika sampai di New York, kedua bibi James muncul dengan dandanan layaknya kuntilanak. Of course, ketebak seperti apa endingnya.

Tonton aja supaya tahu serunya film ini 🙂

 

Submitted for:

Books  into Movie Challenge

[Book Review] The Boy in the Striped Pyjamas by John Boyne

book_info

stripedbook_blurb

Kisah tentang Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis ini sulit sekali digambarkan. Biasanya kami memberikan ringkasan cerita di sampul belakang buku, tapi untuk kisah yang satu ini sengaja tidak diberikan ringkasan cerita, supaya tidak merusak keseluruhannya. Lebih baik Anda langsung saja membaca, tanpa mengetahui tentang apa kisah ini sebenarnya.

Kalau Anda membaca buku ini, Anda akan mengikuti perjalanan seorang anak lelaki umur sembilan tahun bernama Bruno (Meski buku ini bukanlah buku untuk anak kecil). Dan cepat atau lambat, Anda akan tiba di sebuah pagar, bersama Bruno.

Pagar seperti ini ada di seluruh dunia. Semoga Anda tidak pernah terpaksa dihadapkan pada pagar ini dalam hidup Anda.

thou-ghtsSuatu hari, Brun0 mendapati Maria, pelayan keluarganya, mengepak barang-barangnya. Sejak saat itu, garis hidup Bruno berubah. Ayahnya adalah ‘orang penting’ di dunia militer Jerman, bahkan The Fury (Hitler) beberapa kali datang menemui orangtuanya di rumahnya.

Keluarga Bruno pindah ke Out-With (Auschwitz), tempat orang Yahudi ditempatkan di kamp konsentrasi. Awalnya Bruno sedih, dan mengalami homesick. Ia teringat ketiga sahabatnya, Karl, Martin, dan Daniel. Tetapi, tentu saja Bruno tidak bisa kembali ke Berlin karena ayahnya adalah komandan tentara yang bertugas di Auschwitz.

Bruno yang menyukai petualangan, mulai berani menjelajah daerah yang membuat ia penasaran: pondok-pondok dengan kumpulan orang berpiyama garis-garis yang kerap ia perhatikan dari jendela kamarnya. Karena sangat penasaran, ia menelusuri jalan hingga sampai di daerah gersang yang dihadang oleh pagar kawat berduri. Di sana ia berkenalan dengan Shmuel, seorang anak Yahudi yang lahir pada tanggal, bulan dan tahun yang sama dengan Bruno.

Persahabatan backstreet mereka berlangsung hingga suatu saat, karena ibu Bruno tak tahan dengan suasana mencekam di Auschwitz, Bruno, Gretel (kakak Bruno) dan ibunya diminta untuk kembali ke Berlin. Bruno sedih karena ia mulai bersahabat dengan Shmuel.

Bruno adalah anak yang cerdas dan penuh dengan curiosity. Sedangkan Shmuel adalah anak dengan hati yang tulus. Pagar kawat pemisah antara dunia luar dengan kamp konsentrasi adalah simbol tentang ‘perbedaan’ yang memagari orang-orang untuk ‘berbaur’.

Novel ini sukses membuat gue banjir airmata, memikirkan Bruno dan Shmuel, hingga sampai saat ini masih belum bisa move on ke novel lain. (Damn you, John Boyne).

Gue bakal baca ulang novel ini dan mewariskannya pada AJ.

bookj5

20130322-091443.jpg