Monthly Archives: February 2013

[2013 Reading Challenge] Historical Fiction Hosted by Hobby Buku

20130214-052412.jpg

Mau coba level Collector dulu.
Challenge untuk tahun 2013 ini:
1. Indonesian History Theme: Rara Mendut – Y.B. Mangunwijaya
2. European History Theme: The Lady & The Unicorn – Tracy Chevalier
3. Japanese History Theme: Weedflower – Cynthia Kadohata
4. Korean History Theme: Princess Deokhye – Kwon Bee Young
5. Chinese History Theme: Pavillion of Women (Madame Wu) – Pearl S. Buck

6. The Red and the Black – Stendhal

Thanks Hobby Buku for hosting this fun challenge.

Challenge ini dimulai dari tahun 2013 sampai 2015. So, yang belum ikutan, langsung aja ke TKP ya.

20130225-083406.jpg

[Book Review] Weedflower by Cynthia Kadohata

20130225-053344.jpg

Judul: Weedflower (Bunga Liar)
Penulis: Cynthia Kadohata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Kategori: Fiksi Terjemahan
Genre: Historical Fiction/Middle Grade/Cultural/Asian Lit
Jumlah halaman: 270
Terbit: Oktober 2008

Book Blurb

Sumiko yang berumur dua belas tahun merasa hidupnya terbagi atas dua bagian: sebelum dan sesudah Pearl Harbor. Bagian yang baik dan bagian yang buruk. Dibesarkan di perkebunan bunga di California, Sumiko sudah terbiasa menjadi satu-satunya gadis Jepang di kelasnya. Meskipun anak-anak lain mengejeknya, Sumiko memiliki rumah, keluarga, dan bunga-bunga liarnya.

Semua itu berubah setelah peristiwa Pearl Harbor. Orang-orang Amerika curiga bahwa seluruh warga keturunan Jepang—termasuk mereka yang lahir di Amerika Serikat seperti Sumiko—adalah mata-mata Kaisar. Ketika kecurigaan itu semakin membengkak, Sumiko dan keluarganya mendapati diri mereka diangkut ke kamp konsentrasi di salah satu padang gurun terpanas di Amerika.

Warna-warni bunga yang melingkupi hidup Sumiko lenyap sudah, berganti dengan badai debu yang menghitamkan langit dan menerobos setiap pori-pori barak militer yang merupakan `rumah` barunya.Sumiko dengan cepat menemukan bahwa kamp itu terletak di daerah reservasi orang India, dan orang Jepang tidak diterima di situ seperti juga di tempat sebelumnya. Tapi kemudian Sumiko bertemu dengan seorang pemuda Mohave. yang mungkin bisa menjadi sahabat pertamanya, kalau saja sang pemuda mau melupakan amarahnya kepada orang Jepang yang dianggap menyerobot tanahnya.

Dengan pemahaman yang tajam dan mendalam, dan dengan meminjam mata seorang gadis remaja yang mendambakan tempat, Cynthia Kadohata mengeksplorasi dampak pengeboman Pearl Harbor terhadap orang-orang Jepang di Amerika pada masa Perang Dunia II. Weedflower adalah kisah keindahan dan tantangan persahabatan antar-ras, dan mengangkat kisah nyata bagaimana pertemuan warga Amerika keturunan Jepang dan penduduk asli Amerika telah mengubah masa depan keduanya.

Thoughts

Beberapa tahun lalu, gue sempet beli buku ini di Gunung Agung PIM. Murah banget, kalo nggak salah 20 ribuan. Setelah itu, gue sempet nyari-nyari buku ini di lemari buku, tapi ternyata raib digondol maling yang pernah gue piara di rumah.

Setelah googling sana-sini, gue nemu lagi buku ini di salah satu OL seller dan pas datang gue buru-buru baca.

Cover buku versi terjemahan jauh lebih bagus daripada versi Bahasa Inggrisnya, menurut gue. Suka dengan komposisi warna dan gambar cewek Jepang pake kimono setengah badan.

Gue juga suka dengan tokoh Sumiko yang walau keras kepala, ia melindungi adiknya Tak-Tak. Sumiko juga digambarkan sebagai remaja yang tough, terutama setelah peristiwa Pearl Harbour yang menyebabkan dia dan keluarganya dipindahkan ke kamp penampungan. Yang bikin sedih, Sumiko harus berpisah dengan kakek dan pamannya.

Air mata gue menggenang waktu Sumiko ditolak masuk ke rumah teman sekelasnya (yang berkulit putih) di acara pesta ulang tahun. Langsung inget dengan kejadian waktu gue kecil yang bikin nyesek. It hurts when your friends ditch you because you’re different.

Kesukaan Sumiko akan bunga dan tanah juga menjadi cemoohan teman-temannya. I wonder whether the kids still do that these days: mocking their friends who (they think) are weird.

Sumiko dan keluarganya pindah dua kali. Di tempat penampungan terakhir, ia bertemu dengan Frank, cowok keturunan Indian yang hidupnya lebih memprihatinkan daripada warga keturunan Jepang yang hidup di kamp penampungan.

Sedikit demi sedikit tumbuh rasa suka diantara keduanya.

Yang gue suka dari buku ini adalah family values yang dijunjung tinggi tokoh-tokohnya. Baik Sumiko yang keturunan Jepang, maupun Frank yang keturunan Indian. Lalu, secuplik-dua cuplik adat Jepang dan Indian juga menjadi bumbu manis di buku ini.

Gue kurang puas dengan ending-nya yang agak nanggung. Gue berharap penulisnya mau nulis kelanjutan buku ini, karena gue membayangkan Sumiko dan Frank dewasa.

Istilah-istilah di buku ini:

kusabana = bunga liar
Nikkei = orang-orang berdarah Jepang yang ada di Amerika
hanafuda = permainan kartu dengan perangkat kartu khusus (bergambar bunga)
Gaman = Kita harus mampu menanggungnya
Hakujin = orang bule
Issei = generasi pertama imigran asal Jepang
haji = malu

Buku ini cocok untuk dijadikan bacaan referensi di kelas Sejarah SMP.

20130225-061243.jpg

20130225-061434.jpg

[Blog Tour] Descension (Mystic, #1) by B.C. Burgess Review + Giveaway

Descention Tour Banner

Welcome to the blog tour for Descension organized by B.C. Burgess hosted by AToMR Tours! Descension is the first book in Mystic series.

descension-cover

Descension (Mystic, #1) by B.C. Burgess
Release date: April 4, 2012
Genre: Paranormal Romance
Age Group: YA

Book links:
Amazon | B&N

Summary:

Finding out you’re the most powerful witch in the world should make things easy, right? Wrong! Join Layla as she abandons her lonely existence in Oklahoma and embraces a life full of magic, love, heartbreak and danger…

The Angel
After three years caring for her dying mother, Layla Callaway learns she was adopted under unusual circumstances. Following a cryptic message to seek her birth family in Oregon, Layla uproots her lonely life, quickly finding she descends from witches and wizards. Magic is in her blood, and a handsome family friend is eager to prove it. Through a ring imprinted with her birth parents’ memories, Layla’s enigmatic past comes to light, presenting possibilities and trials more chimerical than her wildest dreams.

The Guardian
Quin’s natural charisma yields plenty of witches, but he longs for the lost witch–-the mysterious Layla. He’s dreamed about her his entire life, envisioning the day he would lay eyes on her face and aura. When that day arrives, not only is he breathless, he’s confronted with the challenge of a lifetime–-an innate need to keep her safe and forever by his side.

The Hunter
Employing fiendish manipulation and manpower, Agro uses the arcane force of others to elevate his supremacy and wealth. Nothing pleases him more than latching on to a mystical vein, and never has there been a more enticing source. The divine witch will be his.

Stretching from coast to coast and teeming with loathed villains and beloved heroes, Descension is rich with emotion, magic and intrigue. Whether the reader is laughing, crying or falling in love, they’ll find themselves invested in Layla’s fate through the rich dialogue and emotionally driven characters that weave the web of this fiery tale.

Giveaway: 8 ebook copies of Descension (INT)

a Rafflecopter giveaway

Review:

The cover is great, so witchy. You can feel what it portrays on the cover.

The book started off slow, but I understand the author wanted to show Layla’s background and the heartache that she felt. Layla had no idea she was adopted. Slowly but sure, she found her soul mate. It’s magical how Layla and Quin found love, and their path leads to the new magical world where witches and wizards live together in harmony.
Layla is likeable. She has the qualities of a heroine in a story.

I also love Aedan and Rose’s story. I think the author should write a book about them. I was blown away.

Agro is the lovely villain. In my imagination, he must be dark, mysteriously handsome with piercing eyes.

It’s an emotional journey and I want to visit Oregon someday.

20130202-023047.jpg

About the Author

5807648

I’m a small town girl with big dreams and a wild imagination. I’m addicted to coffee and writing. The combination is my idea of heaven. I read every day, if only to my young son, whom I hope to someday inspire with my passion for writing.
I love hearing from my readers, so feel free to contact me through any of the links below.

20130202-062810.jpg

[Blog Tour] Focus by Alyssa Rose Ivy + Flight Review

Focus Tour Banner

Welcome to the blog tour for Focus by Alyssa Rose Ivy organized by AToMR Tours! Focus is the second book in The Crescent Chronicles series. I’m reviewing the first book, Flight.

focus_ARI

Focus (Crescent Chronicles, #2) by Alyssa Rose Ivy
Release date: January 23, 2013
Genre: Paranormal Romance
Age Group: Mature YA/ New Adult

Book links:
Amazon | B&N | Goodreads

SummaryFreshman year of college is hard even when you’re not tied to the future king of a supernatural society.

Allie dives into college head first with Hailey as her roommate and the city of New Orleans as her backyard. As things within The Society heat up, Allie realizes that whether she’s with Levi or not, she’s in far too deep to turn back.

flight

Flight (Crescent Chronicles, #1) 
Summary:  Sometimes you just have to take flight.
 
A summer in New Orleans is exactly what Allie needs before starting college. Accepting her dad’s invitation to work at his hotel offers an escape from her ex-boyfriend and the chance to spend the summer with her best friend. Meeting a guy is the last thing on her mind—until she sees Levi.
 
Unable to resist the infuriating yet alluring Levi, Allie finds herself at the center of a supernatural society and forced to decide between following the path she has always trusted or saving a city that might just save her.

Review

I love the cover. It’s dark, mysterious and sexy in a way. I’ve never been to New Orleans, but in my mind, New Orleans is dark and kinda gothic. Reminds me of Anne Rice’s novels. I pronounce New Orleans as the capital of supernatural setting.

Allie and Levi are meant to be together. I’m not a huge fan of Levi, but then I start to understand and try to cope with his attitudes. His mysterious side is appealing, and I want to know more about him.
Allie is insecure, but I love her guts. She’s mature, willing to take a risk. Allie is likeable, whereas Jess is someone who can raise eyebrows.

Overall, I like the story. It’s unlike any other paranormal romance books. Once you read it, you’d be hunger for more. Can’t wait to read Focus and Found. Oh, one more thing, Flight is not about vampires or werewolves. Not gonna tell you what :))

20130213-043754.jpg

About the Author

Author pic

Alyssa Rose Ivy lives in North Carolina with her husband and two young children. Although raised in the New York area, she fell in love with the South after moving to New Orleans for college. After years as a perpetual student, she turned back to her creative side and decided to write.
Find the Author:

[Book Review] Madame Wu by Pearl S. Buck

20130213-035114

Judul: Pavillion of Women: Madame Wu
Penulis: Pearl S. Buck
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juni 2007, Cetakan kelima
Jumlah halaman: 520
Kategori: Fiksi terjemahan/Klasik/Sastra Cina/Fiksi Sejarah

Book Blurb:

Betulkah perkawinan merupakan prestasi terbesar bagi wanita?
Sesuai adat Cina, Madame Wu menikah dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Mereka dikaruniai empat putra. Di rumah suaminya yang kaya raya itu, Madame Wu menjalankan tugas-tugasnya sebagai istri dan ibu. Dia istri yang sempurna dalam segala hal.
Pada hari ulang tahunnya yang keempat puluh, Madame Wu memutuskan untuk melepaskan diri dari keeajiban melayani suaminya. Sekarang dia hanya akan mencari kepuasan jiwa. Dia akan membeli gundik untuk melayani kebutuhan suaminya…

Inilah novel cemerlang yang mengungkapkan perasaan hati manusia. Kisah seorang wanita yang nasibnya diubah oleh cinta yang agung.

Pertama kali dengar nama Pearl S. Buck waktu duduk di bangku SMP. Waktu itu, guru Bahasa Indonesia pernah bertanya tentang penulis favorit anak-anak. Dengan mata berbinar, beliau bercerita tentang betapa indahnya buku-buku karya Pearl S. Buck. Baru sekarang gue ngerti perasaan guru Bahasa Indonesia gue itu. Memang sangat indah. I was blown away. Sayang, nyokap gue bukan penggemar Pearl S. Buck, jadi gue baru sekarang bisa mencicipi buku-bukunya. Waktu sekolah duluk biasanya gue melalap buku di rak nyokap.

Mengambil latar waktu sebelum perang dunia kedua di Cina, novel ini berkisah tentang pencarian cinta sejati dan makna hidup. Bahwa sesungguhnya banyak aturan atau adat yang mengkungkung kebebasan dan bertentangan dengan kata hati yang sesungguhnya.

Tokoh sentral dalam novel ini adalah Madame Wu (yang memiliki nama kecil Ailien). Ia adalah penghubung dari semua tokoh-tokoh yang ada di buku ini. Biasanya gue nggak terlalu suka dengan novel yang tokohnya agak banyak, tapi tidak dengan novel ini. Karena tiap tokoh punya peranan, bukan asal tempel saja.

Mr. Wu adalah suami Madame Wu. Lalu, ada keempat anak laki-laki beserta menantunya, ibu dan bapak mertuanya (kadang diceritakan secara flashback). Selain itu, ada asisten pribadi Madame Wu, Bruder Andre yang mengajarkan filosofi hidup, Madame Kang, Suster Hsia, dan dua gundik Mr. Wu.

Di halaman 340-an, mata gue basah. Udah lama nggak nangis waktu baca novel. Gue nggak mau cerita apa yang membuat mata gue basah, karena nanti jadi spoiler.

Gue suka sekali sama novel ini karena perubahan pada tokoh-tokohnya signifikan, endingnya juga memuaskan walau diselipi beberapa kematian tokoh-tokohnya. Banyak perenungan dan pembelajaran dari novel ini, juga quote-quote yang jleb.

Menilik kultur dan sejarah Cina, pada masa itu memang masih berlaku perjodohan. Biasanya, orangtua memilihkan calon pasangan untuk anak memakai jasa Mei Ren atau Mak Comblang. Bahkan, pengantin pria belum melihat wajah pasangannya sebelum malam pertama.
Begitu juga dengan Madame Wu yang menjodohkan anak-anaknya, kecuali Tsemo yang ngotot menikah dengan pilihannya sendiri. Madame Wu pada awalnya kurang suka sehingga pasangan itu agak terasing di rumah mereka. Menurut kepercayaan orang Cina, laki-laki harus mengambil istri yang umurnya lebih muda dan lebih baik kurang pendidikannya. Sedangkan istri Tsemo lebih tua satu tahun dan berpendidikan. Bahkan ia menjadi aktivis memprotes kebijakan pemerintah.

Yang mearik lagi adalah masalah poligami. Sekitar tahun 1930an, praktek poligami seharusnya sudah dilarang karena ada Undang Undang yang menyatakan demikian, tapi tidak dalam prakteknya.

Sewaktu Madame Wu memutuskan untuk mengambil gundik untuk Mr. Wu, Rulan (istri Tsemo) protes dan mengatakan bahwa ada larangan untuk itu, dan poligami itu sudah kolot. Tapi Madame Wu menjawab bahwa pelarangan itu hanya aturan yang tertulis saja. Pada prakteknya, memang masih banyak yang melakukan poligami. Madame Wu melakukan itu untuk mencegah suaminya pergi ke rumah pelacuran, walau ia juga kecolongan karena Mr. Wu pergi ke sana bersama besannya, Mr. Kang.

Hanya satu kelemahan novel ini, terlalu banyak memakai kata ‘insyaf’ yang bisa diganti dengan kata ‘sadar’.

It’s a perfect Chinese New Year reading.

20130213-043754.jpg

20130213-043827.jpg

[Book Review] Au Pair: Backpacking Keliling Eropa dengan Menjadi Babysitter by @ichayuz

20130202-054420.jpg

Judul: Au Pair: Backpacking Keliling Eropa dengan Menjadi Babysitter
Penulis: Icha Ayu
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan I
Terbit: Desember 2012
Jumlah Halaman: 232
ISBN: 9786027572096
Genre: Non-fiction/Travel/Memoir

Book blurb:

Pengin mahir berbahasa asing dan jalan-jalan keliling Eropa? Kenapa tidak coba ikutan program au pair?

Yup, au pair (baca: oper) adalah program yang memungkinkan semua orang dengan batasan usia tertentu bisa terbang ke Eropa dan mempelajari bahasa serta budayanya dengan bekerja sebagai baby-sitter. Selain mendapat gaji yang bisa dipakai untuk traveling, menjadi au pair juga akan menambah “nilai jual” kita setelah pulang ke tanah air.

Mau tahu caranya dan apa saja yang harus dipersiapkan? Di buku ini, akan dibahas secara lengkap all about au pair. Dari mulai cara daftarnya, memilih host family, membuat resume yang menarik, sampai tips dan trik jalan-jalan secara murah meriah di Eropa à la au pair. Bukan itu saja, di buku ini, penulis juga sharing pengalamannya ketika menjadi au pair di Prancis selama dua tahun.

Thoughts:

Pertama kali tau tentang buku ini dari twitter @Stiletto_Book . Langsung tertarik pengin beli karena: 
1. Settingnya di Eropa. Gue punya memori tersendiri dengan benua ini. 
2. Karena judulnya (pake bold dan caps lock) AU PAIR. Gue langsung melotot baca judul bukunya, karena gue pun punya pengalaman nano-nano dengan Au Pair.
3. Gue suka dengan buku yang memiliki tema Au Pair/Babysitter/Nanny. So far, gue udah baca dua buku Hollywood Nanny yang seru, tapi belum pernah baca buku tema ini dengan penulis orang Indonesia.

Asli gue ngiri berat sama Icha. Gimana nggak? Icha bisa berkelana 2 tahun di Eropa dan merasakan pahit getir hidup di sana. Dan yang paling bikin gue sirik adalah menikmati outdoor yang jarang banget bisa gue dapatkan di ibukota tercinta ini.

Menjadi Au Pair memang gambling. Sukur-sukur dapat keluarga yang asik. Segala harapan dan excitement Icha harus pupus ketika ia tinggal di rumah keluarga Abdul.
Gue bisa ngebayangin gimana seremnya tinggal di rumah itu. Mungkin lebih baik tinggal di kastil Count Dracule kali ya, secara itu kan tokoh fiktif, sedangkan a scumbag with the name Abdul itu nyata. Gue juga ikut emosi saat membaca detik-detik terakhir Icha dan Abdul bertemu.

Dan dari buku ini gue juga jadi tahu istilah couchsurfing dan wwoofing. Sounds like a dog *ngikik*.
Pas baca bagian wwoofing, gue jadi teringat cerita suami waktu kuliah di Perth. Waktu jalan mau piknik sama teman-temannya, di tengah jalan ada cewek Jepang hitchhiking. Dia cerita kalo dia itu sebenarnya turis yang kehabisan uang. Jadi dia kerja di fruit farm, sampe duitnya terkumpul, baru dia traveling lagi. Memang terdengar nekat, tapi fun karena bisa merasakan real adventure, and I miss that kind of adventure.
Menurut cerita si Jepang, banyak orang Jepang yang kerja sebagai waiter atau wwoofing di Australia. Kalo yang gila malah jual diri segala *knock on wood, amit-amit jabang babon yah*

Icha juga nekat ber-hitchhiking yang memang menurut gue sangat berani. Trust is the key word. Pake feeling juga supaya nggak dikerjai sama orang yang kita tumpangi.

Lalu, bab tentang Samuel bikin gue deg-degan. Ooh la la, ternyata memang ada apa-apanya. Gue belum baca buku pertama Icha. Setelah ini, gue bakal baca bukunya yang sepertinya nyambung dengan buku Au Pair ini.

Yang bikin gue held my breath adalah waktu Icha cerita kisahnya di Italia. Salah satu impian gue adalah mengunjungi Verona yang kebayang sangat romantis. Jujur, gue jauh lebih kepengen pergi ke Verona daripada Paris. Pernah lihat di channel TLC yang membahas kota Verona, dan gue langsung terpesona dengan keindahan kota kunonya. Yes, rumah Juliet juga salah satu situs wajib untuk dikunjungi.

Di akhir buku, gue ikut menitikkan air mata, langsung teringat dengan beberapa sahabat gue di Swiss. Hari terakhir waktu gue diantar ke stasiun, gue berpelukan sambil nangis.

Au Pair bukan hanya sekedar buku tips traveling ke Eropa, tapi ada kisah di dalamnya yang bikin gue nggak mau berhenti baca. Emosi gue ikut teraduk saat membaca buku ini. Ngakak, senyum-senyum, mengumpat dalam hati, melonjak, melotot, dan menangis. Belum pernah gue baca buku traveling sampe emosional bacanya. 

Thumbs up untuk penulisnya. Gue tunggu karya Icha selanjutnya.
Yang mau kenalan dengan Icha bisa say hi ke Twitternya, @ichayuz

20130202-062623.jpg

20130202-062810.jpg

[Book Review] The Last Living Slut by Roxana Shirazi

20130202-022841

Title: The Last Living Slut: Born in Iran, Bred Backstage
Author: Roxana Shirazi
Publisher: HarperCollins
Published: June 1st, 2010
Number of pages: 336
Format: Ebook
Genre: Non-fiction/Autobiography/Memoir

Book Blurb

The outrageous, yet surprisingly moving, memoir of a girl who fled the Iranian Revolution–and found her salvation in the deliriously sexy life of a rock-‘n’-roll groupie.

Honest, provocative, and vividly written, “The Last Living Slut” is the memoir of Roxana Shirazi, who was raised traditionally in Tehran. After her family spirits her to the West in flight from the Iranian Revolution, Shirazi is led far astray by the sound–and the sex appeal–of rock and roll. Caught between her sexual appetites, passion for music (and musicians), and fear of being a bad seed, Shirazi bares her soul to offer a raw account of her life as an eager-to-please rock groupie. With appearances by members of Guns N’ Roses, MOtley CrUe, Velvet Revolver, and many more, The Last Living Slut is a moving memoir of growing up in the political turbulence of Tehran; an unflinching portrayal of teenage cultural dislocation in London; a backstage romp that makes Pamela Des Barres’s I’m with the Band read like a nun’s diary; and a white-knuckled tale of jilted love and brutal revenge.

Thoughts:

First of all, I agree with the book blurb The Last Living Slut is a moving memoir of growing up in the political turbulence of Tehran; an unflinching portrayal of teenage cultural dislocation in London; a backstage romp that makes Pamela Des Barres’s I’m with the Band read like a nun’s diary. This book is much better than “I’m With The Band. I was struggling to read that book even though it got praises from millions of its readers.

Secondly, groupies are always linked with sluttery and fuckery. A die hard fan would be obsessed with her/his idol but rarely spending time together in a hotel room. Groupies are not always fond of the band’s music, but most likely to sleep with one or all members of a particular band to fulfill their wildest dreams.

Roxana was born in Tehran, Iran. Her family is a traditional. When she was a child, she wore hijab religiously.
But her wildest fantasy began when she saw Axl Rose on TV (probably screaming “Welcome to the Jungle”).
Her sexual adventure just began from that moment.
Poverty and political forced the Shirazis to move to England.
Roxana was adopted by a hippie family and soon adapted the locals’ lifestyle.
She’s living a double life: as an A grader at school and a stripper at the middle eastern club at night.
Her rock star encounters began when she met Stuart Cable, ex drummer of Stereophonics, through a mutual friend.

Roxana was notoriously f*cking members of Avenged Sevenfold, Towers of London, Brides of Destructions, Motley Crue, Guns N’Roses, and so on.

I can’t fathom how a smart girl like her spending time with rockers, living like a porn star (most parts of the book is hardcore, I think, even put 50 Shades of Grey to shame). With her achievements, she could teach at a university and living graciously.

I also couldn’t stand the abortion part. I’m a mother and against abortion. She described the process in details, which put me to tears and disgust.

Overall, it’s a good reading if you want to dig up rock stars and groupies’ life.

If you’ee curious about the author, just google her name and her pics will pop up. Guaranteed to make your eyes popped 😄

20130202-023047.jpg

20130202-023101.jpg