Blog Archives

[Book Review] Some Girls, Some Hats and Hitler by Trudi Kanter

book_info

20130821-033002.jpg

Title: Some Girls, Some Hats and Hitler: a Love Story
Author: Trudi Kanter
Publisher: Virago
Published: April 12th, 2012
No. Of Pages: 242
ISBN: 978-1-84408-808-9
Category: Non Fiction
Genre: Memoir, autobiography, war, Holocaust
Format: Paperback
Bought at: Bookdepository for $5.64 (Bargain Bin)
Opening sentences: Of course I’d seen him before. Many times. In the cafes, restaurants, theatres, concert halls and beautiful shops of a small city like Vienna, everyone knew who was who, and everyone knew who might one day be more than that.

book_blurb

A true story. Vienna, 1938: Trudi Miller, young, beautiful and chic, designs hats for the smartest women in the city. She is falling in love with Walter, a charming and charismatic businessman. But their idyll is about to end. Trudi and Walter are Jewish, and as Hitler’s tanks roll into Austria, they know they have to flee. Some Girls, Some Hats and Hitler is an incredible true story that moves from Vienna to Prague to blitzed London, as Trudi desperately seeks a safe place for her and Walter amid the horror engulfing Europe.

thoughts

Holocaust is Lust & Coffee’s topic of the year. Masih belum puas membaca buku-buku bertema Holocaust, kali ini gue iseng membeli satu memoir masa Holocaust di Wina. Setelah iseng browsing sana-sini, ternyata banyak fakta menarik tentang buku ini. Rilisan pertama diterbitkan secara self-published dan kurang mendapat tanggapan. Seseorang menemukan versi out of print-nya dan menerbitkan ulang. Versi terbitan Virago yang sudah diedit ini yang kembali hadir dan berada di tangan. Hingga kini, pihak penerbit masih mencari pemegang copyright karya Trudi ini.

Tidak seperti kebanyakan cerita di masa Holocaust yang suram dan penuh kesedihan, memoar Trudi agak berbeda. Trudi yang berprofesi sebagai perancang topi (kebayang kan topi-topi vintage yang kerap dipakai perempuan tahun 1930-an?) bertemu dengan Walter di luar apartemen Trudi. Seperti kejadian di film-film romantis nan klise, mereka bertubrukan, dan Walter meminta maaf. Setelah itu, mereka menyesap champagne, and the rest is history. Trudi menjelaskan tempat kencannya dengan Walter. Salah satunya Vienna Opera House. Membaca bab awal Trudi seperti membaca novel STPC versi bule 🙂 Asli, jadi pengin ngedate ke Wina. Kafe-kafenye juga gak kalah romantis dibandingkan Paris.

Lalu, keromantisan suasana pacaran Trudi dengan Walter terusik dengan berita yang membuat warga Yahudi ketakutan. Pasukan SS menduduki Wina. Bendera Nazi dipasang, membuat suasana tegang dan mencekam. Pergolakan politik tak dapat dicegah. Hitler sudah mengumumkan bahwa Austria adalah bagian dari Jerman. Sebagai pasangan berdarah Yahudi, Trudi dan Walter takut mendapat siksaan dan dibawa ke kamp konsentrasi. Mereka memutuskan untuk pergi keluar dari Austria.

Trudi pada saat itu masih proses cerai dengan suaminya, Pepi. Karena keadaan mendesak maka pengadilan dan sinagog mengabulkan permohonan cerai tanpa proses berlarut-larut.

Trudi yang sering bepergian ke Prancis, Belanda, dan beberapa negara lain karena pekerjaannya, mengajukan visa untuk keluar dari Austria. Beruntung, permohonannya dikabulkan. Demikian juga dengan Walter, yang dibantu oleh pamannya, berhasil mendapatkan visa Inggris. Jaman itu belum ada Schengen, jadi memang agak ribet untuk mengurus visa ke sesama negara Eropa.

Pasukan SS sudah mengobrak-abrik apartemen, rumah tinggal, dan merampas semua harta milik penduduk Austria keturunan Yahudi. Bahkan rekening milik warga Yahudi dibekukan, membuat Trudi tidak sempat membayar pajak tertunggak karena uangnya tidak bisa dicairkan.

Berbekal visa Inggris, Trudi melakukan perjalanan via laut sehubungan dengan pekerjaannya. Ia sempat kembali ke Austria. Karena keadaan di Austria sudah dalam taraf siaga 4 (mungkin), Trudi dan Walter berangkat ke London. Salah satu faktor yang menyebabkan Trudi ingin minggat karena ia yakin ada rekan yang berkhianat. Seseorang mencari Walter, dan orang tersebut kembali lagi untuk mencarinya. Hati Trudi dan Walter tidak tenang. Mereka berhasil keluar dari Austria, bahkan Pepi ikut membanty kepergian mereka (Pepi adalah tokoh favorit gue di buku ini. He’s such a gentleman.)

Tak lama, Trudi dan Walter mendapatkan PR di London. Topi-topi Trudi yang sempat ditahan, sampai juga di London. Sebuah butik membantu Trudi untuk menjual topi-topi tersebut dan karya Trudi laris manis diborong oleh para sosialita London yang hadir di trunk show butik tersebut.

Trudi adalah perempuan yang insecure. Setelah bercerai dari Pepi, ia masih tidak rela jika ada perempuan yang dekat dengan mantan suaminya itu. Belum lagi perempuan yang berbicara dengan Walter, dianggapnya sedang flirting. Sikap Trudi yang cemburuan agak annoying menurut gue, but I guess that’s the flavor of the book.

Buku ini memiliki potensial untuk menjadi salah satu buku tema Holocaust terbaik, namun gaya bertutur Trudi yang terkesan terburu-buru dan switching dari Walter menjadi you di luar dialog membuat gue bingung. Dialognya juga masih kurang rapi. Kalau saja buku ini diedit lagi, mungkin akan lebih enak dibaca. Namun, gue menikmati buku ini, membacanya dengan cepat. Gue membayangkan jika memoir ini difilmkan dan berfokus pada hubungan cinta Trudi dan Walter, mungkin akan jadi rom-flick yang keren.

quotes

Hitler isn’t even here, but suddenly everyone is a Nazi. (p. 26)

We are like tiny ants whose nest has been disturbed, running in all directions, trying to find a hole, a blade of grass, somewhere – anywhere – to hide. (p. 33)

There was no sun, just swastika flags. No sky, just swastika flags. There was no God. (p. 37)

20130822-080403.jpg

Buku ini pernah dibahas di website Oprah sebagai Book of the Week

Need a second opinion?

Independent Review here

Booking Mama here

Book Reporter here

Submitted for:

A Year Long Memoir Reading Challenge here

New Authors Reading Challenge here

Baca Bareng BBI Tema Perang here

Books in English Challenge here

Until next time:)

20130330-114856.jpg

Wishful Wednesday 23: Helga’s Diary

20130403-124544

Ketemu lagi dengan hari Rabu, saatnya make a wish berjamaah dan berkhayal tentang buku yang diidam-idamkan.

Gue sangat suka melancong ke berbagai blog buku dan kalau blognya menarik, langsung gue follow. Karena mengikuti berbagai blog, otomatis semua resensi dan rekomendasi menghujani email. Ada satu email yang masuk dan gue membaca reviewnya tanpa berkedip. Ini bukunya:

20130719-010509.jpg

“The most moving Holocaust diary published since Anne Frank”. (Telegraph).

Helga’s Diary is a young girl’s remarkable first-hand account of life in a concentration camp during World War II. Like The Diary of Anne Frank this is a publication of international importance and a book that will endure for decades. In 1938, when her diary begins, Helga is eight years old. Alongside her father and mother and the 45,000 Jews who live in Prague, she endures the Nazi invasion and regime: her father is denied work, schools are closed to her, she and her parents are confined to their flat. Then deportations begin, and her friends and family start to disappear. In 1941, Helga and her parents are sent to the concentration camp of Terezin, where they live for three years. Here Helga documents their daily life – the harsh conditions, disease and suffering, as well as moments of friendship, creativity and hope – until, in 1944, they are sent to Auschwitz. Helga leaves her diary behind with her uncle, who bricks it into a wall to preserve it. Helga’s father is never heard of again, but miraculously Helga and her mother survive the horrors of Auschwitz, the gruelling transports of the last days of the war, and manage to return to Prague. As Helga writes down her experiences since Terezin, completing the diary, she is fifteen and a half. She is one of only a tiny number of Czech Jews who have survived. Reconstructed from her original notebooks, which were later retrieved from Terezin, and from the loose-leaf pages on which Helga wrote after the war, the diary is presented here in its entirety, accompanied by an interview with Helga and illustrated with the paintings she made during her time at Terezin. As such, Helga’s Diary is one of the most vivid and comprehensive testimonies written during the Holocaust ever to have been recovered. Helga Weiss was born in Prague in 1929. Her father Otto was employed in the state bank in Prague and her mother Irena was a dressmaker. Of the 15,000 children brought to Terezin and later deported to
Auschwitz, only 100 survived the Holocaust. Helga was one of them. On her return to Prague she studied art and has become well known for her paintings. The drawings and paintings that Helga made during her time in Terezin, which accompany this diary, were published in 1998 in the book Draw What You See (Zeichne, was Du siehst). Her father’s novel And God saw that it was bad, written during his time in Terezin and which she illustrated, was published in 2010. In 1954 Helga married the musician Jiri Hosek. She has two children, three grandchildren and lives to this day in the flat where she was born.

Gue belum bisa move on dari tema Holocaust. Sejak membaca ‘The Boy in the Striped Pyjamas’, keingintahuan gue tentang kejadian WWII dan segala detilnya malah makin menjadi. Seperti buku harian Anne Frank, jurnal Helga juga banyak dibicarakan orang dan (kembali) menuai kontroversi. Yang protes tentu saja kebanyakan adalah Holocaust deniers.
Helga yang sekarang berusia 84 tahun masih ingat detil kejadian mengerikan di kamp konsentrasi, di mana ia dan 15,000 orang lainnya disekap.
Helga mengaku masih berhubungan dengan Holocaust survivors lainnya yang sudah tua dan menjanda. Ia bercerita, setiap kali diundang ke sekolah untuk berbicara tentang Holocaust, ia terguncang. Tapi, Helga bersedia memberi kesaksian kepada anak-anak supaya mereka mencintai sesama.

Artikel tentang buku Helga bisa diklik di sini, dan di sini.

Baca juga excerpt ‘Helga’s Diary’ part 1 di sini

Yang mau ikutan Wishful Wednesday:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam <emwishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky. Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Happy Wednesday.

20130622-091605.jpg

[Book Review] Eva Braun: Life with Hitler by Heike B. Gortemaker

book_infoevab

book_blurbIn this groundbreaking biography of Eva Braun, German historian Heike B. Görtemaker delves into the startlingly neglected historical truth about Adolf Hitler’s mistress. More than just the vapid blonde of popular cliché, Eva Braun was a capricious but uncompromising, fiercely loyal companion to Hitler; theirs was a relationship that flew in the face of the Führer’s proclamations that Germany was his only bride. Görtemaker paints a portrait of Hitler and Braun’s life together with unnerving quotidian detail—Braun chose the movies screened at their mountaintop retreat (propaganda, of course); he dreamed of retiring with her to Linz one day after relinquishing his leadership to a younger man—while weaving their personal relationship throughout the fabric of one of history’s most devastating regimes. Though Braun gradually gained an unrivaled power within Hitler’s inner circle, her identity was kept a secret during the Third Reich, until the final days of the war. Faithful to the end, Braun committed suicide with Hitler in 1945, two days after their marriage.

Through exhaustive research, newly discovered documentation, and anecdotal accounts, Görtemaker has meticulously built a surprising portrait of Hitler’s bourgeois existence outside of the public eye. Though Eva Braun had no role in Hitler’s policies, she was never as banal as she was previously painted; she was privy to his thoughts, ruled life within his entourage, and held his trust. As horrifying as it is astonishing, Eva Braun will undoubtedly be referenced in all future accounts of this period.

thoughtsSepertinya gue belum bisa move on dari tema Holocaust. Setelah habis melahap The Diary of a Young Girl bulan lalu, gue masih penasaran dengan PD II, Hitler, juga hubungannya dengan perempuan bernama Eva Braun. Hitler ini memang fenomenal sekali. Selain kumis nanggungnya yang jadi trademark, ada kemungkinan dia meniru kumis Charlie Chaplin, salah satu orang yang dia benci dan dijuluki pseudo-Jew. Selain itu, Hitler memiliki kepribadian yang ‘unik’ alias rada-rada sakit. Kehidupan pribadinya juga nggak kalah menarik dari film-film thriller. Penuh dengan skandal berbau darah.

Eva Braun, perempuan yang lebih muda 23 tahun dari Hitler, mendampingi Hitler hingga mereka berdua tewas bunuh diri bersama di bunker Hitler. Eva yang digambarkan oleh banyak biografer sebagai perempuan muda yang enerjik, menarik, ramah, dan suka bersosialisasi, adalah sosok yang sangat bertolak belakang dengan Hitler yang kaku, kejam, dan bengis.

Eva lahir dan besar di keluarga yang bukan penganut anti-Semitik (kakak Eva, Ilse, pernah bekerja sebagai resepsionis di tempat praktek Dr. Marx, seorang Yahudi). Eva bekerja di sebuah studio foto milik Heinrich Hoffman. Ia pertama kali bertemu dengan Hitler di studio foto tersebut pada bulan Oktober 1929. Awal mulanya, Eva tidak tertarik pada Hitler yang kerap menghujaninya dengan hadiah dan mengajaknya kencan di tempat mewah. Bisa dibilang, pada awal mulanya, hubungan mereka artifisial. Tapi lama kelamaan, Eva mulai menganggap serius hubungan tersebut.

Hitler memiliki seorang keponakan, Angela (Geli) Raubal. Desas-desus mengatakan Hitler memiliki hubungan khusus dengan Geli. Tanggal 18 September 1931, di usia ke 23, Geli ditemukan tewas di kamar yang ditempatinya di apartemen Hitler di Munich. Tidak ada otopsi dan Geli dinyatakan tewas bunuh diri. Namun, Geli dikuburkan secara Katolik (gereja Katolik menolak menguburkan jenazah yang mati karena bunuh diri). Lalu, hidung Geli patah dan tubuhnya memar. Hitler diduga membunuh keponakannya sendiri. Lalu, ada juga ahli sejarah yang menyatakan bahwa Hitler terlibat cinta segitiga (biseksual) dan berakhir dengan terbunuhnya Geli Raubal (link).

Hubungan Hitler dengan Eva masih berlanjut, walau Eva jarang terlihat di depan publik dalam acara kenegaraan bersama Hitler. Sang Fuhrer memang pernah mengatakan bahwa ia menikahi negara Jerman, dan ia mendedikasikan hidupnya untuk Jerman.

Tahun 1935, kesehatan Hitler menurun. Ia menderita nervous tinnitus tiap malam dan ia juga takut mati karena kanker tenggorokan seperti yang diderita kaisar Friedrich III tahun 1888. Dalam waktu ini, ia sempat tidak menemui Eva selama berbulan-bulan.

Sosok Eva yang misterius menimbulkan gosip. Ada yang mengatakan keputusan politik Hitler dipengaruhi oleh Eva. Ada juga sumber yang mengatakan bahwa Eva adalah gadis polos yang tidak tertarik dengan dunia politik. Entah mana yang benar.

Eva yang manis dan terlihat ceria ternyata memiliki masalah psikologis. Ia pernah beberapa kali melakukan upaya bunuh diri. Pertama kali tahun 1932, ia mengambil pistol milik ayahnya dan menembak dirinya sendiri. Untungnya, ia berhasil diselamatkan. Kali kedua yaitu sewaktu Hitler mengalami masalah kesehatan. Mungkin Eva merasa dicuekin Hitler, ia melakukan upaya bunuh diri kedua dengan meminum obat tidur. Kakak Eva, Ilse, yang juga menemukan Eva dalam keadaan tidak sadar. Ia diduga merobek diary Eva yang menuliskan tentang percobaan bunuh dirinya yang kedua. Akhirnya, Eva dipindahkan oleh Hitler ke apartemen yang tidak jauh dari apartemen Hitler. Namun, Hitler dengan prinsipnya yang kuat ditambah dengan pencitraannya yang sejak semula menyatakan ia tak mau menikah karena ia menikahi negara Jerman, tidak mau mengajak Eva dalam acara kenegaraan. Eva akhirnya diperkenankan muncul dalam acara non formal, soiree bersama para istri pejabat Nazi. Menurut buku ini, Eva kurang disukai oleh para istri tersebut.

Hitler yang lahir dan sempat tinggal di Austria selama empat tahun, pada saat ia berkuasa, mengadakan AnschluĂź, atau persatuan Jerman-Austria. Ia bercita-cita ingin membuat kota Linz yang berada di utara Austria, sebagai ibukota seni Eropa, atau Roma-nya Jerman, menurut Hitler. Hitler juga berkeinginan untuk pensiun di Linz, hidup bersama Eva dan seekor anjing di masa tuanya, bahkan ia ingin dikuburkan di Linz.

Tahun 1944, Hitler sudah kehilangan kekuatannya. Kondisi fisiknya melemah. Padahal ia penganut pola hidup sehat dengan melakukan diet ketat: vegetarian, tidak merokok, tidak minum alkohol dan kopi. Teori yang mengatakan you are what you eat tidak berlaku pada Hitler. Ia mengeluh sakit perut, gangguan tenggorokan, bahkan sempat melakukan operasi. Hitler juga menderita gejala Parkinson. Karma’s a bitch, yo!.

Setelah Jerman kalah perang dan pengikut Hitler juga berkhianat padanya (karena muak dengan pembunuhan dan perang), Hitler merasa the end is near seperti lirik lagu “My Way”. Ia dan Eva bersembunyi di bunker bersama sisa-sisa pengikut setianya. Sebelum bunuh diri dengan menenggak cyanide, Hitler dan Eva menikah. Anjing mereka, Blondi, diberi racun. Mereka ditemukan mati pada tanggal 30 April 1945. Eva sudah merencanakan kematiannya sebelum melakukan double suicide. Ia menulis surat terakhir pada adiknya. Eva menelan pil berisi cairan racun dan mati lebih dulu di depan Hitler. Setelah Eva tak bernyawa, Hitler meminum racun lalu menembak pelipis kanannya. Mayat keduanya dibakar.

Walau buku ini berjudul Eva Braun, namun isinya didominasi oleh Hitler dengan kehidupannya semasa menjadi pimpinan Nazi. Eva Braun tidak diceritakan terlalu detil. Overall, this book is enjoyable. If you want to dig more about Nazi and World War II in Europe, you have to read this book. Terjemahannya juga enak dibaca dengan kosakata yang mudah dimengerti.
Sekarang gue malah jadi kecanduan baca buku tema Holocaust.

20130330-114930.jpg

Until next time.

20130330-114856.jpg

Wordless Wednesday: American Soldier in France

ww

What-Soldiers-editPic from here

 

Join Wordless Wednesday here.

Happy Wednesday.

20130330-114856.jpg

Wishful Wednesday 20: Holocaust

20130403-124544

Ketemu lagi sama hari Rabu. Ditengah kerempongan dikejar deadline yang semakin mepet, berandai-andai tentang buku adalah relaksasi yang menyenangkan.

Gue belum bisa move on dari tema Holocaust. Masih membaca biografi Eva Braun, gue berniat untuk membaca lebih banyak buku tentang Holocaust dan efeknya terhadap masyarakat Eropa.

Wishlist minggu ini ada 5 buku:

austerlitznightskslsophie

Seperti biasa, yang mau memeriahkan Wishful Wednesday syaratnya:

1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam wishlist kalian ya!
3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr Linky. Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

Happy Wednesday!

20130330-114856.jpg

[Book Review] The Diary of a Young Girl by Anne Frank

book_info

AF

book_blurb

The diary as Anne Frank wrote it. At last, in a new translation, this definitive edition contains entries about Anne’s burgeoning sexuality and confrontations with her mother that were cut from previous editions. Anne Frank’s The Diary of a Young Girl is among the most enduring documents of the twentieth century. Since its publication in 1947, it has been a beloved and deeply admired monument to the indestructible nature of the human spirit, read by millions of people and translated into more than fifty-five languages. Doubleday, which published the first English translation of the diary in 1952, now offers a new translation that captures Anne’s youthful spirit and restores the original material omitted by Anne’s father, Otto — approximately thirty percent of the diary. The elder Frank excised details about Anne’s emerging sexuality, and about the often-stormy relations between Anne and her mother. Anne Frank and her family, fleeing the horrors of Nazi occupation forces, hid in the back of an Amsterdam office building for two years. This is Anne’s record of that time. She was thirteen when the family went into the “Secret Annex,” and in these pages, she grows to be a young woman and proves to be an insightful observer of human nature as well. A timeless story discovered by each new generation, The Diary of a Young Girl stands without peer. For young readers and adults, it continues to bring to life this young woman, who for a time survived the worst horrors the modern world had seen — and who remained triumphantly and heartbreakingly human throughout her ordeal.

thoughts

The Diary of a Young Girl merupakan salah satu buku tentang Holocaust yang paling terkenal. Sampai sekarang, banyak sekolah yang mewajibkan siswanya untuk membaca karya Anne Frank ini. Bahkan salah satu penerbit yang fokus di buku Young Adult baru saja merilisnya dengan judul berbeda.

Gue belum pernah membaca buku harian Anne Frank ini. Kebetulan gue sedang mood membaca tema Holocaust dan historical (fiction), dan eventnya berbarengan dengan tema baca bareng BBI. Selain itu, tanggal 12 Juni kemarin adalah hari ulang tahun Anne. Momennya sangat tepat untuk membaca buku ini.

The Diary of a Young Girl tidak sengeri The Boy in the Striped Pyjamas. Mungkin karena Anne menceritakan kesehariannya di Annex, tempat ia dan keluarganya bersembunyi. Anne menggambarkan situasi yang mencekam, namun tidak terlalu seram. Sebelum bersembunyi, Anne masuk ke sekolah khusus untuk kaum Yahudi karena peraturan anti-semitik yang dibuat oleh si kumis nanggung, Hitler. Orang Yahudi diperlakukan seperti orang kulit hitam di Amerika sewaktu diskriminasi rasial masih marak sebelum tahun 1970an. Hitler membenci kaum Yahudi karena mereka dianggap sebagai penyebab kekalahan Jerman pada PD I, krisis ekonomi, dan semua bencana yang terjadi di Jerman. Dan, bodohnya, banyak yang mempercayai omong kosong si Fury berkumis nanggung itu.

Keluarga Frank menempati annex di kantor lama ayah Anne, Otto. Pegawai di kantor tersebut menyembunyikan Anne dan keluarganya, dan menyuplai makanan serta kebutuhan sehari-hari. Mereka tinggal bersama keluarga van Daan juga Mr. Dussel yang sering membuat Anne kesal. Anne menyukai Peter van Daan, namun Otto melarang hubungan mereka.

Selama dua tahun, dimulai saat Anne berulangtahun ke 13 pada tahun 1942, ia mulai menulis diary yang ia beri nama Kitty. Anne mencurahkan segala perasaannya dalam diary tersebut, termasuk betapa ia merasa seperti pengecut saat ia melihat beberapa orang Yahudi yang digiring entah kemana, juga disiksa. Sementara ia dan keluarganya bersembunyi di balik rak buku. Selama dua tahun bersembunyi di annex, tentu membuat penghuninya depresi dan ketakutan. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Demi keselamatan, mereka harus bersembunyi seperti tikus di gudang.

Ending dari kisah Anne Frank memang menyedihkan. Seseorang melaporkan keberadaan keluarga Frank, hingga mereka semua ditangkap. Otto selamat dan berhasil keluar dari camp. Ia menerima buku harian anaknya, menyortirnya, dan menerbitkannya. Anne Frank bercita-cita ingin menjadi penulis atau jurnalis. Walau ia sudah tiada, mimpinya menjadi kenyataan, bahkan namanya terkenal hingga ke segala penjuru dunia. Namun, hingga saat ini, si pengkhianat yang melaporkan tentang penghuni annex masih menjadi misteri.

Banyak kontroversi yang mengiringi buku ini. Ada yang menyebutkan bahwa diary Anne adalah rekayasa Yahudi. Ada juga yang bilang bahwa tulisan Anne ditulis oleh orang lain. Supaya memiliki efek dramatis, dibuat seolah-olah itu adalah karya anak Yahudi yang meninggal semasa holocaust. Gue baca di salah satu blog, bahwa seseorang bernama Meyer Levin, penulis kebangsaan Amerika, dijanjikan uang sejumlah $50,000 oleh Otto Frank untuk menulis buku dengan memakai nama Anne. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa holocaust itu fiktif. Untuk membuktikan keraguan publik, tulisan tangan Anne Frank diteliti. Hasilnya positif, diary itu bukan hoax. Hanya saja Otto memilah-milah tulisan yang layak untuk konsumsi publik. Anne menuliskan di buku hariannya bahwa ia kurang suka dengan ibunya. Tulisan yang menyudutkan ibu dan penghuni annex yang lain tidak diterbitkan. Layaknya naskah yang masuk ke meja editor, tentu semua mengalami proses editing. Begitu juga dengan tulisan Anne Frank.

Kontroversi baru kembali muncul ketika The Diary of a Young Girl – Definitive Edition dirilis. Buku tersebut dibanned oleh beberapa sekolah karena dianggap terlalu raunchy untuk remaja.

Despite the controversies, I enjoyed reading Anne’s honest writings about her innermost feelings toward the situation. Kadang ABG banget, kadang galau, kadang centil, bitter, kadang ia bisa menjadi sangat dewasa. Buku ini salah satu peninggalan sejarah selama PD II dan gue yakin kalau buku ini otentik.
Gue pasti akan menyuruh anak gue baca buku ini, tapi menunggu dia cukup umur dulu. Hopefully one day I can visit Anne Frank museum and the annex where she lived. Satu pelajaran paling berharga yang gue dapat dari buku ini adalah: seburuk apapun situasi yang kita alami, jangan menyerah atau putus asa. Bertahan hidup hingga takdir membawa kita.

quotes

I keep my ideals, because in spite of everything I still believe that people are really good at heart.

I wish I could ask God to give me another personality, one that doesn’t antagonize everyone.

Think of all the beauty still left around you and be happy.

Laziness may appear attractive, but work gives satisfaction.

I don’t think of all the misery, but of the beauty that still remains.

How wonderful it is that nobody need wait a single moment before starting to improve the world.

We all live with the objective of being happy; our lives are all different and yet the same.

I wish I could come out of the closet.

tidbits* Sebelum diberi judul “the Diary of a Young Girl”, naskah tulisan Anne diberi judul “The Annex”.

* Selain memberi nama Kitty, Anne menjuluki diarynya dengan sebutan Pop, Phien, Jetty, Loutje, etc.

* Anne mengalami depresi selama bersembunyi di Annex. Ia mengkonsumsi valerian untuk mengatasi depresi.

 

bookj5

 

Setelah membaca The Diary of a Young Girl, gue tertarik untuk membaca dua buku berikut:

annef

Rencananya kisah Anne Frank akan diremake oleh Disney dalam waktu dekat.

Berdasarkan biografi Melissa Muller

Anne Frank The Whole Story Part 1
Anne Frank The Whole Story Part 2
The Diary of Anne Frank 2009 here

Tentang Sengketa Anne Frank di sini

Anne Frank’s film footage here

 

20130622-091605.jpg

[Book Review] The Imposter Bride by Nancy Richler

book_info

imposterbook_blurb

 

A NATIONAL BESTSELLER

SHORTLISTED FOR THE SCOTIABANK GILLER PRIZE

A young, enigmatic woman—Lily Azerov—arrives in post-war Montreal expecting to meet her betrothed, Sol Kramer.
When Sol sees Lily at the train station, however, he turns her
down. His brother, Nathan, sees Lily and instantly decides to
marry her.

But Lily is not who she claims to be, and her attempt to live a quiet life as Nathan Kramer’s wife shatters when she disappears, leaving her baby daughter with only a diary, an uncut diamond and a need to discover the truth.

Who is Lily and what happened to the young woman whose identity she stole? Why did she leave and where did she go? It is up to the daughter Lily abandoned to find the answers to these questions as she searches for the mother she may never find or truly know.

 

thoughts

I got mixed feelings about this book. The first part is very interesting, the middle part is boring *yawn*, and the last chapters are just okay.

I picked this book to get more in depth with holocaust. It’s about a woman who stole one’s identity during war. She was involved in an arranged marriage, gave birth to a baby girl, then disappeared.

Faux Lily wrote letters to her daughter, Ruth, and sent her stones. One day, they reunited just for a moment. Lily/Yanna didn’t tell her husband about Ruth, so that’s it.

I don’t understand why Faux Lily left her baby (with no remorse).

 

quotes

Having sadness doesn’t mean you can’t have happiness too.

What begins in deception continues in deception.

Did he not even know that curiosity about our own origins is what defines us as human?

20130330-114838.jpg

booktrack

 

1. Everytime We Say Goodbye – Ella Fitzgerald
2. Brown Eyed Handsome Man – Chuck Berry
3. Satin Doll – Duke Ellington
4. Take the A Train – Duke Ellington
5. These Foolish Things – Artie Shaw
6. All The Things You Are – Charlie Parker
7. You Send Me – Sam Cooke
8. I Only Have Eyes on You – The Flamingos
9. Blueberry Hill – Glenn Miller
10.Why Do Fools Fall in Love – Frankie Lymon & The Teenagers

20130330-114856.jpg

 

[Book Review] The Boy in the Striped Pyjamas by John Boyne

book_info

stripedbook_blurb

Kisah tentang Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis ini sulit sekali digambarkan. Biasanya kami memberikan ringkasan cerita di sampul belakang buku, tapi untuk kisah yang satu ini sengaja tidak diberikan ringkasan cerita, supaya tidak merusak keseluruhannya. Lebih baik Anda langsung saja membaca, tanpa mengetahui tentang apa kisah ini sebenarnya.

Kalau Anda membaca buku ini, Anda akan mengikuti perjalanan seorang anak lelaki umur sembilan tahun bernama Bruno (Meski buku ini bukanlah buku untuk anak kecil). Dan cepat atau lambat, Anda akan tiba di sebuah pagar, bersama Bruno.

Pagar seperti ini ada di seluruh dunia. Semoga Anda tidak pernah terpaksa dihadapkan pada pagar ini dalam hidup Anda.

thou-ghtsSuatu hari, Brun0 mendapati Maria, pelayan keluarganya, mengepak barang-barangnya. Sejak saat itu, garis hidup Bruno berubah. Ayahnya adalah ‘orang penting’ di dunia militer Jerman, bahkan The Fury (Hitler) beberapa kali datang menemui orangtuanya di rumahnya.

Keluarga Bruno pindah ke Out-With (Auschwitz), tempat orang Yahudi ditempatkan di kamp konsentrasi. Awalnya Bruno sedih, dan mengalami homesick. Ia teringat ketiga sahabatnya, Karl, Martin, dan Daniel. Tetapi, tentu saja Bruno tidak bisa kembali ke Berlin karena ayahnya adalah komandan tentara yang bertugas di Auschwitz.

Bruno yang menyukai petualangan, mulai berani menjelajah daerah yang membuat ia penasaran: pondok-pondok dengan kumpulan orang berpiyama garis-garis yang kerap ia perhatikan dari jendela kamarnya. Karena sangat penasaran, ia menelusuri jalan hingga sampai di daerah gersang yang dihadang oleh pagar kawat berduri. Di sana ia berkenalan dengan Shmuel, seorang anak Yahudi yang lahir pada tanggal, bulan dan tahun yang sama dengan Bruno.

Persahabatan backstreet mereka berlangsung hingga suatu saat, karena ibu Bruno tak tahan dengan suasana mencekam di Auschwitz, Bruno, Gretel (kakak Bruno) dan ibunya diminta untuk kembali ke Berlin. Bruno sedih karena ia mulai bersahabat dengan Shmuel.

Bruno adalah anak yang cerdas dan penuh dengan curiosity. Sedangkan Shmuel adalah anak dengan hati yang tulus. Pagar kawat pemisah antara dunia luar dengan kamp konsentrasi adalah simbol tentang ‘perbedaan’ yang memagari orang-orang untuk ‘berbaur’.

Novel ini sukses membuat gue banjir airmata, memikirkan Bruno dan Shmuel, hingga sampai saat ini masih belum bisa move on ke novel lain. (Damn you, John Boyne).

Gue bakal baca ulang novel ini dan mewariskannya pada AJ.

bookj5

20130322-091443.jpg