Scene on Three 5: Thirteen Reasons Why

sceneon3

We’re finally reaching the end of August. Bulan ini pace baca gue agak lamban karena satu dan lain hal. Maunya sih punya waktu luang tak terbatas untuk membaca. Namun, banyak hal yang harus dikerjakan. Jadi, ya, pasrah deh, sebisanya aja.

Untuk Scene on Three ke-5 ini, gue akan mengambil secuplik bagian dari novel yang masih gue baca, Thirteen Reasons Why. Novel YA ini rada gelap karena tokoh utamanya bunuh diri. Sebelumnya, ia merekam suara di kaset dan bercerita tentang orang-orang yang berhubungan dalam kasus tersebut.

20130826-011548.jpg

Bullies. Drugs. Self-image. Relationships. Everything was fair game in Peer Communications. Which, of course, made a lot of other teachers upset. It was a waste of time, they said. They wanted to teach us cold hard facts. They understood cold hard facts.
They wanted to teach us the meaning of x in relation to pi, as opposed to helping us better understand ourselves and each other. They wanted us to know when the Magna Carta was signed-never mind what it was-as opposed to discussing birth control.

Setuju! Tiap sekolah seharusnya punya kelas Peer Communications (selain Sex Ed) untuk memberi gambaran tentang jahatnya dunia luar. Ilmu pengetahuan memang penting, namun membekali anak dengan fakta di luar sana juga sama pentingnya. Gue sering banget dengar anak SMA buka kamar lalu … ya, you know what they did. Mulai dari anak-anak jetset sampai kalangan bawah, sama aja nakalnya. Gue punya anak umur 3.5 tahun yang bakal jadi ABG. Melihat kenyataan dunia luar kaya gini, terus terang gue ngeri. *knock on wood* jangan sampai terjadi kaya gitu.
Gue follow akun @DearPornAddicts di Twitter yang isinya segala jenis keburukan pornografi. Gue sering RT tweetnya, sebagai bentuk kampanye anti pornografi. Gue membaca beberapa buku memoir ex porn star yang memberi kesaksian tentang kejahatan di balik layar industri pornografi. Seandainya gue punya banyak waktu luang dan bisa mobile kemana-mana, dengan senang hati gue akan datang ke sekolah-sekolah untuk kampanye dan berdiskusi dengan anak-anak sekolah tentang bahayanya pornografi. Moga-moga keinginan gue ini tercapai.

sceneonthree

Ikutan Scene on Three yuk. Caranya:

    1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.
    2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
    3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
    4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zeesekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
    5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Until next time!

20130330-114856.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on August 30, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 14 Comments.

  1. Waaaa, Mb Yuska punya bukunya?

  2. Sekolah kita menganggap itu tugas orang tua, tetapi sayangnya banyak orang tua menganggap pelajaran sekolah sudah cukup atau, karena orang tua adalah produk pendidikan yg sama, tak tahu bagaimana harus menyikapinya. Orang tua yg peduli juga tak sedikit sebenarnya, dan semoga jumlahnya semakin bertambah. Semoga tercapai keinginan mulianya, dan menular ke orang2 lain.

    • Yep, it’s hardcore to be a parent. Guru itu perpanjangan tangan ortu menurutku. Peran ortu lebih dominan sih. Thanj you, semoga ya. Skrg cuma bs kampanye di dunia maya dulu ^^

      Sent from my iPad

  3. Seandainya gue punya banyak waktu luang dan bisa mobile kemana-mana, dengan senang hati gue akan datang ke sekolah-sekolah untuk kampanye dan berdiskusi dengan anak-anak sekolah tentang bahayanya pornografi. Moga-moga keinginan gue ini tercapai.

    amiiinn.. semoga keinginannya tercapaii.. jadi anak remaja jaman sekarang itu jauh lebih banyak tantangannya dibanding dulu karena akses ke pornografi yang jauh lebih mudah juga..

  4. aku baca langsung koment mbak Yuska, secara belum baca 13 rasons. Mendidik anak emang susah, Yang pasti anak juga jgn terlalu lugu biar ga gampang terpengaruh dunia luar.

    Semoga cita2 mulia mbak Yuska terkabul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: