Blog Archives

[Book Review] Unforgettable by Winna Efendi

book_info

20130916-014210.jpg

Judul: Unforgettable
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2012, Cetakan Ketiga
Tebal: 173 halaman
ISBN: 978-979-780-541-8
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance
Beli di: Bukabuku Harga Rp. 34,400
Kalimat pertama: Kedai wine itu dinamakan Muse.

book_blurb

Ini adalah satu kisah dari sang waktu tentang mereka yang menunggu. Cerita seorang perempuan yang bersembunyi di balik halaman buku dan seorang lelaki yang siluetnya membentuk mimpi di liku tidur sang perempuan.

Ditemani krat-krat berisi botol vintage wine yang berdebu, aroma rasa yang menguar dari cairan anggur di dalam gelas, derit kayu di rumah usang, dan lembar kenangan akan masa kecil di dalam ingatan.

Pertemuan pertama telah menyeret keduanya masuk ke pusaran yang tak bisa dikendalikan. Menggugah sesuatu yang telah lama terkubur oleh waktu di dalam diri perempuan itu. Membuat ia kehilangan semua kata yang ia tahu untuk mendefinisikan dan hanya menjelma satu nama: lelaki itu.

Sekali lagi, ini adalah sepotong kisah dari sang waktu tentang menunggu. Kisah mereka yang pernah hidup dalam penantian dan kemudian bertemu cinta.

thoughts

Setelah melahap Melbourne: Rewind dan terkesan dengan novel tersebut, gue mencari novel karya Winna yang lain. Dan Unforgettable adalah salah satunya.

Unforgettable berkisah seorang perempuan yang bersama kakaknya, Rangga, mengelola wine cellar warisan almarhum ayah mereka. Rangga lebih banyak berhubungan dengan para tamu, sedangkan si perempuan (yang tidak disebutkan namanya) lebih suka duduk di hadapan laptop sambil menulis fiksi.

Seorang laki-laki kerap datang ke Muse (nama tempat itu). Ia menderita insomnia dan suka berpetualang. Kedua pasang mata milik laki-laki dan perempuan itu bertemu, menyalakan alarm adanya ketertarikan, dan keduanya mulai berbagi kisah tentang kehidupan, masa lalu, juga cinta.

Namun, percakapan antara si perempuan dan lelaki itu seperti tak berkesudahan, dan gue dibuat bosan.

Juga yang membingungkan adalah penuturan 2 orang ketiga yang berbicara bergantian (ditandai dengan italics). Penulisan dialog tak langsung membuat novel ini unik sekaligus janggal.
Gue sekali membaca novel yang cara penulisan dialognya mirip dengan novel ini, yaitu The Bride Stripped Bare, namun ceritanya dituturkan dari POV2.

Namun, sedikit banyak gue jadi tahu tentang cara merawat wine dan jenis-jenisnya yang beragam. Gue jadi ikut merasa ikut mencicip wine. Jadi membayangkan duduk di sudut Muse dekat rak buku sambil mengunyah fillet mignon diselingi eiswein. Nikmat banget. Oh iya, dalam bayangan gue, Muse itu ada di sudut Menteng yang jauh dari keramaian. Lingkungannya teduh, dan bangunan peninggalan kolonial itu ada aksen biru pucat yang kalau malam lampu-lampu gantung yang cantik berpijar.

Cara bertutur Winna yang khas dengan diksi yang kaya sangat terasa juga. Gue sangat suka dengan cara Winna bercerita. Walau novel ini beralur sangat lamban dan bikin gue mengantuk, gue sangat suka dengan writing style-nya Winna. Gue jadi belajar banyak dari novel ini.

Gue membenarkan pesan novel ini. It’s more comfortable talking about your problems to a stranger than talking to your friends who’ll most likely spill them out to someone else that you knew. Kebanyakan backstabber itu temen sendiri kan? 🙂

quotes

Penyesalan, sama seperti hidup, sama seperti kenangan, adalah hal yang sangat mengerikan. (hal. 23)

Kata orang, menjadi dewasa berarti harus membuat pilihan. Baginya, menjadi dewasa berarti tidak memiliki pilihan. Hidup menjadi serentetan tanggung jawab yang harues diemban, baik suka maupun tidak, mau ataupun enggan. (hal. 36)

Saya percaya, selalu ada sebotol wine yang tepat untuk setiap occasion maupun mood, begitu juga dengan musik. (hal. 81)

Additional Grading Scale:
Cover: A
Plot: C
Characters: B
Writing Style: A
Emotional: C
Satisfaction: B

tidbits

Need a Second Opinion?

Dinoy’s Books Review
Mia Membaca Review
Tukang Review Review

Until next time

20130330-114856.jpg

[Book Review + Giveaway] Melbourne: Rewind by Winna Efendi @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

book_info

20130819-084810.jpg

Judul Buku: Melbourne: Rewind (Setiap Punya Cerita #4)
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: Juni 2013
Jumlah Halaman: 324
ISBN: 978-979-780-645-3
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Travel Literature
Harga: Rp. 52,000
Beli di: Pinjam sama Luna
Kalimat pertama:

Pagi ini tak berbeda dengan pagi sebelumnya. Tapi bisa berbeda dengan pagi sesudahnya.

book_blurb

Pembaca tersayang,
Kehangatan Melbourne membawa siapa pun untuk bahagia. Winna Efendi menceritakan potongan cerita cinta dari Benua Australia, semanis karya-karya sebelumnya: Ai, Refrain, Unforgettable, Remember When, dan Truth or Dare.
Seperti kali ini, Winna menulis tentang masa lalu, jatuh cinta, dan kehilangan.
Max dan Laura dulu pernah saling jatuh cinta, bertemu lagi dalam satu celah waktu. Cerita Max dan Laura pun bergulir di sebuah bar terpencil di daerah West Melbourne. Keduanya bertanya-tanya tentang perasaan satu sama lain.
Bermain-main dengan keputusan, kenangan, dan kesempatan. Mempertaruhkan hati di atas harapan yang sebenarnya kurang pasti.
Setiap tempat punya cerita.
Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari Melbourne bersama pilihan lagu-lagu kenangan Max dan Laura.
Enjoy the journey,
EDITOR

thoughts

Melbourne: Rewind adalah novel kedua seri STPC yang gue baca. Gue sengaja membaca randomly alias nggak sesuai urutan karena alasan tidak ada keterkaitan antara buku satu dengan yang lain.

Kesan pertama: covernya cantik, seperti biasa. Sentuhan feminin Levina Lesmana pas banget dengan menggunakan warna kuning (yang untungnya bukan kuning terang, karena gue fobia warna kuning) dan layout sederhana untuk mewakili Melbourne yang cozy. Gue selalu merasa Melbourne itu cozy dan laid back, nggak seruwet Sydney. Dan memang benar, seperti kesan gue, Winna membawa suasana nyaman dan tenang dalam novelnya ini.

Adegan dimulai dari penuturan Max tentang masa kecilnya, lalu awal mula ia bertemu dengan Laura, perempuan asal Indonesia yang quirky karena menyukai musik lama dan indie, dan hobi mendengarkan walkman. Ketahuilah bahwa gue sangat cinta musik dan cinta banget sama musik. Waktu lihat cara Winna membagi bab dengan track a la CD, gue langsung semangat membaca novel ini. Novel ini terasa musikal sekali, dan gue jadi gatel pengin ngeklik youtube untuk mendengarkan lagu-lagunya.

Max dan Laura terlibat dalam hubungan putus-sambung. Setelah putus dari Laura, Max berpacaran dengan Viv, perempuan Australia yang memiliki tujuan jelas dalam hidupnya. Hampir dua tahun mereka berpacaran (dan tinggal bareng di Darlinghurst Apartment), lalu akhirnya selesai karena Max merasa she’s not the one.

Keduanya kembali dekat-Max dan Laura. Tanpa ikatan, tanpa beban. Deskripsi Winna sangat manis ketika menggambarkan date hangout a la Max dan Laura. Bekerja pagi menyingsing lalu mencari sarapan, menonton film di Rooftop, dulu-duluan datang ke St. Kilda karena yang kalah harus mentraktir. Saya suka. Gaya menulis tidak meledak-ledak. Seperti sungai yang mengalir tenang, namun mampu menggiring pembaca hingga ke hulu sungai yang beriak. Biasanya, gue kurang suka dengan tipe buku seperti ini, namun Winna berhasil memikat gue.

Gue merasa memiliki koneksi dengan Evan: si Aquarius penyuka warna biru. Ditambah dia juga gila musik, sama dengan Laura. Somehow, gue merasa, jika Evan, Max dan Laura adalah nyata, we can be great buddies. We could talk about underrated artists for hours. I kinda miss that moment *sigh*.

Laura memiliki sahabat, yaitu Cee dan Paris, kucingnya. Kedua sahabatnya itu berperan penting dalam membawanya pada perkenalan dengan Evan, si vet yang memikat hati Laura. Nah lho, bagaimana dengan Max? Silahkan baca sendiri Melbourne:Rewind-nya ya.

Karakter-karakter di novel ini nggak bombastis, tajir abis, dan sebagainya. Walau memakai setting luar negeri, tidak ada kesan borju dan pamer kekayaan. Semua terasa wajar. Lalu, lokasi-lokasi di novel ini juga bukan destinasi turis, sehingga gue berasa benar-benar diajak jalan-jalan menyusuri Melbourne yang tenang dan artsy, seperti yang digambarkan oleh Winna (sedikit mengingatkan gue dengan San Francisco). Porsinya juga pas, nggak kurang dan nggak lebih.

Tempat-tempat di Melbourne yang menarik buat dikunjungi (based on the novel):

20130903-084950.jpgSt. Kilda Beach Photo by: Deepak

20130903-085724.jpgChocolate Kooglhoupf from Monarch Cakes, St. Kilda Photo from here

20130903-094448.jpgState Library Victoria Photo from here

20130904-103154.jpgVic Market di mana Max dan Laura suka membeli jam donut yang lezat itu. Pic from here

20130904-103930.jpgDixons Recycled tempat berburu vinyls dan cd lawas. Pic from here

Kebayang asyiknya menyusuri pantai St. Kilda, lalu mampir di Monarch Cakes. Lalu, esok paginya seharian menelusuri koleksi buku di State Library Victoria sambil tiduran di atas rumput di area perpustakaan tersebut sambil menyeruput es jeruk. Sorenya berburu CD di Dixons, lalu belanja ke Vic Market sambil mencicip penganan di sana.

Ok, ada sedikit protes untuk novel ini:
One of Laura’s favorite movies is A Moment To Remember. Lalu ada adegan Max mendengarkan lagu Someday We’ll Know. Setahu gue, judul film tersebut adalah A Walk To Remember yang dibintangi Mandy Moore based on Nicholas Spark’s novel. Sedangkan A Moment To Remember adalah rom-flick Korea yang dibintangi oleh Jung Woo Sung.

Overall, gue puas dengan Melbourne. This novel is about music, books, and romance. Gue ingin segera hunting novel karya Winna yang lain.

quotes

Masa lalu punya cara tersendiri untuk mengejutkanmu, tanpa pertanda. (hal. 24)

Manusia nggak bisa milih kapan waktu yang tepat untuk jatuh cinta. (hal. 61)

Siapa yang bisa mengukur takaran kebahagiaan sesungguhnya? Kita bahagia dengan apa yang kita punya, itu udah cukup. (hal. 80)

Insting wanita lebih tajam daripada otak pria. (hal. 100)

Buat gue, perasaan paling nggak enak sedunia adalah sesal. Apa pun yang lo lakukan, lo nggak akan bisa menekan tombol rewind untuk kembali ke momen saat segalanya berubah. (hal. 122)

dream_cast

Saat membaca novel ini, visualisasi di kepala adalah orang-orang di bawah ini. Novel ini kayaknya keren juga kalau diangkat ke layar lebar. Atau mungkin dibuat omnibus dari semua novel serial #STPC yang ada.

melbcast
20130725-125152.jpg

Need a second opinion?

Mia Membaca Review here
Kata-kata Dicta Review here
Kubikel Romance Review here

Submitted for:

New Authors Reading Challenge here

IRRC 2013 here

STPCGA

Yuk, yang mau mendapatkan 3 paket novel serial #STPC @Gagasmedia @Bukune merapat kemari. Caranya gampang banget:

1. Follow akun @Gagasmedia @Bukune dan @WinnaEfendi

2. Twit link review + giveaway ini dengan kalimat seperti ini:

Mau dapetin paket novel #STPC dari @yuska77 @Gagasmedia @Bukune? Klik aja http://wp.me/p1d1V6-VU

3. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel Melbourne: Rewind. Jangan lupa untuk mencantumkan:

Nama, akun twitter, dan email.

4. Setiap komentar yang kamu tinggalkan di tiap postingan dan twit selama proyek #STPC berlangsung akan mendapat 1 entry. Misalnya, kamu ngetwit link review + giveaway Melbourne juga meninggalkan komentar, maka kamu mendapatkan 2 entries.

5. Jangan lupa, besok ada postingan interview bersama Winna Efendi. So, stay tuned ya.

6. Giveaway STPC dimulai dari tanggal 1 September – 30 September 2013. Kamu bisa mengisi kolom komentar + tweet giveaway ini selama event STPC berlangsung.

7. Pengumuman pemenang tanggal 5 Oktober 2013

Good luck 🙂

20130330-114856.jpg