Blog Archives

[Book Review] In The Name of Honor by Mukhtar Mai

posting bareng BBI 2014

https://lustandcoffee.files.wordpress.com/2013/06/book_info.jpg

in-the-name-oh-honor-atas-nama-kehormatan
Judul: In The Name of Honor (Atas Nama Kehormatan)
Penulis: Mukhtar Mai
Penerbit: Pustaka Alvabet
Terbit: Desember 2009
Tebal: 198 halaman
ISBN: 978-979-3064-78-9
Kategori: Non Fiksi
Genre: Memoir, Culture, Feminism
Beli di: Bukabuku – Harga: Rp. 29,750
Harga: Rp. 23,000
Kalimat pembuka:
PADA MALAM HARI TANGGAL 22 JUNI 2002, KELUARGA kami membuat sebuah keputusan.

book_blurb

INTERNATIONAL BESTSELLER TELAH DITERJEMAHKAN DALAM 18 BAHASA DI 19 NEGARA

“Mukhtar Mai adalah seorang pahlawan. Dia telah mengalami pemerkosaan dan kebrutalan pengadilan. Atas kejadian itu dia meyakinkan kita akan pentingnya pendidikan—dan harapan. —Nicholas Kristoff, The New York Times

Mukhtar Mai adalah perempuan Muslim berusia 35 tahun yang tinggal di perkampungan kecil di selatan Punjab, Pakistan. Ia termasuk satu dari 100 tokoh paling berpengaruh versi Majalah TIME.

Melalui kisah ini, mudah-mudahan saya dapat membantu orang lain untuk memahami bahwa perubahan harus dilakukan.”—Mukhtar Mai

Untuk pertama kalinya, Mukhtar Mai menuangkan pengalaman pahitnya dalam buku yang sangat menyentuh hati. Sebuah kisah mengenai penderitaan dan kehinaan yang mendalam, juga keberanian dan keyakinan yang besar.

Pada 22 Juni 2002, Mukhtar Mai dijatuhi hukuman oleh Dewan Adat di desanya dengan cara diperkosa. Dia dipegangi oleh empat orang laki-laki, ditelanjangi dan kemudian diperkosa beramai-ramai. Lalu, ia diperintahkan untuk berjalan pulang dalam kondisi setengah telanjang di hadapan 300-an penduduk desa. Dengan cara dipertontonkan dan dipermalukan di depan umum, Mai harus melakukan itu demi ‘membayar’ suatu tindak kejahatan yang tanpa bukti, yang dituduhkan kepada adik laki-lakinya.

Adik laki-laki Mai, Abdul Syakur (12 tahun), dituduh memiliki affair dengan seorang gadis dari kasta yang lebih tinggi. Dewan Adat akhirnya menjatuhkan hukuman kepada Mukhtar Mai dengan cara diperkosa. Menjelang menit-menit pelaksanaan hukumannya, Mukhtar Mai meminta belas kasihan, memohon agar adiknya dibebaskan, dan membaca al-Quran—satu-satunya bacaan yang dihapalnya.

thoughtsSudah cukup lama saya tidak membaca buku non fiksi. Pas nggak sengaja browsing di BukaBuku.com, saya menemukan buku ini dan tertarik untuk memilikinya. Kebetulan tema baca bareng bulan ini mengusung tema perempuan, saya pikir buku ini cocok dengan tema tersebut.

Mukhtar Mai adalah seorang perempuan miskin anak petani dari kasta Gujar yang tinggal di desa Meerwala, Pakistan. Adik laki-lakinya dituduh berzina dengan seorang perempuan yang usianya jauh lebih tua. Sialnya, perempuan itu berasal dari kasta Mastoi, kasta yang lebih tinggi dari kaum Gujar. Orang-orang Mastoi menguasai sebagian besar lahan di desa tersebut dan kerap berlaku sewenang-wenang terhadap kaum Gujar.

Untuk meringankan hukuman adiknya, Mukhtar Mai diutus keluarganya untuk memohon kepada para lelaki Mastoi. Bukannya diberi maaf, Mukhtar Mai diseret ke gudang dan diperkosa beramai-ramai, lalu dilemparkan keluar kandang dalam keadaan setengah telanjang.

Orang normal akan bunuh diri jika mengalami kejadian yang dialami oleh Mukhtar Mai. Karena mukjizat dari Tuhan serta tekad yang kuat, Mukhtar melawan para pemerkosanya dan ia berjuang hingga akhirnya ia mendapat perhatian international.

Pada awalnya, Mukhtar yang buta huruf dikerjai oleh pihak kepolisian. Ia dipaksa menempelkan sidik jari pada lembaran kosong (yang tadinya akan dibuat laporan palsu tentang pengakuan Mukhtar). KArena kebijakan hakim, Mukhtar berkata jujur dan laporannya tersebut berhasil menyeret para pemerkosa dan pihak yang terlibat dalam kejahatan tersebut ke meja hijau. Mukhtar membuka jalan bagi para wanita Pakistan yang sebelumnya diinjak-injak oleh kaum lelaki bejat.

Buku ini membuat saya menahan napas, menangis, dan meringis karena tak tega. Untung saja penulis tidak menceritakan bagian pelecehan seksual secara eksplisit. Jujur saja, saya paling tidak kuat membaca buku tema pemerkosaan. Saya jadi teringat dengan para wanita yang mendapat perlakuan tak adil seperti ini. Banyak kasus pemerkosaan di daerah Timur Tengah yang malah merugikan pihak wanita. Mereka diadili dengan tuduhan perzinahan lalu dihukum mati. Miris saya mendengar kabar seperti ini.

Mukhtar Mai adalah sosok perempuan sederhana yang memiliki ketegaran seperti baja. Saya salut dengan perjuangannya yang membuahkan hasil di luar dugaan. Ia mendapat uang kompensasi dari pemerintah yang kemudaian ia gunakan untuk membangun sekolah di kampungnya. Ia juga dianugerahi penghargaan oleh pemerintah Pakistan. Selain itu, buku memoir ini pertama kali terbit di Prancis. Kasus Mukhtar Mai yang mendapat perhatian international juga membawanya ke markas PBB dan Mukhtar bicara di sana untuk menyuarakan hak wanita. Mukhtar juga dinobatkan sebagai satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di dunia.

Tadinya saya ingin memberikan 5 bintang untuk buku ini, sayang terjemahannya terasa agak kaku. Tapi secara keseluruhan, saya sangat menyukai buku ini, apalagi karena endingnya membuat saya tersenyum.

 

20131125-062111.jpg

Need a second opinion?

Baltyra
Stefanus Akim

 

Until next time

20131128-083529.jpg

[Book Review] Some Girls, Some Hats and Hitler by Trudi Kanter

book_info

20130821-033002.jpg

Title: Some Girls, Some Hats and Hitler: a Love Story
Author: Trudi Kanter
Publisher: Virago
Published: April 12th, 2012
No. Of Pages: 242
ISBN: 978-1-84408-808-9
Category: Non Fiction
Genre: Memoir, autobiography, war, Holocaust
Format: Paperback
Bought at: Bookdepository for $5.64 (Bargain Bin)
Opening sentences: Of course I’d seen him before. Many times. In the cafes, restaurants, theatres, concert halls and beautiful shops of a small city like Vienna, everyone knew who was who, and everyone knew who might one day be more than that.

book_blurb

A true story. Vienna, 1938: Trudi Miller, young, beautiful and chic, designs hats for the smartest women in the city. She is falling in love with Walter, a charming and charismatic businessman. But their idyll is about to end. Trudi and Walter are Jewish, and as Hitler’s tanks roll into Austria, they know they have to flee. Some Girls, Some Hats and Hitler is an incredible true story that moves from Vienna to Prague to blitzed London, as Trudi desperately seeks a safe place for her and Walter amid the horror engulfing Europe.

thoughts

Holocaust is Lust & Coffee’s topic of the year. Masih belum puas membaca buku-buku bertema Holocaust, kali ini gue iseng membeli satu memoir masa Holocaust di Wina. Setelah iseng browsing sana-sini, ternyata banyak fakta menarik tentang buku ini. Rilisan pertama diterbitkan secara self-published dan kurang mendapat tanggapan. Seseorang menemukan versi out of print-nya dan menerbitkan ulang. Versi terbitan Virago yang sudah diedit ini yang kembali hadir dan berada di tangan. Hingga kini, pihak penerbit masih mencari pemegang copyright karya Trudi ini.

Tidak seperti kebanyakan cerita di masa Holocaust yang suram dan penuh kesedihan, memoar Trudi agak berbeda. Trudi yang berprofesi sebagai perancang topi (kebayang kan topi-topi vintage yang kerap dipakai perempuan tahun 1930-an?) bertemu dengan Walter di luar apartemen Trudi. Seperti kejadian di film-film romantis nan klise, mereka bertubrukan, dan Walter meminta maaf. Setelah itu, mereka menyesap champagne, and the rest is history. Trudi menjelaskan tempat kencannya dengan Walter. Salah satunya Vienna Opera House. Membaca bab awal Trudi seperti membaca novel STPC versi bule 🙂 Asli, jadi pengin ngedate ke Wina. Kafe-kafenye juga gak kalah romantis dibandingkan Paris.

Lalu, keromantisan suasana pacaran Trudi dengan Walter terusik dengan berita yang membuat warga Yahudi ketakutan. Pasukan SS menduduki Wina. Bendera Nazi dipasang, membuat suasana tegang dan mencekam. Pergolakan politik tak dapat dicegah. Hitler sudah mengumumkan bahwa Austria adalah bagian dari Jerman. Sebagai pasangan berdarah Yahudi, Trudi dan Walter takut mendapat siksaan dan dibawa ke kamp konsentrasi. Mereka memutuskan untuk pergi keluar dari Austria.

Trudi pada saat itu masih proses cerai dengan suaminya, Pepi. Karena keadaan mendesak maka pengadilan dan sinagog mengabulkan permohonan cerai tanpa proses berlarut-larut.

Trudi yang sering bepergian ke Prancis, Belanda, dan beberapa negara lain karena pekerjaannya, mengajukan visa untuk keluar dari Austria. Beruntung, permohonannya dikabulkan. Demikian juga dengan Walter, yang dibantu oleh pamannya, berhasil mendapatkan visa Inggris. Jaman itu belum ada Schengen, jadi memang agak ribet untuk mengurus visa ke sesama negara Eropa.

Pasukan SS sudah mengobrak-abrik apartemen, rumah tinggal, dan merampas semua harta milik penduduk Austria keturunan Yahudi. Bahkan rekening milik warga Yahudi dibekukan, membuat Trudi tidak sempat membayar pajak tertunggak karena uangnya tidak bisa dicairkan.

Berbekal visa Inggris, Trudi melakukan perjalanan via laut sehubungan dengan pekerjaannya. Ia sempat kembali ke Austria. Karena keadaan di Austria sudah dalam taraf siaga 4 (mungkin), Trudi dan Walter berangkat ke London. Salah satu faktor yang menyebabkan Trudi ingin minggat karena ia yakin ada rekan yang berkhianat. Seseorang mencari Walter, dan orang tersebut kembali lagi untuk mencarinya. Hati Trudi dan Walter tidak tenang. Mereka berhasil keluar dari Austria, bahkan Pepi ikut membanty kepergian mereka (Pepi adalah tokoh favorit gue di buku ini. He’s such a gentleman.)

Tak lama, Trudi dan Walter mendapatkan PR di London. Topi-topi Trudi yang sempat ditahan, sampai juga di London. Sebuah butik membantu Trudi untuk menjual topi-topi tersebut dan karya Trudi laris manis diborong oleh para sosialita London yang hadir di trunk show butik tersebut.

Trudi adalah perempuan yang insecure. Setelah bercerai dari Pepi, ia masih tidak rela jika ada perempuan yang dekat dengan mantan suaminya itu. Belum lagi perempuan yang berbicara dengan Walter, dianggapnya sedang flirting. Sikap Trudi yang cemburuan agak annoying menurut gue, but I guess that’s the flavor of the book.

Buku ini memiliki potensial untuk menjadi salah satu buku tema Holocaust terbaik, namun gaya bertutur Trudi yang terkesan terburu-buru dan switching dari Walter menjadi you di luar dialog membuat gue bingung. Dialognya juga masih kurang rapi. Kalau saja buku ini diedit lagi, mungkin akan lebih enak dibaca. Namun, gue menikmati buku ini, membacanya dengan cepat. Gue membayangkan jika memoir ini difilmkan dan berfokus pada hubungan cinta Trudi dan Walter, mungkin akan jadi rom-flick yang keren.

quotes

Hitler isn’t even here, but suddenly everyone is a Nazi. (p. 26)

We are like tiny ants whose nest has been disturbed, running in all directions, trying to find a hole, a blade of grass, somewhere – anywhere – to hide. (p. 33)

There was no sun, just swastika flags. No sky, just swastika flags. There was no God. (p. 37)

20130822-080403.jpg

Buku ini pernah dibahas di website Oprah sebagai Book of the Week

Need a second opinion?

Independent Review here

Booking Mama here

Book Reporter here

Submitted for:

A Year Long Memoir Reading Challenge here

New Authors Reading Challenge here

Baca Bareng BBI Tema Perang here

Books in English Challenge here

Until next time:)

20130330-114856.jpg

[Book Review] In The Eye of The Storm by Brilliant Yotenega

20130405-010356.jpg

bookinfo

inthe

 

 

thoughts

Surprised and excited. Itu yang pertama kali gue rasakan saat tahu ketika Ega, salah satu sahabat penulis, akan merilis buku yang diberi titel In the Eye of the Storm ini. Lewat note di akun Facebooknya, Ega memberi spoiler isi buku ini beberapa chapter. Nggak butuh waktu lama untuk membaca dan mencerna kisah perjalanan hidupnya yang penuh dengan goncangan. Seperti diterpa badai, begitulah pengalaman Ega saat menapakkan kaki di ibukota yang kejam ini.
Bab demi bab mengalir lancar, diselipi beberapa kutipan dari penulis ternama. Di beberaoa bagian, air mata gue jatuh saking terharunya, seolah merasakan apa yang dialami oleh Ega.
Gue salut akan perjuangan Ega, bangga Ega bisa melewatinya dengan bahu tegak, dan hingga saat ini, Ega masih murah senyum.

Buku ini sama sekali tidak menggurui. Membagi pengalaman berharga adalah salah satu amal, dan gue adalah salah satu orang yang tersentuh oleh tulisan Ega. Betapa bersukur dan berserah pada Tuhan adalah hal simpel namun masih berat untuk dilakukan.

Dengan segala kesederhanaan dan kerendahan hatinya, penulis sadar bahwa pertolongan Tuhan memang selalu tepat pada waktunya.

Buku ini diterbitkan secara indie oleh nulisbuku.com. Gue merekomendasikan buku ini untuk semua orang.

20130330-114930.jpg

author

20130405-010528.jpg

1. Apa yang memicu Anda untuk menulis buku ini?
Kisah yang aku tulis ini sudah terjadi beberapa tahun 2008. Aku berpikir bahwa di tahun itu adalah salah satu milestone dalam hidupku. Dan, aku ingin anak-anakku nanti memahami hal-hal yang dapat mempengaruhi masa depan mereka karena keputusan yang aku buat di tahun 2008 tersebut. Semoga kisahku nanti dapat memberikan sedikit identitas yang berguna bagi dirinya sendiri 🙂

2. Kapan ide untuk menulis dan merilis buku ini muncul?
Aku sudah lama ingin menuliskannya sejak apa yang pernah aku alami. Dan aku berjanji kepada diri sendiri untuk menuliskannya. Untuk menulis sebuah kisah di masa lalu ternyata membutuhkan mental yg cukup, tidak mudah melakukannya, karena kita harus mengunjungi kepingan-kepingan kenangan yang pahit sekali lagi dan menuliskannya. Namun saat awal tahun 2013, aku menantang diriku untuk melakukannya, menulis dan menerbitkannya menjadi buku. I did it! Menulis itu selalu melegakan 🙂

3. Siapa penulis favorit Anda?
Ini pertanyaan jebakan, hahaha, karena aku membaca banyak buku, dari buku bisnis, religi sampai novel. Dan aku mengagumi banyak penulis. Bagiku setiap penulis itu jenius. Mereka semua sangat menginspirasiku. Jika harus memilih, aku suka: Yann Martel, Paulo Coelho, Charles R. Swindoll, John C. Maxwell, John Grisham, Seno Gumira Ajidarma.

4. Sedang membaca buku apa?
Aku juga selalu bingung jika ditanya pertanyaan seperti ini, karena aku selalu membeli banyak buku setiap kali berkunjung ke toko buku (bahkan toko buku online juga), dan membaca semuanya secara random, setiap hari aku bisa membaca 3 sampai 5 buku yang berbeda secara bergantian. Buku-buku yang sedang berserakan di mejaku adalah the Fifth Mountain by Paulo Coelho, Buku puisi Joko Pinurbo: Baju Bulan, Man of Honor: William Soeryadjaya biografi, Irrational Cunsumer by Dan Ariely (Non-fiksi), Berani Mengubah by Pandji Pragiwaksono

5. Untuk proyek selanjutnya, apakah Anda masih berpijak pada genre yang sama, atau ada rencana untuk menulis novel fiksi?
Tidak, selanjutnya aku ingin menulis novel fiksi juga, menulis minimal satu buku bisnis, dan buku cerita anak juga sepertinya menantang 🙂

6. Punya waktu menulis favorit? Pagi, siang atau malam?
Pagi sebelum jam 7 dan malam setelah jam 11. Di luar jam tersebut adalah waktu yang tepat untuk membaca dan mengamati kehidupan 🙂

7. Lagu yang cocok untuk menjadi soundtrack “In The Eye of the Storm”?
Di buku saya tersebut sudah terselip sebuah lagu yang cocok setiap bab-nya. Dan, lagu tersebut mewakili mood di setiap babnya.

8. Seandainya “In the Eye of the Storm” difilmkan, siapa yang cocok untuk memerankan tokoh Anda dan istri Anda?
Hahaaha, Idealnya sih setiap penulis novel tidak mengintervensi pilihan sutradara dalam membuat film, karena mungkin akan sangat berbeda visinya. Namun, jika harus memilih, aku akan memilih Tio pakusadewo ketika masih muda, atau Lukman Sardi boleh juga. Untuk istri, aku memilih diperankan oleh Prisia Nasution.

9. Ada pesan untuk pembaca/calon pembaca “In the Eye of the Storm”?
Saat menulis buku tersebut, aku selalu mengingat kata-kata yang ditulis oleh Raja Daud ini:
“Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.”
Jadi, setiap hal yang kita lalui dalam hidup itu layak untuk dikenang dan ditulis, maka nikmatilah kenangan itu. 🙂

10. Pesan untuk penulis baru?
Jangan berhenti berkarya. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana sebuah karya akan mempengaruhi seseorang. Tetaplah menulis!

Brilliant Yotenega
Twitter: @byotenega
FB: http://www.facebook.com/byotenega

20130330-114856.jpg