Blog Archives

[Book Review] The Naked Traveler 4 by Trinity @bentangpustaka

book_info

20131204-080410.jpg

Judul: The Naked Traveler 4
Penulis: Trinity
Penerbit: B First – Bentang Pustaka
Terbit: September 2012
Tebal: 262 halaman
ISBN: 978-602-8864-65-7
Kategori: Non Fiksi
Genre: Travel, Humor, Culture
Beli di: Kutukutubuku Harga Rp. 41,650
Kalimat pertama:
Misool dan kepulauan sekitarnya memang paling indah dibanding daerah lainnya di Raja Ampat.

book_blurb

Jalan-jalan bersama Trinity memang tak ada habisnya. Tiga seri laris The Naked Traveller ternyata tak cukup untuk menceritakan pengalaman seru Trinity menjelajah ke berbagai negara. Sesuai ciri khasnya, Trinity mampu memberikan “kesan baru” pada setiap tempat yang ia singgahi. Selalu ada kejutan yang akan membuat kita melakukan refleksi.

Kali ini, kita akan diajak untuk menikmati Afrika, makan zebra di Namibia, dipenjara dan ketemu hiu putih raksasa, eksisnya Ladyboys di Thailand, sampai dipalak anak kecil di Kalimantan. Tambah lagi, kita juga bakal tetep sirik setengah mati sama cerita Trinity yang makan sushi paling enak sedunia dan nonton festival Unta di Pushkar.

Bersiap-siaplah dengan virus Trinity yang kali ini lebih seru!

thoughts

Akhirnya kelar juga baca buku seri The Naked Traveler keempat ini. Covernya paling funky, pink ngejreng, wueheheehe. Entah apa warna ini adalah warna favorit Trinity apa memang pilihan dari penerbit.

Jujur aja, dibandingkan buku-buku sebelumnya, entah kenapa saya merasa buku ini ‘garing’. Selipan humor di akhir bab terasa agak nanggung. Tapi, saya masih bisa menikmati buku ini kok. Memang saya ngiler dan iri berat dengan Trinity yang bebas oergi ke mana saja, dibayarin pulak. Well, saya cuma bisa menikmati sambil membayangkan aja berada di tempat-tempat yang disebutkan oleh Trinity.

Bagian awal buku ini membahas tentang domestic traveling alias jalan-jalan di kandang sendiri. Saya iba dengan Trinity dan kawannya yang harus menahan lapar di kapal menuju Misool, Raja Ampat.
Lalu tentang premanisme anak kecil di Kalimantan, tepatnya di kampung suku Dayak Kenyah di Pampang, saya cuma bisa mengurut dada. Kadang suka malu juga sih dengan budaya minta-minta, entah di kota atay desa, apalagi kuburan. Satu sisi pengin juga budaya kita dianggap di luar negeri, tapi kalau ada turis berkunjung malah disusahin. Duh *urut dada Matt Sanders*

Saya ngakak baca bab ‘Rumah Kuburan’ di Tanah Kusir. Daerah dekat rumah saya. Kebayang aja sih rumah keluarga Trinity yang dibedengi kuburan, lalu tamu yang disuguhi minum dibilang airnya adalah air kuburan. Jahil bener Trinity, hihihi.

Ada juga tentang eksplorasi timah di Bangka yang membuat banyak lubang. Tentu lubang-lubang itu kelihatan sangat tidak indah. Ngeri.

Saya suka dengan kebiasaan warga Gorontalo yang harus beristirahat tiap siang, atau siesta istilahnya. Menurut para ahli, rehat sejenak di siang hari bisa membantu mengoptimalkan otak. Google, Microsoft, dan berbagai perusahaan raksasa juga memberlakukan siesta untuk karyawannya.

Trinity juga membagikan kisahnya di Namibia. Ia bertandang ke sana sebagai duta pariwisata sampai masuk TV lokal di sana.

Ada juga tips jalan-jalan murah untuk mahasiswa dan backpacker berbujet pas-pasan. Ada usaha, ada niat, pasti ada cara. Prinsip yang keren dan patut ditiru.

Overall buku ini nggak membosankan, bukan panduan wisata atau brosur agen perjalanan. Bahasa yang dipakai Trinity masih santai seperti biasanya, ceplas-ceplos dan terkesan apa adanya. Buku ini juga selalu menyajikan cerita seru di tiap babnya, bikin saya cuma bisa garuk-garuk tanah karena nggak bisa jalan-jalan kayak Trinity.

Saya masih menunggu seri The Naked Traveler berikut yang gosipnya akan membahas perjalanan Trinity di Amerika Selatan.

20131119-085715.jpg

Need another opinion?

Baca Buku here
The Bookie Looker here
Desti Baca Buku here

Until next time

20130330-114856.jpg

[Book Review] Mastering the Art of French Eating by Ann Mah @VikingBooks

book_info18302355Title: Mastering the Art of French Eating: Lessons in Food and Love from a Year in Paris

Author: Ann Mah

Publisher: Viking Adults

Published: September 26, 2013

No. of Pages: 288

Format: Ebook

Category: Non Fiction

Genre: Biography, Food Memoir, Travel

But the book at: [Bookdepository]

Opening sentence:

book_blurbThe memoir of a young diplomat’s wife who must reinvent her dream of living in Paris—one dish at a time

When journalist Ann Mah’s diplomat husband is given a three-year assignment in Paris, Ann is overjoyed. A lifelong foodie and Francophile, she immediately begins plotting gastronomic adventures à deux. Then her husband is called away to Iraq on a year-long post—alone. Suddenly, Ann’s vision of a romantic sojourn in the City of Light is turned upside down.

So, not unlike another diplomatic wife, Julia Child, Ann must find a life for herself in a new city.  Journeying through Paris and the surrounding regions of France, Ann combats her loneliness by seeking out the perfect pain au chocolat and learning the way the andouillette sausage is really made. She explores the history and taste of everything from boeuf Bourguignon to soupe au pistou to the crispiest of buckwheat crepes. And somewhere between Paris and the south of France, she uncovers a few of life’s truths.

Like Sarah Turnbull’s Almost French and Julie Powell’s New York Times bestseller Julie and Julia, Mastering the Art of French Eating is interwoven with the lively characters Ann meets and the traditional recipes she samples. Both funny and intelligent, this is a story about love—of food, family, and France.

thoughtsWARNING TO THE HUNGRY SOULS OUT THERE!

Reading this book can cause a slow and painful hunger.

I read this book simply because I love Julia Child, I love dining and cooking. And I’ve been obsessed with French culinary.

I received a free copy from NetGalley in exchange for an honest review.

Yes, I was captured from the first page. This book is so fascinating and everything Ann Mah wrote made me learn more about French food. I’m actually still writing a rough synopsys for my upcoming novel about culinary. Thanks to Ann Mah, I’ll definitely use this book as one of the food bibles that I’m going to use as my resource.

Like people said, before you read a book, you should have an open mind. And I did. Actually, this book is beyond my expectations. I love it to the core.

As a food enthusiast, I find this book very resourceful and also entertaining. I learn a lot about four-course dinner, French signature dish (which is sandwich, that simple), and how French people eat intestines (yuck!), and types of beef cuts. Ann did a thorough research and this book is the proof of her magnificent job.

Just like Julia Child, before going to France, Ann Mah was just a foreign officer wife who wrote about food. But, French food changed her life (and I’m sure this book changed other people’s life too).

I thought only Italians love eating. French does too. For them, dining is meant to be special.

Ann also explained a bit about historical background of each food that she mentioned. I love history and surely it adds it. This book gives insight about French culture through dining. I drooled all the time.

Can’t wait to read Ann’s other work.

bookj5

20131105-012106.jpg

[Book Review] Au Pair: Backpacking Keliling Eropa dengan Menjadi Babysitter by @ichayuz

20130202-054420.jpg

Judul: Au Pair: Backpacking Keliling Eropa dengan Menjadi Babysitter
Penulis: Icha Ayu
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan I
Terbit: Desember 2012
Jumlah Halaman: 232
ISBN: 9786027572096
Genre: Non-fiction/Travel/Memoir

Book blurb:

Pengin mahir berbahasa asing dan jalan-jalan keliling Eropa? Kenapa tidak coba ikutan program au pair?

Yup, au pair (baca: oper) adalah program yang memungkinkan semua orang dengan batasan usia tertentu bisa terbang ke Eropa dan mempelajari bahasa serta budayanya dengan bekerja sebagai baby-sitter. Selain mendapat gaji yang bisa dipakai untuk traveling, menjadi au pair juga akan menambah “nilai jual” kita setelah pulang ke tanah air.

Mau tahu caranya dan apa saja yang harus dipersiapkan? Di buku ini, akan dibahas secara lengkap all about au pair. Dari mulai cara daftarnya, memilih host family, membuat resume yang menarik, sampai tips dan trik jalan-jalan secara murah meriah di Eropa à la au pair. Bukan itu saja, di buku ini, penulis juga sharing pengalamannya ketika menjadi au pair di Prancis selama dua tahun.

Thoughts:

Pertama kali tau tentang buku ini dari twitter @Stiletto_Book . Langsung tertarik pengin beli karena: 
1. Settingnya di Eropa. Gue punya memori tersendiri dengan benua ini. 
2. Karena judulnya (pake bold dan caps lock) AU PAIR. Gue langsung melotot baca judul bukunya, karena gue pun punya pengalaman nano-nano dengan Au Pair.
3. Gue suka dengan buku yang memiliki tema Au Pair/Babysitter/Nanny. So far, gue udah baca dua buku Hollywood Nanny yang seru, tapi belum pernah baca buku tema ini dengan penulis orang Indonesia.

Asli gue ngiri berat sama Icha. Gimana nggak? Icha bisa berkelana 2 tahun di Eropa dan merasakan pahit getir hidup di sana. Dan yang paling bikin gue sirik adalah menikmati outdoor yang jarang banget bisa gue dapatkan di ibukota tercinta ini.

Menjadi Au Pair memang gambling. Sukur-sukur dapat keluarga yang asik. Segala harapan dan excitement Icha harus pupus ketika ia tinggal di rumah keluarga Abdul.
Gue bisa ngebayangin gimana seremnya tinggal di rumah itu. Mungkin lebih baik tinggal di kastil Count Dracule kali ya, secara itu kan tokoh fiktif, sedangkan a scumbag with the name Abdul itu nyata. Gue juga ikut emosi saat membaca detik-detik terakhir Icha dan Abdul bertemu.

Dan dari buku ini gue juga jadi tahu istilah couchsurfing dan wwoofing. Sounds like a dog *ngikik*.
Pas baca bagian wwoofing, gue jadi teringat cerita suami waktu kuliah di Perth. Waktu jalan mau piknik sama teman-temannya, di tengah jalan ada cewek Jepang hitchhiking. Dia cerita kalo dia itu sebenarnya turis yang kehabisan uang. Jadi dia kerja di fruit farm, sampe duitnya terkumpul, baru dia traveling lagi. Memang terdengar nekat, tapi fun karena bisa merasakan real adventure, and I miss that kind of adventure.
Menurut cerita si Jepang, banyak orang Jepang yang kerja sebagai waiter atau wwoofing di Australia. Kalo yang gila malah jual diri segala *knock on wood, amit-amit jabang babon yah*

Icha juga nekat ber-hitchhiking yang memang menurut gue sangat berani. Trust is the key word. Pake feeling juga supaya nggak dikerjai sama orang yang kita tumpangi.

Lalu, bab tentang Samuel bikin gue deg-degan. Ooh la la, ternyata memang ada apa-apanya. Gue belum baca buku pertama Icha. Setelah ini, gue bakal baca bukunya yang sepertinya nyambung dengan buku Au Pair ini.

Yang bikin gue held my breath adalah waktu Icha cerita kisahnya di Italia. Salah satu impian gue adalah mengunjungi Verona yang kebayang sangat romantis. Jujur, gue jauh lebih kepengen pergi ke Verona daripada Paris. Pernah lihat di channel TLC yang membahas kota Verona, dan gue langsung terpesona dengan keindahan kota kunonya. Yes, rumah Juliet juga salah satu situs wajib untuk dikunjungi.

Di akhir buku, gue ikut menitikkan air mata, langsung teringat dengan beberapa sahabat gue di Swiss. Hari terakhir waktu gue diantar ke stasiun, gue berpelukan sambil nangis.

Au Pair bukan hanya sekedar buku tips traveling ke Eropa, tapi ada kisah di dalamnya yang bikin gue nggak mau berhenti baca. Emosi gue ikut teraduk saat membaca buku ini. Ngakak, senyum-senyum, mengumpat dalam hati, melonjak, melotot, dan menangis. Belum pernah gue baca buku traveling sampe emosional bacanya. 

Thumbs up untuk penulisnya. Gue tunggu karya Icha selanjutnya.
Yang mau kenalan dengan Icha bisa say hi ke Twitternya, @ichayuz

20130202-062623.jpg

20130202-062810.jpg