Blog Archives

[Book Review] Girl with a Pearl Earring by Tracy Chevalier + Movie Review

bookinfo

gwape

20130506-114513.jpg

Winner of the 2000 Barnes & Noble Discover Great New Writers Award Alex Award winner Tracy Chevalier transports readers to a bygone time and place in this richly imagined portrait of the young woman who inspired one of Vermeer’s most celebrated paintings. History and fiction merge seamlessly in this luminous novel about artistic vision and sensual awakening. Girl with a Pearl Earring tells the story of sixteen-year-old Griet, whose life is transformed by her brief encounter with genius…even as she herself is immortalized in canvas and oil.

20130506-114940.jpg

Girl with a Pearl Earring adalah buku kedua karya Tracy Chevalier yang sudah gue baca. Novel karya Chevalier yang pertama kali gue baca adalah The Lady and the Unicorn. Reviewnya ada di sini.

Dibandingkan The Lady and the Unicorn, Girl with a Pearl Earring lebih fokus pada Griet dan Vermeer, walau banyak tokoh yang terlibat. Pendalaman karakter lebih terasa dibanding dengan The Lady and the Unicorn.

Kejadiannya pada abad 17 di Delft, Holland. Masa itu juga disebut Dutch Golden Age, dimana seni lukis (baroque), arsitektur, dan literatur Belanda mengalami masa kejayaan. Adalah Griet, seorang gadis miskin yang harus menjadi tulang punggung keluarga setelah kecelakaan menyebabkan mata ayahnya menjadi buta. Griet akhirnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah keluarga Jan Vermeer, seorang pelukis baroque. Selain Griet, ada seorang pembantu lagi yang bekerja di rumah tersebut, Tanneke, yang mood-nya sering berubah. Catharina, istri Vermeer, sangat cemburu kepada Griet karena suaminya menjadikannya sebagai asisten di studio melukisnya. Catharina sudah lama tidak diijinkan memasuki studio Vermeer karena ia clumsy dan tidak menunjukkan ketertarikan pada profesi suaminya. Selain itu, Catharina lebih fokus memproduksi anak, walau ia juga tidak mengurus anak-anaknya secara full time.

Vermeer melihat talenta pada Griet, bahwa ia mengerti seni dan bisa dijadikan asisten. Ayah Griet dan kakaknya, Frans, bekerja sebagai tile painter. Bahkan Griet memberi saran pada Vermeer untuk komposisi pada lukisannya agar lebih sedap dipandang.

Lalu, ada juga Maria Thins, ibu mertua Vermeer, yang bersikap baik pada Griet. Dan anak Vermeer, Cornelia, salah satu dari 5 anak Vermeer, yang tidak suka pada Griet. Cornelia suka mengintip Griet saat bekerja. Mungkin ia memiliki feeling bahwa Griet bisa membahayakan hubungan orangtuanya. Cornelia digambarkan berambut ikal dan merah, tipikal anak badung dalam cerita bule.

Berdasarkan imajinasi Chevalier, Griet adalah inspirasi Vermeer dalam lukisan masterpiece-nya, Girl with a Pearl Earring (Het Meisje met de Parel), bahkan dijuluki Mona Lisa of the North.

Vermeer sendiri digambarkan misterius, sesuai dengan fakta yang ada. Vermeer dan Griet memiliki chemistry namun tidak dideskripsikan secara vulgar, bikin gue geregetan dalam arti positif. Bagaimana hubungan emosional terjalin dengan skinship yang minim, that’s very sensual. Vermeer hanya pernah menyentuh wajah dan telinga Griet ketika proses pembuatan lukisan legendaris tersebut. Griet menyimpan perasaan pada majikannya tersebut, walau akhirnya Griet sadar the feeling wasn’t mutual. Vermeer cared more about his paintings. Griet juga membuat keputusan yang tepat di akhir cerita.

Griet sendiri memiliki pacar bernama Pieter, anak tukang daging langganan Tanneke.

Gue sangat suka dengan novel ini, selain karena genrenya historical fiction. Chevalier suka mengambil tema lukisan dalam tulisannya. Lalu, deskripsi mengenai cara mengolah cat digambarkan secara detil. Juga keadaan sosial politik pada saat itu di Delft, di mana kaum Protestan mendominasi, serta the rise of the bourgeoisie yang menguasai gereja, membuat novel ini terasa hidup.

Ada scene menarik dimana ibu Griet berpendapat bahwa lukisan Vermeer tidak baik bagi jiwa. Griet yang belum pernah memasuki gereja Katolik mengutarakan pendapat ibunya tentang lukisan Katolik. (Keluarga Griet beragama Protestan). Menarik karena dialog-dialog dalam scene ini menyentil. Do not judge something that you don’t know. Ini sering banget terjadi di sekitar kita.

Quotes

“It’s not the painting that is Catholic or Protestant,” he said, “but the people who look at it, and what theyexpect to see. A painting in a church is like a candle in a dark room – we use it to see better. It is the bridge between ourselves and God. But it is not a Protestant candle or a Catholic candle. It is simply a candle.”

20130330-114930.jpg

Now, let’s talk about the film.

girl-with-a-pearl-earring-2004

Film ini merupakan karya pertama sutradara Peter Webber. Film ini juga merupakan salah satu film transisi Scarlet Johanson dari artis remaja menjadi aktris dewasa. Gue nggak keberatan dengan ScarJo sebagai Griet, cuma di film ini ScarJo sering ‘mangap’.
Colin Firth bermain apik sebagai si misterius Vermeer. Yang keren adalah Cillian Murphy sebagai Pieter. Kualitas aktingnya pantas diberi dua jempol, walau dia nggak sering nongol.

Girl with a Pearl Earring versi film agak berbeda dengan novelnya. Beberapa adegan diganti untuk mempersingkat cerita. Di film ini nggak banyak dibahas tentang keluarga Griet, kematian Agnes, juga ‘ending’nya yang berbeda.
Lalu Frans, kakak Griet, yang punya drama sendiri juga nggak dibahas di film. Mungkin untuk mempersingkat cerita atau lebih fokus pada Griet dan Vermeer.

Sinematograginya cantik, walau pace-nya agak lamban. Chemistry antara Colin dengan ScarJo juga cukup kuat. Penggambaran suasana Belanda abad ke-17 juga disajikan apik, lumayan memanjakan mata.

Tapi kalau boleh membandingkan, gue lebih suka bukunya daripada filmnya, karena beberspa detil yang dihilangkan, membuat gue harus 2 kali menonton supaya mudeng.

Overall,, baik buku maupun filmnya berkesan. Recommended untuk penyuka hisfic atau yang baru coba-coba baca/nonton film tema sejarah dan seni lukis.

*3 bintang untuk filmnya*

20130330-114856.jpg

[Book Review] The Lady and the Unicorn by Tracy Chevalier

3631198

Judul: The Lady and the Unicorn
Penulis: Tracy Chevalier
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 979-22-2520-X
Kategori: Fiksi terjemahan
Genre: Historical fiction
Jumlah halaman: 295
Terbit: Februari 2007
Beli di Gramedia WTC Serpong

Book Blurb:

Jean le Viste, bangsawan Paris abad ke-15 yang dekat dengan Raja, menyuruh Nicholas de Innocents, seniman berbakat yang juga perayu wanita ukung, membuat desain permadani dinding untuk merayakan kenaikan statusnya dalam lingkaran kerajaan.

Nicolas sempat ragu karena belum pernah membuat desain permadani. Tapi setelah bertemu putri sulung Jean le Viste dan istri bangsawan itu, dia berubah pikiran. Meski tahu keinginannya terlalu berbahaya, Nicolas terlanjur terobsesi. Dia pun menuangkan semuanya dalam enam lukisan Lady dan Unicorn.

Di Brussels, Georges de la Chapelle, penenun yang sedang naik daun, memutuskan menerima proyek Jean le Viste. Menuangkan desain-desain Nicolas menjadi permadani merupakan tantangan terbesar dalam karirnya. Tantangan yang memaksanya mempertaruhkan segala yang penting: kelangsungan hidup bengkel tenun dan keluarganya.

Cover The Lady and the Unicorn klasik banget. Perpaduan warna merah dan emas, juga gambar Lady-nya sudah mewakili isi bukunya. Very medieval. Kedua, nama penulisnya yang nggak asi di telinga. Gue belum pernah baca karya Tracy Chevalier sebelumnya, tapi gue punya beberapa bukunya yang belum dibaca (shame on me). Terus, genre historical fiction adalah salah satu genre favorit. Sebisa mungkin buku-buku yang review-nya OK gue bakal baca. Dan terakhir, gue dapat buku ini di acara bazaar buku Gramedia di WTC Matahari, Serpong, kalo nggak salah.

Novel berseting tahun 1490 di Prancis ini menceritakan tentang asal mula pembuatan permadani The Lady and the Unicorn yang melegenda tersebut. Tracy Chevalier mengemas backstory tentang permadani tersebut yang juga berbuah kekacauan di Paris dan Brussels, baik keluarga bangsawan Jean le Viste maupun rakyat jelata George de la Chapelle.

The Lady and the Unicorn dimulai dengan bab dari POV Nicolas des Innocents. Gue nggak suka sama tokoh ini karena mata keranjang, oportunis dan angkuh. He’s so full of himself dan menganggap semua perempuan mudah didapat. Kalo ketemu cowok model gini, gue nggak bakal suka dari pandangan pertama, walau dia gantengnya selangit. after he made out with Claude le Viste, he went to Brussels and flirted with Alienor de la Chapelle. Disgusting.

Setelah bab Nicolas, satu per satu tokohnya berbicara. Ada Claude le Viste, putri pasangan Jean le Viste dan Genevieve de Nanterre. Claude yang menginjak usia puber tergoda oleh Nicolas yang genit, dan membuat ibunya hampir pingsan saat ajudannya, Beatrice, mengadukan kelakuan nakal Claude dengan Nicolas.

Lalu, cerita berpindah ke Brussels, di mana Nicolas dan Leon menemui tukang tenun ternama, Georges de la Chapelle. Konflik bergulir kepada Alienor, putri Georges dengan Christine yang cantik tetapi tuna netra. Alienor juga menjadi korban kegenitan Nicolas, namun Christine menghardik Nicolas dengan ketus dan memintanya untuk menjauhi Alienor. Christine dan Georges menghadapi tekanan dari Jacques Le Boeuf yang ingin meminang Alienor. Christine mendesak Alienor untuk menerima lamaran dari Jacques, namun Alienor jijik dengan bau Jacques.

Konflik bergulir hingga mengubah nasib para tokohnya.

Tokoh favorit gue adalah Philippe de la Tour. Mengingatkan gue akan Sgt. Paul Sutton yang diperankan Keanu Reeves di film A Walk in the Clouds.

Pesan moral dari buku ini: you can’t always get what you want. Para pasangan di buku ini tidak semua saling mencintai, kecuali George de la Chapelle dan istrinya, Christine.

Favorite Quotes from the Book:

“Orang akan melakukan hampir apa saja jika imbalannya uang”. Nicolas des Innocents
“Tendang saja kemaluannya supaya dia tidak bisa lagi menghamili gadis.” Maria-Celeste
“Aku lelah mengkhawatirkan apa yang akan terjadi padanya, sementara dia sendiri jelas-jelas tidak peduli pada dirinya sendiri”. Genevieve de Nanterre

20130315-110643.jpg

20130315-110700.jpg