Blog Archives

[Book Review] Kartini Nggak Sampai Eropa by Sammaria @Gagasmedia

book_info

20131127-085959.jpg

Judul: Kartini Nggak Sampai Eropa
Penulis: Sammaria
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2008
ISBN: 978-979-780-271-4
Tebal: 238 halaman
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Travel, Romance, Contemporary
Beli di: Gramedia Bintaro Plaza. Harga: IDR 15,000
Penghargaan: Nominasi KLA kategori Penulis Muda Berbakat (2009)
Kalimat pembuka:
Je suis a Paris. Et rendezvous?

book_blurb
Anti dan Tesa sudah tidak saling bertemu sejak lulus sekolah. Keduanya adalah cewek-cewek Indonesia yang mencoba menaklukan dunia—khususnya Eropa. Anti melanjutkan studinya ke Perancis, sedangkan Tesa mengambil kuliah di Jerman.

Bagi mereka, jarak bukanlah hambatan untuk tetap saling berbagi cerita. Melalui e-mail, mereka bertukar ide, pendapat, dan argumentasi tentang banyak hal. Tentang pengalaman cintanya dengan para cowok, tentang kebudayaan barat dan timur, tentang realitas sosial, tentang seks, dan bahkan tentang kepercayaan terhadap Tuhan.

Anti dan Tesa adalah dua dari sekian banyak cewek Indonesia pintar. Sambil mencoba menaklukkan Eropa, kedua cewek ini juga terus memperdalam pengetahuannya seraya menikmati masa muda. Meski terkadang memiliki pemikiran yang berbeda, tapi mereka justru menjadi dua orang sahabat yang saling melengkapi.

Tidak hanya pintar, Anti dan Tesa juga sama-sama cewek Indonesia yang haus akan tantangan, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, hobi berpetualang, berkebudayaan tinggi, dan berprinsip. Meski tinggal di Eropa, mereka tidak lantas meninggalkan adat timur yang selama ini mereka jalankan.

Hal itu terlihat jelas saat mereka mempertahankan prinsip ‘having sex after marriage’—meski di sana segala sesuatunya memungkinkan dan sex before marriage adalah hal yang biasa.

Mereka berdua memang luar biasa. Semangat mereka pun tidak kalah tingginya dengan semangat Kartini di zaman dulu. Ya, mereka adalah Kartini zaman modern. Kartini masa kini yang haus akan rasa ingin tahu. Kartini yang tidak takut untuk mempertanyakan apapun, meski pada akhirnya tidak semua pertanyaan memiliki jawaban.

thoughts

Sebenarnya sudah lama saya pengin baca buku ini namun sulit banget didapat. Sekitar tahun 2011-an Jakarta Book Club yang ngadain baca bareng buku ini. Salah satu membernya kenalan saya di Twitter. Tadinya saya pengin ikutan book club ini, namun saya sulit sekali keluar (yes, saya masih tahanan rumah di Bintaro, wkwkwkwkwk) jadi saya pendam keinginan bergabung dengan book club.
Beruntung saya menemukan BBI dan Reight. Walau saya masih sulit keluar rumah, saya masih diberi waktu dan kesempatan untuk membaca dan meresensi buku-buku yang saya suka.

Dan, akhirnya, saya menemukan buku ini di rak sale di Gramedia Bintaro Plasa yang jaraknya cuma sejengkalan dari rumah *praise the Lord, Hallelujah*

Saya cukup surprised dengan gaya penulisan a la email ini. Saya pernah tahu ada buku bahasa Inggris dengan metode serupa, yaitu dua orang sahabat pena yang belum pernah bertemu dan mereka saling curhat via email. Saya lebih nyaman membaca buku dengan format email darioada twit yang membuat mata saya sakit.

Adalah Anti dan Tesa, dua mahasiswi Indonesia yang menempuh pendidikan di Eropa, saling bertukar email dan menceritakan kisah masing-masing dengan berbalas email.

Gaya bertutur Sammaria sangat santai, menggunakan bahasa sehari-hari. Novel ini terkesan ceria.

Anti digambarkan boycrazy walau masih menjaga keperawanannya. She’s a serial dater, kira-kira begitulah penjelasan singkatnya. (Bahasa Indonesianya serial dater itu apa ya? Tukang kencang berantai?)

Di dalam emailnya, Anti curhat tentang cowok Turki yang brengsek, terus dia juga punya pacar yang udah tiga tahun namanya Ical. Namun, Anti masih ngedate dengan Lukas di Prancis.

Sementara Tesa berpacaran dengan Mikhail dan ia berusaha setengah mati untuk tidak melakukan hubungan seks (yang sepertinya sangat jarang ditemui pada anak muda sekarang, apalagi yang kuliah di luar negeri).

Percakapan via email ini tidak melulu membahas isu asmara, namun juga menyinggung budaya Indonesia, cara pemulung mendapat uang lebih, bom Bali, agama, dan lain sebagainya.

Tesa dan Anti juga membahas bahasa. Mereka berdua lebih sering menggunakan bahasa asing dariada bahasa Indonesia. Bahasa memang universal, dan bahasa Indonesua se diri merupakan bahasa serapan. Saya setuju di sini. Suka-suka deh pake bahasa apa aja ^^
Novel ini banyak banget selipan bahasa Inggrisnya.

Dan, karena formatnya saling berbalas email, tidak ada dialog dalam novel ini. Karena bahasanya juga santai, saya nggak merasa terganggu sama sekali. Cuma di beberapa bagian merasa agak bosan karena pembahasannya yang itu-itu juga.

Lalu Anti dan Tesa seperti memiliki suara yang sama. Cara mereka bertutur mirip. Saya agak kesulitan membedakan mana yang Tesa dan mana yang Anti. Untung ada judul email dan dicantumkan nama pengirimnya, jadi saya tau siapa yang berbicara.

Secara keseluruhan, novel ini menghibur dan menjadi penyegaran untuk saya yang sedang mumet dengan kerjaan.

quotes

But what is freedom anyway? Just an illusion. (hal. 39)

Kebebasan bisa terjadi kalo semua pihak di dunia gak punya kepentingan akan pihak lain. (hal. 41)

Instead of covering the girls with some veils, why don’t we educate the boys? (hal. 51)

20131128-083506.jpg

20131128-083529.jpg

[Book Review] Ghost Knight by Cornelia Funke

book_info

20130918-022843.jpg

Title: Ghost Knight (Originally Geister Ritter)
Author: Cornelia Funke
Translator: Oliver Latsch
Publisher: Little Brown Books for Young Readers
Date of Published: May 1st, 2012
No. of Pages: 352
ISBN: 978-0-316-05614-4
Format: Hardcover
Category: Fiction
Genre: Fantasy, Ghost, Childrens
Literary Awards: Odyssey Award for Excellence in Audiobook Production Honor (2013)
Bought at: Periplus Pondok Indah Mall for IDR 77,500

book_blurb
From international phenomenon Cornelia Funke, the bestselling author of Reckless and Inkheart.

Eleven-year-old Jon Whitcroft never expected to enjoy boarding school. Then again, he never expected to be confronted by a pack of vengeful ghosts, either. And then he meets Ella, a quirky new friend with a taste for adventure…

Together, Jon and Ella must work to uncover the secrets of a centuries-old murder while being haunted by terrifying spirits, their bloodless faces set on revenge. So when Jon summons the ghost of the late knight Longspee for his protection, there’s just one question: Can Longspee truly be trusted?

thoughts

I didn’t plan to buy this book. I just browsed through childrens and fantasy books on sale, and I found this one along with the other book (I’ll read and reviee the other one later).

I haven’t read Cornelia Funke’s book, but I bought the Ink series and Reckless. I didn’t expect anything, just let it flow and hope Ghost Knight didn’t disappoint me. On the contrary, I looooove this book to the core. Let me tell you why I love Ghost Knight:
1. The main character is just an average boy who’s not happy with his mother’s remarriage.
2. His roommates are weird XD
3. He has a quirky sidekick.
4. Yes, he goes to the boarding school. I’m a sucker for boarding-school books. Reminds me of St. Clare.
5. Ghost stories are always compelling. I just can’t get enough, though I’ll most likely chicken out whenever I see them in real life.
6. The story sets in England. Spooky old buildings.
7. The illustrations are beautiful.
8. This book is a serious page-turner.
9. Humors everywhere. I love funny books.
10. The glossary contains historical events and people.

This Jon Hartgill was sent to a boarding school and he started to see ghosts. Not just ordinary ghosts, but vengeful ghosts who were after Jon’s great-great-great grandfather. His name is Stourton.
Jon met Ella, a quirky girl who’s been in touch with supernatural things. Her grandmother is a witch/ghost hunter and together they help Jon who was haunted by this vengeful ghost. Ella taught Jon to ask an old ghost to help him. This led to ghost-fight and bloodshed.

I enjoy every page of it. I gasped many times, even held my breath everytime I read ghost fighting scenes. Totally entertaining.

quotes

We make our best friends in dark times because we always remember how they helped us out of the darkness. (p. 210)

20130923-121407.jpg

20130923-121453.jpg

[Book Review + Giveaway] Tokyo: Falling by Sefryana Khairil @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

tokyoJudul: Tokyo: Falliing

Seri: Setiap Tempat Punya Cerita # 6

Penulis: Sefryana Khairil

Penerbit: GagasMedia

Terbit: Oktober 2013

Tebal: 338 halaman

ISBN: 9789797806637)

Kategori: Novel Fiksi

Genre: Romance, Travel Lit

Beli di: Kutukutubuku Rp. 37,100

Kalimat pertama:

Setelah mengambil gambar pintu masuk festival, Thalia menurunkan Canon 7D yang menggantung di lehernya.

book_blurb

Pembaca tersayang,

Musim panas di Tokyo selalu memiliki banyak warna. Sefryana Khairil, penulis Sweet Nothings dan Coba Tunjuk Satu Bintang mengajak kita berkeliling negeri sakura bersama dua wartawan bernama Thalia dan Tora.

Keduanya dipertemukan oleh sebuah lensa. Lalu, Danau Shinobazu membuka mata keduanya tentang bahwa kenyataan sering sekali berbeda dengan asumsi mereka pada awalnya. Thalia dan Tora berbagi tawa dan saling menyembuhkan. Hingga mereka sama-sama ragu, benarkah semuanya hanya sekadar kebetulan? Atau ini adalah satu dari misteri Ilahi yang mereka belum temukan jawabannya?

Setiap tempat punya cerita.
Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari timur yang sarat akan aroma lembut bunga sakura.

Enjoy the journey,

EDITOR

thoughtsTokyo: Falling merupakan karya Sefryana Khairil pertama yang saya lahap. Sebelumnya saya mendengar dari teman-teman pembaca tentang karyanya yang banyak disukai. Sudah lama saya memang ingin membaca novel Sefry, dan baru kali ini kesampaian, bertepatan dengan event STPC yang belum selesai di blog Lust and Coffee.

Di novel ini, Sefry menyuguhkan tema fashion dan majalah dengan setting Tokyo. Saya penyuka fashion (walau bukan fashionista atau pengikut trend mutakhir) juga Jepang. Waktu mendengar kabar tentang akan dirilisnya novel Tokyo: Falling, tentu saya antusias dan sangat menantikan kehadiran novel ini.

Adalah Thailia, seorang fashion editor di sebuah majalah perempuan di Indonesia yang pertama kali berkunjung ke Tokyo untuk meliput pameran fashion international. Lalu, ada Tora, redaktur pelaksana majalah LiveLife, terbang ke Tokyo untuk membereskan persoalan yang belum selesai.

Bertubrukan, Thalia marah kepada Tora yang membuat lensa kameranya retak. Terpaksa mereka berbagi lensa karena waktu yang mepet, ditambah Thalia yang rese ingin Tora mengganti lensanya yang limited edition.

Thalia semnagat ke Tokyo karena kekasihnya, Dean, bertugas di Tokyo. Alih-alih bertemu atau sekadar meluangkan waktu berbincang saat makan malam, Dean bagai hantu, menghilang ditelan kabut Tokyo. Sedangkan Tora mencari kepastian dari (mantan) kekasihnya, Hana, yang keputusannya membuat Tora syok berat.

Berdua Tora dan Thalia bertualang mencicip soba, ramen, hingga berbelanja ke butik Liz Liza, Ueno Zoo, hingga berdesakan di kereta bawah tanah.

Sefry piawai merangkai kata demi kata dengan indah. Terkesan romantis namun tidak berlebihan (karena saya bukan penggemar romance mendayu-dayu). Karakter pendukungnya juga bikin gemas. Seperti Dean yang nggak jelas keberadaannya bagai Casper, dan Hana yang awalnya tegas menyuruh Tora untuk menjauhinya, namun tiba-tiba malah meminta bertemu. Ada juga Alvin dan istrinya, Mikami, yang bisa berbahasa Indonesia dengan logat Jepang yang lucu.

Masih ditemukan typo:

Penasaran denga selera musik Thalia (hal. 118) <– dengan

Bibirnya keduanya mengulas senyum (hal. 180) <– Bibir keduanya

It doesn't matter who hurt you or broke you down. What matter is who make you smile again (hal. 89)

— It doesn't matter who hurt you or broke you down. What matters is who made you smile again.

Love is just a word yet it is an indescribeable feeling (hal. 231)

— Love is just a word yet it is an indescribable feeling

Minumnya sudah habis saat berkeliling. (hal. 281) <– minumannya

Di halaman 296 yangseharusnya bicara Dean tapi tercetak Tora.

Thali mengembangkan sebuahsenyum. (hal. 320) <– Thalia

So far typonya masih bisa ditolerir, tidak mengganggu atau mengubah esensi ceritanya sama sekali.

characterThalia

Manja, tipikal perempuan kosmopolitan. Ditambah dengan profesinya sebagai fashion editor yang menuntutnya tampil modis dan ditempeli barang branded. Walau manja, cranky, dan, tidak mau susah dan agak jutek, Thalia berhati lembut. Anehnya, walau saya tidak menyukai tipe perempuan seperti Thalia, karakter Thalia tidak menyebalkan. Agak gemes sih dengan kenaifannya setiap kali menghadapi Dean, tapi nggak sampai menyebalkan.

Tora

Cowok banget, cuek, rada berantakan, nggak peduli fashion, namun perhatian dan, sama seperti Thalia, hatinya lembut dan mudah terenyuh di hadapan perempuan yang ia cintai. Tora juga tipe setia, rela berkorban dan pelindung. Walau rada cuek, Tora suka pakai parfum juga sih, dan saya penyuka cowok wangi.

Tokyo: Falling menjadi penutup seri STPC dengan manis. Setelah membaca novel ini, saya jadi tersenyum dan ada perasaan hangat, seperti cuaca musim panas di Tokyo.

Nggak sabar menunggu karya Sefry selanjutnya.

quotesAku takut nggak bisabikin orang yang aku sayang bahagia. (hal. 225)

Mungkin ada kalanya cinta butuh jarak. Bukan untuk berpisah, tapi untuk menguji besarnya cinta itu sendiri. (hal. 242)

20130923-121407.jpg

GA1

Siapa yang mau mendapatkan satu buah novel Tokyo: Falling? Caranya mudah saja.

Isi Rafflecopter di bawah ya dan ikuti petunjuknya.

Rafflecopter

Periode giveaway berlangsung dari tanggal 20 November – 15 Desember 2013. Pengumuman pemenang tanggal 17 Desember 2013.

Good luck ^^

20131105-024143.jpg

Jangan lupa, besok ada sesi wawancara dengan Sefryana Khairil tentang novel Tokyo: Falling 🙂

[Book Review] Crazy Rich Asians by Kevin Kwang

book_info20131005-095422.jpg

Title: Crazy Rich Asians

Author: Kevin Kwan

Publisher: Knopf Doubleday

Published: July 1st, 2013

No. of Pages: 416

ISBN: 9780385536981

Format: Ebook

Category: Fiction

Genre: Chick Lit, Contemporary, Drama, Family

Buy the book at: BookdepositoryEbooks.com

Opening sentence: Nicholas Young slumped into the nearest seat in the hotel lobby, drained from the sixteen-hour flight from Singapore, the train ride from Heathrow Airport, and trudging through the rain-soaked streets.

book_blurb

Crazy Rich Asians is the outrageously funny debut novel about three super-rich, pedigreed Chinese families and the gossip, backbiting, and scheming that occurs when the heir to one of the most massive fortunes in Asia brings home his ABC (American-born Chinese) girlfriend to the wedding of the season.
When Rachel Chu agrees to spend the summer in Singapore with her boyfriend, Nicholas Young, she envisions a humble family home, long drives to explore the island, and quality time with the man she might one day marry. What she doesn’t know is that Nick’s family home happens to look like a palace, that she’ll ride in more private planes than cars, and that with one of Asia’s most eligible bachelors on her arm, Rachel might as well have a target on her back. Initiated into a world of dynastic splendor beyond imagination, Rachel meets Astrid, the It Girl of Singapore society; Eddie, whose family practically lives in the pages of the Hong Kong socialite magazines; and Eleanor, Nick’s formidable mother, a woman who has very strong feelings about who her son should–and should not–marry. Uproarious, addictive, and filled with jaw-dropping opulence, Crazy Rich Asians is an insider’s look at the Asian JetSet; a perfect depiction of the clash between old money and new money; between Overseas Chinese and Mainland Chinese; and a fabulous novel about what it means to be young, in love, and gloriously, crazily rich.

thoughtsSaya membaca novel ini karena iseng mencari penulis baru untuk event bareng baca BBI. Ternyata, saya nggak salah pilih buku. Dari awal, buku ini udah bikin saya betah membacanya sampai sepet mata karena melawan kantuk setiap malam. Berhubung ada kesibukan lain, jadi pace membaca saya memang paling lambat parah bulan ini.

Crazy Rich Asians berfokus pada pasangan Nick Young dan Rachel Chu. Mereka berdua merupakan pasangan yang jadian gara-gara dijodohkan oleh teman Rachel.

Rachel yang berprofesi sebagai dosen di New York (demikian juga dengan Nick), tidak tahu sama sekali tentang background Nick yang membuatnya tercengang. Nick adalah anak dari orangtua super duper tajir, godly-rich-beyond-your-wildest-imagination.

Ibu Nick, Eleanor, seperti emak-emak Asia lainnya, rempong dan hobi berkumpul bersama emak-emak tajir lainnya. Emak-emak kalau ngumpul apa lagi kerjaannya kalau bukan menggosip dan saling nyinyir. Gosip tentang kedatangan Nick dan Rachel ke Singapura sampai ke telinga Eleanor, bahkan sebelum Nick memberitahukan tentang rencana kedatangannya. Eleanor, yang dikompori oleh tim horenya, mencari tahu latar belakang Rachel. Memang Rachel dibesarkan oleh ibunya yang seorang pekerja bidang real estate. Ayahnya meninggal ketika Rachel masih kecil.

Lalu, Eleanor menjadi tidak suka dan berusaha menentang hubungan Nick dengan Rachel, karena menurutnya Rachel bibit-bebet-bobotnya nggak pantas untuk Nick.

Selain menceritakan tentang pasangan Nick-Rachel, Crazy Rich Asians juga menceritakan tentang sepupu Nick, Astrid, yang menikah dengan Michael, engineer yang kondisi ekonominya jauh di bawah keluarga Astrid. Tidak bisa dipungkiri kalau kondisi seperti ini membuat ego lelaki terpukul. Perkawinan Astrid-Michael mengalami masalah.

Nick mengajak Rachel ke Singapura untuk menghadiri pesta pernikahan sahabatnya. Beberapa perempuan (mantan pacar Nick maupun penggemarnya) berusaha menyingkirkan Rachel.

Selain drama antar pasangan, keluarga, juga antar teman, Crazy Rich Asians menyajikan potret keluarga super kaya Asia dengan kemewahan luar biasa. Di sini juga diceritakan tentang tipe orang kaya. Ada yang banci tampil dan selalu ingin diliput oleh Asian Tattler, ada yang lebih suka bersembunyi di kastil yang lokasinya tidak terdeteksi GPS, ada juga yang menyembunyikan kekayaan dan hidup hemat. Tentu saja, bumbu humor segar juga tersebar di mana-mana, membuat saya harus menahan ngakak, apalagi pas baca buku ini selalu di malam hari, ketika suami dan anak sudah tidur.

Turn off (nggak parah juga sih sebenarnya) adalah terlalu banyak nama yang harus saya ingat di buku ini. Rame banget, jadi kaya pasar. Tapi, setelah beberapa bab, saya jadi terbiasa juga menghapal tokoh-tokohnya, walau pas baca besoknya saya harus berusaha merecall nama-nama tokohnya lagi.

So far, Crazy Rich Asians adalah buku terkocak dan paling menghibur di tahun 2013. Kalau kamu suka dengan buku chicklit satir yang over the top dan penuh humor khas keluarga Cina-Singapura, baca deh. Dijamin ketagihan nggak mau berhenti baca. Saya berharap Kevin Kwan merilis buku berikutnya yang setipe dengan Crazy Rich Asians ini. Oiya, buku ini dipuji oleh Anna Wintour dan Jackie Collins.

quotes

Being Mother Theresa is good for business.

Reunion sex was always the best.

NEVER, EVER wear green chiffon unless you want to look like bok choy that got gang-raped.

20130911-052807.jpg

20130725-125307.jpg

Submitted for:

New Author Challenge

Baca Bareng BBI

[Book Review + Giveaway] Good Memories by Lia Indra Andriana @penerbitharu

book_info

18589068

Judul: Good Memories
Seri: Hi! Kwangdae
Penulis: Lia Indra Andriana
Penerbit: Haru
Terbit: September 2013, Cetakan Pertama
Tebal: 336 halaman
ISBN: 9786027742222
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Young Adult, Romance
Dapat dari: Penerbit Haru, copy untuk reviewer
Bisa dibeli di: Yes24 Indonesia Harga Rp. 41.650
Kalimat pertama:
Maya, cewek berumur 19 tahun itu mencoba menajamkan matanya untuk membaca pengumuman pembagian kelas baru yang ditempel di salah satu dinding luar auditorium kampusnya.

book_blurb

“Tiga bulan lagi, di waktu dan tempat yang sama, aku akan mengevaluasi apakah kau layak diberi tambahan kupon pertemanan.”

Saat banyak orang berharap bisa kuliah di luar negeri, Maya malah rela melakukan apa pun agar bisa meninggalkan Kwanghan University dan kembali bersama kekasihnya, Alva, di Indonesia. Sayangnya semua tidak semudah itu.

Seakan hidupnya sekarang belum cukup rumit, Maya harus menghadapi Luc, teman sekelasnya, seorang pria berkebangsaan Prancis yang terang-terangan menyatakan suka kepadanya.

Luc bahkan tidak keberatan hanya menjadi teman Maya setelah mendapatkan kupon Friendvitation buatan gadis itu.

Ketika kupon Friendvitation yang Maya berikan kepada Luc telah expired, akankah Maya memperpanjang masa berlaku kuponnya? ataukah Maya akhirnya akan kembali kepada Alva dan melupakan semua yang terjadi di Korea?

“Inikah cinta? Membuatmu rela melakukan tindakan bodoh yang tak masuk akal?

thoughts

Seri Hi! Kwangdae terbitan Penerbit Haru pertama yang gue baca. Ceritanya ringan. Tentang seorang gadis bernama Maya yang belajar bahasa Korea di Kwangdae (Kwanghan Daehakkyo) dan terpaksa harus menjalankan LDR dengan pacarnya di Indonesia, Alva.

Karena Maya sakit, ia tidak dapat mengikuti ujian akhir level 2. Terpaksa ia harus mengulang kelas yang sama, dan harus beradaptasi dengan guru dan teman-teman baru. Seperti kebanyakan cewek Indonesia (atau mungkin Asia), Maya sering menggunakan hp di kelas untuk berkomunikasi dengan Alva, sehingga menyebabkan nilai afektifnya buruk.

Ketika Maya mendapat pesan dari adiknya, Rani, ia mendapat ide untuk membuat ‘Good Memories Project’. Maya bertekad untuk mengukir kenangan bersama teman-temannya karena ia, dengan PDnya, merasa waktunya di Korea semakin sempit karena ia yakin ayahnya akan memintanya pulang ke Indonesia. Maya menjadi dekat dengan Luc, cowok bermata hazel asal Prancis yang ceria dan memiliki pribadi hangat dan menyenangkan (sangat nggak Prancis banget). Kebetulan di kelas, Ahn sonsaengnim meminta murid-murid kelas tersebut untuk membuat PR kupon menarik. Maya akhirnya membuat kupon berisi Friendvitation dengan masa berlaku tiga bulan, berhubungan dengan proyek Good Memories-nya itu. Karena tidak ada yang berminat, maka Luc yang kasihan dengan Maya, bersedia untuk menjadi temannya selama tiga bulan.

Sudah bisa ditebak kemana arah pertemanan mereka ini.

Lalu, kabar buruk menimpa Maya. Karena nilai-nilainya jauh dari memuaskan, ayah Maya tidak mengijinkan Maya pulang sebelum lulus S1. Tentu Maya bingung dengan keputusan ayahnya, dan sedih, karena Alva juga memberi ultimatum tentang status hubungan mereka berdua (what a jerk).

Maya berusaha untuk bisa pulang cepat dengan ingin naik tingkat lebih cepat. Luc yang seharusnya berada di level 3 menolak naik tingkat, dan Maya bersedia menggantikannya. Namun, Maya gagal ujian naik tingkat, membuatnya harus tinggal di level 2.

Maya yang merasa diberi ide oleh Luc, mulai gigih untuk mencari pekerjaan part-time untuk membeli tiket pulang ke Indonesia. Namun, ternyata tidak mudah mencari pekerjaan di sana, apalagi Maya masih berbicara dengan bahasa Korea yang terbata-bata.

Di tengah pencarian kerja part-time, Luc mengungkapkan isi hatinya pada Maya, yang disambut dengan ketidakantusiasan dari pihak Maya tanpa ada penyelesaian yang jelas (memang sudah sifat Maya kalau ia tidak mampu bersikap tegas terhadap laki-laki).

Di tengah kekalutannya mencari pekerjaan, Maya juga dihadapkan pada dua pilihan: kembali ke Indonesia dan mengorbankan studinya atau meninggalkan Alva dan fokus pada pendidikannya, sesuai dengan harapan ayahnya.

Well, untuk mengetahuinya tentu kamu harus membaca buku ini 🙂

Yang pasti, konflik di novel ini diramu cukup baik dan asik untuk dinikmati, walau gue gemes setengah mati dengan Maya karena entah apa yang ia lihat dari Alva yang hanya memanfaatkannya untuk membeli barang-barang untuk Stella, his so-called best friend.

Gue suka dengan cover buku ini yang girlie banget dan mewakili isi cerita. Warnanya pastel, terkesan lembut namun eye-catching. Ilustrasi di dalam buku juga lucu dan khas Haru banget.

Setting tempat di novel ini fiktif, namun terasa real, apalagi ada peta dan ilustrasi tempat-tempat penting di bagian belakang novel. Liur gue menetes ketika membaca tentang adegan makan-makan samkyeopsal, tteokbokki, juga minuman soda Korea.

Novel ini manis dan romantis, namun nggak mendayu-dayu. Walau di bagian awal agak lamban dan rada dragging, gue sangat terhibur dengan perkembangan cerita, alur, juga gaya bertutur Lia yang mengalir.

Sayang, penggambaran daerah-daerah di Korea seperti Itaewon, dan lain-lain kurang dideksripsikan secara detil, sehingga gue kurang bisa merasakan suasana khas di sana. Gue belum pernah ke Korea, jadi gue mengharapkan penulisnya bisa menggambarkan suasana khas di sana. Jadinya, gue harus googling untuk mendapat gambaran dan berimajinasi tentang suasana di Itaewon.

Yang agak mengganggu juga penggunaan kalimat ‘egois sekali rasanya jika…’ Gue sering menemukan kata/ungkapan egois ini. Kalau satu, dua kali nggak masalah. Jika terlalu banyak jadi terasa mengganggu.

Yang paling menarik dari novel ini adalah idenya, yaitu mengukir kenangan. Sederhana namun cukup kuat dan nempel pada ingatan.

character

maya

Maya: anak orang berada yang tidak menghargai pemberian orangtuanya. Kerjanya bukannya belajar atau mencari pengalaman baru, namun ia sibuk download film atau menonton video streaming. Ia juga tidak bisa bersikap tegas dengan Alva yang memperlakukannya semena-mena. Dan, kelakuannya di kelas dengan sering memakai hp dan tidak menyimak pelajaran juga seolah-olah menganggap enteng pelajaran yang diberikan. Jadi, tinggal kelas dan kartu kredit yang diblokir ayahnya adalah hukuman yang setimpal untuknya. Namun, Maya sangat gigih ketika mencoba mencari lowongan kerja part-time demi membeli tiket pulang ke Indonesia, demi kekasihnya yang nggak worth-it, Alva.

Kevin-Julio-14

Alva: Ok, gue mau curhat pribadi sedikit. Gue dua kali memiliki pengalaman buruk dengan cowok bernama Alva. Kurang lebih, gambaran sosok Ava seperti di buku ini sama dengan yang gue alami kok. Entah ini hanya kebetulan atau memang berdasarkan riset penulis. Kalau ada judul film There’s Something About Mary, mungkin harus dibuat film dengan judul There’s Something Wrong with Alva. No offense, ya, untuk Alva-Alva yang lain. Seperti apa sih sosok Alva ini? Cukup diwakili dengan satu kata saja: bully.

luc

Luc: Pas membaca bagian perkenalan karakter di bab awal, penulis menjelaskan bahwa Luc adalah cowok asal Prancis. Mau nggak mau gue teringat dengan Luc Besson, sutradara film action terkenal asal negeri wine tersebut. Menurut Lia, Luc digambarkan hangat, rame, ramah, juga kelihatan live life to the fullest. Agak berbeda dengan mitos cowok Prancis pada umumnya sih yang kalem, agak snotty juga romantic freak. Namun, ada sedikit kesamaan Luc dengan tipe cowok Prancis pada umumnya, yaitu suka didekati cewek dan dicemburui. Satu lagi tipikal cowok Prancis yang melekat pada Luc, yaitu suka bersolek alias agak feminin.

quotes

Dalam berpacaran, sedikit jarak itu bagus. (hal. 20)

Dianggap tidak becus itu sangat menyakitkan. (hal. 35)

Kupikir berteman adalah hal yang gampang, tak kusangka sesusah ini.(hal. 59)

Makan selalu bisa membuat suasana hati membaik. (hal. 166)

Pada umumnya, wanita akan takluk pada pujian. (hal. 167)

20130908-081724.jpg

Need a Second Opinion?

Ini Bacaan Ira Review
Oky dan Buku Review

GA

Mau dapetin 1 buah novel Good Memories edisi tanda tangan penulisnya? Syaratnya mudaaaaah dan gampaaaang. Isi saja Rafflecopter di bawah ya. Periode giveaway ini mulai tanggal 4 Oktober – 21 Oktober 2013.

a Rafflecopter giveaway

Good luck ^^

20130923-121453.jpg

[Book Review] Ordeal by Linda Lovelace

book_info

20130901-054741.jpg

Title: Ordeal
Authors: Linda Lovelace with Mike McGrady
Publisher: Citadel Press
Published: March 1989, Fourth Printing
ISBN: 0-8065-0687-3
Format: Hardcover
No. of Pages: 252
Category: Non-Fiction
Genre: Sex memoir, biography, true crime
Bought at: Betterworldbooks for $6.25
Opening sentences: My name is not Linda Lovelace. Not these days.

book_blurb

Linda Lovelace became a household name in 1972, when Deep Throat–a film made for only $25.000–became the first pornographic movie ever to cross over to mainstream audiences, to the tune of $600 million and counting. Despite being the face that launched the film’s phenomenal success, behind the scenes Linda was suffering unspeakable torture and abuse at the hands of her husband, Chuck Traynor, and she never earned a dollar from the film’s huge success. A harrowing tale of the pursuit of happiness and the will to survive amid years of horrific abuse, Ordeal reveals the dark reality behind Deep Throat, and its star’s tragic, yet ultimately triumphant, life.

thoughts

ATTENTION! If you’re under 21 y-o, please do not read this review. It contains explicit and graphic sexual descriptions that might be offensive.

I’ve read many porn stars and ex-porn stars memoirs, but nothing can beat Ordeal. It’s the most sadistic and disturbing book I’ve ever read.

The story begins when Linda Boreman had a car accident. She met Chuck Traynor who seemed so sweet. Later, Linda found that Chuck is a monster who physically, verbally, and sexually abused her. From then on, her nightmares came to life.

Linda wanted to flee from home. She couldn’t stand her abusive mother. Chuck took her home and began pimping her. Linda was a virgin, but then Chuck took her virginity. Chuck had debts and he sold Linda for money. He was always violent, even pointed a gun to Linda, his wife.

Chuck was a perv, a sadomasochist who was aroused everytime Linda was in pain. Then one thing led to another. Linda and Chuck met a pornographer and the rest is history. Linda Boreman became ‘Linda Lovelace’, a porn icon who got (so-called) respect from people in Hollywood. She’s famous of her ability to swallow penis (even the larbe one), just like a performer who can swallow a sword. Apparently, Chuck trained her to relax her throat muscle to do this.

I had to hold my breath while reading this book. There’s too many graphic details. Linda was forced to do a scene with a dog, can you imagine? She was beaten and threatened. Chuck always used his weapon, that he would kill whoever got in the way, including Linda’s parents. Later on, Linda was forced to perform BDSM, paraphilia, zoophilia, whatever sickness and degrading that you can imagine (my stomach was churning when I read that part. It’s beyond sick).

So many times, Linda tried to escape, but she failed and went back to Chuck. This always happens to domestic violence victims. They’re brainwashed and afraid to meet another monster if they have guts to leave the abuser. They’re torn to pieces. Their self esteem was peeled off until they’ve got nothing and become numb. That’s what happened to Linda. She said she’s not herself while having sex with strangers.

Hugh Hefner and Sammy Davis Jr were two of many prominent Hollywood celebrities who put interests on Linda Lovelace. Chuck and Linda were regulars at Hefner’s lavish parties. They’re allowed to crash at the mansion. Somehow I can relate Hefner to Jay Gatsby.

In the end, Linda could free herself from Chuck. She met one or two men before settling down to be a housewife. She was against pornography until the car accident took her life in 2002.

As far as I know, pornography is degrading for women. Many porn stars confessed that they were drugged, abused, and forced to get involve in freaky sexual acts, mostly against their will. Watching porn, to me, is like watching rape in action. I have no desire to see “Deep Throat” even though media claimed it’s a cult movie. Linda was raped during filming. I think it’s wise to ban the film. Just like what they did to Traci Lords. At 15, she began posing for adult magazines, and quickly ventured into porn. She appeared in more than 100 movies before she turned 18. All of her movies were banned by the authorities. Sadly, a lot of people are still glamoring porn. Young celebrities like Miley, Lilo, and the likes think taking topless selca is cool. Remember Miley’s scandal with Vanity Fair? That happened long before VMA scandal. Nowadays, female celebrities like Rihanna, Lady Gaga, and Nicki Minaj are not ashamed to show some skin for free through instagram or tweetpic. It’s porn goes mainstream. Watch out, parents.

Back to Ordeal, I read this book before I see “Lovelace”, Linda’s biopic starring Amanda Seyfried. I’ll review the movie asap.

Ordeal is an eye-opener. To learn about the danger of porn, you should read books like this.

quotes

He could tell me the sky was green and I’d believe him, even though I was looking right up into a blue sky. (p. 28)

It wasn’t the fact of the sex that upset me; it was the nature of the sex. I couldn’t imagine anyone-even prostitutes-doing something so incredibly personal with other people around.

Melody was a strange kind of a hooker. She was very intellogent and always carried a book to read with her, even on jobs.

As soon as Chuck saw how much pain in this experience caused me, he made sure that it became a key part of my repertoire.

I know a dozen Chucks, a hundred Chucks and they’re all monsters.

“How come you never got away?”
“Because it’s kind of hard to get away when there’s a gun pointed at your head.”

Recently when several Playboy bunnies in Great Gorge, New Jersey, were drugged, photographed and forced to work as whores, I could understand the process.

The first time I met Rob, I wondered how this could be. Here’s this real doll-he was adorable!-tall and blond and cute. How could a guy who looked like that do what he did for a living? What problems did he have to get into something like this? I will never undetstand that. (p. 104)

What kind of world do we live in? Would you believe that a doctor, a professional man, would accept sexual favors as payment for the bill?

I learned that it was illegal to have silicone injected into your breasts. It seems to me when something is illegal, there’s usually a danger connected with it.

Chuck and I had been given to run of the (Playboy) Mansion. We were practically living there. We had joined the rest of the freeloaders for the movies, the food, the parties and the regular Wednesday night orgies.

Living in Hollywood, yoi begin to forget that outside there is still a normal world with normal people. California is the land of the super-freaks and they all seem to come to Hollywood sooner or later.

I guess they figure that half a truth is better than no truth at all. To me, it’s still a lie.

Any beating, no matter how severe, would be better than being raped by a dog. (p. 109)
I think I’d rather be dead than not really be living. (p. 221)

 

20130923-121407.jpg

 

More reviews on Ordeal

We Love This Book here

Articles on Porn

The Truth about the Porn Industry here
Porn and the End of Masculinity here
Pornography is Bad for Your Health here

Submitted for:
Books in English Challenge here
Baca Bareng BBI biografi here
Year Long Memoir Challenge here

Until next time:)

20130330-114856.jpg

I give this book for Brigidda 🙂

[Book Review] Before I Fall by Lauren Oliver

book_info

20130923-113024.jpg

Title: Before I Fall
Author: Lauren Oliver
Publisher: HarperCollins
Date of Published: March 2nd, 2010
ISBN: 9780061987496
Format: Ebook
Category: Fiction
Genre: YA, Contemporary, Fantasy
Literary Awards:
Romantic Times Reviewers’ Choice Award (RT Award) Nominee for Best Young Adult Paranormal/Fantasy Novel (2010), YALSA Best Fiction for Young Adults (2011), Deutscher Jugendliteraturpreis Nominee for Preis der Jugendjury (2011), Publishers Weekly’s Best Children’s Books of the Year for Fiction (2010), Goodreads Choice for Young Adult Fiction, Debut Author, Nominee for Goodreads Author, Favorite Heroine (2010)
First sentence:
They say that just before you die your whole life flashes before your eyes, but that’s not how it happened for me.

book_blurb

What if you had only one day to live? What would you do? Who would you kiss? And how far would you go to save your own life?

Samantha Kingston has it all: the world’s most crush-worthy boyfriend, three amazing best friends, and first pick of everything at Thomas Jefferson High—from the best table in the cafeteria to the choicest parking spot. Friday, February 12, should be just another day in her charmed life.

Instead, it turns out to be her last.

Then she gets a second chance. Seven chances, in fact. Reliving her last day during one miraculous week, she will untangle the mystery surrounding her death—and discover the true value of everything she is in danger of losing.

thoughts

What would you do if you were given a second chance to live? Would you fix the damage that you’ve caused? Would you make it up to yourself?

That’s what happened to Sam. She’s dead but she came back to life to finish the unfinished business.

There’s a popular clique at Thomas Jefferson High School. Sam is one of the mean girls. They did terrible things to Juliet, a beautiful girl actually, an outcast and Sam’s friends’ target of bullying.

Things changed after the accident which took Sam’s life. But God is good, that He sent her back to September 12 over and over again to make things right.

One big secret was revealed. Sam never looks at Juliet and Kent like she used to.

This is not your typical YA novels. I was blown away. The message is clear: to reflect things that we’ve done and said. Are we ready to die and leave in peace?
Do you have unfinished business, things that you have to do before it’s to late?
I read this book all night and I was in tears. Gosh, this book is so good I’m still thinking about Sam, Kent and Juliet.

I really want to give everyone a big hug right now.

20130923-121407.jpg

Need a Second Opinion?

Sandy Now Wrote Review
Books To Share Review
The Cow and Her Books Review

20130923-121453.jpg

[Book Review + Giveaway] London: Angel by Windry Ramadhina @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

book_info

20130919-030245.jpg

Judul Buku: London: Angel (Setiap Tempat Punya Cerita #5)
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2013, Cetakan Pertama
Jumlah Halaman: 330
ISBN: 978-979-70-653-8
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Travel Literature
Harga: Rp. 52,000
Beli di: Pinjam sama Luna
Kalimat pertama:

Sekarang, kota ini persis seperti apa yang dideskripsikan oleh Charles Dickens dalam salah satu bukunya, Bleak House.

book_blurb

Pembaca Tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.

Windry Ramadhina, penulis novel Orange, Memori, dan Montase mengajak kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tidak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemukannya. Apakah perjalanannya ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,
EDITOR

thoughts

London: Angel merupakan novel kelima dari STPC yang sudah terbit. Setelah novel ini, bakal ada Tokyo yang kabarnya merupakan novel terakhir dari seri STPC batch pertama.

Kesan pertama terhadap London: Angel adalah brave karena cover-nya yang bernuansa merah. Gue juga menangkap kesan bold dari tampilan cover-nya.

Tema yang diangkat London: Angel adalah jatuh cinta dengan sahabat. Menarik ya? 🙂

Adalah Gilang, seorang aspiring writer yang mendapati dirinya (ternyata) jatuh cinta dengan Ning, sahabatnya yang dulu tinggal di sebelah rumahnya. Sebuah chat di YM dan celetukan Brutus yang membuat Gilang menyadari tentang perasaannya yang terdalam terhadap Ning, sesuatu yang sebelumnya tidak ia sadari. Sebelum Gilang mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya pada Ning, gadis itu sudah terbang ke London, lalu bekerja di sebuah galeri di sana.

Suatu malam di Bureau, di mana Gilang dan kawan-kawannya menghabiskan malam ala bujangan. Mereka mengompori Gilang untuk mengejar cintanya. Lalu, Gilang benar-benar terbang ke London untuk satu tujuan: Ning.

Tidak mudah bagi Gilang untuk menemui Ning. Karena niatnya memang mau kasih surprise, Gilang bertualang dulu di London. First stop: Underground. Tempat yang hiruk-pikuk di London ini sebenarnya seperti ceruk budaya. Jutaan manusia dari berbagai ras datang silih berganti. Underground juga cukup sering tampil di berbagai film Hollywood, salah satunya The Dark Knight Rises.

Lalu ada James Smith and Sons yang menjual suvenir payung dengan harga yang bisa bikin gue mengelus dada Chris Hemsworth. Tempat yang gue inget karena suatu kejadian yang melibatkan Goldilocks yang misterius dan V. Akhirnya gue bisa tersenyum pas baca suatu adegan “gara-gara payung Goldilocks” itu.

Windry piawai membuat cerita ini memorable. Ia memberi nama tokoh-tokohnya (kecuali Gilang, Ning, Ed, Mrs. Ellis dan Mr. Lowesley, juga beberapa tokoh minor seperti Ayu dan Finn) dengan nama tokoh fiktif seperti Brutus, Hyde, Dee and Dum.

Setelah membaca acknowledgement dari Windry, gue sadar bahwa nama tokoh Hyde bisa jadi diambil dari nama vokalis Laruku yang lagunya mengilhami cerpen cikal-bakal novel ini. Hyde-menurut keterangan penulis di novel-merupakan nama panggilan untuk salah satu tokohnya yang memiliki kepribadian ganda, seperti Dr. Jeckyll and Mrs. Hyde. Namun, gue menangkap Hyde-nya Laruku juga karena dia suka berpenampilan androgyny, sama-sama penganut dualisme. Interesting.

Satu lagi scene yang bikin gue senyum-senyum adalah waktu Ning bilang ia akan membuat steik a la Jamie Oliver. My husband loves it. Campuran oregano, rosemary dan lemon zest bikin steik jadi ‘unik’ rasanya. Heavenly tasty.

Lalu, Gilang mendeskripsikan rasa bibir Ning seperti sari apel ketika ia mimpi berciuman dengan Ning. Ooh la la, those lips do exist and I know how it tastes.

Novel London: Angel ini manis. Cocok dibaca saat hujan sambil menyesap hot choco ditemani CD-nya Lisa Onno. Walau pertamanya gue merasa kurang sabar dengan alurnya yang tidak terlalu cepat, namun gue sangat menikmati perjalanan Gilang, dengan atau tidak adanya Ning dalam adegannya.

Gue bisa cepat membaca novel ini karena hari ini kebetulan gue ikut casting. Sambil menunggu, gue baca dan habislah 170an halaman. Seneng kalau kemana-mana bawa buku, dijamin nggak akan mati gaya. Dan menunggu tidak lagi menjadi kegiatan yang menyebalkan.

quotes

Memangnya, kau bisa jatuh cinta kepada seseorang yang sudah kau kenal selama delapan tahun? (hal. 19)

Aku belajar dari Donalbein, kalau seorang lelaki tersenyum pada perempuan, pasti dia punya niat tersembunyi. (hal. 193)

Manusia memang tidak pernah belajar dari pengalaman. (hal. 212)

dream_cast
london

20130911-085212.jpg

Need a second opinion?

The Bookie Looker Review here
Ariansyah Abo Review here
Orinthia and Books Review here

Submitted for:

New Authors Reading Challenge here

IRRC 2013 here

STPCGA

Yuk, yang mau mendapatkan 3 paket novel serial #STPC @Gagasmedia @Bukune merapat kemari. Caranya gampang banget:

1. Follow akun @Gagasmedia @Bukune dan @WindryRamadhina

2. Twit link review + giveaway ini dengan kalimat seperti ini:

Mau dapetin paket novel #STPC dari @yuska77 @Gagasmedia @Bukune? Klik aja http://t.co/aYJmHOU8fN

3. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel London: Angel. Jangan lupa untuk mencantumkan:

Nama, akun twitter, dan email.

4. Setiap komentar yang kamu tinggalkan di tiap postingan dan twit selama proyek #STPC berlangsung akan mendapat 1 entry. Misalnya, kamu ngetwit link review + giveaway London juga meninggalkan komentar, maka kamu mendapatkan 2 entries.

5. Jangan lupa, besok ada postingan interview bersama Windry Ramadhina. So, stay tuned ya.

6. Giveaway STPC dimulai dari tanggal 1 September – 30 September 2013. Kamu bisa mengisi kolom komentar + tweet giveaway ini selama event STPC berlangsung.

7. Pengumuman pemenang tanggal 5 Oktober 2013

Good luck 🙂

20130330-114856.jpg

P.S. Lust and Coffee diundang untuk menghadiri acara London: Angel Tea Party pada hari Minggu. Nantikan liputannya ya ^^

[Book Review] Unforgettable by Winna Efendi

book_info

20130916-014210.jpg

Judul: Unforgettable
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2012, Cetakan Ketiga
Tebal: 173 halaman
ISBN: 978-979-780-541-8
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance
Beli di: Bukabuku Harga Rp. 34,400
Kalimat pertama: Kedai wine itu dinamakan Muse.

book_blurb

Ini adalah satu kisah dari sang waktu tentang mereka yang menunggu. Cerita seorang perempuan yang bersembunyi di balik halaman buku dan seorang lelaki yang siluetnya membentuk mimpi di liku tidur sang perempuan.

Ditemani krat-krat berisi botol vintage wine yang berdebu, aroma rasa yang menguar dari cairan anggur di dalam gelas, derit kayu di rumah usang, dan lembar kenangan akan masa kecil di dalam ingatan.

Pertemuan pertama telah menyeret keduanya masuk ke pusaran yang tak bisa dikendalikan. Menggugah sesuatu yang telah lama terkubur oleh waktu di dalam diri perempuan itu. Membuat ia kehilangan semua kata yang ia tahu untuk mendefinisikan dan hanya menjelma satu nama: lelaki itu.

Sekali lagi, ini adalah sepotong kisah dari sang waktu tentang menunggu. Kisah mereka yang pernah hidup dalam penantian dan kemudian bertemu cinta.

thoughts

Setelah melahap Melbourne: Rewind dan terkesan dengan novel tersebut, gue mencari novel karya Winna yang lain. Dan Unforgettable adalah salah satunya.

Unforgettable berkisah seorang perempuan yang bersama kakaknya, Rangga, mengelola wine cellar warisan almarhum ayah mereka. Rangga lebih banyak berhubungan dengan para tamu, sedangkan si perempuan (yang tidak disebutkan namanya) lebih suka duduk di hadapan laptop sambil menulis fiksi.

Seorang laki-laki kerap datang ke Muse (nama tempat itu). Ia menderita insomnia dan suka berpetualang. Kedua pasang mata milik laki-laki dan perempuan itu bertemu, menyalakan alarm adanya ketertarikan, dan keduanya mulai berbagi kisah tentang kehidupan, masa lalu, juga cinta.

Namun, percakapan antara si perempuan dan lelaki itu seperti tak berkesudahan, dan gue dibuat bosan.

Juga yang membingungkan adalah penuturan 2 orang ketiga yang berbicara bergantian (ditandai dengan italics). Penulisan dialog tak langsung membuat novel ini unik sekaligus janggal.
Gue sekali membaca novel yang cara penulisan dialognya mirip dengan novel ini, yaitu The Bride Stripped Bare, namun ceritanya dituturkan dari POV2.

Namun, sedikit banyak gue jadi tahu tentang cara merawat wine dan jenis-jenisnya yang beragam. Gue jadi ikut merasa ikut mencicip wine. Jadi membayangkan duduk di sudut Muse dekat rak buku sambil mengunyah fillet mignon diselingi eiswein. Nikmat banget. Oh iya, dalam bayangan gue, Muse itu ada di sudut Menteng yang jauh dari keramaian. Lingkungannya teduh, dan bangunan peninggalan kolonial itu ada aksen biru pucat yang kalau malam lampu-lampu gantung yang cantik berpijar.

Cara bertutur Winna yang khas dengan diksi yang kaya sangat terasa juga. Gue sangat suka dengan cara Winna bercerita. Walau novel ini beralur sangat lamban dan bikin gue mengantuk, gue sangat suka dengan writing style-nya Winna. Gue jadi belajar banyak dari novel ini.

Gue membenarkan pesan novel ini. It’s more comfortable talking about your problems to a stranger than talking to your friends who’ll most likely spill them out to someone else that you knew. Kebanyakan backstabber itu temen sendiri kan? 🙂

quotes

Penyesalan, sama seperti hidup, sama seperti kenangan, adalah hal yang sangat mengerikan. (hal. 23)

Kata orang, menjadi dewasa berarti harus membuat pilihan. Baginya, menjadi dewasa berarti tidak memiliki pilihan. Hidup menjadi serentetan tanggung jawab yang harues diemban, baik suka maupun tidak, mau ataupun enggan. (hal. 36)

Saya percaya, selalu ada sebotol wine yang tepat untuk setiap occasion maupun mood, begitu juga dengan musik. (hal. 81)

Additional Grading Scale:
Cover: A
Plot: C
Characters: B
Writing Style: A
Emotional: C
Satisfaction: B

tidbits

Need a Second Opinion?

Dinoy’s Books Review
Mia Membaca Review
Tukang Review Review

Until next time

20130330-114856.jpg

[Book Review+Giveaway] Paris: Aline by Prisca Primasari @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

book_info

20130912-105752.jpg

Judul Buku: Paris: Aline (Setiap Tempat Punya Cerita #1)
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: Januari 2013, Cetakan Ketiga
Jumlah Halaman: 212
ISBN: 978-979-780-577-7
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Travel Literature
Harga: Rp. 42,000
Beli di: Hadiah dari Gagasmedia #UnforgotTEN
Kalimat pertama:
Wajah Sevigne Devereux berseri-seri saat menerima paket dari sahabat Indonesianya.

book_blurb

Pembaca tersayang,

Dari Paris, sepotong kisah cinta bergulir, merupakan racikan istimewa dari tangan terampil Prisca Primasari yang sudah dikenal reputasinya dengan karya-karya sebelumnya Éclair, Beautiful Mistake, dan Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa.

Ini tentang sebuah pertemuan takdir Aline dan seorang laki-laki bernama Sena. Terlepas dari hal-hal menarik yang dia temukan di diri orang itu, Sena menyimpan misteri, seperti mengapa Aline diajaknya bertemu di Bastille yang jelas-jelas adalah bekas penjara, pukul 12 malam pula? Dan mengapa pula laki-laki itu sangat hobi mendatangi tempat-tempat seperti pemakaman Père Lachaise yang konon berhantu?

Setiap tempat punya cerita. Dan inilah sepotong kisah cinta yang kami kirimkan dari Paris dengan prangko yang berbau harum.

Enjoy the journey,

EDITOR

thoughts

Dibuka dengan Sevigne yang menerima paket dari sahabatnya, Aline. Paket tersebut berisi undangan pernikahan dan diary Aline.

Lalu kisah tentang Aline dimulai ketika ia patah hati melihat Ubur-Ubur yang jadian dengan Lucie di bistro Indonesia tempat Aline bekerja part time. Karena patah hati, Aline minta cuti seminggu dari pekerjaannya (hmmm… agak berlebihan. Gara-gara patah hati gebetan jadian sama orang lain minta cuti seminggu, bagaimana kalau ada anggota keluarga yang meninggal?).
Setelah diijinkan untuk cuti, Aline berjalan-jalan di Jardin du Luxembourg. Ketika ia duduk di bangku taman, Di dekat kaki bangku taman, seonggok porselen pecah menarik perhatian Aline. Setelah menyatukan kepingan-kepingannya, sebuah nama yamg diduga sebagai pemilik porselen itu terbaca dengan jelas: Aeolus Sena.
Akhirnya Aline memutuskan untuk membawa porselen tersebut ke apartemennya di Quartier Latin. Setelah browsing, Aline menemukan alamat email Sena dan mereka mengadakan janji temu di Place de la Bastille jam 12 malam. Ok, memamg seniman itu rata-rata eksentrik. Namun janji temu jam 12 malam di penjara Bastille? Sounds like a serial killer. Ironisnya, si pria bernama Sena tidak muncul dan membatalkan janji via email. Minus dua deh penilaian gue terhadap cowok tidak gentleman ini.
Esok paginya, Aline menerima email dari Sena yang meminta bertemu kembali di Penjara Bastille (teuteup) jam 12 malam (cape deh). Dan, berapa kali dia membatalkan janji? Dua kali berturut-turut, menelantarkan seorang gadis tengah malam di Bastille. Untung malam kedua Aline ditemani oleh Ezra. Minus tiga buat Sena.
Esok siangnya, Aline dan Sena bertemu untuk pertama kalinya waktu makan siang di Beaumarchais Boulangerie, toko roti khas Prancis di dekat penjara Bastille.

20130912-112917.jpg
Pic from here

Sena ternyata berpenampilan seperti member boyband Korea yang memakai shawl berlapis warna-warni. Kebayangnya sih dia ini rada androgyny. Ditambah bawel dan narsis, mirip banget sama Kim Heechul ya.

20130912-111249.jpg

Sebelumnya, Sena janji untuk berusaha mengabulkan permintaan Aline karena membatalkan janji dua kali. Aline bercerita bahwa ia minta dibelikan tiket pulang ke Indonesia karena simpanannya menipis.
Menurut penuturan Aline, ia ke Paris karena menuruti kemauan ayahnya agar ia mengambil program S2 Sejarah di Pantheon-Sorbonne atau Universite Paris 1.

20130912-112404.jpg
Pic from here

Aline merasa perlu merecharge diri di Indonesia sebelum kembali lagi ke Paris. Drame bergulir antara Aline-Sena-Ubur-Ubur-Lucie. Gue nggak akan memberi spoiler, silahkan dibaca sendiri saja novelnya.

Kalimat yang agak mengganggu:
“Apa paling kamu rindukan dari Indonesia apa?” (hal. 52)
Mungkin seharusnya apa yang paling kamu rindukan dari Indonesia.

Lalu, adegan Aline yang mengirim email kepada mamanya. Ia sebenarnya kangen pada mamanya dan ingin mendengar suaranya, namun biaya telepon interlokal mahal. Ehem, jaman sekarang sudah canggih. Ada YM yang bisa sekaligus webcam atau Skype. Entah setting novel ini tahun berapa. Mungkin sebelum ada webcam ya. Tunggu, seharusnya sih tahun-tahun sekarang, karena ada adegan Tina menyodorkan ipad pada Sena ketika ia ingin Sena membaca hasil tulisannya.

Lalu, ketika Aline dan Sena mencicipi makanan di bistro tempat Aline bekerja, Sena mengeluh kalau rasanya hambar. Aline meracau tentang rekan-rekannya yang terkesan asal dalam membumbui masakan dan tidak mendengar saran dari Aline. Pemilik bistro tersebut Monsieur Borodin, mantan chef Prancis yang kurang ahli dalam meracik masakan Indonesia.
Ok, I don’t get this. Sebuah resto atau bistro pasti memiliki head of chef yang mengontrol kualitas makanan. Sebelum makanan tersaji di meja customer, bukankah seharusnya head of chef mencicipi terlebih dahulu? Dan ini bistro di Prancis lho, bukan warteg di Indonesia yang kerap luput dari quality control. Ditambah kinerja para pekerja bistro yang bersikap profesional jika ada bos saja.

Mungkin novel ini lebih cocok diberi label teen lit ya, karena ceritanya sangat remaja, dan terus terang gue yang sudah kepala tiga kurang cocok dengan genre ini. Seperti tidak ada koneksi.

Di luar itu semua, novel ini asyik buat diikuti. Kita diajak menyusuri kota Paris bersama Aline dan Sena.

Need a second opinion?

Kubikel Romance Review
Occultatalentum Review

Submitted for:

New Authors Reading Challenge here

IRRC 2013 here

STPCGA

Yuk, yang mau mendapatkan 3 paket novel serial #STPC @Gagasmedia @Bukune merapat kemari. Caranya gampang banget:

1. Follow akun @Gagasmedia @Bukune dan @PriscaPrimasari

2. Twit link review + giveaway ini dengan kalimat seperti ini:

Mau dapetin paket novel #STPC dari @yuska77 @Gagasmedia @Bukune? Klik aja [link]

3. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel Paris:Aline. Jangan lupa untuk mencantumkan:

Nama, akun twitter, dan email.

4. Setiap komentar yang kamu tinggalkan di tiap postingan dan twit selama proyek #STPC berlangsung akan mendapat 1 entry. Misalnya, kamu ngetwit link review + giveaway Paris juga meninggalkan komentar, maka kamu mendapatkan 2 entries.

5. Jangan lupa, besok ada postingan interview bersama Prisca Primasari. So, stay tuned ya.

6. Giveaway STPC dimulai dari tanggal 1 September – 30 September 2013. Kamu bisa mengisi kolom komentar + tweet giveaway ini selama event STPC berlangsung.

7. Pengumuman pemenang tanggal 5 Oktober 2013

Good luck 🙂

20130330-114856.jpg