Blog Archives

Meet the Author: Sefryana Khairil @Gagasmedia

20130819-105102.jpgmeet_the_authsefry

Seperti janji saya kemarin, hari ini kita akan berbincang sedikit mengenai novel Tokyo: Falling di balik layar bersama Sefryana Khairil.

Simak wawancaranya berikut di bawah ini.

tokyo

 

Kenapa memilih Tokyo sebagai setting untuk novel serial STPC ini?

Sebenarnya, nggak kepikiran bakal nulis Tokyo, tapi pilihannya hanya ada itu. Bingung juga sih pas ditawarin. Belum kebayang mau nulis apa tentang Tokyo. Tapi, aku merasa tertarik banget karena ini hal baru buatku. Selama ini kan aku nulis latarnya di Indonesia dan lebih banyak ngambil tempat di Jakarta,

Bagaimana cara Sefry menciptakan karakter Thalia dan Tora? Apakah keduanya murni karakter rekaan atau ada inspirasi dari tokoh nyata?

Campuran antara nyata dan rekaan. Hihihi.

Ide tokoh Thalia itu muncul pas ketemu anak kecil, namanya Thalia (namanya aku pinjam. :p). Aku kepikiran mau nulis tokoh yang kekanakan, bawel, agak polos, dan punya ego cukup besar.

Kalau tokoh Tora, aku terinspirasi seorang teman. Dia wartawan dan fotografer lepas. Orangnya cuek dan santai, termasuk penampilan. Waktu ketemu dan ngobrol, aku jadi tertarik menggabungkan karakter seperti ini dengan Thalia. Jadilah tokoh Tora. Profesi, gaya, dan karakter dari teman aku itu, selebihnya aku kembangin sendiri.

Thalia kan suka motret, Sefry juga hobi fotografi. Apakah tokoh Thalia gambaran Sefry sendiri?

Bukan. Mungkin karena aku suka motret dan konflik utama Tokyo ada pada lensa kamera, jadi yang keluar dari kepalaku hal-hal tentang fotografi. 😀

Berapa lama proses penulisan novel ini?

Proses penulisannya satu bulan. Revisi satu bulan. Risetnya yang lama sampai tiga bulan. Jadi proses penulisannya kira-kira lima bulan.

Bisa diceritakan proses riset novel Tokyo: Falling secara singkat?

Sebelum menulis, biasanya aku ngumpulin data-data dulu. Untuk Tokyo aku ngumpulin data dari internet, buku panduan traveling, peta jalur kereta dan jadwal kereta di Tokyo, video-video dari YouTube, juga kebetulan ada teman di Tokyo yang bisa aku tanya-tanya. Baru setelah itu terkumpul, aku mulai nulis.

Setelah selesai nulis, aku kasih naskah ke teman aku di Tokyo, buat ngecek lokasi dan detailnya. Terus aku minta bantuan Yoana Dianika (penulis Last Minute in Manhattan) buat koreksi bahasa Jepang. Kebetulan dia dari Sastra Jepang (makasih ya, Yo).

Apa yang Sefry sukai dari Tokyo?

Buatku, Tokyo itu romantis. Romantis yang manis, seperti di manga-manga ataupun drama-drama Jepang. Tokyo secara keseluruhan aku suka, salah satunya transportasi. Kalau ada rezeki dan kesempatan, aku mau ngerasain nyebrangin laut ke Odaiba naik Yurikamome kayak Tora dan Thalia. Amiiin. 😀

Ada kejadian menarik selama proses penulisan novel Tokyo: Falling?

Ada. Pas pertengahan nulis, aku sempet kena writer’s block dua minggu karena belum dapet feel cerita. Aku nonton film-film Jepang. Dengerin lagu-lagu Jepang. Makan masakan khas Jepang. Sampai ngobrol sama orang Jepang. Pas udah merasa kebawa aura Jepang :p, baru lanjutin nulis lagi.

Seandainya Tokyo: Falling difilmkan, siapa yang cocok untuk memerankan:

Hmm…

Thalia: Michelle Ziudith

Tora: Ario Bayu

Cocok nggak sih? :p

Cocok kok, hehehehe. Apa proyek selanjutnya yang akan Sefry kerjakan?

Aku sedang menulis naskah domestik drama yang latarnya juga di luar negeri. Amerika, tepatnya.

Punya lagu favorit yang bisa didengarkan ketika membaca novel Tokyo: Falling?

Lagu-lagu Ayumi Hamasaki. Yang paling favorit judulnya Progress.

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^ Ditunggu karyanya ya, Sef.

Oiya, yang mau mendapatkan novel Tokyo: Falling, bisa ikutan kuisnya di sini

Selamat hari Kamis ^^

20131105-024143.jpg

[Book Review + Giveaway] Tokyo: Falling by Sefryana Khairil @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

tokyoJudul: Tokyo: Falliing

Seri: Setiap Tempat Punya Cerita # 6

Penulis: Sefryana Khairil

Penerbit: GagasMedia

Terbit: Oktober 2013

Tebal: 338 halaman

ISBN: 9789797806637)

Kategori: Novel Fiksi

Genre: Romance, Travel Lit

Beli di: Kutukutubuku Rp. 37,100

Kalimat pertama:

Setelah mengambil gambar pintu masuk festival, Thalia menurunkan Canon 7D yang menggantung di lehernya.

book_blurb

Pembaca tersayang,

Musim panas di Tokyo selalu memiliki banyak warna. Sefryana Khairil, penulis Sweet Nothings dan Coba Tunjuk Satu Bintang mengajak kita berkeliling negeri sakura bersama dua wartawan bernama Thalia dan Tora.

Keduanya dipertemukan oleh sebuah lensa. Lalu, Danau Shinobazu membuka mata keduanya tentang bahwa kenyataan sering sekali berbeda dengan asumsi mereka pada awalnya. Thalia dan Tora berbagi tawa dan saling menyembuhkan. Hingga mereka sama-sama ragu, benarkah semuanya hanya sekadar kebetulan? Atau ini adalah satu dari misteri Ilahi yang mereka belum temukan jawabannya?

Setiap tempat punya cerita.
Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari timur yang sarat akan aroma lembut bunga sakura.

Enjoy the journey,

EDITOR

thoughtsTokyo: Falling merupakan karya Sefryana Khairil pertama yang saya lahap. Sebelumnya saya mendengar dari teman-teman pembaca tentang karyanya yang banyak disukai. Sudah lama saya memang ingin membaca novel Sefry, dan baru kali ini kesampaian, bertepatan dengan event STPC yang belum selesai di blog Lust and Coffee.

Di novel ini, Sefry menyuguhkan tema fashion dan majalah dengan setting Tokyo. Saya penyuka fashion (walau bukan fashionista atau pengikut trend mutakhir) juga Jepang. Waktu mendengar kabar tentang akan dirilisnya novel Tokyo: Falling, tentu saya antusias dan sangat menantikan kehadiran novel ini.

Adalah Thailia, seorang fashion editor di sebuah majalah perempuan di Indonesia yang pertama kali berkunjung ke Tokyo untuk meliput pameran fashion international. Lalu, ada Tora, redaktur pelaksana majalah LiveLife, terbang ke Tokyo untuk membereskan persoalan yang belum selesai.

Bertubrukan, Thalia marah kepada Tora yang membuat lensa kameranya retak. Terpaksa mereka berbagi lensa karena waktu yang mepet, ditambah Thalia yang rese ingin Tora mengganti lensanya yang limited edition.

Thalia semnagat ke Tokyo karena kekasihnya, Dean, bertugas di Tokyo. Alih-alih bertemu atau sekadar meluangkan waktu berbincang saat makan malam, Dean bagai hantu, menghilang ditelan kabut Tokyo. Sedangkan Tora mencari kepastian dari (mantan) kekasihnya, Hana, yang keputusannya membuat Tora syok berat.

Berdua Tora dan Thalia bertualang mencicip soba, ramen, hingga berbelanja ke butik Liz Liza, Ueno Zoo, hingga berdesakan di kereta bawah tanah.

Sefry piawai merangkai kata demi kata dengan indah. Terkesan romantis namun tidak berlebihan (karena saya bukan penggemar romance mendayu-dayu). Karakter pendukungnya juga bikin gemas. Seperti Dean yang nggak jelas keberadaannya bagai Casper, dan Hana yang awalnya tegas menyuruh Tora untuk menjauhinya, namun tiba-tiba malah meminta bertemu. Ada juga Alvin dan istrinya, Mikami, yang bisa berbahasa Indonesia dengan logat Jepang yang lucu.

Masih ditemukan typo:

Penasaran denga selera musik Thalia (hal. 118) <– dengan

Bibirnya keduanya mengulas senyum (hal. 180) <– Bibir keduanya

It doesn't matter who hurt you or broke you down. What matter is who make you smile again (hal. 89)

— It doesn't matter who hurt you or broke you down. What matters is who made you smile again.

Love is just a word yet it is an indescribeable feeling (hal. 231)

— Love is just a word yet it is an indescribable feeling

Minumnya sudah habis saat berkeliling. (hal. 281) <– minumannya

Di halaman 296 yangseharusnya bicara Dean tapi tercetak Tora.

Thali mengembangkan sebuahsenyum. (hal. 320) <– Thalia

So far typonya masih bisa ditolerir, tidak mengganggu atau mengubah esensi ceritanya sama sekali.

characterThalia

Manja, tipikal perempuan kosmopolitan. Ditambah dengan profesinya sebagai fashion editor yang menuntutnya tampil modis dan ditempeli barang branded. Walau manja, cranky, dan, tidak mau susah dan agak jutek, Thalia berhati lembut. Anehnya, walau saya tidak menyukai tipe perempuan seperti Thalia, karakter Thalia tidak menyebalkan. Agak gemes sih dengan kenaifannya setiap kali menghadapi Dean, tapi nggak sampai menyebalkan.

Tora

Cowok banget, cuek, rada berantakan, nggak peduli fashion, namun perhatian dan, sama seperti Thalia, hatinya lembut dan mudah terenyuh di hadapan perempuan yang ia cintai. Tora juga tipe setia, rela berkorban dan pelindung. Walau rada cuek, Tora suka pakai parfum juga sih, dan saya penyuka cowok wangi.

Tokyo: Falling menjadi penutup seri STPC dengan manis. Setelah membaca novel ini, saya jadi tersenyum dan ada perasaan hangat, seperti cuaca musim panas di Tokyo.

Nggak sabar menunggu karya Sefry selanjutnya.

quotesAku takut nggak bisabikin orang yang aku sayang bahagia. (hal. 225)

Mungkin ada kalanya cinta butuh jarak. Bukan untuk berpisah, tapi untuk menguji besarnya cinta itu sendiri. (hal. 242)

20130923-121407.jpg

GA1

Siapa yang mau mendapatkan satu buah novel Tokyo: Falling? Caranya mudah saja.

Isi Rafflecopter di bawah ya dan ikuti petunjuknya.

Rafflecopter

Periode giveaway berlangsung dari tanggal 20 November – 15 Desember 2013. Pengumuman pemenang tanggal 17 Desember 2013.

Good luck ^^

20131105-024143.jpg

Jangan lupa, besok ada sesi wawancara dengan Sefryana Khairil tentang novel Tokyo: Falling 🙂

Pengumuman Pemenang Giveaway #STPC & Chuseok

20130819-105102.jpg

Pertama-tama ijinkan eykeh mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk berkunjung ke blog dan memberi komentar, juga mensosialisasikan event ini.

Pemenang 3 paket novel STPC adalah:

 

BRSr8OYCMAA1x8F.jpg large

Khairissa R.P. @rd_lite

Ika Koentjoro @ikakoentjoro

Tiara Putri @tiaraaaaputri

 

chuseok

Intan Ratnasari @_tantintun

 

Bagi pemenang, harap mengirim data diri lengkap beserta alamat dengan kodepos dan nomor hp untuk pengiriman hadiah. Jika dalam waktu 2×24 jam saya belum menerima email konfirmasi, maka akan diundi lagi untuk menentukan pemenang lain.

Terima kasih banyak untuk Gagasmedia dan Bukune yang sudah mensponsori event #STPC. Juga terima kasih kepada para guest reviewer: Dinoy, Stephanie Sugia, Verina, dan Hanifah Dien. Terima kasih untuk kru STPC:

Om Em yang sudah mensupport event ini, Christian Simamora, Moemoe Rizal, Ibnu Rizal, Winna Efendi, Jia Effendie, Kireina Enno, Jeffri Fernando, Windry Ramadhina, Alvi Syahrin, Robin Wijaya, Widyawati Oktavia, Prisca Primasari, dan Riawani Elyta yang sudah saya kerjai dengan berbagai pertanyaan super kepo.

 

Sampai jumpa lagi dan nantikan giveaway kejutan dari Lust and Coffee.

 

Lotsa Love,

 

20130923-121453.jpg

 

#STPC Interview: Meet the Author Robin Wijaya @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

robin copy

Akhirnya sampai juga kita di penghujung program #STPC di blog ini. Karena ada hal yang harus eykeh kerjakan dan tidak bisa ditunda, jadilah postingan ini agak terlambat. Maafken ya.

Kali ini, Lust and Coffee berhasil mewawancarai Robin Wjaya, penulis novel Roma: Con Amore. Seperti apa sih proses pembuatan novel Roma? Simak aja wawancara berikut ya 🙂

 

 

1. Mengapa memilih Roma sebagai setting novelnya?

Sebetulnya, waktu pertama kali ditawari ikutan STPC, ada 3 kota yang masih tersisa di list: London, Paris dan Roma. Waktu milih 1 di antara 3 kota itu lebih kayak cap-cip-cup sih. Spontan aja bilang ke editor ‘Roma’, lalu dijawab ‘pilihan yang tepat sekali’ (eh, berasa lagi pesan pizza ya). Tapi rasanya pilihan tersebut memang tepat. Saya menyukai Roma: kesenian, sejarah, makanan dan liga Italianya.

 

2. Apa kesan pertama Robin ketika diminta untuk menulis novel dengan setting Roma?

Excited! Saking excited-nya, satu hari pertama yang harusnya dipakai untuk nulis sinopsis malah cuma diisi bengong-bengong karena bingung mau nulis apa. Hehehehehe.

 

3. Satu kata yang bisa mendeskripsikan Roma:

Hangat

 

4. Berapa lama proses menulis novel ini?

3 bulan. Nggak dalam sepanjang waktu itu nulis terus ya, kadang-kadang diisi bengong dan ngopi-ngopi. Proses nulis paling maksimal di 1 bulan terakhir.

 

5. Apakah ada pengalaman menarik selama proses penulisan Roma?

Ada. Pertama riset. Baru kali ini nulis novel bersetting luar negeri. Dan karena saya orangnya melankolis, kalau nyari satu lokasi yang akan dijadikan setting saya mesti tahu sedetail-detailnya seperti: rute transportasi ke sana dan berapa lama, nama gang-gang kecil di sekitar tempat itu, ada toko apa aja, bagaimana suasananya, jalanannya berbatu atau aspal, bagaimana cuacanya, dll.

Kedua adalah pengalaman sejarah. Menjelajah Roma berarti menjelajah peninggalan budaya masa lalu. Saya menyukai cerita-cerita epic dan kesenian, sisa-sisa kejayaan emporium Romawi yang masih berdiri sampai sekarang, dan cerita tentang Michelangelo sendiri merupakan pengalaman menjelajah masa lalu yang menyenangkan selama menulis novel Roma ini.

 

6. Jika novel Roma difilmkan, siapa yang cocok untuk memerankan:

Agak susah ya, karena bicara tokoh dan karakter seperti bicara manusia sebenarnya. Tapi waktu menulis Roma, saya menggunakan foto-foto aktor dan aktris untuk menggambarkan sosok tersebut. Ini nih foto yang saya pajang di desktop selama nulis Roma. Mirip nggak kira-kira sama bayangan teman-teman?

con amore roma

7. Berapa lama riset yang dibutuhkan sebelum menulis novel ini? Apakah ada narasumber yang membantu?

1 bulan untuk riset sendiri. Memang agak lama sih, karena kebanyakan diisi untuk ngumpulin data dari internet, terus dibaca satu-satu.

Ada beberapa teman juga yang membantu. Untuk Michelangelo, Prisca Primasari (penulis Paris) bantuin saya nyari buku tentang maestro tersebut (makasih ya, Pris). Untuk kota Roma nya sendiri blogging aja, nanya-nanya teman blogger yang pernah travelling ke sana. Ada juga info-info yang didapat dari perpustakaan sekolah. Dan bersyukur sekali sekarang ada youtube yang bisa ngasih gambaran real suasana di kota tersebut.

 

8. Bagaimana cara Robin melakukan riset untuk tokoh?

Physically lewat gambar yang tadi di atas. Untuk karakter, begitu melihat orangnya aku langsung membayangkan kalau si A tipe orang yang seperti apa, kebiasaannya apa, bagaimana cara dia berpikir, bertindak, dll.

Mungkin agak lebih susah di profesi tokohnya. Biar bagaimana pun, orang dengan latar belakang profesi yang berbeda punya kebiasaan, tempat hang out, gaya penampilan, lingkungan pergaulan, dan komunitas yang berbeda juga. Dan almost semua yang disebut di novel ini based on real, termasuk komunitas Sanggar Pejeng, seniman jalanan yang disebut-sebut Dewa di kawasan Glodok sampai Kota Tua.

 

9. Adakah tokoh yang mirip dengan kepribadian Robin?

Kalau kepribadiannya yang mirip sih kayaknya nggak, tapi saya dan Leo sama-sama suka melukis. Bedanya, Leo lebih ke lukisan realis, aku suka vignet dan surealis

 

10. Ada pesan untuk penulis baru yang ingin mengirim naskah ke Gagasmedia? Apa saja yang perlu diperhatikan?

Ini udah banyak banget yang nanya di twitter dan facebook ya. Dan kebanyakan tentang pertimbangan-pertimbangan naskah apa yang layak diterima oleh GagasMedia. Menurut saya, kita nggak akan tahu kemampuan kita kalo nggak mencoba. Kalau memang punya naskah, dikirimkan saja. Toh, hasilnya akan ketahuan setelah naskah dikirim. Daripada numpuk di laptop jadi unsent draft.

Semangat mengirimkan naskahmu… biar saya bisa tambah teman penulis yang banyak 😀

 

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^

Sama-sama, terima kasih juga sudah menyediakan ruang untuk berbagi cerita tentang novel Roma

 

It’s a wrap! Terima kasih banyak untuk Gagasmedia, Bukune, para penulis STPC, editor, Bang Ino, juga proofreader. Tidak ketinggalan cover designernya juga yang sudah berpartisipasi dan bersedia saya rempongin selama event STPC ini. Terima kasih juga untuk teman-teman pembaca yang rajin menjambangi blog ini untuk meninggalkan komentar.

Sampai ketemu tanggal 5 Oktober untuk pengumuman pemenangnya.

 

Tschuss,

20130923-121453.jpg

[Book Review+Giveaway] Roma: Con Amore by Robin Wijaya @Gagasmedia

20130819-105102.jpgbook_info

17446796

Judul Buku: Roma: Con Amore
Penulis: Robin Wijaya
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: Februari 2013, Cetakan Pertama
Jumlah Halaman: 384
ISBN: 9789797806149
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Travel Literature
Kalimat pertama:

book_blurb

Pembaca tersayang,

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cerita berujung cinta. Robin Wijaya, penulis novel Before Us dan Menunggu mempersembahkan cerita cinta dari Kota Tujuh Bukit.

Leonardo Halim, pelukis muda berbakat Indonesia, menyaksikan perempuan itu hadir. Sosok yang datang bersama cahaya dari balik sela-sela kaca gereja Saint Agnes. Hangatnya menorehkan warna, seperti senja yang merekah merah di langit Kota Roma. Namun, bagaimana jika ia juga membawa luka?

Leo hanya ingin menjadi cahaya, mengantar perempuan itu menembus gelap masa lalu. Mungkinkah ia percaya? Sementara sore itu, di luar ruang yang dipenuhi easel, palet, dan kanvas, seseorang hadir untuk rindu yang telah menunggu.

Setiap tempat punya cerita. Roma seperti sebuah lukisan yang bicara tanpa kata-kata.

Enjoy the journey,

EDITOR

thoughts

——————————————————————————————————————————————————————-

“Dia? Leo menyeringai kecil ketika mengenangnya. Kalau pun takdir mengharuskan mereka bertemu lagi, suatu hari nanti, Leo berharap semoga ada cara lebih baik untuk mempertemukan mereka, bukan karena masalah lukisan yang tertukar.

Leonardo Halim adalah seorang seniman muda Indonesia yang mempunyai masterpiece seperti jajaran pelukis kelas dunia. Ia kemudian mendapat kesempatan untuk ikut proyek pameran seni di Roma, Italia. Kemampuan melukisnya bahkan diakui di Roma, dan salah satu lukisannya yang berjudul Tedak Siten terjual di pameran tersebut. Akan tetapi masalah datang saat si pembeli mengatakan bahwa lukisan tersebut tidak sampai ke tangannya – padahal kurir sudah sampai di alamat pengiriman. Masalah itulah yang mempertemukan Leo dengan seorang perempuan Indonesia di Roma bernama Felice Patricia.

“Bayangan dan tingkah polah perempuan itu masih melekat jelas dalam kepalanya. Aneh, mestinya sesuatu yang menyebalkan harus segera diusir pergi, bukan malah berdiam dan mengambil tempat dalam memori…. Kejadian hari ini… Mungkin ia akan ingat selamanya.

Pertemuan pertama Leo dan Felice tidak berjalan menyenangkan; karena meskipun sebenarnya Felice yang bersalah, perempuan itu sama sekali tidak mau mengakuinya. Keduanya pun berpisah dengan kesan pertama yang tidak begitu baik. Setelah menyelesaikan pameran tersebut, Leo berpulang kembali ke Indonesia. Kehidupannya di Indonesia ia habiskan bersama dengan Marla, kekasihnya, yang selalu merawat Leo saat ia terlalu sibuk mengerjakan lukisan. Tak lama kemudian, sahabat Leo bernama Dewa menawarkan lelaki itu untuk ikut sebuah pameran seni di Bali. Setelah mendapat persetujuan dari Marla, akhirnya Leo berangkat untuk menghadiri pameran itu.

Sedangkan kehidupan Felice di Italia ia habiskan dengan sahabatnya, Tenny, dan kekasihnya yang bernama Franco – yang adalah seorang pemain sepakbola. Bagi Felice, Franco adalah sosok kekasih yang begitu mencintainya dan seringkali menghujaninya dengan gombalan-gombalan yang manis. Meskipun Franco selalu sibuk, Felice selalu berusaha bertemu dengan lelaki itu – terlebih lagi ia akan segera berpulang ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan kakaknya, Anna. Awalnya Felice sempat ragu soal kepulangannya, karena ia tidak ingin bertemu Mama. Sejak Mama-nya berpacaran dengan seorang lelaki beristri, hubungan Felice dengannya semakin memburuk. Namun Felice tetap memantapkan hati, dan berangkat ke Bali.

“Suatu hari. Suatu waktu. Ketika kita dipertemukan kembali, tanyakan pada hati; apakah kita akan mengulang cerita lalu atau mengisinya dengan yang baru?

“Kita menggantung kata perpisahan. Diam-diam menaruh harapan dan keinginan untuk dipertemukan lagi kelak.

Leo dan Felice pun dipertemukan kembali di Bali. Felice mengalami pertengkaran hebat dengan Mamanya, membuat ia pergi keluar begitu saja dari penginapan. Tidak mempunyai arah tujuan, Felice menemukan brosur pameran seni yang diadakan di Taman Budaya – dan memutuskan untuk pergi ke sana. Nama Leonardo Halim adalah satu-satunya yang ia kenal, dan Felice memutuskan untuk menemui lelaki itu. Tanpa mereka rencanakan, secara alami pembicaraan pun mengalir, kebersamaan keduanya pun berlangsung lama. Leo menceritakan banyak tentang lukisan dan idolanya, Michelangelo. Satu waktu itu menjadi momen yang berkesan untuk keduanya.

“Tak pernah Felice merasa hatinya demikian hangat, seperti disinari matahari musim semi yang selalu mampu memberi kehidupan baru.
Dan lebih dari itu semua, lelaki itu tahu, bagaimana cara untuk membuat Felice merasa dihargai.

Meskipun keduanya harus berpisah sekali lagi, Leo dan Felice dipertemukan kembali di Roma – tempat mereka pertama kali bertemu. Perlahan-lahan tanpa disadari, perasaan yang lebih mulai muncul dalam hati masing-masing. Meskipun demikian, ada banyak sekali masalah yang ada di sekitar mereka. Fakta tentang Franco, masalah keluarga Felice yang tak kunjung selesai, dan juga fakta tentang kekasih Leo yang sama sekali tidak pernah diketahui oleh Felice. Kisah cinta mereka yang bermula di Roma, lukisan The Lady yang amat berharga bagi keduanya, akankah berakhir dengan bahagia?

Cinta? Tenny menyebutnya begitu. Terdengar aneh dan naif, bahkan keduanya tak punya status spesial. Tapi bukankah cinta memang datang perlahan? Menghuni hati tanpa perencanaan lebih dulu? Bahkan, sebelum perasaan terungkap, manusia sudah lebih dulu menyimpannya.”
Baca kisah selengkapnya di Roma: Con Amore.
Ini adalah buku ketiga Robin Wijaya yang aku baca setelah Before Us dan Menunggu; dan lewat Roma: Con Amore aku masih sangat terkesan dengan penulisannya yang manis dan mengalir dengan baik. Membaca buku ini seperti membawaku ke Roma dan melihat berbagai macam tempat yang indah. Terlebih lagi dengan kisah cinta yang manis, dan latar belakang karakter yang dalam, cerita ini menjadi semakin mudah untuk kunikmati.Buku ini ditulis dari sudut pandang orang ketiga, dan tema yang diangkat adalah tentang romance (tentunya), dan juga terselip tentang keluarga. Alurnya tentu saja dimulai dengan perkenalan dua karakter utama kisah ini: Leo dan Felice. Ceritanya dimulai dengan pertemuan keduanya yang tidak berjalan dengan baik. Kemunculan pertama Felice dalam cerita ini membuat karakternya terkesan angkuh, sombong, dan sama sekali tidak mau mengakui kesalahannya. Sedangkan Leo adalah karakter yang amat cool dan tenang menghadapi segala sesuatu. Meskipun awalnya aku sedikit sebal dengan karakter Felice, pada akhirnya aku merasa itu adalah karakteristik yang terbentuk oleh latar belakangnya – sehingga aku bisa memaklumi. Setelah perpisahan di Roma, cerita tentang Leo dan Felice berjalan sendiri-sendiri. Sehingga aku merasa gatal dan ingin terus membalik halaman karena ingin melihat lebih banyak interaksi antara Leo-Felice. Seiring dengan perkembangan hubungan Leo-Felice, banyak terselip penjelasan yang lebih mendalam tentang keluarga Felice, hubungan Leo dan Felice dengan kekasih mereka, dan lain sebagainya. Salah satu hal yang sedikit aku sayangkan adalah saat Leo-Felice berkeliling Roma dan mengunjungi tempat-tempat populernya. Meskipun aku senang karena ada banyak nama-nama tempat di Roma yang bisa aku ketahui, tetapi aku berharap akan terjadi lebih banyak hal saat mereka berwisata – dibandingkan hanya penjelasan dan fakta tentang tempatnya 🙂 Akan tetapi setelah bagian itu, konflik semakin muncul ke permukaan dan alurnya mencapai klimaks – sehingga aku sama sekali tidak ada waktu untuk merasa bosan. Aku juga cukup puas dengan ending-nya yang menyelesaikan semua masalah dengan baik pada akhirnya.

Dari seluruh karakter yang ada, aku rasa karakter Felice yang paling terasa dalam karena pembaca juga mengetahui latar belakang keluarganya. Akan tetapi karakter yang menjadi favoritku dalam cerita ini adalah Marla. Meskipun aku tidak akan menceritakan konfliknya secara detil (no-spoiler), tetapi aku sangat kagum dengan tindakan dan pilihan yang diambil oleh Marla. Jika aku dalam posisi yang sama sepertinya, mungkin aku akan melakukan hal yang serupa. Kemunculan Marla dalam cerita ini memang tidak banyak, tetapi ia adalah karakter yang meninggalkan kesan paling dalam untukku 🙂

Secara keseluruhan, aku sangat menikmati kisah cinta manis yang dituliskan oleh Robin Wijaya ini. Gaya penulisannya yang mengalir dilengkapi dengan deskripsi detil membuatku merasakan suasana Roma yang terasa romantis. Beberapa penggunaan bahasa Italia dalam ceritanya membuatku sedikit belajar 🙂 Aku selalu menikmati karya tulisan Robin Wijaya dan akan menantikan karya yang selanjutnya :))

Reviewed by.stefaniesugia♥

.STPCGA

Yuk, yang mau mendapatkan 3 paket novel serial #STPC @Gagasmedia @Bukune merapat kemari. Caranya gampang banget:

1. Follow akun @Gagasmedia @Bukune dan @robinBIEwijaya

2. Twit link review + giveaway ini dengan kalimat seperti ini:

Mau dapetin paket novel #STPC dari @yuska77 @Gagasmedia @Bukune? Klik aja

3. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel Roma: Con Amore. Jangan lupa untuk mencantumkan:

Nama, akun twitter, dan email.

4. Setiap komentar yang kamu tinggalkan di tiap postingan dan twit selama proyek #STPC berlangsung akan mendapat 1 entry. Misalnya, kamu ngetwit link review + giveaway Roma juga meninggalkan komentar, maka kamu mendapatkan 2 entries.

5. Jangan lupa, besok ada postingan interview bersama Robin Wijaya. So, stay tuned ya.

6. Giveaway STPC dimulai dari tanggal 1 September – 30 September 2013. Kamu bisa mengisi kolom komentar + tweet giveaway ini selama event STPC berlangsung.

7. Pengumuman pemenang tanggal 5 Oktober 2013

Good luck 🙂

20130330-114856.jpg

#STPC Interview: Meet the Author Alvi Syahrin @Bukune

20130819-105102.jpg

alvi

Halo, ketemu lagi di segmen Meet the Author. Sepertinya pembaca sudah tahu pattern-nya ya. Setelah mereview bukunya, keesokannya ada wawancara dengan penulisnya.

Setelah kemarin ada postingan review Swiss: Little Snow in Zurich, hari ini Lust and Coffee berkesempatan berbincang dengan penulisnya, Alvi Syahrin. Mau tahu lebih banyak tentang novel Swiss? Check out the interview below.

 

Bisa diceritakan dari mana dapat ide untuk novel Little Snow in Zurich?

Idenya datang begitu saja, tentunya ada pemicu dari saya. Jadi, saya berkata pada diri saya sendiri bahwa saya ingin menulis kisah cinta yang manis antar dua remaja—sederhana, manis, dan getir. Selagi berpikir dan berpikir, muncullah Rakel, kemudian Yasmine, dan akhirnya kisah mereka. Setiap kali hendak menulis novel, saya selalu begini: berkata pada diri saya apa yang ingin saya tulis, and the idea will come just like a butterfly.

 

Kenapa Alvi memutuskan untuk mengambil setting di Swiss?

Waktu itu, saya dihadapkan oleh beberapa pilihan negara. Ketika Mbak Widyawati Oktavia (Editor Bukune) menyebutkan Swiss, saya dengan excited langsung menyetujuinya. Saya suka negara Swiss. Semua orang tahu bahwa Swiss adalah negara yang luar biasa indah, tapi masih jarang penulis Indonesia yang mengambil setting ini. Jadi, inilah kesempatan saya untuk mengajak pembaca ke tempat baru yang mungkin belum pernah mereka kunjungi dari novel-novel lain: Zurich, Swiss.

 

Berapa lama proses penulisan novel ini?

Proses penulisannya sekitar 1,5 bulan. Belum termasuk pematangan outline dan riset.

 

Satu kata yang bisa mendeskripsikan Zurich:

Bersih.

 

Jika novel Little Snow in Zurich difilmkan, siapa yang cocok untuk memerankan: Yasmine, Rakel, Elena dan Dylan?

Saya sama sekali tidak punya ide untuk yang satu ini, hehe. 😀 Pertama, saya jarang sekali nonton film, jadi jarang tahu aktor/aktris. Kedua, saya punya bayangan tersendiri mengenai keempat tokoh tersebut, sebagaimana yang saya ciri-cirikan pada novel.

 

Berapa lama riset untuk novel ini? Apa saja yang dilakukan Alvi ketika riset?

Saya riset sekitar 4 bulan, mungkin. Selagi menulis juga saya tetap riset. Alasan mengapa riset saya selama ini adalah, karena terlalu sering merasa belum siap untuk menulis.

Yang saya lakukan selama riset:

– Googling artikel mengenai Swiss (terutama Zurich), seperti kehidupan kotanya, tempat-tempat yang sering dikunjungi, dst. Seiring banyak membaca artikel tentang Zurich, saya jadi cukup tahu hal-hal tentang Zurich. Tapi, saya tetap belum merasa cukup siap untuk menulis saat itu.

– Melihat foto-foto, tentunya, untuk kenal lebih dalam.

– Interview. Awalnya, saya mengirimkan pesan di Facebook kepada beberapa penduduk Zurich, tapi tak ada satu pun yang membalasnya. Akhirnya, saya menemukan seorang pelajar Indonesia yang pernah studi di Zurich—di Facebook juga. Saya banyak tanya ke dia tentang Zurich. Dia pun memperkenalkan saya pada temannya yang memang dari Zurich. Saya pun bisa interview langsung dengan orang asli Zurich. J

– Lihat di video-video yang menampilkan pemandangan di Zurich di Youtube, sehingga lebih berasa lihat langsung—ini saran dari Mbak Kireina Enno. Dan ini sangat membantu untuk menambah feel Swiss-nya. Saya jadi bisa merasakan dinginnya Swiss, indahnya Zurich, dan enaknya bila tinggal di sana.

– Google Earth. Ini yang paling membantu. Apalagi Google Earth memiliki fitur 3D pada bangunan-bangunannya, juga foto-foto yang tersebar pada lokasi ybs. Dari sini, saya mengenal Zurich lebih detil, tahu nama jalan-jalan, bentuk bangunan, rute untuk ke sana-sini, dan lain sebagainya. Bahkan dermaga yang menjadi tempat favorit Rakel dan Yasmine saya temukan ketika lagi “berpetualang” di Zurich lewat Google Earth. Tempat itu sedikit tersembunyi, meski dekat pusat kota, tapi benar-benar sangat indah. Jadi, saya memasukkannya sebagai lokasi utama.

Saya benar-benar mengenal Zurich dari sini. Oya, suatu ketika, saya pernah lihat tv sekilas. Acara tersebut menampilkan sebuah sudut  kotanya, dan saya tebak itu Zurich, dan ternyata benar. 😀 Setelah itulah, saya mulai berani menulis. Sembari menulis pun tetap riset supaya bisa merasa benar-benar di sana.

 

Ada pengalaman menarik selama proses penulisan novel ini?

Banyak sekali. Mulai dari ketika diajak Bukune untuk ikutan STPC, lalu eksplor ide, riset, kemudian masa-masa stres ketika mematangkan outline novel, masa-masa nggak pede sama naskah sendiri, sampai proses penulisan yang menyenangkan, hingga berhasil menuliskan kata ENDE. Setiap bagian dari penulisan novel ini adalah pengalaman menarik. Dan sekarang saya benar-benar rindu sama Zurich, Rakel, Yasmine, dan butir-butiran salju itu.

 

Bisa share playlist yang Alvi dengarkan ketika menggarap novel ini?

Saya lupa—komputer saya terpaksa install ulang sehingga semua playlistnya hilang. Yang jelas, saya malah nggak bisa mendengar lagu ketika sedang menulis. Jadi nggak konsentrasi.

 

Waduh, sayang banget ya. Semoga kompinya sudah betul. Apa proyek novel selanjutnya yang akan Alvi kerjakan?

Novel yang sekarang saya kerjakan lumayan terpengaruh oleh STPC (So, thanks to Bukune yang sudah membantu mengembangkan saya). Tapi, settingnya bukan di luar negeri, melainkan Indonesia. Pada suatu tempat yang cukup terkenal, tapi saya belum pernah membaca novel-novel yang menggunakan setting di tempat ini. Ada unsur petualangannya, keluarga, dan tentu kisah cinta. Tapi, kali ini, saya ingin membahas cinta dari sudut pandang yang berbeda, yang mungkin bisa membuat kita berpikir, “Ah, ya, cinta nggak semudah mengatakan ‘I love you’”. Insya Allah, mudah-mudahan, ini bakalan jadi cerita yang seru dan manis.
Sekarang saya baru sampai di bab 2. Mohon bantu doanya ya supaya bisa segera selesai.

 

Ada tips singkat untuk penulis yang ingin mengirim naskahnya ke Bukune? Apa saja yang harus diperhatikan?

Banyak-banyaklah membaca novel dari Bukune, supaya kamu tahu taste-nya Bukune itu seperti apa. Seringlah berlatih menulis, setiap hari. Ketika hendak mengirimkan naskah ke redaksi Bukune, perhatikan kembali aturan-aturan yang Bukune berikan; seperti jenis dan ukuran font, ukuran kertas, spasi dan margin, banyaknya halaman, formulir pengecekan naskah, dan lain sebagainya. Jangan sampai naskah kerenmu nggak sampai di meja editor, hanya karena melupakan hal-hal sepele itu.

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^

 

Besok masih ada interview kejutan dengan … (nggak surprised dong kalau dikasih tahu sekarang). Masih ada juga review novel STPC  dan wawancara dengan penulisnya. Jangan lupa mampir kemari ya.

 

Tschuss,

20130725-125307.jpg

[Book Review+Giveaway] Swiss: Little Snow in Zurich by Alvi Syahrin @Bukune

20130819-105102.jpg

book_info

20130927-023445.jpg

Judul Buku: Swiss: Little Snow in Zurich
Penulis: Alvi Syahrin
Penerbit: Bukune
Terbit: Juni 2013, Cetakan Pertama
Jumlah Halaman: 308
ISBN: 978-602-220-105-2
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Travel Literature
Harga: Rp. 52,000
Kalimat pertama:Angin menyentilku.

book_blurb

Di Zürich,

Ada kisah tentang salju yang hangat, tentang tawa yang mencair. Membuat Yasmine tersenyum bahagia.

“Ich liebe dich,”—aku mencintaimu—bisik gadis itu, membiarkan repih salju membias di wajahnya. Manis cinta dalam cokelat yang laki-laki itu berikan membeku menjadi kenangan di benaknya, tak akan hilang.

Di puncak gunung Uetliberg—yang memancarkan seluruh panorama Kota Zürich—bola-bola salju terasa hangat di tangannya, kala mereka bersisian. Dan Jembatan Münsterbrücke, jembatan terindah dan tertua di Zürich, seolah bersinar di bawah nyala lampu seperti bintang.

“Jika aku jatuh cinta, tolong tuliskan cerita yang indah,” bisik gadis itu. Ia tahu ia telah jatuh cinta, dan berharap tak tersesat.

Namun, entah bagaimana, semua ini terasa bagai dongeng. Indah, tetapi terasa tidak nyata.

Tschüs—sampai jumpa—
Yasmine, semoga akhir kisahmu indah.

thoughts

First I need to say that I was really schocked when I realize that the author is a boy. Gosh! I mean, I have read many books written my male authors, but those are fantasy books, not romance! And you know what surprised me more? This book is really good. It is romantic, sweet, and realistic at the same time! Kadang-kadang ketika saya membaca buku roman, saya merasa ceritanya terlalu dibuat-buat. But not this! Saya merasa buku ini benar-benar romantis tapi tidak berlebihan. Mungkin karena laki-laki yang menulisnya, sehingga terasa lebih logis. If you read the book, you won’t see lots of sweet talking or cheesy date. But you’ll see two people , doing something that only they can enjoy! ( I’m talking about their winter plans 😀 ).

Pada awalnya, saya merasakan atmosfir yang sama seperti yang saya rasakan pada Till We Meet Again karangan Yoana Dianika, mungkin karena sama-sama bersetting di Eropa. But actually, both of them are totally different! Even though this book felt a little bit sad and touchy, it doesn’t felt dark. Saya merasa sedih ketika Yasmine ditinggalkan oleh Rakel, saya juga merasa sedih ketika ada tokoh yang meninggal.

The ideas of the book is fantastic. Ide-ide itu juga diceritakan dengan cara yang menyenangkan. Love,friendship,family. Everything is wrapped in one. Also the setting, I love it! Saya merasakan bagaimana dinginnya musim dingin di Zurich, seberapa indahnya banguna-bangunan kota Zurich yang diselimuti salju, juga cerahnya cuaca Zurich yang bersalju. Hanya saja, saya merasa alurnya kurang rapi. Terkadang saya merasa alurnya berjalan lambat di satu waktu lalu cepat dan meloncat-loncat di waktu lain.

One thing that bothered me most : there’s too much naration. Sangat sedikit dialog dalam buku ini, sehingga interaksi antar karakter susah di dapat. Contohnya adalah ketika Yasmine jatuh cinta dengan Rakel. Dari kegiatan yang mereka lakukan, mungkin sebenarnya besar kemungkinannya agar Yasmine menyukai Rakel. But somehow, I felt that she fell in love to fast. Saya belum merasakan buih-buih cinta yang tercipta di antara mereka berdua ketika Yasmine mengatakan bahwa dirinya mencintai Rakel.

For the characters, usually I love stubborn and strong female character. But somehow, saya menyukai kepolosan dan kelembutan yang dimiliki Yasmine. Saya tidak merasa Yasmine adalah gadis cengeng. Saya justru merasa Yasmine adalah gadis unik yang memiliki dunia fotografi yang menyenangkan. For the male lead, Rakel, I guess I don’t have much to say. Begitu pula dengan Elena. But for Dylan, I really wish he would meet a girl that will love him back. Saya juga ingin melihat bagaimana Dylan jatuh cinta pada Yasmine, dan saya merasa agak kecewa karena tidak diceritakan.

Well, I guess that’s all I can say. But remember this, read this book and before you realize it you are on a romantic adventure in Zurich! Saya tidak dapat menjelaskan satu-satu kesan saya mengenai buku ini. Karena , jujur saja, cerita dalam buku ini sangat padat, tapi tentu saja, this book is really great. And, for the author, I’m really pleased with your work and looking forward for the next one.

Reviewed by:
Verina

GR

ve

STPCGA

Yuk, yang mau mendapatkan 3 paket novel serial #STPC @Gagasmedia @Bukune merapat kemari. Caranya gampang banget:

1. Follow akun @Gagasmedia @Bukune dan @AlviSyhrn

2. Twit link review + giveaway ini dengan kalimat seperti ini:

Mau dapetin paket novel #STPC dari @yuska77 @Gagasmedia @Bukune? Klik aja bit.ly/17YRdVb

3. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel Swiss: Little Snow in Zurich. Jangan lupa untuk mencantumkan:

Nama, akun twitter, dan email.

4. Setiap komentar yang kamu tinggalkan di tiap postingan dan twit selama proyek #STPC berlangsung akan mendapat 1 entry. Misalnya, kamu ngetwit link review + giveaway Swiss juga meninggalkan komentar, maka kamu mendapatkan 2 entries.

5. Jangan lupa, besok ada postingan interview bersama Alvi Syahrin. So, stay tuned ya.

6. Giveaway STPC dimulai dari tanggal 1 September – 30 September 2013. Kamu bisa mengisi kolom komentar + tweet giveaway ini selama event STPC berlangsung.

7. Pengumuman pemenang tanggal 5 Oktober 2013

Good luck 🙂

20130330-114856.jpg

#STPC Interview: Meet the Proofreader Jia Effendie @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

Ketemu lagi di segmen interview bersama salah satu orangdi balik layar novel London: Angel. Maaf banget atas keterlambatan postingannya, karena Lust and Coffee sedang sakit dan meringkuk dengan manis di tempat tidur.

Kali ini, Lust and Coffee berhasil mewawancarai salah satu proofreader (yang juga editor di Gagasmedia). Selain itu, dia juga seorang penulis yang aktif melahirkan karya berupa cerita pendek.

2886980fab52f4a59e89ae8074dbedef

Nama: Jia Effendie

Twitter: @JiaEffendie
Facebook

Goodreads

Web

Blog

Penulis favorit: Neil Gaiman, Jostein Gaarder, Seno Gumira Ajidarma, Pramoedya Ananta Toer, Roald Dahl.

Menurut Jia, London itu identik dengan:

Kabut, gerimis, Shakespeare, sihir.

Seandainya Jia diminta untuk menulis novel STPC, di mana lokasi yang menurut Jia paling keren untuk dijadikan setting?

Hmm… di mana, ya? Dari dulu sih aku kepingin nulis yang settingnya di Pantai Selatan #halah. Tapi ga masuk sama konsep STPC

OMG, horror jugaPantai Selatan, hihihi. Satu kata yang mewakili London:

Gloomy

Kita berandai-andai ya ^^. Kalau Jia boleh mengajak satu penulis luar negeri untuk terlibat dalam proyek STPC, siapa yang ingin Jia ajak?

Hmm hmm… ga kepikiran

Apa proyek novel selanjutnya yang akan Jia garap? Apa ada rencana untuk merilis novel sendiri?

Ada proyek serial lainnya setelah STPC dan SCHOOL. Tunggu aja. Rencana merilis novel sendiri? Tentu saja!

Ada tips singkat untuk penulis baru yang ingin mengirim naskahnya ke Gagasmedia? Apa yang harus diperhatikan?

Perhatikan benar kelengkapannya. Formulir harus diisi dengan benar, dan tulislah sinopsisnya semenarik mungkin dengan gaya bahasa lugas (jangan kebanyakan pakai metafor, ya, karena ini sinopsis). Sinopsis adalah bahan jualan kamu. Terus, pastikan naskahmu enggak dimulai dengan kalimat: “Seperti biasa, hariku dimulai dengan suara alarm…” atau “Matahari bersinar cerah.”

Tulis naskahmu dengan EYD yang benar. Minimalisasi kesalahan ketik. Artinya, edit dan edit lagi naskahmu sebelum dikirim ke penerbit.

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab pertanyaan dari saya.

Jangan kemana-mana karena masih ada postingan review, wawancara dengan penulis #STPC dan pengumuman pemenang STPC Giveaway.

Kisses,

20130725-125307.jpg

#STPC Interview: Meet the Author Windry Ramadhina @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

windrySudah lebih dari setengah bulan kita keliling dunia bersama serial Setiap Tempat Punya Cerita. Nggak kerasa kita sudah melewati London kemarin. Sebelum terbang ke destinasi selanjutnya, Lust and Coffee berhasil mencegat penulis London: Angel yang karyanya sudah sangat dikenal, antara lain Memori dan Montase yang banyak disukai pembaca. Penasaran dengan pembuatan London di balik layar? Simak wawancara dengan Windry Ramadhina berikut ini ^^

Dapat ide untuk novel London dari mana? Siapa yang menentukan ‘destinasi’ judul cerita dalam serial ini: penulis, editor, atau sistem undian?

London, sama seperti novel saya yang sebelumnya: Montase, merupakan pengembangan dari cerpen. Pada 2008, saya menulis cerpen berjudul “Singin’ In The Rain” yang terinspirasi dari lagu berjudul sama gubahan grup musik Jepang L’Arc~en~Ciel. Cerpen itu mengambil lokasi di hadapan London Eye, berkisah tentang pemuda Indonesia dan gadis Eropa misterius yang bertemu secara singkat di bawah hujan. Saat diminta menulis London, saya teringat pada cerpen itu.

Sebagai novel, pastinya London memiliki kisah yang jauh lebih rumit dari “Singin’ In The Rain”. Tetapi, unsur utamanya tetap sama: hujan, malaikat, dan keajaiban cinta. Hujan sangat dekat dengan London. Dan, saya punya kepercayaan tersendiri mengenai hujan. Kepercayaan ini yang ingin saya bagikan kepada pembaca.

Mengenai ‘destinasi’, kota-kota ditentukan oleh editor. Untuk Gagasmedia: Paris, Roma, Melbourne, London, dan Tokyo. Penulis-penulis diminta untuk memilih salah satu kota. Saya memilih London karena sejak lama ingin mengembangkan “Singin’ In The Rain” menjadi novel.

Saya suka sekali dengan nama kedua tokoh dalam novel ini: Gilang dan Ning. Dapat ide untuk menamakan tokoh dari mana?

Terima kasih. Dalam London, saya sengaja menghindari nama yang berbau Inggris untuk tokoh utama Indonesia agar pembaca bisa menikmati suasana perjalanan dan keterasingan. Jadi, saya memilih nama yang sangat Indonesia. Gilang berarti ‘cahaya’. Ning berasal dari kata ‘bening’. Keduanya adalah sesuatu yang tercetus saat saya memikirkan malaikat.

Sebenarnya, tokoh-tokoh London yang diberi nama hanya mereka yang memiliki peranan penting dalam cerita: Gilang, Ning, Ellis, Lowesley, dan Ayu (jika dirangkai, nama mereka akan membentuk angel). Sementara itu, tokoh-tokoh pendukung tidak diberi nama. Mereka sebatas mendapat julukan: Brutus, Hyde, V, dll. Julukan-julukan mereka diambil dari tokoh-tokoh fiksi terkenal. Ini supaya pembaca tidak bingung–supaya saya tidak bingung juga.

Butuh berapa lama untuk riset novel ini?

Lima bulan–ini waktu yang diberikan oleh editor kepada saya untuk menulis London. Saya riset sambil menulis.

Sebutkan tiga kata yang dapat mewakili London!

London sebagai kota atau London sebagai novel?

Sebagai kota: Sendu. Kuno. Tetapi, sekaligus modern.

Sebagai novel: Hujan. Malaikat. Cinta

Cover London keren banget! Apa penulis punya andil dalam menentukan cover buku?

Penulis selalu dimintai pendapat oleh desainer sampul. Tetapi, hasil akhir sangat ditentukan oleh suara redaksi, staf promosi, dan staf pemasaran. Saya setuju sampul London cantik. Warnanya sesuai dengan harapan saya: merah. Sangat London.

Punya kenangan khusus dengan London?

Kenangan khusus? Tidak ada. Tetapi, ketertarikan saya pada London berawal dari Tate Modern, galeri seni kontemporer yang dirancang oleh arsitek kesukaan saya. Dan, ternyata London memang kota seni. Karena itu, saya banyak bercerita tentang seni dalam novel ini.

Ada kejadian menarik selama proses penulisan novel London?

Proses penulisan London mengalir secara mengherankan. Para tokoh, konflik mereka, dan lokasi-lokasi tercetus dengan mudah, lalu terangkai satu sama lain dengan sendirinya. Seolah-olah, semua itu sudah lama bersembunyi dalam kepala saya. Padahal, tidak.

Saat memilih Fitzrovia, saya tidak tahu daerah itu adalah pusat seni–bidang yang kebetulan ditekuni oleh Ning. Saya jatuh cinta pada Fitzrovia karena suasananya–pada Fitzroy Tavern, lebih tepatnya. Dan, di sana ada gang yang sangat pas untuk dijadikan tempat tinggal Ning, yang sesuai dengan bayangan saya: Colville Place. Letaknya hanya seratus meter dari Fitzroy Tavern. Di sekitarnya, banyak galeri-galeri kecil–yang kemudian memunculkan tokoh Finn.

Lalu, tidak jauh ke arah Soho, ada toko payung tua bernama James Smith & Sons. Payung adalah elemen penting dalam London, sangat erat kaitannya dengan ide dasar cerita. Dan, di sebelah Tate Modern, tempat kerja Ning, ada Shakespeare Globe Theatre yang mewakili dunia Gilang: sastra. Toko payung, galeri, dan teater itu sendiri sangat menginspirasi.

Adakah curhat terselubung dalam novel London?

Banyak hal yang saya suka atau percaya tertuang dalam London, tetapi saya tidak curhat dalam tulisan.

Apa proyek selanjutnya yang akan Windry kerjakan setelah London?

Saya baru saja menyelesaikan naskah dewasa muda beberapa waktu lalu. Naskah tersebut sedang dibaca editor. Ada juga naskah lain yang sempat terbengkalai lama dan saat ini saya berusaha menyelesaikannya. Setelah itu, mungkin saya akan melanjutkan kisah Gilang. Atau, menulis roman sejarah. Atau, rehat. Saya belum tahu.

Lagu yang cocok sambil menikmati novel London?

Saya rasa, lagu bukan sesuatu yang pas untuk melengkapi London, melainkan hujan. Hujan yang malu-malu, ditambah sofa yang nyaman, kopi atau teh hangat, dan jendela di sisi yang sesekali bisa kita intip di sela-sela bab.

Tetapi, kalau memang menginginkan lagu, coba dengarkan “Singin’ In The Rain” L’Arc~en~Ciel yang menjadi sumber inspirasi novel ini.

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^

Jangan kemana-mana, karena minggu depan ada liputan London: Angel Tea Party with Windry Ramadhina. So, stick around ^^

Kisses,

20130725-125307.jpg

[Book Review + Giveaway] London: Angel by Windry Ramadhina @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

book_info

20130919-030245.jpg

Judul Buku: London: Angel (Setiap Tempat Punya Cerita #5)
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2013, Cetakan Pertama
Jumlah Halaman: 330
ISBN: 978-979-70-653-8
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Travel Literature
Harga: Rp. 52,000
Beli di: Pinjam sama Luna
Kalimat pertama:

Sekarang, kota ini persis seperti apa yang dideskripsikan oleh Charles Dickens dalam salah satu bukunya, Bleak House.

book_blurb

Pembaca Tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.

Windry Ramadhina, penulis novel Orange, Memori, dan Montase mengajak kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tidak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemukannya. Apakah perjalanannya ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,
EDITOR

thoughts

London: Angel merupakan novel kelima dari STPC yang sudah terbit. Setelah novel ini, bakal ada Tokyo yang kabarnya merupakan novel terakhir dari seri STPC batch pertama.

Kesan pertama terhadap London: Angel adalah brave karena cover-nya yang bernuansa merah. Gue juga menangkap kesan bold dari tampilan cover-nya.

Tema yang diangkat London: Angel adalah jatuh cinta dengan sahabat. Menarik ya? 🙂

Adalah Gilang, seorang aspiring writer yang mendapati dirinya (ternyata) jatuh cinta dengan Ning, sahabatnya yang dulu tinggal di sebelah rumahnya. Sebuah chat di YM dan celetukan Brutus yang membuat Gilang menyadari tentang perasaannya yang terdalam terhadap Ning, sesuatu yang sebelumnya tidak ia sadari. Sebelum Gilang mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya pada Ning, gadis itu sudah terbang ke London, lalu bekerja di sebuah galeri di sana.

Suatu malam di Bureau, di mana Gilang dan kawan-kawannya menghabiskan malam ala bujangan. Mereka mengompori Gilang untuk mengejar cintanya. Lalu, Gilang benar-benar terbang ke London untuk satu tujuan: Ning.

Tidak mudah bagi Gilang untuk menemui Ning. Karena niatnya memang mau kasih surprise, Gilang bertualang dulu di London. First stop: Underground. Tempat yang hiruk-pikuk di London ini sebenarnya seperti ceruk budaya. Jutaan manusia dari berbagai ras datang silih berganti. Underground juga cukup sering tampil di berbagai film Hollywood, salah satunya The Dark Knight Rises.

Lalu ada James Smith and Sons yang menjual suvenir payung dengan harga yang bisa bikin gue mengelus dada Chris Hemsworth. Tempat yang gue inget karena suatu kejadian yang melibatkan Goldilocks yang misterius dan V. Akhirnya gue bisa tersenyum pas baca suatu adegan “gara-gara payung Goldilocks” itu.

Windry piawai membuat cerita ini memorable. Ia memberi nama tokoh-tokohnya (kecuali Gilang, Ning, Ed, Mrs. Ellis dan Mr. Lowesley, juga beberapa tokoh minor seperti Ayu dan Finn) dengan nama tokoh fiktif seperti Brutus, Hyde, Dee and Dum.

Setelah membaca acknowledgement dari Windry, gue sadar bahwa nama tokoh Hyde bisa jadi diambil dari nama vokalis Laruku yang lagunya mengilhami cerpen cikal-bakal novel ini. Hyde-menurut keterangan penulis di novel-merupakan nama panggilan untuk salah satu tokohnya yang memiliki kepribadian ganda, seperti Dr. Jeckyll and Mrs. Hyde. Namun, gue menangkap Hyde-nya Laruku juga karena dia suka berpenampilan androgyny, sama-sama penganut dualisme. Interesting.

Satu lagi scene yang bikin gue senyum-senyum adalah waktu Ning bilang ia akan membuat steik a la Jamie Oliver. My husband loves it. Campuran oregano, rosemary dan lemon zest bikin steik jadi ‘unik’ rasanya. Heavenly tasty.

Lalu, Gilang mendeskripsikan rasa bibir Ning seperti sari apel ketika ia mimpi berciuman dengan Ning. Ooh la la, those lips do exist and I know how it tastes.

Novel London: Angel ini manis. Cocok dibaca saat hujan sambil menyesap hot choco ditemani CD-nya Lisa Onno. Walau pertamanya gue merasa kurang sabar dengan alurnya yang tidak terlalu cepat, namun gue sangat menikmati perjalanan Gilang, dengan atau tidak adanya Ning dalam adegannya.

Gue bisa cepat membaca novel ini karena hari ini kebetulan gue ikut casting. Sambil menunggu, gue baca dan habislah 170an halaman. Seneng kalau kemana-mana bawa buku, dijamin nggak akan mati gaya. Dan menunggu tidak lagi menjadi kegiatan yang menyebalkan.

quotes

Memangnya, kau bisa jatuh cinta kepada seseorang yang sudah kau kenal selama delapan tahun? (hal. 19)

Aku belajar dari Donalbein, kalau seorang lelaki tersenyum pada perempuan, pasti dia punya niat tersembunyi. (hal. 193)

Manusia memang tidak pernah belajar dari pengalaman. (hal. 212)

dream_cast
london

20130911-085212.jpg

Need a second opinion?

The Bookie Looker Review here
Ariansyah Abo Review here
Orinthia and Books Review here

Submitted for:

New Authors Reading Challenge here

IRRC 2013 here

STPCGA

Yuk, yang mau mendapatkan 3 paket novel serial #STPC @Gagasmedia @Bukune merapat kemari. Caranya gampang banget:

1. Follow akun @Gagasmedia @Bukune dan @WindryRamadhina

2. Twit link review + giveaway ini dengan kalimat seperti ini:

Mau dapetin paket novel #STPC dari @yuska77 @Gagasmedia @Bukune? Klik aja http://t.co/aYJmHOU8fN

3. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel London: Angel. Jangan lupa untuk mencantumkan:

Nama, akun twitter, dan email.

4. Setiap komentar yang kamu tinggalkan di tiap postingan dan twit selama proyek #STPC berlangsung akan mendapat 1 entry. Misalnya, kamu ngetwit link review + giveaway London juga meninggalkan komentar, maka kamu mendapatkan 2 entries.

5. Jangan lupa, besok ada postingan interview bersama Windry Ramadhina. So, stay tuned ya.

6. Giveaway STPC dimulai dari tanggal 1 September – 30 September 2013. Kamu bisa mengisi kolom komentar + tweet giveaway ini selama event STPC berlangsung.

7. Pengumuman pemenang tanggal 5 Oktober 2013

Good luck 🙂

20130330-114856.jpg

P.S. Lust and Coffee diundang untuk menghadiri acara London: Angel Tea Party pada hari Minggu. Nantikan liputannya ya ^^