Blog Archives

[Book Review] Dear Friend With Love by Nurilla Iryani

 

20130330-101646

 

Judul: Dear Friend With Love
Penulis: Nurilla Iryani
Penerbit: Stiletto Book
Terbit: Oktober 2012, Cetakan Pertama
ISBN: 978-602-7572-07-2
Jumlah halaman: 146
Kategori: Fiksi/Romance/Chick Lit

Book Blurb:

Katanya A Guy and A Girl can’t be just friends. Benarkah? How about Karin dan Rama?

Karin
“Delapan tahun! Itu bukan waktu yang sebentar untuk menunggu. Tapi yang aku dapat selama ini justru semua cerita saat aku jatuh cinta dengan puluhan wanita lain di luar sana. Puluhan wanita yang selalu berakhir membuatmu kecewa. Rama, sadarkah kamu, wanita yang nggak akan pernah mengecewakanmu justru berada di dekatmu selama ini? Aku.”

Rama
“Satu diantara seribu alasan kenapa gue nyaman bersahabat dengan Karin adalah ketidakwarasannya membuat gue tetap waras ditengah gilanya kehidupan Jakarta. Ya, dia adalah teman adu tolol favorit gue. Oh iya, gue punya satu lagi alasan: dia cantik banget, man! Nggak malu-maluin buat diajak ke pesta kawinan kalau gue kebetulan sedang jomblo. Paket komplit! “

Thoughts:

Sekarang lagi ‘in’ banget istilah friendzone di Twitter. Beberapa waktu lalu TL gue rame banget dengan istilah ini. Mungkin karena semakin banyak jomblo yang berusaha mencari jodoh sampe ke luar negeri segala, dan ternyata sosok yang dicari ternyata ada di depan mata. Ok, gue mulai nyeritain pemgalaman pribadi.

Novel ini hadir di saat yang tepat. Di saat friendzone sedang marak. Selain itu, novel ini asli kocak banget. Kalo lo lagi suntuk di tengah macet atau lagi ruwet dengan kompleksnya permasalahan di kantor atau kampus, baca deh. Dijamin terhibur.

First impression gue terhadap kedua tokoh utamanya: they’re so much alike. Dari cara becanda sampai bertutur kata, Karin dan Rama itu mirip. Dua-duanya konyol, spontan, dan ceplas-ceplos (selain seneng ngomong bahasa Inggris).

Dear Friend With Love memakai dua POV tokoh utamanya, Karin dan Rama. Pembaca jadi tahu apa isi hati dan pikiran kedua tokoh ini. Sedikit mengingatkan gue dengan Antologi Rasa-nya Ika Natassa, tapi beda rasa.
Yang jelas, penulisnya bisa jadi Rama dan Karin, sesuatu yang gue harus pelajari. Karena POV cowok itu susah banget.

Karin yang happy-go-lucky ternyata menyimpan rasa terhadap Rama. Walau di luar ia terlihat extrovert, bawel, dan ceplas-ceplos, saat mentok dengan perasaan, dia bungkam.

Sedangkan Rama ini tipe cowok bebal kurang peka yang nggak sadar kalau perempuan disampingnya mengharap dia menyatakan cinta.
Ada kesaman gue dengan Rama, sama-sama cinta dengan apple pie. Yang bikin agak empet dengan cowok ini adalah kenarsisannya. Bukan tipe cowok yang gue taksir 😀

Plot bergulir. Karin dijodohkan dengan teman masa kecil di Amerika, Adam. Tapi hatinya memang nggak bisa move on dari Rama. Perlahan tapi pasti, Rama sadar betapa pentingnya Karin bagi di dalam hidupnya.

Satu lagi yang bikin gue ngakak di novel ini. Ada tokoh minor namanya Tante Titi dan Adam. I’m a huge fan ofAdam Lambert. Dan sesama fans biasanya saling kenal. Ada satu kenalan gue namanya Titi dan dia gila segila-gilanya sama Adam Lambert. Nggak tahu ini kebetulan apa gimana, gue selalu ngakak tiap Adam dan Tante Titi ini nongol.

It’s a lightweight read but heavily entertaining. Untuk pembaca cepat, mungkin bisa habis dilahap dalam satu kali duduk.

20130330-114838.jpg

20130330-114856.jpg

[Book Review] Au Pair: Backpacking Keliling Eropa dengan Menjadi Babysitter by @ichayuz

20130202-054420.jpg

Judul: Au Pair: Backpacking Keliling Eropa dengan Menjadi Babysitter
Penulis: Icha Ayu
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan I
Terbit: Desember 2012
Jumlah Halaman: 232
ISBN: 9786027572096
Genre: Non-fiction/Travel/Memoir

Book blurb:

Pengin mahir berbahasa asing dan jalan-jalan keliling Eropa? Kenapa tidak coba ikutan program au pair?

Yup, au pair (baca: oper) adalah program yang memungkinkan semua orang dengan batasan usia tertentu bisa terbang ke Eropa dan mempelajari bahasa serta budayanya dengan bekerja sebagai baby-sitter. Selain mendapat gaji yang bisa dipakai untuk traveling, menjadi au pair juga akan menambah “nilai jual” kita setelah pulang ke tanah air.

Mau tahu caranya dan apa saja yang harus dipersiapkan? Di buku ini, akan dibahas secara lengkap all about au pair. Dari mulai cara daftarnya, memilih host family, membuat resume yang menarik, sampai tips dan trik jalan-jalan secara murah meriah di Eropa à la au pair. Bukan itu saja, di buku ini, penulis juga sharing pengalamannya ketika menjadi au pair di Prancis selama dua tahun.

Thoughts:

Pertama kali tau tentang buku ini dari twitter @Stiletto_Book . Langsung tertarik pengin beli karena: 
1. Settingnya di Eropa. Gue punya memori tersendiri dengan benua ini. 
2. Karena judulnya (pake bold dan caps lock) AU PAIR. Gue langsung melotot baca judul bukunya, karena gue pun punya pengalaman nano-nano dengan Au Pair.
3. Gue suka dengan buku yang memiliki tema Au Pair/Babysitter/Nanny. So far, gue udah baca dua buku Hollywood Nanny yang seru, tapi belum pernah baca buku tema ini dengan penulis orang Indonesia.

Asli gue ngiri berat sama Icha. Gimana nggak? Icha bisa berkelana 2 tahun di Eropa dan merasakan pahit getir hidup di sana. Dan yang paling bikin gue sirik adalah menikmati outdoor yang jarang banget bisa gue dapatkan di ibukota tercinta ini.

Menjadi Au Pair memang gambling. Sukur-sukur dapat keluarga yang asik. Segala harapan dan excitement Icha harus pupus ketika ia tinggal di rumah keluarga Abdul.
Gue bisa ngebayangin gimana seremnya tinggal di rumah itu. Mungkin lebih baik tinggal di kastil Count Dracule kali ya, secara itu kan tokoh fiktif, sedangkan a scumbag with the name Abdul itu nyata. Gue juga ikut emosi saat membaca detik-detik terakhir Icha dan Abdul bertemu.

Dan dari buku ini gue juga jadi tahu istilah couchsurfing dan wwoofing. Sounds like a dog *ngikik*.
Pas baca bagian wwoofing, gue jadi teringat cerita suami waktu kuliah di Perth. Waktu jalan mau piknik sama teman-temannya, di tengah jalan ada cewek Jepang hitchhiking. Dia cerita kalo dia itu sebenarnya turis yang kehabisan uang. Jadi dia kerja di fruit farm, sampe duitnya terkumpul, baru dia traveling lagi. Memang terdengar nekat, tapi fun karena bisa merasakan real adventure, and I miss that kind of adventure.
Menurut cerita si Jepang, banyak orang Jepang yang kerja sebagai waiter atau wwoofing di Australia. Kalo yang gila malah jual diri segala *knock on wood, amit-amit jabang babon yah*

Icha juga nekat ber-hitchhiking yang memang menurut gue sangat berani. Trust is the key word. Pake feeling juga supaya nggak dikerjai sama orang yang kita tumpangi.

Lalu, bab tentang Samuel bikin gue deg-degan. Ooh la la, ternyata memang ada apa-apanya. Gue belum baca buku pertama Icha. Setelah ini, gue bakal baca bukunya yang sepertinya nyambung dengan buku Au Pair ini.

Yang bikin gue held my breath adalah waktu Icha cerita kisahnya di Italia. Salah satu impian gue adalah mengunjungi Verona yang kebayang sangat romantis. Jujur, gue jauh lebih kepengen pergi ke Verona daripada Paris. Pernah lihat di channel TLC yang membahas kota Verona, dan gue langsung terpesona dengan keindahan kota kunonya. Yes, rumah Juliet juga salah satu situs wajib untuk dikunjungi.

Di akhir buku, gue ikut menitikkan air mata, langsung teringat dengan beberapa sahabat gue di Swiss. Hari terakhir waktu gue diantar ke stasiun, gue berpelukan sambil nangis.

Au Pair bukan hanya sekedar buku tips traveling ke Eropa, tapi ada kisah di dalamnya yang bikin gue nggak mau berhenti baca. Emosi gue ikut teraduk saat membaca buku ini. Ngakak, senyum-senyum, mengumpat dalam hati, melonjak, melotot, dan menangis. Belum pernah gue baca buku traveling sampe emosional bacanya. 

Thumbs up untuk penulisnya. Gue tunggu karya Icha selanjutnya.
Yang mau kenalan dengan Icha bisa say hi ke Twitternya, @ichayuz

20130202-062623.jpg

20130202-062810.jpg