Blog Archives

Staying Strong: 365 Days a Year Project Day 2

20140101-035055.jpgSaya tidak sempat meng-update blog karena ada kesibukan lain yang menguras pikiran dan tenaga. Yup, saya sedang merevisi novel saya yang mudah-mudahan bisa segera dirilis dalam waktu dekat. Dan, percayalah, proses revisi itu bikin saya jadi ingat waktu menyusun scientific writing sewaktu kuliah dulu.

Cukup ah curcolnya, hehehe. Di hari kedua ini, refleksi saya adalah sebagai berikut:

One’s destination is never a place, but a new way of seeing things. – Henry Miller

Saya pernah diberikan kesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat indah, baik di dalam maupun luar negri. Pada saat itu, saya agak jor-joran, memikirkan kesenangan saja selama traveling.

Saat ini, saya berada di dalam keadaan di mana saya tidak bisa bepergian jauh apalagi dalam waktu yang lama. Saya harus mengurus suami, anak dan rumah. Boro-boro ke Bandung atau, katakanlah, daerah Kota tempat dulu saya suka ngelayap untuk mencari makan waktu malam. Untuk ke mall saja agak sulit.

Padahal dulu saya sering melakukan impulsive traveling. Tiba-tiba meluncur ke airport sepulang kerja dan terbang ke Bali untuk menghabiskan weekend di kala penat.

Saya sering mengeluh, betapa saya merasa seperti berada di dalam tahanan, tidak bisa bebas pergi kemana saja saya suka, dan saya harus rela menjadi makhluk maya yang beredar di social media untuk bersosialisasi. Pathetic.

Saya sering diajak oleh ibu mertua saya mengunjungi panti werdha, karena beliau melakukan pelayanan di sana. Hati saya mencelos melihat opa-opa dan oma-oma yang tinggal bersama di tempat itu. Entah kemana anak-cucunya. Ada yang memilih untuk tinggal di sana, ada juga yang terpaksa karena anaknya tidak ingin repot mengurus orangtuanya. Ada juga yang tidak memiliki anak dan tidak pernah menikah, lalu terpaksa tinggal di sana.

Beberapa kali juga saya mengunjungi panti asuhan. Seperti kita tahu, anak-anak di panti asuhan tidak memiliki orangtua. Atau memiliki orangtua tapi keadaan membuat mereka berada di sana. Pastinya mereka juga jarang bepergian, melihat tempat baru, apalagi ke Bali atau liar negri. Bisa dikatakan hampir mustahil.

Saya sadar saya sering tidak bersyukur dengan keadaan saya. Tuhan sudah memberikan begitu banyak kebahagiaan pada saya, namun saya merasa kurang.

Sekarangpun, di kala saya tidak bisa bepergian, saya bisa membaca buku atau menonton TV kabel dengan variasi program. Saya terhibur, sekaligus belajar tentang hal baru. Saya masih memiliki orangtua lengkap (Puji Tuhan), ada ibu mertua yang menyayangi saya. Adik-adik saya juga begitu baik dan penuh perhatian. Suami saya juga menyayangi saya, siap membantu pekerjaan rumah tangga jika ART mudik, hehehehe. Dan, my biggest accomplishment, adalah anak saya, malaikat kecil yang super aktif, yang membuat saya sibuk setiap hari melarang ini-itu, mengomel, memeluk dan menciuminya tanpa penah bosan.

Mungkin saat ini saya tidak seberuntung orang-orang lain yang bebas pergi ke mana saja, namun kehidupan saya tidak miskin. Saya beruntung, dan saya harus bersyukur akan itu. (OK, sekarang saya malah jadi mellow ga keruan).

Jika kita sudah diberi berkat cinta, apalagi yang mau dicari?

Happy Friday dan semoga semua yang membaca postingan ini juga diberi kelimpahan cinta dan kasih sayang :’)

BTW (Back to Work).

20131128-083529.jpg

Staying Strong: 365 Days a Year Project Day 1

20140101-035055.jpg

Saya mendengar kalau Demi Lovato merilis buku. Saya pikir, Demi bakal menulis memoar, sama seperti seleb-seleb lain yang mengupas kehidupannya. Namun, ternyata buku ini berbeda.

Staying Strong: 365 Days a Year merupakan jurnal berisi refleksi diri, dimulai dengan kutipan inspirasional. Saya pertama kali melihat Demi Lovato di fiilm Camp Rock dan suka dengan suara dan penampilannya. Ternyata, di masa-masa Camp Rock, Demi berjuang dengan ketergantungannya dengan narkoba juga depresi karena ia juga dibully oleh para penggemar Joe Jonas yang mengata-ngatainya jelek dan tidak pantas menjadi lawan main Joe Jonas, apalagi pas publik tahu Demi dan Jonas juga pernah berhubungan.

Ok, cukup dengan Hollywood what not-nya.

Saya tidak akan langsung meresensi buku ini tapi saya ingin menjadikannya proyek refleksi saya selama tahun 2014. Untuk yang sudah membaca bukunya, di bawah kutipan ada refleksi Demi per hari. Dan saya akan melakukan hal yang sama.

Refleksi saya hari ini:

January 1

You are beautifully and wonderfully made.

God (if you believe in Him) created you, a perfect creation, His masterpiece.
I believe that everyone is beautiful and wonderful, inside and out.
Because you are beautiful and wonderful, God expects you to represent that beauty, inside and out.
You are expected to speak, think, and act beautifully.

I came to a realization that I’m that flawed that sometimes I forgot about that. I forgot to be thankful that I should act, think, and say beautifully. I sometimes curse and nag others and take it to social media. I made mistakes. I am weak. I surrender to anger and emotions.

I will do my best to act, speak, and think wonderfully, and treat others that way.

20130622-091605.jpg