Blog Archives

[Book Review] Brida by Paulo Coelho – Secret Santa

posting bareng BBI 2014book_infoBrida
Judul: Brida
Penulis: Paulo Coelho:
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Oktober 2013, Cetakan Keempat
Tebal: 232 halaman
ISBN: 978-979-22-9942-7
Kategori: Novel Fiksi Dewasa
Genre: Spiritual, Romance
Dapat dari: Secret Santa BBI 2013
Bisa dibeli di: KutukutubukuBukabukuBukukita
Harga: Rp. 38,250
Kalimat Pembuka:
Kami biasa duduk-duduk hingga larut malam di kafe di Lourdes.

book_blurbSemua orang memiliki “Takdir” yang harus dijalani.

“Tapi bagaimana caraku mengetahui siapa Pasangan Jiwa-ku?” tanya Brida.

“Dengan mengambil risiko kegagalan, kekecewaan, kehilangan arah, tapi tak pernah berhenti dalam pencarianmu menuju Cinta.”

Brida, dua puluh tahun, melemparkan pertanyaan yang paling penting ke dalam hidup kita, “Apa yang kaucari dalam kehidupan ini?”

Perjalanan yang mengisi jiwa untuk menemukan diri, dipenuhi cahaya yang mengagumkan!

thoughtsPertama-tama, saya harus mengucapkan terima kasih untuk Secret Santa yang mengirimkan buku ini. Sebenarnya ada 2 buku yang mendarat di rumah. Tapi, sekali lagi mohon maaf, review untuk buku satunya menyusul ya, karena bulan Januari ini saya masih disibukkan dengan merevisi novel saya.

Saya pertama kali berkenalan dengan karya Paulo Coelho tahun 2013 lalu.Reviewnya di sini. Saya jatuh cinta dengan karya beliau. Saya juga bertekad untuk mengoleksi buku-buku karya Coelho yang lain, salah satunya Brida, yang pernah masuk wishlist saya tahun lalu.

Dari bab awal saya sudah bisa menebak kira-kira isi buku ini tentang apa. Takdir dan pasangan jiwa. Adalah Brida O’Fern, perempuan yang bertugas mengurus satu bagian khusus di Jalan menuju Roma. Sewaktu muda, perempuan ini menemui Magus, seorang guru tradisi matahari yang hidup di suatu hutan di Irlandia, dan ia ingin mempelajari ilmu sihir. Alasannya karena ia ingin mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya selama ini. Saya agak kaget ketika membaca bagian ini, karena hal tersebut juga pernah saya alami sebelum saya menginjak usia 30 tahun. Magus bertanya pada Brida, apa ia rela mengorbankan semua yang telah ia pelajari, meninggalkannya jika ia bertemu dengan cinta sejatinya. Jawaban Brida adalah ia akan melepaskan segalanya.

Kemudian Brida bertemu dengan Wicca yang membantunya membuka tabir misteri dalam kehidupan Brida, tentang pasangan jiwa, juga tentang bagian diri Brida di masa lalu. Wicca berkata bahwa Brida adalah seorang penyihir dengan Bakat bisa menggunakan ingatan Waktu (kembali ke masa lampau).

Setelah menerima pelajaran dari Magus dan Wicca, Brida mengetahui tentang Loni, juga umat Cathar, yang diburu oleh penganut Katolik di abad 12 karena dianggap sesat atau selevel dengan gereja setan. Tidak ada penjelasan logis tentang bagaimana Brida bisa berada di masa lalu. Bahkan Brida tidak pernah tahu adanya kaum Cathar sebelumnya.

Brida memiliki kekasih, Lorens. Tapi dari awal cerita chemistry diantara keduanya tidak ada, karena pasangan jiwa Brida bukan pria itu.

Seperti biasa, karya Coelho mampu membuat saya terpikat, walau kali ini tokohnya bersentuhan dengan magis. Rangkaian kalimat indah bertebaran di buku ini. Bahkan, saya sampai bingung memilih kutipan favorit saking banyaknya.

Satu hal yang membuat saya merenung adalah adanya kalimat seperti ini:

Tuhan ada dalam perkataan, maka hati-hatilah ketika kau berbicara.

Memang benar, lidah lebih tajam daripada pedang. Perkataan bisa membuat orang bahagia, bisa juga membuat orang terluka. Saya merasa beruntung mendapat kesempatan untuk membaca buku ini, karena banyak pelajaran yang bisa saya ambil, sekaligus pengingat agar saya bisa menjaga perkataan agar tidak menyinggung orang lain.

Gara-gara buku ini saya jadi membayangkan berada di dalam hutan di Irlandia seperti ini:

Ir-frst
Source: here

Juga karena Brida menyukai musik Iron Butterfly, saya jadi mencarinya di Youtube. Bukan tipe musik yang saya dengarkan setiap hari. Not bad though.

Namun, ada hal yang agak mengganjal batin saya. Karena saya percaya Tuhan (walau tidak religius), saya berpikir okultisme dan kepercayaan pada Tuhan adalah hal yang bertentangan, seperti minyak dan air. Menurut Magus, penganut Tradisi Matahari bersekutu dengan Tuhan dalam doa. Mengutip satu ayat dalam alkitab, “You shall not permit a sorceress to live.” (Exodus: 22:18). 

Secara keseluruhan, saya menikmati buku ini dan saya sengaja membacanya lambat-lambat karena ingin menikmatinya. Saya akan ingat dengan Santa saya, karena buku ini settingnya di Irlandia, negara favoritnya ^^

quotesSemua jalan berujung ke Roma. (hal. 11)

Dalam hidup, setiap orang bisa mengambil satu dari dua sikap: membangun atau menanam. (hal. 12)

Ketika kaau menemukan jalanmu, kau tidak boleh takut. Kau harus memiliki keberanian yang cukup untuk melakukan kesalahan. Kekecewaan, kesalahan, dan keputusasaan adalah alat-alat yang digunakan Tuhan untuk menunjukkan jalan pada kita. (hal. 23)

Kau bisa menemukan Pasangan Jiwamu dengan melihat cahaya di mata mereka. (hal. 41)

Memilih satu jalan berarti harus kehilangan jalan-jalan lain. (hal. 90)

20131125-062111.jpg

Need a second opinion?

Annisa Anggiana here
Indri here

SS4

Setelah rembukan, nanyak-nanyak sama teman-teman Bajaj Jaboers di WA, akhirnya saya menuduh mbak Linda sebagai Secret Santa saya.

Terima kasih banyk ya sudah mengirim dua buku wishlist *terharu*

Postingan riddle SS ada di sini

Moga-moga saya bisa ikutan event SS tahun ini lagi ^^

20131128-083529.jpg

[Book Review] Tuesdays with Morrie by Mitch Albom @Gramedia

book_info

20131222-115311.jpg

Judul: Tuesdays with Morrie (Selasa Bersama Morrie)
Penulis: Mitch Albom
Edisi: Terjemahan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juli 2011, cetakan kedelapan
Tebal: 209 halaman
ISBN: 978-979-22-5021-3
Kategori: Non Fiksi
Genre: Spiritual, Biografi
Dapat dari: Astrid
Bisa dibeli di: Bukabuku Harga: IDR 34,000
Kalimat pembuka:
Kuliah terakhir dalam hidup sang profesor yang sudah berusia lanjut itu berlangsung sepekan sekali di rumahnya di dekat jendela ruang kerja tempatnya dapat menikmati keindahan kembang sepatu yang bunganya merah jambu.

book_blurb

Bagi kita mungkin ia sosok orangtua, guru, atau teman sejawat. Seseorang yang lebih berumur, sabar, dan arif, yang memahami kita sebagai orang muda penuh gelora, yang membantu kita memandang dunia sebagai tempat yang lebih indah, dan memberitahu kita cara terbaik untuk mengarunginya. Bagi Mitch Albom, orang itu adalah Morrie Schwartz, seorang mahaguru yang pernah menjadi dosennya hampir dua puluh tahun yang lampau.

Barangkali, seperti Mitch, kita kehilangan kontak dengan sang guru sejalan dengan berlalunya waktu, banyaknya kesibukan, dan semakin dinginnya hubungan sesama manusia. Tidakkah kita ingin bertemu dengannya lagi untuk mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaan besar yang masih menghantui kita, dan menimba kearifan guna menghadapi hari-hari sibuk kita dengan cara seperti ketika kita masih muda?

Bagi Mitch Albom, kesempatan kedua itu ada karena suatu keajaiban telah mempertemukannya kembali dengan Morrie pada bulan-bulan terakhir hidupnya. Keakraban yang segera hidup kembali di antara guru dan murid itu sekaligus menjadi sebuah “kuliah” akhir: kuliah tentang cara menjalani hidup. Selasa Bersama Morrie menghadirkan sebuah laporan rinci luar biasa seputar kebersamaan mereka.

thoughts

Surprised banget ternyata saya salah satu pemenang 2nd prize di blognya Astrid dalam rangka November Bloghop kemarin. Langsung aja saya nodong Astrid untuk menghadiahkan saya dua buku Mitch Albom: Tuesdays with Morrie dan Five People You Meet in Heaven. Terima kasih banyak ya, Astrid, untuk hadiah Natalnya :’)

Sebenarnya saya punya buku Tuesdays with Morrie yang saya beli dari OL Shop buku bekas. Namun, setelah diperiksa, bukunya ternyata buku jabakan. Saya paling nista membaca buku jabakan, nggak napsu. Setelah mendapat buku cetakan barunya, saya semangat banget membacanya.

Tuesdays with Morrie adalah buku kedua karya Mitch Albom yang saya baca tahun ini. Sebelumnya, saya membaca Have a Little Faith (review di sini).

Mirip dengan buku Have a Little Faith, buku ini membahas tentang makna hidup dari kacamata orang yang akan meninggal. Buku ini nggak terlalu tebal, namun membuat saya merenung panjang tentang hal sia-sia yang sudah saya lakukan selama ini.

Morrie Schwartz adalah seorang dosen senior yang disukai oleh para mahasiswanya di Brandeis University. Kelas sosiologinya kerap penuh oleh mahasiswa yang ingin mendengarkan kuliahnya. Tidak seperti dosen ilmu eksakta yang setelah selesai kuliah, tidak ada perpanjangan kontak, tidak demikian dengan Morrie. Seperti malaikat, ia bertindak sebagai perantara kasih orang-orang yang datang kepadanya untuk meminta bantuan.

Mitch Albom merupakan salah satu mahasiswa Morrie yang sudah lama hilang kontak dengannya. Mitch tidak sengaja menonton acara TV yang menyiarkan wawancara Morrie, dan segera ia mengontak sang guru tersebut.
Setiap hari Selasa, Mitch kembali belajar, dibimbing oleh Morrie yang kondisi fisiknya sudah sangat lemah.

20131222-014327.jpg

Pic from here

Morrie mengajarkan tentang berbagi dengan sesama, meluangkan waktu dengan orang-orang yang kita kasihi, pasrah dan menerima keadaan dan diri kita yang sekarang, bukan diri kita di masa lampau, juga belajar untuk membentuk budaya kita sendiri.

Budaya konsumerisme dan sosial media yang semakin mempersempit ruang interaksi dengan sesama manusia di dunia nyata adalah budaya yang salah, dan saya setuju. Saya semakin merenungkan tentang segala kesia-siaan yang saya lakukan.

Morrie juga mengajarkan tentang pentingnya memaafkan diri sendiri sebelum memaafkan orang lain. Saya kembali merenungkan tentang hubungan saya dengan beberapa orang yang dulu pernah dekat namun sekarang jadi jauh. I really want to reach to them and make things better. Semoga saja bisa.

Buku-buku Mitch Albom seperti antidote dari novel-novel fiksi yang saya baca, baik genre thriller mau pun romance. Rasanya seperti diguyur air dingin setelah membaca buku ini.

Satu hal lagi yang saya anggap penting yang saya petik dari buku ini adalah sehebat apapun seseorang, ia pasti memerlukan seorang guru. Seorang guru adalah orang yang bisa melihat kekurangan kita tanpa menghakimi, dan membimbing agar kita bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.

quotes

Yang paling penting dalam hidup adalah belajar cara memberikan cinta kita, dan membiarkan cinta itu datang. (hal. 55)

Sesungguhnya, begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, itu sama dengan belajar tentang bagaimana kita harus hidup. (hal. 87)

Ketika orang memanipulasi kita, membujuk kita membeli parfum tertentu supaya kita tampil menawan, atau membeli celana jeans yang akan membuat kiya tampak seksi—kemudian kita mempercayai orang-orang ini! Padahal semua omong kosong. (hal. 125)

20131125-062111.jpg

Until next time ^^

20131128-083529.jpg

[Book Review] The Fifth Mountain by Paulo Coelho @Gramedia

book_info202535899_largeJudul: The Fifth Mountain (Gunung Kelima)
Penulis: Paulo Coelho
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: September 2013
Tebal: 320 halaman
ISBN: 978-979-22-9838-3
Edisi: 25th Anniversary
Kategori: Novel
Genre: Sastra, Spiritual, Historical Fiction
Beli di: Bazaar Gramedia @ Giant Bintaro Sektor 7
Harga: IDR 20,000
Kalimat pertama:
Pada awal tahun 870 S.M., negeri bernama Fenisia, yang oleh bangsa Israel disebut Lebanon, telah hampir tiga abad berdiri dalam damai.

book_blurbBuku ini mengisahkan percobaan-percobaan yang dialami Nabi Elia yang ketika itu berusia 23 tahun. Merasa terancam oleh Ratu Izebel yang hendak membunuhnya, Elia melarikan diri dari Israel ke kota Akbar yang indah, menumpang di rumah seorang janda dan anak laki-lakinya. Ketika kota itu terancam peperangan, Elia berseru pada Tuhan agar menyelamatkan kota itu dan penduduknya, tapi Tuhan seakan tidak mendengar. Ketika dia meminta Tuhan menyelamatkan perempuan yang dicintainya, Tuhan pun seakan memalingkan muka tak peduli. Segala pencobaan ini membuat Elia mempertanyakan kasih dan kemurahan hati Tuhan, dan mendorongnya mengambil satu keputusan: menentang Tuhan sampai Dia memberikan jawaban.

Meski cerita ini diambil dari cuplikan episode di Alkitab, temanya bersifat universal, yakni membahas hubungan antara manusia dengan Tuhannya, dan betapa pentingnya iman serta harapan. Seperti Elia, saat kemalangan datang silih berganti, kita pun sering kali bertanya-tanya, “Kenapa ini terjadi pada saya?” “Kenapa Tuhan tidak mendengar doa saya?”Ada orang-orang yang menjadi lebih kuat setelah mengalami kemalangan, ada pula yang langsung menyerah dan tak mau bangkit lagi. Ada yang jadi meninggalkan Tuhan, Ada pula yang jadi lebih dekat dengan Tuhan.

Tema itulah yang diangkat oleh Paulo Coelho dalam The Fifth Mountain dengan sangat menyentuh. Seperti buku-buku Coelho lainnya, The Fifth Mountain adalah buku yang memberikan inspirasi bagi para pembacanya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

thoughtsSetelah membaca buku Mitch Albom, saya seperti diseret untuk membaca lagi buku spiritual. Pilihan saya adalah buku The Fifth Mountain, yang menurut banyak anak BBI bagus.

Bab dibuka dengan adegan Elia bersama orang Lewi yang bersembunyi di kandang kuda selama dua hari. Saat itu awal tahun 870 S.M. di Fenisia (Lebanon). Raja Ahab memperistri putri Izebel dari Tirus yang menyembah Baal. Setelah ratu naik tahta, ia menginginkan semua rakyat Fenisia menyembah Baal untuk menggantikan Allah Israel. Hadiah diberikan kepada orang-orang yang mau meninggalkan Tuhan untuk mrnyembah Baal. Orang-orang yang menolak tawaran tersebut diburu lalu dibunuh, termasuk Elia.

Sejak kecil, Elia dapat mendengar suara malaikat dan diberikan penglihatan. Ketika ia bekerja di bengkel tukang kayu, tiba-tiba pandangannya gelap. Ia mendengar suara kuasa yang besar yang mengatakan bahwa Fenisia akan mengalami kekeringan yang panjang, namun semua akan berubah kalau orang-orang berhenti menyembah Baal.

Elia, seorang nabi, memberitahukan kabar tersebut kepada raja. Ketika Elia memyampaikan hal tersebut pada raja, yang mendengarkan dengan saksama adalah ratu Izebel.

Setelah itu, Izebel meminta raja Ahab untuk memburu nabi dan membunuhnya karena dianggap berbahaya.

Ketika prajurit utusan Ahab diperintahkan untuk membunuh Elia, Tuhan tidak mengijinkan adanya pembunuhan tersebut. Sebanyak empat ratus lima puluh nabi tewas terbunuh, sementara busur yang ditujukan kepada Elia nyasar. Elia selamat, namun ia harus meninggalkan desa Gilead untuk menyelamatkan diri.

Dalam pelariannya, Elia bertemu dengan gagak dan janda miskin yang menjadi penolongnya. Menurut perkataan malaikat, jika janda tersebut menolong Elia, maka janda tersebut tidak akan kekurangan makanan hingga turun hujan.

Berita tentang kedatangan Elia terdengar hingga ke telinga imam agung kota Akbar. Elia dipersilahkan untuk tinggal di sana setelah mendengar bahwa Elia adalah penyembah Allah Yang Esa yang sedang diburu oleh ratu Izebel. Menurut mereka, harga kepala Elia sangat mahal, jadi mereka akan menyerahkannya pada pemimpin Fenisia itu suatu hari nanti.

Ketika anak si janda miskin jatuh sakit, penduduk Akbar berpendapat itu gara-gara si janda yang menerima kehadiran Elia. Dewa-dewa penunggu puncak Gunung Kelima murka. Elia berdoa tiada henti, memohon kesembuhan anak itu. Namun, anak tersebut tak kunjung pulih.

Si janda memohon kepada Elia agar ia memyembuhkan anaknya. Si janda tahu bahwa kepala Elia sangat mahal dan ia bersumpah akan meloloskan Elia melalui rute rahasia yang diketahuinya. Si janda juga berjanji jika Elia berhasil menyembuhkan anaknya, ia akan ikut menyembah Tuhan. Keajaiban datang, anaknya mulai bergerak. Tak lama kemudian anak itu mati.

Penduduk kota Akbar membawa Elia ke hadapan Imam Agung untuk diadili. Elia dianggap membawa kutuk bagi anak si janda. Elia diminta untuk menaiki Gunung Kelima untuk memohon kepada dewa-dewa di sana. Jika dewa tidak memurkainya dan Elia berhasil turun gunung, maka Imam Agung yang akan menghakiminya. Sesuai tradisi, jantung Elia akan direnggut dan kepalanya akan dipenggal. Menurut kepercayaan kuno, orang yang jantungnya direnggut tidak bisa masuk surga.

Iring-iringan Elia menuju Gunung Kelima mengingatkan saya akan peristiwa iring-iringan Yesus menuju bukit Golgota. Ia menerima hinaan, demikian juga Elia. Ia dilempari batu dan dihina oleh penduduk kota Akbar.

Elia bertanya kepada Tuhan tentang kemalangan yang dideritanya. Ia telah melaksanakan perintah-Nya, namun Tuhan masih mengambil nyawa anak itu. Ketika Elia mendaki menuju puncak, seberkas cahaya turun ke arahnya. Cahaya tersebut adalah malaikat utusan Allah. Ia menyuruh Elia untuk turun gunung dan meminta kepada Tuhan untuk menghidupkan anak itu sebanyak tiga kali.

Sesuai janji malaikat tersebut, anak itu membuka matanya dan menemui ibunya. Pelayat di rumah si janda beserta pengawal takjub, lalu mereka semua berlutut. Namun mereka tidak percaya bahwa Tuhan yang menghidupkan anak itu, melainkan para dewa penghuni Gunung Kelima.

Elia kembali mengalami dilema. Ia tidak tahu caranya untuk memberitahu orang-orang tentang mukjizat dan kekuasaan Tuhan. Malaikat kembali berbicara kepadanya untuk bertahan dan tetap memuliakan Tuhan walau hingga ia kembali ke ke desanya, tidak akan ada keajaiban yang akan terjadi lagi karena Tuhan membutuhkan Elia untuk membangun Israel kembali.

Buku ini sarat perenungan. Orang suci seperti Elia bisa ragu, takut, frustrasi, menyumpahi, galau, dan meninggalkan Tuhan karena Elia merasa Tuhan hanya memberikan penderitaan padanya dan orang-orang disekitarnya. Elia bahkan merasa Tuhan meninggalkannya, apalagi ketika kota Akbar hancur berkeping-keping karena serangan bangsa Asyur.

Saya sempat bertanya apakah semua nabi galau? Reaksi teman-teman di Twitter rata-rata mengatakan iya. Nabi adalah manusia juga yang merasakan fase keragu-raguan, apalagi menyangkut kepentingan umat manusia. Seperti halnya Elia, yang kadang kurang peka terhadap perkataan dan perintah Allah.

Buku ini membuat saya belajar untuk menerima semua cobaan yang diberikan Tuhan. Saya mencoba untuk melihat cobaan tersebut bukan dari kacamata penderita atau korban, tetapi dari sisi yang memberikan cobaan tersebut. Ada kalanya teguran keras dan cobaan justru malah membuat kita menjadi ‘runcing’ dan ‘halus’, seperti pensil yang diraut. Prosesnya menyakitkan, namun setelahnya kita menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Rangkaian kata yang disusun Coelho juga indah, sangat indah. Iman adalah hal yang luar biasa, dan Coelho mampu merangkainya jadi lebih indah lagi.

Doa-doa yang dipanjatkan juga hendaknya bukan doa-doa yang egois. Saya tersentuh dengan Elia yang berdoa tiada henti demi kesembuhan anak si janda dari kota Akbar. Tuhan menyukai doa-doa tulus.

Saya jadi ingin membaca semua buku karya Paulo Coelho dan mengoleksinya. Kelak saya akan mewariskan buku-buku tersebut kepada AJ.

quotes

Hampir semasa hidupnya, manusia tidak berkuasa membuat keputusan. (hal. 36)

Jiwa manusia, seperti halnya sungai dan tanaman, juga membutuhkan hujan, meski dari jenis berbeda: harapan, keyakinan, alasan untuk hidup. (hal. 38)

Sering kali nasib manusia tidak ada kaitannya dengan keyakinannya ataupun ketakutan-ketakutannya (hal. 83)

Memang tidak ada seorang pun yang mempunyai kekuatan. Tapi semua orang memiliki kekuatan dari Tuhan, dan tidak menggunakannya. (hal. 87)

Dari segala macam senjata penghancur ciptaan manusia, yang paling berbahaya-dan paling kuat-adalah kata-kata. (hal. 92)

Adat-istiadat gunanya untuk mengatur dunia ini. Kalau kita mengotak-atiknya, dunia ini akan berantakan. (hal. 111)

Tuhan mendengarkan doa orang-orang yang minta dijauhkan dari kebencian. Tapi Dia menulikan diri dari orang-orang yang hendak melarikan diri dari cinta. (hal. 125)

20131206-071243.jpg

Need a second opinion?

Althesia
Dicta

Until next time ^^

20131128-083529.jpg

[Book Review] Petals From The Sky by Mingmei Yip

book_infopetals

book_blurb

Di usia kedua puluh tahun, Meng Ning memutuskan untuk menjadi biksuni (pendeta wanita agama Buddha) dan langsung ditentang keras oleh ibunya. Di mata beliau, kehidupan membiara tak jauh-jauh dari penderitaan: tak ada kebebasan, hidup tanpa cinta dan daging. Tapi, dimata Meng Ning, menjadi biksuni adalah kesempatan berharga untuk memegang kendali penuh atas takdir hidupnya, dan menikmati sepuas-puasnya belajar musik, seni, puisi – sesuatu yang tidak ditawarkan oleh ikatan perkawinan.

Ditemani mentornya, Yi Kong, Meng Ning akan menghabiskan sepuluh tahun belajar di luar negeri, membiasakan diri hidup selibat, dan mempersiapkan diri untuk hidup membiara. Namun, sebuah insiden kebakaran membelokkan takdirnya ke situasi yang benar-benar berbeda.

Meng Ning jatuh cinta

thou-ghts

Terinspirasi oleh temannya, Yi Kong, Meng Ning memutuskan untuk menjadi biksuni di usia yang masih muda. Ibunya melarangnya. Ia yang menganggap putrinya berparas cantik, mengharapkannya untuk hidup layak dan menikmati kemewahan yang seharusnya ia dapatkan, selain menikahi pria tampan yang mapan.
Namun keputusan Meng Ning sudah bulat. Ia memutuskan untuk menjadi seorang biksuni. Alasannya, ia ingin terbebas dari kekuasaan pria yang menghancurkan, mendapat spiritualitas, mengendalikan kehidupan dan nasibnya sendiri, juga dapat menjalani kehidupan dalam puisi, kehidupan mistis, dan kedewian.

Musim panas 1987, sebelum terjadi Black Monday, yaitu ketika pasar saham dunia hancur lebur, Meng Ning yang sudah berusia tiga puluh tahun dan calon penerima gelar Ph.D dalam bidang sejarah seni Oriental dari salah satu universitas di Sorbonne, Prancis, mengunjungi Kuil Fragrant Spirit untuk melakukan ibadah menyepi selama tujuh hari dan merasakan pengalaman sebagai biksuni sementara. Sebuah insiden memalukan membuatnya berkenalan dengan seorang pria asing bernama Michael Fuller, dan mereka curi pandang saat makan siang dalam kebisuan.
Teman lama Meng Ning, Yi Kong, menjadi pembicara tamu di kuil tersebut. Setelah sekian lama berpisah, mereka bertemu kembali lewat tatapan mata.
Terjadi kebakaran yang disebabkan oleh seorang anak yatim secara tak sengaja. Michael menyelamatkan Meng Ning dan yang lainnya. Timbul perasaan di hati Meng Ning.
Setelah kejadian itu, Michael mengajak Meng Ning berkencan, namun Meng Ning masih menutupi kedekatannya dengan Michael dari ibunya.

Menggunakan alur maju-mundur, Meng Ning menceritakan tentang orangtuanya yang kerap bertengkar karena ayahnya suka berjudi, lalu Meng Ning yang terjatuh ke dalam sumur. Di situlah ia bertemu dengan Yi Kong, seorang biksuni yang dipercaya oleh penduduk desa sebagai titisan dari dewi Kwan Im. Lalu diceritakan juga bagaimana ayah dan ibu Meng Ning bertemu (yang sesungguhnya menarik jika dibuat novel spin-off-nya).

Sebelum Michael kembali ke New York, ia meminta Meng Ning untuk menemaninya menonton opera Cina. Ditengah-tengah pertunjukan, Michael menyodorkan secarik kertas berisi haiku dan ajakan untuk menikah. Meng Ning yang masih bimbang langsu mengatakan tidak. Michael mendapat kabar bahwa profesor Fulton masuk rumah sakit di Lhasa. Dan ia segera berangkat ke sana.

Untuk beberapa saatm Michael menghilang dari peredaran. Meng Ning diminta Michael untuk menemuinya di New York. Di sana, Meng Ning bertemu dengan Lisa, mantan tunangan Michael, yang juga putri dari profesor Fulton. Dan Philip, mantan kekasih Lisa yang juga teman dekat Michael, memikat Meng Ning dengan pesonanya. Bersama Lisa dan Philip, Meng Ning dibawa untuk berpetualang menjelajahi area tabu yang selama ini tidak pernah dibayangkannya.

Banyak ajaran Buddha yang membuat gue mengerti kenapa seorang penganut agama Buddha tidak mengkonsumsi hewan. Alasannya karena pembunuhan makhluk hidup apa pun akan menghadilkan karma yang buruk. Karena umat Buddha percaya reinkarnasi, dan manusia bisa bereinkarnasi menjadi hewan, bisa saja ayam, sapi, ikan yang kita makan adalah keluarga atau kerabat kita. (Asli jijay banget pas baca bagian ini).

Lalu, ada adegan Michael dan Meng Ning menonton opera Cina. Tahun lalu gue baca novel Farewell My Concubine-nya Lillian Lee yang kental dengan opera Cina. Satu keinginan gue belum tercapai: nonton opera Cina. Harus kesampean. Selain itu, gue juga pengin nyobain nginep di biara, pengin ngerasain hidup zen.

Petals from the Sky bercerita tentang cinta dari berbagai sudut pandang. Setiap tokoh, baik tokoh utama maupun tokoh minor memiliki jalur cinta yang manis, mengesankan, juga scandalous. Setiap tokohnya juga memiliki rahasia yang bikin shocked. Novel ini untuk konsumsi dewasa, kenapa nggak ada labelnya?

Kesimpulan, Petals from the Sky adalah roman yang manis dan gue suka banget. Alurnya yang maju mundur ditulis dengan apik, tidak ada plot yang bolong. Bukan hanya menyajikan cinta, namun filosofi ajaran Buddha dengan segala kesederhanaannya membuat Petals from the Sky begitu sarat dengan perenungan. Lalu, budaya Cina seperti penghitungan tanggal baik untuk menikah, seserahan dalam pernikahan, juga tata cara pemberian warisan membuat novel ini semakin kaya. Walau masih ada sedikit typo, namun tidak mengurangi keindahan alur kata yang ada di dalamnya.
Gue agak heran kenapa novel ini underrated.
Untuk penggemar Asian Lit, baca deh.

quo-tes

Sebenarnya banyak banget kutipan indah dari buku ini, tapi gue share sebagian aja ya.

Apakah kau ingat pada putri kakek buyutmu, yang masuk biara karena dicampakkan oleh tunangannya? Ia tak lagi memiliki harga diri; tak punya nama, tak punya teman, tak punya rambut. (hal. 3)

Secara logika, apalah bedanya antara kepala yang botak dan kepala yang memiliki tiga-ribu-helai-masalah? (hal. 5)

Sesuai dengan kepercayaan kuno Cina yang menyatakan bahwa jika seseorang mewariskan uang kepada putrinya, maka uang itu pada akhirnya akan hilang di tangan keluarga lain. (hal. 8)

Terkadang melihat dan memercayai sekali pun tak membuatku berhasil menemukan kebenaran. (hal. 37)

Orang Cina menyebut rasa makanan vegetarian sebagai “rasa janda” – seperti mati rasa karena telah kehilangan orang yang disayangi. (hal. 43)

Lepaslah dari cinta manusia. Itu ilusi. (hal. 96)

Masakan Zen memberikan tiga kebaikan: kemurnian, kesegaran, harmoni. Itulah sebabnya kita vegetarian. Karena makanan yang mengandung daging akan mengacaukan hati dan pikiran kita, tidak menyisakan tempat untuk disiplin dan refleksi diri. (hal. 405)

booktrack

Tomorrow Will Be Better by Various Artist
Don’t Say Goodbye by Alan Tam
Don’t Dream It’s Over by Crowded House
I Knew You Were Waiting (For Me) by Aretha Franklin & George Michael

 

20130323-114025.jpg
20130322-091443.jpg