Blog Archives

Meet the Author: Sefryana Khairil @Gagasmedia

20130819-105102.jpgmeet_the_authsefry

Seperti janji saya kemarin, hari ini kita akan berbincang sedikit mengenai novel Tokyo: Falling di balik layar bersama Sefryana Khairil.

Simak wawancaranya berikut di bawah ini.

tokyo

 

Kenapa memilih Tokyo sebagai setting untuk novel serial STPC ini?

Sebenarnya, nggak kepikiran bakal nulis Tokyo, tapi pilihannya hanya ada itu. Bingung juga sih pas ditawarin. Belum kebayang mau nulis apa tentang Tokyo. Tapi, aku merasa tertarik banget karena ini hal baru buatku. Selama ini kan aku nulis latarnya di Indonesia dan lebih banyak ngambil tempat di Jakarta,

Bagaimana cara Sefry menciptakan karakter Thalia dan Tora? Apakah keduanya murni karakter rekaan atau ada inspirasi dari tokoh nyata?

Campuran antara nyata dan rekaan. Hihihi.

Ide tokoh Thalia itu muncul pas ketemu anak kecil, namanya Thalia (namanya aku pinjam. :p). Aku kepikiran mau nulis tokoh yang kekanakan, bawel, agak polos, dan punya ego cukup besar.

Kalau tokoh Tora, aku terinspirasi seorang teman. Dia wartawan dan fotografer lepas. Orangnya cuek dan santai, termasuk penampilan. Waktu ketemu dan ngobrol, aku jadi tertarik menggabungkan karakter seperti ini dengan Thalia. Jadilah tokoh Tora. Profesi, gaya, dan karakter dari teman aku itu, selebihnya aku kembangin sendiri.

Thalia kan suka motret, Sefry juga hobi fotografi. Apakah tokoh Thalia gambaran Sefry sendiri?

Bukan. Mungkin karena aku suka motret dan konflik utama Tokyo ada pada lensa kamera, jadi yang keluar dari kepalaku hal-hal tentang fotografi. 😀

Berapa lama proses penulisan novel ini?

Proses penulisannya satu bulan. Revisi satu bulan. Risetnya yang lama sampai tiga bulan. Jadi proses penulisannya kira-kira lima bulan.

Bisa diceritakan proses riset novel Tokyo: Falling secara singkat?

Sebelum menulis, biasanya aku ngumpulin data-data dulu. Untuk Tokyo aku ngumpulin data dari internet, buku panduan traveling, peta jalur kereta dan jadwal kereta di Tokyo, video-video dari YouTube, juga kebetulan ada teman di Tokyo yang bisa aku tanya-tanya. Baru setelah itu terkumpul, aku mulai nulis.

Setelah selesai nulis, aku kasih naskah ke teman aku di Tokyo, buat ngecek lokasi dan detailnya. Terus aku minta bantuan Yoana Dianika (penulis Last Minute in Manhattan) buat koreksi bahasa Jepang. Kebetulan dia dari Sastra Jepang (makasih ya, Yo).

Apa yang Sefry sukai dari Tokyo?

Buatku, Tokyo itu romantis. Romantis yang manis, seperti di manga-manga ataupun drama-drama Jepang. Tokyo secara keseluruhan aku suka, salah satunya transportasi. Kalau ada rezeki dan kesempatan, aku mau ngerasain nyebrangin laut ke Odaiba naik Yurikamome kayak Tora dan Thalia. Amiiin. 😀

Ada kejadian menarik selama proses penulisan novel Tokyo: Falling?

Ada. Pas pertengahan nulis, aku sempet kena writer’s block dua minggu karena belum dapet feel cerita. Aku nonton film-film Jepang. Dengerin lagu-lagu Jepang. Makan masakan khas Jepang. Sampai ngobrol sama orang Jepang. Pas udah merasa kebawa aura Jepang :p, baru lanjutin nulis lagi.

Seandainya Tokyo: Falling difilmkan, siapa yang cocok untuk memerankan:

Hmm…

Thalia: Michelle Ziudith

Tora: Ario Bayu

Cocok nggak sih? :p

Cocok kok, hehehehe. Apa proyek selanjutnya yang akan Sefry kerjakan?

Aku sedang menulis naskah domestik drama yang latarnya juga di luar negeri. Amerika, tepatnya.

Punya lagu favorit yang bisa didengarkan ketika membaca novel Tokyo: Falling?

Lagu-lagu Ayumi Hamasaki. Yang paling favorit judulnya Progress.

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^ Ditunggu karyanya ya, Sef.

Oiya, yang mau mendapatkan novel Tokyo: Falling, bisa ikutan kuisnya di sini

Selamat hari Kamis ^^

20131105-024143.jpg

[Book Review + Giveaway] Tokyo: Falling by Sefryana Khairil @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

tokyoJudul: Tokyo: Falliing

Seri: Setiap Tempat Punya Cerita # 6

Penulis: Sefryana Khairil

Penerbit: GagasMedia

Terbit: Oktober 2013

Tebal: 338 halaman

ISBN: 9789797806637)

Kategori: Novel Fiksi

Genre: Romance, Travel Lit

Beli di: Kutukutubuku Rp. 37,100

Kalimat pertama:

Setelah mengambil gambar pintu masuk festival, Thalia menurunkan Canon 7D yang menggantung di lehernya.

book_blurb

Pembaca tersayang,

Musim panas di Tokyo selalu memiliki banyak warna. Sefryana Khairil, penulis Sweet Nothings dan Coba Tunjuk Satu Bintang mengajak kita berkeliling negeri sakura bersama dua wartawan bernama Thalia dan Tora.

Keduanya dipertemukan oleh sebuah lensa. Lalu, Danau Shinobazu membuka mata keduanya tentang bahwa kenyataan sering sekali berbeda dengan asumsi mereka pada awalnya. Thalia dan Tora berbagi tawa dan saling menyembuhkan. Hingga mereka sama-sama ragu, benarkah semuanya hanya sekadar kebetulan? Atau ini adalah satu dari misteri Ilahi yang mereka belum temukan jawabannya?

Setiap tempat punya cerita.
Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari timur yang sarat akan aroma lembut bunga sakura.

Enjoy the journey,

EDITOR

thoughtsTokyo: Falling merupakan karya Sefryana Khairil pertama yang saya lahap. Sebelumnya saya mendengar dari teman-teman pembaca tentang karyanya yang banyak disukai. Sudah lama saya memang ingin membaca novel Sefry, dan baru kali ini kesampaian, bertepatan dengan event STPC yang belum selesai di blog Lust and Coffee.

Di novel ini, Sefry menyuguhkan tema fashion dan majalah dengan setting Tokyo. Saya penyuka fashion (walau bukan fashionista atau pengikut trend mutakhir) juga Jepang. Waktu mendengar kabar tentang akan dirilisnya novel Tokyo: Falling, tentu saya antusias dan sangat menantikan kehadiran novel ini.

Adalah Thailia, seorang fashion editor di sebuah majalah perempuan di Indonesia yang pertama kali berkunjung ke Tokyo untuk meliput pameran fashion international. Lalu, ada Tora, redaktur pelaksana majalah LiveLife, terbang ke Tokyo untuk membereskan persoalan yang belum selesai.

Bertubrukan, Thalia marah kepada Tora yang membuat lensa kameranya retak. Terpaksa mereka berbagi lensa karena waktu yang mepet, ditambah Thalia yang rese ingin Tora mengganti lensanya yang limited edition.

Thalia semnagat ke Tokyo karena kekasihnya, Dean, bertugas di Tokyo. Alih-alih bertemu atau sekadar meluangkan waktu berbincang saat makan malam, Dean bagai hantu, menghilang ditelan kabut Tokyo. Sedangkan Tora mencari kepastian dari (mantan) kekasihnya, Hana, yang keputusannya membuat Tora syok berat.

Berdua Tora dan Thalia bertualang mencicip soba, ramen, hingga berbelanja ke butik Liz Liza, Ueno Zoo, hingga berdesakan di kereta bawah tanah.

Sefry piawai merangkai kata demi kata dengan indah. Terkesan romantis namun tidak berlebihan (karena saya bukan penggemar romance mendayu-dayu). Karakter pendukungnya juga bikin gemas. Seperti Dean yang nggak jelas keberadaannya bagai Casper, dan Hana yang awalnya tegas menyuruh Tora untuk menjauhinya, namun tiba-tiba malah meminta bertemu. Ada juga Alvin dan istrinya, Mikami, yang bisa berbahasa Indonesia dengan logat Jepang yang lucu.

Masih ditemukan typo:

Penasaran denga selera musik Thalia (hal. 118) <– dengan

Bibirnya keduanya mengulas senyum (hal. 180) <– Bibir keduanya

It doesn't matter who hurt you or broke you down. What matter is who make you smile again (hal. 89)

— It doesn't matter who hurt you or broke you down. What matters is who made you smile again.

Love is just a word yet it is an indescribeable feeling (hal. 231)

— Love is just a word yet it is an indescribable feeling

Minumnya sudah habis saat berkeliling. (hal. 281) <– minumannya

Di halaman 296 yangseharusnya bicara Dean tapi tercetak Tora.

Thali mengembangkan sebuahsenyum. (hal. 320) <– Thalia

So far typonya masih bisa ditolerir, tidak mengganggu atau mengubah esensi ceritanya sama sekali.

characterThalia

Manja, tipikal perempuan kosmopolitan. Ditambah dengan profesinya sebagai fashion editor yang menuntutnya tampil modis dan ditempeli barang branded. Walau manja, cranky, dan, tidak mau susah dan agak jutek, Thalia berhati lembut. Anehnya, walau saya tidak menyukai tipe perempuan seperti Thalia, karakter Thalia tidak menyebalkan. Agak gemes sih dengan kenaifannya setiap kali menghadapi Dean, tapi nggak sampai menyebalkan.

Tora

Cowok banget, cuek, rada berantakan, nggak peduli fashion, namun perhatian dan, sama seperti Thalia, hatinya lembut dan mudah terenyuh di hadapan perempuan yang ia cintai. Tora juga tipe setia, rela berkorban dan pelindung. Walau rada cuek, Tora suka pakai parfum juga sih, dan saya penyuka cowok wangi.

Tokyo: Falling menjadi penutup seri STPC dengan manis. Setelah membaca novel ini, saya jadi tersenyum dan ada perasaan hangat, seperti cuaca musim panas di Tokyo.

Nggak sabar menunggu karya Sefry selanjutnya.

quotesAku takut nggak bisabikin orang yang aku sayang bahagia. (hal. 225)

Mungkin ada kalanya cinta butuh jarak. Bukan untuk berpisah, tapi untuk menguji besarnya cinta itu sendiri. (hal. 242)

20130923-121407.jpg

GA1

Siapa yang mau mendapatkan satu buah novel Tokyo: Falling? Caranya mudah saja.

Isi Rafflecopter di bawah ya dan ikuti petunjuknya.

Rafflecopter

Periode giveaway berlangsung dari tanggal 20 November – 15 Desember 2013. Pengumuman pemenang tanggal 17 Desember 2013.

Good luck ^^

20131105-024143.jpg

Jangan lupa, besok ada sesi wawancara dengan Sefryana Khairil tentang novel Tokyo: Falling 🙂