Blog Archives

[Book Review] Pasung Jiwa by Okky Madasari

book_infore_news_picture_50Judul: Pasung Jiwa
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Mei 2013
Tebal: 328 halaman
ISBN: 978-979-22-9669-3
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Sastra Indonesia, Sosial Budaya
Beli di: Mbak Maria
Harga: Rp. 41,250
Kalimat pembuka:

Seluruh hidupku adalah perangkap.

book_blurb

Apakah kehendak bebas benar-benar ada?
Apakah manusia bebas benar-benar ada?

Okky Madasari mengemukakan pertanyaan-pertanyaan besar dari manusia dan kemanusiaan dalam novel ini.

Melalui dua tokoh utama, Sasana dan Jaka Wani, dihadirkan pergulatan manusia dalam mencari kebebasan dan melepaskan diri dari segala kungkungan. Mulai dari kungkungan tubuh dan pikiran, kungkungan tradisi dan keluarga, kungkungan norma dan agama, hingga dominasi ekonomi dan belenggu kekuasaan.

thoughts

Senang rasanya bisa selesai membaca novel yang menjadi salah satu finalis Khatulistiwa Literary Awards 2013. Novel ini juga diusulkan Indah link ada di sini

Terus terang saya agak kebingungan mau menulis apa, saking bagusnya buku ini. Banyak isu yang diangkat dalam Pasung Jiwa, diantaranya LGBT, hubungan anak dengan orangtua, bullying, perlakuan anggota militer zaman Orba, premanisme berkedok agama, juga persahabatan.

Sasana, anak dari ayah yang berprofesi sebagai pengacara, dan ibu yang bekerja sebagai dokter bedah, memiliki kehidupan yang membuat orang iri. Ia bersekolah di sekolah ternama, mendapat pendidikan non-formal di bidang musik (Sasana mahir bermain piano sejak usia dini), dan fasilitas mewah lainnya. Namun, semua itu tidak membuat hidupnya bahagia. Ia merasa terkurung dan kebebasannya terkubur.
Suatu hari, ia mendengar keramaian di dekat rumahnya. Rupanya ada pertunjukan dangdut yang ramai dikunjungi oleh orang kampung. Sasana terpana. Ia tersedot dalam ekstase musik dan goyang dangdut. Sejak saat itu, Sasana merasa dangdut adalah bagian dari kepribadiannya.

Ketika orangtua Sasana memergokinya sedang asyik berjoget dangdut di tengah penonton, ia disuruh pulang dan diinterogasi. Musik dangdut resmi di-banned di rumah itu. Sasana harus menahan diri untuk tunduk dengan peraturan orangtua dan belajar sebaik-baiknya agar menyenangkan ayah ibunya.

Hiburan Sasana adalah adiknya, Melati, yang cantik dan lucu. Diam-diam Sasana merasa iri dengan adiknya yang berpenampilan cantik dengan baju-baju berwarna-warni menarik.

Di sekolah barunya yang homogen, Sasana menjadi dipukuli oleh gank anak-anak pejabat. Ia dianiaya secara fisik dan dimintai uang sebagai biaya member gank. Ternyata, anak-anak kelas satu lainnya juga mendapat perlakuan serupa.
Ketika Sasana mendapat luka parah karena dikeroyok gank tersebut, ibunya murka dan meminta ayah Sasana untuk membawa kasus ini ke ranah hukum. Tak berdaya karena masalah kekuasaan, Sasana pindah ke sekolah heterogen di mana ia bisa bergaul dengan lebih aman dan nyaman.

Menginjak bangku kuliah, Sasana pindah ke Malang. Di sana ia tidak menyelesaikan pendidikannya. Ia memilih DO dan bergabung bersama Cak Jek, orang yang ia kenal di warung Cak Man, dan kemudian mereka membentuk duo dangdut dan ngamen ke mana-mana. Sasana memilih dipanggil Sasa karena ia mengubah penampilannya menjadi feminin. Ia juga bertemu dua anak kecil yang menjadi bagian dari grupnya.

Berbagai peristiwa terjadi membawa duka dan trauma. Untuk mencari arti kebebasan, Sasa dan Cak Jek harus menempuh perjalanan berliku dan menyakitkan.

Pasung Jiwa adalah novel pertama karya Okky Madasari yang saya baca dan saya langsung terpikat. Plotnya mengalir lancar, menggunakan POV pertama dari sudut pandang Sasana/Sasa dan Jaka Wani (Cak Jek). Tidak ada kata-kata indah dalam novel ini, tapi menohok dan membuat saya merenung tentang banyak hal, terutama kebebasan yang menjadi tema utama novel ini. Seperti kata pepatah, Freedom is an illusion, kebebasan sejati mungkin tidak akan pernah terjadi karena kita hidup di dunia ini, dalam tatanan sosial yang terbentuk dari berbagai peraturan, mulai dari aturan orangtua, agama, sekolah, juga pemerintah. Yang melanggar peraturan atau menolak untuk tunduk dianggap mengancam stabilitas tatanan tersebut, bahkan dianggap tidak waras.

Saya sempat menitikkan airmata di beberapa bagian, terutama waktu Sasana di-bully dan tidak mendapat keadilan, sewaktu ibunya memilih untuk tinggal bersamanya, juga sewaktu ia disiksa dan dilecehkan di markas koramil.

Tokoh Jaka Wani juga digambarkan sebagai provokator, ahli persuasi. Dari seorang pengamen, buruh pabrik, nelayan hingga ketua Laskar Malang, Jaka juga mencari arti hidupnya sendiri, merasa terpenjara karena keadaan.

Masih ditemukan beberapa typo, namun tidak mengurangi esensi cerita.

Pasung Jiwa mengambil setting waktu pra dan paska kejatuhan Suharto, menggambarkan kekuasaan militer dan pejabat yang berlaku sewenang-wenang.

Saya tak sabar ingin membaca karya Okky Madasari yang lain.

Reight Book Club General Discussions:
1. First impression
Cover Pasung Jiwa sangat mewakili temanya, yaitu kebebasan individu yang terkungkung.

2. How did you experience the book?
Tidak perlu waktu lama untuk menyelami karakternya. Saya langsung terhanyut di beberapa halaman pertama.

3. Characters
Sasana berubah menjadi Sasa dan Cak Jek juga mengubah namanya yang tadinya Jaka Wani menjadi Jaka Baru karena mereka bertumbuh.

4. Plot
Plotnya mengalir lancar dengan alur maju.

5. POV
Dari sudut pandang pertama, dinarasikan oleh Sasana/Sasa dan Jaka Wani.

6. Main Idea/Theme
Tentang kebebasan individu.

7. Quotes
Pagi adalah awal kehidupan. (hal. 103)

8. Ending
Cukup memuaskan untuk saya.

9. Questions
Stay tuned di blog ini besok ya, ada wawancara dengan penulisnya 🙂

10. Benefits
Pasung Jiwa membuat saya merenungkan banyak hal, tentang kebebasan individu yang sebenarnya juga penghakiman berdasarkan kebenaran kolektif.

 

20131125-062111.jpg

Until next time ^^

20131128-083529.jpg

[Book Review] The Ocean at the End of the Lane by Neil Gaiman @Gramedia

book_info

20130906-074303.jpg

Judul: Samudra di Ujung Jalan Setapak (The Ocean at the End of the Lane)
Penulis: Neil Gaiman
Penerbit: GPU
Terbit: Agustus 2013, Cetakan Pertama
ISBN: 978-979-22-9768-3
Jumlah halaman: 264
Kategori: Novel Fiksi Terjemahan
Genre: Fantasi, Horror, Supernatural
Beli di: Bukabuku.com seharga Rp. 42.500
Kalimat pertama: Aku memakai jas hitam dan kemeja putih, dasi hitam dan sepatu hitam, semuanya licin mengilap: biasanya pakaian begini membuatku tidak nyaman, aku serasa memakai seragam curian, atau pura-pura menjadi orang dewasa.

book_blurb

Samudra di Ujung Jalan Setapak adalah fabel yang membentuk ulang kisah fantasi modern: menggugah, menakutkan, dan puitis—semurni mimpi, segetas sayap kupu-kupu, dari pencerita genius Neil Gaiman.

Kisahnya dimulai empat puluh tahun silam, ketika pemondok di rumah keluarga sang Pencerita mencuri mobil mereka dan bunuh diri di dalamnya. Peristiwa ini membangkitkan kekuatan-kekuatan purba yang seharusnya dibiarkan tak terusik. Makhluk-makhluk gelap dari dunia seberang kini lepas, dan sang Pencerita harus mengerahkan segala daya upayanya agar bisa bertahan hidup: ada kengerian yang nyata di sini, dan kuasa jahat yang terlepas—di dalam keluarganya dan dari kekuatan-kekuatan yang bersatu untuk menghancurkannya.

Yang bisa melindunginya hanyalah tiga perempuan yang tinggal di pertanian ujung jalan. Perempuan yang paling muda menyatakan kolam bebeknya adalah samudra. Perempuan yang paling tua mengaku pernah menyaksikan peristiwa Ledakan Besar.

thoughts

Gue membeli dan membaca buku ini karena buku ini adalah bacaan bulan Agustus Reight Book Club.

Mengintip WW anak-anak BBI, banyak banget yang menginginkan buku ini. Terus terang, gue penasaran juga. People rave about this book, so I think it must be something. Hingga akhirnya gue berkesempatan untuk membaca buku ini. Sejujurnya, membaca The Ocean at the End of the Lane adalah pengalaman yang tidak terlupakan. Tidak terlupakan karena I was tortured while reading it, seriously. Setiap adegan di mana si John Doe (<the unnamed boy from the book) disiksa atau tersiksa, begitu juga perasaan gue saat membacanya. Yep, gue tersiksa membaca buku ini. Bukan karena buku ini jelek, bukan karena genrenya fantasy/horror/supernatural, juga bukan karena keabsurdannya, tapi buku ini benar-benar menyiksa gue.

Adalah John Doe, pria yang tidak disebutkan namanya, atau aku (I prefer calling him John Doe), menghadiri pemakaman entah siapa (yang pasti orang dekat karena dia memberikan eulogy), menyetir mobilnya secara impulsif ke tempat di mana ia menghabiskan masa kecilnya yang suram.

Ia berhenti di depan jalan setapak menuju rumah Lettie Hempstock, teman masa kecilnya yang aneh, karena ia suka berhubungan dengan makhluk-makhluk supernatural.
Setelah itu, John Doe teringat akan kejadian-kejadian aneh yang dialaminya ketika kecil. John Doe yang menemukan koin tiba-tiba bangun tersedak koin dan memuntahkan darah. Lalu, telapak kakinya kemasukan cacing. Setelah cacing itu dikeluarkan, muncul perempuan jahat yang melamar kerja sebagai pengasuh John Doe dan adiknya. Ibu John Doe berkata, Ursula hanya meminta upah tempat tinggal dan makan saja, which is odd. Ketika John Doe menolak untuk makan makanan yang dibuat oleh Ursula Monkton, ayahnya murka hingga menenggelamkan John Doe di bath tub yang dingin. Seolah-olah ayahnya dirasuki oleh pengaruh Ursula yang tidak suka John Doe.
Semua kejadian aneh itu terjadi setelah seorang pria penambang opal yang menyewa kamar di rumah keluarga John Doe ditemukan tewas bunuh diri di mini van milik ayah John Doe. Lettie berkata, peristiwa itu adalah ignition dari kejadian mengerikan yang akan terjadi.
Memang benar, gue dibawa ke tempat gelap dan suram di mana wujud asli Ursula terlihat. Lalu, John Doe juga bisa menikmati alam samudra ketika Lettie mengajaknya ke sana. Lalu, ribuan burung-burung pemangsa datang untuk mencabik-cabik Ursula.

Adegan yang paling bisa gue nikmati adalah ketika John Doe lari dari rumah menuju kediaman Hempstock. Terasa sekali cara bertutur Gaiman yang lugas dan rangkaian kalimatnya bisa membawa gue ke tempat itu, ikut lari bersama John Doe.

Di luar keabsurdannya, yang gue tangkap dari novel ini adalah tentang pemikiran anak-anak yang kerap tidak dipahami orangtua. Dan orangtua yang selalu merasa benar sering memaksakan kehendak kepada anak. Well, at least ada yang bisa gue petik dari novel ini.
Selain itu, gue juga menyukai banyak quotes Gaiman dari buku ini.

Baru membaca setengah buku ini, tadi malam gue bermimpi tentang orang yang mati tenggelam, lalu bangun lagi dengan pribadi yang sangat berbeda. Apakah gara-gara membaca buku ini gue bermimpi seperti itu? I don’t know.

The Ocean at the End of the Lane mengingatkan gue akan:
Twilight
Ketika Joe Dohn bertanya pada Lettie, berapa lama kamu berumur sebelas tahun, exactly like Bella asked Edward about his age. You know that famous quote ‘how long have you been seventeen’ right?

American Horror Story Season 1
Ketika Ursula, yang notabene adalah pengasuh, bergenit ria dengan ayah John Doe, hingga ayah John Doe menidurinya. Mirip dengan adegan hantu pelayan tua bermata picek bernama Moira yang di mata si peran utama pria, Ben, adalah wanita cantik berambut merah dan mereka bercinta, kemudian dipergoki oleh istri Ben, Vivien.

The Ocean at the End of the Lane is about your childhood’s worst nightmares, your fears, and strenght to get the courage to fight it.

I’ve tried so hard to like the book, unfortunately, my dislike overshadows my like. Can’t help it. No offense, Gaiman’s fans. I know your leader is a genius, but he fails to impress me.

quotes

Biar bagaimana pun, buku-buku lebih aman daripada manusia. (hal. 8)

Rasanya aku tidak pernah bertanya tentang apa pun pada orang dewasa, kecuali kalau sangat terpaksa. (hal. 72)

Maka kularikan anganku ke dalam buku. Ke sanalah aku pergi kalau kehidupan nyata terasa sangat berat, atau tidak fleksibel. (hal. 88)

Buku-buku adalah para guru dan penasihatku. (hal. 113)

Ayah-ibuku merupakan satu kesatuan, tak terpisahkan. (hal. 117)

Kalau orang dewasa bertarung dengan anak-anak, orang dewasa selalu menang. (hal. 128)

Kalimat yang agak aneh setelah diterjemahkan:

“Oh, puding-dan-pai-yang-manis, kau dalam masalah besar.” (hal. 122)
Mungkin aslinya “Oh, my sweet-pudding-pie, you’re in a big trouble.” Cmiiw 🙂
Gue jadi inget lagu Georgie Porgie yang liriknya kaya gini:
Georgie Porgie puddin’ and pie, kiss the girls and made them cry.
Kebetulan nama asli John Doe adalah George.

OK, let’s go to the points of discussion:

First Impression
Suka dengan covernya yang mewakili judulnya. Namun font judul dan nama penulis keriting bikin lieurbacanya. Mungkin maksudnya ingin menggambarkan isinya yang disturbing dan absurd. Judulnya juga OK banget. Biar panjang kalimatnya, namun catchy

How did you experience the book?
Below my expectations. I was tortured like hell. I couldn’t enjoy it at all. Well, perhaps only 20% of it.

Characters
John Doe masih tetap linglung ketika digiring ke rumah Hempstock ketika ia dewasa. Gue nggak mau menebar spoiler di sini. Namun, kurang lebih ya begitu deh. Nggak ada perubahan berarti.

Plot
John Doe bercerita tentang pengalaman masa kecilnya yang tidak terlupakan. Menggunakan alur flashback, ia berkisah tentang the Big Bang yang terjadi pada saat itu. Dua hari yang gue perlukan untuk membaca buku ini.

POV
TOATEOTL memggunakan single POV, diceritakan dari sudut pandang John Doe.

Main Idea/Symbolism
Inti ceritanya adalah tentang ketakutan masa kecil. Banyak banget simbol yang digunakan Gaiman. Misalnya: adegan koin adalah simbol dari manusia yang rakus akan uang. Lalu, adegan John Doe yang bisa bernapas di bawah air menurut gue adalah simbol dari segala ketakutan akan sirna jika kita yakin pada diri sendiri. Lalu, seperti yang sudah ditulis di atas, orangtua yang gagal paham dalam mencerna pemikiran anak, dan anak yang takut mengutarakan pikiran dan perasaan pada orangtua. Seperti ada tembok raksasa yang menghalangi kedua kubu.

Ending
Endingnya ya begitulah. Nggak mengecewakan juga sih.

Questions
1. Apa maksud hantu si penambang opal waktu melempari adik John Doe dan teman-temannya dengan uang?
2. Apa juga maksud dari si Ursula menginstall jalan keluar di tubuh John Doe? Kenapa harus dia? Apa salah John Doe kepada Ursula?

Benefits
Sebagai orangtua, gue nggak boleh otoriter. Gue harus mendengarkan maunya anak. Jika ada pertentangan, cari solusi. Itu aja sih yang gue dapat dari novel ini.

20130330-114838.jpg

Need a Second Opinion?

Astrid. Review here

A Fancy Read. Review here

Submitted for

Reigh Book Club August Read-along here

New Authors Reading Challenge here

Until next time 🙂

20130330-114856.jpg

*Note: This book is for sale for 35K. Email me at: miss_yuska@yahoo.com if you’re interested.

[Book Review] Notasi by @Miss_Morra @Gagasmedia

book_infonotasi

book_blurbRasanya, sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung.
Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya; tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.

Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.

Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi.
Dan aku mendekap erat-erat kata-kata itu, menanti dalam harap.
Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya.
Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu…

thoughtsNotasi mengambil setting kejadian saat reformasi pecah. Memori gue masih sangat tajam mengingat peristiwa itu.
1998, suatu hari gue terjebak tidak bisa pulang ke rumah. Para mahasiswa dari universitas lain berhenti di depan kampus kami. Banyak yang turun ke jalan Jend. Sudirman, berorasi, meneriakkan agar Soeharto turun. Lalu, terdengar tembakan, ada asap bergulung di depan kampus. Chaotic banget.
Banyak teman yang melakukan demo di gedung MPR. Gue tidak ikut. Alasan gue karena gue tidak suka berpolitik, gue juga tidak suka terkena asap, apalagi tembakan nyasar dari petugas. Banyak yang berdemo, sudah terwakilkan, gue nggak perlu ke sana.

Lalu terjadi pengrusakan, penjarahan, dan pemerkosaan. Berminggu-minggu gue hanya diam di rumah. Bokap juga nggak bisa kerja. Masa itu keadaan kami sulit. Bahan makanan juga sudah habis. Kami hanya bisa makan mie instan, bahkan dijatah sehari dua kali. Miris lah kalau inget kejadian saat itu.

Ketika kembali ke kampus, keadaan sudah sangat berbeda. Banyak teman ras Tionghoa yang tidak kembali ke kampus. Ada kabar, mereka pindah ke Amerika dan Australia. Sedih banget dengernya. Beberapa tahun setelah reformasi lewat, gue pernah mendapat kabar dari seorang teman. Ia bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kakinya lagi ke Indonesia. Efek traumatisnya sedemikian dahsyat. Gue ingat, banyak toko dipilox dengan tulisan ‘Milik Pribumi’, nggak penting karena WNI semuanya pribumi menurut gue. Gue benci dengan <em>racism</em>, sampe gue pernah takut untuk mengaku keturunan Cina. Duh, jadi pengin nangis lagi kalo inget diskriminasi/<em>racial slurs</em> yang gue terima sampe gue pernah dianiaya secara fisik (dan verbal) oleh orang tak dikenal gara-gara isu ras.

Balik lagi ke Notasi, gue sama sekali buta dengan keadaan pra dan pasca reformasi di Jogja. Namun, deskripsi Morra mampu membuat gue bisa mengira-ngira seperti apa suasana di sana.
Dan, Chiclets, memorable banget, salah satu permen kesukaan gue selain Chelsea.

Beberapa nama yang ngetop di era Soeharto, seperti Petrus, juga dibahas di novel ini. Jadi ingat tentang cerita seseorang yang pernah bekerja dengan mantan orang nomor satu di Indonesia itu. Soeharto dijuluki <em>’Smiling General</em>, jarang bicara namun mengerikan. Ia pernah berkata, sebaiknya kita tersenyum di depan (musuh kita), lalu tanpa musuh tahu, kita habisi ia di belakang.
Mungkin Soeharto mempelajari buku Tsun Zu’s Art of War ya. Juga majalah Tempo yang dibredel ketika menampilkan cover dengan gambar Soeharto yang ditempel kartu remi.

Nalia, mahasiswi kedokteran gigi yang ayahnya adalah mantan dekan teknik pertanian, terlibat dalam organisasi radio mahasiswa di kampusnya. Karena itulah ia bertemu dengan Nino, mahasiswa fakultas teknis yang menarik perhatiannya.
Kedua fakultas tersebut ‘bermusuhan’. Radio Jawara milik fakultas teknik tidak memiliki izin siaran. Demikian juga dengan Gama FM milik fakultas kedokteran. Singkat cerita, mereka jadi dekat karena aktif di BEM. Sebuah penyerangan saat berlangsung acara di kampus membuat keduanya menjadi semakin dekat. Ada oknum militer yang menyusup di antara penonton dan membuat huru-hara di UGM, gara-gara salah satu karya tulis yang masuk menyinggung presiden. Ciri khas Orba, tidak boleh menghina presiden. Namun, lambat laun, hubungan Nalia dengan Nino semakin dekat. Ketegangan antarfakultas juga melemah karena keadaan membutuhkan mereka untuk bersatu.

Singkat cerita, novel ini bercerita tentang kisah cinta masa lalu yang masih mengganjal.

Masih ada typo di:

Hal. 4: sertalaki-laki
Hal. 8: siarantanpa.
Hal. 8: gelap, Sayang.Ini sudah malam. (ga pakai spasi)
Hal. 9: hari yang cerah,Puncak Merapi … (ga pakai spasi)
Hal. 20: universitasperiode
Hal. 28: mahasiswaTeknik
Hal. 28: membuatkumengerti
Hal. 37: setelah ini,enggan berlama-lama
Hal. 38: Tengkutahu itu
Hal. 40: itubelum
Hal. 42: suarak (mungkin seharusnya suaraku)
Hal. 45: hargaberbagai
Hal. 50: Kecepatannya rendah.Kendaraan itu
Hal. 53: padatahun-tahun
Hal. 53: laki-lakiawal
Hal. 53: baying-bayang
Hal. 55: memengaruhinyasama
Hal. 56: kurasakania
Hal 59: banyak mata mata terarah kepadanya
Hal. 64: kampuskota
Hal. 74: Iaberpaling
Hal. 87: telahmereka
Hal. 93: tahukampanye
Hal. 93:.orang.Apalagi
Hal. 103: Mahasiswayang
Hal. 108. jera.Mungkin

Sebenarnya masih banyak lagi typo yang terdeteksi, namun gue ribet juga kalo nyatetin semuanya. Semoga kalau dicetak ulang sudah bersih dari typo 🙂

quotesJangan menangis di depan korban saat kamu menjadi relawan. (hal. 4)

Sebelum kalian bentak-bentak anak orang seolah mereka paling bodoh sedunia, pastikan kalian sudah berprestasi dulu. (hal. 33)

Kemarahan orang-orang terhadap kinerja presiden negara sudah semakin menjadi – sebuah potensi ledakan besar yang tampaknya hanya tinggal menunggu waktu. (hal. 45)

Saat-saat istimewa dalam hidup kita selalu datang tanpa peringatan. ( hal. 52)

Di bawah tekanan emosi rasa takut, marah, sedih, atau jatuh cinta, semua orang pasti menunjukkan warna asli mereka. (hal. 58)

Bahwa sejak pertama negeri ini berdiri, yang diwariskan kepada Presiden Sukarno adalah sisa-sisa perang yang hampir tak dapat dibangun lagi. (hal. 133)

Diskusi untuk Reight Book Club:

1. First Impression

Covernya vintage banget. Gue suka.

2. How did you experience the book?

Terus terang, gue perlu waktu untuk memahami karakter beserta motif dan posisinya serta hubungannya antara dengan satu dengan yang lain. Memasuki halaman 60-an, gue baru ‘mudeng’. Morra piawai memasukkan kalimat yang quotable dan kata-katanya juga indah. Puitis, sedikit nyastra namun nggak mendayu-dayu. This is my first experience with Morra.

3. Characters

Nino itu tipe cowok likeable. Auranya misterius, tinggi, dan manly banget.

Nalia ya cewek banget, yang impulsif dan lebih mengedepankan perasaan daripada logikanya. Agak mengesalkan juga sebenarnya si Nalia ini.

Tokoh-tokoh pendukungnya tidak terlalu dalam digali, ya namanya juga figuran. Morra sepertinya bisa bikin spin off deh dengan menampilkan Tengku dan Lin Lin. Tema percintaan yang beda memang banyak, namun gue masih penasaran dengan cara pengangkatan Morra.

4. Plot

Plotnya menarik, isu yang diangkat tentang radio memang belum banyak digali oleh penulis di sini. Terus terang, ini novel ketiga yang gue baca yang mengangkat tema radio, namun Notasi memang paling detil. Alurnya agak lamban, membuat gue menerka-nerka tentang arah ceritanya. Tokoh utamanya bercerita secara flashback ketika ia kembali ke Yogyakarta, lalu memori di kampus muncul, lalu ia bercerita tentang cinta lamanya.

5. POV

Notasi diceritakan dari sudut pandang Nalia. Novel ini menggunakan single POV.

6. Main Idea/Theme

Tema reformasi memang selalu menarik untuk digali, namun sedikit menakutkan bagi gue. Pengalaman buruk saat itu memang bikin gue selalu bergidik kalau mendengar kata reformasi, tahun 1998, kejatuhan Soeharto. Menurut gue, tema radionya yang lebih menarik minat gue, karena Morra memberikan detil cara mendirikan radio dengan baik dan benar. Sejarah radio juga dibahas sedikit.

7. Quotes

Cek bagian quotes di atas 🙂

8. Ending

Gue sempat bertanya-tanya tentang Nino dan Faris, tapi terjawab kok di bab terakhir. Setiap orang punya takdirnya masing-masing 🙂

9. Questions

Mor, dapat ide tentang reformasi dan radio itu gimana ceritanya? Lalu, tokoh-tokohnya semua rekaan atau duplikat dari yang benar-benar ada?

Lalu, berapa lama butuh waktu untuk observasi dan menulis novel Notasi?

10. Benefits

Yes, banyak banget benefit membaca buku ini. Selain mempertajam memori tentang peristiwa tahun 1998 itu, gue juga belajar merangkai diksi yang asik, juga jadi tahu tentang sejarah radio. I’m a sucker for history. Peristiwa Malari tahun 1974 juga dibahas, membuat gue jadi kepengin baca buku-buku sejarah terbitan Komunitas Bambu.

Well, done, Mor. Ditunggu buku selanjutnya ^^

20130330-114838.jpg

20130330-114856.jpg