Blog Archives

[Book Review] Warna Langit by Kim Dong Hwa

book_info

20131128-094248.jpg

Judul: Warna Langit (Trilogi Warna #3)
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Editor: Tanti Lesmana
Illustrator: Kim Dong Hwa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Agustus 2011
Tebal: 328 halaman
ISBN: 978-979-22-6525-5
Kategori: Novel Grafis
Genre: Family, Sex Ed, Romance, Korean Culture
Beli di: Bukabuku.com
Kalimat pertama:
Apakah kau benar-benar harus pergi?

book_blurb

Ehwa, yang telah menjelma menjadi wanita muda yang penuh percaya diri, kini berada dalam situasi seperti yang dialami ibunya: menantikan kekasihnya. Ibunya mengharapkan kembalinya si tukang gambar, sementara Ehwa memandang bulan yang sama seperti yang dipandangi tunangannya, Duksma, petani yang pergi ke laut untuk mencari peruntngan agar dapat menikahi Ehwa.

Goresan Kim Dong Hwa yang indah dan bahasanya yang teramat puitis menciptakan potret intim kedua wanita yang tumbuh dan berbah namun tak pernah berkurang cintanya terhadap satu sama lain.

thoughts

Akhirnya sampai juga di buku ketiga trilogi Warna ini. Adegan dibuka di stasiun. Ehwa mengantarkan Duksam yang pergi untuk sementara untuk mencari nafkah. Si bandot tua Cho yang jahat ingin menyingkirkan Duksam karena is dianggap sebagai penghalang cintanya dengan Ehwa (benar-benar nggak tahu diri si tua bangka itu).

Ehwa yang patah hati selalu menunggu kembalinya Duksam. Hingga orang yzng dinantikannya datang pada awal musim salju turun. Duksam mengajaknya menikah.

Ibu Ehwa langsung sibuk menyiapkan keperluan untuk Ehwa. Saya suka dengan penjelasan tentang pesta adat Korea.

Namun, saya kurang menyukai seperempat awal buku ini karena Ehwa digambarkan genit. Agak mengganggu membaca karakter Ehwa yang seolah hidup untuk dihinggapi laki-laki.

Bagian yang paling mengharukan adalah ketika ibu Ehwa melepas kepergian Ehwa yang akan dipinang Duksam. Saya jadi ingat malam sebelum menikah. Sedih rasanya harus berpisah dari orang tua.

Warna Langit adalah penutup trilogi Warna yang manis. Dan, buku ini paling hardcore dibandingkan dengan dua buku pendahulunya. Ada adegan seks yang dilakukan oleh sepasang tua bangka di kampung Duksam.

Saya masih ingin membaca novel grafis karya Kim Dong Hwa.

quotes

Konon berada di tengah samudera lebih berbahaya daripada maju ke medan perang. (hal. 123)

Kau bisa menyembunyikan sesuatu dari dunia, tapi kau tidak dapat menyembunyikan sesuatu dari waktu. (hal. 247)

20130923-121407.jpg

Until next time

20130330-114856.jpg

[Book Review] Sepeda Merah by Kim Dong Hwa

book_info

20131114-084329.jpg

Judul: Sepeda Merah: Yahwari #1
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Meilia Kusumadewi
Penerbit: GPU
Terbit: Oktober 2012
Tebal: 144 halaman
ISBN: 978-979-22-8776-9
Kategori: Novel Grafis
Genre: Cultural Korean
Beli di: Bukabuku Harga: IDR 40,800
Kalimat pembuka:
Sepucuk surat untuk rumah dengan semak-semak warna khaki…

book_blurb

“Telusurilah jalan-jalan pedesaan yang beraneka ragam itu untuk menemui para penduduk Yahwari. Anda pasti akan berpapasan dengan sepeda merah si tukang pos yang berkeliling pelan penuh keselarasan dengan alam sekitarnya.”

Melalui kisah-kisah pendeknya yang sarat dengan kelembutan, Kim Dong Hwa diperhitungkan sebagai salah satu penulis manhwa paling berbakat di hati orang-orang Korea.

thoughts

Saya pertama kali berkenalan dengan karya Kim Dong Hwa lewat Novel Grafis seri Warna Air. Kalau seri Warna Air sarat dengan sex ed, Sepeda Merah berkisah tentang hal-hal sederhana dalam kehidupan masyarakat desa.

Dimulai dengan bab Sepeda Merah, kendaraan milik Si Pengantar Surat yang ceria dengan rambut gondrong ekor kuda (mirip dengan Kim Dong Hwa). Ia mengantarkan surat ke alamat yang unik, tanpa nama jalan atau nomor rumah. Hanya disebutkan ciri-ciri spesifik, seperti Rumah Kuning Dalam Kehijauan, atau Rumah Bergenting Merah.

Bab yang saya sukai antara lain:

Kisah 3: Sang Penyair

Setiap kali Si Pengantar Surat mengirim surat ke rumah Sang Penyair, selalu ada lipatan surat di kotak pos berisi puisi untuk Si Kurir. Manis dan romantis :’)

Kisah 4: Hari Pasar

Siklus kehidupan perekonomian yang dimulai dari petani Yetdong hingga hasil panen sampai ke tangan penduduk desa Sedong (konsumen). Tawar-menawar dan rayuan petani sangat kocak, digambarkan dengan ilustrasi yang membuat saya terbahak.

Kisah 5: Hari Perekaman

Petani Yetdong heboh ketika mendapat kabar bahwa desa mereka akan diliput. Karena ingin eksis di layar kaca, para penduduk desa berdandan necis layaknya orang kota yang modern. Endingnya bikin saya ngakak.

Kisah 9: Pagoda Batu

Saya hampir menitikkan air mata ketika membaca bab ini. Ceritanya tentang bapak tua yang membuat gundukan pagoda batu setiap kali ia teringat almarhum istrinya dan anak-anaknya yang tinggal di kota 😥

Kisah 11: Kaus Kaki

Bab ini juga mengharu-biru. Tentang seorang pemuda yang heran dengan ayahnya yang selalu memakai kaus kaki bolong.

 

Dari halaman pertama, pembaca sudah disuguhi oleh grafik yang memukau, warna-warni cerah yang tidak membuat mata sakit, dan kisah-kisah pendek yang memikat dan menghangatkan hati.

Si Tukang Pos digambarkan sebagai perantara kebahagiaan penduduk desa yang mengirim, maupun yang menerima berkat cinta. Orang-orang tua yang kesepian selalu menanti cerita baru dari Tukang Pos, untuk dibagikan di pusara orang tercinta. Bahkan ada anak kecil yang bernohong demi mendapatkan permen manis dari Tukang Pos.

Saya sangat suka dengan keseluruhan kisah yang terasa hangat. Kehangatan selalu muncul dari kesederhanaan. Love it to the core.

quotes

Mungkin karena ayahku bodoh, dia selalu memilih kaus kaki yang berlubang. (hal. 57)

Kondektur kereta membawa tubuh dan tukang pos membawa hati… Mereka mirip satu sama lain. (hal. 109)

20130911-052807.jpg

20130725-125307.jpg

[Book Review] Sepeda Merah Vol.2 by Kim Dong Hwa

book_info

20131114-061432.jpg

Judul: Sepeda Merah: Bunga-Bunga Hollyhock #2
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Meilia Kusumadewi
Penerbit: GPU
Terbit: Oktober 2012
Tebal: 176 halaman
ISBN: 139789792287776
Kategori: Novel Grafis
Genre: Cultural Korean
Beli di: nitip Dinoy di obralan Gramedia. Harga IDR 10,000
Kalimat pembuka:

book_blurb

“Suatu kali, ketika anak perempuanku datang mengunjungiku, pemandangan mawar-mawar hollyhock mengingatkannya pada kenangan akan ibunya yang telah tiada.

Aku menebarkan benih-benih bunga itu mulai dari jalan masuk desa hingga ke ambang pintu rumahku…

Kala menelusuri jalan setapak berbunga ini, anak perempuanku merasa seakan-akan ia tengah berjalan sembari menggenggam tangan ibunya…

Dengan sedikit kesabaran, mawar-mawar hollyhock ini pun tumbuh dengan semaraknya…”

Melalui kisah-kisah pendeknya yang sarat dengan kelembutan, Kim Dong Hwa diperhitungkan sebagai salah satu penulis manhwa paling berbakat di hati orang-orang Korea.

thoughts

Seperti buku pendahulunya, Sepeda Merah Vol.1: Yahwari, buku ini menawarkan kisah-kisah penuh kehangatan seperti awal musim panas di Korea. Si Tukang Pos juga masih mengantar sejuta cinta kepada penduduk desa Yetdong.

Cerita pertama dibuka dengan Bunga-Bunga Hollyhock. Berkisah tentang bapak tua (yang dalam buku pertama dikisahkan suka menyampaikan berita-berita dari Tukang Pos ke almarhum istrinya di nisannya) yang dicemooh temannya gara-gara ia menanam benih bunga Hollyhock. Ia ingin putrinya bisa melihat keindahan bunga Hollyhock ketika ia pulang ke desa nanti. Bunga Hollyhock juga merupakan bunga favorit almarhum istrinya. Bittersweet banget bab pembukanya.

Kisah 2: Kisah-Kisah Sastra Korea merupakan salah satu bab favorit saya. Si Tukang Pos yang masih dikuncir kuda menyukai sastra dan gemar membaca novel. Dari pengamatannya, rumah-rumah dan pemandangan di Yahwari cocok menjadi latar novel favoritnya.

Di Kisah 3: Rerumputan dan Tanah Kampung Halaman, si Tukang Pos, Nenek dan Kakek Tua berbincang tentang hal yang mengingatkan pada kampung halaman. Si Nenek berpendapat kalau makanan bisa mengingatkan orang pada kampung halaman, sedangkan kakek bilang tanah yang mencirikan kampung halaman.

Kisah 5: Pejabat Militer juga salah satu kisah yang paling saya sukai. Para manula berlomba-lomba memamerkan jumlah kerutan di wajah dan uban lalu disamakan dengan pangkat militer.

Kisah 7: Surat Cinta adalah kisah paling romantis yang ada di buku ini. Seorang suami yang tidak pandai berkata-kata cinta memberikan kejutan manis untuk istrinya di ladang.

Kisah 9: Impian Masa Kecil membuat saya merenung tentang impian-impian saya. Saya ingin seperti Pak Tua di buku, menikmati masa tua sambil menatap matahari terbenam tanpa dibebani dengan jumlah rupiah di tabungan.

Kisah 14: Roda yang Berkilau Cemerlang juga merupakan salah satu kisah yang membuat saya menarik napas lega. Inti dari kisah ini adalah kebaikan selalu membawa kebahagiaan.

Kisah 17: Foto-Foto mengingatkan saya pada satu episode seri Si Doel Anak Sekolahan dimana Mandra berpose dengan toga sarjana milik Doel. Kocak banget XD

Kisah 30: Pohon menurut saya merupakan kisah terbaik di buku ini. Kita tidak sadar bahwa pohon hanya memberi, tidak pernah meminta. Pohon itu seperti orang tua yang bijak, dan orang-orang bisa berbuat jahat dengan menggunduli, mencabut, bahkan membakar si baik ini.

Kisah 31: Ibuku adalah cerit terpanjang di buku ini. Saya berkaca-kaca ketika membacanya. Betapa seorang ibu sangat menyayangi anaknya walaupun anaknya melakukan perbuatan tercela.

Sepeda Merah Vol.2: Bunga-Bunga Hollyhock ini terbagi dalam empat segmen berdasarkan musim yang ada di Korea: musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Fokus cerita pada buku ini adalah kisah para manula yang masih memiliki jiwa kanak-kanak.
Dari buku ini saya jadi tahu kemiripan tradisi Korea dengan India: anak lelaki dewasa wajib mengurus orang tuanya, dan menantu perempuan harus berkorban dengan memprioritaskan keluarga suami.
Gegara membaca seri Sepeda Merah, saya jadi ingin memandangi bunga dandelion dan meniupnya.

Pembaca masih dimanjakan dengan keindahan ilustrasi dan warna-warna hangat yang menghiasi buku ini. Selipan puisinya juga indah dan terasa pas menjadi bagian dari buku ini.

Buku tipis ini sarat perenungan, membuat saya berpikir bahwa ketulusan dan kesederhanaan itu simpel namun sulit ditemui di kota besar seperti Jakarta.

Ketika saya menutup halaman terakhir buku ini, ada perasaan haru, seperti ditinggal oleh Tukang Pos dan penduduk Yetdong.

Tentu saja, saya masih menantikan karya Kim Dong Hwa selanjutnya.

Kutipan favorit:

Aroma rempah-rempah memang enak, tapi tidak ada yang mengalahkan bau tanah kampung halaman untuk mengobati kerinduan pada rumah. (hal. 23)

Menjadi manusia memang jauh lebih kotor daripada lumpur. (hal. 32)

Kau mengasihani diri sendiri karena kulitmu keriput seperti bedeng, padahal di mataku kau selalu cantik. (hal. 43)

Katanya para orang tua kembali kekanak-kanakan saat salju pertama turun. (hal. 132)

20130923-121407.jpg

20130923-121453.jpg