Blog Archives

Winners Announcement

gawinners

Halo,

Mohon maaf sebelumnya atas keterlambatan pengumuman pemenang Giveaway dan IRRC karena saya ada kesibukan yang tidak bisa ditunda *mijit kening*

Langsung aja ya kita umumkan pemenang

IRRC Nov 2013

Tammy

IRRC Dec 2013

IRRCwinner

Bukune Virtual Horror Book Tour

horrorwinners

Selamat untuk semua pemenang.
Harap mengirim data diri lengkap beserta alamat dan no hp ke:
miss_yuska(at)yahoo(dot)com

Terima kasih banyak atas partisipasinya ya ^^

20131128-083529.jpg

2013 Indonesian Romance Reading Challenge – December

IRRC2014 Nggak kerasa IRRC sudah hampir setahun berjalan. Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih antusias mengikuti Reading Challenge yang pertama kali saya host ini. Sebagai apresiasi kepada para peserta IRRC, khusus bulan Desember, ada hadiah menarik yang akan diundi di akhir tahun nanti. Hadiahnya adalah paket buku untuk 1 orang pemenang sebagai berikut: BaYh17hCUAAFS2r.jpg large

Pemenang diharapkan membuat resensi dari buku hadiah IRRC ya ^^

Seru kan? Jadi, jangan sampai ketinggalan menyetor link resensimu. Untuk yang ingin ikut IRRC lagi tahun depan, bisa dibaca di sini link

Dan ini daftar peserta yang sudah setor link selama satu tahun Link [masih diedit]

Sampai jumpa tahun depan ^^ 20130725-125307.jpg

[Book Review] Reasons by Aditia Yudis @NouraBooks

book_info18271929Judul: Reasons: Untuk Sebuah Impian

Penulis: Aditia Yudis

Penerbit: Teen Noura

Terbit: Juli 2013

Tebal: 332 halaman

ISBN: 9786027816411

Kategori: Novel Fiksi

Genre: Fiksi Remaja, Romance, Drama

Bisa dibeli di: [Bukabuku] [Bukukita] [Yes24]

Kalimat pertama: Kalau saja si Mbak penjaga kost-nya ada di sini sekarang, situasi yang dialami Adeline ini pasti akan dijabarkannya dengan analisi logika ala sinetron yang akurat.

book_blurb

Adeline

“Aku bisa saja meminta bantuan Sigit, Tapi aku takut semua jadi rumit.”

Sigit

“Baru kali ini ada yang mengajakku makan malam, Amber memang menarik, tapi ….”

Amber

“Jadi, Abi akan pergi? Kenapa dia bisa tega meninggalkanku?”

Abi

“Aku hanya ingin Adeline tahu. Bahwa dia lebih baik dari yang orang kira.”

Adeline dan Amber bertemu dalam satu titik kehidupan. Mereka punya impian yang sama, tapi hanya satu yang bisa mencapainya. Awalnya, mereka pikir persaingan itu hanya sementara, tapi ternyata masa depan mereka pun saling bertautan, karena beberapa alasan ….

thoughts
Saya pertama kali kenal Adit karena sama-sama mengikuti lomba cerpen yang diadakan oleh Nulisbuku.com. Setelah itu, kita sering interaksi, bahkan beberapa kali bergabung dalam proyek antologi. And now she’s part of our book club, Reight.
Jujur aja, buku ini adalah buku pertama karya Adit yang baru saya baca. Sebelumnya, saya sering membaca karyanya berupa cerpen atau FF yang sering diposting di blognya.
Novel ini berkisah tentang persaingan. Simpel aja. Dua remaja perempuan, two bitches from different background, the have and the not, bersaing mendapatkan beasiswa di UI. And just like other bitches, they did their bitchy way to consume each other.
Adeline yang agak tertutup dan berasal dari keluarga pas-pasan, berjuang keras untuk meraih beasiswa agar ia bisa melanjutkan kuliah. Ibunya tidak menghendaki ia kuliah karena alasan biaya. Ia menghendaki Adeline untuk bekerja saja sehabis lulus SMA.
Ada lagi Amber, anak orang berada, yang jengah dibanding-bandingkan dengan kakaknya yang sangat berprestasi, Abi. IA mati-matian meraih beasiswa agar ‘dianggap’ oleh kedua orangtuanya.
Ketika nama Adeline yang terpampang di papan pengumuman sebagai peraih beasiswa, Amber berang. Sebagai cewek populer di sekolah, ia memanfaatkan kekuatannya untuk menekan Adeline.
Ada lagi Sigit, mahasiswa UI yang bekerja di warnet tempat nongkrong Adeline. Terjalin hubungan yang agak rumit antara Amber-Sigit-Adeline-Abi.
Adit piawai dalam menuliskan narasi secara detil. Hal-hal kecil tak luput dan dimasukannya dalam tulisan.Adeline itu sepertinya alter-nya Adit, karena kegilaannya akan Star Trek dan Tolkien. Tapi jujur aja, dalam buku ini kesukaan Adeline akan karya Tolkien (baik buku maupun adaptasi film) agak terlalu banyak. It’s too much.

Lalu ada adegan ketika Abi memandang Adeline seperti hendak memakannya. Langsung inget Twilight.
Lalu, karakter utamanya, Adeline, asli bikin gemes. Saya nggak suka dengan Adeline yang menurut saya lebih menyebalkan daripada Amber. Adeline itu memanfaatkan kepolosan dan kenaifannya untuk minta tolong sama Sigit dan Abi.
Dalam kata lain, Adeline punya kemiripan dengan Amber, terutama dalam hal suka pouting, manja dan egois. Tapi setidaknya, Amber tidak pernah memanfaatkan cowok untuk kepentingannya.
Sekarang bahas points of discussion:
1. First Impression:
Yes, buku ini bercerita tentang rivalry, jelas banget di covernya. Tapi entah kenapa janggal banget liat cover lapis keduanya. Seperti nggak nyambung dengan cover pink di depannya yang sudah bagus. Ilustrasi dalamnya keren, suka banget.
2. How did you experience the book:
Harus menghela napas saking sebelnya sama Adeline, heheheh.
3. Characters:
Sudah dijabarkan di atas. I have no sympathy for the main character.
4. Plot:
Plotnya menarik kok, menggunakan alur maju.
5. POV
Menggunakan POV ketiga.
6. Main Idea/Theme:
Rivalry, two bitches (back)stabbing each other (the other one stabs in the front, whereas the other doing some dirty tricks in the back.
7. Quotes:
(I lost my notes)
8. Ending
Cukup memuaskan
9. Question:
Memangnya beneran ada ya lomba karya ilmiah yang hadiahnya beasiswa masuk UI?
10. Benefits:
Jadi tau pernak-pernik Tolkien dan Star Trek
20130911-085212.jpg
Submitted for:
New Author Challenge
IRRC
20131105-012106.jpg

[Book Review + Giveaway] London: Angel by Windry Ramadhina @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

book_info

20130919-030245.jpg

Judul Buku: London: Angel (Setiap Tempat Punya Cerita #5)
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2013, Cetakan Pertama
Jumlah Halaman: 330
ISBN: 978-979-70-653-8
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Travel Literature
Harga: Rp. 52,000
Beli di: Pinjam sama Luna
Kalimat pertama:

Sekarang, kota ini persis seperti apa yang dideskripsikan oleh Charles Dickens dalam salah satu bukunya, Bleak House.

book_blurb

Pembaca Tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.

Windry Ramadhina, penulis novel Orange, Memori, dan Montase mengajak kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tidak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemukannya. Apakah perjalanannya ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,
EDITOR

thoughts

London: Angel merupakan novel kelima dari STPC yang sudah terbit. Setelah novel ini, bakal ada Tokyo yang kabarnya merupakan novel terakhir dari seri STPC batch pertama.

Kesan pertama terhadap London: Angel adalah brave karena cover-nya yang bernuansa merah. Gue juga menangkap kesan bold dari tampilan cover-nya.

Tema yang diangkat London: Angel adalah jatuh cinta dengan sahabat. Menarik ya? 🙂

Adalah Gilang, seorang aspiring writer yang mendapati dirinya (ternyata) jatuh cinta dengan Ning, sahabatnya yang dulu tinggal di sebelah rumahnya. Sebuah chat di YM dan celetukan Brutus yang membuat Gilang menyadari tentang perasaannya yang terdalam terhadap Ning, sesuatu yang sebelumnya tidak ia sadari. Sebelum Gilang mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya pada Ning, gadis itu sudah terbang ke London, lalu bekerja di sebuah galeri di sana.

Suatu malam di Bureau, di mana Gilang dan kawan-kawannya menghabiskan malam ala bujangan. Mereka mengompori Gilang untuk mengejar cintanya. Lalu, Gilang benar-benar terbang ke London untuk satu tujuan: Ning.

Tidak mudah bagi Gilang untuk menemui Ning. Karena niatnya memang mau kasih surprise, Gilang bertualang dulu di London. First stop: Underground. Tempat yang hiruk-pikuk di London ini sebenarnya seperti ceruk budaya. Jutaan manusia dari berbagai ras datang silih berganti. Underground juga cukup sering tampil di berbagai film Hollywood, salah satunya The Dark Knight Rises.

Lalu ada James Smith and Sons yang menjual suvenir payung dengan harga yang bisa bikin gue mengelus dada Chris Hemsworth. Tempat yang gue inget karena suatu kejadian yang melibatkan Goldilocks yang misterius dan V. Akhirnya gue bisa tersenyum pas baca suatu adegan “gara-gara payung Goldilocks” itu.

Windry piawai membuat cerita ini memorable. Ia memberi nama tokoh-tokohnya (kecuali Gilang, Ning, Ed, Mrs. Ellis dan Mr. Lowesley, juga beberapa tokoh minor seperti Ayu dan Finn) dengan nama tokoh fiktif seperti Brutus, Hyde, Dee and Dum.

Setelah membaca acknowledgement dari Windry, gue sadar bahwa nama tokoh Hyde bisa jadi diambil dari nama vokalis Laruku yang lagunya mengilhami cerpen cikal-bakal novel ini. Hyde-menurut keterangan penulis di novel-merupakan nama panggilan untuk salah satu tokohnya yang memiliki kepribadian ganda, seperti Dr. Jeckyll and Mrs. Hyde. Namun, gue menangkap Hyde-nya Laruku juga karena dia suka berpenampilan androgyny, sama-sama penganut dualisme. Interesting.

Satu lagi scene yang bikin gue senyum-senyum adalah waktu Ning bilang ia akan membuat steik a la Jamie Oliver. My husband loves it. Campuran oregano, rosemary dan lemon zest bikin steik jadi ‘unik’ rasanya. Heavenly tasty.

Lalu, Gilang mendeskripsikan rasa bibir Ning seperti sari apel ketika ia mimpi berciuman dengan Ning. Ooh la la, those lips do exist and I know how it tastes.

Novel London: Angel ini manis. Cocok dibaca saat hujan sambil menyesap hot choco ditemani CD-nya Lisa Onno. Walau pertamanya gue merasa kurang sabar dengan alurnya yang tidak terlalu cepat, namun gue sangat menikmati perjalanan Gilang, dengan atau tidak adanya Ning dalam adegannya.

Gue bisa cepat membaca novel ini karena hari ini kebetulan gue ikut casting. Sambil menunggu, gue baca dan habislah 170an halaman. Seneng kalau kemana-mana bawa buku, dijamin nggak akan mati gaya. Dan menunggu tidak lagi menjadi kegiatan yang menyebalkan.

quotes

Memangnya, kau bisa jatuh cinta kepada seseorang yang sudah kau kenal selama delapan tahun? (hal. 19)

Aku belajar dari Donalbein, kalau seorang lelaki tersenyum pada perempuan, pasti dia punya niat tersembunyi. (hal. 193)

Manusia memang tidak pernah belajar dari pengalaman. (hal. 212)

dream_cast
london

20130911-085212.jpg

Need a second opinion?

The Bookie Looker Review here
Ariansyah Abo Review here
Orinthia and Books Review here

Submitted for:

New Authors Reading Challenge here

IRRC 2013 here

STPCGA

Yuk, yang mau mendapatkan 3 paket novel serial #STPC @Gagasmedia @Bukune merapat kemari. Caranya gampang banget:

1. Follow akun @Gagasmedia @Bukune dan @WindryRamadhina

2. Twit link review + giveaway ini dengan kalimat seperti ini:

Mau dapetin paket novel #STPC dari @yuska77 @Gagasmedia @Bukune? Klik aja http://t.co/aYJmHOU8fN

3. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel London: Angel. Jangan lupa untuk mencantumkan:

Nama, akun twitter, dan email.

4. Setiap komentar yang kamu tinggalkan di tiap postingan dan twit selama proyek #STPC berlangsung akan mendapat 1 entry. Misalnya, kamu ngetwit link review + giveaway London juga meninggalkan komentar, maka kamu mendapatkan 2 entries.

5. Jangan lupa, besok ada postingan interview bersama Windry Ramadhina. So, stay tuned ya.

6. Giveaway STPC dimulai dari tanggal 1 September – 30 September 2013. Kamu bisa mengisi kolom komentar + tweet giveaway ini selama event STPC berlangsung.

7. Pengumuman pemenang tanggal 5 Oktober 2013

Good luck 🙂

20130330-114856.jpg

P.S. Lust and Coffee diundang untuk menghadiri acara London: Angel Tea Party pada hari Minggu. Nantikan liputannya ya ^^

[Book Review] Notasi by @Miss_Morra @Gagasmedia

book_infonotasi

book_blurbRasanya, sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung.
Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya; tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.

Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.

Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi.
Dan aku mendekap erat-erat kata-kata itu, menanti dalam harap.
Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya.
Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu…

thoughtsNotasi mengambil setting kejadian saat reformasi pecah. Memori gue masih sangat tajam mengingat peristiwa itu.
1998, suatu hari gue terjebak tidak bisa pulang ke rumah. Para mahasiswa dari universitas lain berhenti di depan kampus kami. Banyak yang turun ke jalan Jend. Sudirman, berorasi, meneriakkan agar Soeharto turun. Lalu, terdengar tembakan, ada asap bergulung di depan kampus. Chaotic banget.
Banyak teman yang melakukan demo di gedung MPR. Gue tidak ikut. Alasan gue karena gue tidak suka berpolitik, gue juga tidak suka terkena asap, apalagi tembakan nyasar dari petugas. Banyak yang berdemo, sudah terwakilkan, gue nggak perlu ke sana.

Lalu terjadi pengrusakan, penjarahan, dan pemerkosaan. Berminggu-minggu gue hanya diam di rumah. Bokap juga nggak bisa kerja. Masa itu keadaan kami sulit. Bahan makanan juga sudah habis. Kami hanya bisa makan mie instan, bahkan dijatah sehari dua kali. Miris lah kalau inget kejadian saat itu.

Ketika kembali ke kampus, keadaan sudah sangat berbeda. Banyak teman ras Tionghoa yang tidak kembali ke kampus. Ada kabar, mereka pindah ke Amerika dan Australia. Sedih banget dengernya. Beberapa tahun setelah reformasi lewat, gue pernah mendapat kabar dari seorang teman. Ia bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kakinya lagi ke Indonesia. Efek traumatisnya sedemikian dahsyat. Gue ingat, banyak toko dipilox dengan tulisan ‘Milik Pribumi’, nggak penting karena WNI semuanya pribumi menurut gue. Gue benci dengan <em>racism</em>, sampe gue pernah takut untuk mengaku keturunan Cina. Duh, jadi pengin nangis lagi kalo inget diskriminasi/<em>racial slurs</em> yang gue terima sampe gue pernah dianiaya secara fisik (dan verbal) oleh orang tak dikenal gara-gara isu ras.

Balik lagi ke Notasi, gue sama sekali buta dengan keadaan pra dan pasca reformasi di Jogja. Namun, deskripsi Morra mampu membuat gue bisa mengira-ngira seperti apa suasana di sana.
Dan, Chiclets, memorable banget, salah satu permen kesukaan gue selain Chelsea.

Beberapa nama yang ngetop di era Soeharto, seperti Petrus, juga dibahas di novel ini. Jadi ingat tentang cerita seseorang yang pernah bekerja dengan mantan orang nomor satu di Indonesia itu. Soeharto dijuluki <em>’Smiling General</em>, jarang bicara namun mengerikan. Ia pernah berkata, sebaiknya kita tersenyum di depan (musuh kita), lalu tanpa musuh tahu, kita habisi ia di belakang.
Mungkin Soeharto mempelajari buku Tsun Zu’s Art of War ya. Juga majalah Tempo yang dibredel ketika menampilkan cover dengan gambar Soeharto yang ditempel kartu remi.

Nalia, mahasiswi kedokteran gigi yang ayahnya adalah mantan dekan teknik pertanian, terlibat dalam organisasi radio mahasiswa di kampusnya. Karena itulah ia bertemu dengan Nino, mahasiswa fakultas teknis yang menarik perhatiannya.
Kedua fakultas tersebut ‘bermusuhan’. Radio Jawara milik fakultas teknik tidak memiliki izin siaran. Demikian juga dengan Gama FM milik fakultas kedokteran. Singkat cerita, mereka jadi dekat karena aktif di BEM. Sebuah penyerangan saat berlangsung acara di kampus membuat keduanya menjadi semakin dekat. Ada oknum militer yang menyusup di antara penonton dan membuat huru-hara di UGM, gara-gara salah satu karya tulis yang masuk menyinggung presiden. Ciri khas Orba, tidak boleh menghina presiden. Namun, lambat laun, hubungan Nalia dengan Nino semakin dekat. Ketegangan antarfakultas juga melemah karena keadaan membutuhkan mereka untuk bersatu.

Singkat cerita, novel ini bercerita tentang kisah cinta masa lalu yang masih mengganjal.

Masih ada typo di:

Hal. 4: sertalaki-laki
Hal. 8: siarantanpa.
Hal. 8: gelap, Sayang.Ini sudah malam. (ga pakai spasi)
Hal. 9: hari yang cerah,Puncak Merapi … (ga pakai spasi)
Hal. 20: universitasperiode
Hal. 28: mahasiswaTeknik
Hal. 28: membuatkumengerti
Hal. 37: setelah ini,enggan berlama-lama
Hal. 38: Tengkutahu itu
Hal. 40: itubelum
Hal. 42: suarak (mungkin seharusnya suaraku)
Hal. 45: hargaberbagai
Hal. 50: Kecepatannya rendah.Kendaraan itu
Hal. 53: padatahun-tahun
Hal. 53: laki-lakiawal
Hal. 53: baying-bayang
Hal. 55: memengaruhinyasama
Hal. 56: kurasakania
Hal 59: banyak mata mata terarah kepadanya
Hal. 64: kampuskota
Hal. 74: Iaberpaling
Hal. 87: telahmereka
Hal. 93: tahukampanye
Hal. 93:.orang.Apalagi
Hal. 103: Mahasiswayang
Hal. 108. jera.Mungkin

Sebenarnya masih banyak lagi typo yang terdeteksi, namun gue ribet juga kalo nyatetin semuanya. Semoga kalau dicetak ulang sudah bersih dari typo 🙂

quotesJangan menangis di depan korban saat kamu menjadi relawan. (hal. 4)

Sebelum kalian bentak-bentak anak orang seolah mereka paling bodoh sedunia, pastikan kalian sudah berprestasi dulu. (hal. 33)

Kemarahan orang-orang terhadap kinerja presiden negara sudah semakin menjadi – sebuah potensi ledakan besar yang tampaknya hanya tinggal menunggu waktu. (hal. 45)

Saat-saat istimewa dalam hidup kita selalu datang tanpa peringatan. ( hal. 52)

Di bawah tekanan emosi rasa takut, marah, sedih, atau jatuh cinta, semua orang pasti menunjukkan warna asli mereka. (hal. 58)

Bahwa sejak pertama negeri ini berdiri, yang diwariskan kepada Presiden Sukarno adalah sisa-sisa perang yang hampir tak dapat dibangun lagi. (hal. 133)

Diskusi untuk Reight Book Club:

1. First Impression

Covernya vintage banget. Gue suka.

2. How did you experience the book?

Terus terang, gue perlu waktu untuk memahami karakter beserta motif dan posisinya serta hubungannya antara dengan satu dengan yang lain. Memasuki halaman 60-an, gue baru ‘mudeng’. Morra piawai memasukkan kalimat yang quotable dan kata-katanya juga indah. Puitis, sedikit nyastra namun nggak mendayu-dayu. This is my first experience with Morra.

3. Characters

Nino itu tipe cowok likeable. Auranya misterius, tinggi, dan manly banget.

Nalia ya cewek banget, yang impulsif dan lebih mengedepankan perasaan daripada logikanya. Agak mengesalkan juga sebenarnya si Nalia ini.

Tokoh-tokoh pendukungnya tidak terlalu dalam digali, ya namanya juga figuran. Morra sepertinya bisa bikin spin off deh dengan menampilkan Tengku dan Lin Lin. Tema percintaan yang beda memang banyak, namun gue masih penasaran dengan cara pengangkatan Morra.

4. Plot

Plotnya menarik, isu yang diangkat tentang radio memang belum banyak digali oleh penulis di sini. Terus terang, ini novel ketiga yang gue baca yang mengangkat tema radio, namun Notasi memang paling detil. Alurnya agak lamban, membuat gue menerka-nerka tentang arah ceritanya. Tokoh utamanya bercerita secara flashback ketika ia kembali ke Yogyakarta, lalu memori di kampus muncul, lalu ia bercerita tentang cinta lamanya.

5. POV

Notasi diceritakan dari sudut pandang Nalia. Novel ini menggunakan single POV.

6. Main Idea/Theme

Tema reformasi memang selalu menarik untuk digali, namun sedikit menakutkan bagi gue. Pengalaman buruk saat itu memang bikin gue selalu bergidik kalau mendengar kata reformasi, tahun 1998, kejatuhan Soeharto. Menurut gue, tema radionya yang lebih menarik minat gue, karena Morra memberikan detil cara mendirikan radio dengan baik dan benar. Sejarah radio juga dibahas sedikit.

7. Quotes

Cek bagian quotes di atas 🙂

8. Ending

Gue sempat bertanya-tanya tentang Nino dan Faris, tapi terjawab kok di bab terakhir. Setiap orang punya takdirnya masing-masing 🙂

9. Questions

Mor, dapat ide tentang reformasi dan radio itu gimana ceritanya? Lalu, tokoh-tokohnya semua rekaan atau duplikat dari yang benar-benar ada?

Lalu, berapa lama butuh waktu untuk observasi dan menulis novel Notasi?

10. Benefits

Yes, banyak banget benefit membaca buku ini. Selain mempertajam memori tentang peristiwa tahun 1998 itu, gue juga belajar merangkai diksi yang asik, juga jadi tahu tentang sejarah radio. I’m a sucker for history. Peristiwa Malari tahun 1974 juga dibahas, membuat gue jadi kepengin baca buku-buku sejarah terbitan Komunitas Bambu.

Well, done, Mor. Ditunggu buku selanjutnya ^^

20130330-114838.jpg

20130330-114856.jpg

[Book Review] Simple Lie by @NinaArdianti @Gagasmedia

book_infoSimple_Lie

book_blurba story about a girl who had a perfect life

Cantik, pintar, aktivis, popular, almost perfect di semua bidang, akademis maupun non-akademis. Digilai para cowok dan (diam-diam) dikagumi para cewek. Dan yang makin membuat dia dikagumi adalah karena sikapnya yang low profile, ramah ke semua orang, dan very down to earth.

a perfect mate

Happy First Anniversary, Re…,” ujar Fedi pelan.
Rere terdiam sesaat. Speechless. Nggak bisa berkata apa-apa. Ia lalu menatap Fedi dengan mata yang berkaca-kaca. How can she forget this day? Fedi ingat. Bahkan melakukan ini semua untuk Rere.

til another unperfect one came into her life

“Emang nggak bisa ganti ban sendiri ya?”
“Ya nggak bisa laaaah…. Gue cuma bisa makenya doang. Urusan bener-benerin mah payah, huehehe….”
Girls….” Ilham menatap Rere dengan pandangan mencela yang menyebalkan, “Trus apa yang akan lo lakukan seandainya gue nggak muncul dan menyelamatkan lo seperti pangeran di dongeng-dongeng?”

and changed her perfect life

“Gue nggak tau sampai kapan, Re,” jawabnya jujur.
“Tapi, kalau sampai titik di mana gue ngerasa bahwa batas waktu itu akan datang dan lo belum juga bisa memutuskan…”
Rere mengangkat wajahnya balas menatap Ilham yang sedang berbicara.
“… biar gue sendiri yang menentukan pilihan, Re….”

then everything is not as it seems

a novel about love:
find a desired one… without any doubt.

thoughtsRere itu cantik, pintar, rada tomboy, easy going, menyenangkan. Itu kesan pertama gue saat membaca bab awal novel ini. Rere memiliki seorang pacar yang kuliah di Fakultas Ekonomi, namanya Fedi. Dulu, Fedi adalah senior Rere di SMA. Fedi itu ganteng, kalem, dan perhatian sama Rere. Fedi juga pacar yang romantis. Ditengah kantin tiba-tiba Fedi memberi Rere kado berwarna pink dan mengucapkan happy anniversary. Namun, kehadiran Ilham, si cowok rada tengil tipe bad boy dengan wajah yang nggak kalah tampan berhasil mencuri perhatian Rere.

Karena kesibukan Fedi sebagai PO Festival Jazz FE, ia agak menelantarkan Rere. Pada kesempatan itu, Ilham sering bertemu dengan Rere. Mudah ditebak, Rere-Ilham-Fedi terjebak dalam cinta segitiga Bermuda. Apalagi, ketika Rere sedang membutuhkan bantuan, bukan Fedi yang ada di sampingnya, melainkan si beautiful stranger Ilham.

Ide novel ini sederhana. Bahasanya juga meremaja dan gaul banget. Nina menggambarkan suasana kampus sedemikian rupa sampai gue jadi teringat akan masa-masa kuliah dulu di mana terselip kisah sang mantan, hehehe.

Gue setuju dengan Nina, bahwa takdir itu seperti spiderweb. Manusia terhubung dengan manusia lainnya, lalu saling terhubung membentuk jaring-jaring, lalu pertemuan bisa menarik garis nasib yang baru. Jika garis itu begitu kuat, kemungkinan takdir yang merekatkannya.

Beberapa dialog terkesan cheesy, ketika Rere dan Fedi janjian bertemu untuk pergi ke QB (I miss that place). Tapi gue maafkan karena pick up line anak muda tahun 2007 tentu beda dengan yang dipakai anak-anak sekarang.

Lalu, yang bikin gue mengernyitkan dahi adalah saat Rere bilang pada Fedi bahwa Saskia lebih cantik dari dirinya. Errr, what’s the point?

Terus, scene Angga yang mengantar Rere untuk menaruh buku kurang penting. Namun, bisa dibuat jadi lebih menarik kalau kekonyolan Angga digali (gue langsung teringat Raditya Dika. Seandainya novel ini difilmkan, dia cocok banget jadi Angga).

Kalau gue boleh jujur, I don’t like the cover. Please, Gagas, kalau mau rilis ulang novel ini, kasih cover yang keren ya. This one is unflattering.

Masih ditemukan beberapa typo, namun nggak mengurangi esensi cerita.

Simple Lie adalah pengalaman pertama gue membaca karya Nina. I was impressed. Gue pernah membaca novel dengan genre yang sama, sempat difilmkan dan heboh saat itu, but it was a major turn off for me.  Gue jadi mau membaca novelnya Nina yang lain gara-gara Simple Lie ini. Cara bertutur Nina mengalir, cewek banget, dan crunchy kaya apple crisps. Dan selama membaca Simple Lie, gue tersenyum hampir tak berhenti, sampai gue mendaftar sebagai anggota #TeamIlham :))
Karena Ilham bad boy, cuek, songong, tengil, tapi romantis, suka baca Coelho, dan memiliki perasaan yang sensitif. Tipe cowok yang bikin gue melting kalau ketemu saat kuliah.

Tema cinta segitiga empat memang bukan tema yang baru, namun Nina mampu meraciknya dengan manis dan bikin gue geregetan. Simple Lie is a page turner. Simply love it.

quotesSaat kita mengenal seseorang lebih dekat – yang dulu biasanya mungkin hanya pemeran figuran dalam hidup kita – tiba-tiba saja ada begitu banyak kejadian yang langsung menghubungkan diri kita dengan orang tersebut. (hal. 49)

Mengenal Ilham itu kayak memakan MnM’s. Rere nggak pernah tahu warna apa yang akan ia ambil dari dalam bungkus cokelat itu. (hal. 84)

Kadang hati memang punya jalan pikirannya sendiri. (hal. 90)

Biasanya, orang yang udah mulai bohong sekali, maka akan menciptakan kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan yang sebelumnya. (hal. 107)

dream_castSaatnya berkhayal untuk jadi casting director atau sutradara. Simple Lie ini movieable loh. Coba, produser, baca deh novelnya. Kalau dibikin film pasti seru banget. Cocok untuk ditayangkan saat liburan semesteran.

Pemeran yang (menurut gue) cocok untuk mewakili tokoh-tokoh yang diciptakan Nina adalah:

SLSL2

20130330-114838.jpg

Until next time!

20130725-125307.jpg

[Book Review] Malaikat Jatuh by Clara Ng

bookinfo Untitled

bookblurb

Beppu, manusia bersayap yang cacat.Sayapnya yang hanya sebelah tidak dapat mengangkatnya terbang meniti angin.
Louissa Manna, seorang ibu berusia ratusan tahun. Dia telah memakan jantung manusia bersayap untuk mendapatkan hidup abadi.

Pada pertemuan mereka yang dipenuhi oleh kekejaman, Beppu dan Manna berjuang mempertahankan kewarasan, kesucian, dan di atas semuanya, cinta.

Sepuluh cerita. Tentang wajah perempuan. Dari ibu sampai pelacur, dari perawan sampai hanya pemeran. Semuanya dibingkai dalam dongeng-dongeng malam, kematian, dan narasi kelam.

thoughts

Punya buku ini ternyata sudah cukup lama dan baru sempat dibaca sekarang. Lumayan kaget dengan tema yang diangkat Clara juga cara penuturannya yang jauh berbeda dengan “Dimsum Terakhir”.

1. Malaikat Jatuh

Cerita ini paling panjang diantara seluruh cerita yang ada di buku ini. Mungkin bisa disebut novella. Bercerita tentang Beppu, malaikat yang memiliki sayap sebelah, yang jatuh ke bumi, kemudian bertemu Manna dan Mae yang mengubah takdir mereka. Cerita ini cukup gelap dan agak gory. Kisah tentang persahabatan dan kasih ibu yang begitu kuat.

2. Negeri Debu

Lucinda berteman dengan Polo yang kerap mengajaknya ke negeri debu, di mana Lucinda bisa berteman dengan siapa saja di sana. Ibunya kerap tak kunjung tiba, Lucinda jadi memiliki dunia khayal. Kisah ini berakhir tragis, dan agak mengingatkan gue dengan film-film horror bule.

3. Makam

Cerita tentang seorang bayi yang ditinggalkan oleh ibu kandungnya dan dibesarkan oleh seekor kucing. Cerita yang paling gelap dan penuh kengerian.

4. Di Uluwatu

Cerpen yang paling nggak gue sukai di buku ini. Mengingatkan gue dengan legenda Nyi Roro Kidul dan sebangsanya. Suara gaib yang menyebabkan Sergio melompat dari atas tebing.

5. Lelaba

Ini juga cerita yang gue nggak suka. Terkesan agak vulgar. Ada legenda werewolf dibalut dengan siluman lain.

6. Hutan Sehabis Hujan

Entahlah, gue merasa tokoh nenek di sanatorium ini menderita dementia. Dan ceritanya agak mengganjal. Si nenek merasa dia berhubungan dengan peri di masa lalunya.

7. Akhir

Ini salah satu cerpen yang paling gue suka. Lebih realis. Kisah tentang keluarga yang mengalami goncangan gara-gara politik (orde baru). Mata gue berkaca-kaca membacanya. Menyentuh walau dibalut aura gelap.

8. Barbie

Ough, ini toko mainan atau ‘toko mainan di Mangga Besar’? Kesannya seperti kota maksiat. Sex, drugs, whatever, you name it. Hingar bingar dan riuh serta terbayang bau seks yang tajam, hingga pembunuhan. Tapi gue setuju dengan Clara, Barbie is a whore 🙂

9. Bengkel Las Bu Ijah

Hmmm, si perekat hati ini sebenarnya profesinya apa ya? Sampai dituduh sebagai penista agama? Entah dukun cabul atau pekerja seks. Ijah pun mengalami ketragisan pada akhirnya.

10. Istri Paling Sempurna

Penutup yang sangat cantik. Cerpen ini paling indah dibanding cerpen-cerpen lainnya. Cinta yang tulus tidak akan tergoyahkan oleh distraksi. Kisah romantis antara suami istri yang dibalut kesedihan yang berkepanjangan.

Benang merah dari semua cerita adalah kasih ibu yang tulus dibalut dengan kematian. Dan memang cover bukunya sangat menipu. Buku ini tidak semanis covernya. Gue rasa salah cover deh. Seharusnya kesannya gelap macam “Hush, Hush”.

Dan seharusnya juga diberi label bacaan untuk dewasa karena memuat adegan seks yang kurang pantas dibaca anak usia sekolah.

20130322-091428.jpg

20130322-091443.jpg

[Book Review] Lelaki Terindah by Andrei Aksana

bookinfo

LT

20130506-114513.jpg

Gebrakan baru Andrei Aksana!
Setelah menerbitkan tiga novel yang menjadi bestseller, Andrei Aksana kembali dengan karya masterpiece-nya, Lelaki Terindah. Bukan sekadar novel biasa, karena Andrei Aksana juga memasukkan sejumlah puisi sebagai bagian cerita.

Kisah tentang cinta antara dua lelaki, Valent dan Rafky. Cinta yang menghadapi berbagai rintangan dan halangan dari keluarga dan masyarakat, dan terutama dari diri mereka sendiri. Apakah salah bila cinta tumbuh di hati dua lelaki?

Apa yg harus dilakukan saat cinta telanjur mekar dan bersemi? Sanggupkah mereka menghadapinya?

20130506-114940.jpg

Nama Andrei Aksana sudah sangat terkenal sebagai salah satu penulis sastra pop Indonesia. Gue sudah membaca dua atau tiga bukunya sebelum membaca novel ini. Gue belum pernah membaca novel dengan tema pure LGBT seperti Lelaki Terindah.

Ciri khas Andrei adalah menyelipkan puisi dalam karyanya. Kadang gue membaca dengan seksama, kadang gue skipped karena nggak mood baca puisi.

Rafky, seorang lelaki straight, bertemu dengan Valent di pesawat menuju Bangkok. Terjadi chemistry diantara mereka yang berlanjut hingga ke hubungan asmara. Rafky marah pada Valent (dan dirinya sendiri) karena ia yang ‘normal’ bisa menyukai sesama jenis. Hingga ia pergi ke sebuah bar di Patpong dan menyewa seorang penari tercantik. Tetapi, Rafky tidak mampu mengusir bayangan Valent.

Pulang ke Jakarta, hubungan mereka terus berlanjut. Karena merasa tersiksa dengan pacar masing-masing, akhirnya Rafky dan Valent mengakui sexual preference mereka pada kekasih dan ortu masing-masing. Bisa ditebak lah seperti apa akhirnya.

Andrei piawai dalam menuliskan kalimat puitis dan diksi yang cantik. Tapi, seringkali beberapa scene-nya sinetron banget. Seperti saat Valent dikurung ibunya. Jari Rafky dan Valent saling bertautan di balik jeruji pagar. Seandainya adegan ini terjadi antara cowok dan cewek pun masih sinetron banget.

Ada satu lagi yang mengganggu. Beberapa ungkapan dalam bahasa Thai tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Gue males kalau harus googling lagi artinya. Sampai sekarang gue nggak tahu arti sa bai dee mai dan khun cher arai.

Novel ini berakhir tragis, cukup memorable. Gue selalu terharu tiap membaca novel Andrei *thumbs up*. Ditambah dengan penggambaran hingar bingar dunia malam Bangkok, bikin gue kangen ke Patpong.

20130315-042451.jpg

20130315-110700.jpg

[Book Review] Cintapuccino by Icha Rahmanti

bookinfo

cintap

20130506-114940.jpg

Novel ini tidak memuat sinopsis di cover belakangnya, jadi gue nggak bisa posting Book Blurb-nya. Jujur, gue kurang suka dengan buku yang nggak ada sinopsisnya, kayak beli kucing dalam karung. Tapi, berhubung Cintapuccino ini pernah booming, gue akhirnya beli dan mau baca.

Iya, gue akui gue memang telat membaca buku ini. Sangat telat malah. Karena, pada saat buku ini lagi ngehits, gue lagi vakum membaca. Jangan tanya kenapa.

Adalah Ami yang terobsesi pada Nimo sejak di bangku SMA. Demi dekat dengan cowok idamannya, Ami sampai rela masuk tim keamanan sekolah, ikut tes ke universitas yang sama, bahkan pernah melamar ke perusahaan tempat Nimo bernaung. Rada-rada memang cewek bernama Ami ini.

Karena merasa hanya dianggap sebutir debu oleh Nimo, Ami sudah bisa move on dan akhirnya bertemu dengan Raka, yang serius ingin melamarnya. Ami mengalami dilema karena dia kembali bertemu dengan Nimo tanpa sengaja di Mie Lela, tempat nongkrong idola remaja awal tahun 2000-an.

Cintapuccino berhasil membuat gue bernostalgia dengan Bandung, kota yang gue anggap rumah kedua. Lalu, julukan-julukan untuk mantan Ami, seperti Mr. Sub Zero dan Mr. DW, menurut gue juga kreatif.

Yang agak mengganggu adalah dialog repetan Ami yang panjang. Kebayang kalo gue ketemu orang kaya gini, gue bakal sakit kuping.

Kedua, tiga tokoh utamanya sangat tidak likeable. Saat Nimo tiba-tiba minta Ami untuk jadi istrinya, gue cuma bisa bilang WTH dalam hati. Lalu, sikap Raka yang nggak defensif juga bikin gue bengong. Lalu, Ami yang dulu getol stalking Nimo, saat Raka membatalkan tunangan, ngejar-ngejar Raka. Seriously, gue gagal paham dengan sikap Ami. Sakit hati sih pasti la yah, diputus tunangan. Tapi sampe ngejar-ngejar, gue sih ogah.

Ketiga, tiga tokoh utama flawlessly grandeur. Nimo ganteng, pinter, karir sukses, kerja di Okie. Ami yang masuk perusahaan asing yang sama dengan Nimo, memilih keluar, lalu membuka usaha sendiri. Raka dapat kesempatan magang di London News Hilite.

Novel Cintapuccino ini cukup menghibur, bisa dibaca cepat dan selesai dalam satu-dua kali duduk. Banyak informasi mengenai kerjaan engineer, lalu Murphy’s Law, juga tidbits bisnis distro.

Gue masih punya utang baca Beauty Case, dan gue juga masih menanti karya Icha yang lain.

2cat

20130330-114856.jpg

[Book Review] Dear Friend With Love by Nurilla Iryani

 

20130330-101646

 

Judul: Dear Friend With Love
Penulis: Nurilla Iryani
Penerbit: Stiletto Book
Terbit: Oktober 2012, Cetakan Pertama
ISBN: 978-602-7572-07-2
Jumlah halaman: 146
Kategori: Fiksi/Romance/Chick Lit

Book Blurb:

Katanya A Guy and A Girl can’t be just friends. Benarkah? How about Karin dan Rama?

Karin
“Delapan tahun! Itu bukan waktu yang sebentar untuk menunggu. Tapi yang aku dapat selama ini justru semua cerita saat aku jatuh cinta dengan puluhan wanita lain di luar sana. Puluhan wanita yang selalu berakhir membuatmu kecewa. Rama, sadarkah kamu, wanita yang nggak akan pernah mengecewakanmu justru berada di dekatmu selama ini? Aku.”

Rama
“Satu diantara seribu alasan kenapa gue nyaman bersahabat dengan Karin adalah ketidakwarasannya membuat gue tetap waras ditengah gilanya kehidupan Jakarta. Ya, dia adalah teman adu tolol favorit gue. Oh iya, gue punya satu lagi alasan: dia cantik banget, man! Nggak malu-maluin buat diajak ke pesta kawinan kalau gue kebetulan sedang jomblo. Paket komplit! “

Thoughts:

Sekarang lagi ‘in’ banget istilah friendzone di Twitter. Beberapa waktu lalu TL gue rame banget dengan istilah ini. Mungkin karena semakin banyak jomblo yang berusaha mencari jodoh sampe ke luar negeri segala, dan ternyata sosok yang dicari ternyata ada di depan mata. Ok, gue mulai nyeritain pemgalaman pribadi.

Novel ini hadir di saat yang tepat. Di saat friendzone sedang marak. Selain itu, novel ini asli kocak banget. Kalo lo lagi suntuk di tengah macet atau lagi ruwet dengan kompleksnya permasalahan di kantor atau kampus, baca deh. Dijamin terhibur.

First impression gue terhadap kedua tokoh utamanya: they’re so much alike. Dari cara becanda sampai bertutur kata, Karin dan Rama itu mirip. Dua-duanya konyol, spontan, dan ceplas-ceplos (selain seneng ngomong bahasa Inggris).

Dear Friend With Love memakai dua POV tokoh utamanya, Karin dan Rama. Pembaca jadi tahu apa isi hati dan pikiran kedua tokoh ini. Sedikit mengingatkan gue dengan Antologi Rasa-nya Ika Natassa, tapi beda rasa.
Yang jelas, penulisnya bisa jadi Rama dan Karin, sesuatu yang gue harus pelajari. Karena POV cowok itu susah banget.

Karin yang happy-go-lucky ternyata menyimpan rasa terhadap Rama. Walau di luar ia terlihat extrovert, bawel, dan ceplas-ceplos, saat mentok dengan perasaan, dia bungkam.

Sedangkan Rama ini tipe cowok bebal kurang peka yang nggak sadar kalau perempuan disampingnya mengharap dia menyatakan cinta.
Ada kesaman gue dengan Rama, sama-sama cinta dengan apple pie. Yang bikin agak empet dengan cowok ini adalah kenarsisannya. Bukan tipe cowok yang gue taksir 😀

Plot bergulir. Karin dijodohkan dengan teman masa kecil di Amerika, Adam. Tapi hatinya memang nggak bisa move on dari Rama. Perlahan tapi pasti, Rama sadar betapa pentingnya Karin bagi di dalam hidupnya.

Satu lagi yang bikin gue ngakak di novel ini. Ada tokoh minor namanya Tante Titi dan Adam. I’m a huge fan ofAdam Lambert. Dan sesama fans biasanya saling kenal. Ada satu kenalan gue namanya Titi dan dia gila segila-gilanya sama Adam Lambert. Nggak tahu ini kebetulan apa gimana, gue selalu ngakak tiap Adam dan Tante Titi ini nongol.

It’s a lightweight read but heavily entertaining. Untuk pembaca cepat, mungkin bisa habis dilahap dalam satu kali duduk.

20130330-114838.jpg

20130330-114856.jpg