Blog Archives

2013 Indonesian Romance Reading Challenge – December

IRRC2014 Nggak kerasa IRRC sudah hampir setahun berjalan. Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih antusias mengikuti Reading Challenge yang pertama kali saya host ini. Sebagai apresiasi kepada para peserta IRRC, khusus bulan Desember, ada hadiah menarik yang akan diundi di akhir tahun nanti. Hadiahnya adalah paket buku untuk 1 orang pemenang sebagai berikut: BaYh17hCUAAFS2r.jpg large

Pemenang diharapkan membuat resensi dari buku hadiah IRRC ya ^^

Seru kan? Jadi, jangan sampai ketinggalan menyetor link resensimu. Untuk yang ingin ikut IRRC lagi tahun depan, bisa dibaca di sini link

Dan ini daftar peserta yang sudah setor link selama satu tahun Link [masih diedit]

Sampai jumpa tahun depan ^^ 20130725-125307.jpg

[Book Review] Kartini Nggak Sampai Eropa by Sammaria @Gagasmedia

book_info

20131127-085959.jpg

Judul: Kartini Nggak Sampai Eropa
Penulis: Sammaria
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2008
ISBN: 978-979-780-271-4
Tebal: 238 halaman
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Travel, Romance, Contemporary
Beli di: Gramedia Bintaro Plaza. Harga: IDR 15,000
Penghargaan: Nominasi KLA kategori Penulis Muda Berbakat (2009)
Kalimat pembuka:
Je suis a Paris. Et rendezvous?

book_blurb
Anti dan Tesa sudah tidak saling bertemu sejak lulus sekolah. Keduanya adalah cewek-cewek Indonesia yang mencoba menaklukan dunia—khususnya Eropa. Anti melanjutkan studinya ke Perancis, sedangkan Tesa mengambil kuliah di Jerman.

Bagi mereka, jarak bukanlah hambatan untuk tetap saling berbagi cerita. Melalui e-mail, mereka bertukar ide, pendapat, dan argumentasi tentang banyak hal. Tentang pengalaman cintanya dengan para cowok, tentang kebudayaan barat dan timur, tentang realitas sosial, tentang seks, dan bahkan tentang kepercayaan terhadap Tuhan.

Anti dan Tesa adalah dua dari sekian banyak cewek Indonesia pintar. Sambil mencoba menaklukkan Eropa, kedua cewek ini juga terus memperdalam pengetahuannya seraya menikmati masa muda. Meski terkadang memiliki pemikiran yang berbeda, tapi mereka justru menjadi dua orang sahabat yang saling melengkapi.

Tidak hanya pintar, Anti dan Tesa juga sama-sama cewek Indonesia yang haus akan tantangan, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, hobi berpetualang, berkebudayaan tinggi, dan berprinsip. Meski tinggal di Eropa, mereka tidak lantas meninggalkan adat timur yang selama ini mereka jalankan.

Hal itu terlihat jelas saat mereka mempertahankan prinsip ‘having sex after marriage’—meski di sana segala sesuatunya memungkinkan dan sex before marriage adalah hal yang biasa.

Mereka berdua memang luar biasa. Semangat mereka pun tidak kalah tingginya dengan semangat Kartini di zaman dulu. Ya, mereka adalah Kartini zaman modern. Kartini masa kini yang haus akan rasa ingin tahu. Kartini yang tidak takut untuk mempertanyakan apapun, meski pada akhirnya tidak semua pertanyaan memiliki jawaban.

thoughts

Sebenarnya sudah lama saya pengin baca buku ini namun sulit banget didapat. Sekitar tahun 2011-an Jakarta Book Club yang ngadain baca bareng buku ini. Salah satu membernya kenalan saya di Twitter. Tadinya saya pengin ikutan book club ini, namun saya sulit sekali keluar (yes, saya masih tahanan rumah di Bintaro, wkwkwkwkwk) jadi saya pendam keinginan bergabung dengan book club.
Beruntung saya menemukan BBI dan Reight. Walau saya masih sulit keluar rumah, saya masih diberi waktu dan kesempatan untuk membaca dan meresensi buku-buku yang saya suka.

Dan, akhirnya, saya menemukan buku ini di rak sale di Gramedia Bintaro Plasa yang jaraknya cuma sejengkalan dari rumah *praise the Lord, Hallelujah*

Saya cukup surprised dengan gaya penulisan a la email ini. Saya pernah tahu ada buku bahasa Inggris dengan metode serupa, yaitu dua orang sahabat pena yang belum pernah bertemu dan mereka saling curhat via email. Saya lebih nyaman membaca buku dengan format email darioada twit yang membuat mata saya sakit.

Adalah Anti dan Tesa, dua mahasiswi Indonesia yang menempuh pendidikan di Eropa, saling bertukar email dan menceritakan kisah masing-masing dengan berbalas email.

Gaya bertutur Sammaria sangat santai, menggunakan bahasa sehari-hari. Novel ini terkesan ceria.

Anti digambarkan boycrazy walau masih menjaga keperawanannya. She’s a serial dater, kira-kira begitulah penjelasan singkatnya. (Bahasa Indonesianya serial dater itu apa ya? Tukang kencang berantai?)

Di dalam emailnya, Anti curhat tentang cowok Turki yang brengsek, terus dia juga punya pacar yang udah tiga tahun namanya Ical. Namun, Anti masih ngedate dengan Lukas di Prancis.

Sementara Tesa berpacaran dengan Mikhail dan ia berusaha setengah mati untuk tidak melakukan hubungan seks (yang sepertinya sangat jarang ditemui pada anak muda sekarang, apalagi yang kuliah di luar negeri).

Percakapan via email ini tidak melulu membahas isu asmara, namun juga menyinggung budaya Indonesia, cara pemulung mendapat uang lebih, bom Bali, agama, dan lain sebagainya.

Tesa dan Anti juga membahas bahasa. Mereka berdua lebih sering menggunakan bahasa asing dariada bahasa Indonesia. Bahasa memang universal, dan bahasa Indonesua se diri merupakan bahasa serapan. Saya setuju di sini. Suka-suka deh pake bahasa apa aja ^^
Novel ini banyak banget selipan bahasa Inggrisnya.

Dan, karena formatnya saling berbalas email, tidak ada dialog dalam novel ini. Karena bahasanya juga santai, saya nggak merasa terganggu sama sekali. Cuma di beberapa bagian merasa agak bosan karena pembahasannya yang itu-itu juga.

Lalu Anti dan Tesa seperti memiliki suara yang sama. Cara mereka bertutur mirip. Saya agak kesulitan membedakan mana yang Tesa dan mana yang Anti. Untung ada judul email dan dicantumkan nama pengirimnya, jadi saya tau siapa yang berbicara.

Secara keseluruhan, novel ini menghibur dan menjadi penyegaran untuk saya yang sedang mumet dengan kerjaan.

quotes

But what is freedom anyway? Just an illusion. (hal. 39)

Kebebasan bisa terjadi kalo semua pihak di dunia gak punya kepentingan akan pihak lain. (hal. 41)

Instead of covering the girls with some veils, why don’t we educate the boys? (hal. 51)

20131128-083506.jpg

20131128-083529.jpg

[Book Review + Giveaway] London: Angel by Windry Ramadhina @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

book_info

20130919-030245.jpg

Judul Buku: London: Angel (Setiap Tempat Punya Cerita #5)
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2013, Cetakan Pertama
Jumlah Halaman: 330
ISBN: 978-979-70-653-8
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Travel Literature
Harga: Rp. 52,000
Beli di: Pinjam sama Luna
Kalimat pertama:

Sekarang, kota ini persis seperti apa yang dideskripsikan oleh Charles Dickens dalam salah satu bukunya, Bleak House.

book_blurb

Pembaca Tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.

Windry Ramadhina, penulis novel Orange, Memori, dan Montase mengajak kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tidak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemukannya. Apakah perjalanannya ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,
EDITOR

thoughts

London: Angel merupakan novel kelima dari STPC yang sudah terbit. Setelah novel ini, bakal ada Tokyo yang kabarnya merupakan novel terakhir dari seri STPC batch pertama.

Kesan pertama terhadap London: Angel adalah brave karena cover-nya yang bernuansa merah. Gue juga menangkap kesan bold dari tampilan cover-nya.

Tema yang diangkat London: Angel adalah jatuh cinta dengan sahabat. Menarik ya? 🙂

Adalah Gilang, seorang aspiring writer yang mendapati dirinya (ternyata) jatuh cinta dengan Ning, sahabatnya yang dulu tinggal di sebelah rumahnya. Sebuah chat di YM dan celetukan Brutus yang membuat Gilang menyadari tentang perasaannya yang terdalam terhadap Ning, sesuatu yang sebelumnya tidak ia sadari. Sebelum Gilang mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya pada Ning, gadis itu sudah terbang ke London, lalu bekerja di sebuah galeri di sana.

Suatu malam di Bureau, di mana Gilang dan kawan-kawannya menghabiskan malam ala bujangan. Mereka mengompori Gilang untuk mengejar cintanya. Lalu, Gilang benar-benar terbang ke London untuk satu tujuan: Ning.

Tidak mudah bagi Gilang untuk menemui Ning. Karena niatnya memang mau kasih surprise, Gilang bertualang dulu di London. First stop: Underground. Tempat yang hiruk-pikuk di London ini sebenarnya seperti ceruk budaya. Jutaan manusia dari berbagai ras datang silih berganti. Underground juga cukup sering tampil di berbagai film Hollywood, salah satunya The Dark Knight Rises.

Lalu ada James Smith and Sons yang menjual suvenir payung dengan harga yang bisa bikin gue mengelus dada Chris Hemsworth. Tempat yang gue inget karena suatu kejadian yang melibatkan Goldilocks yang misterius dan V. Akhirnya gue bisa tersenyum pas baca suatu adegan “gara-gara payung Goldilocks” itu.

Windry piawai membuat cerita ini memorable. Ia memberi nama tokoh-tokohnya (kecuali Gilang, Ning, Ed, Mrs. Ellis dan Mr. Lowesley, juga beberapa tokoh minor seperti Ayu dan Finn) dengan nama tokoh fiktif seperti Brutus, Hyde, Dee and Dum.

Setelah membaca acknowledgement dari Windry, gue sadar bahwa nama tokoh Hyde bisa jadi diambil dari nama vokalis Laruku yang lagunya mengilhami cerpen cikal-bakal novel ini. Hyde-menurut keterangan penulis di novel-merupakan nama panggilan untuk salah satu tokohnya yang memiliki kepribadian ganda, seperti Dr. Jeckyll and Mrs. Hyde. Namun, gue menangkap Hyde-nya Laruku juga karena dia suka berpenampilan androgyny, sama-sama penganut dualisme. Interesting.

Satu lagi scene yang bikin gue senyum-senyum adalah waktu Ning bilang ia akan membuat steik a la Jamie Oliver. My husband loves it. Campuran oregano, rosemary dan lemon zest bikin steik jadi ‘unik’ rasanya. Heavenly tasty.

Lalu, Gilang mendeskripsikan rasa bibir Ning seperti sari apel ketika ia mimpi berciuman dengan Ning. Ooh la la, those lips do exist and I know how it tastes.

Novel London: Angel ini manis. Cocok dibaca saat hujan sambil menyesap hot choco ditemani CD-nya Lisa Onno. Walau pertamanya gue merasa kurang sabar dengan alurnya yang tidak terlalu cepat, namun gue sangat menikmati perjalanan Gilang, dengan atau tidak adanya Ning dalam adegannya.

Gue bisa cepat membaca novel ini karena hari ini kebetulan gue ikut casting. Sambil menunggu, gue baca dan habislah 170an halaman. Seneng kalau kemana-mana bawa buku, dijamin nggak akan mati gaya. Dan menunggu tidak lagi menjadi kegiatan yang menyebalkan.

quotes

Memangnya, kau bisa jatuh cinta kepada seseorang yang sudah kau kenal selama delapan tahun? (hal. 19)

Aku belajar dari Donalbein, kalau seorang lelaki tersenyum pada perempuan, pasti dia punya niat tersembunyi. (hal. 193)

Manusia memang tidak pernah belajar dari pengalaman. (hal. 212)

dream_cast
london

20130911-085212.jpg

Need a second opinion?

The Bookie Looker Review here
Ariansyah Abo Review here
Orinthia and Books Review here

Submitted for:

New Authors Reading Challenge here

IRRC 2013 here

STPCGA

Yuk, yang mau mendapatkan 3 paket novel serial #STPC @Gagasmedia @Bukune merapat kemari. Caranya gampang banget:

1. Follow akun @Gagasmedia @Bukune dan @WindryRamadhina

2. Twit link review + giveaway ini dengan kalimat seperti ini:

Mau dapetin paket novel #STPC dari @yuska77 @Gagasmedia @Bukune? Klik aja http://t.co/aYJmHOU8fN

3. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel London: Angel. Jangan lupa untuk mencantumkan:

Nama, akun twitter, dan email.

4. Setiap komentar yang kamu tinggalkan di tiap postingan dan twit selama proyek #STPC berlangsung akan mendapat 1 entry. Misalnya, kamu ngetwit link review + giveaway London juga meninggalkan komentar, maka kamu mendapatkan 2 entries.

5. Jangan lupa, besok ada postingan interview bersama Windry Ramadhina. So, stay tuned ya.

6. Giveaway STPC dimulai dari tanggal 1 September – 30 September 2013. Kamu bisa mengisi kolom komentar + tweet giveaway ini selama event STPC berlangsung.

7. Pengumuman pemenang tanggal 5 Oktober 2013

Good luck 🙂

20130330-114856.jpg

P.S. Lust and Coffee diundang untuk menghadiri acara London: Angel Tea Party pada hari Minggu. Nantikan liputannya ya ^^

[Book Review] Unforgettable by Winna Efendi

book_info

20130916-014210.jpg

Judul: Unforgettable
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2012, Cetakan Ketiga
Tebal: 173 halaman
ISBN: 978-979-780-541-8
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance
Beli di: Bukabuku Harga Rp. 34,400
Kalimat pertama: Kedai wine itu dinamakan Muse.

book_blurb

Ini adalah satu kisah dari sang waktu tentang mereka yang menunggu. Cerita seorang perempuan yang bersembunyi di balik halaman buku dan seorang lelaki yang siluetnya membentuk mimpi di liku tidur sang perempuan.

Ditemani krat-krat berisi botol vintage wine yang berdebu, aroma rasa yang menguar dari cairan anggur di dalam gelas, derit kayu di rumah usang, dan lembar kenangan akan masa kecil di dalam ingatan.

Pertemuan pertama telah menyeret keduanya masuk ke pusaran yang tak bisa dikendalikan. Menggugah sesuatu yang telah lama terkubur oleh waktu di dalam diri perempuan itu. Membuat ia kehilangan semua kata yang ia tahu untuk mendefinisikan dan hanya menjelma satu nama: lelaki itu.

Sekali lagi, ini adalah sepotong kisah dari sang waktu tentang menunggu. Kisah mereka yang pernah hidup dalam penantian dan kemudian bertemu cinta.

thoughts

Setelah melahap Melbourne: Rewind dan terkesan dengan novel tersebut, gue mencari novel karya Winna yang lain. Dan Unforgettable adalah salah satunya.

Unforgettable berkisah seorang perempuan yang bersama kakaknya, Rangga, mengelola wine cellar warisan almarhum ayah mereka. Rangga lebih banyak berhubungan dengan para tamu, sedangkan si perempuan (yang tidak disebutkan namanya) lebih suka duduk di hadapan laptop sambil menulis fiksi.

Seorang laki-laki kerap datang ke Muse (nama tempat itu). Ia menderita insomnia dan suka berpetualang. Kedua pasang mata milik laki-laki dan perempuan itu bertemu, menyalakan alarm adanya ketertarikan, dan keduanya mulai berbagi kisah tentang kehidupan, masa lalu, juga cinta.

Namun, percakapan antara si perempuan dan lelaki itu seperti tak berkesudahan, dan gue dibuat bosan.

Juga yang membingungkan adalah penuturan 2 orang ketiga yang berbicara bergantian (ditandai dengan italics). Penulisan dialog tak langsung membuat novel ini unik sekaligus janggal.
Gue sekali membaca novel yang cara penulisan dialognya mirip dengan novel ini, yaitu The Bride Stripped Bare, namun ceritanya dituturkan dari POV2.

Namun, sedikit banyak gue jadi tahu tentang cara merawat wine dan jenis-jenisnya yang beragam. Gue jadi ikut merasa ikut mencicip wine. Jadi membayangkan duduk di sudut Muse dekat rak buku sambil mengunyah fillet mignon diselingi eiswein. Nikmat banget. Oh iya, dalam bayangan gue, Muse itu ada di sudut Menteng yang jauh dari keramaian. Lingkungannya teduh, dan bangunan peninggalan kolonial itu ada aksen biru pucat yang kalau malam lampu-lampu gantung yang cantik berpijar.

Cara bertutur Winna yang khas dengan diksi yang kaya sangat terasa juga. Gue sangat suka dengan cara Winna bercerita. Walau novel ini beralur sangat lamban dan bikin gue mengantuk, gue sangat suka dengan writing style-nya Winna. Gue jadi belajar banyak dari novel ini.

Gue membenarkan pesan novel ini. It’s more comfortable talking about your problems to a stranger than talking to your friends who’ll most likely spill them out to someone else that you knew. Kebanyakan backstabber itu temen sendiri kan? 🙂

quotes

Penyesalan, sama seperti hidup, sama seperti kenangan, adalah hal yang sangat mengerikan. (hal. 23)

Kata orang, menjadi dewasa berarti harus membuat pilihan. Baginya, menjadi dewasa berarti tidak memiliki pilihan. Hidup menjadi serentetan tanggung jawab yang harues diemban, baik suka maupun tidak, mau ataupun enggan. (hal. 36)

Saya percaya, selalu ada sebotol wine yang tepat untuk setiap occasion maupun mood, begitu juga dengan musik. (hal. 81)

Additional Grading Scale:
Cover: A
Plot: C
Characters: B
Writing Style: A
Emotional: C
Satisfaction: B

tidbits

Need a Second Opinion?

Dinoy’s Books Review
Mia Membaca Review
Tukang Review Review

Until next time

20130330-114856.jpg

[Book Review] Notasi by @Miss_Morra @Gagasmedia

book_infonotasi

book_blurbRasanya, sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung.
Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya; tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.

Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.

Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi.
Dan aku mendekap erat-erat kata-kata itu, menanti dalam harap.
Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya.
Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu…

thoughtsNotasi mengambil setting kejadian saat reformasi pecah. Memori gue masih sangat tajam mengingat peristiwa itu.
1998, suatu hari gue terjebak tidak bisa pulang ke rumah. Para mahasiswa dari universitas lain berhenti di depan kampus kami. Banyak yang turun ke jalan Jend. Sudirman, berorasi, meneriakkan agar Soeharto turun. Lalu, terdengar tembakan, ada asap bergulung di depan kampus. Chaotic banget.
Banyak teman yang melakukan demo di gedung MPR. Gue tidak ikut. Alasan gue karena gue tidak suka berpolitik, gue juga tidak suka terkena asap, apalagi tembakan nyasar dari petugas. Banyak yang berdemo, sudah terwakilkan, gue nggak perlu ke sana.

Lalu terjadi pengrusakan, penjarahan, dan pemerkosaan. Berminggu-minggu gue hanya diam di rumah. Bokap juga nggak bisa kerja. Masa itu keadaan kami sulit. Bahan makanan juga sudah habis. Kami hanya bisa makan mie instan, bahkan dijatah sehari dua kali. Miris lah kalau inget kejadian saat itu.

Ketika kembali ke kampus, keadaan sudah sangat berbeda. Banyak teman ras Tionghoa yang tidak kembali ke kampus. Ada kabar, mereka pindah ke Amerika dan Australia. Sedih banget dengernya. Beberapa tahun setelah reformasi lewat, gue pernah mendapat kabar dari seorang teman. Ia bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kakinya lagi ke Indonesia. Efek traumatisnya sedemikian dahsyat. Gue ingat, banyak toko dipilox dengan tulisan ‘Milik Pribumi’, nggak penting karena WNI semuanya pribumi menurut gue. Gue benci dengan <em>racism</em>, sampe gue pernah takut untuk mengaku keturunan Cina. Duh, jadi pengin nangis lagi kalo inget diskriminasi/<em>racial slurs</em> yang gue terima sampe gue pernah dianiaya secara fisik (dan verbal) oleh orang tak dikenal gara-gara isu ras.

Balik lagi ke Notasi, gue sama sekali buta dengan keadaan pra dan pasca reformasi di Jogja. Namun, deskripsi Morra mampu membuat gue bisa mengira-ngira seperti apa suasana di sana.
Dan, Chiclets, memorable banget, salah satu permen kesukaan gue selain Chelsea.

Beberapa nama yang ngetop di era Soeharto, seperti Petrus, juga dibahas di novel ini. Jadi ingat tentang cerita seseorang yang pernah bekerja dengan mantan orang nomor satu di Indonesia itu. Soeharto dijuluki <em>’Smiling General</em>, jarang bicara namun mengerikan. Ia pernah berkata, sebaiknya kita tersenyum di depan (musuh kita), lalu tanpa musuh tahu, kita habisi ia di belakang.
Mungkin Soeharto mempelajari buku Tsun Zu’s Art of War ya. Juga majalah Tempo yang dibredel ketika menampilkan cover dengan gambar Soeharto yang ditempel kartu remi.

Nalia, mahasiswi kedokteran gigi yang ayahnya adalah mantan dekan teknik pertanian, terlibat dalam organisasi radio mahasiswa di kampusnya. Karena itulah ia bertemu dengan Nino, mahasiswa fakultas teknis yang menarik perhatiannya.
Kedua fakultas tersebut ‘bermusuhan’. Radio Jawara milik fakultas teknik tidak memiliki izin siaran. Demikian juga dengan Gama FM milik fakultas kedokteran. Singkat cerita, mereka jadi dekat karena aktif di BEM. Sebuah penyerangan saat berlangsung acara di kampus membuat keduanya menjadi semakin dekat. Ada oknum militer yang menyusup di antara penonton dan membuat huru-hara di UGM, gara-gara salah satu karya tulis yang masuk menyinggung presiden. Ciri khas Orba, tidak boleh menghina presiden. Namun, lambat laun, hubungan Nalia dengan Nino semakin dekat. Ketegangan antarfakultas juga melemah karena keadaan membutuhkan mereka untuk bersatu.

Singkat cerita, novel ini bercerita tentang kisah cinta masa lalu yang masih mengganjal.

Masih ada typo di:

Hal. 4: sertalaki-laki
Hal. 8: siarantanpa.
Hal. 8: gelap, Sayang.Ini sudah malam. (ga pakai spasi)
Hal. 9: hari yang cerah,Puncak Merapi … (ga pakai spasi)
Hal. 20: universitasperiode
Hal. 28: mahasiswaTeknik
Hal. 28: membuatkumengerti
Hal. 37: setelah ini,enggan berlama-lama
Hal. 38: Tengkutahu itu
Hal. 40: itubelum
Hal. 42: suarak (mungkin seharusnya suaraku)
Hal. 45: hargaberbagai
Hal. 50: Kecepatannya rendah.Kendaraan itu
Hal. 53: padatahun-tahun
Hal. 53: laki-lakiawal
Hal. 53: baying-bayang
Hal. 55: memengaruhinyasama
Hal. 56: kurasakania
Hal 59: banyak mata mata terarah kepadanya
Hal. 64: kampuskota
Hal. 74: Iaberpaling
Hal. 87: telahmereka
Hal. 93: tahukampanye
Hal. 93:.orang.Apalagi
Hal. 103: Mahasiswayang
Hal. 108. jera.Mungkin

Sebenarnya masih banyak lagi typo yang terdeteksi, namun gue ribet juga kalo nyatetin semuanya. Semoga kalau dicetak ulang sudah bersih dari typo 🙂

quotesJangan menangis di depan korban saat kamu menjadi relawan. (hal. 4)

Sebelum kalian bentak-bentak anak orang seolah mereka paling bodoh sedunia, pastikan kalian sudah berprestasi dulu. (hal. 33)

Kemarahan orang-orang terhadap kinerja presiden negara sudah semakin menjadi – sebuah potensi ledakan besar yang tampaknya hanya tinggal menunggu waktu. (hal. 45)

Saat-saat istimewa dalam hidup kita selalu datang tanpa peringatan. ( hal. 52)

Di bawah tekanan emosi rasa takut, marah, sedih, atau jatuh cinta, semua orang pasti menunjukkan warna asli mereka. (hal. 58)

Bahwa sejak pertama negeri ini berdiri, yang diwariskan kepada Presiden Sukarno adalah sisa-sisa perang yang hampir tak dapat dibangun lagi. (hal. 133)

Diskusi untuk Reight Book Club:

1. First Impression

Covernya vintage banget. Gue suka.

2. How did you experience the book?

Terus terang, gue perlu waktu untuk memahami karakter beserta motif dan posisinya serta hubungannya antara dengan satu dengan yang lain. Memasuki halaman 60-an, gue baru ‘mudeng’. Morra piawai memasukkan kalimat yang quotable dan kata-katanya juga indah. Puitis, sedikit nyastra namun nggak mendayu-dayu. This is my first experience with Morra.

3. Characters

Nino itu tipe cowok likeable. Auranya misterius, tinggi, dan manly banget.

Nalia ya cewek banget, yang impulsif dan lebih mengedepankan perasaan daripada logikanya. Agak mengesalkan juga sebenarnya si Nalia ini.

Tokoh-tokoh pendukungnya tidak terlalu dalam digali, ya namanya juga figuran. Morra sepertinya bisa bikin spin off deh dengan menampilkan Tengku dan Lin Lin. Tema percintaan yang beda memang banyak, namun gue masih penasaran dengan cara pengangkatan Morra.

4. Plot

Plotnya menarik, isu yang diangkat tentang radio memang belum banyak digali oleh penulis di sini. Terus terang, ini novel ketiga yang gue baca yang mengangkat tema radio, namun Notasi memang paling detil. Alurnya agak lamban, membuat gue menerka-nerka tentang arah ceritanya. Tokoh utamanya bercerita secara flashback ketika ia kembali ke Yogyakarta, lalu memori di kampus muncul, lalu ia bercerita tentang cinta lamanya.

5. POV

Notasi diceritakan dari sudut pandang Nalia. Novel ini menggunakan single POV.

6. Main Idea/Theme

Tema reformasi memang selalu menarik untuk digali, namun sedikit menakutkan bagi gue. Pengalaman buruk saat itu memang bikin gue selalu bergidik kalau mendengar kata reformasi, tahun 1998, kejatuhan Soeharto. Menurut gue, tema radionya yang lebih menarik minat gue, karena Morra memberikan detil cara mendirikan radio dengan baik dan benar. Sejarah radio juga dibahas sedikit.

7. Quotes

Cek bagian quotes di atas 🙂

8. Ending

Gue sempat bertanya-tanya tentang Nino dan Faris, tapi terjawab kok di bab terakhir. Setiap orang punya takdirnya masing-masing 🙂

9. Questions

Mor, dapat ide tentang reformasi dan radio itu gimana ceritanya? Lalu, tokoh-tokohnya semua rekaan atau duplikat dari yang benar-benar ada?

Lalu, berapa lama butuh waktu untuk observasi dan menulis novel Notasi?

10. Benefits

Yes, banyak banget benefit membaca buku ini. Selain mempertajam memori tentang peristiwa tahun 1998 itu, gue juga belajar merangkai diksi yang asik, juga jadi tahu tentang sejarah radio. I’m a sucker for history. Peristiwa Malari tahun 1974 juga dibahas, membuat gue jadi kepengin baca buku-buku sejarah terbitan Komunitas Bambu.

Well, done, Mor. Ditunggu buku selanjutnya ^^

20130330-114838.jpg

20130330-114856.jpg

[Book Review] Brownies by Fira Basuki

20130322-014942.jpg

Judul: Brownies
Penulis: Fira Basuki (based on a movie script by Hanung Bramantyo, Salman Aristo, Erik Sasono & Lina Nurmalina)
Penerbit: Gagasmedia
ISBN: 9793600373
Jumlah Halaman: 239
Terbit: Desember 2004, Cetakan ketiga
Kategori: Fiksi/Romance
Beli di: Bazaar Gramedia Bintaro

Mel, seorang gadis cantik yang gemar membuat kue brownies ditimpa musibah. Suatu hari, ketika ia ingin membuat kejutan untuk tunangannya, Joe, ia menemukannya bercinta dengan wanita lain. Dia akhirnya berkonsentrasi membantu menyiapkan pernikahan sahabatnya, Didi dengan tunangannya, Lilo.

Disanalah Mel bertemu dengan Are, teman SMA Lilo yang pandai membuat brownies. Didi lalu berusaha untuk menjodohkan Mel dan Are. Apalagi ketika mengetahui bahwa Are seperti memahami filosofi kue favorit Mel itu. Tapi Mel yang memang belum siap untuk menerima cinta Are, akhirnya menyakitinya ketika Joe mencoba untuk kembali. Kemanakah akhirnya hati Mel akan berlabuh?

Fira Basuki adalah salah satu nama besar di dunia sastra Indonesia. Gue pertama kali kenal dengan karyanya, yaitu trilogi Jendela-Pintu-Atap yang fenomenal dan membuat nama Fira disejajarkan dengan sastrawati wangi seperti Djenar Maesa Ayu, Dee, juga Ayu Utami.

Fira adalah salah satu penulis yang menginspirasi gue dalam menulis fiksi. Gaya menulisnya santai, informatif dan suka menyisipkan sejarah dan budaya yang sangat gue suka. Trilogi Jendela-Pintu-Atap adalah salah satu koleksi gue yang berharga dan akan gue simpan dan wariskan pada anak gue kelak.

Gue belum pernah menonton film Brownies yang sempat booming awal 2000an. Saat itu gue masih enggan nonton film Indonesia. Pas nemu buku ini di Gramedia, gue niat untuk membacanya. Alasan utamanya karena penulisnya Fira Basuki.

Tokoh utama novel ini, Mel, adalah creative director, perempuan khas metropolitan. Dia patah hati saat memergoki tunangannya, Joe, yang sedang bermesraan dengan perempuan lain, Astrid, yang ternyata adalah salah satu seleb papan atas Indonesia. Mel susah sekali move on, selain perasaannya yang mendalam pada Joe, walau tahu ia player kelas berat sejak kuliah, Mel masih berharap Joe bisa berubah dan mampu mencintai Mel dengan tulus tanpa ada perselingkuhan. Mel sering menangis histeris saat teringat Joe. Apalagi waktu sahabatnya, Didi, menikah dengan Lilo. Joe yang diundang dengan santainya menggandeng Astrid, seolah ingin memamerkan pada dunia dan membuat perasaan Mel tercabik-cabik. Oh, yes, I know the feeling. You’re crushed to the core. And you feel the world is cruel and not worth living.

Mel juga hobi sekali membuat brownies yang ketika dibuatnya saat patah hati rasanya jadi pahit. Memang ketika memasak/baking, rasa yang dihasilkan sangat bergantung pada perasaan pembuatnya. Masakan akan terasa sangat lezat jika dibuat dengan cinta dan ketulusan. Ini serius, karena gue tukang ngubek dapur dan berkali-kali gagal dalam menciptakan ‘rasa’ terutama ketika PMS sedang melanda 🙂

Setelah bermuram durja, akhirnya Mel bertekad untuk tidak hancur gara-gara Joe. Berbekal buku tamu dan buku almamater kampus, Mel menghubungi cowok-cowok untuk dikencaninya. Jadilah Mel seorang serial dater. Tentu saja Mel membawa cowok-cowok ke depan mata Joe agar terlihat. Well, of course it’s not flattering. Mel malah terlihat semakin pathetic. Karena semua cowok yang dikencaninya cuma rebound, dan selalu ia bandingkan dengan Joe, Mel merasa bosan, dan ia meninggalkan mereka.

Mel mencoba resep baru brownies dan mengajak cowok-cowok teman kencannya untuk membantunya dan mencicipinya. Rasanya masih belum memuaskan. Sampai ia bertemu dengan Are, pemilik toko buku kecil di TIM. Sosok Are yang unik, ditambah dengan brownies buatannya yang terkenal enak, Mel tertarik untuk mendapatkan resep Are.

Selebihnya, Gue nggak mau ngasih spoiler ya.

Gue suka dengan storyline Brownies yang singkat, padat, jelas, dan berisi. Tema cinta memang nggak habis untuk digali, dan Brownies cukup legit untuk dinikmati.

Yang ganjil dari buku ini:

Lilo memandang Didi. “Mel punya kebiasaan bunuh diri nggak sih?” – hal. 63

Sepertinya nggak ada orang yang hobi bunuh diri, kecuali nyawanya ada sembilan. Mungkin hobi percobaan bunuh diri, atau hobi mengancam ingin bunuh diri (gue punya temen model begini soalnya. Ngancam doang, tapi nggak pernah sampe bunuh diri).
Atau bisa juga punya kecenderungan untuk bunuh diri. Menurut gue tiga hal tadi lebih masuk akal daripada kebiasaan/habit bunuh diri.

Lalu, terjemahan percakapan bahasa Inggris agak mengganggu. Menurut gue, semua percakapan dalam bahasa Inggris di buku ini mudah dipahami, sehingga nggak perlu diterjemahin.

Gue lebih suka Brownies daripada seri Ms. B yang menurut gue chicklit/metropop nanggung. Entah kenapa, gue nggak dapat feel Fira di serial Ms. B. Dan, tentu saja, gue pengin cari film Brownies. Selain itu, gue juga jadi pengin nyari buku Canting-nya Arswendo Atmowiloto dan kumcer Gallery of Kisses yang didapat Mel dari toko buku Are.

Fave Quotes:

“Jadi, buatlah brownies untuk dinikmati orang lain. Itu saja kuncinya. Itu resepnya.” – Are
“Masak saja apa adanya, biarkan brownies ungkapin sendiri rasanya…” – Are

20130322-091428.jpg

20130322-091443.jpg

[Book Review] Perahu Kertas + Movie Review

20130313-084735

Judul: Perahu Kertas
Penulis: Dee
Format: Paperback,
Jumlah halaman: 456
Terbit: 29 Agustus 2009 by Bentang Pustaka & Truedee
ISBN: 139789791227780

Book Blurb:

Namanya Kugy. Mungil, pengkhayal, dan berantakan. Dari benaknya, mengalir untaian dongeng indah. Keenan belum pernah bertemu manusia seaneh itu.

Namanya Keenan. Cerdas, artistik, dan penuh kejutan. Dari tangannya, mewujud lukisan-lukisan magis. Kugy belum pernah bertemu manusia seajaib itu.

Dan kini mereka berhadapan di antara hamparan misteri dan rintangan. Akankah dongeng dan lukisan itu bersatu?

Akankah hati dan impian mereka bertemu?

Thoughts:

Orang bilang orang gila jodohnya pasti orang gila juga. Itulah yang terjadi pada dua tokoh utama novel ini, Kugy dan Keenan. Sama-sama berzodiak Aquarius, dan sama-sama ‘nyeni’. Kugy sejak kecil bercita-cita sebagai Juru Dongeng, sedangkan Keenan memiliki impian untuk menjadi seorang pelukis.

Kugy suka menulis surat di selembar kertas, yang ia bentuk menjadi perahu, kemudian ia hanyutkan di sungai. Kugy berharap surat-suratnya sampai kepada dewa Neptunus.

Novel “Perahu Kertas” ini jauh lebih sederhana dan mudah dicerna ketimbang seri Supernova. Kebetulan gue adalah pembaca Supernova. Walau “Perahu Kertas” lebih ngepop, Dee masih memberikan secuplik kegilaannya dengan menghadirkan ‘agen Neptunus’.

Tapi, jujur, gue nggak suka dengan Kugy. Diantara semua novel Dee yang pernah gue baca, Kugy is the most annoying bitch. Mungkin hampir sama menyebalkannya dengan Bella Swan.
Gue nggak habis pikir, kenapa buku hadiah yang tadinya mau dikasih untuk Keenan akhirnya diberikan kepada Remi, dan semua itu dilakukan secara sadar?
Nggak worth it banget Remi dapat hadiah ‘bekasan’ walau Kugy bilang benda itu sangat berarti untuk dia.
Keenan pun demikian, memberikan pahatan untuk Luhde yang seharusnya bukan u tuk Luhde. I guess that’s why Kugy and Keenan deserve each other.

Selain kisah percintaan Kugy, Ojos, Keenan dan Remi, novel ini juga menyajikan persahabatan yang indah.

Gue juga trenyuh dengan kisah cinta Poyan dan Lena.
Yang jelas pesan dari novel ini adalah: Radar Neptunus pasti akan menemukan jodoh untuk kita.

Rating untuk novel: 4 Bintang

20130314-075609.jpg

Judul Film: Perahu Kertas 1 dan 2
Sutradara: Hanung Bramantyo
Produser: Chand Parwez Servia dan Putut Widjanarko
Distribusi: Starvision, Mizan Production dan Dapur Film
Rilis: Agustus 2012 dan Oktober 2012
Durasi: 112 menit
Pemain: Maudy Ayunda, Adipati Dolken, Reza Rahadian, Sylvia Fully R, Fauzan Smith, Tio Pakusadewo, Elyzia Mulachela, Ben Kasyafani, Sharena Rizky, Titi DJ, Kimberly Ryder, Ira Wibowo, August Melasz

Sinopsis

Perahu Kertas 1

Perahu Kertas mengisahkan pasang surut hubungan dua anak manusia, yaitu Kugy (Maudy Ayunda) dan Keenan (Adipati Dolken). Kisah bermula ketika mereka berdua kuliah di Bandung. Kugy, yang bercita-cita ingin menjadi penulis dongeng, kuliah di Fakultas Sastra. Ia punya kebiasaaan unik, yaitu suka membuat perahu kertas yang kemudian dilarungkannya di sungai.
Keenan, pelukis muda berbakat, dipaksa untuk kuliah di Fakultas Ekonomi oleh ayahnya. Bersama dengan sahabat Kugy sejak kecil, Noni (Sylvia Fully R), serta pacar Noni, yakni Eko (Fauzan Smith), yang juga adalah sepupu Keenan, mereka berempat menjadi geng kompak. Dari yang semula saling mengagumi, Kugy dan Keenan diam-diam saling jatuh cinta. Tapi berbagai hal menghalangi mereka. Tak hanya itu, persahabatan Kugy dan Noni pecah ketika Kugy, demi menjaga hatinya, tak datang pada pesta ulang tahun Noni yang diadakan di rumah Wanda.
Keenan akhirnya pergi ke rumah Pak Wayan (Tyo Pakusadewo), seorang pelukis teman lama Lena, sekaligus mentor Keenan melukis. Dalam suasana hati yang gundah, kreatifitas melukis Keenan buntu. Luhde (Elyzia Mulachela), keponakan Pak Wayan, berhasil mengembalikan semangat Keenan. Seorang kolektor langganan galeri Wayan bernama Remi (Reza Rahadian) menjadi pembeli pertama. Ingin cepat meninggalkan Bandung dan lingkungan lamanya, Kugy berjuang untuk lulus cepat.
Begitu lulus sidang, kakak Kugy yang bernama Karel (Ben Kasyafani) membantu agar Kugy magang di biro iklan bernama AdVocaDo milik temannya, yaitu Remi. Prestasi kerja Kugy cemerlang, dan menarik perhatian Remi.

Perahu Kertas 2

Keenan sudah memutuskan kembali tinggal di Jakarta dan melanjutkan bisnis keluarga akibat serangan stroke yang diderita ayahnya, Adri (August Melasz), menjalani hubungan kasih jarak jauh dengan Luhde (Elyzia Mulachela) yang tinggal di Bali. Sedangkan Kugy telah menjadi semakin dekat dengan Remi (Reza Rahadian), yang juga menjadi atasannya di biro iklan AdVocaDo. Keenan mengembalikan buku Jenderal Pilik kepada Kugy.
Buku tulisan tangan Kugy inilah yang telah menjadi sumber ilham lukisan-lukisannya. Tak hanya itu, pertemuan kembali Keenan dan Kugy memunculkan kembali ide mereka berdua: Kugy menulis cerita anak, dan Keenan membuatkan ilustrasinya. Akibatnya, prestasi kerja Kugy merosot drastis, sehingga menjadi alasan bagi Siska (Sharena) untuk mengkritik kedekatan Kugy dan Remi. Remi memberinya cincin untuk membuktikan keseriusannya.
Sepulang dari Bali, Kugy mencoba untuk menghindar dari Keenan dan Remi, menenangkan diri ke rumah Karel (Ben Kasyafani), kakaknya. Keenan yang merasa kehilangan pun mencari Kugy. Lewat Noni, Keenan mengetahui bahwa dulu Kugy menjauhkan diri dari Keenan, dan juga Noni serta EKo, adalah karena sebenarnya Kugy mencintai Keenan, tetapi terhalang oleh kedekatan Keenan dan Wanda (Kimberly Ryder). Keenan memutuskan untuk menemui Kugy untuk menuntaskan perasaan-perasaan terpendam mereka. Tetapi, peristiwa demi peristiwa kemudian menjalin, mempertemukan dan memisahkan hati, silih berganti antara Kugy, Keenan, Remi, Luhde, dan juga Siska beserta orang- orang lain di sekeliling mereka. Bahkan juga membuka bagaimana hubungan Pak Wayan dan kedua orang tua Keenan, Lena (Ira Wibowo) dan Adri. Perahu kertas yang mengalir di sungai, berayun-ayun mencari tambatan hati.

Ada beberapa bagian novel yang diubah, dihilangkan dan ditambah. Misalnya tokoh Siska yang di novel nggak penting dan hanya menjadi figuran, di film perannya agak penting sebagai rival Kugy di Advocado, juga saingan cinta dalam merebut hati Remi.

Adegan pertengkaran Kugy dan Noni juga kurang digarap lebih dalam.

Gue memang menonton filmnya terlebih duku daripada membaca novelnya, bikin gue agak kurang mudeng soal ‘agen Neptunus’. Bagi yang udah membaca novelnya duluan, pasti nggak mendapat kesulitan untuk memahami tiap adegan.

Karakter Kugy cukup baik dibawakan oleh Maudy, namun ekspresi menangis dan tertawanya hampir mirip, bikin gue agak bingung pada awalnya. Tapi lama-lama gue maklum dengan ekspresi yang hampir mirip itu.

Yang paling berkesan adalah scene di Sakola Alit. Mungkin karena gue mantan guru jadi gue memfavoritkan adegan Kugy mengajar dan keceriaan pasukan Alit tersebut. Sayang, di film adegan tragis Sakola Alit kurang greget. Entah mengapa, waktu baca novelnya gue menitikkan air mata, saat nonton sepertinya agak flat.

Gue juga sangat suka dengan peran Poyan yang dibawakan dengan jempokan oleh Tio Pakusadewo. Tokoh Poyan sangat hidup, seperti keluar dari novelnya. Selain Poyan, gue juga suka banget dengan Eko yang Arab banget, apalagi adegan perkawinan dengan Noni. Juara deh, ijab kabul sampai diulang tiga kali. Nah, ini satu-satunya adegan yang lebih gue suka daripada novelnya.

Satu adegan ridiculous yang gue tangkap adalah: saat Kugy camping dengan Keenan di pantai. Mana bisa orang tidur di atas karang? It looks good on screen, but people will never do that in reality.

Adegan yang bikin gue tersayat-sayat adalah saat Poyan mengutarakan hatinya pada Lena, dan saat Remi melepas Kugy pergi.

Reza Rahadian is a damn good actor.

Overall, film “Perahu Kertas” cukup menghibur dengan cast yang OK.

Fave quotes

“Apa yang orang bilang realistis belum tentu sama dengan apa yang kita pikirin. Ujung-ujungnya kita juga tahu, mana diri kita yang sebenarnya, mana yang bukan. Dan kita juga tahu apa yang pengin kita jalanin.” Keenan

“Kamu mungkin bisa membeli lukisan saya, tapi kamu nggak bisa membeli saya.” Keenan

“Nggak semua dongeng bisa happy ending, apalagi realitas.” Karel

“Dari seseorang saya belajar, hati itu ndak milih, tapi hati itu dipilih.” Luhde

Rating untuk filmnya: 3 Bintang