Blog Archives

[Book Review] The Murder of King Tut by James Patterson

image

image

Judul: The Murder of King Tut
Penulis: James Patterson and Martin Dugard
Alih Bahasa: Julanda Tantani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Web Penerbit: klik
Terbit: Juni 2013
Tebal: 392 halaman
ISBN: 978-979-22-9713-3
Format: Paperback
Kategori: Fiksi
Genre: Mystery
Bisa dibeli di: Blibli
Harga: IDR 52rb
Kalimat Pembuka:
Saat itu Malam Tahun Baru, ketika seorang penjelajah serius dan tampan bernama Howard Carter, yang lancar berbahasa Arab, memberikan perintah untuk memulai penggalian.

image

Tutankhamun, si Raja Bocah, terpaksa naik takhta pada usia Sembilan tahun. Baru sembilan tahun memerintah, Raja Tut wafat tiba-tiba, namanya lenyap dari sejarah Mesir dan sampai hari ini kematiannya masih terselubung misteri.

Howard Carter berniat mengungkap jawaban atas misteri yang telah berumur tiga ribu tahun ini dan bertekad untuk menemukan makam tersembunyi sang Firaun. Dia memulai penelitiannya pada tahun 1907, namun menghadapi banyak halangan, sebelum akhirnya usahanya membawa hasil.

Berdasarkan bukti-bukti X-ray, arsip-arsip Carter, dan lainlainnya, James Patterson dan Martin Dugard menyusun kisah tentang kehidupan dan kematian Raja Tut dalam sebuah novel yang penuh intrik dan pengkhianatan.

image
Saya sudah memiliki buku ini sejak buku ini baru dirilis, tapi baru sempat membacanya dua tahun kemudian (bookhoarder alert.)

Gara-gara menonton miniseri Tut, saya mencari-cari buku ini yang berada di tumpukan kontener paling bawah.

Tidak seperti karya-karya sebelumnya, James Patterson menggabungkan fakta sejarah dengan fiksi di buku ini. Menarik karena buku ini bercerita tentang tokoh-tokoh lintas generasi (menggunakan alur maju-mundur), juga tokoh-tokoh nyata (Howard Carter, Akhenaten, Nefertiti, Tutankhamun hingga James Patterson sendiri selaku narator), membaca novel ini serasa melakukan time traveling. Tidak selalu mulus karena setiap perpindahan waktu, saya butuh mengumpulkan mood agar saya ngeh berada di era tersebut.

Howard Carter, seorang ahli peradaban Mesir, berambisi ingin mencari menemukan kubur firaun yang baru agar namanya bisa terkenal, juga kaya raya.
Namun, pencarian kubur firaun yang tidak terkenal itu tidak mudah. Selain faktor dana dan waktu, letak makam Tut memang tidak lazim dan sangat tersembunyi.

Flashback ke masa lalu, dikisahkan Tut adalah putra yang tidak disukai Akhenaten. Namun, berbeda dengan ayahnya yang mabuk kuasa, wanita, juga alkohol, Tut tumbuh menjadi pribadi yang sangat berbeda dengan ayahnya. Ia tumbuh tanpa ibu kandung, tapi Nefertiti sangat menyayanginya dan menyiapkannya untuk menjadi seorang firaun.

OK, saya tidak mau spoiler jadi cukup sampai di sini rangkumannya.

Sesuai dengan judul bukunya, berdasarkan riset yang dilakukan Patterson, dia menyimpulkan bahwa Tut dibunuh. Berbeda dengan miniseri yang saya tonton, Tut tewas karena infeksi pada kaki.
Kebenarannya seperti apa, saya juga tidak tahu. Yang pasti, semua pihak yang terlibat dalam penggalian makam Tutankhamen pasti terkena sial. Konon, ada kutuk mengerikan di makam firaun muda ini.

Yang saya pelajari dari buku ini antara lain:
1. Proses mumifikasi itu sangat mengerikan.
2. Praktik inses sangat lazim dilakukan untuk menjaga kemurnian darah.
3. Sulit untuk mempercayai seseorang. Bagaimana pun meyakinkannya seorang bawahan, risiko untuk berkhianat selalu ada.
4. Dalam politik, selalu ada pihak yang dikorbankan demi kepentingan seseorang.
5. Kebenaran kolektif dijadikan alat politik.
6. Sejarah bisa diubah sesuai keinginan penguasa saat itu demi membangun ‘citra-nya’.
7. Ketika seseorang sukses, dia akan dirubung oleh orang-orang yang ingin kecipratan dan yang merasa ikut andil atau berkepentingan atas kesuksesan orang tersebut.
8. Pada mulanya, para penguasa Mesir dimakamkan di dalam piramida-piramida batu yang indah. Namun gara-gara para penjarah, para firaun menyembunyikan makam mereka.

Overall, menurut saya buku ini adalah salah satu karya terbaik James Patterson. Kalau kamu suka sejarah, buku ini cocok untuk kamu baca.

image

Meninggikan suara berarti menunjukkan kelemahan.

image

Need second opinion?

Books to Share (review dalam Bahasa Indonesia)

Luxury Reading (Review dalam Bahasa Inggris)

image

[Book Review] Queen, Empress, and Concubine by Claudia Gold

https://lustandcoffee.files.wordpress.com/2013/06/book_info.jpg

20140726-045544.jpg

Judul: Queen, Empress, Concubine
Penulis: Claudia Gold
Penerjemah: Ida Rosdalina
Penerbit: Alvabet
Web Penerbit: link
Terbit: April 2012, cetakan pertama
Tebal: 152 halaman

ISBN: 978-602-9193-17-6
Kategori: Non Fiksi
Genre: Biografi, Sejarah
Beli di: Yes24
Harga: Rp. 115,900

book_blurb

Di balik dominasi laki-laki dalam sejarah, ternyata ada sejumlah perempuan hebat yang menjadi penguasa, sebagai ratu atau permaisuri, presiden atau perdana menteri. Kaum elit perempuan ini—yang berkuasa melalui suksesi dinasti, pemilu demokratis, atau dengan cara lain—telah mencapai kepemimpinan tertinggi dalam politik. Beberapa di antara mereka bahkan menjadi tokoh sangat berpengaruh dan karismatik dalam sejarah dunia.

50 Perempuan Penguasa melukiskan dengan jelas potret kehidupan 50 perempuan luar biasa yang memegang posisi politik sangat dominan dalam sejarah, dari Ratu Sheba di zaman kuno hingga Perdana Menteri Benazir Bhutto di era modern. Setiap profil tokoh digambarkan dengan jelas dalam konteks dan budaya setempat kala itu, sehingga memungkinkan sang penulis untuk tidak hanya menceritakan kisah hidup tokoh-tokoh perempuan yang penuh keberanian dan ketegasan ini, melainkan juga menyuguhkan informasi memikat perihal sejarah sosial alternatif selama 3.500 tahun terakhir.

Dilengkapi dengan gambar-gambar eksklusif untuk setiap tokoh serta didesain dengan tata letak isi yang bervariasi, buku ini benar-benar indah dan memikat. Dan, jika Anda meragukan kompetensi, keahlian, dan keagungan perempuan dalam kepemimpinan dan kekuasaan, buku ini akan dengan mudah membalikkan pandangan Anda.

thoughts

Saya nggak sengaja menemukan buku ini di situs Yes24. Tadinya saya mau membeli sepatu. Ternyata, memang dasar bukan rezeki, sepatu tersebut sold out. Saya bingung mau beli apa. Pada hari tersebut, buku ini muncul di halaman utama. Karena saya sedang menonton serial The Borgias, saya memutuskan untuk membeli buku ini. Dua tokoh dalam serial yang berdasarkan kisah nyata pemerintahan Vatikan era Paus Alexander VI tersebut, yaitu Lucrezia Borgia dan Catharina Sforza dibahas dalam buku ini.
Saya juga sedang membaca buku Maharani karya Pearl S. Buck. Tokoh utamanya, mantan selir yang menjadi Empress dinasti Qing, yaitu Ci Xi juga ada di buku ini.

Dari ke-50 tokoh wanita penguasa di buku ini, beberapa yang menarik perhatian saya adalah:
1. Nefertiti
Selain terkenal karena kecantikannya, Nefertiti dan suaminya, Akhenaten, berani membuat agama baru. Sebelumnya, rakyat Mesir memuja Amun-Ra. Saat Akhenaten berkuasa, ia menghancurkan kuil pemujaan terhadap dewa Amun, Mut, dan Khonsu, diganti dengan dewa tunggal, Aten.

2. Izebel
Istri raja Ahab yang memuja Baal ini menjadi musuh Elia. Suaminya yang dulu mengakui satu tuhan membiarkan istrinya membawa nabi-nabi palsu ke istananya. Ia juga membunuh nabi-nabi pemuja Yahweh. Sesuai ramalan Elia, Izebel mati mengenaskan. Sebelumnya saya pernah membaca kisah Izebel dari buku The Fifth Mountain yang reviewnya ada di sini.

3. Caterina Sforza
Musuh bebuyutan keluarga Borgia ini dikenal sebagai perempuan perkasa yang mampu berperang dalan keadaan hamil.
Ketika musuh mengancam akan membunuh anaknya, ia mengangkat roknya dan mempertontonkan kelaminnya sambil berkata bahwa ia tidak takut karena ia sanggup memproduksi lebih banyak anak lagi.

4. Mary Tudor
Ratu pertama Inggris yang ditolak ayahnya karena kasus pembatalan perkawinan antara ayahnya, Henry VIII dengan ibunya Catherine Aragon. Ia juga difitnah telah melakukan pembakaran massal kaum Protestan. Gara-gara peristiwa itu, ia dikenal dengan nama “Bloody Mary”.

5. Cixi
Selir kelas tiga yang naik pangkat menjadi istri raja karena kecerdasannya. Demi ambisinya untuk naik tahta, ia mencuri hati ibu suri, juga menjalin hubungan baik dengan kasim kerajaan dan pemegang kekuasaan politik. Ia melahirkan seorang putra yang kelak menjadi kaisar, namun anaknya mengangkat musuh Cixi menjadi menteri. Peristiwa berdarah tak terelakkan. Cixi memimpin tahun-tahun terakhir runtuhnya dinasti Manchu.

Yang saya sukai dari buku ini selain ukurannya yang besar (coffee table), juga ilustrasi dan halaman full color. Biografi tiap tokoh ringkas dan padat, dilengkapi inset kejadian penting dan kronologis dari awal mula berkuasa hingga tokoh tersebut tutup usia.

Sayangnya, terjemahannya masih terasa kaku di beberapa bagian.
Tapi secara keseluruhan saya suka buku ini. Gara-gara membaca buku ini saya jadi tertarik untuk mencari buku biografi beberapa tokohnya.

20140225-050101.jpg

Until next time

20131128-083529.jpg

Wishful Wednesday 38: History of Imperial China Series

20130403-124544

Udah lama banget kayaknya ngga update blog dan ikutan meme Wishful Wednesday. Tahun ini jadwal baca rada berantakan karena ada tugas lebih penting yang menanti *lap keringet*.

Saya sedang tergila-gila dengan segala sesuatu yang berbau sejarah. Waktu sekolah dulu, sejarah adalah salah satu mata pelajaran favorit saya. Banyak yang nggak suka dengan sejarah karena membosankan, pusing menghafal tanggal kejadian, ada juga teman yang berpendapat bahwa kita harus move on, gak perlu mengungkit kejadian lampau yang terlanjur terjadi.
Kenapa saya suka sejarah? Salah satunya karena saya suka drama dan intrik, dan ada aja drama dan intrik dalam peristiwa sejarah yang lebih ngejedar dari kejadian sekarang.

Wishlist saya kali ini adalah buku-buku berikut:

20140723-102750.jpgThe Early Chinese Empires: Qin and Han by Mark Edward Lewis

Description:

In 221 BC, the First Emperor of Qin unified the lands that would become the heart of a Chinese empire. Though forged by conquest, this vast domain depended for its political survival on a fundamental reshaping of Chinese culture. With this informative book, we are present at the creation of an ancient imperial order whose major features would endure for two millennia.

The Qin and Han constitute the “classical period” of Chinese history—a role played by the Greeks and Romans in the West. Mark Edward Lewis highlights the key challenges faced by the court officials and scholars who set about governing an empire of such scale and diversity of peoples. He traces the drastic measures taken to transcend, without eliminating, these regional differences: the invention of the emperor as the divine embodiment of the state; the establishment of a common script for communication and a state-sponsored canon for the propagation of Confucian ideals; the flourishing of the great families, whose domination of local society rested on wealth, landholding, and elaborate kinship structures; the demilitarization of the interior; and the impact of non-Chinese warrior-nomads in setting the boundaries of an emerging Chinese identity.

The first of a six-volume series on the history of imperial China, The Early Chinese Empires illuminates many formative events in China’s long history of imperialism—events whose residual influence can still be discerned today.

20140723-103501.jpgChina Between Empires by Mark Edward Lewis

Description

After the collapse of the Han dynasty in the third century CE, China divided along a north–south line. Mark Edward Lewis traces the changes that both underlay and resulted from this split in a period that saw the geographic redefinition of China, more engagement with the outside world, significant changes to family life, developments in the literary and social arenas, and the introduction of new religions.

The Yangzi River valley arose as the rice-producing center of the country. Literature moved beyond the court and capital to depict local culture, and newly emerging social spaces included the garden, temple, salon, and country villa. The growth of self-defined genteel families expanded the notion of the elite, moving it away from the traditional great Han families identified mostly by material wealth. Trailing the rebel movements that toppled the Han, the new faiths of Daoism and Buddhism altered every aspect of life, including the state, kinship structures, and the economy.

By the time China was reunited by the Sui dynasty in 589 CE, the elite had been drawn into the state order, and imperial power had assumed a more transcendent nature. The Chinese were incorporated into a new world system in which they exchanged goods and ideas with states that shared a common Buddhist religion. The centuries between the Han and the Tang thus had a profound and permanent impact on the Chinese world.

20140723-103756.jpgChina’s Cosmopolitan Empire: The Tang Dynasty by Mark Edward Lewis

Description:

The Tang dynasty is often called China’s “golden age,” a period of commercial, religious, and cultural connections from Korea and Japan to the Persian Gulf, and a time of unsurpassed literary creativity. Mark Edward Lewis captures a dynamic era in which the empire reached its greatest geographical extent under Chinese rule, painting and ceramic arts flourished, women played a major role both as rulers and in the economy, and China produced its finest lyric poets in Wang Wei, Li Bo, and Du Fu.

The Chinese engaged in extensive trade on sea and land. Merchants from Inner Asia settled in the capital, while Chinese entrepreneurs set off for the wider world, the beginning of a global diaspora. The emergence of an economically and culturally dominant south that was controlled from a northern capital set a pattern for the rest of Chinese imperial history. Poems celebrated the glories of the capital, meditated on individual loneliness in its midst, and described heroic young men and beautiful women who filled city streets and bars.

Despite the romantic aura attached to the Tang, it was not a time of unending peace. In 756, General An Lushan led a revolt that shook the country to its core, weakening the government to such a degree that by the early tenth century, regional warlordism gripped many areas, heralding the decline of the Great Tang.

20140723-104138.jpgThe Age of Confucian Rule by Dieter Kuhn

Description:

Just over a thousand years ago, the Song dynasty emerged as the most advanced civilization on earth. Within two centuries, China was home to nearly half of all humankind. In this concise history, we learn why the inventiveness of this era has been favorably compared with the European Renaissance, which in many ways the Song transformation surpassed.

With the chaotic dissolution of the Tang dynasty, the old aristocratic families vanished. A new class of scholar-officials—products of a meritocratic examination system—took up the task of reshaping Chinese tradition by adapting the precepts of Confucianism to a rapidly changing world. Through fiscal reforms, these elites liberalized the economy, eased the tax burden, and put paper money into circulation. Their redesigned capitals buzzed with traders, while the education system offered advancement to talented men of modest means. Their rationalist approach led to inventions in printing, shipbuilding, weaving, ceramics manufacture, mining, and agriculture. With a realist’s eye, they studied the natural world and applied their observations in art and science. And with the souls of diplomats, they chose peace over war with the aggressors on their borders. Yet persistent military threats from these nomadic tribes—which the Chinese scorned as their cultural inferiors—redefined China’s understanding of its place in the world and solidified a sense of what it meant to be Chinese.

The Age of Confucian Rule is an essential introduction to this transformative era. “A scholar should congratulate himself that he has been born in such a time” (Zhao Ruyu, 1194).

20140723-105953.jpgChina’s Last Empire: The Great Qing by William T. Rowe

Description:

In a brisk revisionist history, William T. Rowe challenges the standard narrative of Qing China as a decadent, inward-looking state that failed to keep pace with the modern West.

The Great Qing was the second major Chinese empire ruled by foreigners. Three strong Manchu emperors worked diligently to secure an alliance with the conquered Ming gentry, though many of their social edicts—especially the requirement that ethnic Han men wear queues—were fiercely resisted. As advocates of a “universal” empire, Qing rulers also achieved an enormous expansion of the Chinese realm over the course of three centuries, including the conquest and incorporation of Turkic and Tibetan peoples in the west, vast migration into the southwest, and the colonization of Taiwan.

Despite this geographic range and the accompanying social and economic complexity, the Qing ideal of “small government” worked well when outside threats were minimal. But the nineteenth-century Opium Wars forced China to become a player in a predatory international contest involving Western powers, while the devastating uprisings of the Taiping and Boxer rebellions signaled an urgent need for internal reform. Comprehensive state-mandated changes during the early twentieth century were not enough to hold back the nationalist tide of 1911, but they provided a new foundation for the Republican and Communist states that would follow.

This original, thought-provoking history of China’s last empire is a must-read for understanding the challenges facing China today.

Saya baru punya 1 buku dari seri ini, yaitu The Troubled Empire by Timothy Brook link

Semoga saya kesampaian bisa mengoleksi seri ini.

Yuk, yang mau ikutan Wishful Wednesday, langsung aja klik blog Perpus Kecil by Astrid.

Happy Wednesday

20130622-091605.jpg

[Book Review] Some Girls, Some Hats and Hitler by Trudi Kanter

book_info

20130821-033002.jpg

Title: Some Girls, Some Hats and Hitler: a Love Story
Author: Trudi Kanter
Publisher: Virago
Published: April 12th, 2012
No. Of Pages: 242
ISBN: 978-1-84408-808-9
Category: Non Fiction
Genre: Memoir, autobiography, war, Holocaust
Format: Paperback
Bought at: Bookdepository for $5.64 (Bargain Bin)
Opening sentences: Of course I’d seen him before. Many times. In the cafes, restaurants, theatres, concert halls and beautiful shops of a small city like Vienna, everyone knew who was who, and everyone knew who might one day be more than that.

book_blurb

A true story. Vienna, 1938: Trudi Miller, young, beautiful and chic, designs hats for the smartest women in the city. She is falling in love with Walter, a charming and charismatic businessman. But their idyll is about to end. Trudi and Walter are Jewish, and as Hitler’s tanks roll into Austria, they know they have to flee. Some Girls, Some Hats and Hitler is an incredible true story that moves from Vienna to Prague to blitzed London, as Trudi desperately seeks a safe place for her and Walter amid the horror engulfing Europe.

thoughts

Holocaust is Lust & Coffee’s topic of the year. Masih belum puas membaca buku-buku bertema Holocaust, kali ini gue iseng membeli satu memoir masa Holocaust di Wina. Setelah iseng browsing sana-sini, ternyata banyak fakta menarik tentang buku ini. Rilisan pertama diterbitkan secara self-published dan kurang mendapat tanggapan. Seseorang menemukan versi out of print-nya dan menerbitkan ulang. Versi terbitan Virago yang sudah diedit ini yang kembali hadir dan berada di tangan. Hingga kini, pihak penerbit masih mencari pemegang copyright karya Trudi ini.

Tidak seperti kebanyakan cerita di masa Holocaust yang suram dan penuh kesedihan, memoar Trudi agak berbeda. Trudi yang berprofesi sebagai perancang topi (kebayang kan topi-topi vintage yang kerap dipakai perempuan tahun 1930-an?) bertemu dengan Walter di luar apartemen Trudi. Seperti kejadian di film-film romantis nan klise, mereka bertubrukan, dan Walter meminta maaf. Setelah itu, mereka menyesap champagne, and the rest is history. Trudi menjelaskan tempat kencannya dengan Walter. Salah satunya Vienna Opera House. Membaca bab awal Trudi seperti membaca novel STPC versi bule 🙂 Asli, jadi pengin ngedate ke Wina. Kafe-kafenye juga gak kalah romantis dibandingkan Paris.

Lalu, keromantisan suasana pacaran Trudi dengan Walter terusik dengan berita yang membuat warga Yahudi ketakutan. Pasukan SS menduduki Wina. Bendera Nazi dipasang, membuat suasana tegang dan mencekam. Pergolakan politik tak dapat dicegah. Hitler sudah mengumumkan bahwa Austria adalah bagian dari Jerman. Sebagai pasangan berdarah Yahudi, Trudi dan Walter takut mendapat siksaan dan dibawa ke kamp konsentrasi. Mereka memutuskan untuk pergi keluar dari Austria.

Trudi pada saat itu masih proses cerai dengan suaminya, Pepi. Karena keadaan mendesak maka pengadilan dan sinagog mengabulkan permohonan cerai tanpa proses berlarut-larut.

Trudi yang sering bepergian ke Prancis, Belanda, dan beberapa negara lain karena pekerjaannya, mengajukan visa untuk keluar dari Austria. Beruntung, permohonannya dikabulkan. Demikian juga dengan Walter, yang dibantu oleh pamannya, berhasil mendapatkan visa Inggris. Jaman itu belum ada Schengen, jadi memang agak ribet untuk mengurus visa ke sesama negara Eropa.

Pasukan SS sudah mengobrak-abrik apartemen, rumah tinggal, dan merampas semua harta milik penduduk Austria keturunan Yahudi. Bahkan rekening milik warga Yahudi dibekukan, membuat Trudi tidak sempat membayar pajak tertunggak karena uangnya tidak bisa dicairkan.

Berbekal visa Inggris, Trudi melakukan perjalanan via laut sehubungan dengan pekerjaannya. Ia sempat kembali ke Austria. Karena keadaan di Austria sudah dalam taraf siaga 4 (mungkin), Trudi dan Walter berangkat ke London. Salah satu faktor yang menyebabkan Trudi ingin minggat karena ia yakin ada rekan yang berkhianat. Seseorang mencari Walter, dan orang tersebut kembali lagi untuk mencarinya. Hati Trudi dan Walter tidak tenang. Mereka berhasil keluar dari Austria, bahkan Pepi ikut membanty kepergian mereka (Pepi adalah tokoh favorit gue di buku ini. He’s such a gentleman.)

Tak lama, Trudi dan Walter mendapatkan PR di London. Topi-topi Trudi yang sempat ditahan, sampai juga di London. Sebuah butik membantu Trudi untuk menjual topi-topi tersebut dan karya Trudi laris manis diborong oleh para sosialita London yang hadir di trunk show butik tersebut.

Trudi adalah perempuan yang insecure. Setelah bercerai dari Pepi, ia masih tidak rela jika ada perempuan yang dekat dengan mantan suaminya itu. Belum lagi perempuan yang berbicara dengan Walter, dianggapnya sedang flirting. Sikap Trudi yang cemburuan agak annoying menurut gue, but I guess that’s the flavor of the book.

Buku ini memiliki potensial untuk menjadi salah satu buku tema Holocaust terbaik, namun gaya bertutur Trudi yang terkesan terburu-buru dan switching dari Walter menjadi you di luar dialog membuat gue bingung. Dialognya juga masih kurang rapi. Kalau saja buku ini diedit lagi, mungkin akan lebih enak dibaca. Namun, gue menikmati buku ini, membacanya dengan cepat. Gue membayangkan jika memoir ini difilmkan dan berfokus pada hubungan cinta Trudi dan Walter, mungkin akan jadi rom-flick yang keren.

quotes

Hitler isn’t even here, but suddenly everyone is a Nazi. (p. 26)

We are like tiny ants whose nest has been disturbed, running in all directions, trying to find a hole, a blade of grass, somewhere – anywhere – to hide. (p. 33)

There was no sun, just swastika flags. No sky, just swastika flags. There was no God. (p. 37)

20130822-080403.jpg

Buku ini pernah dibahas di website Oprah sebagai Book of the Week

Need a second opinion?

Independent Review here

Booking Mama here

Book Reporter here

Submitted for:

A Year Long Memoir Reading Challenge here

New Authors Reading Challenge here

Baca Bareng BBI Tema Perang here

Books in English Challenge here

Until next time:)

20130330-114856.jpg

[Book Review] Eva Braun: Life with Hitler by Heike B. Gortemaker

book_infoevab

book_blurbIn this groundbreaking biography of Eva Braun, German historian Heike B. Görtemaker delves into the startlingly neglected historical truth about Adolf Hitler’s mistress. More than just the vapid blonde of popular cliché, Eva Braun was a capricious but uncompromising, fiercely loyal companion to Hitler; theirs was a relationship that flew in the face of the Führer’s proclamations that Germany was his only bride. Görtemaker paints a portrait of Hitler and Braun’s life together with unnerving quotidian detail—Braun chose the movies screened at their mountaintop retreat (propaganda, of course); he dreamed of retiring with her to Linz one day after relinquishing his leadership to a younger man—while weaving their personal relationship throughout the fabric of one of history’s most devastating regimes. Though Braun gradually gained an unrivaled power within Hitler’s inner circle, her identity was kept a secret during the Third Reich, until the final days of the war. Faithful to the end, Braun committed suicide with Hitler in 1945, two days after their marriage.

Through exhaustive research, newly discovered documentation, and anecdotal accounts, Görtemaker has meticulously built a surprising portrait of Hitler’s bourgeois existence outside of the public eye. Though Eva Braun had no role in Hitler’s policies, she was never as banal as she was previously painted; she was privy to his thoughts, ruled life within his entourage, and held his trust. As horrifying as it is astonishing, Eva Braun will undoubtedly be referenced in all future accounts of this period.

thoughtsSepertinya gue belum bisa move on dari tema Holocaust. Setelah habis melahap The Diary of a Young Girl bulan lalu, gue masih penasaran dengan PD II, Hitler, juga hubungannya dengan perempuan bernama Eva Braun. Hitler ini memang fenomenal sekali. Selain kumis nanggungnya yang jadi trademark, ada kemungkinan dia meniru kumis Charlie Chaplin, salah satu orang yang dia benci dan dijuluki pseudo-Jew. Selain itu, Hitler memiliki kepribadian yang ‘unik’ alias rada-rada sakit. Kehidupan pribadinya juga nggak kalah menarik dari film-film thriller. Penuh dengan skandal berbau darah.

Eva Braun, perempuan yang lebih muda 23 tahun dari Hitler, mendampingi Hitler hingga mereka berdua tewas bunuh diri bersama di bunker Hitler. Eva yang digambarkan oleh banyak biografer sebagai perempuan muda yang enerjik, menarik, ramah, dan suka bersosialisasi, adalah sosok yang sangat bertolak belakang dengan Hitler yang kaku, kejam, dan bengis.

Eva lahir dan besar di keluarga yang bukan penganut anti-Semitik (kakak Eva, Ilse, pernah bekerja sebagai resepsionis di tempat praktek Dr. Marx, seorang Yahudi). Eva bekerja di sebuah studio foto milik Heinrich Hoffman. Ia pertama kali bertemu dengan Hitler di studio foto tersebut pada bulan Oktober 1929. Awal mulanya, Eva tidak tertarik pada Hitler yang kerap menghujaninya dengan hadiah dan mengajaknya kencan di tempat mewah. Bisa dibilang, pada awal mulanya, hubungan mereka artifisial. Tapi lama kelamaan, Eva mulai menganggap serius hubungan tersebut.

Hitler memiliki seorang keponakan, Angela (Geli) Raubal. Desas-desus mengatakan Hitler memiliki hubungan khusus dengan Geli. Tanggal 18 September 1931, di usia ke 23, Geli ditemukan tewas di kamar yang ditempatinya di apartemen Hitler di Munich. Tidak ada otopsi dan Geli dinyatakan tewas bunuh diri. Namun, Geli dikuburkan secara Katolik (gereja Katolik menolak menguburkan jenazah yang mati karena bunuh diri). Lalu, hidung Geli patah dan tubuhnya memar. Hitler diduga membunuh keponakannya sendiri. Lalu, ada juga ahli sejarah yang menyatakan bahwa Hitler terlibat cinta segitiga (biseksual) dan berakhir dengan terbunuhnya Geli Raubal (link).

Hubungan Hitler dengan Eva masih berlanjut, walau Eva jarang terlihat di depan publik dalam acara kenegaraan bersama Hitler. Sang Fuhrer memang pernah mengatakan bahwa ia menikahi negara Jerman, dan ia mendedikasikan hidupnya untuk Jerman.

Tahun 1935, kesehatan Hitler menurun. Ia menderita nervous tinnitus tiap malam dan ia juga takut mati karena kanker tenggorokan seperti yang diderita kaisar Friedrich III tahun 1888. Dalam waktu ini, ia sempat tidak menemui Eva selama berbulan-bulan.

Sosok Eva yang misterius menimbulkan gosip. Ada yang mengatakan keputusan politik Hitler dipengaruhi oleh Eva. Ada juga sumber yang mengatakan bahwa Eva adalah gadis polos yang tidak tertarik dengan dunia politik. Entah mana yang benar.

Eva yang manis dan terlihat ceria ternyata memiliki masalah psikologis. Ia pernah beberapa kali melakukan upaya bunuh diri. Pertama kali tahun 1932, ia mengambil pistol milik ayahnya dan menembak dirinya sendiri. Untungnya, ia berhasil diselamatkan. Kali kedua yaitu sewaktu Hitler mengalami masalah kesehatan. Mungkin Eva merasa dicuekin Hitler, ia melakukan upaya bunuh diri kedua dengan meminum obat tidur. Kakak Eva, Ilse, yang juga menemukan Eva dalam keadaan tidak sadar. Ia diduga merobek diary Eva yang menuliskan tentang percobaan bunuh dirinya yang kedua. Akhirnya, Eva dipindahkan oleh Hitler ke apartemen yang tidak jauh dari apartemen Hitler. Namun, Hitler dengan prinsipnya yang kuat ditambah dengan pencitraannya yang sejak semula menyatakan ia tak mau menikah karena ia menikahi negara Jerman, tidak mau mengajak Eva dalam acara kenegaraan. Eva akhirnya diperkenankan muncul dalam acara non formal, soiree bersama para istri pejabat Nazi. Menurut buku ini, Eva kurang disukai oleh para istri tersebut.

Hitler yang lahir dan sempat tinggal di Austria selama empat tahun, pada saat ia berkuasa, mengadakan Anschluß, atau persatuan Jerman-Austria. Ia bercita-cita ingin membuat kota Linz yang berada di utara Austria, sebagai ibukota seni Eropa, atau Roma-nya Jerman, menurut Hitler. Hitler juga berkeinginan untuk pensiun di Linz, hidup bersama Eva dan seekor anjing di masa tuanya, bahkan ia ingin dikuburkan di Linz.

Tahun 1944, Hitler sudah kehilangan kekuatannya. Kondisi fisiknya melemah. Padahal ia penganut pola hidup sehat dengan melakukan diet ketat: vegetarian, tidak merokok, tidak minum alkohol dan kopi. Teori yang mengatakan you are what you eat tidak berlaku pada Hitler. Ia mengeluh sakit perut, gangguan tenggorokan, bahkan sempat melakukan operasi. Hitler juga menderita gejala Parkinson. Karma’s a bitch, yo!.

Setelah Jerman kalah perang dan pengikut Hitler juga berkhianat padanya (karena muak dengan pembunuhan dan perang), Hitler merasa the end is near seperti lirik lagu “My Way”. Ia dan Eva bersembunyi di bunker bersama sisa-sisa pengikut setianya. Sebelum bunuh diri dengan menenggak cyanide, Hitler dan Eva menikah. Anjing mereka, Blondi, diberi racun. Mereka ditemukan mati pada tanggal 30 April 1945. Eva sudah merencanakan kematiannya sebelum melakukan double suicide. Ia menulis surat terakhir pada adiknya. Eva menelan pil berisi cairan racun dan mati lebih dulu di depan Hitler. Setelah Eva tak bernyawa, Hitler meminum racun lalu menembak pelipis kanannya. Mayat keduanya dibakar.

Walau buku ini berjudul Eva Braun, namun isinya didominasi oleh Hitler dengan kehidupannya semasa menjadi pimpinan Nazi. Eva Braun tidak diceritakan terlalu detil. Overall, this book is enjoyable. If you want to dig more about Nazi and World War II in Europe, you have to read this book. Terjemahannya juga enak dibaca dengan kosakata yang mudah dimengerti.
Sekarang gue malah jadi kecanduan baca buku tema Holocaust.

20130330-114930.jpg

Until next time.

20130330-114856.jpg