Blog Archives

[Book Review] Warna Langit by Kim Dong Hwa

book_info

20131128-094248.jpg

Judul: Warna Langit (Trilogi Warna #3)
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Editor: Tanti Lesmana
Illustrator: Kim Dong Hwa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Agustus 2011
Tebal: 328 halaman
ISBN: 978-979-22-6525-5
Kategori: Novel Grafis
Genre: Family, Sex Ed, Romance, Korean Culture
Beli di: Bukabuku.com
Kalimat pertama:
Apakah kau benar-benar harus pergi?

book_blurb

Ehwa, yang telah menjelma menjadi wanita muda yang penuh percaya diri, kini berada dalam situasi seperti yang dialami ibunya: menantikan kekasihnya. Ibunya mengharapkan kembalinya si tukang gambar, sementara Ehwa memandang bulan yang sama seperti yang dipandangi tunangannya, Duksma, petani yang pergi ke laut untuk mencari peruntngan agar dapat menikahi Ehwa.

Goresan Kim Dong Hwa yang indah dan bahasanya yang teramat puitis menciptakan potret intim kedua wanita yang tumbuh dan berbah namun tak pernah berkurang cintanya terhadap satu sama lain.

thoughts

Akhirnya sampai juga di buku ketiga trilogi Warna ini. Adegan dibuka di stasiun. Ehwa mengantarkan Duksam yang pergi untuk sementara untuk mencari nafkah. Si bandot tua Cho yang jahat ingin menyingkirkan Duksam karena is dianggap sebagai penghalang cintanya dengan Ehwa (benar-benar nggak tahu diri si tua bangka itu).

Ehwa yang patah hati selalu menunggu kembalinya Duksam. Hingga orang yzng dinantikannya datang pada awal musim salju turun. Duksam mengajaknya menikah.

Ibu Ehwa langsung sibuk menyiapkan keperluan untuk Ehwa. Saya suka dengan penjelasan tentang pesta adat Korea.

Namun, saya kurang menyukai seperempat awal buku ini karena Ehwa digambarkan genit. Agak mengganggu membaca karakter Ehwa yang seolah hidup untuk dihinggapi laki-laki.

Bagian yang paling mengharukan adalah ketika ibu Ehwa melepas kepergian Ehwa yang akan dipinang Duksam. Saya jadi ingat malam sebelum menikah. Sedih rasanya harus berpisah dari orang tua.

Warna Langit adalah penutup trilogi Warna yang manis. Dan, buku ini paling hardcore dibandingkan dengan dua buku pendahulunya. Ada adegan seks yang dilakukan oleh sepasang tua bangka di kampung Duksam.

Saya masih ingin membaca novel grafis karya Kim Dong Hwa.

quotes

Konon berada di tengah samudera lebih berbahaya daripada maju ke medan perang. (hal. 123)

Kau bisa menyembunyikan sesuatu dari dunia, tapi kau tidak dapat menyembunyikan sesuatu dari waktu. (hal. 247)

20130923-121407.jpg

Until next time

20130330-114856.jpg

[Book Review] Warna Air by Kim Dong Hwa

book_info

8949011

Judul: Warna Air (Trilogi Warna #2)
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Editor: Tanti Lesmana
Illustrator: Kim Dong Hwa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Agustus 2010
Tebal: 320 halaman
ISBN: 9789792259889
Kategori: Novel Grafis
Genre: Family, Sex Ed, Romance, Korean Culture
Beli di: Bukabuku.com
Kalimat pertama:
Bunga-bunga ini indah sekali.

book_blurbWarna Air adalah buku kedua dari Trilogi Warna karya Kim Dong Hwa, Dalam buku ini, Ehwa yang cantik telah bertambah dewasa, sementara hubungan ibunya dengan si tukang gambar semakin serius. Ehwa, yang telah mengerti rasanya jatuh cinta, untuk pertama kali dalam hidupnya menyimpan rahasia dari ibunya.

Alam pedesaan Korea yang dilukiskan dengan indah menjadi latar belakang kisah tentang cinta dan perjalanan menjadi dewasa ini.

thoughts

Buku kedua dari trilogi Warna ini mengisahkan Ehwa remaja yang mulai beranjak dewasa muda. Ehwa mengutarakan isi hatinya mengenai pria yang ia sukai: Chung-Myung dan Sunoo kepada ibunya. Ehwa merasa kedua laki-laki itu datang dan pergi dalam sekejap. Ibu Ehwa berkata, bahwa pria ketiga yang akan memikat Ehwa. Third time’s fhe charm, seperti.n141) kata pepatah.

Pria ketiga yang datang dalam hidup Ehwa adalah Duksam, laki-laki bertubuh tinggi tegap yang jago bergulat.

Lucunya, Duksam datang ketika Ehwa mandi, dan kembali ketika ibunya mandi *LOL*

Eksplorasi seksual Ehwa juga sudah sampai ke hubungan intercourse antar sepasang kekasih. Bongsoon, sahabat Ehwa yang lebih ahli dalam masalah ini mengajari Ehwa bagaimana cara orang dewasa melakukan aktivitas ‘rahasia’.

Yang lucu adalah ketika Ehwa membahas tentang bunga kastanye kepada ibunya. Muka ibunya langsung menjadi merah. Bunga kastanye ternyata memiliki konotasi seksual.

Salah satu bab yang kocak adalah ketika Master Cho, kakek mata keranjang bos Duksam naksir Ehwa dan meminta jasa mak comblang untuk mendapatkan Ehwa. Segala daya upaya ia lakukan demi mendapatkan Ehwa. Ibu Ehwa berang, karena tentu saja si tua bangka Cho tidak pantas untuk anaknya. Seperti layaknya bunga yang cantik, semakin banyak kumbang yang melihatnya, maka semakin banyak yang ingin hinggap di atasnya. Begitu juga dengan perempuan cantik yang sering jalan keluar.

Warna Air tidak seseru Warna Tanah, namun masih asik untuk dinikmati.

quotes

Kau bisa mengatakan banyak hal tentang seorang laki-laki hanya dari kesan yang ditimbulkannya. (hal. 48)

Meskipun cinta yang di mata bagaikan petir, cinta di hati adalah seperti perapian. (hal. 52)

Konon katanya perempuan tidak pernah terlalu tua untuk bunga. (hal. 59)

Jangan memercayai seorang gadis yang mengatakan ia tidak bakal menikah. (hal 141)

Memiliki orangtua yang baik dan anak-anak yang baik adalah anugerah, namun bertemu suami yang baik adalah sesuatu yang langka dan indah. (hal. 163)

Wanita tak perlu memanjakan dirinya untuk membuat seseorang terkesan. Dia bisa melakukannya hanya untuk menyenangkan dirinya sendiri. (hal. 208)

Takdir tak pernah mau mendengarkan perintah kita, jadi janganlah kita mencoba memanipulasinya. (hal. 252)

20131119-085715.jpg

Until next time

20130330-114856.jpg

[Book Review] Warna Tanah by Kim Dong Hwa

book_info

20131121-110638.jpg

Judul: Warna Tanah (Trilogi Warna #1)
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Editor: Tanti Lesmana
Illustrator: Kim Dong Hwa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juli 2010
Tebal: 320 halaman
ISBN: 978-979-22-5927-8
Kategori: Novel Grafis
Genre: Family, Sex Ed, Romance, Korean Culture
Beli di: Bukabuku.com
Kalimat pertama:
Yang itu bermaksud mencuri si kumbang betina dari pasangannya.

book_blurbTrilogi indah tentang cinta pertama dan kesempatan-kesempatan kedua.

Melukis kehidupan para wanita dengan hujan dan bunga.

Warna Tanah menceritakan kehidupan dan dunia dari mata dua generasi perempuan: Ehwa, gadis cilik yang tinggal bersama ibunya, janda di Namwon. Ehwa baru saja memulai perjalanannya menjadi seorang wanita. Bersama setiap musim hujan, Ehwa kecil semakin matang dalam pikiran maupun tubuh. Ehwa dan ibunya sama-sama bertumbuh dan berubah, namun ikatan yang sangat dalam di antara ibu dan anak ini membuat mereka saling mendukung dalam menghadapi dunia dan lingkungan sekitar yang tidak selalu ramah.

Kim Dong Hwa telah menghasilkan banyak novel grafis yang cemerlang. Dalam Warna Tanah, Mr. Kim mencurahkan segenap talentanya untuk menciptakan kisah yang unik dan tak terlupakan, sarat dengan referensi kultural serta gambar-gambar indah.

thoughtsSaya membaca kembali novel grafis ini karena ada event Baca Bareng BBI tema Novel Grafis. I was mesmerized by this series. Salah satu novel grafis paling indah walau kontennya untuk pembaca dewasa.

Warna Tanah dibuka dengan adegan dua kumbang jantan yang memperebutkan kumbang betina. Yang menang bisa mendapatkan kumbang betina. Hukum rimba banget ya. Coba bayangin kalau hukum tersebut berlaku untuk manusia. Bisa-bisa arena gladiator dibuka lagi.

Balik lagi ke kumbang, ibu Ehwa yang janda memiliki kedai minum. Ia digosipkan mau menerima siapa saja atau dengan kata lain genit. Dua remaja yang menyaksikan ‘pertarungan’ kumbang menyamakan kumbang betina dengan ibu Ehwa. Tentu saja ibu Ehwa sedih dikatakan demikian. Ia mengibaratkan laki-laki yang seperti kumbang yang mengerubungi wanita.

Sebelum hujan turun, Ehwa diajak adu pipis paing jauh dengan dua anak laki-laki. Ehwa yang belum mengerti merasa sedih karena tidak punya ‘burung’.

Saya suka dengan penjelasan seks yang tidak vulgar namun mengena di buku ini. Footnote-nya juga banyak mengupas tradisi Korea yang berbau seksual. Misalnya, wanita yang menuangkan anggur untuk lelaki berkonotasi tunduk pada dominasinya (jadi inget BDSM ya) atau mau melayani keinginan laki-laki. Yah, konotasi yang berbau seksual, memang. Namun, tidak hanya di Korea, di belahan dunia mana pun alkohol dan bar memang dibumbui wanita penggoda. Konotasinya seperti itu.

Lalu, ada penjelasan tentang pohon ginko. Jika pohon betina menatap pohon lelaki, ia akan berbuah. Ketika Ehwa membahas hal ini dengan ibunya, tiba-tiba rumah mereka kedatangan tamu asing yang kelak akan mengubah hidup ibu Ehwa.

Ada hasrat seksual yang terpendam dan digambarkan melalui simbol pohon labu. Untuk mengetahuinya, sebaiknya membaca buku ini ^^

Ehwa yang beranjak remaja mulai mengenal cinta. Ia naksir seorang biksu bernama Chyung Myung. Si biksu juga mengalami pubertas. Bukannya Buddha yang ada di pikirannya, melainkan wajah Ehwa. Tentu saja si biksu mendapat omelan dari biksu kepala.

Ada bab menarik tentang menstruasi. Ketika Ehwa mendapat haid untuk pertama kalinya, ia berpikir bahwa ia akan mati. Saya jadi teringat ketika ibu saya mengetahui tentang hal ini. Beliau langsung rempong membelikan saya seperangkat jamu remaja yang wajib diminum. Ibu memang sahabat terbaik gadis remaja *jadi terharu*

Ada resep kecantikan Korea yang pernah diberikan oleh ibu saya. Orang Korea suka sekali meminum air beras dan memakai masker beras. Ibu saya pernah mengajari saya untuk memakai masker beras ini. Caranya mudah: air cucian beras pertama ditampung di mangkuk/gelas. Biarkan mengendap selama beberapa jam. Kalau terlihat ampas putih di dasar gelas, buang airnya. Gunakan ampas beras sebagai masker. Dijamin muka jadi bersih dan kinclong. Itu cara alaminya. Kalau malas, tersedia di pasaran sabun beras made in Thailand yang sedang ngetrend di kalangan online shopper ^^

Ilustrasi novel grafis ini juga memikat, walau saya lebih suka ilustrasi seri Sepeda Merah yang full color. Saya jatuh cinta dengan karya Kim Dong Hwa yang indah dan puitis.

quotesKenapa ada burung di dalam celanamu, padahal seharusnya dia berada di sawah? (hal. 19)

Perempuan memiliki sesuatu yang lebih berharga daripada burung anak laki-laki. Pintu tempat datangnya bayi-bayi. (hal. 36)

Jika aku tidak bisa menolong diri sendiri, bagaimana aku bisa menolong orang lain? (hal. 145)

Apa manusia juga harus dipangkas? Jadi kalau laki-laki ini dan laki-laki itu tumbuh di dalam hati kita, kita harus memangks salah satu dari mereka? (hal. 216)

20130923-121407.jpg

Need a second opinion?

Ika’s Booshelves here
Buntelan Kata here
Nadya Andwiani here
Goodreads here

TTFN ^^

20131105-024143.jpg

[Book Review] Sepeda Merah by Kim Dong Hwa

book_info

20131114-084329.jpg

Judul: Sepeda Merah: Yahwari #1
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Meilia Kusumadewi
Penerbit: GPU
Terbit: Oktober 2012
Tebal: 144 halaman
ISBN: 978-979-22-8776-9
Kategori: Novel Grafis
Genre: Cultural Korean
Beli di: Bukabuku Harga: IDR 40,800
Kalimat pembuka:
Sepucuk surat untuk rumah dengan semak-semak warna khaki…

book_blurb

“Telusurilah jalan-jalan pedesaan yang beraneka ragam itu untuk menemui para penduduk Yahwari. Anda pasti akan berpapasan dengan sepeda merah si tukang pos yang berkeliling pelan penuh keselarasan dengan alam sekitarnya.”

Melalui kisah-kisah pendeknya yang sarat dengan kelembutan, Kim Dong Hwa diperhitungkan sebagai salah satu penulis manhwa paling berbakat di hati orang-orang Korea.

thoughts

Saya pertama kali berkenalan dengan karya Kim Dong Hwa lewat Novel Grafis seri Warna Air. Kalau seri Warna Air sarat dengan sex ed, Sepeda Merah berkisah tentang hal-hal sederhana dalam kehidupan masyarakat desa.

Dimulai dengan bab Sepeda Merah, kendaraan milik Si Pengantar Surat yang ceria dengan rambut gondrong ekor kuda (mirip dengan Kim Dong Hwa). Ia mengantarkan surat ke alamat yang unik, tanpa nama jalan atau nomor rumah. Hanya disebutkan ciri-ciri spesifik, seperti Rumah Kuning Dalam Kehijauan, atau Rumah Bergenting Merah.

Bab yang saya sukai antara lain:

Kisah 3: Sang Penyair

Setiap kali Si Pengantar Surat mengirim surat ke rumah Sang Penyair, selalu ada lipatan surat di kotak pos berisi puisi untuk Si Kurir. Manis dan romantis :’)

Kisah 4: Hari Pasar

Siklus kehidupan perekonomian yang dimulai dari petani Yetdong hingga hasil panen sampai ke tangan penduduk desa Sedong (konsumen). Tawar-menawar dan rayuan petani sangat kocak, digambarkan dengan ilustrasi yang membuat saya terbahak.

Kisah 5: Hari Perekaman

Petani Yetdong heboh ketika mendapat kabar bahwa desa mereka akan diliput. Karena ingin eksis di layar kaca, para penduduk desa berdandan necis layaknya orang kota yang modern. Endingnya bikin saya ngakak.

Kisah 9: Pagoda Batu

Saya hampir menitikkan air mata ketika membaca bab ini. Ceritanya tentang bapak tua yang membuat gundukan pagoda batu setiap kali ia teringat almarhum istrinya dan anak-anaknya yang tinggal di kota 😥

Kisah 11: Kaus Kaki

Bab ini juga mengharu-biru. Tentang seorang pemuda yang heran dengan ayahnya yang selalu memakai kaus kaki bolong.

 

Dari halaman pertama, pembaca sudah disuguhi oleh grafik yang memukau, warna-warni cerah yang tidak membuat mata sakit, dan kisah-kisah pendek yang memikat dan menghangatkan hati.

Si Tukang Pos digambarkan sebagai perantara kebahagiaan penduduk desa yang mengirim, maupun yang menerima berkat cinta. Orang-orang tua yang kesepian selalu menanti cerita baru dari Tukang Pos, untuk dibagikan di pusara orang tercinta. Bahkan ada anak kecil yang bernohong demi mendapatkan permen manis dari Tukang Pos.

Saya sangat suka dengan keseluruhan kisah yang terasa hangat. Kehangatan selalu muncul dari kesederhanaan. Love it to the core.

quotes

Mungkin karena ayahku bodoh, dia selalu memilih kaus kaki yang berlubang. (hal. 57)

Kondektur kereta membawa tubuh dan tukang pos membawa hati… Mereka mirip satu sama lain. (hal. 109)

20130911-052807.jpg

20130725-125307.jpg

[Book Review] Vampire Academy: The Graphic Novel by Richelle Mead

book_info

20131123-104305.jpg

Title: Vampire Academy: The Graphic Novel
Author: Richelle Mead
Adapted by: Leigh Dragoon
Illustrator: Emma Vieceli
Publisher: Razorbill
Published: August 23, 2011
No. of Pages: 144
ISBN: 9781595144294
Category: Graphic Novel
Genre: Romance, Young Adult, Paranormal
Bought at: Periplus Pondok Indah Mall IDR 20,000
Link: Periplus

book_blurb

After two years on the run, best friends Rose and Lissa are caught and returned to St. Vladimir’s Academy, a private high school for vampires and half-bloods. It’s filled with intrigue, danger—and even romance.

Enter their dark, fascinating world through a new series of 144-page full-color graphic novels. The entire first Vampire Academy novel has been adapted for book one by Leigh Dragoon and overseen by Richelle Mead, while the beautiful art of acclaimed British illustrator Emma Vieceli brings the story to life.

thoughts

Penasaran dengan novelnya, saya memilih membaca novel grafisnya lebih dulu sekalian intip preview-nya.

Vampire Academy dibuka dengan adegan Rose yang bermimpi tentang kecelakaan yang menimpanya.
Ia dan Lissa bersahabat sejak kecil. Rose ditakdirkan untuk menjadi pelindung Lissa, asa hubungan batin yang kuat. Jika hal buruk terjadi pada Lissa, Rose merasakannya. Seperti ada telepati.

Mereka berdua lari dari St. Vladimir’s Academy, sekolah (calon) vampir. Dijemput Dimitri dan rekannya, Rose dan Lissa digiring ke kampus.

Rose adalah dhampir (setengah manusia, setengah moroi). Kekuatan supranatural yang dimilikinya hanyalah kemampuan telepati dengan Lissa. Sedangkan Lissa adalah moroi (vampir, makhluk abadi). Lissa mampu menyembuhkan dan mengontrol pikiran manusia.

Di sekolah, keadaan tidak bertambah baik. Ada Mia, social climber, yang iri dengan Lissa yang keturunan bangsawan. Lalu ada Dimitri yang jatuh cinta paea Rose. Ada juga Christian, keturunan Strigoi (mantan moroi/dhampir/manusia yang kehilangan kekuatan magis dan menjadi makhluk abadi dengan meminum darah moroi).

Dalam novel ini, tokoh yang saya sukai hanya Dimitri dan Christian. Seperti mitos novel YA pada umumnya, tokoh perempuannya menyebalkan. Bahkan saya tidak memiliki simpati pada Lissa yang digambarkan lemah dan diteror oleh seseorang.

Setelah membaca novel grafisnya, saya jadi mikir ulang mau baca novelnya.

Ilustrasinya lumayan, beda gaya sih dengan Kim Dong Hwa. Warna-warna yang dipakai terkesan suram dan gelap (ya, tema vampir sih).

Overall, novel grafis ini cukup menghibur dan bisa dibaca cepat. Really worth the money.

quotes

Magic can’t create emotions that aren’t already there.

Feeding is better than sex – or so I imagine since I’ve never had sex.

20130923-121407.jpg

Until next time

20130330-114856.jpg

[Book Review] Sepeda Merah Vol.2 by Kim Dong Hwa

book_info

20131114-061432.jpg

Judul: Sepeda Merah: Bunga-Bunga Hollyhock #2
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Meilia Kusumadewi
Penerbit: GPU
Terbit: Oktober 2012
Tebal: 176 halaman
ISBN: 139789792287776
Kategori: Novel Grafis
Genre: Cultural Korean
Beli di: nitip Dinoy di obralan Gramedia. Harga IDR 10,000
Kalimat pembuka:

book_blurb

“Suatu kali, ketika anak perempuanku datang mengunjungiku, pemandangan mawar-mawar hollyhock mengingatkannya pada kenangan akan ibunya yang telah tiada.

Aku menebarkan benih-benih bunga itu mulai dari jalan masuk desa hingga ke ambang pintu rumahku…

Kala menelusuri jalan setapak berbunga ini, anak perempuanku merasa seakan-akan ia tengah berjalan sembari menggenggam tangan ibunya…

Dengan sedikit kesabaran, mawar-mawar hollyhock ini pun tumbuh dengan semaraknya…”

Melalui kisah-kisah pendeknya yang sarat dengan kelembutan, Kim Dong Hwa diperhitungkan sebagai salah satu penulis manhwa paling berbakat di hati orang-orang Korea.

thoughts

Seperti buku pendahulunya, Sepeda Merah Vol.1: Yahwari, buku ini menawarkan kisah-kisah penuh kehangatan seperti awal musim panas di Korea. Si Tukang Pos juga masih mengantar sejuta cinta kepada penduduk desa Yetdong.

Cerita pertama dibuka dengan Bunga-Bunga Hollyhock. Berkisah tentang bapak tua (yang dalam buku pertama dikisahkan suka menyampaikan berita-berita dari Tukang Pos ke almarhum istrinya di nisannya) yang dicemooh temannya gara-gara ia menanam benih bunga Hollyhock. Ia ingin putrinya bisa melihat keindahan bunga Hollyhock ketika ia pulang ke desa nanti. Bunga Hollyhock juga merupakan bunga favorit almarhum istrinya. Bittersweet banget bab pembukanya.

Kisah 2: Kisah-Kisah Sastra Korea merupakan salah satu bab favorit saya. Si Tukang Pos yang masih dikuncir kuda menyukai sastra dan gemar membaca novel. Dari pengamatannya, rumah-rumah dan pemandangan di Yahwari cocok menjadi latar novel favoritnya.

Di Kisah 3: Rerumputan dan Tanah Kampung Halaman, si Tukang Pos, Nenek dan Kakek Tua berbincang tentang hal yang mengingatkan pada kampung halaman. Si Nenek berpendapat kalau makanan bisa mengingatkan orang pada kampung halaman, sedangkan kakek bilang tanah yang mencirikan kampung halaman.

Kisah 5: Pejabat Militer juga salah satu kisah yang paling saya sukai. Para manula berlomba-lomba memamerkan jumlah kerutan di wajah dan uban lalu disamakan dengan pangkat militer.

Kisah 7: Surat Cinta adalah kisah paling romantis yang ada di buku ini. Seorang suami yang tidak pandai berkata-kata cinta memberikan kejutan manis untuk istrinya di ladang.

Kisah 9: Impian Masa Kecil membuat saya merenung tentang impian-impian saya. Saya ingin seperti Pak Tua di buku, menikmati masa tua sambil menatap matahari terbenam tanpa dibebani dengan jumlah rupiah di tabungan.

Kisah 14: Roda yang Berkilau Cemerlang juga merupakan salah satu kisah yang membuat saya menarik napas lega. Inti dari kisah ini adalah kebaikan selalu membawa kebahagiaan.

Kisah 17: Foto-Foto mengingatkan saya pada satu episode seri Si Doel Anak Sekolahan dimana Mandra berpose dengan toga sarjana milik Doel. Kocak banget XD

Kisah 30: Pohon menurut saya merupakan kisah terbaik di buku ini. Kita tidak sadar bahwa pohon hanya memberi, tidak pernah meminta. Pohon itu seperti orang tua yang bijak, dan orang-orang bisa berbuat jahat dengan menggunduli, mencabut, bahkan membakar si baik ini.

Kisah 31: Ibuku adalah cerit terpanjang di buku ini. Saya berkaca-kaca ketika membacanya. Betapa seorang ibu sangat menyayangi anaknya walaupun anaknya melakukan perbuatan tercela.

Sepeda Merah Vol.2: Bunga-Bunga Hollyhock ini terbagi dalam empat segmen berdasarkan musim yang ada di Korea: musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Fokus cerita pada buku ini adalah kisah para manula yang masih memiliki jiwa kanak-kanak.
Dari buku ini saya jadi tahu kemiripan tradisi Korea dengan India: anak lelaki dewasa wajib mengurus orang tuanya, dan menantu perempuan harus berkorban dengan memprioritaskan keluarga suami.
Gegara membaca seri Sepeda Merah, saya jadi ingin memandangi bunga dandelion dan meniupnya.

Pembaca masih dimanjakan dengan keindahan ilustrasi dan warna-warna hangat yang menghiasi buku ini. Selipan puisinya juga indah dan terasa pas menjadi bagian dari buku ini.

Buku tipis ini sarat perenungan, membuat saya berpikir bahwa ketulusan dan kesederhanaan itu simpel namun sulit ditemui di kota besar seperti Jakarta.

Ketika saya menutup halaman terakhir buku ini, ada perasaan haru, seperti ditinggal oleh Tukang Pos dan penduduk Yetdong.

Tentu saja, saya masih menantikan karya Kim Dong Hwa selanjutnya.

Kutipan favorit:

Aroma rempah-rempah memang enak, tapi tidak ada yang mengalahkan bau tanah kampung halaman untuk mengobati kerinduan pada rumah. (hal. 23)

Menjadi manusia memang jauh lebih kotor daripada lumpur. (hal. 32)

Kau mengasihani diri sendiri karena kulitmu keriput seperti bedeng, padahal di mataku kau selalu cantik. (hal. 43)

Katanya para orang tua kembali kekanak-kanakan saat salju pertama turun. (hal. 132)

20130923-121407.jpg

20130923-121453.jpg