Blog Archives

Book Haul 5/5/2013

20130420-082240.jpg

Kembali penyakit kalap melanda diri gue saat bertandang ke Gramedia Bintaro Plaza. Tadinya sih nggak ada niatan beli buku sama sekali. Pas liat rak diskonan buku anak, gue beli 2 untuk anak gue. Pas mau bayar di kasir ngantrinya mengular. Turunlah gue ke lantai bawah, ternyata di sana lebih parah lagi.
Akhirnya gue membawa pulang 5 buah buku diskonan berikut:

BJf1qrOCYAEDbQl.jpg large

Harga buku-buku diatas mulai dari 10 ribu hingga 25 ribu saja. Duh, makin numpuk aja dosa gue >.<

Books I bought @Gramedia Bintaro Plaza:

1. Snow Flower and the Secret Fan by Lisa See (movie tie-in)
2. The Lonely Planet Story by Tony and Maureen Wheeler
3. Pearl of China by Anchee Min
4. When God Was a Rabbit by Sarah Winman
5. Kelas Memasak Lillian by Erica Bauermeister

Setelah gue cek di GR, semua buku yang gue beli ratingnya diatas 3.50. Nggak rugi deh beli diskonan kalau begitu.

Point: -27

20130330-114856.jpg

Pic credit here.

[Book Review] Nayla: Realita Remaja Jakarta

nayla-cover-baru

Judul: Nayla
Seri ISBN/EAN: 9789792289923 / 9789792289923
Penulis: Djenar Maesa Ayu
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Terbit: 15 November 2012
Jumlah halaman: 188
Fiksi

“Nayla” adalah buku kedua yang gue baca setelah “Mereka Bilang Saya Monyet”. Cover lama Nayla bikin ngilu, karena gambar close-up peniti yang tembus di kulit. Cover baru Nayla lebih provokatif, masih dengan ciri khas peniti yang menusuk kulit paha mbak Djenar, tapi kali ini covernya nyambung dengan tiga buku lainnya, yaitu “Mereka Bilang Saya Monyet”, “Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu)”, dan “Cerita Pendek Tentang Cerita Pendek”. Cover barunya lebih keren, simple dan edgy, khas Djenar Maesa Ayu. Bisa dibilang, kali ini covernya sangat mewakili genre tulisan Djenar, yang orang-orang bilang adalah sastra lendir/vulgar. Secara resmi, Djenar Maesa Ayu adalah salah satu penggagas sastra wangi. Disebut demikian karena secara hampir bersamaan nama-nama seperti Dee Lestari, Fira Basuki dan Ayu Utami juga turut meramaikan dunia sastra, selain Djenar tentunya.

Kemudian, pemilihan judul juga sangat sesuai dengan tema. Singkat, padat, mudah diingat dan langsung mengenai sasaran. “Nayla”, nama tokoh utama novel ini.

Gue bukan penggemar nomor satu genre ini, tetapi khusus buku “Nayla”, gue acungi dua jempol, karena Djenar mampu merangkai kisah “Nayla” dengan dunia gelapnya yang mendetil. Nayla adalah potret remaja metropolitan yang banyak ditemui di sekitar kita. Dunia hedonisme yang sarat dengan seks bebas, alkohol, narkoba juga orientasi seksual yang menyimpang. Novel ini juga menyinggung masalah bullying dan domestic abuse, dan tema ini hampir setiap hari terpampang di layar TV atau surat kabar.

Gue habis melahap buku ini dalam beberapa jam saja. Memang buku ini membuat gue penasaran hingga tidak bisa berhenti. Lembar demi lembar penuh sensasi khas Djenar, dan gue larut dalam kisah “Nayla” yang membuat gue tercekat.

Gaya penuturan Djenar yang blak-blakan dan apa adanya adalah nilai plus dalam setiap buku yang ia tulis. Sekarang bermunculan penulis-penulis baru yang mulai berani. Tapi, sebagai pelopor, Djenar adalah penulis terbaik dalam genre ini.

Kritik sosial dan sindiran Djenar terhadap dominasi patriarchal society, seperti di Indonesia ini, adalah juga salah satu ciri khasnya. Djenar seolah berteriak dalam novelnya, memprotes monopoli pria dalam masyarakat. Melalui tokoh-tokohnya, Djenar menyuarakan jerit hati wanita. Seperti itulah interpretasi gue akan karya Djenar.

Gue menikmati flow buku “Nayla”, di mana ada teks artikel berita, wawancara dengan media, dan tentunya dialog-dialog yang lugas. Djenar juga mengupas sisi psikologis Nayla yang mengalami domestic abuse oleh ibunya yang seorang pelacur. Nayla tumbuh menjadi pribadi yang jiwanya terluka dan tentu saja ia sangat membenci ibunya, dan tumbuh menjadi remaja yang liar.

“Nayla” hanya cocok dibaca oleh pembaca yang sudah berusia 18 tahun keatas.

20130105-102345.jpg

20130105-102423.jpg

Singgah: Penggalan Kisah di Stasiun, Bandara, Terminal & Pelabuhan

16047583

Terminal, bandara, pelabuhan, stasiun: Tempat persinggahan, keberangkatan, perhentian.

Ada banyak kisah tentang pertemuan dan perpisahan. Tentang orang-orang yang menanam kakinya di sana. Mereka yang berbagi luka dan cinta. Tentang rindu yang diam-diam dipendam. Tempat yang selalu ingar bingar, tetapi juga melesapkan sepi yang menggerogoti jiwa—tanpa suara.

Seorang lelaki menapak tilas jejak kekasihnya yang hilang ke sebuah dermaga, lelaki lainnya memancing bintang. Di stasiun, pak tua berpeci lusuh duduk menanti mataharinya setiap dini hari. Di bandara, koper-koper tertukar, dan ada cinta yang menemukan pelabuhannya. Di terminal, panas kopi membakar lidah dan hati.

Sebelas penulis merangkai kenangan di tempat tempat persinggahan. Mengantar pergi, menjemput pulang.

@jiaeffendie @duabadai @agastiazirtaf @yuska77 @benzbara_ @mbakanggun @adit_adit @harigelita @adelliarosa @putrafara @myARTasya

Adalah suatu kebahagiaan tersendiri bisa menyumbangkan sebuah cerita pendek untuk proyek luar biasa ini. Bersanding dengan nama-nama besar di buku ini, membuat gue terpacu untuk menghadirkan karya terbaik.

Jia yang pertama kali mengontak gue untuk ikut mengeroyoki proyek “Singgah”. Cerpen pertama selesai. Failed. Gagal maning. Nggak dapet feel-nya. Karena kebaikan hati Jia, ia mau memberikan kesempatan kedua, gue akhirnya berhasil menyelesaikan cerita pendek berjudul “Moksha”. Cerpen tersebut adalah versi lain dari “Surat Shivani” yang pernah terbit secara independen melalui @nulisbuku. Judul bukunya “E-LoveStory #1”. Kebetulan, nulisbuku.com mengadakan lomba cerpen, dan “Surat Shivani masuk jadi salah satu finalisnya. Tuhan mempertemukan gue dengan Jia saat kita sama-sama menjadi kontributor kumpulan cerpen “Cerita Sahabat 2”.

“Moksha” adalah cerita tentang cinta yang terhalang adat, kasta dan agama. Tokoh utamanya, Shivani, adalah perempuan keturunan India, ras minoritas di Indonesia. Shivani jatuh cinta pada Panji Laksmana, pria Jawa tulen yang dikenalnya saat ia melakukan sesi foto di sebuah butik di Bali.

Gue suka mengangkat latar budaya dalam tulisan gue. Sejak duduk di bangku SD, gue terpikat dengan ilmu sosial. Menelusuri budaya India yang erat dengan falsafah Hindu itu seru banget. Banyak hal yang bikin gue surprised dan terbengong-bengong.

Cerpen-cerpen lain di buku ini jempolan, keren-keren banget. Buku ini penuh warna dan tiap cerpennya punya rasa yang berbeda.

“Singgah” sudah bisa didapatkan di:

Gramedia.com
Kutukutubuku.com
inibuku.com.

Atau untuk yang mau ikutan giveaway-nya bisa klik Goodreads Giveaway.
Ada 2 buku yang dibagikan. Siapa tahu kamu beruntung 🙂

20130109-072811.jpg