Blog Archives

12 Tahun Gagasmedia #TerusBergegas @Gagasmedia

image

Gagasmedia merupakan salah satu penerbit di Indonesia yang rajin menerbitkan buku karya penulis muda. Selain inovatif dengan tema yang kece (seri STPC, Glam Girls, The Journeys, dll), Gagasmedia juga perhatian dengan penulis baru. Nama-nama seperti Anggun Prameswari, Alanda Kariza, Aditia Yudis, juga Alexander Thian (ok, kenapa semua penulis yang saya sebut berinisial A ya?!) saya kenal dari karyanya yang diterbitkan oleh Gagasmedia.

Beberapa penulis favorit saya juga bukunya diterbitkan oleh Gagas, seperti Nina Ardianti, Moemoe Rizal, Winna Efendi, dan Vabyo.

Pengalaman berkesan bersama Gagasmedia adalah ketika saya mengikuti lomba 7 Deadly Sins. Banyak banget hal yang saya pelajari selama proses menulis, mengedit naskah mentah sebelum layak terbit. Thank you ya Gagas.

Ok, selanjutnya saya akan menjawab 12 pertanyaan penting sebagai berikut:

image

1. Sebutkan 12 judul buku yang paling berkesan setelah kamu membacanya.
Have a Little Faith by Mitch Albom (review di sini)
The Fifth Mountain by Paulo Coelho (review di sini)
Perfect Match by Jodi Picoult (review di sini)
Joker by Valiant Budi (review di sini)
Kedai 1001 Mimpi by Valiant Budi (review di sini)
Lisey’s Story by Stephen King (review di sini)
Adultery by Paulo Coelho (review di sini
Maharani by Pearl S. Buck (review di sini)
Kei by Erni Aladjai (review di sini)
Crazy Rich Asians by Kevin Kwang (review di sini)
The Dirt by Nikki Sixx, Tommy Lee, Vince Neil, Mick Mars and Neil Strauss (review di sini)
Thirteen Reasons Why by Jay Asher (review di sini)

2. Buku apa yang pernah membuatmu menangis? Kenapa?
Salah satu buku yang paling menyentuh yang pernah saya baca adalah Have a Little Faith karya Mitch Albom. Buku itu bercerita tentang seorang rabi yang meminta Albom untuk membacakan eulogi di hari kematiannya. Saya sangat tertohok dengan kisah Albom yang menemukan arti dalam hidup. Di tengah buku saya sudah banjir airmata, sadar bahwa saya kurang bersyukur dan memandang masalah dari sisi negatif saja. Buku ini mengubah cara pandang saya akan kehidupan (juga kematian), dan betapa Tuhan menyayangi setiap umat-Nya.

3. Apa quote dari buku yang kamu ingat dan sangat menginspirasi?

Dari segala macam senjata penghancur ciptaan manusia, yang paling berbahaya-dan paling kuat-adalah kata-kata. – The Fifth Mountain by Paulo Coelho.

4. Siapakah tokoh dalam buku yang ingin kamu pacari?
Ketika orang-orang mendambakan Mr. Darcy, Edward Cullen, Christian Grey atau Tobias Eaton, dari jaman kuliah dulu saya tetap mengidamkan Lestat de Lioncourt.

image

Pic credit: here

Alasannya:
• Lestat bukan orang kaya, tapi sikapnya layaknya seorang aristokrat.
• Jago main biola.
• Pintar nyanyi. Pernah jadi rockstar di masa modern.
• Ladies’ man.
• Cool. Tidak banyak bicara tapi tatapannya memikat lawan jenis.
• Predator sejati, jauh lebih berbahaya dari Mr. Grey.
• Tentu saja, wajah tampannya dengan tulang rahang sempurna membuat saya jatuh cinta.

5. Ceritakan ending novel berkesan yang tak akan kamu lupakan.
Sulit untuk tidak memberikan spoiler.
Ending novel yang tak terlupakan tentu saja Breaking Dawn by Stephenie Meyer. Biar orang-orang mencerca dan banyak kritikus menganggap Twilight Saga cheesy, menurut saya sih Twilight Saga bisa dikategorikan sebagai fairy tale modern. Happy ending ala-ala fairy tale, dimana Bella dan Edward akhirnya bersama membuat saya tidak akan melupakan ending novel ini.

6. Buku pertama Gagas yang kamu baca, dan kenapa kamu memilih itu?

image

Kambing Jantan karya Raditya Dika adalah buku pertama Gagas yang saya baca. Alasannya karena covernya yang kocak, cukup catchy dibandingkan cover buku-buku lain yang serius di rak buku new release di Gramedia. Selain cover, saya juga membaca sinopsisnya yang gokil. Terbukti buku ini sukses membuat saya terpikat dengan buku-buku terbitan Gagas.

7. Dari sekian banyak buku yang kamu punya, apa judul yang menurutmu menarik, kenapa?

image

Menurut saya, judul novel yang menarik dan mudah diingat adalah Interlude karya Windry Ramadhina. Selain singkat, saya juga suka dengan arti kata interlude, yaitu selingan, atau istirahat (break). Dalam hidup, pada setiap kegiatan, setiap orang membutuhkan interlude. Dalam musik, interlude (biasanya) menghubungkan bridge dengan chorus, transisi yang membuat suatu lagu memiliki nada-nada tambahan agar tidak terdengar membosankan. Whatever it is, interlude is my favorite word. Tapi setelah saya perhatikan, judul novel-novel Windry memang tidak pernah lebih dari satu kata. Smart banget.

8. Sekarang lihat rak bukumu. Cover apa yang paling kamu suka, kenapa?

image

Cover Happily Ever After karya Winna Efendi adalah salah satu favorit saya. Alasannya simple aja sih: sesuai dengan judulnya, cover buku ini layaknya cover buku dongeng tapi tidak terkesan kekanak-kanakan. Kalau saya cuma melihat ilustrasi gambarnya saja, saya pasti mengira buku ini adalah buku terbitan penerbit luar negeri. Komposisi warnanya juga cakep, ada ungu kecil menyembul di antara hijau-hijauan. Very pretty.

9. Tema cerita apa yang kamu sukai, kenapa?
Saya suka thriller dan misteri. Saya suka tantangan, menerka-nerka pelaku kejahatan dan kejadian apa yang akan terjadi di bab selanjutnya. Selain thriller dan misteri, saya juga suka romance dan drama. Biasanya kalau saya penat dan jenuh dengan thriller dan misteri, saya mencari solace di buku genre romance dan drama yang lebih realistis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

10. Siapa penulis yang ingin kamu temui, jika sudah ketemu, kamu mau apa?
image

Pertanyaan ini mungkin jawabannya bisa setebal 1 novel. Salah satu penulis yang ingin saya temui adalah Valiant Budi. Saya sering berinteraksi di Twitter dan Facebooknya, mengomentari tweet atau foto-foto yang dia unduh. Saya selalu suka dengan penulis yang kaya pengalaman dan cerita. Dan biasanya penulis yang kaya pengalaman dan punya segudang kisah hidup, karyanya juga pasti akan “kaya” akan cerita bermakna. Tentu saja selain selfie, kalau saya ketemu Aa Vibi, saya akan banyak tanya-tanya tentang pengalaman travelingnya yang tidak ditulis di bukunya.

11. Lebih suka baca ebook atau buku cetak, kenapa?

Jujur, saya lebih suka buku cetak. Tapi, kalau suami dan anak sudah tidur (kami masih tidur bertiga sekamar), saya membaca ebook karena bisa dibaca dalam keadaan gelap. Sensasi membaca buku cetak berbeda jika dibandingkan membaca ebook. Saya bisa memegang dan mengelus-elus kertasnya, menelusuri huruf-huruf timbul di cover, juga koleksi buku cetak saya bisa saya pamerkan dengan mengupload fotonya di social media. Sedangkan ribuan ebook yang saya miliki tidak terlihat wujudnya, hanya tersimpan di ereader. Alasan lain adalah saya lebih kuat membaca buku cetak berjam-jam dibanding membaca ebook. Mata saya lebih cepat lelah saat membaca ebook.

12. Sebutkan 12 kata untuk Gagasmedia menurutmu.

Penerbit unyu pencetak penulis muda berbakat yang karyanya melekat di hati pembaca.

Selesai sudah saya menjawab 12 pertanyaan dari Gagasmedia.

Dari lubuk hati paling dalam, saya ingin mengucapkan:

Happy 12th anniversary, Gagasmedia. Terima kasih telah menerbitkan begitu banyak karya luar biasa yang menginspirasi kami, para pembaca setiamu. Semoga di usia yang ke-12 ini Gagas makin dewasa dan buku-buku yang diterbitkan juga lebih dahsyat lagi.

I love you, Gagas ❤

image

[Book Review] Lampau by Sandi Firly @Gagasmedia

book_info

20131130-053523.jpg

Judul: Lampau
Penulis: Sandi Firly
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: April 2013
Tebal: 346 halaman
ISBN: 978-979-780-620-0
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Sastra Indonesia
Dapat dari: penerbit dalam event #GagasDebut
Kalimat pertama:
Aku terlahir dari seorang Uli Idang, Balian Tuha, dukun yang namanya membuat gentar segenap hantu di hutan larangan Meratus – semua ilmu kesaktian merapat ke dirinya meminta untuk dipinang.

book_blurb

Aku mengingatmu, gadis berkepang dua. Di jalan menyusuri masa kecil. Senyum manis, cinta pertamaku. Mengingatmu adalah perjalanan panjang kembali ke buku-buku bergaris masa sekolah dasar, pensil warna, dan mimpi-mimpi beralur manis.

Gadis berkepang dua dengan senyum semenarik krayon warna, kau juga mengingatkanku pada takdir. Takdir yang lekat akan gemerincing denting gelang hiyang perunggu dalam iringan tetabuhan gendang, dan senandung mantra-mantra yang dengan sendirinya dapat kubaca.

Hingga bayangmu kutinggalkan dalam frame tua. Aku menemui gadis lain berwajah teduh. Gadis yang tak mengingatkanku pada takdir yang menunggu. Gadis yang membuatku tahu bahwa hidup bukan sekadar menjalani takdir yang kita tahu.

Namun, gadis berkepang dua, jalanku memutar, entah mengapa seolah ujungnya ingin menemukanmu. Senandung mantra siapa yang akan aku jelmakan, kali ini?

thoughts

Ayuh adalah anak Uli Idang, dukun Dayak Meratus. Menjadi anak Balian memiliki banyak keistimewaan. Juga, Ayuh diharapkan bisa mewarisi ilmu ibunya, menjadi Balian di kemudian hari.

Suatu hari, sepucuk surat dengan cap darah mendarat di tangan Ayuh yang berada di Jakarta. Surat itu dari ibunya yang sakit keras dan meminta Ayuh untuk pulang. Ayuh dipercaya sebagai satu-satunya penyembuh, sesuatu yang diragukannya sendiri.

Ayuh kembali ke kampung halamannya, Desa Malaris. Dan Ayuh berflashback ke masa kecilnya. Ia kerap diolok-olok teman sekelasnya karena lemah dalam pelajaran eksakta. Ia lebih pandai bercerita. Sebelum ayahnya pergi meninggalkan keluarganya, ia suka membawa banyak buku cerita. Selain diwariskan oleh ayahnya, kesukaan Ayuh membaca juga karena pamannya, Amang Dulalin, yang suka bermalas-malasan di kamarnya sambil membaca.

Suatu hari, seorang bulr Amerika bernama Anna dan kawannya mengadakan penelitiN tentang kehidupan suku Dayak. Ia tinggal di rumah ibu Ayuh. Warga desa gempar dengan kedatangan Anna yang berkulit putih dan berambut jagung. Ayuh teringat dengan poster perempuan bule seksi yang dipajang Amang di kamarnya. Ia langsung mengajak Amang untuk datang ke rumahnya, karena idolanya datang.

Ada pertemuan, ada juga perpisahan. Tiba saatnya Anna harus kembali ke negaranya. Bersama Abdi, temannya, ia pamit pada warga Desa Malaris. Amang sibuk menulis surat cinta untuk Anna. Tak disangka, Ayuh mendapat kecupan di pipi sebagai tanda perpisahan dari Anna, diiringi sorak sorai warga desa. Amang tidak mencuci mukanya selama seminggu.

Ayuh risau karena ia ingin melanjutkan sekolah. Ia ingat, di sekolah, guru agama Islam berkata, pondok pesantren tidak memungut biaya untuk murid yang kurang mampu. Ibu Ayuh tak sanggup menyekolahkan Ayuh ke SMP karena masalah biaya. Ayuh mengajukan ide tersebut. Ibu Ayuh kaget, karena mereka menganut agama Kaharingan, agama adat. Dengan berat hati, Uli Idang melepas kepergian Ayuh untuk menuntut ilmu di pesantren yang berlokasi di Banjarbaru. Ayuh juga harus berpisah dengan teman-temannya: Septa, Tuma, Evi, Warna, dan Ranti. Ayuh menyukai Ranti yang cantik. Ia murid pindahan dari Jakarta.

Dan Ayuh berangkat ke ibukota, mengadu nasib. Namun masa lalu membawanya kembali ke kampung.

Ceritanya menarik dan banyak penjelasan tentang adat Dayak Malaris, namun di beberapa bagian terasa membosankan.

Secara keseluruhan, novel ini cukup asyik untuk disimak.

quotes

Setiap anak harus mengetahui nama yang disandangnya, apakah itu pemberian orangtuanya atau siapa pun. (hal. 7)

20131119-085715.jpg

Until next time

20130330-114856.jpg

[Book Review] Kartini Nggak Sampai Eropa by Sammaria @Gagasmedia

book_info

20131127-085959.jpg

Judul: Kartini Nggak Sampai Eropa
Penulis: Sammaria
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2008
ISBN: 978-979-780-271-4
Tebal: 238 halaman
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Travel, Romance, Contemporary
Beli di: Gramedia Bintaro Plaza. Harga: IDR 15,000
Penghargaan: Nominasi KLA kategori Penulis Muda Berbakat (2009)
Kalimat pembuka:
Je suis a Paris. Et rendezvous?

book_blurb
Anti dan Tesa sudah tidak saling bertemu sejak lulus sekolah. Keduanya adalah cewek-cewek Indonesia yang mencoba menaklukan dunia—khususnya Eropa. Anti melanjutkan studinya ke Perancis, sedangkan Tesa mengambil kuliah di Jerman.

Bagi mereka, jarak bukanlah hambatan untuk tetap saling berbagi cerita. Melalui e-mail, mereka bertukar ide, pendapat, dan argumentasi tentang banyak hal. Tentang pengalaman cintanya dengan para cowok, tentang kebudayaan barat dan timur, tentang realitas sosial, tentang seks, dan bahkan tentang kepercayaan terhadap Tuhan.

Anti dan Tesa adalah dua dari sekian banyak cewek Indonesia pintar. Sambil mencoba menaklukkan Eropa, kedua cewek ini juga terus memperdalam pengetahuannya seraya menikmati masa muda. Meski terkadang memiliki pemikiran yang berbeda, tapi mereka justru menjadi dua orang sahabat yang saling melengkapi.

Tidak hanya pintar, Anti dan Tesa juga sama-sama cewek Indonesia yang haus akan tantangan, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, hobi berpetualang, berkebudayaan tinggi, dan berprinsip. Meski tinggal di Eropa, mereka tidak lantas meninggalkan adat timur yang selama ini mereka jalankan.

Hal itu terlihat jelas saat mereka mempertahankan prinsip ‘having sex after marriage’—meski di sana segala sesuatunya memungkinkan dan sex before marriage adalah hal yang biasa.

Mereka berdua memang luar biasa. Semangat mereka pun tidak kalah tingginya dengan semangat Kartini di zaman dulu. Ya, mereka adalah Kartini zaman modern. Kartini masa kini yang haus akan rasa ingin tahu. Kartini yang tidak takut untuk mempertanyakan apapun, meski pada akhirnya tidak semua pertanyaan memiliki jawaban.

thoughts

Sebenarnya sudah lama saya pengin baca buku ini namun sulit banget didapat. Sekitar tahun 2011-an Jakarta Book Club yang ngadain baca bareng buku ini. Salah satu membernya kenalan saya di Twitter. Tadinya saya pengin ikutan book club ini, namun saya sulit sekali keluar (yes, saya masih tahanan rumah di Bintaro, wkwkwkwkwk) jadi saya pendam keinginan bergabung dengan book club.
Beruntung saya menemukan BBI dan Reight. Walau saya masih sulit keluar rumah, saya masih diberi waktu dan kesempatan untuk membaca dan meresensi buku-buku yang saya suka.

Dan, akhirnya, saya menemukan buku ini di rak sale di Gramedia Bintaro Plasa yang jaraknya cuma sejengkalan dari rumah *praise the Lord, Hallelujah*

Saya cukup surprised dengan gaya penulisan a la email ini. Saya pernah tahu ada buku bahasa Inggris dengan metode serupa, yaitu dua orang sahabat pena yang belum pernah bertemu dan mereka saling curhat via email. Saya lebih nyaman membaca buku dengan format email darioada twit yang membuat mata saya sakit.

Adalah Anti dan Tesa, dua mahasiswi Indonesia yang menempuh pendidikan di Eropa, saling bertukar email dan menceritakan kisah masing-masing dengan berbalas email.

Gaya bertutur Sammaria sangat santai, menggunakan bahasa sehari-hari. Novel ini terkesan ceria.

Anti digambarkan boycrazy walau masih menjaga keperawanannya. She’s a serial dater, kira-kira begitulah penjelasan singkatnya. (Bahasa Indonesianya serial dater itu apa ya? Tukang kencang berantai?)

Di dalam emailnya, Anti curhat tentang cowok Turki yang brengsek, terus dia juga punya pacar yang udah tiga tahun namanya Ical. Namun, Anti masih ngedate dengan Lukas di Prancis.

Sementara Tesa berpacaran dengan Mikhail dan ia berusaha setengah mati untuk tidak melakukan hubungan seks (yang sepertinya sangat jarang ditemui pada anak muda sekarang, apalagi yang kuliah di luar negeri).

Percakapan via email ini tidak melulu membahas isu asmara, namun juga menyinggung budaya Indonesia, cara pemulung mendapat uang lebih, bom Bali, agama, dan lain sebagainya.

Tesa dan Anti juga membahas bahasa. Mereka berdua lebih sering menggunakan bahasa asing dariada bahasa Indonesia. Bahasa memang universal, dan bahasa Indonesua se diri merupakan bahasa serapan. Saya setuju di sini. Suka-suka deh pake bahasa apa aja ^^
Novel ini banyak banget selipan bahasa Inggrisnya.

Dan, karena formatnya saling berbalas email, tidak ada dialog dalam novel ini. Karena bahasanya juga santai, saya nggak merasa terganggu sama sekali. Cuma di beberapa bagian merasa agak bosan karena pembahasannya yang itu-itu juga.

Lalu Anti dan Tesa seperti memiliki suara yang sama. Cara mereka bertutur mirip. Saya agak kesulitan membedakan mana yang Tesa dan mana yang Anti. Untung ada judul email dan dicantumkan nama pengirimnya, jadi saya tau siapa yang berbicara.

Secara keseluruhan, novel ini menghibur dan menjadi penyegaran untuk saya yang sedang mumet dengan kerjaan.

quotes

But what is freedom anyway? Just an illusion. (hal. 39)

Kebebasan bisa terjadi kalo semua pihak di dunia gak punya kepentingan akan pihak lain. (hal. 41)

Instead of covering the girls with some veils, why don’t we educate the boys? (hal. 51)

20131128-083506.jpg

20131128-083529.jpg

Meet the Author: Sefryana Khairil @Gagasmedia

20130819-105102.jpgmeet_the_authsefry

Seperti janji saya kemarin, hari ini kita akan berbincang sedikit mengenai novel Tokyo: Falling di balik layar bersama Sefryana Khairil.

Simak wawancaranya berikut di bawah ini.

tokyo

 

Kenapa memilih Tokyo sebagai setting untuk novel serial STPC ini?

Sebenarnya, nggak kepikiran bakal nulis Tokyo, tapi pilihannya hanya ada itu. Bingung juga sih pas ditawarin. Belum kebayang mau nulis apa tentang Tokyo. Tapi, aku merasa tertarik banget karena ini hal baru buatku. Selama ini kan aku nulis latarnya di Indonesia dan lebih banyak ngambil tempat di Jakarta,

Bagaimana cara Sefry menciptakan karakter Thalia dan Tora? Apakah keduanya murni karakter rekaan atau ada inspirasi dari tokoh nyata?

Campuran antara nyata dan rekaan. Hihihi.

Ide tokoh Thalia itu muncul pas ketemu anak kecil, namanya Thalia (namanya aku pinjam. :p). Aku kepikiran mau nulis tokoh yang kekanakan, bawel, agak polos, dan punya ego cukup besar.

Kalau tokoh Tora, aku terinspirasi seorang teman. Dia wartawan dan fotografer lepas. Orangnya cuek dan santai, termasuk penampilan. Waktu ketemu dan ngobrol, aku jadi tertarik menggabungkan karakter seperti ini dengan Thalia. Jadilah tokoh Tora. Profesi, gaya, dan karakter dari teman aku itu, selebihnya aku kembangin sendiri.

Thalia kan suka motret, Sefry juga hobi fotografi. Apakah tokoh Thalia gambaran Sefry sendiri?

Bukan. Mungkin karena aku suka motret dan konflik utama Tokyo ada pada lensa kamera, jadi yang keluar dari kepalaku hal-hal tentang fotografi. 😀

Berapa lama proses penulisan novel ini?

Proses penulisannya satu bulan. Revisi satu bulan. Risetnya yang lama sampai tiga bulan. Jadi proses penulisannya kira-kira lima bulan.

Bisa diceritakan proses riset novel Tokyo: Falling secara singkat?

Sebelum menulis, biasanya aku ngumpulin data-data dulu. Untuk Tokyo aku ngumpulin data dari internet, buku panduan traveling, peta jalur kereta dan jadwal kereta di Tokyo, video-video dari YouTube, juga kebetulan ada teman di Tokyo yang bisa aku tanya-tanya. Baru setelah itu terkumpul, aku mulai nulis.

Setelah selesai nulis, aku kasih naskah ke teman aku di Tokyo, buat ngecek lokasi dan detailnya. Terus aku minta bantuan Yoana Dianika (penulis Last Minute in Manhattan) buat koreksi bahasa Jepang. Kebetulan dia dari Sastra Jepang (makasih ya, Yo).

Apa yang Sefry sukai dari Tokyo?

Buatku, Tokyo itu romantis. Romantis yang manis, seperti di manga-manga ataupun drama-drama Jepang. Tokyo secara keseluruhan aku suka, salah satunya transportasi. Kalau ada rezeki dan kesempatan, aku mau ngerasain nyebrangin laut ke Odaiba naik Yurikamome kayak Tora dan Thalia. Amiiin. 😀

Ada kejadian menarik selama proses penulisan novel Tokyo: Falling?

Ada. Pas pertengahan nulis, aku sempet kena writer’s block dua minggu karena belum dapet feel cerita. Aku nonton film-film Jepang. Dengerin lagu-lagu Jepang. Makan masakan khas Jepang. Sampai ngobrol sama orang Jepang. Pas udah merasa kebawa aura Jepang :p, baru lanjutin nulis lagi.

Seandainya Tokyo: Falling difilmkan, siapa yang cocok untuk memerankan:

Hmm…

Thalia: Michelle Ziudith

Tora: Ario Bayu

Cocok nggak sih? :p

Cocok kok, hehehehe. Apa proyek selanjutnya yang akan Sefry kerjakan?

Aku sedang menulis naskah domestik drama yang latarnya juga di luar negeri. Amerika, tepatnya.

Punya lagu favorit yang bisa didengarkan ketika membaca novel Tokyo: Falling?

Lagu-lagu Ayumi Hamasaki. Yang paling favorit judulnya Progress.

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^ Ditunggu karyanya ya, Sef.

Oiya, yang mau mendapatkan novel Tokyo: Falling, bisa ikutan kuisnya di sini

Selamat hari Kamis ^^

20131105-024143.jpg

[Book Review + Giveaway] Tokyo: Falling by Sefryana Khairil @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

tokyoJudul: Tokyo: Falliing

Seri: Setiap Tempat Punya Cerita # 6

Penulis: Sefryana Khairil

Penerbit: GagasMedia

Terbit: Oktober 2013

Tebal: 338 halaman

ISBN: 9789797806637)

Kategori: Novel Fiksi

Genre: Romance, Travel Lit

Beli di: Kutukutubuku Rp. 37,100

Kalimat pertama:

Setelah mengambil gambar pintu masuk festival, Thalia menurunkan Canon 7D yang menggantung di lehernya.

book_blurb

Pembaca tersayang,

Musim panas di Tokyo selalu memiliki banyak warna. Sefryana Khairil, penulis Sweet Nothings dan Coba Tunjuk Satu Bintang mengajak kita berkeliling negeri sakura bersama dua wartawan bernama Thalia dan Tora.

Keduanya dipertemukan oleh sebuah lensa. Lalu, Danau Shinobazu membuka mata keduanya tentang bahwa kenyataan sering sekali berbeda dengan asumsi mereka pada awalnya. Thalia dan Tora berbagi tawa dan saling menyembuhkan. Hingga mereka sama-sama ragu, benarkah semuanya hanya sekadar kebetulan? Atau ini adalah satu dari misteri Ilahi yang mereka belum temukan jawabannya?

Setiap tempat punya cerita.
Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari timur yang sarat akan aroma lembut bunga sakura.

Enjoy the journey,

EDITOR

thoughtsTokyo: Falling merupakan karya Sefryana Khairil pertama yang saya lahap. Sebelumnya saya mendengar dari teman-teman pembaca tentang karyanya yang banyak disukai. Sudah lama saya memang ingin membaca novel Sefry, dan baru kali ini kesampaian, bertepatan dengan event STPC yang belum selesai di blog Lust and Coffee.

Di novel ini, Sefry menyuguhkan tema fashion dan majalah dengan setting Tokyo. Saya penyuka fashion (walau bukan fashionista atau pengikut trend mutakhir) juga Jepang. Waktu mendengar kabar tentang akan dirilisnya novel Tokyo: Falling, tentu saya antusias dan sangat menantikan kehadiran novel ini.

Adalah Thailia, seorang fashion editor di sebuah majalah perempuan di Indonesia yang pertama kali berkunjung ke Tokyo untuk meliput pameran fashion international. Lalu, ada Tora, redaktur pelaksana majalah LiveLife, terbang ke Tokyo untuk membereskan persoalan yang belum selesai.

Bertubrukan, Thalia marah kepada Tora yang membuat lensa kameranya retak. Terpaksa mereka berbagi lensa karena waktu yang mepet, ditambah Thalia yang rese ingin Tora mengganti lensanya yang limited edition.

Thalia semnagat ke Tokyo karena kekasihnya, Dean, bertugas di Tokyo. Alih-alih bertemu atau sekadar meluangkan waktu berbincang saat makan malam, Dean bagai hantu, menghilang ditelan kabut Tokyo. Sedangkan Tora mencari kepastian dari (mantan) kekasihnya, Hana, yang keputusannya membuat Tora syok berat.

Berdua Tora dan Thalia bertualang mencicip soba, ramen, hingga berbelanja ke butik Liz Liza, Ueno Zoo, hingga berdesakan di kereta bawah tanah.

Sefry piawai merangkai kata demi kata dengan indah. Terkesan romantis namun tidak berlebihan (karena saya bukan penggemar romance mendayu-dayu). Karakter pendukungnya juga bikin gemas. Seperti Dean yang nggak jelas keberadaannya bagai Casper, dan Hana yang awalnya tegas menyuruh Tora untuk menjauhinya, namun tiba-tiba malah meminta bertemu. Ada juga Alvin dan istrinya, Mikami, yang bisa berbahasa Indonesia dengan logat Jepang yang lucu.

Masih ditemukan typo:

Penasaran denga selera musik Thalia (hal. 118) <– dengan

Bibirnya keduanya mengulas senyum (hal. 180) <– Bibir keduanya

It doesn't matter who hurt you or broke you down. What matter is who make you smile again (hal. 89)

— It doesn't matter who hurt you or broke you down. What matters is who made you smile again.

Love is just a word yet it is an indescribeable feeling (hal. 231)

— Love is just a word yet it is an indescribable feeling

Minumnya sudah habis saat berkeliling. (hal. 281) <– minumannya

Di halaman 296 yangseharusnya bicara Dean tapi tercetak Tora.

Thali mengembangkan sebuahsenyum. (hal. 320) <– Thalia

So far typonya masih bisa ditolerir, tidak mengganggu atau mengubah esensi ceritanya sama sekali.

characterThalia

Manja, tipikal perempuan kosmopolitan. Ditambah dengan profesinya sebagai fashion editor yang menuntutnya tampil modis dan ditempeli barang branded. Walau manja, cranky, dan, tidak mau susah dan agak jutek, Thalia berhati lembut. Anehnya, walau saya tidak menyukai tipe perempuan seperti Thalia, karakter Thalia tidak menyebalkan. Agak gemes sih dengan kenaifannya setiap kali menghadapi Dean, tapi nggak sampai menyebalkan.

Tora

Cowok banget, cuek, rada berantakan, nggak peduli fashion, namun perhatian dan, sama seperti Thalia, hatinya lembut dan mudah terenyuh di hadapan perempuan yang ia cintai. Tora juga tipe setia, rela berkorban dan pelindung. Walau rada cuek, Tora suka pakai parfum juga sih, dan saya penyuka cowok wangi.

Tokyo: Falling menjadi penutup seri STPC dengan manis. Setelah membaca novel ini, saya jadi tersenyum dan ada perasaan hangat, seperti cuaca musim panas di Tokyo.

Nggak sabar menunggu karya Sefry selanjutnya.

quotesAku takut nggak bisabikin orang yang aku sayang bahagia. (hal. 225)

Mungkin ada kalanya cinta butuh jarak. Bukan untuk berpisah, tapi untuk menguji besarnya cinta itu sendiri. (hal. 242)

20130923-121407.jpg

GA1

Siapa yang mau mendapatkan satu buah novel Tokyo: Falling? Caranya mudah saja.

Isi Rafflecopter di bawah ya dan ikuti petunjuknya.

Rafflecopter

Periode giveaway berlangsung dari tanggal 20 November – 15 Desember 2013. Pengumuman pemenang tanggal 17 Desember 2013.

Good luck ^^

20131105-024143.jpg

Jangan lupa, besok ada sesi wawancara dengan Sefryana Khairil tentang novel Tokyo: Falling 🙂

[Gagas Debut Tour] Kei Character Analysis and Tidbits @Gagasmedia

GD6

kei

character

salaSala adalah anak yatim yang tidak mengenal ayahnya. Lahir dari pasangan di luar nikah, Sala kerap diolok-olok dan menjadi sasaran cemoohan teman-teman sekolahnya. Ketika Sala pulang sekolah dalam keadaan babak-belur habis menghajar temannya karena mengata-ngatainya anak haram, ia dimarahi ibunya, Martina.

“Nak, kau tahu dalam ajaran adat Kei, satu-satunya alasan orang berperang atau berkelahi adalah untuk mempertahankan kehormatan kaum perempuan dan kedaulatan batas wilayah. Tolong jangan berkelahi lagi. Laki-laki yang benar-benar lelaki tak akan sembarang berkelahi.” (hal 44).

Sala tumbuh menjadi lelaki yang bertanggung jawab dan sangat menyayangi ibunya. Ia juga sangat menjungjung adat Kei. Sala tidak pernah mau bertempur melawan saudaranya sendiri. Namun, takdir membawanya ke Jakarta dan bersentuhan dengan dunia hitam di sana.

Sala yang mencintai Namira juga memiliki hati yang lembut dan tulus. Seperti yang saya dengar dari orangtua, laki-laki yang menghormati ibunya pasti sangat menyayangi (calon) istrinya. So, untuk perempuan yang sedang tahap mencari jodoh, carilah laki-laki yang sayang sama ibunya.

Sala juga setia kawan, naif, dan rela berkorban demi orang yang ia sayangi. Di Jakarta, ia sangat menyayangi Ali, anak kecil yang dibawa oleh Bos Yo yang kemudian ia pelihara di markasnya.

Dari segi fisik, Sala berwajah mirip James Franco kalau menurut deskripsi penulisnya. Berambut ombak, kulit tan dan tubuh yang tegap, walau tidak terlalu tinggi. Sala juga pintar bermain gitar dan rajin beribadah di gereja. Pokoknya, Sala adalah gambaran pria idaman, hehehe.

NamiraNamira, gadis asal desa Elaar adalah gadis desa yang lugu dan ramah. Ia bersahabat dengan Mery, yang berbeda keyakinan dengannya. Hingga ia bertemu dengan Sala, pria beragama Protestan yang juga berseberangan dengannya yang muslim. Ketika kerusuhan terjadi, Namira terpisah dengan kedua orangtuanya yang entah berada di mana. Namira itu perempuan banget, perasaannya juga halus.

Namira juga diceritakan selalu beruntung bertemu dengan orang-orang baik yang selalu menolongnya. Pertama, ia bertemu Esme yang memberikannya kalung emas. Lalu, ketika desa Mery diserang, Namira dikira kenalan seseorang yang menariknya ke kapal pengungsi menuju Makassar. Tiba di Makassar, ia bertemu dengan gadis yang mengajaknya tinggal bersama ibunya, bahkan Namira diberi pekerjaan sebagai penjaga toko barang antik. Kebaikan selalu menghampiri orang baik juga. Namun, karena karakter Namira yang baik ini, konflik di novel Kei terasa kurang menggebu. Setelah membaca novelnya keseluruhan, saya baru mengerti bahwa antagonis memang tidak selalu harus berbentuk tokoh. Keadaan juga bisa menjadi antagonis yang menghancurkan hidup tokohnya.

Selain kedua tokoh utama novel Kei, ada dua tokoh minor yang menjadi favorit saya:

Ali

Ali adalah anak yang dipungut oleh Bos Yo dan menjadi pesuruh anak buah Bos Yo di markasnya. Ali sangat mengagumi Sala yang tidak banyak bicara dan memiliki sorot mata orang baik, tidak seperti kebanyakan anak buah Bos Yo yang berperangai buruk dan suka seenaknya menyuruh-nyuruh Ali.

Saking sayangnya Ali pada Sala, ia menyempilkan benda peninggalan kakeknya ditas Sala ketika ia bertolak kembali ke Kei. Benda tersebut menurut Ali akan membawa keberuntungan bagi pemiliknya.

Satu lagi tokoh minor yang saya sukai adalah Rohana yang bertubuh tambun namun memiliki karakter periang dan suka melucu. Rohana juga yang meyakinkan Namira bahwa Sala adalah pria berhati baik dan bersungguh-sungguh mencintainya.

tidbits

kei
Pic from here

Kei adalah kepulauan yang letaknya terhimpit oleh laut Banda dan Papua. Kei memiliki pantai yang luar biasa indah, seperti foto di atas. Jadi pengin rebahan di atas pasir yang putih sambil menatap laut yang jernih.

Lalu, ada juga adat Maluku bernama Sasi Laut yang melarang penduduk untuk mengambil sumber daya laut dalam jangka waktu tertentu. Jika dilanggar, maka sanksinya berat, hingga dapat membuat keluarga malu.

Untuk lebih tahu lebih lanjut tentang sasi Laut, bisa dibaca di sini.

Kerusuhan di Maluku tahun 1999-2002 menyisakan trauma yang berkepanjangan bagi warganya. Pertikaian antar agama yang sebelumnya tidak pernah terjadi menjadi senjata bagi oknum tertentu untuk memecah-belah kerukunan warga Maluku.

120725_REUTERS_ID_IDPAMBON_
Pic from here

Para pengungsi dari Maluku banyak juga yang lari ke Jakarta, dan menjadi preman. Banyak bos dunia hitam yang berasal dari daerah Maluku dan memiliki ‘usaha penyedia jasa keamanan’ yang terorganisir dan berjalan secara underground.

Yang ingin tahu sepak terjang preman di Jakarta, bisa klik di sini.

Novel Kei berbicara tentang fakta yang difiksikan. Banyak fakta sejarah berbau politik yang mewarnai novel ini. Yang penasaran dengan Kei, bisa langsung ke toko buku ya 🙂

Giveaway Aku Tahu Kamu Hantu dan Kei masih berlangsung lho hingga akhir November 2013. Jangan lupa untuk ikutan ya, siapa tahu kamu yang beruntung mendapatkannya.

Until next time,

20130923-121453.jpg

[Gagas Debut Tour] Meet the Author: Erni Aladjai @Gagasmedia

GD5

Halo,

Ketemu lagi di segmen Meet the Author. Karena kemarin novel Kei sudah direview (dan ada giveaway-nya juga), maka kali ini penulis Kei yang berkesempatan untuk sharing tentang rahasia dapur di balik pembuatan novel Kei yang kental dengan adat Maluku tersebut.

kei

Simak yuk wawancara Lust and Coffee dengan Erni Aladjai berikut ini 🙂

erniA

Sebelumnya, selamat ya, novel Kei menjadi pemenang Unggulan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012. Selamat juga atas terbitnya novel Kei di Gagasmedia.

Bisa diceritakan dari mana dapat ide untuk novel Kei?

Idenya pas baca buku ‘Ken Saa Faak, benih-benih perdamaian di pulau Kei.” Buku ini ditulis oleh orang-orang yang selama puluhan tahun berkecimpung dalam pendampingan rakyat. Mereka aktivis kemanusiaan. Penulisnya Bang Saleh dan beberapa penulis Maluku seperti Pieter Elmas, Don K Marut, Mery Ngamelubun, Efrem Silubun, Dur Kaplale dan lain-lain. Jadi idenya sudah dari tahun 2010, tapi kemudian baru punya waktu nulis tahun 2012.

Apa novel Kei memang khusus ditulis untuk sayembara DKJ?

Ya. Waktu lihat ada pengumuman lomba sayembara DKJ, saya langsung ngebut nulis novel ini. Waktu baca ‘Saman’-nya Ayu Utami kan ada tulisan pemenang sayembara roman DKJ, sejak itu saya memelihara harapan, ingin juga punya novel kelak dengan tulisan ada ‘DKJ’nya. Hahahahaha.

Keren banget, cita-citanya tercapai. Berapa lama proses penulisan novel Kei?

Kalau tak salah ingat, saya menulisnya selama tiga bulan. Jadi tiap tengah malam saya bangun nulis ‘Kei’, kemudian pada hari libur Sabtu dan Minggu, saya fokus menuliskannya. Kalau menulis, saya tak mau ada orang di dekat saya. Jadi saya senang menulis saat sendirian.

Saya terpesona dengan detil setting novel Kei, seolah saya berada di sana ketika membaca novelnya. Bagaimana cara Erni meriset tempat untuk novel ini?

Hehehehe, terima kasih Yuska. Sebenarnya saya belum pernah menginjakkan kaki ke Kei. Saya juga tidak punya teman bicara soal Kei. Setting  Pulau Kei dalam novel itu adalah  setting yang saya buat dalam kepala saya. Hanya saja karena saya Orang Timur, saya mengira-ngira saja kontur daerahnya. Kampung saya kan berbatasan dengan Maluku.

Oh iya, dengan hanya mengandalkan imajinasi tentang Kei untuk penggambaran tempatnya, ini memang riskan. Tapi sejauh ini belum ada yang komplain ke saya, kalau ‘Kei’ bukan seperti itu. Mudahan-mudahan, pembaca yang sudah pernah ke Pulau Kei, maklum pada saya. hehehehe

Ada narasumber yang membantu mendeskripsikan kejadian kerusuhan di Kei tahun 1999?

Tak ada. Pengerjaan ‘Kei’ buru-buru karena mengejar deadline Sayembara DKJ, J.  Jadi tak sempat riset wawancara. Tapi pengakuan-pengakuan korban, saya riset di koran, majalah, dan buku ‘Ken Saa Faak, benih-benih perdamaian di Pulau Kei’ itu.

Sekarang mengenai tokoh utamanya, Namira dan Sala, bagaimana Erni mendapat ide untuk menciptakan kedua tokoh tersebut?

Namira dan Sala itu tokoh fiksi. Tak benar-benar ada di Kei. Karakternya juga saya bikin-bikin sendiri. Ada kawan bilang : kok, karakter Namira, mirip kamu ya? Saya bilang, ah tidaklah. Tapi yang bagian di mana Namira mengobati ibu melahirkan dengan obat-obatan daun dari hutan, itu meminjam ‘pengetahuan’ mama saya. Hahahahaha. Mama saya senang belajar khasiat tanaman. Beliau juga meminta saya belajar itu. Katanya, agar saya tak bergantung pada obat-obat modern.

Isu perbedaan keyakinan merupakan tema yang sensitif untuk diangkat. Tidak takut mendapat protes dari pihak tertentu?

Saya tak takut, karena di novel itu, saya tidak menjelek-jelekkan satu agama. Saya pikir, saya cukup berhati-hati juga menuliskannya. Maksud saya, saya berusaha membuatnya ‘Cover Both Sides’ agar tak ada pihak yang tersakiti. Sebenarnya novel Kei itu bukan persoalan konflik yang ingin saya ceritakan, namun bagaimana Orang Kei memandang konflik itu dan bagaimana cara mereka kembali pada ajaran leluhur mereka untuk memadamkan pertikaian. Di sini inti novelnya.

Sudah berapa lama Erni menekuni dunia menulis?

Pertama kali menulis pas SD kelas lima. Saya nulis cerpen “Harimau dalam Hutan”, cerpen ini jadi juara dua di lomba mengarang Sekecamatan. Hehehehe. Jadi  harapan menjadi penulis itu sudah ada sejak saya di bangku sekolah dasar. Tapi saya benar-benar menekuninya pas tahun 2004. Jadi sekitar 23 tahun saya pelihara mimpi menjadi penulis.

Apa proyek novel selanjutnya yang akan Erni kerjakan?

Saya ingin menulis novel lagi, novelnya mungkin tentang tanaman, hutan dan penderitaan petani. Hehehehe. Tapi tanamannya masih rahasia. 😀

Ada tips singkat untuk penulis yang ingin mengirim naskahnya ke Gagasmedia? Apa saja yang harus diperhatikan?

Mungkin cuma satu, jangan buat kalimat berbelit-belit namun kosong dan sulit dipahami. Saya melakukan ini, dan dapat teguran dari editor Gagas.

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^

Thanks Yuska, namamu mirip nama orang Rusia.

jia-note1

Stay tuned karena besok ada postingan tentang character analysis dan serba-serbi pulai Kei.

TTFN,

20130725-125307.jpg

[Gagas Debut Tour] Book Review + Giveaway: Kei by Erni Aladjai @Gagasmedia

GD4

book_info

Jukeidul: Kei

Penulis: Erni Aladjai

Penerbit: GagasMedia

Terbit: 19 Agustus 2013

Tebal: 250 halaman

ISBN: 9789797806491

Kategori: Novel Fiksi

Genre: Roman, Perang Saudara, Kultur

Dapat dari: penerbit untuk diresensi

Bisa dibeli di: [Bukabuku] [Yes24]

Kalimat pertama: Di sinilah pada akhirnya, Namira Evav menemukan dirinya, terkurung dalam hiruk-pikuk ribuan calon penumpang dan teriakan penjual buah berdebu, sari markisa, hingga pedagang makanan kotak dengan isi; nasi setengah mentah, dan lauk sayap ayam yang dimasak asal-asalan.

book_blurb

Mari kuceritakan kisah sedih tentang kehilangan. Rasa sakit yang merupa serta perih yang menjejakkan duka. Namun, jangan terlalu bersedih, karena aku akan menceritakan pula tentang harapan. Tentang cinta yang tetap menyetia meski takdir hampir kehilangan pegangan.

Mari kuceritakan tentang orang-orang yang bertemu di bawah langit sewarna biru. Orang-orang yang memilih marah, lalu saling menorehkan luka. Juga kisah orang-orang yang memilih berjalan bersisian, dengan tangan tetap saling memegang.

Mari, mari kuceritakan tentang marah, tentang sedih, tentang langit dan senja yang tak searah, juga tentang cinta yang selalu ada dalam tiap cerita.

***

“Kei dituturkan lewat penokohan yang dinamis dan mendalam, pengelolaan alur yang intens dan kompleks tanpa menjadikan jalan cerita hilang. Latar yang dipilih pengarang berpadu secara selaras dengan konflik utama dalam cerita.”
Pidato A.S. Laksana — Sastrawan dan Juri Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012

thoughtsNovel berjudul singkat dengan satu suku kata ini tadinya saya pikir adalah nama orang, ternyata saya salah besar. Kei merupakan salah satu kepulauan di Maluku Tenggara, a hidden paradise dengan pantai yang indah yang hampir tak terjamah turis.

Selain itu, tagline Kei juga sangat catchy, kutemukan cinta di tengah perang. Perang apa? Saya sempat berpikir perang kemerdekaan antara tahun 1942 sampai 1945. Ternyata saya salah lagi (untung saya sudah lulus SMA dan nggak sedang mengikuti ujian sejarah. Kalau nggak, dijamin nggak lulus).

Premisnya (yang juga tagline Kei) sangat sederhana. Cinta yang tumbuh di tengah perang saudara.

Adalah Namira, gadis asal desa Elaar yang beragama Islam bertemu dengan pemuda Protestan bernama Sala yang berasal dari desa Watran di lokasi pengungsian. Keduanya terusir dari tempat tinggalnya masing-masing karena adanya serangan dari kawanan pemuda dari desa tetangga. Kedua desa yang ditinggali oleh Namira dan Sala tadinya merupakan desa yang aman, damai dan tenteram. Namun, kedamaian tersebut terusik karena adanya penyerangan tak terduga dari desa seberang yang menewaskan banyak orang. Penduduk Maluku terbagi menjadi dua kelompok: kelompok putih dan merah. Keduanya saling menyerang dan menumpahkan darah.

Ketika keduanya harus kehilangan orangtua, Namira dan Sala harus berpisah karena adanya penyerangan ke daerah pengungsian, juga kampung Mery, tempat terakhir Namira mengungsi. Takdir memisahkan Namira dan Sala. Namira pergi ke Makassar, sedangkan Sala diajak Edo, temannya untuk mengadu nasib ke Jakarta.

Di Makassar, Namira bertemu dengan orang yang baik hati, sedangkan Sala bernasib sebaliknya. lalu, bagaimana nasib keduanya?

Novel Kei tidak hanya mengupas tentang kerusuhan di Maluku tahun 1999. Bukan hanya berkisah tentang pergolakan politik dan kesengsaraan. Lebih dari itu, Kei mengisahkan tentang cinta, persaudaraan, kasih, juga betapa pentingnya falsafah adat yang dianut oleh penduduknya.

Salah satu adegan yang paling berkesan adalah: ketika sekelompok pria hendak menyerang kampung Mery. Para wanita menghadang dengan memberikan sirih dan pinang. Seketika, si penyerang menjatuhkan senjata, dan tak berkutik di hadapan wanita.

Adat Kei mengajarkan bahwa pantang untuk membuat wanita menangis. Airmata wanita diibaratkan seperti emas.

Masih ditemukan beberapa typo, namun tidak mengganggu esensi cerita. Lalu, yang bikin saya tersenyum adalah kesukaan Mery dan Namira mendengarkan Poppy Mercury dan Nike Ardilla.

Di halaman 61 ada paragraf seperti ini:

“Jangan bicara begitu, lebih baik kita diam, Bu. Kondisi serupa ini, satu kata saja yang khilaf bisa membuat perkelahian besar,” dengan lembut Samrina memperingatkan Ibu yang bebicara menggebu-gebu itu.

Sepertinya Namira yang berbicara di situ, bukan Samrina.

Lalu, di halaman 207 tertulis seperti ini:

Mendengar ancaman Sala. Ali terdiam.

Seharusnya koma, bukan titik.

Beberapa tokohnya digambarkan mirip dengan selebriti terkenal. Misalnya, Sala dikatakan mirip dengan James Franco, lalu Bos Yo memiliki wajah mirip Bucek Depp. I don’t mind celebrity doppelganger, tapi lebih seru kalau dideskripsikan sedemikian rupa sehingga kita bisa membayangkan rupa tokohnya tanpa dimirip-miripi dengan celebrity.

Kisah cinta dua insan yang berbeda keyakinan memang sudah sering ditulis, namun penyampaian Erni khas sehingga membuat tema ini tidak basi. Hubungan antara Namira dan Sala diceritakan dengan manis, tidak menggebu-gebu. Seolah menjadi penyejuk dan penyegar disela suasana mencekam di tempat pengungsian. Dan mengapa orang Timur (Ambon atau Flores) itu selalu identik dengan preman atau debt collector di kota-kota besar ya? Agak ngeri mengingat hal ini. Padahal adat mereka mengajarkan segala kebaikan dan mengharamkan kekerasan. Jakarta memang sebegitu kejamnya sehingga bisa membuat orang baik menjadi jahat, benar-benar city of evil.

Ada bab yang membuat saya berkaca-kaca, yaitu ketika Sala harus kehilangan ibunya. Juga ketika Namira bertemu dengan Kumala dan ibunya.

Overall, novel Kei mengajarkan banyak hal, termasuk sejarah dan luhurnya adat penduduk Maluku.

quotesKita adalah telur-telur yang berasal dari ikan yang sama dan seekor burung yang sama pula. – pepatah adat Pulau Kei.

Kau bisa menghormati ibumu dengan menjadi lelaki yang tangguh, bekerja dan tahan kesendirian. (hal. 32)

Di saat rusuh begini, orang-orang mestinya banyak mengenang sejarah. (hal. 44)

20130923-121407.jpg

Intip review Kei yang lain di bawah ini:

Ariansyah
Elfa

GA1

Mau dapat novel Kei? Caranya mudah aja. Klik logo Rafflecopter di bawah ya 🙂
RC

Giveaway ini berlangsung sampai 20 November 2013 dan pengumuman pemenang pada tanggal 23 November 2013.

Besok bakalan ada interview dengan Erni Aladjai mengenai serba-serbi novel Kei. Stay tuned ya ^^

Good luck ^^

20130923-121453.jpg

Please visit Gagas Debut Host:

Nike
Wangga Kharisnu
Hadi Kurniawan
Ditter
Sulis
Rido Arbain
Winda
Ifnur
Dunia Anak Remaja
Yuniari
Wuri
Halida
Epphy

[Gagas Debut Tour] Aku Tahu Kamu Hantu Character Analysis and Tidbits @Gagasmedia

GD3

20131031-065549.jpg

intrvw-Liv

character

Olivia (Liv)

Siswi SMA usia 17 tahun. Bersahabat karib dengan Daniel karena menyukai Manga dan merasa nyaman bisa berbagi apa saja dengannya. Selain Daniel, Marsya juga salah satu teman yang cukup dekat dengan Liv.

Liv pemberani namun sedikit tertutup. Mungkin karena berasal dari keluarga broken home, ia lebih mempercayai intuisinya daripada harus terbuka dengan teman atau orangtuanya. Dalam beberapa hal, Liv mengingatkan saya dengan saya versi remaja dulu.

Pada awalnya, Liv merasa terganggu dengan kemampuan supranaturalnya itu. Namun, hal itu tak bisa dicegah karena merupakan skill turun temurun. Lambat laun, Liv bisa menerimanya juga.

Liv juga digambarkan setia kawan dan ia suka membantu orang, walau orang tersebut tidak akrab dengannya. Seperti Saras contohnya. Liv yang introvert lebih suka memendam perasaannya terhadap cowok yang ditaksirnya.

Daniel

Daniel adalah sahabat dekat Liv. Sifatnya sebenarnya ceria, namun seperti manusia pada umumnya, dia juga menyimpan banyak rahasia. Daniel sangat ingin bergabung dengan gank Arwin-Stefan-Bayu.

Ines

Ines adalah tipe cewek yang rela berkorban demi menjaga kepopuleran dan pacarnya. Karena ia sendiri juga dibully, ia melimpahkan perasaannya dengan membully Liv.

tidbits

harryprice
Pic from here

* Menurut Southwest Ghost Hunters Association, orang pertama yang melihat hantu adalah Harry Price ketika ia berusia 15 tahun. Saat itu, Harry dan teman-temannya mengunci diri mereka di rumah berhantu tahun 1889-1890.

roosevelt-hotel
Pic from here

* Roosevelt Hotel yang berada di Hollywood Boulevard ini merupakan hotel ternama kesayangan pesohor Hollywood, namun juga merupakan salah satu tempat paling seram di dunia. Banyak sekali penampakan di hotel ini, termasuk hantu Marilyn Monroe yang menampakkan diri di cermin dan berdansa di kamar 229. Hantu lainnya yang pernah dilihat tamu hotel antara lain hantu Montgomery Clift dan Carole Lombard. Beberapa tamu juga pernah dijahili hantu iseng di hotel ini. Ketika mereka di dalam kamar, mereka terkunci dan tidak dapat keluar.

sadako
Pic from here

Banyak sekali kesaksian mengenai penampakan hantu kuntilanak (atau orang Melayu bilang pontianak) di dalam toilet. Entah kenapa kunti suka dengan toilet. Mungkin karena lembap dan agak kotor. Selain toilet, kunti juga suka nongkrong di dekat pohon.

Beberapa kesaksian mengenai penampakan kuntilanak penunggu toilet sekolah/umum:

Fadil
Cerita Dunia Gaib
Cerita Misteri Indonesia
Kiki

Saya sendiri tiga kali ketiban sial berhadapan dengan kunti. Pertama kali kejadiannya sekitar tahun 1998. Waktu itu, saya menginap di rumah teman. Tiba-tiba, ada suara cekikikan di jendela dan suara teralis digebrak-gebrak. Ada lukisan di luar kamar temen saya diguncang-guncang oleh kunti berbaju hijau dan membawa payung tersebut. Kunti tersebut, menurut teman saya, rajin datang ke rumah teman saya dan suka mengganggu. Teman saya bercerita, beberapa tahun silam, ada perempuan gantung diri di rumah sebelahnya. Mungkin arwah penasarannya gentayangan dan mengganggu tetangga.

Kali kedua, ketika saya tidur di kamar adik saya di rumah orangtua. Saya yang ketika itu lelah, lupa menutup gorden kaca dan langsung terlelap. Sekitar pukul 3 dini hari, sesosok hantu dengan rambut panjang menjuntai berdiri di luar jendela sambil menatap saya. Untungnya, si kunti tidak dapat masuk ke dalam. Langsung saya ngacir ke kamar adik saya. Esoknya, adik saya yang kurang ajar itu malah nyengir dan menertawakan saya. Ia bilang, orang-orang di kantor barunya sering diganggu oleh kunti itu. Karena adik saya tidak punya mata ketiga, kunti tersebut menampakkan diri pada saya. *sial bener-bener deh*

Kali ketiga, ketika saya sudah menikah dan baru menempati rumah baru di Bintaro. Sesosok kunti dengan aura jahat tiba-tiba berada diantara saya dan suami. Saya punya kebiasaan memegang tangan suami ketika tidur. Si kunti sepertinya tidak suka saya berada dekat dengan suami. Selain menepis tangan saya, ia jua berusaha mencekik dan menjambak rambut saya. Wajah kunti itu hanya berjarak beberapa senti saja dari wajah saya. Close up tanpa filter.

Semoga cukup tiga kali saja saya berhadapan dengan kuntilanak.

Jangan kemana-mana, besok ada review dan giveaway Kei karya Erni Aladjai yang nggak kalah menariknya.

Silahkan blogwalking ke blog para host Gagas Debut Di bawah:

Amrazing – Interview with Anggun
Kubikel Romance – Givaway Novel After Rain
Rido Arbain – Interview with Anggun
Vabyo – Ngobrol Bareng Eve Shi
Wangga Kharisnu – Review novel Aku Tahu Kamu Hantu
Robin Wijaya – Amanda Inez dan Beauty Sleep
Ifnur Hikmah – Review Beauty Sleep + Giveaway

20131027-023812.jpg

[Gagas Debut Tour] Meet the Author: Eve Shi @Gagasmedia

GD2

atkh

Ketemu lagi dengan segmen Meet the Author dalam rangkaian Gagas Debut Tour. Setelah kemarin saya mereview buku Aku Tahu Kamu Hantu, maka hari ini Lust and Coffee berkesempatan untuk bertanya-tanya pada penulisnya, Eve Shi, tentang proses kreatif dan proses pembuatan novel Aku Tahu Kamu Hantu. Simak wawancara Lust and Coffee dengan Eve Shi berikut ini.

eveshi

Bisa diceritakan dari mana dapat ide untuk novel Aku Tahu Kamu Hantu?

Ide dasarnya sederhana: anak perempuan yang tahu-tahu mendapati dirinya bisa melihat makhluk halus. Dari situ saya mengembangkannya menjadi ramuan kisah drama dan horor.

Kenapa Eve memilih genre horor untuk novel debutnya di GagasMedia?

Waktu itu saya mendengar Gagas Media berencana merambah genre horor di tahun 2013. Genre horor salah satu kesukaan saya, meski sebelumnya saya belum pernah menulis satu novel horor utuh. Kalau niat muluknya, saya ingin coba menyumbangkan novel horor yang premis dan judulnya tak terlalu bombastis pada khasanah perbukuan Indonesia.

Berapa lama proses penulisan novel ini?

Satu bulan, sebab diberi tenggatnya satu bulan. Tapi selanjutnya mungkin saya menulis lebih lambat, sebab menulis novel sampai rapi, bukan first draft yang masih semrawut, dalam sebulan itu capek sekali.

Satu kata yang bisa mendeskripsikan novel Aku Tahu Kamu Hantu:

Tekad. Tekad Liv untuk menuntaskan masalah dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan ‘bakat’nya itu.

Berapa lama Eve melakukan riset untuk novel ini?

Riset dilakukan sambil menulis. Sisanya dilakukan sambil mengedit.

Apa saja yang dilakukan Eve ketika riset?

Bertanya pada teman yang guru SMA, mengamati tren Kpop, karena hallyu wave sedang mewabah termasuk di Indonesia. Ada yang bilang novel harus timeless, tapi saya juga percaya novel bisa jadi dokumentasi zamannya ditulis, dalam hal ini (sebagian) budaya pop tahun 2012.

Ada pengalaman menarik selama proses penulisan novel ini?

Saya jadi tahu, mendengarkan lagu-lagu yang sudah disukai lebih memperlancar proses menulis daripada mendengarkan lagu-lagu baru. Kalau ini bisa disebut menarik, sih.

Menurut kabar, beberapa orang ‘diganggu’ ketika membaca novel ini. Apakah Eve juga diganggu selama proses penulisan?

Tidak.

Apa proyek novel selanjutnya yang akan Eve kerjakan?

Untuk novel kedua, yang sedang diedit, temanya adalah apartemen bermasalah.

Ada tips singkat untuk penulis yang ingin mengirim naskahnya ke GagasMedia? Apa saja yang harus diperhatikan?

Tips umum untuk mengirim naskah ke semua penerbit: Hal teknis seperti tatabahasa dan ejaan yang rapi harus diperhatikan. Biar novelmu asyik, kalau penulisannya kocar-kacir, editor pasti antipati duluan. Naskah juga sebaiknya disesuaikan dengan segmen pembaca yang biasa dituju penerbit.

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^

JIA-PR

Sampai ketemu besok untuk menganalisa karakter dan tidbits novel Aku Tahu Kamu Hantu.

20131027-023812.jpg