Blog Archives

[Book Review] Brownies by Fira Basuki

20130322-014942.jpg

Judul: Brownies
Penulis: Fira Basuki (based on a movie script by Hanung Bramantyo, Salman Aristo, Erik Sasono & Lina Nurmalina)
Penerbit: Gagasmedia
ISBN: 9793600373
Jumlah Halaman: 239
Terbit: Desember 2004, Cetakan ketiga
Kategori: Fiksi/Romance
Beli di: Bazaar Gramedia Bintaro

Mel, seorang gadis cantik yang gemar membuat kue brownies ditimpa musibah. Suatu hari, ketika ia ingin membuat kejutan untuk tunangannya, Joe, ia menemukannya bercinta dengan wanita lain. Dia akhirnya berkonsentrasi membantu menyiapkan pernikahan sahabatnya, Didi dengan tunangannya, Lilo.

Disanalah Mel bertemu dengan Are, teman SMA Lilo yang pandai membuat brownies. Didi lalu berusaha untuk menjodohkan Mel dan Are. Apalagi ketika mengetahui bahwa Are seperti memahami filosofi kue favorit Mel itu. Tapi Mel yang memang belum siap untuk menerima cinta Are, akhirnya menyakitinya ketika Joe mencoba untuk kembali. Kemanakah akhirnya hati Mel akan berlabuh?

Fira Basuki adalah salah satu nama besar di dunia sastra Indonesia. Gue pertama kali kenal dengan karyanya, yaitu trilogi Jendela-Pintu-Atap yang fenomenal dan membuat nama Fira disejajarkan dengan sastrawati wangi seperti Djenar Maesa Ayu, Dee, juga Ayu Utami.

Fira adalah salah satu penulis yang menginspirasi gue dalam menulis fiksi. Gaya menulisnya santai, informatif dan suka menyisipkan sejarah dan budaya yang sangat gue suka. Trilogi Jendela-Pintu-Atap adalah salah satu koleksi gue yang berharga dan akan gue simpan dan wariskan pada anak gue kelak.

Gue belum pernah menonton film Brownies yang sempat booming awal 2000an. Saat itu gue masih enggan nonton film Indonesia. Pas nemu buku ini di Gramedia, gue niat untuk membacanya. Alasan utamanya karena penulisnya Fira Basuki.

Tokoh utama novel ini, Mel, adalah creative director, perempuan khas metropolitan. Dia patah hati saat memergoki tunangannya, Joe, yang sedang bermesraan dengan perempuan lain, Astrid, yang ternyata adalah salah satu seleb papan atas Indonesia. Mel susah sekali move on, selain perasaannya yang mendalam pada Joe, walau tahu ia player kelas berat sejak kuliah, Mel masih berharap Joe bisa berubah dan mampu mencintai Mel dengan tulus tanpa ada perselingkuhan. Mel sering menangis histeris saat teringat Joe. Apalagi waktu sahabatnya, Didi, menikah dengan Lilo. Joe yang diundang dengan santainya menggandeng Astrid, seolah ingin memamerkan pada dunia dan membuat perasaan Mel tercabik-cabik. Oh, yes, I know the feeling. You’re crushed to the core. And you feel the world is cruel and not worth living.

Mel juga hobi sekali membuat brownies yang ketika dibuatnya saat patah hati rasanya jadi pahit. Memang ketika memasak/baking, rasa yang dihasilkan sangat bergantung pada perasaan pembuatnya. Masakan akan terasa sangat lezat jika dibuat dengan cinta dan ketulusan. Ini serius, karena gue tukang ngubek dapur dan berkali-kali gagal dalam menciptakan ‘rasa’ terutama ketika PMS sedang melanda 🙂

Setelah bermuram durja, akhirnya Mel bertekad untuk tidak hancur gara-gara Joe. Berbekal buku tamu dan buku almamater kampus, Mel menghubungi cowok-cowok untuk dikencaninya. Jadilah Mel seorang serial dater. Tentu saja Mel membawa cowok-cowok ke depan mata Joe agar terlihat. Well, of course it’s not flattering. Mel malah terlihat semakin pathetic. Karena semua cowok yang dikencaninya cuma rebound, dan selalu ia bandingkan dengan Joe, Mel merasa bosan, dan ia meninggalkan mereka.

Mel mencoba resep baru brownies dan mengajak cowok-cowok teman kencannya untuk membantunya dan mencicipinya. Rasanya masih belum memuaskan. Sampai ia bertemu dengan Are, pemilik toko buku kecil di TIM. Sosok Are yang unik, ditambah dengan brownies buatannya yang terkenal enak, Mel tertarik untuk mendapatkan resep Are.

Selebihnya, Gue nggak mau ngasih spoiler ya.

Gue suka dengan storyline Brownies yang singkat, padat, jelas, dan berisi. Tema cinta memang nggak habis untuk digali, dan Brownies cukup legit untuk dinikmati.

Yang ganjil dari buku ini:

Lilo memandang Didi. “Mel punya kebiasaan bunuh diri nggak sih?” – hal. 63

Sepertinya nggak ada orang yang hobi bunuh diri, kecuali nyawanya ada sembilan. Mungkin hobi percobaan bunuh diri, atau hobi mengancam ingin bunuh diri (gue punya temen model begini soalnya. Ngancam doang, tapi nggak pernah sampe bunuh diri).
Atau bisa juga punya kecenderungan untuk bunuh diri. Menurut gue tiga hal tadi lebih masuk akal daripada kebiasaan/habit bunuh diri.

Lalu, terjemahan percakapan bahasa Inggris agak mengganggu. Menurut gue, semua percakapan dalam bahasa Inggris di buku ini mudah dipahami, sehingga nggak perlu diterjemahin.

Gue lebih suka Brownies daripada seri Ms. B yang menurut gue chicklit/metropop nanggung. Entah kenapa, gue nggak dapat feel Fira di serial Ms. B. Dan, tentu saja, gue pengin cari film Brownies. Selain itu, gue juga jadi pengin nyari buku Canting-nya Arswendo Atmowiloto dan kumcer Gallery of Kisses yang didapat Mel dari toko buku Are.

Fave Quotes:

“Jadi, buatlah brownies untuk dinikmati orang lain. Itu saja kuncinya. Itu resepnya.” – Are
“Masak saja apa adanya, biarkan brownies ungkapin sendiri rasanya…” – Are

20130322-091428.jpg

20130322-091443.jpg

[Book Review] From Batavia With Love by Karla M. Nashar

20130321-085356.jpg

Judul: From Batavia with Love: Seratus Tahun Cinta Menanti
Penulis: Karla M. Nashar
Penerbit: Gagas Media
Terbit: 2007, Cetakan Pertama
ISBN: 9797801780
Kategori: fiksi/roman/paranormal/supranatural/historical fiction
Jumlah halaman: 304

Book blurb:

Ketika Tara Medira mengunjungi museum, ia mulai mendapatkan serangkaian mimpi aneh. Mimpi yang mengantarnya kepada sosok dari masa lalu yang terjebak dalam sebuah penantian panjang. Sosok itu bernama Pieter van Reissen, aristokrat muda Belanda yang datang ke Batavia pada tahun 1905. Dan di masa lalu itu, Pieter memiliki kisah cinta dengan gadis pribumi bernama Yasmin. Cinta Pieter dan Yasmin berkembang kuat, namun tragedi terjadi. Cinta telah direnggut paksa oleh orang-orang di sekitar mereka.

Seratus tahun berlalu. Dan takdirlah yang mempertemukan jiwa resah Pieter dengan Tara. Hingga akhirnya, di antara mereka mulai terjalin ikatan batin. Mungkinkah Tara jatuh cinta kepada Pieter? Adakah hubungan antara Tara dengan Yasmin? Lalu apa yang membuat Pieter harus menunggu tepat seratus tahun untuk dapat mewujudkan keinginan terakhirnya itu?

Thoughts:

Gue dipinjemin buku ini sama editor sebagai referensi. Pertama, gue suka sejarah. Biasanya dengan senang hati gue bakal baca buku hisfic.
Ternyata, buku ini habis gue baca selama dua hari saja.

Bagian dari buku ini yang paling gue suka adalah part-nya Pieter dan Yasmin di era kolonialisme Belanda. Entah kenapa gue jadi membayangkan film Soegija, karena gambaran tentang pendudukan Belanda nempel di gue gara-gara nonton film itu.
Penulisnya sudah pasti melakukan riset mendalam. Banyak istilah-istilah dalam bahasa Belanda, juga nama tempat yang dulu dipakai.
Menarik banget karena selain menggambarkan suasana tempo dulu, penulis juga memberi sisipan pemikiran para tokohnya yang berbau politik.

Gue masih agak bingung dengan penjabaran menurut sinopsis. Apa Tara bermimpi tentang Pieter, atau ia mendapat vision?

Lalu, banyak bagian repetitif di buku ini, baik penjelasan atau potongan dialog Pieter dan Yasmin. Agak bosan dan bikin pengen skipped.
Dan satu lagi yang bikin dahi gue berkerut, saat Pieter bilang ke Tara, ia tahu semua tapi nggak boleh memberi tahu. Kalau ia beri tahu, ia akan berada di dunia orang mati. Gue merasa bagian ini ridiculous.

Kisah Tara sendiri mulai menarik menjelang ending, walau mudah diprediksi.

Yang gue perhatikan, penulisnya suka dengan nama yang mengandung huruf ‘r’: Tara, Era, Pieter, Adriaan, Rob, , Rio, Erick 🙂

Overall, buku ini cukup menghibur dan mendidik. Jadi pengin ke Cafe Batavia dan Museum Fatahillah.

20130321-091538.jpg

20130321-091615.jpg