Blog Archives

[Book Review] Larasati by Pramoedya Ananta Toer

posting bareng BBI 2014

https://lustandcoffee.files.wordpress.com/2013/06/book_info.jpg

20140225-043207.jpg

Judul: Larasati

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Hasta Mitra

Terbit: Juli 2000, cetakan kedua

Tebal: 178 halaman

Kategori: Novel Fiksi

Genre: Historical Fiction, Classics, Sastra Indonesia
Beli di: pinjam punya almarhum mertua
Harga: Rp. 23,000

Kalimat pembuka:
Setelah mendapat tempat di pojok, kapten itu mendekatkan bibirnya pada kupingnya, berbisik perlahan penuh perasaan “Aku memang banyak bersalah, Ara,” ia tak begitu yakin akan suaranya.

book_blurb

LARASATI – sebuah roman revolusi semasa perjuangan bersenjata 1945-1950. Kisah tentang pemuda-pemuda Indonesia yang rela membaktikan jiwa raga demi proklamasi kemerdekaan, kisah-kisah tentang para pahlawan sejati dan pahlawan munafik, pertarungan di daerah republik dan daerah pendudukan Belanda – antara yang setia dan yang menyeberang, antara uang ORI dan uang Nica, dengan wanita sebagai tokoh utama – bintang film tenar yang dengan caranya sendiri memberikan diri dan segalanya untuk kemenangan revolusi. Potret revolusi semasa yang menghidupkan kembali sepenggal sejarah di tahun-tahun awal proklamasi kemerdekaan, sebuah potret jujur gaya Pramoedya tentang kebesaran dan kekerdilan, kekuatan dan kelemahan revolusi. Sebuah fiksi yang menghanyutkan kita seakan menghayati kembali suatu dokumentasi non fiksi Indonesia semasa romantika pertempuran berkecamuk di “jaman bersiap!”

thoughts

Lega banget bisa menyelesaikan Larasati dalam dua hari. Saya pikir saya nggak bakal sanggup menyelesaikan novel ini.

Larasati merupakan buku karya Pram kedua yang saya baca. Sebelumnya, saya pernah membaca Dongeng Calon Arang yang saya baca waktu kuliah dalqm bahasa Inggris. Jadi, saya cukup terkejut dengan gaya bahasa Pram.

Larasati bercerita tentang perempuan bernama Larasati (dipanggil Ara), seorang bintang panggung yang kemudian menjadi bintang film ternama, yang harus pergi meninggalkan Yogya ke Jakarta dengan kereta. Saat itu paska kemerdekaan, di mana kondisi politik tak menentu karena Belanda yang ditunggangi sekutu datang kembali ke Indonesia, menduduki beberapa tempat, dan melakukan agresi militer melawan tentara pemuda independen.

Ara yang terbiasa lari dari satu pelukan pria ke pelukan pria lain akhirnya sampai ke Jakarta, bertemu dengan pejabat inlander, kolonel Belanda, dan kenalannya, Mardjohan, yang sudah naik pangkat menjadi sutradara. Ara diminta untuk membintangi film dokumenter tentang pengungsian. Tak sudi menjadi anjing Belanda, Ara kabur ke rumah ibunya, Lasmidjah, yang bekerja sebagai babu di rumah orang Arab. Sersan supir NICA yang membantu Ara melarikan diri.

Ara bertemu dengan pemimpin pemuda di kampung itu. Bersama-sama mereka melakukan penyerangan terhadap pasukan NICA yang suka membunuhi pemuda Republik.

Saya sempat kebosanan membaca buku ini, terutama di bagian awal. Saya juga masih meraba gaya bahasa Pram. Terus terang, saya jarang membaca sastra, apalagi sastra jadul. Ternyata saya dibuat puyeng dengan tat bahasa jadul yang seenaknya. Dalam satu kalimat/paragraf, sah-sah saja memuat 2 POV yang berbeda tanpa adanya tanda baca berarti. Seperti ini misalnya:

Tapi ia berjanji dalam hatinya, tidak bakal aku main untuk propaganda Belanda, untuk maksud-maksud yang memusuhi Revolusi. (hal. 2)

Kini mendadak saja ia merasa lapar. Aku mesti berbuat apa sekarang? Di rumah ini tidak ada makanan. Tidak ada orang selain aku. Ia turun dari ambin ke luar, di beranda duduk nenek yang kemarin. (hal. 112)

Syukurlah, seiring perkembangan zaman, EYD juga semakin disempurnakan. Kalau sampai hari ini aturan penulisan boleh seperti itu, saya mungkin akan jambak-jambak rambut orang yang ada di sebelah saya setiap kali baca buku.

Dalam buku ini juga terlihat jelas Pram sangat benci dengan pemerintah boneka. Beliau menuliskan, orang-orang yang berpura-pura revolusioner terlihat seperti banteng dungkul. Perundingan-perundingan di Belanda semakin menunjukkan kelembekan mereka.

Saya kurang paham politik dan tidak terlalu mengerti politik. Namun, buku ini membuka pandangan saya tentang masa-masa paska kemerdekaan, di mana rakyat semakin menderita dan miskin. Dari dulu hingga kini, banyak pejabat yang mencuri dari rakyat sehingga keadilan tidak dapat ditegakkan.

Buku ini lebih cocok dibaca menjelang hari kemerdekaan di bulan Agustus karena bisa membangkitkan rasa kebangsaan. Tapi, dari sisi emosi, saya tidak tergerak atau bersimpati pada Ara walau ia ikut berjuang dengan laskar pemuda. Hubungan Ara dengan prianya, pemimpin laskar pemuda, atau ibunya tidak membuat saya tersentuh. Seperti kurang greget, entahlah. Mungkin buku lain Pram bisa menggugah emosi.

Saya penasaran dengan tetralogi Buru. Moga-moga masih mudah untuk dicari.

quotes

Barangsiapa kurang dendamnya akan lebih takutnya. (hal. 112)

Setiap pejuang harus selalu bersedia untuk kalah. (hal. 152)

20140225-050101.jpg

Until next time

20131128-083529.jpg

Advertisements

200 Years of Pride and Prejudice

20130809-123327.jpg

Nggak sengaja menemukan postingan tentang perayaan 200 tahun hari jadinya novel legendaris Pride and Prejudice karya Jane Austen. I was wowed by the enthusiasm of Janeiacs around the world. The anniversary is a big deal. Check out the link here

Seandainya perayaan Pride and Prejudice ini ada di Jakarta, dengan bahagianya gue bakalan menghadiri. Bayangkan aja, ada pameran novel edisi pertama Jane Austen, cosplay, pembacaan puisi/potongan novel, dan nonton film bareng di teater. Juga diskusi novel bersama fellow Janeites.

Karena gue juga baru tahu tentang perayaan ini setelah pertengahan lebih tahun 2013, gue tidak akan mengadakan event khusus.

Ingin merasakan hype-nya perayaan anniversary Pride and Prejudice dengan lanjut baca novel tersebut yang sempat tertunda.

Gue juga akan menonton filmnya yang dibintangi oleh Keira Knightly.

Happy anniversary, Pride and Prejudice ^^

Selamat menikmati hari libur.

20130622-091605.jpg

Pic from here

[Book Review] The Diary of a Young Girl by Anne Frank

book_info

AF

book_blurb

The diary as Anne Frank wrote it. At last, in a new translation, this definitive edition contains entries about Anne’s burgeoning sexuality and confrontations with her mother that were cut from previous editions. Anne Frank’s The Diary of a Young Girl is among the most enduring documents of the twentieth century. Since its publication in 1947, it has been a beloved and deeply admired monument to the indestructible nature of the human spirit, read by millions of people and translated into more than fifty-five languages. Doubleday, which published the first English translation of the diary in 1952, now offers a new translation that captures Anne’s youthful spirit and restores the original material omitted by Anne’s father, Otto — approximately thirty percent of the diary. The elder Frank excised details about Anne’s emerging sexuality, and about the often-stormy relations between Anne and her mother. Anne Frank and her family, fleeing the horrors of Nazi occupation forces, hid in the back of an Amsterdam office building for two years. This is Anne’s record of that time. She was thirteen when the family went into the “Secret Annex,” and in these pages, she grows to be a young woman and proves to be an insightful observer of human nature as well. A timeless story discovered by each new generation, The Diary of a Young Girl stands without peer. For young readers and adults, it continues to bring to life this young woman, who for a time survived the worst horrors the modern world had seen — and who remained triumphantly and heartbreakingly human throughout her ordeal.

thoughts

The Diary of a Young Girl merupakan salah satu buku tentang Holocaust yang paling terkenal. Sampai sekarang, banyak sekolah yang mewajibkan siswanya untuk membaca karya Anne Frank ini. Bahkan salah satu penerbit yang fokus di buku Young Adult baru saja merilisnya dengan judul berbeda.

Gue belum pernah membaca buku harian Anne Frank ini. Kebetulan gue sedang mood membaca tema Holocaust dan historical (fiction), dan eventnya berbarengan dengan tema baca bareng BBI. Selain itu, tanggal 12 Juni kemarin adalah hari ulang tahun Anne. Momennya sangat tepat untuk membaca buku ini.

The Diary of a Young Girl tidak sengeri The Boy in the Striped Pyjamas. Mungkin karena Anne menceritakan kesehariannya di Annex, tempat ia dan keluarganya bersembunyi. Anne menggambarkan situasi yang mencekam, namun tidak terlalu seram. Sebelum bersembunyi, Anne masuk ke sekolah khusus untuk kaum Yahudi karena peraturan anti-semitik yang dibuat oleh si kumis nanggung, Hitler. Orang Yahudi diperlakukan seperti orang kulit hitam di Amerika sewaktu diskriminasi rasial masih marak sebelum tahun 1970an. Hitler membenci kaum Yahudi karena mereka dianggap sebagai penyebab kekalahan Jerman pada PD I, krisis ekonomi, dan semua bencana yang terjadi di Jerman. Dan, bodohnya, banyak yang mempercayai omong kosong si Fury berkumis nanggung itu.

Keluarga Frank menempati annex di kantor lama ayah Anne, Otto. Pegawai di kantor tersebut menyembunyikan Anne dan keluarganya, dan menyuplai makanan serta kebutuhan sehari-hari. Mereka tinggal bersama keluarga van Daan juga Mr. Dussel yang sering membuat Anne kesal. Anne menyukai Peter van Daan, namun Otto melarang hubungan mereka.

Selama dua tahun, dimulai saat Anne berulangtahun ke 13 pada tahun 1942, ia mulai menulis diary yang ia beri nama Kitty. Anne mencurahkan segala perasaannya dalam diary tersebut, termasuk betapa ia merasa seperti pengecut saat ia melihat beberapa orang Yahudi yang digiring entah kemana, juga disiksa. Sementara ia dan keluarganya bersembunyi di balik rak buku. Selama dua tahun bersembunyi di annex, tentu membuat penghuninya depresi dan ketakutan. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Demi keselamatan, mereka harus bersembunyi seperti tikus di gudang.

Ending dari kisah Anne Frank memang menyedihkan. Seseorang melaporkan keberadaan keluarga Frank, hingga mereka semua ditangkap. Otto selamat dan berhasil keluar dari camp. Ia menerima buku harian anaknya, menyortirnya, dan menerbitkannya. Anne Frank bercita-cita ingin menjadi penulis atau jurnalis. Walau ia sudah tiada, mimpinya menjadi kenyataan, bahkan namanya terkenal hingga ke segala penjuru dunia. Namun, hingga saat ini, si pengkhianat yang melaporkan tentang penghuni annex masih menjadi misteri.

Banyak kontroversi yang mengiringi buku ini. Ada yang menyebutkan bahwa diary Anne adalah rekayasa Yahudi. Ada juga yang bilang bahwa tulisan Anne ditulis oleh orang lain. Supaya memiliki efek dramatis, dibuat seolah-olah itu adalah karya anak Yahudi yang meninggal semasa holocaust. Gue baca di salah satu blog, bahwa seseorang bernama Meyer Levin, penulis kebangsaan Amerika, dijanjikan uang sejumlah $50,000 oleh Otto Frank untuk menulis buku dengan memakai nama Anne. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa holocaust itu fiktif. Untuk membuktikan keraguan publik, tulisan tangan Anne Frank diteliti. Hasilnya positif, diary itu bukan hoax. Hanya saja Otto memilah-milah tulisan yang layak untuk konsumsi publik. Anne menuliskan di buku hariannya bahwa ia kurang suka dengan ibunya. Tulisan yang menyudutkan ibu dan penghuni annex yang lain tidak diterbitkan. Layaknya naskah yang masuk ke meja editor, tentu semua mengalami proses editing. Begitu juga dengan tulisan Anne Frank.

Kontroversi baru kembali muncul ketika The Diary of a Young Girl – Definitive Edition dirilis. Buku tersebut dibanned oleh beberapa sekolah karena dianggap terlalu raunchy untuk remaja.

Despite the controversies, I enjoyed reading Anne’s honest writings about her innermost feelings toward the situation. Kadang ABG banget, kadang galau, kadang centil, bitter, kadang ia bisa menjadi sangat dewasa. Buku ini salah satu peninggalan sejarah selama PD II dan gue yakin kalau buku ini otentik.
Gue pasti akan menyuruh anak gue baca buku ini, tapi menunggu dia cukup umur dulu. Hopefully one day I can visit Anne Frank museum and the annex where she lived. Satu pelajaran paling berharga yang gue dapat dari buku ini adalah: seburuk apapun situasi yang kita alami, jangan menyerah atau putus asa. Bertahan hidup hingga takdir membawa kita.

quotes

I keep my ideals, because in spite of everything I still believe that people are really good at heart.

I wish I could ask God to give me another personality, one that doesn’t antagonize everyone.

Think of all the beauty still left around you and be happy.

Laziness may appear attractive, but work gives satisfaction.

I don’t think of all the misery, but of the beauty that still remains.

How wonderful it is that nobody need wait a single moment before starting to improve the world.

We all live with the objective of being happy; our lives are all different and yet the same.

I wish I could come out of the closet.

tidbits* Sebelum diberi judul “the Diary of a Young Girl”, naskah tulisan Anne diberi judul “The Annex”.

* Selain memberi nama Kitty, Anne menjuluki diarynya dengan sebutan Pop, Phien, Jetty, Loutje, etc.

* Anne mengalami depresi selama bersembunyi di Annex. Ia mengkonsumsi valerian untuk mengatasi depresi.

 

bookj5

 

Setelah membaca The Diary of a Young Girl, gue tertarik untuk membaca dua buku berikut:

annef

Rencananya kisah Anne Frank akan diremake oleh Disney dalam waktu dekat.

Berdasarkan biografi Melissa Muller

Anne Frank The Whole Story Part 1
Anne Frank The Whole Story Part 2
The Diary of Anne Frank 2009 here

Tentang Sengketa Anne Frank di sini

Anne Frank’s film footage here

 

20130622-091605.jpg

Wishful Wednesday 17: Jane Austen

Wishful Wednesday 17: Jane Austen

20130403-124544

Ketemu lagi sama hari Rabu. This week’s obsession is Jane Austen. Gue kepengen melengkapi koleksi novel-novelnya dengan lengkap. Nggak muluk-muluk, cukup paperback terbitan Signet saja yang manis ini:

20130612-122930.jpg

20130612-122959.jpg

20130612-123034.jpg

Lalu, selain novel, gue juga pengin banget punya pernak-pernik dan asesoris berbau Jane Austen. Kayak gini:

20130612-110116.jpg

20130612-110737.jpg

20130612-111056.jpg

Nah, kalo ini bener-bener ngayal tingkat dewa. Kate Spade ngeluarin book clutch seri buku klasik. Sebenernya semuanya keren-keren, tapi berhubung minggu ini edisi Jane Austen, jadi ini wishlist gue yang entah kapan kesampeannya, karena harga satu tasnya $300-an *sesek napas*

20130612-111548.jpg

20130612-111609.jpg

Seperti biasa, yang mau ikutan Wishful Wednesday, check out Astrid’s blog here.

Selamat hari Rabu. God bless you.

20130330-114856.jpg

[Book Review] The Great Gatsby by F. Scott Fitzgerald

bookinfogatsby

20130506-114513.jpg

Generally considered to be F. Scott Fitzgerald’s finest novel, The Great Gatsby is a consummate summary of the “roaring twenties”, and a devastating expose of the “Jazz Age”. Through the narration of Nick Carraway, the reader is taken into the superficially glittering world of the mansions which lined the Long Island shore in the 1920s, to encounter Nick’s cousin Daisy, her brash but wealthy husband Tom Buchanan, Jay Gatsby and the mystery that surrounds him.

20130506-114940.jpg

Once upon a time in 1920s, when women wore short skirt, bobbed their hair, smoked and drank excessively, and listened to jazz, there lived a man whose name Gatsby.

The Great Gatsby is a tragic love story coated with crimes and corrupted minds. Nick Carraway, the narrator of the story, left his hometown to pursue his dream in New York. He met Daisy, his cousin, and her husband, Tom Buchanan, who had an affair with Mrs. Wilson. Nick was introduced to Jordan Baker and she mentioned about the notorious Gatsby who happens to be Nick’s neighbor.

One day, Nick was invited to Gatsby’s lavish party in his mansion. They were a lot of prominent people at Gatsby’s house. Nick met Jordan and they were curious about the host. Instead, they met an owl-eyed old man in Gatsby’s library.

Finally, Nick sat at a table and met a young man who looked familiar, Gatsby, who often called people “old sport”.
Nick saw Gatsby for the first time when he was standing on the lawn, reaching out for the distant green light.

Soon they became friends and Nick was dragged into Gatsby’s luxurious life, and he became suspicious of Gatsby’s source of income.

Gatsby appeared to fetch Nick for lunch. He told Nick about his past. They met Wolfshiem at a restaurant, which sharpened Nick’s suspicions about Gatsby’s illegal business.
After lunch, Nick met Jordan. She told him that Gatsby is in love with Daisy.
The reunion was set up and their destiny has been changed since then.

The Great Gatsby is a dark tale of a lonely man. Behind the glamorous life that Gatsby has, he is a lonely man. One said loneliness is the cruelest thing in the world. Gatsby is a sad man. He’s never been happy.
The green light that Gatsby tried to reach is a symbol of his dream that he can’t have.
The eyes of T.J. Eckleburg are scary. It’s like the “all seeing eye of God” or the eye of providence. Whatever you do, God sees everything. It gave me goosebumps.

Overall, The Great Gatsby is a great read. Why didn’t I read this earlier? I want to read it every year to get a better understanding. Classics reading is fun.

Now I’d like to talk about the movie.

With the promising cast, this movie fulfilled my expectations. I was surprised that Jay-Z was taking care of the music. Justin Timberlake’s Suit & Tie suddenly popped in my mind. The Great Gatsby’s music is fun, modern and beautiful.

Leonardo plays Gatsby perfectly. Carey is also perfect as Daisy. I read somewhere that Anne Hathaway, Michelle Williams, ScarJo, Keira Knightley and Natalie Portman are among actresses Baz was reportedly considering casting as Daisy Buchanan.

Tobey is not bad, but I had Joseph Gordon Levitt in mind as Nick.
I also read that Ben Affleck was offered to play as Tom Buchanan, but later he dropped it for “Argo”.

The sanatorium is a brilliant addition. The portrayal of Nick as a troubled-soul is beyond my imagination.

Let’s go back to the party. I was in awe while watching the party scene. The over-the-top glitzy glam party is extravagant, yet exquisite. Gatsby is ridiculously wealthy. He’s the Stark of the ’20s, perhaps, a rock star in that era.
I read a book about Hollywood tell-all titled “Full Service”, but it happened in the ’40s. I think it’s a lot like that.

I love the soundtrack, especially Lana Del Rey’s Young and Beautiful. It’s hauntingly beautiful.

I think Jay and Daisy are the new Edward and Bella, the new ‘it’ couple.

And, oh, I’m always fascinated with flapper fashion.

20130330-114930.jpg

20130330-114856.jpg

[Book Review] The Red and the Black by Stendhal

504092

Title: The Red and the Black
Original Title: Le Rouge et le Noir
Author: Stendhal
Publisher: Signet Classics
Published: June 6th, 2006 (First Published 1830)
ISBN: 0451530284
Language: English
Format: Paperback
No. of Pages: 544
Category: Classic Literature/Fiction/Historical Fiction/Romance
Setting: France

Book Blurb:

In December 1827, a French newspaper ran a story about a young man charged with the attempted murder of a married woman. The article fired the imagination of Marie Henri Beyle, and under the pen name Stendhal, he set to writing what was to become one of the great psychological novels of all time. “I will be famous around 1880,” he predicted in one of his many diaries. “I shall not go out of style, nor my glory go out of style.”

Set in a provincial French town and in Paris, The Red and the Black tells the story of Julien Sorel, a handsome and brilliant young tutor who is both hero and villain. Cold, opportunistic, and uncompromising with others—including his influential mistress—he follows his lust for power and wealth. At the same time, he is tortured by his uncontrollable passions, and by the military and religious forces—the enigmatic “Red” and “Black”—that dominate French society in the years following the Revolution.

Thoughts:

I didn’t pay much attention to classics. When I was in college, I hated literature class because the lecturer was obsessed with Shakespeare and I was tortured inside out. I was skeptical and in my mind, classics were boring and torturing, it’s a waste of time.

The Red and the Black proved me wrong. I was hooked. The story is gripping, the words were crafted beautifully, and the characters are memorable. It’s more tragic than the infamous Romeo and Juliet in some ways.

Julien was ambitious and willing to do anything to reach the top. He was enthralled by the bourgeois’ lifestyle and was obsessed to be part of them.

He started with teaching Madame de Rênal’s children and ended up hooking up with her. They broke up because some circumstances force them to.

Then Julien went back to school to study. Again, he was determined to be number one. Later, he found out about the dirty tricks inside the church.

He was offered to work for Monsieur de la Mole in Paris, and he fell in love with Mathilde, his daughter. Mathilde was one sick lady who was obsessed with the story of Margret. I don’t want to spill this part because this is the hint which leads to the tragic (or engrossing) ending.

The Red and the Black was set in France after the fall of Napoleon/post-revolutionary in France where noblemen reigned and church began to spread its power.

Julien is the perfect portrayal of a normal human being who has good and bad sides. It’s like you’re dealing with personal demons but deep inside you know what’s the right thing to do.
He might be complicated and dangerous, but in the end I have sympathy for him. (Now playing Sympathy for the Devil).

The Red and the Black is the best classics reading so far. Why is it underrated?

trtb

I’d like to see the movie. Hope Tubeplus has the English subtitle for this.

Fave quotes:

“A good book is an event in my life.”
“Our true passions are selfish.”
“Indeed, man has two different beings inside him. What devil thought of that malicious touch?”

If I were a director:

Ian-Smoulder-halder-ian-somerhalder-32812636-500-700

Ian Somerhalder would be perfect for Julien Sorel. He’s handsome, and just look at his smirk. He’s good at being bad.

marcia-cross-20060830-156875

I can’t think of anybody else to play Louise de Rênal. Marcia Cross is Louise.

milakunis

Elisa is Louise’s maid who fell in love with Julien. She’s wicked, full of rage and definitely jealous that Julien loves Louise. Mila Kunis would be perfect.

Aimeeteegarden

Aimee Teegarden as Mathilde de la Mole. Snotty, spoiled, and obsessed with Margret’s story. It would be interesting to cast her as a troubled lady.

bdt

Monsieur de Rênal. Prototype of the provincial petty aristocracy, the wealthy mayor of Verrières.

????????????

Richard Gere as Abbé Chélan, Julien’s first mentor.

p00949t2_640_360

Donald Sutherland as Old Sorel, the greedy old scumbag who’s interested earning Julien’s inheritance.

20130213-043754.jpg

20130213-043827.jpg

[Book Review] Love Story by Erich Segal

20130315-040345.jpg

Judul: Love Story
Penulis: Erich Segal
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Edisi: Terjemahan
Tanggal Terbit: 21 Juni 2012
Jumlah Halaman: 216
Kategori: Fiksi/Romance/Klasik

Book Blurb:

Apa yang dapat kita ceritakan mengenai gadis 25 tahun yang telah tiada? Bahwa ia cantik. Dan cemerlang. Bahwa ia mencintai Mozart dan Bach. Dan Beatles. Dan aku.

Oliver Barrett IV kuliah di Harvard dan Jenny Cavilleri di Radcliffe. Oliver kaya, Jenny miskin. Oliver atlet, Jenny bermain musik.

Tapi mereka jatuh cinta.

Ini kisah mereka.

Thoughts

Gue baru ngeh kalo lagu lawas super ngetop yang berjudul “Love Story” itu adalah sontrek dari film berjudul sama yang diangkat dari novel ini.

Honestly, gue lebih suka lagunya daripada bukunya.

Entah karena terjemahannya kurang bagus atau ceritanya yang terlalu biasa sehingga tidak membangkitkan emosi gue. Ada yang mereview buku ini di GR sampai nangis-nangis waktu baca. Gue lempeng-lempeng aja, padahal sebelumnya baca “Perahu Kertas” dan sempet termehek-mehek.

Pertama kali tertarik beli buku ini karena disebutkan Jenny suka the Beatles. Gue pikir bakal ada penjelasan lebih jauh tentang the Fab Four, ternyata tidak ada.
Lalu, gue nggak suka sama Oliver. He’s a whiny rich boy who thought he’s above everything else. Gue nggak melihat alasan yang jelas yang menyebabkan perang dinginnya dengan ayahnya. What’s the core problem?

Terus, Oliver juga menyembunyikan penyakit Jenny dari Jenny dan ayahnya. Dia pinjam uang tapi nggak jujur uangnya untuk apa. Ridiculous.

Gue nggak pernah mempermasalahkan ending. Happy or sad, doesn’t even matter. Tapi yang satu ini bener-bener flat.

This is a fast read. I finished it in two short sittings. Sepertinya ceritanya juga bakal numpang lewat begitu saja tanpa kesan.

20130315-042451.jpg

20130315-042525.jpg

[Book Review] Madame Wu by Pearl S. Buck

20130213-035114

Judul: Pavillion of Women: Madame Wu
Penulis: Pearl S. Buck
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juni 2007, Cetakan kelima
Jumlah halaman: 520
Kategori: Fiksi terjemahan/Klasik/Sastra Cina/Fiksi Sejarah

Book Blurb:

Betulkah perkawinan merupakan prestasi terbesar bagi wanita?
Sesuai adat Cina, Madame Wu menikah dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Mereka dikaruniai empat putra. Di rumah suaminya yang kaya raya itu, Madame Wu menjalankan tugas-tugasnya sebagai istri dan ibu. Dia istri yang sempurna dalam segala hal.
Pada hari ulang tahunnya yang keempat puluh, Madame Wu memutuskan untuk melepaskan diri dari keeajiban melayani suaminya. Sekarang dia hanya akan mencari kepuasan jiwa. Dia akan membeli gundik untuk melayani kebutuhan suaminya…

Inilah novel cemerlang yang mengungkapkan perasaan hati manusia. Kisah seorang wanita yang nasibnya diubah oleh cinta yang agung.

Pertama kali dengar nama Pearl S. Buck waktu duduk di bangku SMP. Waktu itu, guru Bahasa Indonesia pernah bertanya tentang penulis favorit anak-anak. Dengan mata berbinar, beliau bercerita tentang betapa indahnya buku-buku karya Pearl S. Buck. Baru sekarang gue ngerti perasaan guru Bahasa Indonesia gue itu. Memang sangat indah. I was blown away. Sayang, nyokap gue bukan penggemar Pearl S. Buck, jadi gue baru sekarang bisa mencicipi buku-bukunya. Waktu sekolah duluk biasanya gue melalap buku di rak nyokap.

Mengambil latar waktu sebelum perang dunia kedua di Cina, novel ini berkisah tentang pencarian cinta sejati dan makna hidup. Bahwa sesungguhnya banyak aturan atau adat yang mengkungkung kebebasan dan bertentangan dengan kata hati yang sesungguhnya.

Tokoh sentral dalam novel ini adalah Madame Wu (yang memiliki nama kecil Ailien). Ia adalah penghubung dari semua tokoh-tokoh yang ada di buku ini. Biasanya gue nggak terlalu suka dengan novel yang tokohnya agak banyak, tapi tidak dengan novel ini. Karena tiap tokoh punya peranan, bukan asal tempel saja.

Mr. Wu adalah suami Madame Wu. Lalu, ada keempat anak laki-laki beserta menantunya, ibu dan bapak mertuanya (kadang diceritakan secara flashback). Selain itu, ada asisten pribadi Madame Wu, Bruder Andre yang mengajarkan filosofi hidup, Madame Kang, Suster Hsia, dan dua gundik Mr. Wu.

Di halaman 340-an, mata gue basah. Udah lama nggak nangis waktu baca novel. Gue nggak mau cerita apa yang membuat mata gue basah, karena nanti jadi spoiler.

Gue suka sekali sama novel ini karena perubahan pada tokoh-tokohnya signifikan, endingnya juga memuaskan walau diselipi beberapa kematian tokoh-tokohnya. Banyak perenungan dan pembelajaran dari novel ini, juga quote-quote yang jleb.

Menilik kultur dan sejarah Cina, pada masa itu memang masih berlaku perjodohan. Biasanya, orangtua memilihkan calon pasangan untuk anak memakai jasa Mei Ren atau Mak Comblang. Bahkan, pengantin pria belum melihat wajah pasangannya sebelum malam pertama.
Begitu juga dengan Madame Wu yang menjodohkan anak-anaknya, kecuali Tsemo yang ngotot menikah dengan pilihannya sendiri. Madame Wu pada awalnya kurang suka sehingga pasangan itu agak terasing di rumah mereka. Menurut kepercayaan orang Cina, laki-laki harus mengambil istri yang umurnya lebih muda dan lebih baik kurang pendidikannya. Sedangkan istri Tsemo lebih tua satu tahun dan berpendidikan. Bahkan ia menjadi aktivis memprotes kebijakan pemerintah.

Yang mearik lagi adalah masalah poligami. Sekitar tahun 1930an, praktek poligami seharusnya sudah dilarang karena ada Undang Undang yang menyatakan demikian, tapi tidak dalam prakteknya.

Sewaktu Madame Wu memutuskan untuk mengambil gundik untuk Mr. Wu, Rulan (istri Tsemo) protes dan mengatakan bahwa ada larangan untuk itu, dan poligami itu sudah kolot. Tapi Madame Wu menjawab bahwa pelarangan itu hanya aturan yang tertulis saja. Pada prakteknya, memang masih banyak yang melakukan poligami. Madame Wu melakukan itu untuk mencegah suaminya pergi ke rumah pelacuran, walau ia juga kecolongan karena Mr. Wu pergi ke sana bersama besannya, Mr. Kang.

Hanya satu kelemahan novel ini, terlalu banyak memakai kata ‘insyaf’ yang bisa diganti dengan kata ‘sadar’.

It’s a perfect Chinese New Year reading.

20130213-043754.jpg

20130213-043827.jpg