Blog Archives

[Book Review + Giveaway] Danur by Risa Saraswati @Bukune

danur

book_info

Judul: Danur
Penulis: Risa Saraswati
Penerbit: Bukune
Terbit: Januari 2012
Tebal: 209 halaman
ISBN: 6022200199
Kategori: Non Fiksi
Genre: Horror, Memoar
Bisa dibeli di: Kutukutubuku
Harga: IDR 25,500

book_blurbJangan heran jika mendapatiku sedang berbicara sendirian atau tertawa tanpa seorangpun terlihat sedang bersamaku. Saat itu, mungkin saja aku sedang bersama salah satu dari lima sahabatku.

thoughts

Danur adalah buku terakhir yang saya baca dari rangkaian Virtual Book Tour Horror Bukune, dan seperti kata pepatah, third time’s the charm, buku ini adalah buku yang paling saya sukai dari ketiga buku yang saya baca.

Danur adalah novel berdasarkan kisah nyata penulisnya, Risa Saraswati, yang suka melihat sekaligus berinteraksi dengan hantu sejak kecil. Bukannya takut, Risa malah berteman dengan mereka. Risa kerap dianggap aneh oleh orang-orang disekitarnya karena ia sering kepergok berbicara atau tertawa sendirian.

Buku ini tidak seram dan tujuan Risa menuliskan buku ini juga bukan untuk menakut-nakuti pembaca. Buku ini bercerita tentang jiwa-jiwa kesepian yang tidak bisa kemana-mana. Karena Risa peka, arwah-arwah itu kerap mendatanginya hanya untuk didengar.

Buku ini ditulis menggunakan POV orang pertama, yaitu penulisnya dan hantu-hant yang bercerita tentang masa lalu mereka ketika mereka masih menjadi manusia.

Ada anak-anak Belanda (Peter, Hans, Hendrick, Janshen, dan William), lalu para perempuan muda Belanda yang menjadi kakak-kakak para anak laki-laki itu (Elizabeth, Teddy, dan Sarah). Juga ada arwah penasaran yang menjadi sosok yang mengerikan (Asih dan Ardiah). Juga ada seorang anak perempuan yang dulunya tinggal di atas bukit yang ditinggal oleh orangtuanya karena sakit keras (Samantha).

Risa sempat ingin meminta pertolongan orang pintar untuk menghilangkan kemampuannya dalam melihat makhluk halus, tapi niat itu akhirnya diurungkan.

Saya jadi teringat dengan diri sendiri yang masih belum bisa mensyukuri kemampuan melihat hantu (ya abisnya serem sih, siapa yang nggak ketakutan liat hantu?). Saya sering berdoa untuk tidak bisa melihat mereka. Tapi, seperti Risa, seharusnya kita nikmati saja karena Tuhan pasti punya maksud tertentu dengan memberikan kemampuan seperti itu.

Masih ada typo yang rada banyak, namun saya tidak akan menjadi polisi typo di sini, selain saya juga rada capek mencatat typo-typo tersebut.

Kesimpulan saya setelah membaca Danur adalah para arwah tersebut nasibnya lebih memilukan daripada kita. Jadi ya, para ababil yang suka ngegalau nggak keruan di Twitter/FB seharusnya bersyukur karena hidup kalian jauh lebih menyenangkan daripada nasib tragis para arwah tersebut.

Oiya, saya jadi ingat lagu Hanschen Klein versi Sunda yang diajarkan mama saya waktu saya kecil. That song is creepy, I just realized.

Mau dapat buku Danur? Caranya mudah saja:

1. Berikan pendapatmu mengenai resensi buku Danur di kolom komentar.
2. Jangan lupa cantumkan nama, alamat email dan akun Twitter.
3. Pemenang akan dipilih berdasarkan komentar terbaik.
4. Akan ada satu pemenang yang akan dapat hadiah 3 buku horror selama virtual book ini berlangsung.
5. Pemenang yang berhak mendapatkan hadiah adalah yang memberikan komentar di 3 resensi buku horror yang akan diposting selama virtual book ini berlangsung di bulan Desember.
6. Giveaway ditutup tanggal 5 Januari 2014
7. Pemenang akan diumumkan tanggal 7 Januari 2014.
8. Good luck ^^

[Book Review + Giveaway] After School Horror by Nana R. Praptini @Bukune

after-school-horror

book_infoJudul: After School Horror
Penulis: Nana R. Praptini
Penerbit: Bukune
Website: Di sini
Terbit: Mei 2013
Tebal: 164 halaman
ISBN: 602-220-102-0
Kategori: Non Fiksi
Genre: Horror, Kumpulan Cerita
Bisa dibeli di: Bukabuku
Harga: IDR 29,600

book_blurb

Hujan turun deras dan motorku sulit untuk di-starter. Aku bimbang, ingin bolos tapi rasanya harus tetap les. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi. Dalam perjalanan, di tikungan yang gelap, sebuah mobil muncul dengan kecepatan tinggi.

Aku terlambat menyadari kedatangannya. Kubanting setang motor ke kiri untuk menghindari tabrakan. Tapi percuma…. Aku terjatuh dan kepalaku terbentur pembatas jalan dengan sangat keras. Darah segar mengalir dari kepalaku, tubuhku terasa lumpuh seketika. Sakit sekali rasanya. Sedikit demi sedikit rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhku….

Prita tidak bisa melanjutkan membaca surat yang ditulis Lydia, muridnya. Bulu kuduknya bergidik. Bagaimana mungkin Lydia bisa hadir di kelas dan menulis surat itu, padahal dia sendiri sudah menghembuskan napas terakhir di perjalanan?


Kisah horor dan seram banyak terjadi di sekitar kita, tidak terkecuali ketika kita mencari ilmu—di bangunan kampus tua, sudut-sudut kelas sepi, atau toilet gelap sekolah yang selalu kamu hindari. After School Horror berisi delapan cerita nyata yang terjadi di lingkungan kampus dan sekolah. Membuktikan bahwa mereka juga ada di sekitar kita. Bersiaplah untuk jam pelajaran tambahanmu…, yang penuh teror….

thoughtsAkhir-akhir ini saya sedang suka baca genre teenlit. Seperti kembali ke masa remaja. Rasanya sudah lama nggak merasakan cinta monyet, seru-seruan pergi bareng teman sekelas, menjahili guru, dan membolos ramai-ramai.

Setelah membaca Aku Tahu Kamu Hantu, saya jadi penasaran dengan buku-buku horror karya penulis Indonesia. Saya memang lebih sering membaca novel thriller ketimbang horror, tapi nggak salahnya dicoba. Sekalian uji nyali ^^

After School Horror awalnya saya pikir adalah novel terjemahan. Saya juga teringan ada film asing dengan judul yang sama. Ternyata, buku ini ditulis oleh penulis Indonesia berdasarkan kisah nyata.

Ada 8 kisah seram yang terangkum dalam After School Horror. Menurut penulisnya, kisah-kisah ini merupakan pengalaman penulis sendiri dan orang-orang terdekatnya.

Ciuman Pertama

Dessy, siswa baru di sebuah sekolah menengah, berpura-pura sakit dan beristirahat di UKS. Ternyata, ia mendapat ‘penglihatan’ tentang kejadian 8 bulan lalu di sekolah tersebut yang melibatkan pembunuhan seorang siswa. Dessy juga mendapat teman misterius bernama Evan dan mereka jatuh cinta.

Kisah singkat ini sedikit mengingatkan saya pada novel Aku Tahu Kamu Hantu yang premisnya mirip, hanya minus cerita cintanya saja.

Teman Sekamar

Rina, mahasiswa baru yang merantau ke Jakarta, tinggal di asrama. Ia merasa senang bisa mandiri dan tinggal jauh dari orangtuanya. Rina menempati kamar A-13, angka yang berkonotasi negatif, berhubungan dengan kesialan.

Rina ternyata sekamar dengan gadis bernama Asri. Saat pertama kali bertemu, Rina terkejut dan ketakutan karena entah Asri datang dari mana.

Ternyata Asri adalah roommate yang baik. Ia juga sering merapikan kamar. Namun, Rina lama-lama gerah dengan sikap Asri yang agak posesif.

Teman Sekamar merupakan salah satu cerita terseram di buku ini. Lumayan bikin merinding.

Tapi, ada paragraf yang membuat saya bingung.

Asri, teman sekamar Rina, adalah mahasiswi jurusan MIPA semester tiga. Asri teman sekamar yang baik hati. Saat aku harus begadang hingga malam untuk mengerjakan tugas laporan, paper dan sejenisnya, ia mau membantu? Bahkan, untuk urusan menyikat kamar mandi, Asri mengerjakannya sendiri.

Ia memaklumi kesibukanku sebagai MABA (mahasiswa baru) yang sudah mulai pra-perkuliahan dua minggu sebelum ia sendiri masuk kuliah. Rina kembali merasa beruntung, sebab Asri yang lebih senior darinya, memiliki pengetahuan yang memadai tentang seluk-beluk kampus, seperti kantin favorit, spot internet kencang beserta waktunya, jadwal shuttle bus, hingga jadwal kereta.

Cerita Teman Sekamar menggunakan POV 3, tapi tiba-tiba jadi POV 1 dan kembali ke POV 3 secara mendadak.

Lalu kata paper dan mug (hal. 30) tidak dicetak miring, padahal dua kata tersebut adalah kata-kata dalam bahasa asing. Juga penggunaan tanda tanya tidak tepat.

Cerita ini lumayan seram, apalagi saya membacanya di malam hari dan tiba-tiba listrik padam.

Terlambat Datang

Prita, 24 tahun, adalah staf pengajar di sebuah lembaga pendidikan bahasa Inggris di Surabaya. Bangunan tempat Prita mengajar adalah bangunan peninggalan jaman Belanda. Seperti cerita horror dalam film mau pun buku, bangunan kuno identik dengan hantu, demikian juga dengan bangunan itu.

Konon, ada hantu seram yang terlihat di tangga. Kejadian paling parah adalah ketika suatu hari ada staf pengajar yang sempat dilarikan ke UGD gara-gara melihat hantu seram tersebut.

Prita mengalami kejadian aneh dan seram di kelas, hingga ia sadar bahwa ia menemukan petunjuk yang akan menyelamatkan seseorang.

Salah satu kisah favorit saya dari buku ini.

Makalah Remedial

Sophie dan Ninda mengambil jurusan berbeda di kampus, namun keduanya berteman akbrab dan tinggal di rumah kost yang sama.

Suatu sore, Ninda meminta Sophie untuk menemaninya mengerjakan tugas di perpustakaan. Gedung perpustakaan tersebut terletak dekat dengan taman dengan pohon-pohon besar dan rindang. Konon, di antara pohon-pohon tersebut sering ada penampakan hantu berbungkus kain putih yang melayang-layang.

Sophie dan Ninda bertemu dengan gadis aneh di perpustakaan. Gadis tersebut membantu Ninda mengerjakan tugasnya. Lalu, misteri tentang gadis itu terkuak secara tak sengaja.

Masih ditemukan typo, seperti di halaman 62:
Selain mudah mencari materi tanpa harus membeli bukunya, perpustakaan juga tempat yang sangat nyaman untuk belajar., dibandingkan kamar kost yang sempit dan penuh barang-barang.

Lalu, tiba-tiba di halaman 76 ada tokoh baru bernama Laras. Tanpa perkenalan, tokoh Laras dimunculkan.

Sepertinya bab ini belum selesai karena ending-nya menggantung.

Penunggu Kamar Kos

Jodi baru pindah ke rumah kos daerah Pogung, Yogyakarta. Salah satu teman Jodi melihat ada wanita cantik di kostnya, namun setelah diperiksa, tidak ada peremouan yang tinggal di rumah kost tersebut, karena rumah kost tersebut khusus untuk laki-laki.

Jodi mulai mengalami peristiwa aneh. Hawa dingin yang meniup tengkuknya, bau busuk, hingga wujud hantu penghuni kamar kost-nya menampakkan diri.

Bukan hanya Jodi yang diganggu oleh makhluk tersebut. Ketika Firman, teman Jodi, datang ke kost Jodi bersama pacarnya, tiba-tiba mereka jadi bertengkar dan suara pacar Firman berubah menjadi serak dan dalam.

Playlist Siapa?

Dian sangat ketergantungan dengan earphone. Ia mendengarkan lagu setiap saat. Saking gilanya dengan musik, hingga ia tertidur pun earphone itu terus menancap di kupingnya.

Karena keasyikan mendengarkan lagu, Dian kesulitan mendengar jika ada yang memanggilnya. Lama-lama, tak ada yang tertarik untuk bergaul dengannya.

Suatu hari, Dian pergi ke lab dan tertidur setelah mendengarkan playlist-nya. Tiba-tiba ia terbangun karena ia mendengar lagu jadul yang bukan miliknya.

Dian mendapati dirinya berada di sebuah rumah tua. Seorang gadis kecil berpakaian kuno yang mengaku bernama Mimi berbicara padanya melalui pikiran.

Kejadian aneh dialami Dian. Ia diseret ke tahun 1961, ke Panti Asuhan Kasih Iboe, tempat Mimi tinggal bersama anak-anak yatim piatu lainnya.

Cerita ini lumayan bikin penasaran dan berpotensi untuk jadi film horror keren ala The Others jika difilmkan. Sayangnya, ceritanya agak terburu-buru.

Yang pasti, untuk sementara waktu saya nggak mau mendengarkan lagu Nobody’s Child.

Di Gazebo Tengah Malam

Kalau yang ini ceritanya sekelompok mahasiswa diganggu oleh hanty iseng di gazebo. Entah kenapa saya ngakak baca cerita ini. Nggak serem sama sekali, malah jadi horror-comedy 😀
Saya membayangkan Komeng dan Budi Anduk jadi pemerannya.

Saat Jantung Berdegup Kencang

Dea adalah karyawan yang saat akhir minggu mengambil kuliah. Ada kejadian aneh di kelas. Terdengar suara anak-anak berlarian ketika sedang ada kuliah. Ketika Dea mengecek keluar, tidak ada siapa-siapa di lorong. Kejadian aneh dialami oleh Dea dan temannya, Alya. Gedung tua memang identik dengan kengerian.

Lalu, kisah kedua adalah tentang pengalaman Ikhsan di kampusnya. Ia melihat hantu setengah badan yang sudah terkenal di kampusnya.

Kisah ketiga adalah pengalaman seram yang dialami Yuna. Lift yang dinaikinya tidak mau berkompromi, dan ia harus melihat hantu di sebuah lantai.

Dari semua cerita di buku ini, yang paling tidak saya sukai adalah bab terakhir, karena satu bab dibagi tiga cerita. Terkesan buru-buru banget menulisnya.

Overall buku ini cukup menghibur dan bisa dibaca sekali duduk.

Meet The Author

20131225-021632.jpg

Nama : Nana R Praptini
Tgl lahir : 9 Juli 1961
FB : nana_r_praptini@yahoo.com
Twitter : nanarpraptini (tdk aktif)
Blog : tdk aktif
Penulis favorit : Sidney Sheldon, Dan Brown, Meg Cabot, Mary Higgins Clark, Agatha Christy, Alistair Mc Lean, Sandra Brown, V Lestari, S Mara Gd, Aditya Mulia, NiNit Yunita, Dewi Lestari, Djenar Maesa Ayu

Sejak kapan suka menulis?
Saya menulis sejak tahun 2005.

Bagaimana cara Nana menulis? Dikonsep/dibuat outline dulu apa langsung menulis?
Langsung menulis, tidak pakai outline

Sejak kapan Nana bisa melihat makhluk halus?
Sejak kecil

Apa ada pengalaman dari pembaca yang diganggu makhluk halus setelah membaca buku After School Horror?
Mungkin yang ini bisa ditanyakan ke pembaca ya

Tips menulis singkat dari Nana?
* Tulislah hal yang kamu benar-benar tahu dan suka
* Sebaiknya dibuat outline supaya cerita tidak melenceng dari ide awal
* Adakan riset yang memadai tentang materi yg kamu tulis
* Minta teman-teman dekat proof read begitu cerita selesai sebelum dikirim ke penerbit
* Libatkan perasaan kamu dalam menulis, karena sesuatu yang jujur dan tulus gampang menyentuh pembaca

Mau dapat buku After School Horror? Caranya mudah saja:

1. Berikan pendapatmu mengenai resensi buku After School Horror di kolom komentar.
2. Jangan lupa cantumkan nama, alamat email dan akun Twitter.
3. Pemenang akan dipilih berdasarkan komentar terbaik.
4. Akan ada satu pemenang yang akan dapat hadiah 3 buku horror selama virtual book ini berlangsung.
5. Pemenang yang berhak mendapatkan hadiah adalah yang memberikan komentar di 3 resensi buku horror yang akan diposting selama virtual book ini berlangsung di bulan Desember.
6. Giveaway ditutup tanggal 5 Januari 2014
7. Pemenang akan diumumkan tanggal 7 Januari 2014.
8. Good luck ^^

#STPC Interview: Meet the Author Alvi Syahrin @Bukune

20130819-105102.jpg

alvi

Halo, ketemu lagi di segmen Meet the Author. Sepertinya pembaca sudah tahu pattern-nya ya. Setelah mereview bukunya, keesokannya ada wawancara dengan penulisnya.

Setelah kemarin ada postingan review Swiss: Little Snow in Zurich, hari ini Lust and Coffee berkesempatan berbincang dengan penulisnya, Alvi Syahrin. Mau tahu lebih banyak tentang novel Swiss? Check out the interview below.

 

Bisa diceritakan dari mana dapat ide untuk novel Little Snow in Zurich?

Idenya datang begitu saja, tentunya ada pemicu dari saya. Jadi, saya berkata pada diri saya sendiri bahwa saya ingin menulis kisah cinta yang manis antar dua remaja—sederhana, manis, dan getir. Selagi berpikir dan berpikir, muncullah Rakel, kemudian Yasmine, dan akhirnya kisah mereka. Setiap kali hendak menulis novel, saya selalu begini: berkata pada diri saya apa yang ingin saya tulis, and the idea will come just like a butterfly.

 

Kenapa Alvi memutuskan untuk mengambil setting di Swiss?

Waktu itu, saya dihadapkan oleh beberapa pilihan negara. Ketika Mbak Widyawati Oktavia (Editor Bukune) menyebutkan Swiss, saya dengan excited langsung menyetujuinya. Saya suka negara Swiss. Semua orang tahu bahwa Swiss adalah negara yang luar biasa indah, tapi masih jarang penulis Indonesia yang mengambil setting ini. Jadi, inilah kesempatan saya untuk mengajak pembaca ke tempat baru yang mungkin belum pernah mereka kunjungi dari novel-novel lain: Zurich, Swiss.

 

Berapa lama proses penulisan novel ini?

Proses penulisannya sekitar 1,5 bulan. Belum termasuk pematangan outline dan riset.

 

Satu kata yang bisa mendeskripsikan Zurich:

Bersih.

 

Jika novel Little Snow in Zurich difilmkan, siapa yang cocok untuk memerankan: Yasmine, Rakel, Elena dan Dylan?

Saya sama sekali tidak punya ide untuk yang satu ini, hehe. 😀 Pertama, saya jarang sekali nonton film, jadi jarang tahu aktor/aktris. Kedua, saya punya bayangan tersendiri mengenai keempat tokoh tersebut, sebagaimana yang saya ciri-cirikan pada novel.

 

Berapa lama riset untuk novel ini? Apa saja yang dilakukan Alvi ketika riset?

Saya riset sekitar 4 bulan, mungkin. Selagi menulis juga saya tetap riset. Alasan mengapa riset saya selama ini adalah, karena terlalu sering merasa belum siap untuk menulis.

Yang saya lakukan selama riset:

– Googling artikel mengenai Swiss (terutama Zurich), seperti kehidupan kotanya, tempat-tempat yang sering dikunjungi, dst. Seiring banyak membaca artikel tentang Zurich, saya jadi cukup tahu hal-hal tentang Zurich. Tapi, saya tetap belum merasa cukup siap untuk menulis saat itu.

– Melihat foto-foto, tentunya, untuk kenal lebih dalam.

– Interview. Awalnya, saya mengirimkan pesan di Facebook kepada beberapa penduduk Zurich, tapi tak ada satu pun yang membalasnya. Akhirnya, saya menemukan seorang pelajar Indonesia yang pernah studi di Zurich—di Facebook juga. Saya banyak tanya ke dia tentang Zurich. Dia pun memperkenalkan saya pada temannya yang memang dari Zurich. Saya pun bisa interview langsung dengan orang asli Zurich. J

– Lihat di video-video yang menampilkan pemandangan di Zurich di Youtube, sehingga lebih berasa lihat langsung—ini saran dari Mbak Kireina Enno. Dan ini sangat membantu untuk menambah feel Swiss-nya. Saya jadi bisa merasakan dinginnya Swiss, indahnya Zurich, dan enaknya bila tinggal di sana.

– Google Earth. Ini yang paling membantu. Apalagi Google Earth memiliki fitur 3D pada bangunan-bangunannya, juga foto-foto yang tersebar pada lokasi ybs. Dari sini, saya mengenal Zurich lebih detil, tahu nama jalan-jalan, bentuk bangunan, rute untuk ke sana-sini, dan lain sebagainya. Bahkan dermaga yang menjadi tempat favorit Rakel dan Yasmine saya temukan ketika lagi “berpetualang” di Zurich lewat Google Earth. Tempat itu sedikit tersembunyi, meski dekat pusat kota, tapi benar-benar sangat indah. Jadi, saya memasukkannya sebagai lokasi utama.

Saya benar-benar mengenal Zurich dari sini. Oya, suatu ketika, saya pernah lihat tv sekilas. Acara tersebut menampilkan sebuah sudut  kotanya, dan saya tebak itu Zurich, dan ternyata benar. 😀 Setelah itulah, saya mulai berani menulis. Sembari menulis pun tetap riset supaya bisa merasa benar-benar di sana.

 

Ada pengalaman menarik selama proses penulisan novel ini?

Banyak sekali. Mulai dari ketika diajak Bukune untuk ikutan STPC, lalu eksplor ide, riset, kemudian masa-masa stres ketika mematangkan outline novel, masa-masa nggak pede sama naskah sendiri, sampai proses penulisan yang menyenangkan, hingga berhasil menuliskan kata ENDE. Setiap bagian dari penulisan novel ini adalah pengalaman menarik. Dan sekarang saya benar-benar rindu sama Zurich, Rakel, Yasmine, dan butir-butiran salju itu.

 

Bisa share playlist yang Alvi dengarkan ketika menggarap novel ini?

Saya lupa—komputer saya terpaksa install ulang sehingga semua playlistnya hilang. Yang jelas, saya malah nggak bisa mendengar lagu ketika sedang menulis. Jadi nggak konsentrasi.

 

Waduh, sayang banget ya. Semoga kompinya sudah betul. Apa proyek novel selanjutnya yang akan Alvi kerjakan?

Novel yang sekarang saya kerjakan lumayan terpengaruh oleh STPC (So, thanks to Bukune yang sudah membantu mengembangkan saya). Tapi, settingnya bukan di luar negeri, melainkan Indonesia. Pada suatu tempat yang cukup terkenal, tapi saya belum pernah membaca novel-novel yang menggunakan setting di tempat ini. Ada unsur petualangannya, keluarga, dan tentu kisah cinta. Tapi, kali ini, saya ingin membahas cinta dari sudut pandang yang berbeda, yang mungkin bisa membuat kita berpikir, “Ah, ya, cinta nggak semudah mengatakan ‘I love you’”. Insya Allah, mudah-mudahan, ini bakalan jadi cerita yang seru dan manis.
Sekarang saya baru sampai di bab 2. Mohon bantu doanya ya supaya bisa segera selesai.

 

Ada tips singkat untuk penulis yang ingin mengirim naskahnya ke Bukune? Apa saja yang harus diperhatikan?

Banyak-banyaklah membaca novel dari Bukune, supaya kamu tahu taste-nya Bukune itu seperti apa. Seringlah berlatih menulis, setiap hari. Ketika hendak mengirimkan naskah ke redaksi Bukune, perhatikan kembali aturan-aturan yang Bukune berikan; seperti jenis dan ukuran font, ukuran kertas, spasi dan margin, banyaknya halaman, formulir pengecekan naskah, dan lain sebagainya. Jangan sampai naskah kerenmu nggak sampai di meja editor, hanya karena melupakan hal-hal sepele itu.

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^

 

Besok masih ada interview kejutan dengan … (nggak surprised dong kalau dikasih tahu sekarang). Masih ada juga review novel STPC  dan wawancara dengan penulisnya. Jangan lupa mampir kemari ya.

 

Tschuss,

20130725-125307.jpg

[Book Review+Giveaway] Swiss: Little Snow in Zurich by Alvi Syahrin @Bukune

20130819-105102.jpg

book_info

20130927-023445.jpg

Judul Buku: Swiss: Little Snow in Zurich
Penulis: Alvi Syahrin
Penerbit: Bukune
Terbit: Juni 2013, Cetakan Pertama
Jumlah Halaman: 308
ISBN: 978-602-220-105-2
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Travel Literature
Harga: Rp. 52,000
Kalimat pertama:Angin menyentilku.

book_blurb

Di Zürich,

Ada kisah tentang salju yang hangat, tentang tawa yang mencair. Membuat Yasmine tersenyum bahagia.

“Ich liebe dich,”—aku mencintaimu—bisik gadis itu, membiarkan repih salju membias di wajahnya. Manis cinta dalam cokelat yang laki-laki itu berikan membeku menjadi kenangan di benaknya, tak akan hilang.

Di puncak gunung Uetliberg—yang memancarkan seluruh panorama Kota Zürich—bola-bola salju terasa hangat di tangannya, kala mereka bersisian. Dan Jembatan Münsterbrücke, jembatan terindah dan tertua di Zürich, seolah bersinar di bawah nyala lampu seperti bintang.

“Jika aku jatuh cinta, tolong tuliskan cerita yang indah,” bisik gadis itu. Ia tahu ia telah jatuh cinta, dan berharap tak tersesat.

Namun, entah bagaimana, semua ini terasa bagai dongeng. Indah, tetapi terasa tidak nyata.

Tschüs—sampai jumpa—
Yasmine, semoga akhir kisahmu indah.

thoughts

First I need to say that I was really schocked when I realize that the author is a boy. Gosh! I mean, I have read many books written my male authors, but those are fantasy books, not romance! And you know what surprised me more? This book is really good. It is romantic, sweet, and realistic at the same time! Kadang-kadang ketika saya membaca buku roman, saya merasa ceritanya terlalu dibuat-buat. But not this! Saya merasa buku ini benar-benar romantis tapi tidak berlebihan. Mungkin karena laki-laki yang menulisnya, sehingga terasa lebih logis. If you read the book, you won’t see lots of sweet talking or cheesy date. But you’ll see two people , doing something that only they can enjoy! ( I’m talking about their winter plans 😀 ).

Pada awalnya, saya merasakan atmosfir yang sama seperti yang saya rasakan pada Till We Meet Again karangan Yoana Dianika, mungkin karena sama-sama bersetting di Eropa. But actually, both of them are totally different! Even though this book felt a little bit sad and touchy, it doesn’t felt dark. Saya merasa sedih ketika Yasmine ditinggalkan oleh Rakel, saya juga merasa sedih ketika ada tokoh yang meninggal.

The ideas of the book is fantastic. Ide-ide itu juga diceritakan dengan cara yang menyenangkan. Love,friendship,family. Everything is wrapped in one. Also the setting, I love it! Saya merasakan bagaimana dinginnya musim dingin di Zurich, seberapa indahnya banguna-bangunan kota Zurich yang diselimuti salju, juga cerahnya cuaca Zurich yang bersalju. Hanya saja, saya merasa alurnya kurang rapi. Terkadang saya merasa alurnya berjalan lambat di satu waktu lalu cepat dan meloncat-loncat di waktu lain.

One thing that bothered me most : there’s too much naration. Sangat sedikit dialog dalam buku ini, sehingga interaksi antar karakter susah di dapat. Contohnya adalah ketika Yasmine jatuh cinta dengan Rakel. Dari kegiatan yang mereka lakukan, mungkin sebenarnya besar kemungkinannya agar Yasmine menyukai Rakel. But somehow, I felt that she fell in love to fast. Saya belum merasakan buih-buih cinta yang tercipta di antara mereka berdua ketika Yasmine mengatakan bahwa dirinya mencintai Rakel.

For the characters, usually I love stubborn and strong female character. But somehow, saya menyukai kepolosan dan kelembutan yang dimiliki Yasmine. Saya tidak merasa Yasmine adalah gadis cengeng. Saya justru merasa Yasmine adalah gadis unik yang memiliki dunia fotografi yang menyenangkan. For the male lead, Rakel, I guess I don’t have much to say. Begitu pula dengan Elena. But for Dylan, I really wish he would meet a girl that will love him back. Saya juga ingin melihat bagaimana Dylan jatuh cinta pada Yasmine, dan saya merasa agak kecewa karena tidak diceritakan.

Well, I guess that’s all I can say. But remember this, read this book and before you realize it you are on a romantic adventure in Zurich! Saya tidak dapat menjelaskan satu-satu kesan saya mengenai buku ini. Karena , jujur saja, cerita dalam buku ini sangat padat, tapi tentu saja, this book is really great. And, for the author, I’m really pleased with your work and looking forward for the next one.

Reviewed by:
Verina

GR

ve

STPCGA

Yuk, yang mau mendapatkan 3 paket novel serial #STPC @Gagasmedia @Bukune merapat kemari. Caranya gampang banget:

1. Follow akun @Gagasmedia @Bukune dan @AlviSyhrn

2. Twit link review + giveaway ini dengan kalimat seperti ini:

Mau dapetin paket novel #STPC dari @yuska77 @Gagasmedia @Bukune? Klik aja bit.ly/17YRdVb

3. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel Swiss: Little Snow in Zurich. Jangan lupa untuk mencantumkan:

Nama, akun twitter, dan email.

4. Setiap komentar yang kamu tinggalkan di tiap postingan dan twit selama proyek #STPC berlangsung akan mendapat 1 entry. Misalnya, kamu ngetwit link review + giveaway Swiss juga meninggalkan komentar, maka kamu mendapatkan 2 entries.

5. Jangan lupa, besok ada postingan interview bersama Alvi Syahrin. So, stay tuned ya.

6. Giveaway STPC dimulai dari tanggal 1 September – 30 September 2013. Kamu bisa mengisi kolom komentar + tweet giveaway ini selama event STPC berlangsung.

7. Pengumuman pemenang tanggal 5 Oktober 2013

Good luck 🙂

20130330-114856.jpg

#STPC Interview: Meet the Author Riawani Elyta @Bukune

20130819-105102.jpg

riawani

Halo,

Ketemu lagi dengan segmen Meet the Author. Setelah membahas novel First Time in Beijing, kali ini Lust and Coffee berhasil mewawancarai penulisnya, Riawani Elyta. Simak interview berikut tentang tidbits di balik pembuatan novel First Time in Beijing.

Bisa diceritakan dari mana dapat ide untuk novel First Time in Beijing?

Idenya terinspirasi dari film seri “Kitchen Musical” yang dibintangi Christian Bautista. Bagi penggemar film seri populer, film seri ini mungkin terasa monoton, karena settingnya hanya di restoran dan diselingi tarian dan nyanyian seperti opera. Tetapi bagi saya, disitu letak keunikannya. Ini film seri pertama pernah saya tonton, yang menyajikan dunia kuliner secara komplit. Bahkan konflik antar tokohnya pun, masih terhubung dengan aktivitas kuliner. Awalnya saya ingin menulis novel Beijing ini dengan hampir semua settingnya di restoran, seperti film tersebut, tetapi mengingat proyek STPC adalah penggabungan kisah cinta dan travelling, maka tempat-tempat lain di Beijing turut dijadikan setting, sehingga pembaca juga bisa merasakan petualangan tokohnya (Lisa) saat pertama datang ke Beijing selain lika-likunya bergelut di dunia restoran

Tema novel ini menarik, cooking competition. Apa Ria suka memasak? Dapat darimana idenya?

Tidak. Saya lebih suka membuat kue J Idenya dari keinginan saya untuk menyajikan cerita tentang perjuangan dalam dunia usaha, saya pilih kuliner karena saya suka excited kalau membayangkan makanan J. Selain terinspirasi dari film Kitchen Musical, juga dari novel Jepang berjudul Kitchen, ini tentang kecintaan tokohnya pada dapur dan semua elemen dapur termasuk makanan. Jadi melalui novel ini, saya juga ingin menyampaikan bahwa kesuksesan itu harus diperjuangkan, dengan disiplin dan komitmen kuat untuk belajar, dan salah satu kuncinya adalah dengan memiliki passion atau mencintai aktivitas yang kita lakukan

Berapa lama proses penulisan novel ini?

Proses penulisannya sekitar 2 bulan, plus revisi, totalnya sekitar 3 bulan

Satu kata yang bisa mendeskripsikan Beijing:

Cinta – kuliner – chef – kultur : Novel yang merupakan harmonisasi kisah cinta, perjuangan, keteguhan hati, kasih sayang keluarga, dilatarbelakangi dunia kuliner, kultur bisnis orang china dan setting kota Beijing sebagai salah satu pusat peradaban dunia

Jika novel First Time in Beijing difilmkan, siapa yang cocok untuk memerankan:

Lisa : Laura  Basuki

Daniel : Glenn Alinskie / Roger Danuarta

Yu Shiwen : Agnes Monica / Chelsea Olivia

Saya suka dengan novel berbau kultur, seperti Beijing ini. Apa yang dilakukan Ria ketika riset? Apa ada model keluarga asli seperti keluarga Lisa?

Saya mengumpulkan semua bahan tertulis yang bisa mendukung proses penulisan, diantaranya travelling guide negeri China, kumpulan chinese wisdom, kultur masyarakat china, kamus online bahasa Mandarin juga wawancara tertulis tentang terjemahan bahasa pada teman yang pernah bekerja di Hongkong.

Kalau model keluarga asli tidak ada, jadi keluarga Lisa hanya fiktif belaka. Tetapi sebagian pengalaman Lisa bersumber dari pengalaman saya juga, saya pernah tinggal di luar negeri bersama keluarga yang anak-anaknya sama sekali nggak peduli dengan saya.

Ada pengalaman menarik selama proses penulisan novel ini?

Yang menarik menurut saya, adalah ketika proses revisi novel ini. Pada saat yang sama, saya juga sedang menulis empat novel lain yang rata-rata punya deadline sekitar 1-2 bulan atas order penerbit juga yang saya tulis untuk diikutkan pada lomba novel. Maka, pada waktu yang benar-benar hectic ini, saya harus bisa membagi fokus yang sama besar juga menjaga agar “feel” tokoh cerita yang berbeda-beda itu tidak tertukar-tukar atau justru seragam, mengingat semua novel punya karakter tokoh utama yang berbeda-beda. Mengerjakan ini benar-benar jadi tantangan tersendiri buat saya, karena baru kali pertama, saya mengerjakan beberapa novel dalam waktu bersamaan dan masing-masing terikat dateline yang ketat. Jadi untuk menyiasatinya, dalam sehari saya bagi waktu, pagi untuk nulis novel A, sore untuk novel B, malam untuk novel C. Saya juga pasang target dalam sehari minimal saya harus bisa menulis 5 halaman

Bisa share playlist yang Ria dengarkan ketika menggarap novel ini?

Saya nggak pake playlist, selama ini, satus-satunya novel saya yang ditemani playlist hanya “Yang Kedua” (Bukune, 2012) karena ini memang novel tema musikal. Kalo pake playlist, saya malah nggak konsen nulis.

Apa proyek novel selanjutnya yang akan Ria kerjakan?

Saya sedang menulis novel romance dengan latar belakang penyelamatan lingkungan, dalam hal ini penyelamatan satwa langka, progress-nya baru jalan tiga puluh persen, dan insya Allah akan diterbitkan di Bukune juga.

Ada tips singkat untuk penulis yang ingin mengirim naskahnya ke Bukune? Apa saja yang harus diperhatikan?

Kenali segmen Bukune dengan cara membaca novel-novel terbitannya, tulis cerita sesuai segmen tersebut dengan plot dan alur yang baik, ketik yang rapi lalu penuhi semua syarat pengiriman sebelum mengirim naskah. Jangan lupa berdoa yang khusyu agar naskahnya diterima.

Terima kasih banyak untuk wawancaranya yang menyenangkan. Ditunggu karya Ria selanjutnya ya ^^

Until next time.

20130725-125307.jpg

 

[Book Review + Giveaway] First Time in Beijing by Riawani Elyta @Bukune

20130819-105102.jpg

book_info

20130911-094403.jpg

Judul : First Time in Beijing
Penulis : Riawani Elyta
Penerbit : Bukune
Terbit : Februari 2013
Jumlah Halaman : 342
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Travel Literature, Romance
Harga: Rp. 55,000
Bisa dibeli di: Bukabuku.com

book_blurb“Saat pahitnya kenyataan mengitari gadis itu dari segenap arah, dia hanya punya satu pilihan: menjalaninya.”

Langit Kota Beijing berpesta, pijar warna kembang api terlontar bergantian ke angkasa. Gemuruh seketika melenyapkan suara-suara yang meriung di segenap kota. Namun, hati gadis itu senyap, bagai butir salju yang musim lalu jatuh di balik jendela.

Di kota ini, kakinya menapak pasti di tangga-tangga Tembok Raksasa yang berkuasa. Ia mulai jatuh cinta pada kota ini, pada aura ganjil gerbang Kota Terlarang yang dahulu dilewati raja-raja. Mungkin pula, ia telah jatuh cinta kepada dia—laki-laki itu—dalam aroma rempah yang menguar dari sup hangat hasil racikan tangannya.

Kemarin, di Tembok Raksasa, ia tergelincir karena kerikil kecil. Kakinya sempat tak setia. Namun, kesetiaan tetap membutuhkan kerikil, bukan? Agar kita tahu apakah satu kerikil saja bisa menghancurkan kesetiaan yang telah dipupuk.

“Mungkin ini salahku, tak mendengar suara hati ini saat berada di dekatmu.”

Lisa menatap dalam mata senja, membayangkan laki-laki itu berada di sana. Menunggunya.

Zhù nǐ xìngfú kuàilè—semoga kamu bahagia—Lisa,

Riawani Elyta

thoughts

First Time in Beijing berkisah tentang cinta dan passion yang melebur bersama asap dapur. Mengusung tema kuliner, novel ini menceritakan tentang Lisa yang ikut ayahnya ke Beijing setelah ibunya tiada. Ayahnya sudah memiliki keluarga baru, dan di sana ia memiliki usaha restoran keluarga.
Lisa turun tangan di dapur restoran Shan, walau pada awalnya ia asing dengan dunia memasak. Namun, berkat mentornya di resto seperti Tony, Felix dan Daniel, Lisa mampu menguasai beberapa signature dishes resto Shan, seperti sup asparagus dan sup iga.
Lisa mengalami dilema antara meneruskan kuliah atau tetap bekerja di resto.
Sedangkan dalam hubungan percintaan, Lisa harus memilih antara Daniel yang berpenampilan bad boy atau Alex, si pemandu wisata yang geeky namun ceria dan ramah.
Dan tentu saja, tokoh pengganggu yang kepo bernama Yu Shiwen cukup bikin gregetan.

Selama membaca novel ini, gue ikut bersama rombongan tur Alex dan Juan ke Forbidden City dan Great Wall. Sayang banget, kenapa nggak dieksplor daerah bukan destinasi turis yang Beijing banget. Even jajanan kaki lima pun bisa mencirikan Beijing kok.
Lalu, mengenai penokohan. Daniel kurang ‘bad boy’ deh. Dia seperti nggak ada bedanya dengan Alex.
Dan adegan romantis juga baru ‘tumbuh’ di halaman 140-an, padahal sub-judulnya “Nostalgia Kisah Cinta Semusim Lalu”.
Oiya, mengapa banyak ejaan bahasa Mandarin yang tidak memakai ejaan pinyin? Gue jadi agak bingung di situ. Namun karena penulis memberi footnote, baiklah gue maafkan.

Ada typo juga nih. Lisa menulis jurnal yang dinamakan Kitchen Rythm. Yang benar adalah Kitchen Rhythm. Masih ada typo-typo lain tapi nggak parah kok.

Ada yang ganjil ketika Lisa membawa cake ke restoran untuk diberikan pada seseorang yang absen hari itu. Ia menaruhnya di laci konter hingga keesokan harinya. Untuk seseorang yang bekerja di restoran, agak aneh kalau ia tidak memasukannya ke freezer.

Cara menulis Ria rapi, teratur dan mengalir, hanya saja beberapa dialog terkesan terlalu baku, sehingga gue seperti membaca novel terjemahan.

Di luar protes gue di atas, novel ini mengangkat drama keluarga Tionghoa yang khas, walau tidak terlalu banyak tradisi atau unsur kultur yang mewarnai adegannya.
So far, novel First Time in Beijing cukup manis dan bisa dinikmati dengan semangkuk mie panas dan segelas teh oolong. Walau terkesan tenang dan alurnya tidak cepat, novel ini page turner. It kept me awake all night long.
Suasana hiruk pikuk di resto Shan juga terbayang, bahkan aromanya juga ikut terasa.
Gue juga suka dengan gaya bertutur Ria yang tenang dengan kosakata yang lumayan kaya dan indah. Dan ciri khas Ria sepertinya menggambarkan adegan romantis tanpa banyak skinship. Romantis yang santun, I like it.

Satu hal positif lagi. Gara-gara membaca novel ini, gue jadi pengin membaca buku The Terracotta Army dan beberapa novel karya Mo Yan, Amy Tan, dan Lisa See yang masih ada di rak.

Ditunggu karya berikutnya ya, Ria.^^

quotes

Banyak orang bilang, merawat bugenvil di halaman rumah itu tidak baik. Bunga itu diidentikkan dengan mitos keretakan keluarga, termasuk perpisahan.

Untukku, kesedihan itu bisa lenyap seiring kesibukan. Dan untukku, lebih mudah untuk melupakan kenangan jika orang itu memang sudah benar-benar tidak ada, daripada seseorang yang secara harfiah masih ada. (hal. 80)

20130911-085212.jpg

Submitted for:

New Authors Reading Challenge here

IRRC 2013 here

Need a Second Opinion?

Sang Cerpenis Bercerita Review

STPCGA

Ada 3 paket hadiah yang akan dibagikan pada akhir bulan September untuk 3 orang pemenang yang beruntung.

Caranya gampang banget:

1. Follow akun @Gagasmedia @Bukune dan @RiawaniElyta

2. Twit link review + giveaway ini dengan kalimat seperti ini:

Mau dapetin paket novel #STPC dari @yuska77 @Gagasmedia @Bukune? Klik aja http://tr.im/4dlwx

3. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel First Time in Beijing. Jangan lupa untuk mencantumkan:

Nama, akun twitter, dan email.

4. Setiap komentar yang kamu tinggalkan di tiap postingan dan twit selama proyek #STPC berlangsung akan mendapat 1 entry. Misalnya, kamu ngetwit link review + giveaway First Time in Beijing juga meninggalkan komentar, maka kamu mendapatkan 2 entries.

5. Jangan lupa, besok ada postingan interview bersama Riawani Elyta. So, stay tuned ya.

Good luck ^^

20130725-125307.jpg

STPC Project @ Lust & Coffee in September @Gagasmedia @Bukune

20130819-105102.jpg

Lust & Coffee bekerjasama dengan Gagasmedia dan Bukune akan menggelar special event di bulan September, yaitu Project Setiap Tempat Punya Cerita di mana kalian akan diajak untuk bertualang dari Paris hingga Tokyo.

Mulai tanggal 1 sampai 30 September 2013, bakalan ada review dari novel-novel serial STPC. Lalu, ada juga wawancara dengan penulis STPC, seperti Winna Efendi, Moemoe Rizal, Prisca Primasari, Kireina Enno, dll. Selain wawancara dengan penulis, para editor, ilustrator, bahkan proofreader akan ditodong untuk memberikan komentar mengenai serial STPC ini.

Untuk apresiasi pembaca blog Lust & Coffee, bakalan ada giveaway berhadiah paket novel serial STPC dilengkapi dengan note dan travel tag persembahan dari Gagasmedia dan Bukune.

Syarat giveaway akan diposting pada tiap review novel STPC yang akan dimulai dari novel Bangkok karya Moemoe Rizal. Tanggal posting giveaway pertama adalah 1 September 2013.

Jangan lupa catat ya tanggalnya dan siapkan kopormu untuk bertualang keliling dunia bulan depan ^^

See you in September 🙂

20130330-114856.jpg