Blog Archives

#STPC Interview: Meet the Author Moemoe Rizal @Gagasmedia

Meet the Author: Moemoe Rizal

20130902-070448.jpg
 
Nama: Moemoe Rizal
Akun Twitter: @moemoerizal
Facebook: Moemoe Rizal
Goodreads: goodreads.com/moemoerizal
Website/Blog: moemoerizal.tumblr.com
Hobi: Berimajinasi. Apa pun.
Penulis favorit: Sophie Kinsella
 
Seperti janji kemarin, hari ini Lust and Coffee berkesempatan untuk mewawancarai penulis novel Bangkok, yaitu Kang Moemoe Rizal yang ternyata sama-sama urang Bandung 🙂

Selain tulisan di novelnya yang seru, ternyata Kang Moemoe juga sangat seru ketika diinteriew. Mau tahu Bangkok:The Journal di balik layar? Simak deh wawancara berikut 🙂

20130902-074002.jpg

Mengapa memilih Bangkok sebagai setting novel untuk seri STPC? Dari mana dapat idenya?
Pemilihan Bangkok sebenarnya bukan ditentukan secara personal, sih. Sewaktu STPC masih “dirapatkan”, ada lima kota yang ditawarkan ke penulis-penulis STPC. Uniknya, none of them are Bangkok. Ada Paris, Roma, Melbourne, Tokyo, dan London. Saya akhirnya memilih Melbourne, karena saya pengiiin banget nulis cerita dari negerinya Mark Webber sama Jennifer Hawkins, hehe.
Namun rupanya, setelah beberapa perundingan, Winna Efendi-lah yang akhirnya menulis Melbourne dan STPC saya dipindahkan ke mana pun di Thailand. Bisa jadi Phuket, atau Pattaya, atau Chiang Mai…. Sampai akhirnya, Abang Christian Simamora ngasih saran buat ngambil Bangkok, karena itu sama-sama mega city, dan saya masih bisa explore culture lokal bersamaan dengan megapolitannya.
Jadilah Bangkok The Journal.
Ide dari mana? Hehe… saya entah mengapa mengambil secara harfiah frase Setiap Tempat Punya Cerita. Ketika frase ini nyampe di kepala saya, yang terlintas dalam benak saya adalah novel, dengan berbagai tempat, dengan berbagai cerita. Saya membayangkan tempat A punya cerita A, tempat B punya cerita B. Bedanya tipis kali ya, antara nggak kreatif mengartikan frase STPC, atau kebetulan dapet lucky shot. Wkwkwk… Yang pasti, ujung-ujungnya saya mencari cara bagaimana nih supaya saya bisa mengaplikasikan bahwa tempat A punya cerita A, dan tempat B punya cerita B?
Through a journal.
Dan dari situ lah saya memulai penggalian plot untuk novel ini.
 
Berapa lama Moemoe melakukan riset untuk novel Bangkok? Apa ada narasumber yang membantu?
Durasi riset Bangkok sih saya kurang begitu ingat. Karena saya melakukannya bersamaan dengan penulisan novel. Mungkin satu atau dua bulan. Saya nggak menyisihkan waktu khusus untuk mengexplore Bangkok, lalu menjadikannya sebuah cerita. Go with the flow aja.
Ibaratnya begini, saya bikin makanan enak sekelas hotel bintang lima. Makanan utamanya ditata di tengah piring, lalu di pinggir-pinggirnya banyak hiasan supaya tampak cantik. Nah, Bangkok adalah hiasannya. Garnish yang saya buat setelah makanan utamanya selesai saya pikirkan. Jadi ketika saya membuat Bangkok, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari plot dasarnya, kemudian saya tempelkan Bangkok ke dalam plot tersebut.
Ketika riset, nggak ada narasumber yang ikut membantu. Hehe… Kebetulan di sekitar saya nggak ada teman-teman yang baru pulang dari Bangkok, atau pernah pergi ke Bangkok. Rata-rata pada pergi ke Bangkok “setelah” saya membuat novelnya. Hehehe… Jadi seudah teman-teman saya pulang dari Bangkok, dan Bangkok The Journal sudah jadi (tapi belum terbit), saya pun menyerahkan draft itu ke mereka. Just to make sure, kalau yang saya tulis nggak ngaco.
Dan emang, banyak yang ngaco. Hahaha… Ada beberapa fakta yang salah menurut teman-teman saya. Yang akhirnya membuat Bangkok mesti agak dirombak sedikit lagi, supaya close to the exact place. Saya nggak akan menganggap Bangkok ini perfect kok, till forever. Tapi at least, saya berusaha membuatnya sedekat mungkin dengan setting aslinya.
*Curhatan penulis yang belum pernah ke Bangkok* Hehe.

Tokoh Edvan dan Edvin begitu real. Apa ada versi aslinya?
Nope. Hehehe… atau mungkin somewhere over the rainbow ada. Yang pasti, bukan di kehidupan saya. Sejauh ini saya meramu banyak karakter ketika menciptakan tokoh Edvan dan Edvin. Kalau misalnya tokoh itu ada versi aslinya di luar sana, itu murni kebetulan semata.

Moemoe mengangkat isu transgender yang masih kontroversial di negara kita. Apakah Moemoe punya narasumber transgender untuk memperkaya tokoh Edvin?
Transgender yang kontroversial tuh, di Indonesia. Di Bangkok udah jadi makanan sehari-hari. Hihi. (Kalau saya beneran nulis Melbourne, kemungkinan besar saya nggak akan ambil isu transgender, lho. *curhat*.)
Why transgender? Because it’s Thailand. Kalau saya nulis Roma nih mbak, mungkin isu yang diangkat adalah persepakbolaan, kayak yang Robin Wijaya tulis.
Nah, apa saya punya narasumber transgender? Nope lagi. Kalau transgender wannabe? Banyak. Hehe. Untuk memperkaya tokoh Edvin tentunya saya banyak mempelajari kehidupan transgender di Thailand. (Ada Discovery Channel-nya lho, sampe tiga episode, dan saya udah nonton semua.) Ketika saya membaca buku tentang Bangkok pun, yang niat awalnya memperkaya setting Bangkok saya, penjelasan tentang transgender justru tersebar di mana-mana. Mau nggak mau saya jadi mengenal bagaimana rasanya hidup seperti mereka.
Pada akhirnya, saya tertarik untuk mengangkat isu “berbeda” ini di depan pembaca. Bukan untuk membenarkan transgender. Simply, hanya ingin menunjukkan kalau mereka ada.
 
Apa yang Moemoe suka dari kota Bangkok?
Kemampuan mereka menjaga eksotisme budaya lokal, seperti kuil-kuil beratap emas itu, di tengah kota megapolitan yang dihiasi gedung-gedung beton membosankan.
Di setiap sudut Bangkok, pasti ada elemen Thai yang akan selalu mengingatkan kita bahwa, “Hey, we’re in Thailand!” Minimal sebuah kuil kecil, atau bayangan wat berkubah emas di suatu tempat, atau gedung-gedung modern yang diukir dengan warna merah dan emas.
Jujur aja saya susah nemu yang beginian di Indonesia. Setiap saya berkunjung ke Jakarta, apa sih sebenarnya yang menjadikan tempat ini Jakarta? This is just another big modern city like other… and that’s it. Bandung, tempat tinggal saya, juga begitu. Not that I hate my own country. Jogja masih bagus tuh, kayak Bangkok. Denpasar juga. 😀

Setuju banget. Bandung dan Jakarta tidak memiliki kekhasan seperti Jogja. Ada pengalaman menarik selama proses penulisan novel Bangkok?
Aduh, nggak punya pengalaman yang menarik. Hihi… waktu bikinnya agak-agak diselingi sama kerjaan saya, jadinya semua udah tertata monoton sejak awal penulisan.
Yang pasti sih, selama penulisan saya selalu makan siang bareng Prisca Primasari yang menulis Paris, dan dari situlah kami diskusi banyak soal STPC. Selama penulisan juga saya mendapat banyak sekali referensi film dari teman-teman saya, khususnya film yang bersetting di Bangkok, dan lucunya saya malah sibuk menonton film-film itu. Bukannya menulis. Hehehe…

Ada rencana untuk membuat novel spin off dengan tokoh utama Edvin?
Spin off? Good idea. Tapi kalau tokoh utamanya Edvin, berarti harus riset lebih dalam lagi. Haha… Kalau ada rezeki buat nulis spinoff nya Edvin sih, saya mau-mau aja. Toh sejak awal saya menulis, saya hanya ingin membagikan inspirasi aja ke pembaca. Ingin menghibur…
Untuk sementara, saya lagi hobi menyebutkan kembali beberapa tokoh yang pernah muncul di novel sebelumnya, ke novel berikutnya. Terkadang, sayang banget seorang tokoh Cuma muncul sekali saja di sebuah novel. Kalau tokohnya bagus, kenapa nggak dibuat cameo di novel berikutnya?
 
Beberapa bagian di novel Bangkok sangat menyentuh. Bagaimana cara Moemoe menggali emosi hingga tertuang dalam tulisan?
Simply, dengan menulisnya penuh perasaan. Ketika membuat sebuah adegan, saya mencoba membayangkan, adegan seperti apa yang bisa membuat saya simpati dan tersentuh. Adegan macam apa yang bisa membuat saya menangis. Adegan apa yang akan terus saya kenang setiap teringat tulisan tersebut. Kenapa? Karena saya percaya kalau penulisnya saja bisa terlibat dalam emosi setiap tokoh, kemungkinan besar pembaca juga akan begitu. Tidak perlu membuat adegan dramatis, kok. Adegan semacam disiksa majikan kayak Cinderella, lalu hujan, lalu menangis lagu-lagu sedih, dan kelihatan bangeeet pengin dikasihani. Yang kayak gitu jatuhnya jijik kalo menurut saya. Buat aja adegan biasa, tapi saya sebagai penulis memposisikan diri sebagai emosi si tokoh, mencari kata-kata yang tepat supaya pembaca juga melihatnya dari POV emosi.
 
Apa proyek selanjutnya yang akan Moemoe kerjakan setelah Bangkok?
Hmmm… saya nggak tahu apa ini harusnya rahasia atau nggak. Yang pasti, the next Gagas series, insya Allah saya terlibat lagi di dalamnya. Seri kali ini remaja. So, jangan berharap ceritanya bakalan complicated dan dramatis kayak Edvan. Hehe… Yang ringan-ringan aja. Meski ya, mudah-mudahan bisa menyentuh dan memberi inspirasi lagi buat pembaca. Amien.
 
Ada pesan untuk penulis agar tembus ke meja editor Gagas?
Dengan mengirimkan naskah printout ke Gagas, sebenarnya naskah udah tembus ke meja editor Gagas. Hahaha… tapi belum tentu bakal stay lama-lama di meja editor.
Buat teman-teman yang pengin banget nerbitin di Gagas, syaratnya Cuma satu: jangan pernah menyerah. Terus menulis, dan terus kirimkan karya kalian ke Gagas, setiap ditolak dan ada komentar dari Gagas, ikuti dan perbaiki. Penulis yang baik tuh penulis yang mengalami perkembangan, dari yang biasa saja menjadi keren.
Kayak gimana sih tulisan yang biasanya diterima Gagas? Hmm… sebenarnya saya juga kurang begitu menguasai standarisasinya. Hihihi… saya aja ngerasa tulisan saya kok agak-agak nggak nyambung ama tulisan Gagas yang lain. Tapi kalau dari kaca mata saya, sih… buatlah sesuatu yang unik. Boleh jadi membuat sesuatu yang klise, tapi eksekusinya unik.

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya. Ditunggu karya-karyanya selanjutnya ^^
Sama-sama… 😀
 
Stay tuned di Lust and Coffee karena besok kita akan ketemu dengan Ibnu Rizal. Siapakah dia? You’ll find out tomorrow

Until next time:)

20130330-114856.jpg

Top 10: Nikki Gemmell

Top10

Kelar baca buku The Bride Stripped Bare, ada halaman ekstra di bagian belakang isinya wawancara dengan penulis, juga Top 10 Books favorit penulis.
Seru juga kayaknya posting Top 10 Books ini, siapa tahu masuk wishlist bacaan kita.

nickigemmell1

Nikki Gemmell’s Top 10 Books:

1. The Lover by Marguerite Duras

2. Beloved by Toni Morrison

3. Poems by Robert Browning

4. Wuthering Heights by Emily Brontë

5. Atomised by Michel Houellebecq

6. The Great gatsby by F. Scott Fitzgerald

7. Collected Poems by Les Murray

8. By Grand Central Station I Sat Down and Wept by Elizabeth Smart

9. Coming Through Slaughter by Michael Ondaatje

10.The Man Who Loved Children by Christina Stead

Ada yang udah pernah baca buku-buku di atas?

20130330-114856.jpg

Pics: here and there