Blog Archives

[Book Review] Horeluya by Arswendo Atmowiloto @Gramedia

book_info

20130816-020039.jpg

Judul Buku: Horeluya
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: GPU
Terbit: April 2008
Jumlah Halaman: 240
ISBN: 978-979-22-3645-3
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Sastra Indonesia
Harga: Rp. 15,000
Beli di: Gramedia WTC Serpong
Kalimat pertama:

Pagi ini tak berbeda dengan pagi sebelumnya. Tapi bisa berbeda dengan pagi sesudahnya.

book_blurb

“Tuhan Yesus… sakit… sakit sekali…”

Suara Lin, gadis kecil, seperti menggigil. Pengambilan cairan disumsum tulang belakang, memang tak tertahankan. Itu yang harus dijalani, dan bukan hanya satu kali. Eca, Ibunya yang membawanya dalam doa di gereja tua, dimana ada Patung Bunda Maria, malah diberitakan memuja berhala. Doa rutin tak mempunya getar dalam batin. “Kita sudah berdoa beberapa kali, Tuhan Yesus pastilah sudah mendengar.” Dan belum juga ada jalan keluar, belum ada pemberi donor darah rhesus negatif. Kokro, ayah Lin, masih ingin mempunyai kepercayaan seperti istrinya, namun merasa kering dan gelap. Ia dan adiknya pernah mengalami kepedihan yang mematikan, tapi kini merasa gamang.

Segala upaya kemanusiaan, juga segala doa, berlomba dengan usia Lin yang diramalkan secara medis hanya bertahan beberapa bulan. Keinginan Lin terakhir adalah bisa merayakan natal-sebelum waktunya, karena usianya tak mencapai bulan Desember-dengan turunnya salju. Sesuatu yang sama mustahilnya, karena di desa itu yang turun adalah hujan, dan tak ada gua atau pesta.

Apakah salah Lin menghendaki ada salju, karena itu kisah yang didengar selama ini? Apakah lebih menyakitkan ketika ada pendonor yang disaat menentukan juga memerlukan donor? Apakah jawaban mauuu Lin berarti ketulusan, juga kepasrahan, bentuk lain doa?

Berbagai pertanyaan, tak perlu jawaban pasti, ketika hati masih bisa bernyanyi bersama rumput, bersama bunga, karena Tuhan sumber “gembiraku”. Ketika itulah teriakan hore menjadi pujian, juga kegembiraan.

thoughts

Buku ini sudah lama ngendon di rak, namun baru sempat dibaca kemarin-kemarin sekalian mengikuti event Baca Bareng BBI.

Horeluya mengisahkan sepasang suami istri Kokro dan Eca yang saling kenal sewaktu kuliah. Kokro yang pada awalnya memiliki usaha pembuatan spanduk, mendapat tawaran untuk bekerja di pabrik biskuit.
Kokro dan Eca memiliki seorang putri bernama Lilin yang cerdas dan menyenangkan semua orang. Namun, Lilin sulit sekali makan dan hanya mau meminum susu (reminds me of AJ, actually). Berat badannya sulit naik, malah cepat turun. Setelah diperiksa, Lilin menderita kelainan darah. Dokter menyarankan Lilin untuk diperiksa di Jakarta. Ternyata Lilin menderita anemia rhesus negaitif dan harus melakukan serangkaian tes yang membuat Lilin kesakitan. Saat Lilin bercerita pada bukliknya, gue sampai berkaca-kaca. Betapa Lilin dalam kesakitannya masih menyebut nama Tuhannya.
Rumah sakit menyarankan agar Lilin dibawa ke Australia atau Belanda untuk berobat. Namun, dua minggu di sana tidak ada perkembangan yang berarti. Setelah kembali ke Indonesia sambil berharap ada donor untuk Lilin, Kokro dipecat dari perusahaannya. Kokro dan beberapa rekannya diminta untuk mengundurkan diri karena pabrik sedang kolaps. Kokro sudah mengabdi selama 4 tahun, dan ia bekerja dengan tekun tanpa mengenal lelah.
Lalu, drama bergulir kepada Ade dan Siti. Siti adalah rekan kerja Kokro yang sama-sama bekerja di pabrik. Dulunya, Siti adalah bekas anak didik Eca.
Ade dan Siti memutuskan untuk memghabiskan malam dengan berjalan-jalan ke mal, mengisap rokok, dan meminum minuman keras di cafe. Mereka juga mencoba ‘kencan’ dengan pria hidung belang. Siti merasa dirinya adalah lesbian, karena ia tidak pernah tertarik pada pria. Walau Naya (adik Kokro) pernah mencium paksa dirinya, Siti tidak merasakan apa-apa.

Lalu, keadaan Lilin mulai membaik. Ia minta diantar ke sekolah. Eca tak mampu mencegahnya. Seluruh keluarga ketakutan kalau Lilin susah ‘dekat’ dengan waktunya.

Berita mengejutkan datang dari Adam, wartawan surat kabar yang pernah meledek Eca dengan memuat fotonya yang sedang berdoa sambil menangis di depan patung Bunda Maria. Ternyata, ada donatur bernama Devi Efendi yang bersedia memberikan darahnya untuk Lilin.

Horeluya adalah drama tentang keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Ada ketakutan, kecemasan, kepasrahan, juga pengharapan yang menjadi bumbu dalam novel ini. Banyak adegan mengharukan, terutama tentang Lilin yang begitu tulus walau sedang dalam keadaan sakit. Gue percaya, anak adalah malaikat :’) dan itu juga yang mungkin merupakan pesan dari Arswendo. Novel ini juga menyindir perilaku orang dewasa yang seringkali egois dan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, juga memperkaya diri sendiri. Sementara, seorang anak kecil yang sakit keras masih memikirkan orang lain dan bersedia membantu. Such a heartwrenching turned heartwarming story.

quotes

“Kenapa kamu tak berdoa untuk kamu sendiri?”
“Sudah, Mbak. Saya tahu doa saya untuk diri sendiri kurang manjur. Doa saya lebih manjur ketika mendoakan orang lain.” (hal. 28)

“Kalau rasa sakit kamu bisa dibagi dua, saya mau.” (hal. 31)

Apakah di zaman yang sudah sangat modern ini masih perlu menyembah patung atau berhala? Apakah patung itu akan memberikan jawaban, ataukah ikut menangis darah tanda prihatin? (hal. 48)

Hujan juga diturunkan untuk lesbi, homo, atau yang lainnya. Tidak pilih-pilih. (hal. 75)

Ketika ditanya kenapa tidak ikut pelajaran agama Katolik dan dibaptis, jawaban yang terdengar juga seenaknya. “Saya tidak mendengar atau membaca Tuhan Yesus membaptis.” (hal. 76)

“Lilin sakit ya sakit saja, tak ada hubungannya dengan pencobaan Tuhan. Kalau kamu masih menganggap begitu, kamu sama primitifnya dengan yang menganggap orang lumpuh, orang kusta, orang perdarahan, orang buta karena kutukan. (hal. 77)

“Kalau takut salah, jangan hidup saja.” (hal. 218)

20130725-125152.jpg

Need a second opinion?

My Book Corner here

Dunia Buku here

Submitted for:

New Authors Reading Challenge here

Baca Bareng BBI Tema Sastra Indonesia here

Until next time:)

20130330-114856.jpg