[Book Review] The Murder of King Tut by James Patterson

image

image

Judul: The Murder of King Tut
Penulis: James Patterson and Martin Dugard
Alih Bahasa: Julanda Tantani
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Web Penerbit: klik
Terbit: Juni 2013
Tebal: 392 halaman
ISBN: 978-979-22-9713-3
Format: Paperback
Kategori: Fiksi
Genre: Mystery
Bisa dibeli di: Blibli
Harga: IDR 52rb
Kalimat Pembuka:
Saat itu Malam Tahun Baru, ketika seorang penjelajah serius dan tampan bernama Howard Carter, yang lancar berbahasa Arab, memberikan perintah untuk memulai penggalian.

image

Tutankhamun, si Raja Bocah, terpaksa naik takhta pada usia Sembilan tahun. Baru sembilan tahun memerintah, Raja Tut wafat tiba-tiba, namanya lenyap dari sejarah Mesir dan sampai hari ini kematiannya masih terselubung misteri.

Howard Carter berniat mengungkap jawaban atas misteri yang telah berumur tiga ribu tahun ini dan bertekad untuk menemukan makam tersembunyi sang Firaun. Dia memulai penelitiannya pada tahun 1907, namun menghadapi banyak halangan, sebelum akhirnya usahanya membawa hasil.

Berdasarkan bukti-bukti X-ray, arsip-arsip Carter, dan lainlainnya, James Patterson dan Martin Dugard menyusun kisah tentang kehidupan dan kematian Raja Tut dalam sebuah novel yang penuh intrik dan pengkhianatan.

image
Saya sudah memiliki buku ini sejak buku ini baru dirilis, tapi baru sempat membacanya dua tahun kemudian (bookhoarder alert.)

Gara-gara menonton miniseri Tut, saya mencari-cari buku ini yang berada di tumpukan kontener paling bawah.

Tidak seperti karya-karya sebelumnya, James Patterson menggabungkan fakta sejarah dengan fiksi di buku ini. Menarik karena buku ini bercerita tentang tokoh-tokoh lintas generasi (menggunakan alur maju-mundur), juga tokoh-tokoh nyata (Howard Carter, Akhenaten, Nefertiti, Tutankhamun hingga James Patterson sendiri selaku narator), membaca novel ini serasa melakukan time traveling. Tidak selalu mulus karena setiap perpindahan waktu, saya butuh mengumpulkan mood agar saya ngeh berada di era tersebut.

Howard Carter, seorang ahli peradaban Mesir, berambisi ingin mencari menemukan kubur firaun yang baru agar namanya bisa terkenal, juga kaya raya.
Namun, pencarian kubur firaun yang tidak terkenal itu tidak mudah. Selain faktor dana dan waktu, letak makam Tut memang tidak lazim dan sangat tersembunyi.

Flashback ke masa lalu, dikisahkan Tut adalah putra yang tidak disukai Akhenaten. Namun, berbeda dengan ayahnya yang mabuk kuasa, wanita, juga alkohol, Tut tumbuh menjadi pribadi yang sangat berbeda dengan ayahnya. Ia tumbuh tanpa ibu kandung, tapi Nefertiti sangat menyayanginya dan menyiapkannya untuk menjadi seorang firaun.

OK, saya tidak mau spoiler jadi cukup sampai di sini rangkumannya.

Sesuai dengan judul bukunya, berdasarkan riset yang dilakukan Patterson, dia menyimpulkan bahwa Tut dibunuh. Berbeda dengan miniseri yang saya tonton, Tut tewas karena infeksi pada kaki.
Kebenarannya seperti apa, saya juga tidak tahu. Yang pasti, semua pihak yang terlibat dalam penggalian makam Tutankhamen pasti terkena sial. Konon, ada kutuk mengerikan di makam firaun muda ini.

Yang saya pelajari dari buku ini antara lain:
1. Proses mumifikasi itu sangat mengerikan.
2. Praktik inses sangat lazim dilakukan untuk menjaga kemurnian darah.
3. Sulit untuk mempercayai seseorang. Bagaimana pun meyakinkannya seorang bawahan, risiko untuk berkhianat selalu ada.
4. Dalam politik, selalu ada pihak yang dikorbankan demi kepentingan seseorang.
5. Kebenaran kolektif dijadikan alat politik.
6. Sejarah bisa diubah sesuai keinginan penguasa saat itu demi membangun ‘citra-nya’.
7. Ketika seseorang sukses, dia akan dirubung oleh orang-orang yang ingin kecipratan dan yang merasa ikut andil atau berkepentingan atas kesuksesan orang tersebut.
8. Pada mulanya, para penguasa Mesir dimakamkan di dalam piramida-piramida batu yang indah. Namun gara-gara para penjarah, para firaun menyembunyikan makam mereka.

Overall, menurut saya buku ini adalah salah satu karya terbaik James Patterson. Kalau kamu suka sejarah, buku ini cocok untuk kamu baca.

image

Meninggikan suara berarti menunjukkan kelemahan.

image

Need second opinion?

Books to Share (review dalam Bahasa Indonesia)

Luxury Reading (Review dalam Bahasa Inggris)

image

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on November 15, 2015, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Die damit thematisierte geographische Betrachtung von Alltag geht davon aus, dass sich jede handlungswissenschaftliche ( Handlungstheorie
    ) Disziplin auf einen spezifischen Aspekt menschlicher Praxis konzentrieren sollte.

  2. Die abgebildeten Artikel können wegen des begrenzten Angebots schon am ersten Tag
    ausverkauft sein.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: