[Book Review + Giveaway] My Creepy Diary by Ayumi Chintiami @Bukune

my-creepy-diary

book_infobook_infoJudul: My Creepy Diary: Catatan Seorang Gadis Indigo
Penulis: Ayumi Chintiami
Penerbit: Bukune
Website: Di sini
Terbit: Mei 2013
Tebal: 259 halaman
ISBN: 602-220-103-9
Kategori: Non Fiksi
Genre: Horror, Memoar
Bisa dibeli di: Bukabuku
Harga: IDR 36,000

book_blurb

Masih teringat jelas kali pertama pengalamanku bersinggungan dengan sesuatu yang berasal dari dunia lain. Aku yang masih kecil sering bermain dekat pohon yang kemudian terkenal angker. Dari gelapnya langit mendung, sesosok wanita terlihat melayang menembus benda – benda, kemudian terbang dan menghilang diatas pohon. Saat itu, aku hanya bisa diam…, bahakn terlalu takut untuk berteriak.

Aku tidak pernah menyangka jika itu hanyalah awal dari banyak kejadian seram lainnya. Semua yang kualami membuatku merasa tidak nyaman. Aku takut mereka menggangguku atau mencelakaiku nanti. Sampai aku menadari…, mereka menginginkan sesuatu dariku.

Namaku Ayumi. Keseharianku sebagai orang yang bisa melihat dan berbicara dengan “mereka”, membuatku memiliki dua dunia. Siang yang indah dan malam yang mencekam. Semuanya kutuliskan dalam sebuah buku harian…, My Creepy Diary

thoughts

Satu lagi memoar horror yang saya baca dari Bukune. Setelah sebelumnya saya membaca dan mereview After School Horror yang merupakan kumpulan cerita horror berdasarkan kisah nyata, kali ini My Creepy Diary, sesuai dengan judulnya, berbentuk catatan harian pengalaman seram sang penulis.

Kisah pertama diawali dengan prolog yang menjadi pembuka diary ini (yang menurut saya terlalu panjang untuk sebuah prolog). Penulis menceritakan kisahnya ketika melihat makhluk halus sehingga membuat ia nyaris celaka.

Cerita berikutnya adalah pengalaman penulis melihat dan berinteraksi dengan makhluk halus bernama Hiroshi, seorang anak laki-laki yang murung di rumah sakit. Ia meminta bantuan penulis untuk memberitahu orangtuanya bahwa ia sudah tenang. Orangtuanya masih tidak rela ia sudah meninggal.

Lalu ada seorang ibu yang meninggal dan arwahnya masih penasaran karena suaminya belum memberikan nama untuk anaknya, juga ia belum bisa ikhlas melepas kepergiannya.

Ada lagi arwah penasaran Sarah yang tewas karena bunuh diri. Ia meminta tolong penulis agar menyampaikan kepada orangtuanya supaya mereka tidak membenci suaminya. Sebelum tewas, Sarah menerima siksaan fisik dari suaminya tersebut.

Dan masih ada kisah-kisah lain seputar arwah penasaran yang masih memiliki urusan duniawi yang belum selesai. Benang merahnya adalah mereka meminta bantuan kepada penulis untuk menyampaikan pesan.

Masih ada typo yang saya temui di buku ini. Ilustrasinya menarik, saya suka dengan ilustrasi antar bab dan garis-garis menyerupai buku tulis. Tetapi, ada yang cetakannya kurang pas sehingga menabrak garis, jadi agak terganggu waktu membaca.

Buku ini sebenarnya tidak seram dan masih kurang terasa suasana horrornya. Saya malah jadi kasihan kepada arwah-arwah sedih yang kesepian itu.

Overall, buku ini cukup asyik menemani waktu senggangmu.

Meet the Author

Nama : Ayumi Chintiami
Twitter : @AyumiChintiami
FB : Ayumi Chintiami (ayumi_kudo8@rock.com)
Blog : hitoriko-ayumi.blogspot.com
Penulis Favorit : J.K. Rowling

1. Sejak kapan bisa melihat makhluk halus?

Sejak kecil. Tapi sadarnya pas SMP.

 

2. Megapa memutuskan untuk menuliskan pengalaman Ayumi?

Ingin berbagi pelajaran yg aku dapat dari “mereka”

 

3. Berapa lama proses penulisan buku My Creepy Diary?

Proses pengalamannya 1 tahun. Proses penulisan seriusnya itu 2 bulan.

 

4. Ada pesan khusus yang ingin Ayumi sampaikan melalui buku My Creepy Diary?

Lebih ke pesan “mereka hanya ingin didengar”

 

5. Tips menulis ala Ayumi?

Menulislah dengan jujur.

Mau dapat buku My Creepy Diary? Caranya mudah saja:

1. Berikan pendapatmu mengenai resensi buku My Creepy Diary di kolom komentar.
2. Jangan lupa cantumkan nama, alamat email dan akun Twitter.
3. Pemenang akan dipilih berdasarkan komentar terbaik.
4. Akan ada satu pemenang yang akan dapat hadiah 3 buku horror selama virtual book ini berlangsung.
5. Pemenang yang berhak mendapatkan hadiah adalah yang memberikan komentar di 3 resensi buku horror yang akan diposting selama virtual book ini berlangsung di bulan Desember.
6. Giveaway ditutup tanggal 5 Januari 2014
7. Pemenang akan diumumkan tanggal 7 Januari 2014.
8. Good luck ^^

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on December 29, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 24 Comments.

  1. Saya sebenarnya tidak sering membaca buku horor, tetapi sewaktu membaca sinopsis buku ini di toko buku, saya lumayan merinding. Saya berharap, isinya seram seperti sinospsisnya. Tapi setelah membaca resensi di atas, saya malah lebih tertarik membaca kisah “arwah-arwah sedih yang kesepian” tersebut. Tidak peduli soal horor atau tidaknya.

    Suka sama resensinya. Resensi yang jujur. Suka ya dibilang suka. Ga suka yang disampein bagian nggak sukanya dimana. Terutama di bagian horor/tidaknya. Porsinya seimbang. Tetap ada kritikan untuk penulis namun tetap ada bagian yang membuat pembaca resensi penasaran dan ingin membaca novel ini.

    Nama : Dyah Muawiyah
    Email : dyaahmuawiyah@gmail.com
    Twitter : @dyahmuawiiyah

  2. Saya suka kalo ka yuska nulis resensi,soalnya selalu jujur dan apa adanya, kalo suka ya dibilang bagus tp kalo kurang suka pasti dikasih tau dibagian mana yg ngga suka dan apa alasannya tanpa menjelek jelekan buku tsb. Dan baca resensi my creepy diary ini saya jg jd penasaran sm kisah disetiap babnya yg katanya penulis bisa ngomong sm “mereka”. Gimana rasanya seorang manusia biasa bisa ngomong sm “mereka” yg sudah tiada,pasti ada sensasinya haha.

    Nama : Linda Novianty
    Email : cumee22@gmail.com
    Twitter : @cumee22

  3. resensi yang singkat, padat, dan jelas, karena ada benang merah yang disebutkan^^
    sebagai pembaca jadi mengerti fokusnya buku ini apa.
    cukup buat penasaran, meskipun dalam resensi ditulis kekurangan dari buku ini.
    tidak ‘jleb’, tidak juga ‘wah’ ^ ^

    nama: irnalasari
    email: irnalasari(at)ymail(dot)com
    twitter: @ftsongsh

  4. My Creepy Diary…….bukan my crispy diary~
    Dari judulnya aja udah bikin penasaran. Penasaran sama hidup Ayumi yang bisa liat makhluk gaib dan cara menyelesaikan “masalah” dengan para hantu. Penasaran kelanjutan nasib hantu Hiroshi, Sarah dan ibu meninggal yang diceritain di atas. Reviewnya apik dan menarik :)) lanjutkan!😀

    nama : Azzah Hanifah
    email :azha.4224@gmail.com
    twitter : @azhanifa

  5. Setelah baca review ini,bahasanya ringan dan dengan gamblang menuliskan bebarapa kekurangan buku ini yang dimaksudkan bukan untuk menjelekkan buku tersebut tetapi lebih kepada pembaca yang mmeberi kritik dan saran🙂 Kalau melihat sinopsis dari buku My Creepy Diary lumayan horror dan seram namun setelah membaca review diatas malah saya jadi penasaran bagaimana rasannya penulis berinteraksi dengan “mereka” membantu menyampaikan pesan dari “mereka” dan kisah arwah-arwah sedih yang kesepian.
    Jika membicarakan pengalaman horror bertemu dengan “mereka” saya belum pernah, bersyukur lah yaa, tetapi saya memang suka membaca buku horror dan mistery yang pastinya berhubungan dengan “mereka” makhluk gaib nan halus.
    Untuk Give Away ini, saya benar-benar ingin mendapatkan,membaca,mempunyai,memiliki,menyimpan buku My Creepy Diary ini untuk menemani waktu senggang/luang saya🙂 Semoga saya beruntung😀 *tebar garam* *komatkamitbacajampi-jampikeberuntungan*😀 semangat untuk mengikuti GA untuk saya dan menulis Review untuk mbak Yuska (^.^)9

    Nama : Rissya Mutya Prima
    E-mail : rissyamutyaprima@gmail.com
    Twitter : @RMP2982

    Saya juga sudah follow twitter mbak Yuska,minta follbacknya dong😀 hehe

  6. Dari cara Mbak Yuska meresensi, saya suka. Mulai dari gambar buku, sinopsis, dan juga komentar Mbak Yuska sendiri terhadap buku tersebut. Selain resensinya jelas dan mudah dimengerti secara langsung, juga resensinya yang subjektif namun tetap jujur dan apa adanya. Suka dan tidak sukanya dikatakan, dengan menyebutkan alasannya tentu saja. Terlebih menggunakan bahasa yang mungkin halus tapi tetap mengena. Seperti pada kalimat, “…yang menurut saya terlalu panjang untuk sebuah prolog”. Ada lagi, “Buku ini sebenarnya tidak seram dan masih kurang terasa suasana horrornya. Saya malah jadi kasihan kepada arwah-arwah sedih yang kesepian itu.”

    Tidak seperti di resensi After School Horror kemarin, kali ini Mbak Yuska tidak menjelaskan inti dari tiap ceritanya. “Dan masih ada kisah-kisah lain seputar arwah penasaran yang masih memiliki urusan duniawi yang belum selesai.” Dari kalimat inilah, pembaca akan semakin penasaran terhadap buku My Creepy Diary sendiri, termasuk saya. Dan memang inilah poin utama suatu resensi buku dikatakan baik (menurut yang saya pelajari dalam B. Indonesia).

    Tapi, untuk bagian ‘Meet the Author’, saya kurang greget gitu ya. Inginnya agak lebih banyakkin lagi obrolan dengan penulisnya, agar pembaca juga makin tahu sedikit seluk-beluk pembuatan buku ini😀

    Kalau dari segi di tampilan resensi ini, ehem, apakah ini termasuk komentar atau tidak? Saya suka juga, tapi bagian ‘Book Info’ ada dua kali ter-upload, ditambah akan lebih baik juga kalau tulisannya dibuat rata di kiri dan kanan, biar terlihat rapi. Heheh… Oh ya, satu lagi, biasanya kan Mbak Yuska menambahkan book-o-meter dan sign di bagian bawah, kenapa kali ini tidak ya?

    Tapi…, kalau dari segi penampilan sih tidak terlalu berpengaruh ya, hanya untuk menambah nilai estetis saja.

    Nama : Asy-syifaa Halimatu Sa’diah
    Surel : asysyifaahs@yahoo.com
    Twitter : @asysyifaahs

  7. mbak yuska aku suka mengintip resensimu, aku belajar ‘mencontek’ dari sana juga… bagaimana kesimpelan tapi bisa menggugah, tetap jujur menunjukkan cita rasa buku. walaupun suka/tidak adalah hal relatif, tapi dari membaca resensi orang bisa jadi pertimbangan untuk pingin baca/tidak, apa lagi peresensi itu pembaca yang addicted kaya mbak. aku selalu penasaran berapa banyak kucing, maksudnya bintang diakhir resensimu, selain isi resensinya.
    sepertinya bukune sedang menyebar virus cerita horor ni… hiii, takuuut.. kadang buat sebagian orang, tanpa diminta, tuhan memberi anugrah kemampuan ‘melihat’ apa yang tak bisa dilihat orang lain, aku rasa melalu mata ayumi, si penulis kami bisa meminjam penglihatan itu.

  8. Waaaah, My Creepy Diary, that’s an awesome book, for me🙂 aku udah pernah baca buku satu ini nih. dan review mbak semakin buat aku penasaran dengan berbagai buku genre horor. Karena buku ini juga sih, aku yang dulu bener-bener takut baca buku horor, eh tau nya sekarang semakin mau baca genre satu ini, padahal genre ini bener-bener jauh dari genre aku selama ini. Buku ini sama seperti buku horor pada umumnya, mengisahkan beberapa kisah horor yang pernah dialami sang penulis sendiri ataupun tidak. yang menarik di buku ini juga bagi saya ceritanya yang mencekam..😀 hingga sampai di akhir halaman, saya merasa tetap ingin menimati kisah buku ini.. so cool🙂 jadi pengen baca lagii.. thanks for review and giveaway nya mbak, wish me luck🙂

  9. Review My Creepy Diary yang Mbah Yuska buat selalu keren, kalimatnya to the point tapi enggak mengurangi esensi dari isi bukunya sendiri. Kritikannya yang jujur, tapi enggak ada maksud menyinggung. Kadangkala kalau kritik suka gregeten ya kan, suka malah jadi di hajar abis-abisan sampe enggak sadar bahwa kita udah ngasih kritik yang ‘pedas’. Reviewnya lengkap, ada book infony dan ah ya, ada meet the author’s nya juga. Dan entah kenapa baca review ini bikin rasa takut saya pas liat cover bukunya jadi berkurang, sama seperti mbak yuska membaca reviewnya saja saya merasa kasihan pada hantu-hantu itu, kesan menyeramkannya jadi luntur.

    Saya suka juga kalimat ini, “Menulislah dengan jujur.” dari Ayumi
    Jadi penasaran pengen baca ^ ^

    Mita Oktavia
    @Oktaviamithaa
    greenchochobichocolate[at]gmail.com

  10. Jujur saya kurang suka sama yang horror-horror karena takutnya kayak film indonesia. Vulgar, ga berisi. Tp membaca reviewnya di atas, sy mau nyoba. baca, semoga aja pendapat simple ini membuat saya bisa membacanya. trims.

    Adin dilla
    hapudincreative@gmail.com
    @adindilla

  11. Mbak Yuska dan Ayumi, ikutan komen ya🙂

    Menjadi seorang berlabel “indigo” itu menyenangkan atau tidak? Mungkin ada yang nyaman dengan kelebihan yang dimiliki, tetapi aku yakin ada juga yang tidak nyaman sehingga ingin “membuangnya”. Adalah hak prerogatif mereka apakah ingin memiliki atau tidak. Kalau ingin memiliki, kelebihannya bisa dipakai untuk menolong sesama yang masih hidup di dunia nyata atau pun yang telah berada di alam arwah. Teman-temanku yang dikaruniai kelebihan itu so far memilih berdamai dengan kondisinya dan membiarkan anugrah itu menempel pada mereka (setidaknya sampai saat ini). Malah, mereka kerap berbagi cerita berkaitan dengan pertemuannya dengan makhluk astral (meminjam istilah yang sering dipakai dalam sebuah acara televisi).

    Aku bukanlah seorang indigo. Namun, ada saat di mana aku dapat kesempatan untuk merasakan bahwa dunia lain itu ada. Nggak sampai ngeliat, sih, cuma merasakan hal-hal di luar nalar terjadi. Begitu pun dengan adanya makhluk astral . Yang pernah aku “tangkap” hanyalah sekelebatan bayangan. Ada yang putih, ada yang hitam. Pun, aku pernah bangun tengah malam, sekitar jam 3 dan baru bisa tidur lagi setelah azan Subuh berkumandang. Ada semacam kelegaan yang luar biasa ketika mendengan suara azan. Aku bisa kembali tidur dengan nyenyak.

    Peristiwa di luar nalar itu kebanyakan terjadi di rumah. Namun, dulu aku pernah mengalami waktu KKN. Pun, waktu aku mengerjakan skripsi di malam hari. Nggak tahu kenapa, tiba-tiba merasa takut yang luar biasa. Buatku, untuk nambah pengalaman aja. Buat bahan cerita-cerita pas ngumpul sama teman🙂 Pengalamanku memang belum ada apa-apanya dibanding Ayumi tapi setidaknya kita sama-sama pernah punya pengalaman🙂

    Membahas soal buku “My Creepy Diary”, menurutku buku ini juga masuk kategori horor, kok. Masing-masing punya pendapat ya, soal buku atau cerita yang masuk kategori horor itu yang seperti apa?

    Ketika membaca review, terutama pada bagian “blurb”, aku menemukan typo yang bertebaran. Apakah Mbak Yuska copas typo dari bukunya langsung atau menjadi pelaku typo? Ini dia typo yang berhasil kutangkap.

    1. Saat itu, aku hanya bisa diam…, bahakn terlalu takut untuk berteriak.

    2. Sampai aku menadari…, mereka menginginkan sesuatu dariku.

    Selain itu, pemakaian kata “horror” kok kebawa Bahasa Inggris, ya. Setahuku, dalam Bahasa Indonesia, horror —> horor

    Itu dulu aja. Besok dilanjut lagi. Udah malam, ngantuk🙂
    Terima kasih.

    Nama: Ratri Ade Prima Puspita
    Email: ratri_ad26@yahoo.co.id
    Akun Twitter: @ratweezia

  12. Hai Mbak Yuska🙂
    Ikut komen ya..
    Review-nya cukup oke. Apalagi ada tambahan info dari temu langsung dengan pengarangnya (Meet the Author). Saya jadi bisa mengerti bagaimana kehidupan seseorang dengan aura Indigo. Dari review ini cukup menggambarkan kualitas buku secara keseluruhan. Walau ada beberapa kekurangan dari buku ini (seperti typo dan garis halaman -> masalah teknis) namun sepertinya tidak mengurangi keseruan buku ini. Walau nuansa horornya belum dapet, tapi poin plusnya buku ini membahas tentang arwah dari sudut pandang yang berbeda. Arwah juga ingin menyampaikan pesan, nah orang dengan kemampuan Indigo bisa menjadi media untuk menyampaikan pesan atau misteri yang terkubur bersama arwah. Sebenarnya orang dengan kemampuan Indigo berpotensi membantu polisi menyelidiki dan mengungkap beberapa kasus kematian yang masih belum terungkap dengan komunikasi dengan arwah (itupun kalau arwahnya berkenan ‘diinterogasi’ yaaa :p).

    Salut dah buat Mbak Yuska yang selalu update. Thanks for giveaway-nya🙂

    Regards,
    Anisa Listya
    listya_anisa@yahoo.com
    @417154

  13. Satu yang langsung terpikir oleh aku, reviewnya jujur. Kalo ga suka ya bilang ga suka, dan kritikannya ga bikin penulis down. Kak Yuska berhasil memberitahu apa isi bukunya, tapi ga spoiler. Dan malah membuatku ingin membaca buku itu. Ya walaupun kata kak Yuska ga seram, tapi kurasa ceritanya boleh juga karena mirip cerita2 horror di film/serial luar negeri.

    Kak Yuska juga memperhatikan bgt hal2 detailnya, tentang typo, ilustrasi, sampe cetakan yang kurang pas. Wow, kalau aku jadi kakak, mungkin aku ga akan seniat itu bikin review ._.

    Aku suka deh yang tulisan ‘Book Info’, ‘Book Blurb’, dan ‘Thoughts’.. itu bikinnya gimana?! *maaf kudet hehe ._. Oh ya,Buat yang part ‘Meet the Author’ kok dikit banget kak? Jawaban kak Ayuminya juga singkat bgt. Mungkin untuk kedepannya, di review buku lain bisa diperbanyak dan dibuat lebih menarik kalau kakak dan authornya lagi ga begitu sibuk😀

    Ceritanya bagus, walaupun udah mainstream. Menolong arwah menyampaikan pesan kepada orang2 terdekat mereka. Tapi ini menurut aku doang atau gimana ya? Kayaknya keseluruhan isi buku hanya menceritakan kak Ayumi yg disamperin arwah2 yang kesepian lalu kak Ayumi bantu, kalau berhasil arwahnya bisa tenang, kalau tidak mungkin ‘dia’ akan terus menganggu kak Ayumi. Agak bored ga sih kak? Hehehe:/
    Tapi pas membaca book blurb nya dan melihat gaya penulisan kak Ayumi, enak kok buat dibaca dan dipahami, jadi poin plus :))

    Fabiola Izdihar
    fabiolafabulous@gmail.com
    @wolfhan88

  14. diaan fitrianty

    aku sebenernya gak begitu suka sama buku horor malah justru ‘menghindar’ dari buku2 berbau horor seperti ini karna aku orangnya penakut…. jujur aja my creepy diary jd sinopsis buku horor pertamaku..

    dari sinopsisnya sih keliatan serem kali yaa.. tapi setelah baca kebawah yg ‘Mereka hanya ingin didengar’ aku lebih berfikir ke isi buku yg mengungkap hal-hal yg tak terfikirkan selama ini tentang dunia lain yg ingin didengar dan dimengerti bukan lg ke sisi horornya..
    kayaknya sih novel ini gak terlalu horor berat kali yaa.. dilihat dr penulisan yg easy going jg dr tema yg bisa dilihat kalo cerita ini diambil dr pengalaman dan lebih ke percakapan kali yaa..

    dari cerita yg diambil dr pengalaman itu aku jd ngerti kalau orang2 yg mempunyai kelebihan itu gak selalu jd beban, bisa dimanfaatkan seperti kak ayumi dengan membagi cerita2 yg dialaminya melalui novel..

    dr ‘meet author’ diatas bisa disimpulkan kalo kak ayumi itu orang yg ngomongnya sedikit dan bermakna.. gila kak itu ngomongnya sedikit banget tp sangat berbobot.. suka sama pemilihan bahasa dan cara penyampaiannya..

    finally aku berharap 3 novel ini bisa mampir ke library aku.. jd buku horor pertama aku.. semoga🙂

    Diaan fitrianty
    @diaan_diuun
    diaan_fitrianty@yahoo.co.id

  15. Kisah Ayumi ini setipe dengan kisah Risa di Danur ya? Tentang memiliki kelebihan indra keenam Jadi keinget, ada sepupu yang juga punya pengalaman seperti ini. Terkadang, ‘mahluk-mahluk’ tak terlihat itu hanya ingin mencari perhatian, mereka kesepian.

    Suka ama reviewnya, singkat padat jelas. Gak spoiler. Nilai plusnya adalah ada sedikit wawancara dengan penulisnya.

    Luckty Giyan Sukarrno
    emangkenapa_pustakawin[at]yahoo[dot]com
    @lucktygs

  16. Simpel, nggak bertele-tele, langsung menggambarkan intinya.
    Yang seperti ini terasa lebih enak.
    Karena ini berdasarkan pengalaman, pasti ceritanya nggak dibikin alay lebay yang diserem-seremin. Mungkin itu yang bikin kurang seram. Aku cukup penasaran sama buku ini. Karena beberapa kali baca novel horror aku malah merasa meraka terlalu berlebihan menceritakannya.

    Dian S
    @DeeLaluna
    dian_putu26@yahoo.com

  17. to the point banget reviewnya kak yuska yg ini. yg di blurb ada typo yaa. tapi gpp slama masih bisa dibaca .

    karna blm prnh baca buku dr pnglmn pribadi , jd pngn bgt baca ini. Karna aku suka novel apapun , jd aku tertarik baca ini. karna akhir akhir ini bnyk novel horor indonesia.

    lita andriana
    @Litaa_FAN
    yangchen85@yahoo.com

  18. Kisah horor dengan bentuk buku harian. Nilai plus nih. Kayaknya keren. Jadi pengen. (baca: ngarep dikasih mbak Yuska😀 )
    Untuk komentarnya, resensinya ini sudah keren. Saya lebih suka yang ini dibanding After School Horror. Resensinya loh mbak maksutnya. (baca: takut penulisnya tersinggung) Yang ini lebih singkat, padat, jelas, dan ngena. Point plusnya jelas. Fokus. Cuma kurang dikit aja. Mungkin akan lebih baik kalau penilaiannya―kurang lebihnya ditambah dan lebih intrik lagi.😀 Just that’s. Over all is very okay. Sukses terus buat blognya yang bermanfaat mbak Yuska.😀

    Salam,
    Reny Ariani (aryan.renny@gmail.com)
    @rennythaa

  19. Seperti biasa, Mbak Yuska selalu berhasil membuat resensi yang apik tanpa membuka seluruh isi cerita; dan itu masih menjadi magnet bagi saya untuk membaca keseluruhan isi cerita. Kemudian, poin plus buat resensi ini (menurut saya) adalah jumpa dengan penulis langsung dan mengadakan beberapa “tanya jawab” yang semakin membuat resensi ini terlihat apik dan cantik.

    Untuk buku “My Creepy Diary” sendiri, saya rasa ini adalah buku yang luar biasa. Kenapa? Kerena ini berdasarkan kisah nyata dan langsung ditulis oleh penulisnya sendiri. Apalagi dengan resensi yang Mbak Yuska tuliskan membuat saya semakin dan semakin lagi terdorong untuk membacanya. ^^

    Tertanda,
    Luqyana (luqyanafarah@gmail.com)
    @Lqyana

  20. kalau di lihat cerita nya menarik kan dari pengalaman masa lalu kan kalau di lihat pengalaman masa lalu melihat makhluk halus dan berinteraksi dengan mereka itu sepertinya menarik banget dan baru menyadari pas smp apa rasanya yah merinding banget semoga bukunya laris di mana mana ya

  21. Ni Putu Ananda Puspita Sari

    My Creepy Diary. Dari judulnya aja udah bikin penasaran. Dan ternyata memang seru ceritanya. Walaupun awalnya agk takut juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: