[Book Review] The Fifth Mountain by Paulo Coelho @Gramedia

book_info202535899_largeJudul: The Fifth Mountain (Gunung Kelima)
Penulis: Paulo Coelho
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: September 2013
Tebal: 320 halaman
ISBN: 978-979-22-9838-3
Edisi: 25th Anniversary
Kategori: Novel
Genre: Sastra, Spiritual, Historical Fiction
Beli di: Bazaar Gramedia @ Giant Bintaro Sektor 7
Harga: IDR 20,000
Kalimat pertama:
Pada awal tahun 870 S.M., negeri bernama Fenisia, yang oleh bangsa Israel disebut Lebanon, telah hampir tiga abad berdiri dalam damai.

book_blurbBuku ini mengisahkan percobaan-percobaan yang dialami Nabi Elia yang ketika itu berusia 23 tahun. Merasa terancam oleh Ratu Izebel yang hendak membunuhnya, Elia melarikan diri dari Israel ke kota Akbar yang indah, menumpang di rumah seorang janda dan anak laki-lakinya. Ketika kota itu terancam peperangan, Elia berseru pada Tuhan agar menyelamatkan kota itu dan penduduknya, tapi Tuhan seakan tidak mendengar. Ketika dia meminta Tuhan menyelamatkan perempuan yang dicintainya, Tuhan pun seakan memalingkan muka tak peduli. Segala pencobaan ini membuat Elia mempertanyakan kasih dan kemurahan hati Tuhan, dan mendorongnya mengambil satu keputusan: menentang Tuhan sampai Dia memberikan jawaban.

Meski cerita ini diambil dari cuplikan episode di Alkitab, temanya bersifat universal, yakni membahas hubungan antara manusia dengan Tuhannya, dan betapa pentingnya iman serta harapan. Seperti Elia, saat kemalangan datang silih berganti, kita pun sering kali bertanya-tanya, “Kenapa ini terjadi pada saya?” “Kenapa Tuhan tidak mendengar doa saya?”Ada orang-orang yang menjadi lebih kuat setelah mengalami kemalangan, ada pula yang langsung menyerah dan tak mau bangkit lagi. Ada yang jadi meninggalkan Tuhan, Ada pula yang jadi lebih dekat dengan Tuhan.

Tema itulah yang diangkat oleh Paulo Coelho dalam The Fifth Mountain dengan sangat menyentuh. Seperti buku-buku Coelho lainnya, The Fifth Mountain adalah buku yang memberikan inspirasi bagi para pembacanya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

thoughtsSetelah membaca buku Mitch Albom, saya seperti diseret untuk membaca lagi buku spiritual. Pilihan saya adalah buku The Fifth Mountain, yang menurut banyak anak BBI bagus.

Bab dibuka dengan adegan Elia bersama orang Lewi yang bersembunyi di kandang kuda selama dua hari. Saat itu awal tahun 870 S.M. di Fenisia (Lebanon). Raja Ahab memperistri putri Izebel dari Tirus yang menyembah Baal. Setelah ratu naik tahta, ia menginginkan semua rakyat Fenisia menyembah Baal untuk menggantikan Allah Israel. Hadiah diberikan kepada orang-orang yang mau meninggalkan Tuhan untuk mrnyembah Baal. Orang-orang yang menolak tawaran tersebut diburu lalu dibunuh, termasuk Elia.

Sejak kecil, Elia dapat mendengar suara malaikat dan diberikan penglihatan. Ketika ia bekerja di bengkel tukang kayu, tiba-tiba pandangannya gelap. Ia mendengar suara kuasa yang besar yang mengatakan bahwa Fenisia akan mengalami kekeringan yang panjang, namun semua akan berubah kalau orang-orang berhenti menyembah Baal.

Elia, seorang nabi, memberitahukan kabar tersebut kepada raja. Ketika Elia memyampaikan hal tersebut pada raja, yang mendengarkan dengan saksama adalah ratu Izebel.

Setelah itu, Izebel meminta raja Ahab untuk memburu nabi dan membunuhnya karena dianggap berbahaya.

Ketika prajurit utusan Ahab diperintahkan untuk membunuh Elia, Tuhan tidak mengijinkan adanya pembunuhan tersebut. Sebanyak empat ratus lima puluh nabi tewas terbunuh, sementara busur yang ditujukan kepada Elia nyasar. Elia selamat, namun ia harus meninggalkan desa Gilead untuk menyelamatkan diri.

Dalam pelariannya, Elia bertemu dengan gagak dan janda miskin yang menjadi penolongnya. Menurut perkataan malaikat, jika janda tersebut menolong Elia, maka janda tersebut tidak akan kekurangan makanan hingga turun hujan.

Berita tentang kedatangan Elia terdengar hingga ke telinga imam agung kota Akbar. Elia dipersilahkan untuk tinggal di sana setelah mendengar bahwa Elia adalah penyembah Allah Yang Esa yang sedang diburu oleh ratu Izebel. Menurut mereka, harga kepala Elia sangat mahal, jadi mereka akan menyerahkannya pada pemimpin Fenisia itu suatu hari nanti.

Ketika anak si janda miskin jatuh sakit, penduduk Akbar berpendapat itu gara-gara si janda yang menerima kehadiran Elia. Dewa-dewa penunggu puncak Gunung Kelima murka. Elia berdoa tiada henti, memohon kesembuhan anak itu. Namun, anak tersebut tak kunjung pulih.

Si janda memohon kepada Elia agar ia memyembuhkan anaknya. Si janda tahu bahwa kepala Elia sangat mahal dan ia bersumpah akan meloloskan Elia melalui rute rahasia yang diketahuinya. Si janda juga berjanji jika Elia berhasil menyembuhkan anaknya, ia akan ikut menyembah Tuhan. Keajaiban datang, anaknya mulai bergerak. Tak lama kemudian anak itu mati.

Penduduk kota Akbar membawa Elia ke hadapan Imam Agung untuk diadili. Elia dianggap membawa kutuk bagi anak si janda. Elia diminta untuk menaiki Gunung Kelima untuk memohon kepada dewa-dewa di sana. Jika dewa tidak memurkainya dan Elia berhasil turun gunung, maka Imam Agung yang akan menghakiminya. Sesuai tradisi, jantung Elia akan direnggut dan kepalanya akan dipenggal. Menurut kepercayaan kuno, orang yang jantungnya direnggut tidak bisa masuk surga.

Iring-iringan Elia menuju Gunung Kelima mengingatkan saya akan peristiwa iring-iringan Yesus menuju bukit Golgota. Ia menerima hinaan, demikian juga Elia. Ia dilempari batu dan dihina oleh penduduk kota Akbar.

Elia bertanya kepada Tuhan tentang kemalangan yang dideritanya. Ia telah melaksanakan perintah-Nya, namun Tuhan masih mengambil nyawa anak itu. Ketika Elia mendaki menuju puncak, seberkas cahaya turun ke arahnya. Cahaya tersebut adalah malaikat utusan Allah. Ia menyuruh Elia untuk turun gunung dan meminta kepada Tuhan untuk menghidupkan anak itu sebanyak tiga kali.

Sesuai janji malaikat tersebut, anak itu membuka matanya dan menemui ibunya. Pelayat di rumah si janda beserta pengawal takjub, lalu mereka semua berlutut. Namun mereka tidak percaya bahwa Tuhan yang menghidupkan anak itu, melainkan para dewa penghuni Gunung Kelima.

Elia kembali mengalami dilema. Ia tidak tahu caranya untuk memberitahu orang-orang tentang mukjizat dan kekuasaan Tuhan. Malaikat kembali berbicara kepadanya untuk bertahan dan tetap memuliakan Tuhan walau hingga ia kembali ke ke desanya, tidak akan ada keajaiban yang akan terjadi lagi karena Tuhan membutuhkan Elia untuk membangun Israel kembali.

Buku ini sarat perenungan. Orang suci seperti Elia bisa ragu, takut, frustrasi, menyumpahi, galau, dan meninggalkan Tuhan karena Elia merasa Tuhan hanya memberikan penderitaan padanya dan orang-orang disekitarnya. Elia bahkan merasa Tuhan meninggalkannya, apalagi ketika kota Akbar hancur berkeping-keping karena serangan bangsa Asyur.

Saya sempat bertanya apakah semua nabi galau? Reaksi teman-teman di Twitter rata-rata mengatakan iya. Nabi adalah manusia juga yang merasakan fase keragu-raguan, apalagi menyangkut kepentingan umat manusia. Seperti halnya Elia, yang kadang kurang peka terhadap perkataan dan perintah Allah.

Buku ini membuat saya belajar untuk menerima semua cobaan yang diberikan Tuhan. Saya mencoba untuk melihat cobaan tersebut bukan dari kacamata penderita atau korban, tetapi dari sisi yang memberikan cobaan tersebut. Ada kalanya teguran keras dan cobaan justru malah membuat kita menjadi ‘runcing’ dan ‘halus’, seperti pensil yang diraut. Prosesnya menyakitkan, namun setelahnya kita menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Rangkaian kata yang disusun Coelho juga indah, sangat indah. Iman adalah hal yang luar biasa, dan Coelho mampu merangkainya jadi lebih indah lagi.

Doa-doa yang dipanjatkan juga hendaknya bukan doa-doa yang egois. Saya tersentuh dengan Elia yang berdoa tiada henti demi kesembuhan anak si janda dari kota Akbar. Tuhan menyukai doa-doa tulus.

Saya jadi ingin membaca semua buku karya Paulo Coelho dan mengoleksinya. Kelak saya akan mewariskan buku-buku tersebut kepada AJ.

quotes

Hampir semasa hidupnya, manusia tidak berkuasa membuat keputusan. (hal. 36)

Jiwa manusia, seperti halnya sungai dan tanaman, juga membutuhkan hujan, meski dari jenis berbeda: harapan, keyakinan, alasan untuk hidup. (hal. 38)

Sering kali nasib manusia tidak ada kaitannya dengan keyakinannya ataupun ketakutan-ketakutannya (hal. 83)

Memang tidak ada seorang pun yang mempunyai kekuatan. Tapi semua orang memiliki kekuatan dari Tuhan, dan tidak menggunakannya. (hal. 87)

Dari segala macam senjata penghancur ciptaan manusia, yang paling berbahaya-dan paling kuat-adalah kata-kata. (hal. 92)

Adat-istiadat gunanya untuk mengatur dunia ini. Kalau kita mengotak-atiknya, dunia ini akan berantakan. (hal. 111)

Tuhan mendengarkan doa orang-orang yang minta dijauhkan dari kebencian. Tapi Dia menulikan diri dari orang-orang yang hendak melarikan diri dari cinta. (hal. 125)

20131206-071243.jpg

Need a second opinion?

Althesia
Dicta

Until next time ^^

20131128-083529.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on December 9, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. aku juga suka sama buku ini, menampilkan Elia bukan sebagai sosok nabi yang perkasa dan magical…tapi lebih ke Elia sebagai manusia yang juga memperjuangkan keinginannya dan tawar menawar dengan Tuhan..

    reviewku disini : http://althesia.blogspot.com/2011/06/review-fifth-mountain-gunung-kelima.html

    • Iya, pembaca jadi paham kalau nabi juga manusia, banyak kelemahannya.

      Cuma bedanya kalau nabi memang urusannya menyangkut orang banyak.

      Aku mau baca buku Coelho yang lain. Pengalaman pertama yang menyenangkan.

      Terima kasih sudah berkunjung.

      Sent from my iPad

  2. walaupun berbeda agama, aku akui buku Paulo Coelho memang menginspirasi juga karena sifat universalnya🙂
    pada intinya sama saja, Tuhan tetap segalanya dan Maha Berkuasa. Hanya tinggal bagaimana iman seseorang.
    Keren kak reviewnya, aku suka aku suka😀

  1. Pingback: End of the Year 2013 Readathon | lustandcoffee

  2. Pingback: End of the Year 2013 #ReadingCram – Teaser Challenge | lustandcoffee

  3. Pingback: End of the Year #ReadingCram: Top Ten Books in 2013 | lustandcoffee

  4. Pingback: [Book Review] Brida by Paulo Coelho – Secret Santa | lustandcoffee

  5. Pingback: [Book Review] Queen, Empress, and Concubine by Claudia Gold | lustandcoffee

  6. Pingback: 12 Tahun Gagasmedia #TerusBergegas @Gagasmedia | lustandcoffee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: