[Book Review] Have a Little Faith by Mitch Albom

book_info7790549Judul: Have a Little Faith (Sadarlah)
Penulis: Mitch Albom
Penerjemah: Rani R. Moediarta
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: November 2009
Tebal: 284 halaman
ISBN: 9789792251142
Kategori: Non Fiksi
Genre: Spiritual, Agama
Beli di: Obralan Gramedia Lotte Mart, Bintaro
Kalimat pertama:
Awalnya adalah pertanyaan.

book_blurb

Kisah ini diawali dengan permintaan yang tidak biasa dari seorang rabi tua dari kampung halaman Albom, yang memintanya memberikan eulogi pada hari pemakamannya kelak. Demi mengenal lebih dekat rabi tua itu, Albom mulai mengunjunginya; kunjungan yang membawanya ke dunia religius yang telah ia tinggalkan bertahun-tahun lalu. Sementara itu, ia juga terlibat dalam karya kemanusiaan seorang pastor Detroit-bekas pengedar narkoba, pemabuk, sekaligus narapidana yang telah bertobat-yang memberikan pelayanan bagi orang-orang miskin dan gelandangan di sebuah gereja tua yang bobrok.

Mondar-mandir di antara dua dunia: Afro-Amerika dan kulit putih, kemelaratan dan keberlimpahan, ia melihat bagaimana dua orang yang sangat berbeda ini sama-sama bekerja berdasarkan keyakinan mereka demi keselamatan. Bersama keduanya, ia mengeksplorasi masalah-masalah yang membelit manusia modern: bagaimana bertahan di saat berbagai kesulitan mendera, apakah surga itu sungguh ada, perkawinan campur, pengampunan, keraguan akan Tuhan, dan pentingnya iman dalam masa penuh percobaan.

Di luar perbedaan yang ada, ia mulai menemukan suatu kesatuan yang mencengangkan di antara dua dunia itu, dan tentunya juga antara berbagai keyakinan di mana pun. Ia akhirnya memahami apa yang telah diajarkan kedua lelaki itu: penghiburan Ilahi karena percaya kepada sesuatu yang lebih besar daripada diri kita.

Have a Little Faith adalah buku tentang tujuan hidup; tentang kehilangan iman dan menemukannya kembali; tentang cahaya Ilahi di dalam diri kita; tentang perjalanan iman seorang manusia, namun juga merupakan kisah kita semua.

thoughtsSelama ini buku-buku Mitch Albom hanya menjadi penghias rak buku, belum pernah tersentuh. Kebetulan bulan ini adalah bulan yang bikin mellow karena bertepatan dengan perayaan Natal, saya memutuskan untuk membaca buku ini sambil mencari tahu kenapa buku-buku Mitch Albom bisa mengubah hidup banyak orang.

Adegan dimulai dengan permintaan seorang rabi, pemuka agama, yang meminta Mitch muda untuk menyampaikan eulogi pada pemakamannya. Rabi tersebut sudah berusia 82 tahun. Mitch setuju asalkan ia diperkenankan untuk dekat dengan rabi tersebut sebagai manusia, bukan sebagai pemuka agama atau orang suci. Rabi yang kerap dipanggil ‘The Reb’ (jadi ingat The Rev), setuju.

The Reb adalah pemuka agama yang taat. Ia menjalankan ritual keagamaan monoton, tapi ia bahagia melakukannya. Ia merasa dengan menjalankan ritual dan rutinitas monoton itu ia merasa terhubungkan dengan kehidupan kakek-nenek dan juga orangtuanya, dan kelak kepada penerusnya.

Mitch yang sudah lama tidak menjalankan ritual masih memiliki pertanyaan esensial: mengapa Reb memilihnya sebagai bagian dari kematiannya, sementara ia berpikir Reb mungkin kecewa padanya sebagai jemaat.

Ada juga kisah Henry yang menerima Yesus sebagai juru selamatnya, namun imannya mengendur. Seperti anak muda lainnya, Henry melakukan kenakalan. Hidupnya berubah ketika Willie, ayahnya, meninggal dunia karena pembengkakan paru-paru dan tuberkulosis di otak. Saat itu Henry berusia 14 tahun. Serelah kehilangan ayah yang dipujanya, Henry bertekad untuk mendapatkan apa pun yang ia inginkan.

Henry mencuri mobil dengan abangnya. Ia juga menjadi penjambret tas, mengutil di toko, juga melakukan perampokan bersenjata ketika seharusnya ia duduk di bangku SMA.

Nasib naas menimpa Henry. Karena kejahatan yang diperbuatnya, Henry menciptakan musuh di mana-mana, membuatnya terseret dan dijebak sebagai pelaku pembunuhan. Ketika itu usianya 19 tahun.
Bukannya menyanggah, Henry yang merasa ‘pintar’ mengarang-ngarang cerita bohong tentang kejadian dan pelaku pembunuhan. Ketololannya membuatnya divonis tujuh tahun penjara, untuk kejahatan yang tidak dilakukannya.

Di dalam penjara, Henry frustrasi. Ia tidak bersalah tapi harus disiksa, belum lagi serangan dari sesama napi. Henry bertanya pada Tuhan, mengapa ia tidak mati saja ketika bayi. Sekilat cahaya menunjuk pada Alkitab, dan kitab Ayub terbuka. Henry membaca ayat tentang Ayub yang menyesali kelahirannya. Selama ini Tuhan selalu bicara padanya, namun ia tidak pernah mendengarkan. Ia yang diberi kesempatan kedua, masih melakukan kejahatan hingga di suatu titik, hidup Henry mengalami perubahan yang dahsyat.

Saya setuju dengan pendapat sebagian besar pembaca yang memberi testimoni bahwa buku untuk mengubah hidup mereka. Buku ini juga memberi pencerahan iman. Saya merasa tersentil dan tersentuh dengan kisah-kisah Reb dan Henry, juga perawat di RS yang menelepon Reb diam-diam karena ada pasien yang sekarat.

Seiring kemajuan jaman, orang-orang lebih sering berinteraksi via email atau social media. Teknologi menghubungkan manusia satu dengan lainnya, tapi hubungan itu hanya hubungan statis tanpa melibatkan emosi atau perasaan, apalagi kedamaian.

Reb pernah mengeluh tentang betapa memiliki keluarga di jaman sekarang adalah anugerah. Dulu, Reb suka datang ke rumah-rumah untuk menghibur keluarga yang berduka, orang yang kena PHK, atau orang yang sedang sakit. Tingkat kepedulian antarmanusia sudah berkurang. Sekarang, jika Reb melakukan hal yang sama, ia dianggap kepo atau mengganggu privasi.

Saya sangat tersentuh dan mulai mellow, menyadari bahwa betapa jarangnya saya berinteraksi langsung dengan orang lain (kecuali keluarga di rumah), seolah-olah membuat saya jadi semacam makhluk anti-social. Tapi, keadaan kadang susah untuk diubah.

Setelah membaca buku ini, saya juga sadar bahwa saya harus meluangkan waktu lebih banyak untuk Tuhan, mengasihi sesama, dan menjadi manusia yang tulus ikhlas (saya jadi menitikkan air mata).

Saya ingin membaca buku Mitch Albom lainnya.

Secara keseluruhan, buku ini bisa dibaca oleh siapa saja, tidak terbatas pada penganut agama Kristen atau Yahudi. Buku ini tidak membahas anjuran untuk melakukan ritual agama tertentu, tetapi betapa pentingnya iman untuk manusia. Kita juga harus mulai belajar peka terhadap ucapan Tuhan, sapaan sederhana melalui orang lain yang kadang tidak kita sadari.

Bagian yang paling saya sukai dari buku ini:

Secara pribadi, aku selalu merenungkan para pengarang dan selebriti yang dengan lantang menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Biasanya mereka melakukannya saat mereka masih sehat dan populer dan didengarkan oleh para penggemarnya. Apa yang terjadi, aku bertanya-tanya, dalam saat-saat hening menjelang ajal? Saat itu, mereka telah kehilangan panggung, dunia terus berputar meninggalkan mereka. Jika tiba-tiba saja, pada tarikan napas terakhir, lewat rasa takut, lewat penampakan, pencerahan yang terlambat datang, mereka berubah pikiran tentang Tuhan, siapa yang tahu? (hal. 85-86)

Semoga semakin banyak orang yang diberi pencerahan, apa pun agama yang dianutnya. Love is great. Iman, kasih, dan pengharapan itu indah dan bisa menyelamatkan dunia.

quotes

Manusia senang lari dari Tuhan. Itu sudah tradisi. (hal. 6)

Kalau kau orang Yahudi, kau semestinya tidak membicarakan Yesus atau mungkin bahkan jangan melihat Yesus. (hal. 31)

Iman itu berkaitan dengan melakukan. Siapa dirimu bergantung pada tindakanmu, bukan hanya apa yang kauyakini. (hal. 48)

Itulah iman. Jika orang meludahi wajahmu, kau katakan itu pastilah hujan. Tetapi, kau akan tetap kembali lagi esoknya. (hal. 51)

Ego adalah ancaman terbesar bagi para pemimpin agama. (hal. 63)

Tiap orang adalah bagian dari hidup orang lain. Kalau ada seseorang yang akan tergelincir, yang lain akan menahannya. (hal. 67)

20131206-071243.jpg

Need a second opinion?

Mia Membaca here
Kris Mariana here
Lara’s Book Club here

Until next time

20130330-114856.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on December 6, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 8 Comments.

  1. Kak Yuska review bukunya Mitch Albom! >< makin tambah menumpuk deh tumpukan want-to-read nya Mitch Albom saya :') Setuju banget sama kutipan soal meyakini itu berarti dalam apa yang dilakukan :') Tema yang punya esensi universal dan dalem :') Terima kasih kak🙂

  1. Pingback: [Book Review] The Fifth Mountain by Paulo Coelho @Gramedia #ResensiPilihan | lustandcoffee

  2. Pingback: End of the Year #ReadingCram: Top Ten Books in 2013 | lustandcoffee

  3. Pingback: [Book Review] Tuesdays with Morrie by Mitch Albom @Gramedia | lustandcoffee

  4. Pingback: 12 Tahun Gagasmedia #TerusBergegas @Gagasmedia | lustandcoffee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: