[Book Review] Warna Tanah by Kim Dong Hwa

book_info

20131121-110638.jpg

Judul: Warna Tanah (Trilogi Warna #1)
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Editor: Tanti Lesmana
Illustrator: Kim Dong Hwa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juli 2010
Tebal: 320 halaman
ISBN: 978-979-22-5927-8
Kategori: Novel Grafis
Genre: Family, Sex Ed, Romance, Korean Culture
Beli di: Bukabuku.com
Kalimat pertama:
Yang itu bermaksud mencuri si kumbang betina dari pasangannya.

book_blurbTrilogi indah tentang cinta pertama dan kesempatan-kesempatan kedua.

Melukis kehidupan para wanita dengan hujan dan bunga.

Warna Tanah menceritakan kehidupan dan dunia dari mata dua generasi perempuan: Ehwa, gadis cilik yang tinggal bersama ibunya, janda di Namwon. Ehwa baru saja memulai perjalanannya menjadi seorang wanita. Bersama setiap musim hujan, Ehwa kecil semakin matang dalam pikiran maupun tubuh. Ehwa dan ibunya sama-sama bertumbuh dan berubah, namun ikatan yang sangat dalam di antara ibu dan anak ini membuat mereka saling mendukung dalam menghadapi dunia dan lingkungan sekitar yang tidak selalu ramah.

Kim Dong Hwa telah menghasilkan banyak novel grafis yang cemerlang. Dalam Warna Tanah, Mr. Kim mencurahkan segenap talentanya untuk menciptakan kisah yang unik dan tak terlupakan, sarat dengan referensi kultural serta gambar-gambar indah.

thoughtsSaya membaca kembali novel grafis ini karena ada event Baca Bareng BBI tema Novel Grafis. I was mesmerized by this series. Salah satu novel grafis paling indah walau kontennya untuk pembaca dewasa.

Warna Tanah dibuka dengan adegan dua kumbang jantan yang memperebutkan kumbang betina. Yang menang bisa mendapatkan kumbang betina. Hukum rimba banget ya. Coba bayangin kalau hukum tersebut berlaku untuk manusia. Bisa-bisa arena gladiator dibuka lagi.

Balik lagi ke kumbang, ibu Ehwa yang janda memiliki kedai minum. Ia digosipkan mau menerima siapa saja atau dengan kata lain genit. Dua remaja yang menyaksikan ‘pertarungan’ kumbang menyamakan kumbang betina dengan ibu Ehwa. Tentu saja ibu Ehwa sedih dikatakan demikian. Ia mengibaratkan laki-laki yang seperti kumbang yang mengerubungi wanita.

Sebelum hujan turun, Ehwa diajak adu pipis paing jauh dengan dua anak laki-laki. Ehwa yang belum mengerti merasa sedih karena tidak punya ‘burung’.

Saya suka dengan penjelasan seks yang tidak vulgar namun mengena di buku ini. Footnote-nya juga banyak mengupas tradisi Korea yang berbau seksual. Misalnya, wanita yang menuangkan anggur untuk lelaki berkonotasi tunduk pada dominasinya (jadi inget BDSM ya) atau mau melayani keinginan laki-laki. Yah, konotasi yang berbau seksual, memang. Namun, tidak hanya di Korea, di belahan dunia mana pun alkohol dan bar memang dibumbui wanita penggoda. Konotasinya seperti itu.

Lalu, ada penjelasan tentang pohon ginko. Jika pohon betina menatap pohon lelaki, ia akan berbuah. Ketika Ehwa membahas hal ini dengan ibunya, tiba-tiba rumah mereka kedatangan tamu asing yang kelak akan mengubah hidup ibu Ehwa.

Ada hasrat seksual yang terpendam dan digambarkan melalui simbol pohon labu. Untuk mengetahuinya, sebaiknya membaca buku ini ^^

Ehwa yang beranjak remaja mulai mengenal cinta. Ia naksir seorang biksu bernama Chyung Myung. Si biksu juga mengalami pubertas. Bukannya Buddha yang ada di pikirannya, melainkan wajah Ehwa. Tentu saja si biksu mendapat omelan dari biksu kepala.

Ada bab menarik tentang menstruasi. Ketika Ehwa mendapat haid untuk pertama kalinya, ia berpikir bahwa ia akan mati. Saya jadi teringat ketika ibu saya mengetahui tentang hal ini. Beliau langsung rempong membelikan saya seperangkat jamu remaja yang wajib diminum. Ibu memang sahabat terbaik gadis remaja *jadi terharu*

Ada resep kecantikan Korea yang pernah diberikan oleh ibu saya. Orang Korea suka sekali meminum air beras dan memakai masker beras. Ibu saya pernah mengajari saya untuk memakai masker beras ini. Caranya mudah: air cucian beras pertama ditampung di mangkuk/gelas. Biarkan mengendap selama beberapa jam. Kalau terlihat ampas putih di dasar gelas, buang airnya. Gunakan ampas beras sebagai masker. Dijamin muka jadi bersih dan kinclong. Itu cara alaminya. Kalau malas, tersedia di pasaran sabun beras made in Thailand yang sedang ngetrend di kalangan online shopper ^^

Ilustrasi novel grafis ini juga memikat, walau saya lebih suka ilustrasi seri Sepeda Merah yang full color. Saya jatuh cinta dengan karya Kim Dong Hwa yang indah dan puitis.

quotesKenapa ada burung di dalam celanamu, padahal seharusnya dia berada di sawah? (hal. 19)

Perempuan memiliki sesuatu yang lebih berharga daripada burung anak laki-laki. Pintu tempat datangnya bayi-bayi. (hal. 36)

Jika aku tidak bisa menolong diri sendiri, bagaimana aku bisa menolong orang lain? (hal. 145)

Apa manusia juga harus dipangkas? Jadi kalau laki-laki ini dan laki-laki itu tumbuh di dalam hati kita, kita harus memangks salah satu dari mereka? (hal. 216)

20130923-121407.jpg

Need a second opinion?

Ika’s Booshelves here
Buntelan Kata here
Nadya Andwiani here
Goodreads here

TTFN ^^

20131105-024143.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on November 28, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: