[Book Review] Sepeda Merah Vol.2 by Kim Dong Hwa

book_info

20131114-061432.jpg

Judul: Sepeda Merah: Bunga-Bunga Hollyhock #2
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Meilia Kusumadewi
Penerbit: GPU
Terbit: Oktober 2012
Tebal: 176 halaman
ISBN: 139789792287776
Kategori: Novel Grafis
Genre: Cultural Korean
Beli di: nitip Dinoy di obralan Gramedia. Harga IDR 10,000
Kalimat pembuka:

book_blurb

“Suatu kali, ketika anak perempuanku datang mengunjungiku, pemandangan mawar-mawar hollyhock mengingatkannya pada kenangan akan ibunya yang telah tiada.

Aku menebarkan benih-benih bunga itu mulai dari jalan masuk desa hingga ke ambang pintu rumahku…

Kala menelusuri jalan setapak berbunga ini, anak perempuanku merasa seakan-akan ia tengah berjalan sembari menggenggam tangan ibunya…

Dengan sedikit kesabaran, mawar-mawar hollyhock ini pun tumbuh dengan semaraknya…”

Melalui kisah-kisah pendeknya yang sarat dengan kelembutan, Kim Dong Hwa diperhitungkan sebagai salah satu penulis manhwa paling berbakat di hati orang-orang Korea.

thoughts

Seperti buku pendahulunya, Sepeda Merah Vol.1: Yahwari, buku ini menawarkan kisah-kisah penuh kehangatan seperti awal musim panas di Korea. Si Tukang Pos juga masih mengantar sejuta cinta kepada penduduk desa Yetdong.

Cerita pertama dibuka dengan Bunga-Bunga Hollyhock. Berkisah tentang bapak tua (yang dalam buku pertama dikisahkan suka menyampaikan berita-berita dari Tukang Pos ke almarhum istrinya di nisannya) yang dicemooh temannya gara-gara ia menanam benih bunga Hollyhock. Ia ingin putrinya bisa melihat keindahan bunga Hollyhock ketika ia pulang ke desa nanti. Bunga Hollyhock juga merupakan bunga favorit almarhum istrinya. Bittersweet banget bab pembukanya.

Kisah 2: Kisah-Kisah Sastra Korea merupakan salah satu bab favorit saya. Si Tukang Pos yang masih dikuncir kuda menyukai sastra dan gemar membaca novel. Dari pengamatannya, rumah-rumah dan pemandangan di Yahwari cocok menjadi latar novel favoritnya.

Di Kisah 3: Rerumputan dan Tanah Kampung Halaman, si Tukang Pos, Nenek dan Kakek Tua berbincang tentang hal yang mengingatkan pada kampung halaman. Si Nenek berpendapat kalau makanan bisa mengingatkan orang pada kampung halaman, sedangkan kakek bilang tanah yang mencirikan kampung halaman.

Kisah 5: Pejabat Militer juga salah satu kisah yang paling saya sukai. Para manula berlomba-lomba memamerkan jumlah kerutan di wajah dan uban lalu disamakan dengan pangkat militer.

Kisah 7: Surat Cinta adalah kisah paling romantis yang ada di buku ini. Seorang suami yang tidak pandai berkata-kata cinta memberikan kejutan manis untuk istrinya di ladang.

Kisah 9: Impian Masa Kecil membuat saya merenung tentang impian-impian saya. Saya ingin seperti Pak Tua di buku, menikmati masa tua sambil menatap matahari terbenam tanpa dibebani dengan jumlah rupiah di tabungan.

Kisah 14: Roda yang Berkilau Cemerlang juga merupakan salah satu kisah yang membuat saya menarik napas lega. Inti dari kisah ini adalah kebaikan selalu membawa kebahagiaan.

Kisah 17: Foto-Foto mengingatkan saya pada satu episode seri Si Doel Anak Sekolahan dimana Mandra berpose dengan toga sarjana milik Doel. Kocak banget😄

Kisah 30: Pohon menurut saya merupakan kisah terbaik di buku ini. Kita tidak sadar bahwa pohon hanya memberi, tidak pernah meminta. Pohon itu seperti orang tua yang bijak, dan orang-orang bisa berbuat jahat dengan menggunduli, mencabut, bahkan membakar si baik ini.

Kisah 31: Ibuku adalah cerit terpanjang di buku ini. Saya berkaca-kaca ketika membacanya. Betapa seorang ibu sangat menyayangi anaknya walaupun anaknya melakukan perbuatan tercela.

Sepeda Merah Vol.2: Bunga-Bunga Hollyhock ini terbagi dalam empat segmen berdasarkan musim yang ada di Korea: musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Fokus cerita pada buku ini adalah kisah para manula yang masih memiliki jiwa kanak-kanak.
Dari buku ini saya jadi tahu kemiripan tradisi Korea dengan India: anak lelaki dewasa wajib mengurus orang tuanya, dan menantu perempuan harus berkorban dengan memprioritaskan keluarga suami.
Gegara membaca seri Sepeda Merah, saya jadi ingin memandangi bunga dandelion dan meniupnya.

Pembaca masih dimanjakan dengan keindahan ilustrasi dan warna-warna hangat yang menghiasi buku ini. Selipan puisinya juga indah dan terasa pas menjadi bagian dari buku ini.

Buku tipis ini sarat perenungan, membuat saya berpikir bahwa ketulusan dan kesederhanaan itu simpel namun sulit ditemui di kota besar seperti Jakarta.

Ketika saya menutup halaman terakhir buku ini, ada perasaan haru, seperti ditinggal oleh Tukang Pos dan penduduk Yetdong.

Tentu saja, saya masih menantikan karya Kim Dong Hwa selanjutnya.

Kutipan favorit:

Aroma rempah-rempah memang enak, tapi tidak ada yang mengalahkan bau tanah kampung halaman untuk mengobati kerinduan pada rumah. (hal. 23)

Menjadi manusia memang jauh lebih kotor daripada lumpur. (hal. 32)

Kau mengasihani diri sendiri karena kulitmu keriput seperti bedeng, padahal di mataku kau selalu cantik. (hal. 43)

Katanya para orang tua kembali kekanak-kanakan saat salju pertama turun. (hal. 132)

20130923-121407.jpg

20130923-121453.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on November 28, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. cerita nya bagus aku suka…
    meski gak tahu persis seri pertama tapi dari cuplikanya bagus, aku suka covernya…
    dan ceritanya emang bener bener beda dari yang lain sih menurutku….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: