[Book Review] Sepeda Merah by Kim Dong Hwa

book_info

20131114-084329.jpg

Judul: Sepeda Merah: Yahwari #1
Penulis: Kim Dong Hwa
Penerjemah: Meilia Kusumadewi
Penerbit: GPU
Terbit: Oktober 2012
Tebal: 144 halaman
ISBN: 978-979-22-8776-9
Kategori: Novel Grafis
Genre: Cultural Korean
Beli di: Bukabuku Harga: IDR 40,800
Kalimat pembuka:
Sepucuk surat untuk rumah dengan semak-semak warna khaki…

book_blurb

“Telusurilah jalan-jalan pedesaan yang beraneka ragam itu untuk menemui para penduduk Yahwari. Anda pasti akan berpapasan dengan sepeda merah si tukang pos yang berkeliling pelan penuh keselarasan dengan alam sekitarnya.”

Melalui kisah-kisah pendeknya yang sarat dengan kelembutan, Kim Dong Hwa diperhitungkan sebagai salah satu penulis manhwa paling berbakat di hati orang-orang Korea.

thoughts

Saya pertama kali berkenalan dengan karya Kim Dong Hwa lewat Novel Grafis seri Warna Air. Kalau seri Warna Air sarat dengan sex ed, Sepeda Merah berkisah tentang hal-hal sederhana dalam kehidupan masyarakat desa.

Dimulai dengan bab Sepeda Merah, kendaraan milik Si Pengantar Surat yang ceria dengan rambut gondrong ekor kuda (mirip dengan Kim Dong Hwa). Ia mengantarkan surat ke alamat yang unik, tanpa nama jalan atau nomor rumah. Hanya disebutkan ciri-ciri spesifik, seperti Rumah Kuning Dalam Kehijauan, atau Rumah Bergenting Merah.

Bab yang saya sukai antara lain:

Kisah 3: Sang Penyair

Setiap kali Si Pengantar Surat mengirim surat ke rumah Sang Penyair, selalu ada lipatan surat di kotak pos berisi puisi untuk Si Kurir. Manis dan romantis :’)

Kisah 4: Hari Pasar

Siklus kehidupan perekonomian yang dimulai dari petani Yetdong hingga hasil panen sampai ke tangan penduduk desa Sedong (konsumen). Tawar-menawar dan rayuan petani sangat kocak, digambarkan dengan ilustrasi yang membuat saya terbahak.

Kisah 5: Hari Perekaman

Petani Yetdong heboh ketika mendapat kabar bahwa desa mereka akan diliput. Karena ingin eksis di layar kaca, para penduduk desa berdandan necis layaknya orang kota yang modern. Endingnya bikin saya ngakak.

Kisah 9: Pagoda Batu

Saya hampir menitikkan air mata ketika membaca bab ini. Ceritanya tentang bapak tua yang membuat gundukan pagoda batu setiap kali ia teringat almarhum istrinya dan anak-anaknya yang tinggal di kotašŸ˜„

Kisah 11: Kaus Kaki

Bab ini juga mengharu-biru. Tentang seorang pemuda yang heran dengan ayahnya yang selalu memakai kaus kaki bolong.

 

Dari halaman pertama, pembaca sudah disuguhi oleh grafik yang memukau, warna-warni cerah yang tidak membuat mata sakit, dan kisah-kisah pendek yang memikat dan menghangatkan hati.

Si Tukang Pos digambarkan sebagai perantara kebahagiaan penduduk desa yang mengirim, maupun yang menerima berkat cinta. Orang-orang tua yang kesepian selalu menanti cerita baru dari Tukang Pos, untuk dibagikan di pusara orang tercinta. Bahkan ada anak kecil yang bernohong demi mendapatkan permen manis dari Tukang Pos.

Saya sangat suka dengan keseluruhan kisah yang terasa hangat. Kehangatan selalu muncul dari kesederhanaan. Love it to the core.

quotes

Mungkin karena ayahku bodoh, dia selalu memilih kaus kaki yang berlubang. (hal. 57)

Kondektur kereta membawa tubuh dan tukang pos membawa hati… Mereka mirip satu sama lain. (hal. 109)

20130911-052807.jpg

20130725-125307.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on November 28, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: