[Book Review] Kartini Nggak Sampai Eropa by Sammaria @Gagasmedia

book_info

20131127-085959.jpg

Judul: Kartini Nggak Sampai Eropa
Penulis: Sammaria
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2008
ISBN: 978-979-780-271-4
Tebal: 238 halaman
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Travel, Romance, Contemporary
Beli di: Gramedia Bintaro Plaza. Harga: IDR 15,000
Penghargaan: Nominasi KLA kategori Penulis Muda Berbakat (2009)
Kalimat pembuka:
Je suis a Paris. Et rendezvous?

book_blurb
Anti dan Tesa sudah tidak saling bertemu sejak lulus sekolah. Keduanya adalah cewek-cewek Indonesia yang mencoba menaklukan dunia—khususnya Eropa. Anti melanjutkan studinya ke Perancis, sedangkan Tesa mengambil kuliah di Jerman.

Bagi mereka, jarak bukanlah hambatan untuk tetap saling berbagi cerita. Melalui e-mail, mereka bertukar ide, pendapat, dan argumentasi tentang banyak hal. Tentang pengalaman cintanya dengan para cowok, tentang kebudayaan barat dan timur, tentang realitas sosial, tentang seks, dan bahkan tentang kepercayaan terhadap Tuhan.

Anti dan Tesa adalah dua dari sekian banyak cewek Indonesia pintar. Sambil mencoba menaklukkan Eropa, kedua cewek ini juga terus memperdalam pengetahuannya seraya menikmati masa muda. Meski terkadang memiliki pemikiran yang berbeda, tapi mereka justru menjadi dua orang sahabat yang saling melengkapi.

Tidak hanya pintar, Anti dan Tesa juga sama-sama cewek Indonesia yang haus akan tantangan, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, hobi berpetualang, berkebudayaan tinggi, dan berprinsip. Meski tinggal di Eropa, mereka tidak lantas meninggalkan adat timur yang selama ini mereka jalankan.

Hal itu terlihat jelas saat mereka mempertahankan prinsip ‘having sex after marriage’—meski di sana segala sesuatunya memungkinkan dan sex before marriage adalah hal yang biasa.

Mereka berdua memang luar biasa. Semangat mereka pun tidak kalah tingginya dengan semangat Kartini di zaman dulu. Ya, mereka adalah Kartini zaman modern. Kartini masa kini yang haus akan rasa ingin tahu. Kartini yang tidak takut untuk mempertanyakan apapun, meski pada akhirnya tidak semua pertanyaan memiliki jawaban.

thoughts

Sebenarnya sudah lama saya pengin baca buku ini namun sulit banget didapat. Sekitar tahun 2011-an Jakarta Book Club yang ngadain baca bareng buku ini. Salah satu membernya kenalan saya di Twitter. Tadinya saya pengin ikutan book club ini, namun saya sulit sekali keluar (yes, saya masih tahanan rumah di Bintaro, wkwkwkwkwk) jadi saya pendam keinginan bergabung dengan book club.
Beruntung saya menemukan BBI dan Reight. Walau saya masih sulit keluar rumah, saya masih diberi waktu dan kesempatan untuk membaca dan meresensi buku-buku yang saya suka.

Dan, akhirnya, saya menemukan buku ini di rak sale di Gramedia Bintaro Plasa yang jaraknya cuma sejengkalan dari rumah *praise the Lord, Hallelujah*

Saya cukup surprised dengan gaya penulisan a la email ini. Saya pernah tahu ada buku bahasa Inggris dengan metode serupa, yaitu dua orang sahabat pena yang belum pernah bertemu dan mereka saling curhat via email. Saya lebih nyaman membaca buku dengan format email darioada twit yang membuat mata saya sakit.

Adalah Anti dan Tesa, dua mahasiswi Indonesia yang menempuh pendidikan di Eropa, saling bertukar email dan menceritakan kisah masing-masing dengan berbalas email.

Gaya bertutur Sammaria sangat santai, menggunakan bahasa sehari-hari. Novel ini terkesan ceria.

Anti digambarkan boycrazy walau masih menjaga keperawanannya. She’s a serial dater, kira-kira begitulah penjelasan singkatnya. (Bahasa Indonesianya serial dater itu apa ya? Tukang kencang berantai?)

Di dalam emailnya, Anti curhat tentang cowok Turki yang brengsek, terus dia juga punya pacar yang udah tiga tahun namanya Ical. Namun, Anti masih ngedate dengan Lukas di Prancis.

Sementara Tesa berpacaran dengan Mikhail dan ia berusaha setengah mati untuk tidak melakukan hubungan seks (yang sepertinya sangat jarang ditemui pada anak muda sekarang, apalagi yang kuliah di luar negeri).

Percakapan via email ini tidak melulu membahas isu asmara, namun juga menyinggung budaya Indonesia, cara pemulung mendapat uang lebih, bom Bali, agama, dan lain sebagainya.

Tesa dan Anti juga membahas bahasa. Mereka berdua lebih sering menggunakan bahasa asing dariada bahasa Indonesia. Bahasa memang universal, dan bahasa Indonesua se diri merupakan bahasa serapan. Saya setuju di sini. Suka-suka deh pake bahasa apa aja ^^
Novel ini banyak banget selipan bahasa Inggrisnya.

Dan, karena formatnya saling berbalas email, tidak ada dialog dalam novel ini. Karena bahasanya juga santai, saya nggak merasa terganggu sama sekali. Cuma di beberapa bagian merasa agak bosan karena pembahasannya yang itu-itu juga.

Lalu Anti dan Tesa seperti memiliki suara yang sama. Cara mereka bertutur mirip. Saya agak kesulitan membedakan mana yang Tesa dan mana yang Anti. Untung ada judul email dan dicantumkan nama pengirimnya, jadi saya tau siapa yang berbicara.

Secara keseluruhan, novel ini menghibur dan menjadi penyegaran untuk saya yang sedang mumet dengan kerjaan.

quotes

But what is freedom anyway? Just an illusion. (hal. 39)

Kebebasan bisa terjadi kalo semua pihak di dunia gak punya kepentingan akan pihak lain. (hal. 41)

Instead of covering the girls with some veils, why don’t we educate the boys? (hal. 51)

20131128-083506.jpg

20131128-083529.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on November 28, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. mbak,,, boleh pinjem ga bukunya? besok pas rbc meeting lagi ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: