[Gagas Debut Tour] Meet the Author: Erni Aladjai @Gagasmedia

GD5

Halo,

Ketemu lagi di segmen Meet the Author. Karena kemarin novel Kei sudah direview (dan ada giveaway-nya juga), maka kali ini penulis Kei yang berkesempatan untuk sharing tentang rahasia dapur di balik pembuatan novel Kei yang kental dengan adat Maluku tersebut.

kei

Simak yuk wawancara Lust and Coffee dengan Erni Aladjai berikut ini🙂

erniA

Sebelumnya, selamat ya, novel Kei menjadi pemenang Unggulan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012. Selamat juga atas terbitnya novel Kei di Gagasmedia.

Bisa diceritakan dari mana dapat ide untuk novel Kei?

Idenya pas baca buku ‘Ken Saa Faak, benih-benih perdamaian di pulau Kei.” Buku ini ditulis oleh orang-orang yang selama puluhan tahun berkecimpung dalam pendampingan rakyat. Mereka aktivis kemanusiaan. Penulisnya Bang Saleh dan beberapa penulis Maluku seperti Pieter Elmas, Don K Marut, Mery Ngamelubun, Efrem Silubun, Dur Kaplale dan lain-lain. Jadi idenya sudah dari tahun 2010, tapi kemudian baru punya waktu nulis tahun 2012.

Apa novel Kei memang khusus ditulis untuk sayembara DKJ?

Ya. Waktu lihat ada pengumuman lomba sayembara DKJ, saya langsung ngebut nulis novel ini. Waktu baca ‘Saman’-nya Ayu Utami kan ada tulisan pemenang sayembara roman DKJ, sejak itu saya memelihara harapan, ingin juga punya novel kelak dengan tulisan ada ‘DKJ’nya. Hahahahaha.

Keren banget, cita-citanya tercapai. Berapa lama proses penulisan novel Kei?

Kalau tak salah ingat, saya menulisnya selama tiga bulan. Jadi tiap tengah malam saya bangun nulis ‘Kei’, kemudian pada hari libur Sabtu dan Minggu, saya fokus menuliskannya. Kalau menulis, saya tak mau ada orang di dekat saya. Jadi saya senang menulis saat sendirian.

Saya terpesona dengan detil setting novel Kei, seolah saya berada di sana ketika membaca novelnya. Bagaimana cara Erni meriset tempat untuk novel ini?

Hehehehe, terima kasih Yuska. Sebenarnya saya belum pernah menginjakkan kaki ke Kei. Saya juga tidak punya teman bicara soal Kei. Setting  Pulau Kei dalam novel itu adalah  setting yang saya buat dalam kepala saya. Hanya saja karena saya Orang Timur, saya mengira-ngira saja kontur daerahnya. Kampung saya kan berbatasan dengan Maluku.

Oh iya, dengan hanya mengandalkan imajinasi tentang Kei untuk penggambaran tempatnya, ini memang riskan. Tapi sejauh ini belum ada yang komplain ke saya, kalau ‘Kei’ bukan seperti itu. Mudahan-mudahan, pembaca yang sudah pernah ke Pulau Kei, maklum pada saya. hehehehe

Ada narasumber yang membantu mendeskripsikan kejadian kerusuhan di Kei tahun 1999?

Tak ada. Pengerjaan ‘Kei’ buru-buru karena mengejar deadline Sayembara DKJ, J.  Jadi tak sempat riset wawancara. Tapi pengakuan-pengakuan korban, saya riset di koran, majalah, dan buku ‘Ken Saa Faak, benih-benih perdamaian di Pulau Kei’ itu.

Sekarang mengenai tokoh utamanya, Namira dan Sala, bagaimana Erni mendapat ide untuk menciptakan kedua tokoh tersebut?

Namira dan Sala itu tokoh fiksi. Tak benar-benar ada di Kei. Karakternya juga saya bikin-bikin sendiri. Ada kawan bilang : kok, karakter Namira, mirip kamu ya? Saya bilang, ah tidaklah. Tapi yang bagian di mana Namira mengobati ibu melahirkan dengan obat-obatan daun dari hutan, itu meminjam ‘pengetahuan’ mama saya. Hahahahaha. Mama saya senang belajar khasiat tanaman. Beliau juga meminta saya belajar itu. Katanya, agar saya tak bergantung pada obat-obat modern.

Isu perbedaan keyakinan merupakan tema yang sensitif untuk diangkat. Tidak takut mendapat protes dari pihak tertentu?

Saya tak takut, karena di novel itu, saya tidak menjelek-jelekkan satu agama. Saya pikir, saya cukup berhati-hati juga menuliskannya. Maksud saya, saya berusaha membuatnya ‘Cover Both Sides’ agar tak ada pihak yang tersakiti. Sebenarnya novel Kei itu bukan persoalan konflik yang ingin saya ceritakan, namun bagaimana Orang Kei memandang konflik itu dan bagaimana cara mereka kembali pada ajaran leluhur mereka untuk memadamkan pertikaian. Di sini inti novelnya.

Sudah berapa lama Erni menekuni dunia menulis?

Pertama kali menulis pas SD kelas lima. Saya nulis cerpen “Harimau dalam Hutan”, cerpen ini jadi juara dua di lomba mengarang Sekecamatan. Hehehehe. Jadi  harapan menjadi penulis itu sudah ada sejak saya di bangku sekolah dasar. Tapi saya benar-benar menekuninya pas tahun 2004. Jadi sekitar 23 tahun saya pelihara mimpi menjadi penulis.

Apa proyek novel selanjutnya yang akan Erni kerjakan?

Saya ingin menulis novel lagi, novelnya mungkin tentang tanaman, hutan dan penderitaan petani. Hehehehe. Tapi tanamannya masih rahasia.😀

Ada tips singkat untuk penulis yang ingin mengirim naskahnya ke Gagasmedia? Apa saja yang harus diperhatikan?

Mungkin cuma satu, jangan buat kalimat berbelit-belit namun kosong dan sulit dipahami. Saya melakukan ini, dan dapat teguran dari editor Gagas.

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^

Thanks Yuska, namamu mirip nama orang Rusia.

jia-note1

Stay tuned karena besok ada postingan tentang character analysis dan serba-serbi pulai Kei.

TTFN,

20130725-125307.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on November 6, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. wah, hebat juga mbak erni bisa mengandalkan imajinasi soal tempat. saya paling bodoh soal deskripsi soal tempat kalau tidak berada di tempat itu sendiri._. sebenarnya kuncinya apa, sih? apa ada hal khusus untuk mengakalinya?

  2. kadang setelah baca satu buku, aku jadi dapet inspirasi untuk nulis. Meski nggak niru banyak, tapi kadang aku suka takut tulisanku -biasanya sih cerpen- mengacu pada plagiarisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: