Monthly Archives: September 2013

[Book Review] Before I Fall by Lauren Oliver

book_info

20130923-113024.jpg

Title: Before I Fall
Author: Lauren Oliver
Publisher: HarperCollins
Date of Published: March 2nd, 2010
ISBN: 9780061987496
Format: Ebook
Category: Fiction
Genre: YA, Contemporary, Fantasy
Literary Awards:
Romantic Times Reviewers’ Choice Award (RT Award) Nominee for Best Young Adult Paranormal/Fantasy Novel (2010), YALSA Best Fiction for Young Adults (2011), Deutscher Jugendliteraturpreis Nominee for Preis der Jugendjury (2011), Publishers Weekly’s Best Children’s Books of the Year for Fiction (2010), Goodreads Choice for Young Adult Fiction, Debut Author, Nominee for Goodreads Author, Favorite Heroine (2010)
First sentence:
They say that just before you die your whole life flashes before your eyes, but that’s not how it happened for me.

book_blurb

What if you had only one day to live? What would you do? Who would you kiss? And how far would you go to save your own life?

Samantha Kingston has it all: the world’s most crush-worthy boyfriend, three amazing best friends, and first pick of everything at Thomas Jefferson High—from the best table in the cafeteria to the choicest parking spot. Friday, February 12, should be just another day in her charmed life.

Instead, it turns out to be her last.

Then she gets a second chance. Seven chances, in fact. Reliving her last day during one miraculous week, she will untangle the mystery surrounding her death—and discover the true value of everything she is in danger of losing.

thoughts

What would you do if you were given a second chance to live? Would you fix the damage that you’ve caused? Would you make it up to yourself?

That’s what happened to Sam. She’s dead but she came back to life to finish the unfinished business.

There’s a popular clique at Thomas Jefferson High School. Sam is one of the mean girls. They did terrible things to Juliet, a beautiful girl actually, an outcast and Sam’s friends’ target of bullying.

Things changed after the accident which took Sam’s life. But God is good, that He sent her back to September 12 over and over again to make things right.

One big secret was revealed. Sam never looks at Juliet and Kent like she used to.

This is not your typical YA novels. I was blown away. The message is clear: to reflect things that we’ve done and said. Are we ready to die and leave in peace?
Do you have unfinished business, things that you have to do before it’s to late?
I read this book all night and I was in tears. Gosh, this book is so good I’m still thinking about Sam, Kent and Juliet.

I really want to give everyone a big hug right now.

20130923-121407.jpg

Need a Second Opinion?

Sandy Now Wrote Review
Books To Share Review
The Cow and Her Books Review

20130923-121453.jpg

#STPC Interview: Meet the Author Windry Ramadhina @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

windrySudah lebih dari setengah bulan kita keliling dunia bersama serial Setiap Tempat Punya Cerita. Nggak kerasa kita sudah melewati London kemarin. Sebelum terbang ke destinasi selanjutnya, Lust and Coffee berhasil mencegat penulis London: Angel yang karyanya sudah sangat dikenal, antara lain Memori dan Montase yang banyak disukai pembaca. Penasaran dengan pembuatan London di balik layar? Simak wawancara dengan Windry Ramadhina berikut ini ^^

Dapat ide untuk novel London dari mana? Siapa yang menentukan ‘destinasi’ judul cerita dalam serial ini: penulis, editor, atau sistem undian?

London, sama seperti novel saya yang sebelumnya: Montase, merupakan pengembangan dari cerpen. Pada 2008, saya menulis cerpen berjudul “Singin’ In The Rain” yang terinspirasi dari lagu berjudul sama gubahan grup musik Jepang L’Arc~en~Ciel. Cerpen itu mengambil lokasi di hadapan London Eye, berkisah tentang pemuda Indonesia dan gadis Eropa misterius yang bertemu secara singkat di bawah hujan. Saat diminta menulis London, saya teringat pada cerpen itu.

Sebagai novel, pastinya London memiliki kisah yang jauh lebih rumit dari “Singin’ In The Rain”. Tetapi, unsur utamanya tetap sama: hujan, malaikat, dan keajaiban cinta. Hujan sangat dekat dengan London. Dan, saya punya kepercayaan tersendiri mengenai hujan. Kepercayaan ini yang ingin saya bagikan kepada pembaca.

Mengenai ‘destinasi’, kota-kota ditentukan oleh editor. Untuk Gagasmedia: Paris, Roma, Melbourne, London, dan Tokyo. Penulis-penulis diminta untuk memilih salah satu kota. Saya memilih London karena sejak lama ingin mengembangkan “Singin’ In The Rain” menjadi novel.

Saya suka sekali dengan nama kedua tokoh dalam novel ini: Gilang dan Ning. Dapat ide untuk menamakan tokoh dari mana?

Terima kasih. Dalam London, saya sengaja menghindari nama yang berbau Inggris untuk tokoh utama Indonesia agar pembaca bisa menikmati suasana perjalanan dan keterasingan. Jadi, saya memilih nama yang sangat Indonesia. Gilang berarti ‘cahaya’. Ning berasal dari kata ‘bening’. Keduanya adalah sesuatu yang tercetus saat saya memikirkan malaikat.

Sebenarnya, tokoh-tokoh London yang diberi nama hanya mereka yang memiliki peranan penting dalam cerita: Gilang, Ning, Ellis, Lowesley, dan Ayu (jika dirangkai, nama mereka akan membentuk angel). Sementara itu, tokoh-tokoh pendukung tidak diberi nama. Mereka sebatas mendapat julukan: Brutus, Hyde, V, dll. Julukan-julukan mereka diambil dari tokoh-tokoh fiksi terkenal. Ini supaya pembaca tidak bingung–supaya saya tidak bingung juga.

Butuh berapa lama untuk riset novel ini?

Lima bulan–ini waktu yang diberikan oleh editor kepada saya untuk menulis London. Saya riset sambil menulis.

Sebutkan tiga kata yang dapat mewakili London!

London sebagai kota atau London sebagai novel?

Sebagai kota: Sendu. Kuno. Tetapi, sekaligus modern.

Sebagai novel: Hujan. Malaikat. Cinta

Cover London keren banget! Apa penulis punya andil dalam menentukan cover buku?

Penulis selalu dimintai pendapat oleh desainer sampul. Tetapi, hasil akhir sangat ditentukan oleh suara redaksi, staf promosi, dan staf pemasaran. Saya setuju sampul London cantik. Warnanya sesuai dengan harapan saya: merah. Sangat London.

Punya kenangan khusus dengan London?

Kenangan khusus? Tidak ada. Tetapi, ketertarikan saya pada London berawal dari Tate Modern, galeri seni kontemporer yang dirancang oleh arsitek kesukaan saya. Dan, ternyata London memang kota seni. Karena itu, saya banyak bercerita tentang seni dalam novel ini.

Ada kejadian menarik selama proses penulisan novel London?

Proses penulisan London mengalir secara mengherankan. Para tokoh, konflik mereka, dan lokasi-lokasi tercetus dengan mudah, lalu terangkai satu sama lain dengan sendirinya. Seolah-olah, semua itu sudah lama bersembunyi dalam kepala saya. Padahal, tidak.

Saat memilih Fitzrovia, saya tidak tahu daerah itu adalah pusat seni–bidang yang kebetulan ditekuni oleh Ning. Saya jatuh cinta pada Fitzrovia karena suasananya–pada Fitzroy Tavern, lebih tepatnya. Dan, di sana ada gang yang sangat pas untuk dijadikan tempat tinggal Ning, yang sesuai dengan bayangan saya: Colville Place. Letaknya hanya seratus meter dari Fitzroy Tavern. Di sekitarnya, banyak galeri-galeri kecil–yang kemudian memunculkan tokoh Finn.

Lalu, tidak jauh ke arah Soho, ada toko payung tua bernama James Smith & Sons. Payung adalah elemen penting dalam London, sangat erat kaitannya dengan ide dasar cerita. Dan, di sebelah Tate Modern, tempat kerja Ning, ada Shakespeare Globe Theatre yang mewakili dunia Gilang: sastra. Toko payung, galeri, dan teater itu sendiri sangat menginspirasi.

Adakah curhat terselubung dalam novel London?

Banyak hal yang saya suka atau percaya tertuang dalam London, tetapi saya tidak curhat dalam tulisan.

Apa proyek selanjutnya yang akan Windry kerjakan setelah London?

Saya baru saja menyelesaikan naskah dewasa muda beberapa waktu lalu. Naskah tersebut sedang dibaca editor. Ada juga naskah lain yang sempat terbengkalai lama dan saat ini saya berusaha menyelesaikannya. Setelah itu, mungkin saya akan melanjutkan kisah Gilang. Atau, menulis roman sejarah. Atau, rehat. Saya belum tahu.

Lagu yang cocok sambil menikmati novel London?

Saya rasa, lagu bukan sesuatu yang pas untuk melengkapi London, melainkan hujan. Hujan yang malu-malu, ditambah sofa yang nyaman, kopi atau teh hangat, dan jendela di sisi yang sesekali bisa kita intip di sela-sela bab.

Tetapi, kalau memang menginginkan lagu, coba dengarkan “Singin’ In The Rain” L’Arc~en~Ciel yang menjadi sumber inspirasi novel ini.

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^

Jangan kemana-mana, karena minggu depan ada liputan London: Angel Tea Party with Windry Ramadhina. So, stick around ^^

Kisses,

20130725-125307.jpg

Meet The Reader: Dian

dian

Ketemu lagi bersama Lust and Coffee dalam segmen Meet the Reader. Fitur ini baru kali ini dilaunching yang rencananya akan diadakan rutin tiap dua bulan sekali.

Kali ini Lust and Coffee berkesempatan untuk berbincang bersama Dian yang merupakan salah satu pembaca blog ini.

Dian yang berusia 24 tahun ini bekerja di suatu instansi pemerintahan. Di sela kesibukannya sebagai PNS, Dian selalu menyempatkan diri untuk mengikuti event menulis juga membaca buku sambil berlatih menulis.

SImak wawancara Lust and Coffee dengan Dian berikut:

 

Sejak kapan suka membaca?

Aku suka membaca sejak kecil, mungkin sekitar kelas 1 SD. Aku mulai suka membaca karena ibuku berprofesi sebagai guru SD dan sering meminjamkan buku dongeng bergambar dari perpustakaan tempat beliau mengajar.

Awalnya ibu meminjamkan buku-buku tersebut agar aku segera lancar membaca. Namun hal positif lainnya adalah kegiatan tersebut menyadarkan  aku bahwa membaca lebih mengasyikkan ketimbang menonton TV.

 

Ya, saya setuju banget dengan kamu. Membaca jauh lebih menyenangkan daripada menonton TV. Lalu, sejak kap;an kamu mulai ngeblog?

Dunia perblogeran ini masih sangat baru untukku. Aku baru membuat blog bulan Maret 2013 lalu. Makanya postinganku masih sedikit banget 😀

Aku mulai menjajal ‘blog’ saat ada giveaway yang mengharuskan penggunaan blog. Dan sejak itu aku mulai mengenal asyiknya ngeblog. Setidaknya, gara-gara blog aku bisa sedikit mewujudkan mimpiku yaitu tulisanku dibaca banyak orang.

 

Apa yang kamu sukai dari ngeblog?

Blog memacu kita untuk menulis. Setelah ngeblog, aku jadi lebih rajin menulis. Blog itu seperti pendorongku agar aku ingat bahwa menulis adalah bagian dari hidupku. Dulu sebelum aku kenal blog, aku menulis jika ingin menulis saja, hanya ketika ide bersarang di kepala. Sekarang, aku tidak harus menunggu ide datang untuk menulis karena ada blog yang harus diupdate.

 

Sebutkan  satu novel yang sangat berkesan buatmu. Berikan alasannya juga ya.

Bangkok: The Journal by Moemoe Rizal.

Banyak bagian dari novel ini yang membuatku menyadari ternyata sebuah keluarga punya arti yang sangat dalam. Seberapa buruknya keluarfga itu, tetap saja mereka keluarga. Seberapa kita tidak menyukai pilihan dari salah satu anggota keluarga kita, tetap saja mereka keluarga. Seberapa kita benci pada mereka, mereka pergi, tetap saja ada rasa tak rela dan sakit yang menghinggapi.

Edvan dan Edvin  adalah tokoh kontroversi yang belajar hidup lebih baik dari sebuah kesalahan. Dan aku ingin selalu belajar dari sebuah kesalahan seperti mereka, maju terus tanpa mau menhiraukan rasa sakiit dari kesalahan yang sudah terjadi. Maju terus untuk bertemu mimpiku yang akan terwujud suatu saat nanti.

 

Amin, Saya doakan juga ya, Dian. Jika kamu menjadi tokoh fiksi, kamu ingin jadi siapa?

Syiana, tokoh di novel ‘Restart’-nya Nina Ardianti.

Alasannya, bagiku hidup Syiana terasa sangat menyenangkan. Ya walaupun awalnya dia harus merasakan menjadi bagian dari keluarga broken home dan harus menerima kenyataan diselingkuhi. Tapi dia punya pekerjaan yang menjanjikan. Dia juga punya hidup yang dikelilingi orang-orang menyenangkan seperty Edyta dan Ilham, juga keluarga Edyta. Syiana juga dicintai Ferdian Arsjad, membuat hidupnya menjadi sempurna.

Pernah punya pengalaman menarik yang berhubungan dengan kesukaanmu membaca?

Saat aku kelas 2 SMA, aku sering kali membaca novel saat jam pelajaran, terutama pada saat mata pelajaran membosankan seperti PPKN atau Kimia. Hasilnya, kalau nggak kena tegur, aku disuruh keluar.

Hal positifnya, membaca membuatku sadar untuk bisa menghasilkan bacaan seru seperti yang sudah kubaca. Dan itu membuatku untuk mencoba menulis. Kelas 3 SMA karyaku bisa muncul di tabloid remaja untuk pertama kalinya. Sejak saat itu aku jadi tahu akan mimpiku yang sebenarnya.

 

Woaah, congrats, ya. Seandainya kamu diberi kesempatan untuk bertemu seorang penulis, siapa dan apa yang ingin kamu lakukan dengannya?

Aku ingin ketemu Moemoe Rizal dan Nina Ardianti. Kalau ketemu mereka, aku mau mencuri kemampuan menulis mereka. Tenang, aku nggak akan menggunakan ilmu hitam untuk mencuri iklmu, paling aku minta diajari secara intensif. Aku ingin meminta mereka memberikanku metode-metode ampuh untuk menulis. Oiya, aku juga nggak akan melewatkan kesempatan foto bareng dan minta tanda tangan. Nggak mau rugi deh pokoknya 😀

 

Terima kasih ya sudah menjawab 7 pertanyaan dari saya.

Terima kasih kembali, Mbak. Senang bisa diberi kesempatan seperti ini.

 

Nantikan wawancara Lust and Coffee dengan pembaca lainnya di lain kesempatan.

Hugs,

20130716-060442.jpg

[Book Review + Giveaway] London: Angel by Windry Ramadhina @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

book_info

20130919-030245.jpg

Judul Buku: London: Angel (Setiap Tempat Punya Cerita #5)
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2013, Cetakan Pertama
Jumlah Halaman: 330
ISBN: 978-979-70-653-8
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Travel Literature
Harga: Rp. 52,000
Beli di: Pinjam sama Luna
Kalimat pertama:

Sekarang, kota ini persis seperti apa yang dideskripsikan oleh Charles Dickens dalam salah satu bukunya, Bleak House.

book_blurb

Pembaca Tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.

Windry Ramadhina, penulis novel Orange, Memori, dan Montase mengajak kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tidak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemukannya. Apakah perjalanannya ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita.
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,
EDITOR

thoughts

London: Angel merupakan novel kelima dari STPC yang sudah terbit. Setelah novel ini, bakal ada Tokyo yang kabarnya merupakan novel terakhir dari seri STPC batch pertama.

Kesan pertama terhadap London: Angel adalah brave karena cover-nya yang bernuansa merah. Gue juga menangkap kesan bold dari tampilan cover-nya.

Tema yang diangkat London: Angel adalah jatuh cinta dengan sahabat. Menarik ya? 🙂

Adalah Gilang, seorang aspiring writer yang mendapati dirinya (ternyata) jatuh cinta dengan Ning, sahabatnya yang dulu tinggal di sebelah rumahnya. Sebuah chat di YM dan celetukan Brutus yang membuat Gilang menyadari tentang perasaannya yang terdalam terhadap Ning, sesuatu yang sebelumnya tidak ia sadari. Sebelum Gilang mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya pada Ning, gadis itu sudah terbang ke London, lalu bekerja di sebuah galeri di sana.

Suatu malam di Bureau, di mana Gilang dan kawan-kawannya menghabiskan malam ala bujangan. Mereka mengompori Gilang untuk mengejar cintanya. Lalu, Gilang benar-benar terbang ke London untuk satu tujuan: Ning.

Tidak mudah bagi Gilang untuk menemui Ning. Karena niatnya memang mau kasih surprise, Gilang bertualang dulu di London. First stop: Underground. Tempat yang hiruk-pikuk di London ini sebenarnya seperti ceruk budaya. Jutaan manusia dari berbagai ras datang silih berganti. Underground juga cukup sering tampil di berbagai film Hollywood, salah satunya The Dark Knight Rises.

Lalu ada James Smith and Sons yang menjual suvenir payung dengan harga yang bisa bikin gue mengelus dada Chris Hemsworth. Tempat yang gue inget karena suatu kejadian yang melibatkan Goldilocks yang misterius dan V. Akhirnya gue bisa tersenyum pas baca suatu adegan “gara-gara payung Goldilocks” itu.

Windry piawai membuat cerita ini memorable. Ia memberi nama tokoh-tokohnya (kecuali Gilang, Ning, Ed, Mrs. Ellis dan Mr. Lowesley, juga beberapa tokoh minor seperti Ayu dan Finn) dengan nama tokoh fiktif seperti Brutus, Hyde, Dee and Dum.

Setelah membaca acknowledgement dari Windry, gue sadar bahwa nama tokoh Hyde bisa jadi diambil dari nama vokalis Laruku yang lagunya mengilhami cerpen cikal-bakal novel ini. Hyde-menurut keterangan penulis di novel-merupakan nama panggilan untuk salah satu tokohnya yang memiliki kepribadian ganda, seperti Dr. Jeckyll and Mrs. Hyde. Namun, gue menangkap Hyde-nya Laruku juga karena dia suka berpenampilan androgyny, sama-sama penganut dualisme. Interesting.

Satu lagi scene yang bikin gue senyum-senyum adalah waktu Ning bilang ia akan membuat steik a la Jamie Oliver. My husband loves it. Campuran oregano, rosemary dan lemon zest bikin steik jadi ‘unik’ rasanya. Heavenly tasty.

Lalu, Gilang mendeskripsikan rasa bibir Ning seperti sari apel ketika ia mimpi berciuman dengan Ning. Ooh la la, those lips do exist and I know how it tastes.

Novel London: Angel ini manis. Cocok dibaca saat hujan sambil menyesap hot choco ditemani CD-nya Lisa Onno. Walau pertamanya gue merasa kurang sabar dengan alurnya yang tidak terlalu cepat, namun gue sangat menikmati perjalanan Gilang, dengan atau tidak adanya Ning dalam adegannya.

Gue bisa cepat membaca novel ini karena hari ini kebetulan gue ikut casting. Sambil menunggu, gue baca dan habislah 170an halaman. Seneng kalau kemana-mana bawa buku, dijamin nggak akan mati gaya. Dan menunggu tidak lagi menjadi kegiatan yang menyebalkan.

quotes

Memangnya, kau bisa jatuh cinta kepada seseorang yang sudah kau kenal selama delapan tahun? (hal. 19)

Aku belajar dari Donalbein, kalau seorang lelaki tersenyum pada perempuan, pasti dia punya niat tersembunyi. (hal. 193)

Manusia memang tidak pernah belajar dari pengalaman. (hal. 212)

dream_cast
london

20130911-085212.jpg

Need a second opinion?

The Bookie Looker Review here
Ariansyah Abo Review here
Orinthia and Books Review here

Submitted for:

New Authors Reading Challenge here

IRRC 2013 here

STPCGA

Yuk, yang mau mendapatkan 3 paket novel serial #STPC @Gagasmedia @Bukune merapat kemari. Caranya gampang banget:

1. Follow akun @Gagasmedia @Bukune dan @WindryRamadhina

2. Twit link review + giveaway ini dengan kalimat seperti ini:

Mau dapetin paket novel #STPC dari @yuska77 @Gagasmedia @Bukune? Klik aja http://t.co/aYJmHOU8fN

3. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel London: Angel. Jangan lupa untuk mencantumkan:

Nama, akun twitter, dan email.

4. Setiap komentar yang kamu tinggalkan di tiap postingan dan twit selama proyek #STPC berlangsung akan mendapat 1 entry. Misalnya, kamu ngetwit link review + giveaway London juga meninggalkan komentar, maka kamu mendapatkan 2 entries.

5. Jangan lupa, besok ada postingan interview bersama Windry Ramadhina. So, stay tuned ya.

6. Giveaway STPC dimulai dari tanggal 1 September – 30 September 2013. Kamu bisa mengisi kolom komentar + tweet giveaway ini selama event STPC berlangsung.

7. Pengumuman pemenang tanggal 5 Oktober 2013

Good luck 🙂

20130330-114856.jpg

P.S. Lust and Coffee diundang untuk menghadiri acara London: Angel Tea Party pada hari Minggu. Nantikan liputannya ya ^^

#STPC Interview: Meet the Author Prisca Primasari @Gagasmedia

20130819-105102.jpgPP

Paris adalah seri pertama dari seri STPC. Kali ini, Lust & Coffee berkesempatan mewawancarai penulisnya yang kece, yaitu Prisca Primasari. Selain menulis Paris, novel Prisca yang sudah terbit antara lain Eclair: Pagi Terakhir di Rusia. Novel ini mendapat nominasi Anugerah Pembaca Indonesia tahun 2011. Ada juga Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa, Evergreen, Spring In Autumn, dan lain-lain.

Paris adalah salah satu kota paling romantis sedunia. Punya kenangan pribadi dengan kota ini?

-Tidak, hanya saja sejak dulu saya tertarik dengan segala hal berbau Prancis. Salah satu impian saya adalah mengunjunginya.

Dari mana dapat ide untuk menamakan salah satu tokoh dengan Aeolus Sena?

– Kebetulan hampir semua hal tentang novel ini lahir dari spontanitas. Begitu pula nama Sena. ‘Sena’ karena saya selalu suka nama tersebut, ‘Aeolus’…mungkin dari Sagitarius Aiolos, salah satu karakter favorit saya di Saint Seiya.

Apakah menemukan kesulitan dalam proses riset novel Paris?

– Kesulitannya, saat harus menambahkan feel Prancis yang ringan dan cocok dengan karakter-karakternya. Saya membaca beberapa buku serta membeli makanan khas Prancis untuk mendalami.

Berapa lama proses menulis novel ini?

– Satu bulan, rekor tercepat saya menulis novel 🙂

Apakah ada versi asli/hidup dari Aline yang Prisca kenal?

– Tidak ada, tetapi karakternya adalah gabungan dari sedikit sifat saya sendiri dan beberapa orang yang saya kenal.

Novel Paris ini 100% rekaan atau mengambil dari kisah nyata seseorang?

– 90 persen fiksi, 10 persen lainnya campuran 😀

Ada kejadian menarik selama proses penulisan novel Paris?

– Mungkin saat saya harus selalu membawa-bawa draftnya ke mana-mana demi mengejar deadline, termasuk mal dan kereta api.

Ada rencana untuk menulis novel dengan tokoh utama Ezra?

– Tidak, tetapi saya akan menulis cerita pendek sendiri tentang Ezra di blog, beserta tokoh-tokoh lainnya. Ini semata untuk memenuhi keinginan pembaca dan memaparkan bagian yang tidak ditulis Aline di buku hariannya 🙂

Apa proyek selanjutnya yang akan Prisca kerjakan setelah Paris?

– Sekarang saya sedang menulis novel dewasa dengan tema psikologi, sedikit berbeda dengan novel-novel sebelumnya. Semoga bisa selesai dengan baik dan tidak mengecewakan 🙂

Punya lagu favorit yang bisa didengarkan ketika membaca novel Paris?

– Beberapa instrumental dari Yuhki Kuramoto dan Yiruma.

Ditunggu ya novel selanjutnya, Prisca. Selamat berkarya. Terima kasih banyak untuk wawancaranya ^^

Until next time!

20130725-125307.jpg

[Book Review] Unforgettable by Winna Efendi

book_info

20130916-014210.jpg

Judul: Unforgettable
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: 2012, Cetakan Ketiga
Tebal: 173 halaman
ISBN: 978-979-780-541-8
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance
Beli di: Bukabuku Harga Rp. 34,400
Kalimat pertama: Kedai wine itu dinamakan Muse.

book_blurb

Ini adalah satu kisah dari sang waktu tentang mereka yang menunggu. Cerita seorang perempuan yang bersembunyi di balik halaman buku dan seorang lelaki yang siluetnya membentuk mimpi di liku tidur sang perempuan.

Ditemani krat-krat berisi botol vintage wine yang berdebu, aroma rasa yang menguar dari cairan anggur di dalam gelas, derit kayu di rumah usang, dan lembar kenangan akan masa kecil di dalam ingatan.

Pertemuan pertama telah menyeret keduanya masuk ke pusaran yang tak bisa dikendalikan. Menggugah sesuatu yang telah lama terkubur oleh waktu di dalam diri perempuan itu. Membuat ia kehilangan semua kata yang ia tahu untuk mendefinisikan dan hanya menjelma satu nama: lelaki itu.

Sekali lagi, ini adalah sepotong kisah dari sang waktu tentang menunggu. Kisah mereka yang pernah hidup dalam penantian dan kemudian bertemu cinta.

thoughts

Setelah melahap Melbourne: Rewind dan terkesan dengan novel tersebut, gue mencari novel karya Winna yang lain. Dan Unforgettable adalah salah satunya.

Unforgettable berkisah seorang perempuan yang bersama kakaknya, Rangga, mengelola wine cellar warisan almarhum ayah mereka. Rangga lebih banyak berhubungan dengan para tamu, sedangkan si perempuan (yang tidak disebutkan namanya) lebih suka duduk di hadapan laptop sambil menulis fiksi.

Seorang laki-laki kerap datang ke Muse (nama tempat itu). Ia menderita insomnia dan suka berpetualang. Kedua pasang mata milik laki-laki dan perempuan itu bertemu, menyalakan alarm adanya ketertarikan, dan keduanya mulai berbagi kisah tentang kehidupan, masa lalu, juga cinta.

Namun, percakapan antara si perempuan dan lelaki itu seperti tak berkesudahan, dan gue dibuat bosan.

Juga yang membingungkan adalah penuturan 2 orang ketiga yang berbicara bergantian (ditandai dengan italics). Penulisan dialog tak langsung membuat novel ini unik sekaligus janggal.
Gue sekali membaca novel yang cara penulisan dialognya mirip dengan novel ini, yaitu The Bride Stripped Bare, namun ceritanya dituturkan dari POV2.

Namun, sedikit banyak gue jadi tahu tentang cara merawat wine dan jenis-jenisnya yang beragam. Gue jadi ikut merasa ikut mencicip wine. Jadi membayangkan duduk di sudut Muse dekat rak buku sambil mengunyah fillet mignon diselingi eiswein. Nikmat banget. Oh iya, dalam bayangan gue, Muse itu ada di sudut Menteng yang jauh dari keramaian. Lingkungannya teduh, dan bangunan peninggalan kolonial itu ada aksen biru pucat yang kalau malam lampu-lampu gantung yang cantik berpijar.

Cara bertutur Winna yang khas dengan diksi yang kaya sangat terasa juga. Gue sangat suka dengan cara Winna bercerita. Walau novel ini beralur sangat lamban dan bikin gue mengantuk, gue sangat suka dengan writing style-nya Winna. Gue jadi belajar banyak dari novel ini.

Gue membenarkan pesan novel ini. It’s more comfortable talking about your problems to a stranger than talking to your friends who’ll most likely spill them out to someone else that you knew. Kebanyakan backstabber itu temen sendiri kan? 🙂

quotes

Penyesalan, sama seperti hidup, sama seperti kenangan, adalah hal yang sangat mengerikan. (hal. 23)

Kata orang, menjadi dewasa berarti harus membuat pilihan. Baginya, menjadi dewasa berarti tidak memiliki pilihan. Hidup menjadi serentetan tanggung jawab yang harues diemban, baik suka maupun tidak, mau ataupun enggan. (hal. 36)

Saya percaya, selalu ada sebotol wine yang tepat untuk setiap occasion maupun mood, begitu juga dengan musik. (hal. 81)

Additional Grading Scale:
Cover: A
Plot: C
Characters: B
Writing Style: A
Emotional: C
Satisfaction: B

tidbits

Need a Second Opinion?

Dinoy’s Books Review
Mia Membaca Review
Tukang Review Review

Until next time

20130330-114856.jpg

[Book Review+Giveaway] Paris: Aline by Prisca Primasari @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

book_info

20130912-105752.jpg

Judul Buku: Paris: Aline (Setiap Tempat Punya Cerita #1)
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: Januari 2013, Cetakan Ketiga
Jumlah Halaman: 212
ISBN: 978-979-780-577-7
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Travel Literature
Harga: Rp. 42,000
Beli di: Hadiah dari Gagasmedia #UnforgotTEN
Kalimat pertama:
Wajah Sevigne Devereux berseri-seri saat menerima paket dari sahabat Indonesianya.

book_blurb

Pembaca tersayang,

Dari Paris, sepotong kisah cinta bergulir, merupakan racikan istimewa dari tangan terampil Prisca Primasari yang sudah dikenal reputasinya dengan karya-karya sebelumnya Éclair, Beautiful Mistake, dan Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa.

Ini tentang sebuah pertemuan takdir Aline dan seorang laki-laki bernama Sena. Terlepas dari hal-hal menarik yang dia temukan di diri orang itu, Sena menyimpan misteri, seperti mengapa Aline diajaknya bertemu di Bastille yang jelas-jelas adalah bekas penjara, pukul 12 malam pula? Dan mengapa pula laki-laki itu sangat hobi mendatangi tempat-tempat seperti pemakaman Père Lachaise yang konon berhantu?

Setiap tempat punya cerita. Dan inilah sepotong kisah cinta yang kami kirimkan dari Paris dengan prangko yang berbau harum.

Enjoy the journey,

EDITOR

thoughts

Dibuka dengan Sevigne yang menerima paket dari sahabatnya, Aline. Paket tersebut berisi undangan pernikahan dan diary Aline.

Lalu kisah tentang Aline dimulai ketika ia patah hati melihat Ubur-Ubur yang jadian dengan Lucie di bistro Indonesia tempat Aline bekerja part time. Karena patah hati, Aline minta cuti seminggu dari pekerjaannya (hmmm… agak berlebihan. Gara-gara patah hati gebetan jadian sama orang lain minta cuti seminggu, bagaimana kalau ada anggota keluarga yang meninggal?).
Setelah diijinkan untuk cuti, Aline berjalan-jalan di Jardin du Luxembourg. Ketika ia duduk di bangku taman, Di dekat kaki bangku taman, seonggok porselen pecah menarik perhatian Aline. Setelah menyatukan kepingan-kepingannya, sebuah nama yamg diduga sebagai pemilik porselen itu terbaca dengan jelas: Aeolus Sena.
Akhirnya Aline memutuskan untuk membawa porselen tersebut ke apartemennya di Quartier Latin. Setelah browsing, Aline menemukan alamat email Sena dan mereka mengadakan janji temu di Place de la Bastille jam 12 malam. Ok, memamg seniman itu rata-rata eksentrik. Namun janji temu jam 12 malam di penjara Bastille? Sounds like a serial killer. Ironisnya, si pria bernama Sena tidak muncul dan membatalkan janji via email. Minus dua deh penilaian gue terhadap cowok tidak gentleman ini.
Esok paginya, Aline menerima email dari Sena yang meminta bertemu kembali di Penjara Bastille (teuteup) jam 12 malam (cape deh). Dan, berapa kali dia membatalkan janji? Dua kali berturut-turut, menelantarkan seorang gadis tengah malam di Bastille. Untung malam kedua Aline ditemani oleh Ezra. Minus tiga buat Sena.
Esok siangnya, Aline dan Sena bertemu untuk pertama kalinya waktu makan siang di Beaumarchais Boulangerie, toko roti khas Prancis di dekat penjara Bastille.

20130912-112917.jpg
Pic from here

Sena ternyata berpenampilan seperti member boyband Korea yang memakai shawl berlapis warna-warni. Kebayangnya sih dia ini rada androgyny. Ditambah bawel dan narsis, mirip banget sama Kim Heechul ya.

20130912-111249.jpg

Sebelumnya, Sena janji untuk berusaha mengabulkan permintaan Aline karena membatalkan janji dua kali. Aline bercerita bahwa ia minta dibelikan tiket pulang ke Indonesia karena simpanannya menipis.
Menurut penuturan Aline, ia ke Paris karena menuruti kemauan ayahnya agar ia mengambil program S2 Sejarah di Pantheon-Sorbonne atau Universite Paris 1.

20130912-112404.jpg
Pic from here

Aline merasa perlu merecharge diri di Indonesia sebelum kembali lagi ke Paris. Drame bergulir antara Aline-Sena-Ubur-Ubur-Lucie. Gue nggak akan memberi spoiler, silahkan dibaca sendiri saja novelnya.

Kalimat yang agak mengganggu:
“Apa paling kamu rindukan dari Indonesia apa?” (hal. 52)
Mungkin seharusnya apa yang paling kamu rindukan dari Indonesia.

Lalu, adegan Aline yang mengirim email kepada mamanya. Ia sebenarnya kangen pada mamanya dan ingin mendengar suaranya, namun biaya telepon interlokal mahal. Ehem, jaman sekarang sudah canggih. Ada YM yang bisa sekaligus webcam atau Skype. Entah setting novel ini tahun berapa. Mungkin sebelum ada webcam ya. Tunggu, seharusnya sih tahun-tahun sekarang, karena ada adegan Tina menyodorkan ipad pada Sena ketika ia ingin Sena membaca hasil tulisannya.

Lalu, ketika Aline dan Sena mencicipi makanan di bistro tempat Aline bekerja, Sena mengeluh kalau rasanya hambar. Aline meracau tentang rekan-rekannya yang terkesan asal dalam membumbui masakan dan tidak mendengar saran dari Aline. Pemilik bistro tersebut Monsieur Borodin, mantan chef Prancis yang kurang ahli dalam meracik masakan Indonesia.
Ok, I don’t get this. Sebuah resto atau bistro pasti memiliki head of chef yang mengontrol kualitas makanan. Sebelum makanan tersaji di meja customer, bukankah seharusnya head of chef mencicipi terlebih dahulu? Dan ini bistro di Prancis lho, bukan warteg di Indonesia yang kerap luput dari quality control. Ditambah kinerja para pekerja bistro yang bersikap profesional jika ada bos saja.

Mungkin novel ini lebih cocok diberi label teen lit ya, karena ceritanya sangat remaja, dan terus terang gue yang sudah kepala tiga kurang cocok dengan genre ini. Seperti tidak ada koneksi.

Di luar itu semua, novel ini asyik buat diikuti. Kita diajak menyusuri kota Paris bersama Aline dan Sena.

Need a second opinion?

Kubikel Romance Review
Occultatalentum Review

Submitted for:

New Authors Reading Challenge here

IRRC 2013 here

STPCGA

Yuk, yang mau mendapatkan 3 paket novel serial #STPC @Gagasmedia @Bukune merapat kemari. Caranya gampang banget:

1. Follow akun @Gagasmedia @Bukune dan @PriscaPrimasari

2. Twit link review + giveaway ini dengan kalimat seperti ini:

Mau dapetin paket novel #STPC dari @yuska77 @Gagasmedia @Bukune? Klik aja [link]

3. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel Paris:Aline. Jangan lupa untuk mencantumkan:

Nama, akun twitter, dan email.

4. Setiap komentar yang kamu tinggalkan di tiap postingan dan twit selama proyek #STPC berlangsung akan mendapat 1 entry. Misalnya, kamu ngetwit link review + giveaway Paris juga meninggalkan komentar, maka kamu mendapatkan 2 entries.

5. Jangan lupa, besok ada postingan interview bersama Prisca Primasari. So, stay tuned ya.

6. Giveaway STPC dimulai dari tanggal 1 September – 30 September 2013. Kamu bisa mengisi kolom komentar + tweet giveaway ini selama event STPC berlangsung.

7. Pengumuman pemenang tanggal 5 Oktober 2013

Good luck 🙂

20130330-114856.jpg

[Book Review + Giveaway] Explicit Love Story by Lee Sae In @penerbitharu

book_infoexplicit

book_blurb

Semua orang menganggapku ahli dalam berpacaran. Bahkan, pertanyaan mendetail tentang cara berciuman dan melakukan hubungan intim juga datang menghampiriku. Sejujurnya, aku merasa sedih setiap kali pertanyaan seperti itu muncul karena sebenarnya aku adalah “tong kosong yang nyaring bunyinya”. Ucapan vulgar yang keluar dari mulutku sesungguhnya adalah hasil dari pengetahuan yang kudapat melalui Internet dan majalah.

Lalu, suatu ketika… saat sedang menonton film sendirian di klub film yang kuikuti, film yang tak kuketahui judulnya itu tiba-tiba macet. Sialnya, adegan yang tampil adalah adegan dewasa yang bisa membuat malu siapa pun yang melihatnya.

Sialnya lagi, satu-satunya cara mematikannya adalah mencabut colokan kabel listrik TV yang berada tepat di belakang TV berukuran besar ini. Saat aku sedang bersusah payah memeluk TV itu untuk memindahkannya, seorang pria tiba-tiba masuk.

Mati aku! Mau ditaruh di mana mukaku?

thoughtsLee Seon, gadis yang memiliki penampilan fisik biasa-biasa saja, sering mengintip artikel di majalah dewasa sejak di bawah umur. Ketika beranjak remaja, ia dianggap ahli dalam bidang seks, sering dikerubuti tetangga, bahkan diminta untuk menjadi menantu teman-teman ibunya.

Gyu Jin, dijuluki Ma Gyo Ju (salah satu tokoh legendaris Saeguk, semacam Cassanova-nya Korea), playboy tampan bermata sipit panjang yang menolak Seon Ju, adik kela Lee Seon yang tergila-gila padanya.

Gyu Jin mendekati Lee Seon dengan ‘ganas’, membuat Lee Seon menjadi salah tingkah dan menghindarinya. Banyak adegan lucu berbau seks yang bertebaran di novel ini. Sepertinya novel ini memang cocok untuk usia 21 tahun ke atas, karena sesuai dengan judulnya, banyak adegan seks yang dijelaskan secara eksplisit. Juga banyak istilah-istilah seksual yang dijadikan footnote. Namun, hubungan cintanya juga apik dan sweet banget.

Gue belum pernah membaca Korean sex literature. Hanya teringat dengan (mungkin) novel seks yang dibaca diam-diam oleh mahasiswa Sungkyunkwan dalam serial ‘Sungkyunkwan Scandal’. Mungkin ini versi modernnya.

Style menulis Lee Sae In mengalir, blak-blakan hingga nggak terasa sudah sampai halaman terakhir. Terus terang, novel ini bikin nagih. Bukan karena konten seksnya, namun karena cara bertuturnya yang mudah dicerna dan asyik banget untuk dibaca.

Untuk pembaca dewasa, novel ini sangat menghibur dengan berbagai tips dan istilah-istilah baru yang bisa menambah sex knowledge kita ^^

quotes

Bercinta adalah tujuan akhir dari perjodohan.

Sebelumnya aku memang mengatakan bahwa golongan darah A yang penakut sepertiku sangat benci untuk tampil di hadapan orang lain.

20130330-114930.jpg

dream_castSeandainya novel ini difilmkan, gue membayangkan peran utamanya sebagai berikut:

elvscast

Berdasarkan deskripsi fisik bukunya, si playboy mata sipit panjang bakalan cocok diperankan Jung Ill Woo yang memang sering memerankan cowok tengil. Sedangkan Uee, yang pernah berperan sebagai tokoh antagonis di serial fenomenal “He’s Beautiful” gue rasa cocok banget jadi Lee Seon yang galak dan kepo.chuseok

Memperingati perayaan Chuseok (info lebih lanjut baca di sini), ada hadiah berupa novel Korea + swag yang akan gue bagikan untuk pembaca setia blog Lust & Coffee. Caranya gampang banget:
1. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel Explicit Love Story ini.
2. Jangan lupa cantumkan nama, alamat email + akun Twitter di kolom komentar.
3. Dengan menulis minimal 1 komentar dari 5 review novel Korea, kamu mendapatkan 1 entry undian untuk memenangkan hadiah Chuseok Special Giveaway. Hitungannya 1 komentar = 1 entry; 2 komentar untuk 2 review berbeda = 2 entries, dst.
4. Jika kamu follow blog ini/twitter @yuska77/tweet giveaway ini, ada extra entry.
5. Chuseok Giveaway berlangsung dari tanggal 12 September sampai 20 September 2013.
6. Pengumuman pemenang akan dilakukan pada tanggal 25 September 2013. Pemenang akan diundi via random.org

Best of luck 🙂

20130330-114856.jpg

[Book Review] The Vampire Diaries: The Awakening by L.J. Smith

book_info

20130914-030832.jpg
Title: The Awakening (The Vampire Diaries Series #1)
Author: L.J. Smith
Publisher: Harper Collins
Date of Published: March 1st, 2010
ISBN: 978-0-06-199075-5
No. of Pages: 302
Format: Mass Market Paperback
Category: Fiction
Genre: Horror, YA, Vampires, Supernatural, Fantasy
Bought at: Bookdepository for $6.95
Opening sentence: Dear Diary,
Something awful is going to happen today. I don’t know why I wrote that. It’s crazy.

book_blurb

Elena: beautiful and popular, the girl who can have any guy she wants.

Stefan: brooding and mysterious, desperately trying to resist his desire for Elena . . . for her own good.

Damon: sexy, dangerous, and driven by an urge for revenge against Stefan, the brother who betrayed him.

Elena finds herself drawn to both brothers . . .

who will she choose?

thoughts

I read this book because I’m a huge fan of TVD TV Series. I’m #TeamDamon by the way.
Beberapa nama dan ciri-ciri fisik tokoh di buku berbeda dengan yang ada di TV. I prefer non-blond Elena. It’s hard to portray new faces for the characters, so just be it. I’m happy with TVD Cast and they’re the characters that I pictured in my head while reading this novel.

Adegan dimulai dengan Elena yang merasa asing ketika kembali ke rumah yang ia tinggali ketika ia kecil dulu. Elena baru kembali dari Paris menghabiskan liburan musim panas, dan ia kembali ke rumahnya di Fell’s Church, Virginia (di serial TV namanya Mystic Falls). Elena merasa semuanya serba asing, bahkan warna langit pun tidak secerah dulu. Ia merasa diikuti. Elena melihat seekor gagak besar dan mengkilat yang sedang menatapnya seolah menelanjanginya.
Stefan Salvatore yang sebelumnya tinggal di Italia, bosan dengan kegelapan dan kesendirian. Ia kembali ke Fall’s Church untuk mencicipi kehidupan sebagai siswa SMA. Tak ada yang pernah melihatnya mengisap darah binatang di balik pohon sewaktu break.

Elena adalah salah satu gadis populer di Robert E. Lee High School. Sahabatnya yang termasuk dalam gank cewek populer adalah Caroline (yang ingin menyaingi Elena dalam hal apa pun termasuk jadi queen bee), Bonnie yang memiliki bakat supranatural (karena ia keturunan witch) dan Meredith, gadis bubbly yang berada di tengah-tengah.

Mata keempat cewek populer tersebut takjub melihat Stefan yang keluar dari mobil Porsche-nya di tempat parkir. Namun, Stefan memakai kacamata hitam yang menutupi matanya. Elena penasaran dengan sosok Stefan yang misterius namun memiliki pesona yang dahsyat.

Masalahnya, ia masih berstatus pacarnya Matt. Elena kesulitan untuk memutuskan Matt. Perasaannya sudah berubah. Elena merasa ia dan Matt tak ubahnya seperti kakak-adik.

Sebaliknya, Stefan juga penasaran dengan sosok Elena. Ketika Elena berbalik dan wajahnya bisa dilihat dengan jelas, Stefan terkejut bukan main. Wajah Elena seperti kembaran Katherine, pacar Stefan di masa lalu. Namun, tentu saja Elena bukan Katherine.

Kejadian-kejadian aneh mulai terjadi seiring kemunculan Stefan di Fall’s Church. Pesta prom, Elena dicium paksa Tyler, lalu muncul Stefan yang menolong Elena. Ok, sedikit banyak, novel ini mengingatkan gue dengan Twilight. Namun, sebenarnya serial The Vampire Diaries sudah ada jauh sebelum Twilight Saga beredar.

Balik lagi dengan Stefan dan Elena. Ada flashback tentang hubungan cinta segitiga antara Stefan-Katherine-Damon. Damon adalah kakak Stefan yang memiliki personality berbeda jauh dengan Stefan. Damon adalah pemberontak dan ia selalu menyuarakan kehendaknya dengan lantang, walau harus menentang orangtuanya.

Karena gue sudah menonton serinya terlebih dahulu, gue jadi ikut flashback ke TVD Season 1.

Gue sangat berterima kasih kepada Kevin Williamson yang menciptakan karakter Jeremy, karena kalau nggak ada Jeremy, TVD nggak seru. Dan Jeremy tidak ada di novel.

Karakter Elena di novel agak berbeda dengan di serial TV. Di novel Elena digambarkan sebagai mean girl berambut blond yang bossy dan selalu mendapat apa yang ia inginkan. A high school bitch that you’d like to slap.
Sedangkan Stefan dan Damon tidak jauh berbeda dengan di serial TV.

Aunt Judith di serial TV bernama Jenna. I like Jenna better, terdengar lebih modern.

Nggak sabar pengin baca buku kedua, yaitu The Struggle.

20130908-081724.jpg

Until next time

20130330-114856.jpg

#STPC Interview: Meet the Author Riawani Elyta @Bukune

20130819-105102.jpg

riawani

Halo,

Ketemu lagi dengan segmen Meet the Author. Setelah membahas novel First Time in Beijing, kali ini Lust and Coffee berhasil mewawancarai penulisnya, Riawani Elyta. Simak interview berikut tentang tidbits di balik pembuatan novel First Time in Beijing.

Bisa diceritakan dari mana dapat ide untuk novel First Time in Beijing?

Idenya terinspirasi dari film seri “Kitchen Musical” yang dibintangi Christian Bautista. Bagi penggemar film seri populer, film seri ini mungkin terasa monoton, karena settingnya hanya di restoran dan diselingi tarian dan nyanyian seperti opera. Tetapi bagi saya, disitu letak keunikannya. Ini film seri pertama pernah saya tonton, yang menyajikan dunia kuliner secara komplit. Bahkan konflik antar tokohnya pun, masih terhubung dengan aktivitas kuliner. Awalnya saya ingin menulis novel Beijing ini dengan hampir semua settingnya di restoran, seperti film tersebut, tetapi mengingat proyek STPC adalah penggabungan kisah cinta dan travelling, maka tempat-tempat lain di Beijing turut dijadikan setting, sehingga pembaca juga bisa merasakan petualangan tokohnya (Lisa) saat pertama datang ke Beijing selain lika-likunya bergelut di dunia restoran

Tema novel ini menarik, cooking competition. Apa Ria suka memasak? Dapat darimana idenya?

Tidak. Saya lebih suka membuat kue J Idenya dari keinginan saya untuk menyajikan cerita tentang perjuangan dalam dunia usaha, saya pilih kuliner karena saya suka excited kalau membayangkan makanan J. Selain terinspirasi dari film Kitchen Musical, juga dari novel Jepang berjudul Kitchen, ini tentang kecintaan tokohnya pada dapur dan semua elemen dapur termasuk makanan. Jadi melalui novel ini, saya juga ingin menyampaikan bahwa kesuksesan itu harus diperjuangkan, dengan disiplin dan komitmen kuat untuk belajar, dan salah satu kuncinya adalah dengan memiliki passion atau mencintai aktivitas yang kita lakukan

Berapa lama proses penulisan novel ini?

Proses penulisannya sekitar 2 bulan, plus revisi, totalnya sekitar 3 bulan

Satu kata yang bisa mendeskripsikan Beijing:

Cinta – kuliner – chef – kultur : Novel yang merupakan harmonisasi kisah cinta, perjuangan, keteguhan hati, kasih sayang keluarga, dilatarbelakangi dunia kuliner, kultur bisnis orang china dan setting kota Beijing sebagai salah satu pusat peradaban dunia

Jika novel First Time in Beijing difilmkan, siapa yang cocok untuk memerankan:

Lisa : Laura  Basuki

Daniel : Glenn Alinskie / Roger Danuarta

Yu Shiwen : Agnes Monica / Chelsea Olivia

Saya suka dengan novel berbau kultur, seperti Beijing ini. Apa yang dilakukan Ria ketika riset? Apa ada model keluarga asli seperti keluarga Lisa?

Saya mengumpulkan semua bahan tertulis yang bisa mendukung proses penulisan, diantaranya travelling guide negeri China, kumpulan chinese wisdom, kultur masyarakat china, kamus online bahasa Mandarin juga wawancara tertulis tentang terjemahan bahasa pada teman yang pernah bekerja di Hongkong.

Kalau model keluarga asli tidak ada, jadi keluarga Lisa hanya fiktif belaka. Tetapi sebagian pengalaman Lisa bersumber dari pengalaman saya juga, saya pernah tinggal di luar negeri bersama keluarga yang anak-anaknya sama sekali nggak peduli dengan saya.

Ada pengalaman menarik selama proses penulisan novel ini?

Yang menarik menurut saya, adalah ketika proses revisi novel ini. Pada saat yang sama, saya juga sedang menulis empat novel lain yang rata-rata punya deadline sekitar 1-2 bulan atas order penerbit juga yang saya tulis untuk diikutkan pada lomba novel. Maka, pada waktu yang benar-benar hectic ini, saya harus bisa membagi fokus yang sama besar juga menjaga agar “feel” tokoh cerita yang berbeda-beda itu tidak tertukar-tukar atau justru seragam, mengingat semua novel punya karakter tokoh utama yang berbeda-beda. Mengerjakan ini benar-benar jadi tantangan tersendiri buat saya, karena baru kali pertama, saya mengerjakan beberapa novel dalam waktu bersamaan dan masing-masing terikat dateline yang ketat. Jadi untuk menyiasatinya, dalam sehari saya bagi waktu, pagi untuk nulis novel A, sore untuk novel B, malam untuk novel C. Saya juga pasang target dalam sehari minimal saya harus bisa menulis 5 halaman

Bisa share playlist yang Ria dengarkan ketika menggarap novel ini?

Saya nggak pake playlist, selama ini, satus-satunya novel saya yang ditemani playlist hanya “Yang Kedua” (Bukune, 2012) karena ini memang novel tema musikal. Kalo pake playlist, saya malah nggak konsen nulis.

Apa proyek novel selanjutnya yang akan Ria kerjakan?

Saya sedang menulis novel romance dengan latar belakang penyelamatan lingkungan, dalam hal ini penyelamatan satwa langka, progress-nya baru jalan tiga puluh persen, dan insya Allah akan diterbitkan di Bukune juga.

Ada tips singkat untuk penulis yang ingin mengirim naskahnya ke Bukune? Apa saja yang harus diperhatikan?

Kenali segmen Bukune dengan cara membaca novel-novel terbitannya, tulis cerita sesuai segmen tersebut dengan plot dan alur yang baik, ketik yang rapi lalu penuhi semua syarat pengiriman sebelum mengirim naskah. Jangan lupa berdoa yang khusyu agar naskahnya diterima.

Terima kasih banyak untuk wawancaranya yang menyenangkan. Ditunggu karya Ria selanjutnya ya ^^

Until next time.

20130725-125307.jpg