#STPC Interview: Meet the Author Robin Wijaya @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

robin copy

Akhirnya sampai juga kita di penghujung program #STPC di blog ini. Karena ada hal yang harus eykeh kerjakan dan tidak bisa ditunda, jadilah postingan ini agak terlambat. Maafken ya.

Kali ini, Lust and Coffee berhasil mewawancarai Robin Wjaya, penulis novel Roma: Con Amore. Seperti apa sih proses pembuatan novel Roma? Simak aja wawancara berikut ya🙂

 

 

1. Mengapa memilih Roma sebagai setting novelnya?

Sebetulnya, waktu pertama kali ditawari ikutan STPC, ada 3 kota yang masih tersisa di list: London, Paris dan Roma. Waktu milih 1 di antara 3 kota itu lebih kayak cap-cip-cup sih. Spontan aja bilang ke editor ‘Roma’, lalu dijawab ‘pilihan yang tepat sekali’ (eh, berasa lagi pesan pizza ya). Tapi rasanya pilihan tersebut memang tepat. Saya menyukai Roma: kesenian, sejarah, makanan dan liga Italianya.

 

2. Apa kesan pertama Robin ketika diminta untuk menulis novel dengan setting Roma?

Excited! Saking excited-nya, satu hari pertama yang harusnya dipakai untuk nulis sinopsis malah cuma diisi bengong-bengong karena bingung mau nulis apa. Hehehehehe.

 

3. Satu kata yang bisa mendeskripsikan Roma:

Hangat

 

4. Berapa lama proses menulis novel ini?

3 bulan. Nggak dalam sepanjang waktu itu nulis terus ya, kadang-kadang diisi bengong dan ngopi-ngopi. Proses nulis paling maksimal di 1 bulan terakhir.

 

5. Apakah ada pengalaman menarik selama proses penulisan Roma?

Ada. Pertama riset. Baru kali ini nulis novel bersetting luar negeri. Dan karena saya orangnya melankolis, kalau nyari satu lokasi yang akan dijadikan setting saya mesti tahu sedetail-detailnya seperti: rute transportasi ke sana dan berapa lama, nama gang-gang kecil di sekitar tempat itu, ada toko apa aja, bagaimana suasananya, jalanannya berbatu atau aspal, bagaimana cuacanya, dll.

Kedua adalah pengalaman sejarah. Menjelajah Roma berarti menjelajah peninggalan budaya masa lalu. Saya menyukai cerita-cerita epic dan kesenian, sisa-sisa kejayaan emporium Romawi yang masih berdiri sampai sekarang, dan cerita tentang Michelangelo sendiri merupakan pengalaman menjelajah masa lalu yang menyenangkan selama menulis novel Roma ini.

 

6. Jika novel Roma difilmkan, siapa yang cocok untuk memerankan:

Agak susah ya, karena bicara tokoh dan karakter seperti bicara manusia sebenarnya. Tapi waktu menulis Roma, saya menggunakan foto-foto aktor dan aktris untuk menggambarkan sosok tersebut. Ini nih foto yang saya pajang di desktop selama nulis Roma. Mirip nggak kira-kira sama bayangan teman-teman?

con amore roma

7. Berapa lama riset yang dibutuhkan sebelum menulis novel ini? Apakah ada narasumber yang membantu?

1 bulan untuk riset sendiri. Memang agak lama sih, karena kebanyakan diisi untuk ngumpulin data dari internet, terus dibaca satu-satu.

Ada beberapa teman juga yang membantu. Untuk Michelangelo, Prisca Primasari (penulis Paris) bantuin saya nyari buku tentang maestro tersebut (makasih ya, Pris). Untuk kota Roma nya sendiri blogging aja, nanya-nanya teman blogger yang pernah travelling ke sana. Ada juga info-info yang didapat dari perpustakaan sekolah. Dan bersyukur sekali sekarang ada youtube yang bisa ngasih gambaran real suasana di kota tersebut.

 

8. Bagaimana cara Robin melakukan riset untuk tokoh?

Physically lewat gambar yang tadi di atas. Untuk karakter, begitu melihat orangnya aku langsung membayangkan kalau si A tipe orang yang seperti apa, kebiasaannya apa, bagaimana cara dia berpikir, bertindak, dll.

Mungkin agak lebih susah di profesi tokohnya. Biar bagaimana pun, orang dengan latar belakang profesi yang berbeda punya kebiasaan, tempat hang out, gaya penampilan, lingkungan pergaulan, dan komunitas yang berbeda juga. Dan almost semua yang disebut di novel ini based on real, termasuk komunitas Sanggar Pejeng, seniman jalanan yang disebut-sebut Dewa di kawasan Glodok sampai Kota Tua.

 

9. Adakah tokoh yang mirip dengan kepribadian Robin?

Kalau kepribadiannya yang mirip sih kayaknya nggak, tapi saya dan Leo sama-sama suka melukis. Bedanya, Leo lebih ke lukisan realis, aku suka vignet dan surealis

 

10. Ada pesan untuk penulis baru yang ingin mengirim naskah ke Gagasmedia? Apa saja yang perlu diperhatikan?

Ini udah banyak banget yang nanya di twitter dan facebook ya. Dan kebanyakan tentang pertimbangan-pertimbangan naskah apa yang layak diterima oleh GagasMedia. Menurut saya, kita nggak akan tahu kemampuan kita kalo nggak mencoba. Kalau memang punya naskah, dikirimkan saja. Toh, hasilnya akan ketahuan setelah naskah dikirim. Daripada numpuk di laptop jadi unsent draft.

Semangat mengirimkan naskahmu… biar saya bisa tambah teman penulis yang banyak😀

 

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^

Sama-sama, terima kasih juga sudah menyediakan ruang untuk berbagi cerita tentang novel Roma

 

It’s a wrap! Terima kasih banyak untuk Gagasmedia, Bukune, para penulis STPC, editor, Bang Ino, juga proofreader. Tidak ketinggalan cover designernya juga yang sudah berpartisipasi dan bersedia saya rempongin selama event STPC ini. Terima kasih juga untuk teman-teman pembaca yang rajin menjambangi blog ini untuk meninggalkan komentar.

Sampai ketemu tanggal 5 Oktober untuk pengumuman pemenangnya.

 

Tschuss,

20130923-121453.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on September 30, 2013, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. Haloo. saya senang sekali karena postingan ini…😀

    Kalimat “Pilihan yang tepat sekali,” di awal tadi bikin saya ngakak. Berasa lagi di restoran. Hahaha😀

    Mas Robin ternyata kalau bikin karakter tokoh kayak gini ya? Unik sih. Berasa mendapat cara baru untuk menggali karakter tokoh😀

    Untuk risetnya Mas Robin, ternyata dalem banget. Berasa nge-jleb *apaan?* Maksud saya, Mas Robin benar-benar riset secara mendetail. Keren.

    Saya belum baca Roma, mungkin lain kali, saya punya kesempatan membaca. Habis, review kemarin menggoda sih😀

    Salam hangat,

    Nanda Febri
    @milo389
    febrifebruary03@gmail.com

  2. franco itu pikunya david villa nggak sih? serasa mirip *salah fokus hihihihi

  3. nggak suka yang jadi Felice, tapi suka yang jadi Leo, tapi karakter kedua tokoh utamanya aku suka, unik🙂

  4. Inikah garis finis?! Tenang, aku tetap akan berkunjung kok kak.
    Hehehe
    Oke, lagi-lagi aku dapet ilmu untuk riset dan bagaimana cara membuat tokoh-tokohnya. Sepertinya aku akan meniru caranya Bang Robin.

    Dian. S
    @dianputuamijaya
    dian_putu26@yahoo.com

  5. iin ekawati markus

    Interviewx langsung ngena yah jawabannya. but… sukses selalu buat penulis-penulis indonesia. semoga bisa jadi yang terbaik dan menembus pasar internasional. WISH :))

  6. IT’S A WRAP! Duh gak terasa sampai juga ke penghujung even yang banyak ngasih pengetahuan baru dan “pengalaman” baru, cheers buat kak yuska dan segenap suksesornya. Setiap author yang sudah diwawancara terasa punya kekuatan masing-masing dan begitu juga ketika akhirnya sampai ke kak robin, yang ternyata punya prinsip sendiri soal penokohan yang worth noted, salut, deh salut. Salut untuk semuanya, semoga suatu saat saya bisa bener-bener mengaplikasikan pengetahuan yang saya dapet dari even ini. Terima kasih, terima kasih banyak, i hope this is not an “arrividerci”. Best regards, Khairisa R.P / @rd_lite / reddishdelight@yahoo.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: