[Book Review+Giveaway] Roma: Con Amore by Robin Wijaya @Gagasmedia

20130819-105102.jpgbook_info

17446796

Judul Buku: Roma: Con Amore
Penulis: Robin Wijaya
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: Februari 2013, Cetakan Pertama
Jumlah Halaman: 384
ISBN: 9789797806149
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Travel Literature
Kalimat pertama:

book_blurb

Pembaca tersayang,

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cerita berujung cinta. Robin Wijaya, penulis novel Before Us dan Menunggu mempersembahkan cerita cinta dari Kota Tujuh Bukit.

Leonardo Halim, pelukis muda berbakat Indonesia, menyaksikan perempuan itu hadir. Sosok yang datang bersama cahaya dari balik sela-sela kaca gereja Saint Agnes. Hangatnya menorehkan warna, seperti senja yang merekah merah di langit Kota Roma. Namun, bagaimana jika ia juga membawa luka?

Leo hanya ingin menjadi cahaya, mengantar perempuan itu menembus gelap masa lalu. Mungkinkah ia percaya? Sementara sore itu, di luar ruang yang dipenuhi easel, palet, dan kanvas, seseorang hadir untuk rindu yang telah menunggu.

Setiap tempat punya cerita. Roma seperti sebuah lukisan yang bicara tanpa kata-kata.

Enjoy the journey,

EDITOR

thoughts

——————————————————————————————————————————————————————-

“Dia? Leo menyeringai kecil ketika mengenangnya. Kalau pun takdir mengharuskan mereka bertemu lagi, suatu hari nanti, Leo berharap semoga ada cara lebih baik untuk mempertemukan mereka, bukan karena masalah lukisan yang tertukar.

Leonardo Halim adalah seorang seniman muda Indonesia yang mempunyai masterpiece seperti jajaran pelukis kelas dunia. Ia kemudian mendapat kesempatan untuk ikut proyek pameran seni di Roma, Italia. Kemampuan melukisnya bahkan diakui di Roma, dan salah satu lukisannya yang berjudul Tedak Siten terjual di pameran tersebut. Akan tetapi masalah datang saat si pembeli mengatakan bahwa lukisan tersebut tidak sampai ke tangannya – padahal kurir sudah sampai di alamat pengiriman. Masalah itulah yang mempertemukan Leo dengan seorang perempuan Indonesia di Roma bernama Felice Patricia.

“Bayangan dan tingkah polah perempuan itu masih melekat jelas dalam kepalanya. Aneh, mestinya sesuatu yang menyebalkan harus segera diusir pergi, bukan malah berdiam dan mengambil tempat dalam memori…. Kejadian hari ini… Mungkin ia akan ingat selamanya.

Pertemuan pertama Leo dan Felice tidak berjalan menyenangkan; karena meskipun sebenarnya Felice yang bersalah, perempuan itu sama sekali tidak mau mengakuinya. Keduanya pun berpisah dengan kesan pertama yang tidak begitu baik. Setelah menyelesaikan pameran tersebut, Leo berpulang kembali ke Indonesia. Kehidupannya di Indonesia ia habiskan bersama dengan Marla, kekasihnya, yang selalu merawat Leo saat ia terlalu sibuk mengerjakan lukisan. Tak lama kemudian, sahabat Leo bernama Dewa menawarkan lelaki itu untuk ikut sebuah pameran seni di Bali. Setelah mendapat persetujuan dari Marla, akhirnya Leo berangkat untuk menghadiri pameran itu.

Sedangkan kehidupan Felice di Italia ia habiskan dengan sahabatnya, Tenny, dan kekasihnya yang bernama Franco – yang adalah seorang pemain sepakbola. Bagi Felice, Franco adalah sosok kekasih yang begitu mencintainya dan seringkali menghujaninya dengan gombalan-gombalan yang manis. Meskipun Franco selalu sibuk, Felice selalu berusaha bertemu dengan lelaki itu – terlebih lagi ia akan segera berpulang ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan kakaknya, Anna. Awalnya Felice sempat ragu soal kepulangannya, karena ia tidak ingin bertemu Mama. Sejak Mama-nya berpacaran dengan seorang lelaki beristri, hubungan Felice dengannya semakin memburuk. Namun Felice tetap memantapkan hati, dan berangkat ke Bali.

“Suatu hari. Suatu waktu. Ketika kita dipertemukan kembali, tanyakan pada hati; apakah kita akan mengulang cerita lalu atau mengisinya dengan yang baru?

“Kita menggantung kata perpisahan. Diam-diam menaruh harapan dan keinginan untuk dipertemukan lagi kelak.

Leo dan Felice pun dipertemukan kembali di Bali. Felice mengalami pertengkaran hebat dengan Mamanya, membuat ia pergi keluar begitu saja dari penginapan. Tidak mempunyai arah tujuan, Felice menemukan brosur pameran seni yang diadakan di Taman Budaya – dan memutuskan untuk pergi ke sana. Nama Leonardo Halim adalah satu-satunya yang ia kenal, dan Felice memutuskan untuk menemui lelaki itu. Tanpa mereka rencanakan, secara alami pembicaraan pun mengalir, kebersamaan keduanya pun berlangsung lama. Leo menceritakan banyak tentang lukisan dan idolanya, Michelangelo. Satu waktu itu menjadi momen yang berkesan untuk keduanya.

“Tak pernah Felice merasa hatinya demikian hangat, seperti disinari matahari musim semi yang selalu mampu memberi kehidupan baru.
Dan lebih dari itu semua, lelaki itu tahu, bagaimana cara untuk membuat Felice merasa dihargai.

Meskipun keduanya harus berpisah sekali lagi, Leo dan Felice dipertemukan kembali di Roma – tempat mereka pertama kali bertemu. Perlahan-lahan tanpa disadari, perasaan yang lebih mulai muncul dalam hati masing-masing. Meskipun demikian, ada banyak sekali masalah yang ada di sekitar mereka. Fakta tentang Franco, masalah keluarga Felice yang tak kunjung selesai, dan juga fakta tentang kekasih Leo yang sama sekali tidak pernah diketahui oleh Felice. Kisah cinta mereka yang bermula di Roma, lukisan The Lady yang amat berharga bagi keduanya, akankah berakhir dengan bahagia?

Cinta? Tenny menyebutnya begitu. Terdengar aneh dan naif, bahkan keduanya tak punya status spesial. Tapi bukankah cinta memang datang perlahan? Menghuni hati tanpa perencanaan lebih dulu? Bahkan, sebelum perasaan terungkap, manusia sudah lebih dulu menyimpannya.”
Baca kisah selengkapnya di Roma: Con Amore.
Ini adalah buku ketiga Robin Wijaya yang aku baca setelah Before Us dan Menunggu; dan lewat Roma: Con Amore aku masih sangat terkesan dengan penulisannya yang manis dan mengalir dengan baik. Membaca buku ini seperti membawaku ke Roma dan melihat berbagai macam tempat yang indah. Terlebih lagi dengan kisah cinta yang manis, dan latar belakang karakter yang dalam, cerita ini menjadi semakin mudah untuk kunikmati.Buku ini ditulis dari sudut pandang orang ketiga, dan tema yang diangkat adalah tentang romance (tentunya), dan juga terselip tentang keluarga. Alurnya tentu saja dimulai dengan perkenalan dua karakter utama kisah ini: Leo dan Felice. Ceritanya dimulai dengan pertemuan keduanya yang tidak berjalan dengan baik. Kemunculan pertama Felice dalam cerita ini membuat karakternya terkesan angkuh, sombong, dan sama sekali tidak mau mengakui kesalahannya. Sedangkan Leo adalah karakter yang amat cool dan tenang menghadapi segala sesuatu. Meskipun awalnya aku sedikit sebal dengan karakter Felice, pada akhirnya aku merasa itu adalah karakteristik yang terbentuk oleh latar belakangnya – sehingga aku bisa memaklumi. Setelah perpisahan di Roma, cerita tentang Leo dan Felice berjalan sendiri-sendiri. Sehingga aku merasa gatal dan ingin terus membalik halaman karena ingin melihat lebih banyak interaksi antara Leo-Felice. Seiring dengan perkembangan hubungan Leo-Felice, banyak terselip penjelasan yang lebih mendalam tentang keluarga Felice, hubungan Leo dan Felice dengan kekasih mereka, dan lain sebagainya. Salah satu hal yang sedikit aku sayangkan adalah saat Leo-Felice berkeliling Roma dan mengunjungi tempat-tempat populernya. Meskipun aku senang karena ada banyak nama-nama tempat di Roma yang bisa aku ketahui, tetapi aku berharap akan terjadi lebih banyak hal saat mereka berwisata – dibandingkan hanya penjelasan dan fakta tentang tempatnya🙂 Akan tetapi setelah bagian itu, konflik semakin muncul ke permukaan dan alurnya mencapai klimaks – sehingga aku sama sekali tidak ada waktu untuk merasa bosan. Aku juga cukup puas dengan ending-nya yang menyelesaikan semua masalah dengan baik pada akhirnya.

Dari seluruh karakter yang ada, aku rasa karakter Felice yang paling terasa dalam karena pembaca juga mengetahui latar belakang keluarganya. Akan tetapi karakter yang menjadi favoritku dalam cerita ini adalah Marla. Meskipun aku tidak akan menceritakan konfliknya secara detil (no-spoiler), tetapi aku sangat kagum dengan tindakan dan pilihan yang diambil oleh Marla. Jika aku dalam posisi yang sama sepertinya, mungkin aku akan melakukan hal yang serupa. Kemunculan Marla dalam cerita ini memang tidak banyak, tetapi ia adalah karakter yang meninggalkan kesan paling dalam untukku🙂

Secara keseluruhan, aku sangat menikmati kisah cinta manis yang dituliskan oleh Robin Wijaya ini. Gaya penulisannya yang mengalir dilengkapi dengan deskripsi detil membuatku merasakan suasana Roma yang terasa romantis. Beberapa penggunaan bahasa Italia dalam ceritanya membuatku sedikit belajar🙂 Aku selalu menikmati karya tulisan Robin Wijaya dan akan menantikan karya yang selanjutnya :))

Reviewed by.stefaniesugia♥

.STPCGA

Yuk, yang mau mendapatkan 3 paket novel serial #STPC @Gagasmedia @Bukune merapat kemari. Caranya gampang banget:

1. Follow akun @Gagasmedia @Bukune dan @robinBIEwijaya

2. Twit link review + giveaway ini dengan kalimat seperti ini:

Mau dapetin paket novel #STPC dari @yuska77 @Gagasmedia @Bukune? Klik aja

3. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel Roma: Con Amore. Jangan lupa untuk mencantumkan:

Nama, akun twitter, dan email.

4. Setiap komentar yang kamu tinggalkan di tiap postingan dan twit selama proyek #STPC berlangsung akan mendapat 1 entry. Misalnya, kamu ngetwit link review + giveaway Roma juga meninggalkan komentar, maka kamu mendapatkan 2 entries.

5. Jangan lupa, besok ada postingan interview bersama Robin Wijaya. So, stay tuned ya.

6. Giveaway STPC dimulai dari tanggal 1 September – 30 September 2013. Kamu bisa mengisi kolom komentar + tweet giveaway ini selama event STPC berlangsung.

7. Pengumuman pemenang tanggal 5 Oktober 2013

Good luck🙂

20130330-114856.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on September 29, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 16 Comments.

  1. “Meskipun aku senang karena ada
    banyak nama-nama tempat di Roma yang bisa
    aku ketahui, tetapi aku berharap akan terjadi
    lebih banyak hal saat mereka berwisata –
    dibandingkan hanya penjelasan dan fakta
    tentang tempatnya”, —> aku setuju!
    Dan, ceritanya lebih berpusat pada kisah cinta mereka.😀
    Untungnya, kisah ini punya alur cukup cepat dengan karakter yg cukup unik. Jadi, bisa di maafkan.
    Kalo mau menilai review ini termasuk objektif. Soalnya secara garis besar, pendapatnya denganku hampir sama. :p

    Dian. S
    @dianputuamijaya
    dian_putu26@yahoo.com

  2. Akhirnya sampai juga di Roma. Halo kak steph, saya juga sudah beberapa kali lihat blognya yang kawaii, dan dari review yang ditulis di sini saya kagum sama cara kakak bisa being into the depth of the story jika dilihat dari banyak quote yang disertakan. Review yang telaten sekali dan juga memberikan gambaran pengalaman membaca yang bisa ikut dibayangkan. Hmm saya jadi penasaran sama tokoh Marla juga jadinya, sepertinya alihalih menonjolkan setting Roma nya buku ini menawarkan cerita dan karakter yang sudah cukup kuat. Semoga kak robin bisa berbagi kiat dan sedikit rahasianya di wawancaranya. Thank you and best regards, Khairisa R. P / @rd_lite / reddishdelight@yahoo.co.id

  3. Sepertinya sudah jadi rahasia umum kalo Robin Wijaya itu emang romantis. Meski saya belum baca satu pun novelnya, tapi di tiap tweet-nya,beliau selalu berhasil membuat hati berbunga-bunga. Setuju sama review diatas.🙂

    -Dian-
    @dianmayy
    dianmayasariazis@gmail.com

  4. aku juga sering buka-buka blog Kak Stefani Sugia. Reviewnya objektif. selalu menyampaikan sisi kurang-lebih buku yang di review.

    Ratri Aulia
    @auliaaRatri
    aulian_rhatri@ymail.com

  5. Sama mbak, aku juga sama bahasa mendayu-dayunya bang Robin wijaya. eh, tadinya kupikir fokus utama dalam novel ini bajkal ngebahas sepak bola. Ternyata Lebih ke lukisan ya. Jadi pengen mendarat Ke Roma juga sama STPC

    gea
    @harovansi
    gea.harovansi@gmail.com

  6. bingung mau comment apa😐
    aku belum pernah baca atau denger apapun tentang Robin Wijaya ini
    setelah aku baca review ini dan sedikit review2 karya kak Robin di Goodreads, aku jd pengen tahu seromantis apa sih beliau ini.

    Shyntia Hani Tiara Putri
    @tiaraaaaputri
    hani_shyntia@yahoo.com

  7. Geregetan jadinya… geregetan apa yang harus kulakukan? *numpang nyanyi* /plaak/

    Sebenarnya.. saya jatuh cinta sama covernya Roma, soalnya kalem dan bikin mata seneng. Tapi… lihat review ini saya jadi…. makin senang *halah*

    Terima kasih untuk review yang sama sekali tidak ada spoilernya. Jadi nanti saya penasaran sendiri deh. Lalu, sedikit saran saya untuk review ini. Lain kali, kalau nulis review mungkin dikasih spasi paragraf yang rapi. Saya liat tadi ada paragraf yang panjaaang, bikin mata lelah. Lain kali, bisa dibagi lagi kayaknya itu paragraf.

    Untuk isi reviewnya, saya kasih jempol deh. Menarik dan bikin saya merasa… kok ada ya, kebetulan yang bener-bener kebetulan banget?

    Hahaha.. lain kali, mari disambung kembali.

    Salam hangat,

    Nanda Febri
    @milo389
    febrifebruary03@gmail.com

  8. sejujurnya saya blm pernah membaca satu pun novel STPC-nya gagas dan bukune. sejauh ini hanya tau judul2 novelnya aja. penasaran ?? iya banget, agghh…. jadi pengen baca ><

    vicky septiana
    @6002theSepti
    vickyseptiana@yahoo.com

  9. Wah komentator tamu lagi ternyata, manis sekali caranya menggambarkan buku ini. Perlahan-lahan sehingga membuat kita penasaran. Good job, Mbak^^

    Roma, kota yang sangat menggugah rasa ingin tahu saya. Ingin sekali menjelajahi kota penuh sejarah ini. Sayang sekali jika ternyata tidak banyak ‘rasa’ pada penggambaran Roma dalam buku ini. Namun, romansa yang apik dan tetap manly sangat saya nantikan dari karya Mas Robie ini.

    Lebih dari itu, entah kenapa saya tertarik pada tokoh utama pria yang berprofesi sebagai seniman. Pelukis salah satunya. Menyenangkan menyelami karakter yang tidak tertebak seperti seorang seniman. Apalagi melihatnya dari kacamata pria sendiri (dimana saya notabene jarang membaca roman karya pria, hehehe).

    Semoga saja bisa segera membaca buku ini. Habis, penasaran sekali><

    Natasha Adelina
    @natashey
    natasha.adelina@gmail.com

  10. Kali ini reviewnya panjaaang =)) mengalir seperti biasanya. Masih belum selesai baca roma, sempet deg-deg kan juga baca ini, takutnya ada spoiler. Tapi untunglah tidak ada =)) saya percaya aja kalo review dari mbak yuska bakal tidak mengandung spoiler.😀

    Delta Kenda Ramadita
    @DeltaYordani
    iam(dot)deltayordani(at)gmail(dot)com

    • salaaah, kok jadi mbak yuska >,< stefanie maksudnya. Udah sering berkunjung ke blognya stefanie, makanya bisa percaya :p mbak yuska juga kok :)) *takut kena timpuk timbunan buku*

  11. pertama baca reviewnya kok aku kenal ya gaya berceritanya, g asing nih, ternyata benar, kenapa nggak ngreview sendiri mbak?

    seru sih bukunya, terlebih penulis banyak bercerita ttg dunia lukisan, setting tempatnya pun dapat hanya saja deskripsi ttg Leo kurang banyak, keluarga atau masa lalunya masih samar, masih mending dengan Felice konflik keluarganya dapet. dan setuju interaksi Leo dan Felice di awal kurang banyak🙂

  12. Aku juga sering baca-baca review di blognya stefanie tapi jarang komen :p
    Tapi secara keseluruhan aku selalu suka dengan review-revienya..
    termasuk dengan review novel Roma ini🙂

    Intan Ratnasari
    @_tantintun
    ymmot_in@hotmail.com

  13. Wah… sekarang pereview tamunya Stefanie. Dulu awal kenal BBI itu karena suka baca review-nya Stefanie di blognya. Seperti biasa, Stef selalu detail kalau mereview, sistematis, dan ga pernah bocorin spoiler. Karena seringnya menonjolkan sisi positif buku, justru bikin yang baca seperti saya jadi tertarik untuk beli. Kebetulan sih buku STPC Roma ini juga sudah jadi wishlist aku sejak lama.

    Tammy @alizarinnn
    keikokukien28@gmail.com

  14. iin ekawati markus

    no comment buat novel yang satu ini deh… its amazing. dan buat reviewnya, udah bagus banget :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: