#STPC Interview: Meet the Editor Widyawati Oktavia @Bukune

20130819-105102.jpgwidya copy

Ketemu lagi dengan segmen Meet the Editor. Senang banget bisa menculik mbak Widya untuk bertanya-tanya tentang rahasia dapur STPC Bukune. Langsung aja kita simak wawancara berikut🙂

 

Bisa diceritakan bagaimana proses novel serial STPC, mulai dari ide, brainstorming, hingga pemilihan penulis?

Ide serial STPC ini diajukan oleh Mbak Windy Ariestanty—pemred GagasMedia & koordinator Bukune—ke GagasMedia dan Bukune. Kami diharapkan menggarap seri ini bersama agar memberi warna pada novel-novel yang sudah ada.         GagasMedia dan Bukune berbagi negara-negara yang akan diceritakan, lalu kami mengonsep ciri khas penerbit masing-masing. Hal ini termasuk penulis, isi cerita, setting isi, desain cover, dan sebagainya. Setelah hal tersebut ada, Bukune dan GagasMedia duduk bareng untuk sharing dan brainstroming agar konsep yang diberikan kepada pembaca lebih maksimal dan ada ciri “pembeda” juga di antara kedua penerbit.

Untuk pemilihan penulis sendiri, berdasarkan pertimbangan penerbit masing-masing. Kalau di Bukune, kami menawarkan negara dan “gong” waktu (sunset, sunrise, night, sunny, rainy, snowy) kepada penulis yang ditunjuk. Penulis dapat memilih negara yang lebih dikuasai dan dipersilakan saling diskusi juga jika ada yang ingin tukar negara dengan penulis lain. Outline para penulis ini dikirimkan ke semua penulis yang ikut proyek ini untuk menghindari kesamaan cerita. Waktu penulisan dibagi berdasarkan urutan cerita yang akan terbit. Hal ini juga didiskusikan dengan para penulis agar deadline yang dibuat sesuai dengan jadwal mereka.

 

Apa mbak Widya suka traveling? Jika iya, dari semua tempat yang dibuat setting novel STPC, kota/negara mana yang paling ingin mbak kunjungi?

Ya, saya termasuk orang yang suka traveling. Dulu, sempat menelusuri beberapa gunung dalam beberapa pendakian bersama teman-teman kuliah. Kalau untuk harapan, saya sangat ingin mengunjungi Venesia. Ingin naik gondola dan menyusuri lorong-lorong tempat yang digambarkan indah dan unik itu. Juga pastinya ingin mendapatkan suasana romantisnya.😀

 

Ada pengalaman menarik sewaktu mengedit novel-novel STPC?

Yang paling menarik saat mengedit adalah semua cerita di seri STPC membuat saya ingin mengunjungi tempat-tempat itu. Jadi, setiap ganti lokasi cerita, berganti lagi kepenginannya. Pastinya, ingin juga merasakan kisah cinta dan momen-momen romantis seperti yang dialami tokoh-tokohnya. :’)

 

Saya terkesan dengan cover novel STPC Bukune terkesan klasik. Dari semua novel tersebut, mana yang covernya paling Mbak sukai? Alasannya?

Kalau disuruh memilih, saya bingung, nih, soalnya semua cover punya keunikan tersendiri. Juga mewakili setiap tempat dalam cerita tersebut. Ilustrasi yang ada di cover dipilih yang paling khas dan paling menarik dari lokasi yang ada di cerita. Jadi, saya suka semuanya. Langsung tergambar “cerita” yang ada di balik “tempat” tersebut.

Tapi, aura klasik tempat-tempat di Barcelona membuat saya semakin ingin ke Venesia. Membuat saya berpikir, kalau tidak kesampaian ke Venesia, Barcelona juga boleh. Ada yang mau mengajak saya ke sana? :p

 

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuat sebuah novel, mulai dari awal hingga selesai editing?

Untuk seri STPC ini, para penulis diberi waktu sekitar tiga bulan untuk menyelesaikan novelnya. Waktu editing dan revisi sekitar satu-dua bulan, tergantung tingkat revisinya.

 

Seandainya Mbak Widya diminta untuk menulis novel STPC, lokasi yang menurut Mbak paling keren untuk dijadikan setting di mana?

Saya ingin menulis cerita dengan lokasi Venesia. Ada banyak cerita yang sepertinya bisa saya ceritakan dari sana, terutama kisah cinta. Dengan latar senja, mungkin saja, tokoh saya menghanyutkan cinta dari gondola atau juga malah menemukan sebuah cinta tak terduga.

 

Satu kata yang mewakili (judul-judul novel sbb):

Manhattan: Sunset

Barcelona: Sketsa

Zurich: Salju

Beijing: Nostalgia

Leiden: Kanal

Canada: Sunrise

 

Kita berandai-andai ya ^^. Dari dua penulis ini, siapa yang Mbak Widya ingin ajak untuk terlibat dalam proyek STPC? Alasannya?

1. Dee Lestari

2. Fira Basuki

Saya mau ajak Dee Lestari. Saya suka cerita Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh yang sampai sekarang masih melekat di benak. Dee pastinya sudah terbiasa menggarap latar dan tokoh yang khas.

Dengan gaya penceritaan ala Perahu Kertas, sepertinya, seri STPC yang akan ditulis Dee akan mampu mengisahkan cinta dari sebuah tempat yang unik dan mengesankan.

 

Apa proyek novel serial selanjutnya yang akan Mbak Widya garap?

Saat ini, Bukune sedang ada proyek roman kultural. Novel romance yang mengangkat budaya kental di berbagai daerah Indonesia dengan kemasan dan gaya penceritaan roman modern (bukan klasik). Elemen kuat dalam novel dengan genre kategori dewasa ini adalah kisah percintaan yang dilatari budaya setempat.

Sebenarnya, novela “Carano” di buku Penjual Kenangan (Bukune, 2013) yang saya tulis diharapkan mampu menjadi salah satu pembuka untuk masuk ke seri ini. Namun, akan perbedaan kemasan dan gaya penceritaan dengan seri roman kultural yang sedang digarap (yang berupa novel utuh). Kesamaannya adalah adanya unsur konflik budaya dan nuansa lokalitas.

Dalam cerita “Carano”, budaya Minangkabau mewarnai konflik dan membalut kisah cinta sang tokoh. Namun, tentu saja, ada nilai-nilai luhur yang ada di balik konflik tersebut. Tokoh cerita harus mampu melihat peluang konflik itu untuk menjadi tokoh yang lebih baik.

Seri ini diharapkan mampu mengingatkan kita kembali bahwa tradisi dalam budaya kita begitu kaya—yang terkadang mungkin “terlupakan”. Namun, apakah hal itu akan menjadi penghalang bagi kita yang sudah bersentuhan dengan zaman yang modern ataukah nilai-nilai luhurnya mampu mengembalikan kita ke “rumah”  yang sebenarnya? Kita tunggu, ya, Seri Roman Kultural Bukune. Coming soon!

 

Ada tip singkat untuk penulis baru yang ingin mengirim naskahnya ke Bukune? Apa yang harus diperhatikan?

Perhatikan konflik ceritamu. Konflik itu tidak harus tokohnya menderita penyakit yang sangat-sangat parah, kecelakaan fatal, ataupun mati. Kembangkan dan perkuat unsur-unsur utama dalam cerita, antara lain tema, tokoh, latar (tempat, waktu, suasana), konflik, sudut pandang cerita, gaya bahasa. Jika hal itu saling berkesinambungan, kamu akan menghasilkan cerita yang kuat dan khas meski dengan tema yang mungkin “pasaran”.

Perhatikan juga cara penulisan novel. Ejaan, pemilihan diksi, pembagian paragraf, bagaimana pembagian dialog dan narasi, dan hal-hal penting lainnya.

Perihal unsur cerita, bahasa, dan semacamnya itu, kamu bisa pelajari dari novel-novel “best seller/recommended” yang sudah terbit ataupun dari buku-buku tip menulis, ataupun dari web tentang kepenulisan yang ada saat ini.

Lakukan self-editing agar kamu juga paham di mana “kekurangan” naskahmu dan memperbaikinya lebih dahulu sebelum sampai ke tangan editor.

Paling penting juga, jangan menyerah kalau mengalami penolakan naskah. Jadikan hal itu sebagai motivasi diri kamu buat belajar dan memperbaiki ceritamu lagi.

Jangan bosan untuk terus belajar dan berusaha. Dan, menulis, tentunya.🙂

 

Salam,

 

Widyawati Oktavia

 

 

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^

 

Jangan kemana-mana karena program giveaway STPC belum berakhir. Sampai ketemu besok.

 

20130923-121453.jpg

 

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on September 28, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. Kejutan sekali, terima kasih >< Bahkan meski sebenernya dari post wawancara dengan proof readernya juga sudah ditanyakan tentang bedanya dengan editor, tapi gak nyangka juga bahwa editornya ternyata betul-betul dihadirkan. Salut deh sama kak yuska yang sampai mendekati akhir begini masih mengupayakan agar excitement mengikuti even ini tetap terjaga. Selukbeluk penggodokan seri ini semakin jelas, meski kayaknya dari sisi editingnya mungkin pengalaman yang didapat secara umum adalah menyenangkan dan berkesan karena toh semua penulisnya sudah dipilih. Sebenernya masih penasaran juga dengan keadaan di meja editor seri ini, misalnya soal kekhasan tertentu yang ada di tiap author untuk diedit gitu. Hehe but i think that doesnt matter since this interview has shared a lot more tips and insights. Semoga sukses buat projek ke depannya, kalau mau betulan buat tentang Venesia ditunggu lho kak widya. Thank you and best regards, Khairisa R. P / @rd_lite / reddishdelight@yahoo.co.id

  2. Makin yakin, sebuah novel yg bermutu, adalah novel dg kematangan dr segala sisi.
    Jadi wao sendiri! Hehehehe …. kira2 aku bisa matang g ya di satu sisi karyaku?
    Program Giveaway #STPC ini ternyata banyak manfaatnya buat aku. Kasih tips, memperkenalkan lika-liku perjalanan sebuah novel, menceritakan perjuangan author untuk melahirkan karya-karyanya, bahkan mengenalkan secara langsung arti editor dan proofreader.
    Salut sama Mbak Yuska.
    Terima kasih sudah memberikan kesempatan untuk mengenal semua ini
    Sukses selalu, ya?!

  3. Makin yakin, sebuah novel yg bermutu, adalah novel dg kematangan dr segala sisi.
    Jadi wao sendiri! Hehehehe …. kira2 aku bisa matang g ya di satu sisi karyaku?
    Program Giveaway #STPC ini ternyata banyak manfaatnya buat aku. Kasih tips, memperkenalkan lika-liku perjalanan sebuah novel, menceritakan perjuangan author untuk melahirkan karya-karyanya, bahkan mengenalkan secara langsung arti editor dan proofreader.
    Salut sama Mbak Yuska.
    Terima kasih sudah memberikan kesempatan untuk mengenal semua ini
    Sukses selalu, ya?!

    Dian. S
    @dianputuamijaya
    dian_putu26@yahoo.com

  4. Wah, bocorannya kepake banget, Mbak Widya. Makin kesini, jadi makin tahu dalem-dalemnya dunia penerbitan. Dan makin penasaran juga sama keseluruhan cerita di STPC. Kalau Mbak Widya aja bisa sampai segitu penginnya keliling ke tempat-tempat tersebut, apalagi saya:D
    Sukses terus Mbak Widya:)

    Natasha Adelina
    @natashey
    natasha.adelina@gmail.com

  5. iin ekawati markus

    hanya satu kalimat
    banyak motivati yang bisa diambil dari interiew ini.

    iin ekawati markus
    indahstewart@gmail.com
    @nila_adam

  6. Wah, jadi dari awal negaranya udah ditentuin ya? Kagum sama riset serius dari penulisnya. Ternyata untuk nerbitin satu buku, prosesnya gak singkat ya. Jadi makin cinta sama dunia buku deh.
    Btw, ditunggu banget serial romance cultural-nya. Aku suka banget sama cerita2 yang ngangkat tema budaya setempat. Apalagi kalau ada romancenya ^_^

    gea
    @harovansiu
    gea.harovansi@gmail.com

  7. dengan adanya wawancara sama penulis dan editor GagasMedia dan Bukune untuk seri STPC ini aku jadi dapet bocoran cerita2 dibalik penggarapan novel khususnya seri STPC. Jadi makin bercita-cita jadi penulis dan editor >D<

  8. akkkk jadi penasaran sama seri roman kulturalnya, jarang ada nih cerita yg kayak gini biasanya di kumcer yg tentu saja porsinya minim sekali. udah baca Carano, sedikit paham ceritaya kayak gimana, ditunggu🙂

  9. Wah menarik sekali proyeknya. Semoga dapat terealisasi secepatnya dan mendapat sambutan hangat dari pembaca ^^; *bahasa nyaa =))*

    Setuju sama mbak, walaupun temanya pasaran, tapi kalo ada ciri khas yang kuat maka lebih berkesan ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: