#STPC Interview: Meet the Author Alvi Syahrin @Bukune

20130819-105102.jpg

alvi

Halo, ketemu lagi di segmen Meet the Author. Sepertinya pembaca sudah tahu pattern-nya ya. Setelah mereview bukunya, keesokannya ada wawancara dengan penulisnya.

Setelah kemarin ada postingan review Swiss: Little Snow in Zurich, hari ini Lust and Coffee berkesempatan berbincang dengan penulisnya, Alvi Syahrin. Mau tahu lebih banyak tentang novel Swiss? Check out the interview below.

 

Bisa diceritakan dari mana dapat ide untuk novel Little Snow in Zurich?

Idenya datang begitu saja, tentunya ada pemicu dari saya. Jadi, saya berkata pada diri saya sendiri bahwa saya ingin menulis kisah cinta yang manis antar dua remaja—sederhana, manis, dan getir. Selagi berpikir dan berpikir, muncullah Rakel, kemudian Yasmine, dan akhirnya kisah mereka. Setiap kali hendak menulis novel, saya selalu begini: berkata pada diri saya apa yang ingin saya tulis, and the idea will come just like a butterfly.

 

Kenapa Alvi memutuskan untuk mengambil setting di Swiss?

Waktu itu, saya dihadapkan oleh beberapa pilihan negara. Ketika Mbak Widyawati Oktavia (Editor Bukune) menyebutkan Swiss, saya dengan excited langsung menyetujuinya. Saya suka negara Swiss. Semua orang tahu bahwa Swiss adalah negara yang luar biasa indah, tapi masih jarang penulis Indonesia yang mengambil setting ini. Jadi, inilah kesempatan saya untuk mengajak pembaca ke tempat baru yang mungkin belum pernah mereka kunjungi dari novel-novel lain: Zurich, Swiss.

 

Berapa lama proses penulisan novel ini?

Proses penulisannya sekitar 1,5 bulan. Belum termasuk pematangan outline dan riset.

 

Satu kata yang bisa mendeskripsikan Zurich:

Bersih.

 

Jika novel Little Snow in Zurich difilmkan, siapa yang cocok untuk memerankan: Yasmine, Rakel, Elena dan Dylan?

Saya sama sekali tidak punya ide untuk yang satu ini, hehe.😀 Pertama, saya jarang sekali nonton film, jadi jarang tahu aktor/aktris. Kedua, saya punya bayangan tersendiri mengenai keempat tokoh tersebut, sebagaimana yang saya ciri-cirikan pada novel.

 

Berapa lama riset untuk novel ini? Apa saja yang dilakukan Alvi ketika riset?

Saya riset sekitar 4 bulan, mungkin. Selagi menulis juga saya tetap riset. Alasan mengapa riset saya selama ini adalah, karena terlalu sering merasa belum siap untuk menulis.

Yang saya lakukan selama riset:

– Googling artikel mengenai Swiss (terutama Zurich), seperti kehidupan kotanya, tempat-tempat yang sering dikunjungi, dst. Seiring banyak membaca artikel tentang Zurich, saya jadi cukup tahu hal-hal tentang Zurich. Tapi, saya tetap belum merasa cukup siap untuk menulis saat itu.

– Melihat foto-foto, tentunya, untuk kenal lebih dalam.

– Interview. Awalnya, saya mengirimkan pesan di Facebook kepada beberapa penduduk Zurich, tapi tak ada satu pun yang membalasnya. Akhirnya, saya menemukan seorang pelajar Indonesia yang pernah studi di Zurich—di Facebook juga. Saya banyak tanya ke dia tentang Zurich. Dia pun memperkenalkan saya pada temannya yang memang dari Zurich. Saya pun bisa interview langsung dengan orang asli Zurich. J

– Lihat di video-video yang menampilkan pemandangan di Zurich di Youtube, sehingga lebih berasa lihat langsung—ini saran dari Mbak Kireina Enno. Dan ini sangat membantu untuk menambah feel Swiss-nya. Saya jadi bisa merasakan dinginnya Swiss, indahnya Zurich, dan enaknya bila tinggal di sana.

– Google Earth. Ini yang paling membantu. Apalagi Google Earth memiliki fitur 3D pada bangunan-bangunannya, juga foto-foto yang tersebar pada lokasi ybs. Dari sini, saya mengenal Zurich lebih detil, tahu nama jalan-jalan, bentuk bangunan, rute untuk ke sana-sini, dan lain sebagainya. Bahkan dermaga yang menjadi tempat favorit Rakel dan Yasmine saya temukan ketika lagi “berpetualang” di Zurich lewat Google Earth. Tempat itu sedikit tersembunyi, meski dekat pusat kota, tapi benar-benar sangat indah. Jadi, saya memasukkannya sebagai lokasi utama.

Saya benar-benar mengenal Zurich dari sini. Oya, suatu ketika, saya pernah lihat tv sekilas. Acara tersebut menampilkan sebuah sudut  kotanya, dan saya tebak itu Zurich, dan ternyata benar.😀 Setelah itulah, saya mulai berani menulis. Sembari menulis pun tetap riset supaya bisa merasa benar-benar di sana.

 

Ada pengalaman menarik selama proses penulisan novel ini?

Banyak sekali. Mulai dari ketika diajak Bukune untuk ikutan STPC, lalu eksplor ide, riset, kemudian masa-masa stres ketika mematangkan outline novel, masa-masa nggak pede sama naskah sendiri, sampai proses penulisan yang menyenangkan, hingga berhasil menuliskan kata ENDE. Setiap bagian dari penulisan novel ini adalah pengalaman menarik. Dan sekarang saya benar-benar rindu sama Zurich, Rakel, Yasmine, dan butir-butiran salju itu.

 

Bisa share playlist yang Alvi dengarkan ketika menggarap novel ini?

Saya lupa—komputer saya terpaksa install ulang sehingga semua playlistnya hilang. Yang jelas, saya malah nggak bisa mendengar lagu ketika sedang menulis. Jadi nggak konsentrasi.

 

Waduh, sayang banget ya. Semoga kompinya sudah betul. Apa proyek novel selanjutnya yang akan Alvi kerjakan?

Novel yang sekarang saya kerjakan lumayan terpengaruh oleh STPC (So, thanks to Bukune yang sudah membantu mengembangkan saya). Tapi, settingnya bukan di luar negeri, melainkan Indonesia. Pada suatu tempat yang cukup terkenal, tapi saya belum pernah membaca novel-novel yang menggunakan setting di tempat ini. Ada unsur petualangannya, keluarga, dan tentu kisah cinta. Tapi, kali ini, saya ingin membahas cinta dari sudut pandang yang berbeda, yang mungkin bisa membuat kita berpikir, “Ah, ya, cinta nggak semudah mengatakan ‘I love you’”. Insya Allah, mudah-mudahan, ini bakalan jadi cerita yang seru dan manis.
Sekarang saya baru sampai di bab 2. Mohon bantu doanya ya supaya bisa segera selesai.

 

Ada tips singkat untuk penulis yang ingin mengirim naskahnya ke Bukune? Apa saja yang harus diperhatikan?

Banyak-banyaklah membaca novel dari Bukune, supaya kamu tahu taste-nya Bukune itu seperti apa. Seringlah berlatih menulis, setiap hari. Ketika hendak mengirimkan naskah ke redaksi Bukune, perhatikan kembali aturan-aturan yang Bukune berikan; seperti jenis dan ukuran font, ukuran kertas, spasi dan margin, banyaknya halaman, formulir pengecekan naskah, dan lain sebagainya. Jangan sampai naskah kerenmu nggak sampai di meja editor, hanya karena melupakan hal-hal sepele itu.

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^

 

Besok masih ada interview kejutan dengan … (nggak surprised dong kalau dikasih tahu sekarang). Masih ada juga review novel STPC  dan wawancara dengan penulisnya. Jangan lupa mampir kemari ya.

 

Tschuss,

20130725-125307.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on September 28, 2013, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 16 Comments.

  1. Pertama aku mo bilang Makasih banget sama Bang Alvi. Soalnya, Bang Alvi udah dg baik hati bercerita bagaimana cara dia riset. Belakangan ini aku kebingungan sendiri gimana cara riset yang bisa benar2 membuat aku paham betul tentang sebuah tempat dan bagaimana kehidupannya. Makasih banget pokoknya. Aku kayak nemu pintu buat keluar dr gua gelap, nih!!!
    Kedua, gambaran tentang Zurich dr Bang Alvi bikin aku penasaran. Jujur sih aku g pernah benar2 memperhatikan kota ini. Dia memang kalah tenar dari Paris, Barcelona atau London. Tapi, sepertinya dia g kalah mempesona.
    Oke, makasih mbak Yuska sudah bikin interview ini. Yang ini benar2 ngasih aku pencerahan😀

    Dian. S
    @dianputuamijaya
    dian_putu26@yahoo.com

    • Waw, saya tidak menyangka bhwa riset untuk membuat novel serumit dan seintens itu. Saya pernah baca novel Dilema dan smenjak itu saya tidak sabar untuk membaca novel terbaru bang Alvy. Now, siap-siap nyari Swiss di tokbuk.
      Thx untuk wawancaranya, bermanfaat sekali.😉

  2. Salut sama determination nya kak alvi untuk bisa membangun fondasi sekuat mungkin agar bisa menggambarkan zurich dengan baik, berterimakasih juga untuk kemurahhatiannya berbagi berselukbeluk cara risetnya. Terimakasih juga tentunya untuk kak Yuska yang membuat segala terbukanya cakrawala seperti ini menjadi mungkin! Gak terasa September hampir berakhir. Wawancara yang overall juga sangat indulging, karena sepertinya kak alvi juga salah satu dari dua author cowok di STPC yang insight kepenulisannya sendiri menarik untuk digali belumbelum. Saya masih penasaran sebenarnya soal kemungkinan perbedaan taste untuk meramu cerita romens yang mungkin berbeda karena notabene menulis sebagai cowok, but how can i ask any more than this, Thank you and best regards, Khairisa R. P / @rd_lite / reddishdelight@yahoo.co.id

  3. tambahan sedikit lg ttg karya kak alvi yg baru, di blog-nya cm disebutkan baru sampai bab tertentu–iyaaa, saya emang sering stalking (di blog mana aja sik, sebenernya). :p

  4. iin ekawati markus

    gila juga yah… risetnya ampe 4 bulan. but well,,, gak ada kata gila untuk kesempurnaan kan? authornya ini keren. tapi salut deh sama Alvy, dari mulai riset ampe yg lain-lainnya pun tetap semangat, sampe penggambaran kota Zurich nya pun matang banget.

    good job !

    iin ekawati markus
    indahstewart@gmail.com
    @nila_adam

  5. Wah, nggak kebayang deh. Bisa bikin deskripsi mendetail tentang Zurich padah belum pernah menetap disana. Ternyata emang risetnya nggak main2. Salut buat mas alvy

    gea
    @harovansi
    gea.hariovansi@gmail.com

  6. wow, wow, wow.. niat banget risetnya.
    sayang ya, enggak dapet kesempatan wawancara langsung dengan penduduk zurich lewat FB, mungkin mereka jarang ol FB?😛
    thank you for sharing, kak Alvi. dan makasih kak Yuska buat post nya!😀

  7. Mas Alvi!!! Ilmunya untuk riset amat sangaaaaaat bermanfaaat! *api menjalar-jalar*

    Haduh, saya harus bilang apa ya? Saya itu banyak banget yang pengen saya tanyain. Tapi, kalo udah kayak gini, saya jadi lupa =.=”

    Oh, ya Mas Alvi, kita temenan lho di goodreads. Hahaha😀 Mas, saya ini penasaran banget. Mas Alvi jawab ya.

    Mas, gimana sih, caranya bikin cerita yang alurnya mengalir seakan-akan itu bener-bener cerita nyata? Saya sering baca novel yang alurnya emang asyik, tapi lama-lama berasa kayak sinetron =.=

    Udah gitu aja, Mas. Hehehe😀

    Salam hangat,

    Nanda Febri
    @milo389
    febrifebruary03@gmail.com

    • Dear Alvi,

      Terima kasih banyak sudah mampir dan menjawab pertanyaan pembaca. Sukses dengan karya selanjutnya🙂

      Sent from my iPad

    • Halo, Februarycroix.
      Cara bikin alur mengalir seakan-akan itu cerita nyata? Hmm, sebenarnya saya pun masih (dan akan selalu) belajar untuk itu. Yang saya lakukan supaya alurnya ‘mulus’, yakni dengan bikin kerangka cerita. Paling pertama adalah menuliskan daftar-daftar adegan penting/konflik yang akan muncul. Ketika saya sudah menuliskan itu semua, saya mulai memikirkan adegan-adegan di setiap babnya, dari awal sampai akhir. Nah, ketika semua adegan-adegan per bab telah ditulis dari awal sampai akhir, nanti kelihatan tuh hal-hal yang menyebabkan alurmu kurang mengalir; seperti adegan yang masih bolong, adegan yang datangnya kecepatan, adegan yang berulang-ulang, dst.

      Ketika sudah nemu mana saja bagian bermasalah, atur lagi kerangka ceritamu. Jangan nyerah. Waktu bikin Swiss ini saya bongkar kerangka sampai lima kali, hehe.😀 Tapi bisa jadi juga kamu hanya butuh sekali tulis kerangka. Ide cerita itu kayak buah di pohon, kalau sudah matang jadinya mudah untuk dipetik. Intinya, kamu puas atau tidak.

      Dan, bagusnya atau tidaknya naskahmu… hanya kamu yang tahu. Letaknya ada di kamu. Yang kamu harus lakukan adalah membuat bagaimana supaya kamu bisa sangat menyukai dan puas sama naskahmu sendiri–tapi jangan sampai terjebak dalam berbangga diri sama naskah sendiri.
      Karena kalau kita terlalu banyak memikirkan pendapat orang lain, yang ada malah nggak kelar-kelar karena nggak pede.😀 *saya juga sering nggak pede nih* Ketika kamu sudah menyukai naskahmu, jangan lupa untuk tetap menjadikan kritikan-kritikan sebagai bahan belajar untuk naskah berikutnya.

      Mengenai berasa kayak sinetron, hmm… mungkin itu masalah pada pemilihan adegan dan cara si penulis mengemas cerita. Atau bisa jadi juga karena kita terlalu mengkritisi bacaan kita? Saya soalnya pernah mengalami gitu. Di tengah-tengah bacaan, dulu saya sering, “Lho, ini kok gini sih.”, “Lho, kok sinetron banget.” Hal itu mempengaruhi saya ketika membaca novel-novel berikutnya, selalu merasa nggak puas–juga mempengaruhi rasa nggak pede saya ketika menulis. Jadi, sekarang, saya selalu berusaha ‘menerima’ segala bacaan saya. Dan, membaca novel seolah-olah ini novel pertama yang saya baca. Hasilnya? Saya jadi lebih menikmati, lebih sering puas, dan semakin banyak novel yang saya sukai.😀

      Maaf, nih, jawabannya lebih panjang dari pertanyaan, haha.😀

      • Makasih ya, Mas. Sangat membantu. Dapat pelajaran baru tentang kita yang selalu merasa nggak puas dengan apa yang kita baca. Mungkin, lain kali saya harus bisa memahami sudut pandang si pencerita dalam memilih adegan itu. Nice.

        Senang dengan tips yang sangaaat panjang dan membantu ini.😀

        Mungkin, lain kali bisa disambung lagi, Mas. Hahaha😀

  8. wah tips risetnya lengkap banget, detail, jarang penulis menjabarkan apa saja yg dicari dari riset mereka, sanggat membantu nih, makasih ya🙂

  9. Di saat lagi kebingungan banget, beruntung nemu artikel ini dan seneng bisa dapat pencerahan dari Kak Alvi. Thank u so much buat Kak Alvi sama Kak Yuska🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: