[Book Review+Giveaway] Swiss: Little Snow in Zurich by Alvi Syahrin @Bukune

20130819-105102.jpg

book_info

20130927-023445.jpg

Judul Buku: Swiss: Little Snow in Zurich
Penulis: Alvi Syahrin
Penerbit: Bukune
Terbit: Juni 2013, Cetakan Pertama
Jumlah Halaman: 308
ISBN: 978-602-220-105-2
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Travel Literature
Harga: Rp. 52,000
Kalimat pertama:Angin menyentilku.

book_blurb

Di Zürich,

Ada kisah tentang salju yang hangat, tentang tawa yang mencair. Membuat Yasmine tersenyum bahagia.

“Ich liebe dich,”—aku mencintaimu—bisik gadis itu, membiarkan repih salju membias di wajahnya. Manis cinta dalam cokelat yang laki-laki itu berikan membeku menjadi kenangan di benaknya, tak akan hilang.

Di puncak gunung Uetliberg—yang memancarkan seluruh panorama Kota Zürich—bola-bola salju terasa hangat di tangannya, kala mereka bersisian. Dan Jembatan Münsterbrücke, jembatan terindah dan tertua di Zürich, seolah bersinar di bawah nyala lampu seperti bintang.

“Jika aku jatuh cinta, tolong tuliskan cerita yang indah,” bisik gadis itu. Ia tahu ia telah jatuh cinta, dan berharap tak tersesat.

Namun, entah bagaimana, semua ini terasa bagai dongeng. Indah, tetapi terasa tidak nyata.

Tschüs—sampai jumpa—
Yasmine, semoga akhir kisahmu indah.

thoughts

First I need to say that I was really schocked when I realize that the author is a boy. Gosh! I mean, I have read many books written my male authors, but those are fantasy books, not romance! And you know what surprised me more? This book is really good. It is romantic, sweet, and realistic at the same time! Kadang-kadang ketika saya membaca buku roman, saya merasa ceritanya terlalu dibuat-buat. But not this! Saya merasa buku ini benar-benar romantis tapi tidak berlebihan. Mungkin karena laki-laki yang menulisnya, sehingga terasa lebih logis. If you read the book, you won’t see lots of sweet talking or cheesy date. But you’ll see two people , doing something that only they can enjoy! ( I’m talking about their winter plans😀 ).

Pada awalnya, saya merasakan atmosfir yang sama seperti yang saya rasakan pada Till We Meet Again karangan Yoana Dianika, mungkin karena sama-sama bersetting di Eropa. But actually, both of them are totally different! Even though this book felt a little bit sad and touchy, it doesn’t felt dark. Saya merasa sedih ketika Yasmine ditinggalkan oleh Rakel, saya juga merasa sedih ketika ada tokoh yang meninggal.

The ideas of the book is fantastic. Ide-ide itu juga diceritakan dengan cara yang menyenangkan. Love,friendship,family. Everything is wrapped in one. Also the setting, I love it! Saya merasakan bagaimana dinginnya musim dingin di Zurich, seberapa indahnya banguna-bangunan kota Zurich yang diselimuti salju, juga cerahnya cuaca Zurich yang bersalju. Hanya saja, saya merasa alurnya kurang rapi. Terkadang saya merasa alurnya berjalan lambat di satu waktu lalu cepat dan meloncat-loncat di waktu lain.

One thing that bothered me most : there’s too much naration. Sangat sedikit dialog dalam buku ini, sehingga interaksi antar karakter susah di dapat. Contohnya adalah ketika Yasmine jatuh cinta dengan Rakel. Dari kegiatan yang mereka lakukan, mungkin sebenarnya besar kemungkinannya agar Yasmine menyukai Rakel. But somehow, I felt that she fell in love to fast. Saya belum merasakan buih-buih cinta yang tercipta di antara mereka berdua ketika Yasmine mengatakan bahwa dirinya mencintai Rakel.

For the characters, usually I love stubborn and strong female character. But somehow, saya menyukai kepolosan dan kelembutan yang dimiliki Yasmine. Saya tidak merasa Yasmine adalah gadis cengeng. Saya justru merasa Yasmine adalah gadis unik yang memiliki dunia fotografi yang menyenangkan. For the male lead, Rakel, I guess I don’t have much to say. Begitu pula dengan Elena. But for Dylan, I really wish he would meet a girl that will love him back. Saya juga ingin melihat bagaimana Dylan jatuh cinta pada Yasmine, dan saya merasa agak kecewa karena tidak diceritakan.

Well, I guess that’s all I can say. But remember this, read this book and before you realize it you are on a romantic adventure in Zurich! Saya tidak dapat menjelaskan satu-satu kesan saya mengenai buku ini. Karena , jujur saja, cerita dalam buku ini sangat padat, tapi tentu saja, this book is really great. And, for the author, I’m really pleased with your work and looking forward for the next one.

Reviewed by:
Verina

GR

ve

STPCGA

Yuk, yang mau mendapatkan 3 paket novel serial #STPC @Gagasmedia @Bukune merapat kemari. Caranya gampang banget:

1. Follow akun @Gagasmedia @Bukune dan @AlviSyhrn

2. Twit link review + giveaway ini dengan kalimat seperti ini:

Mau dapetin paket novel #STPC dari @yuska77 @Gagasmedia @Bukune? Klik aja bit.ly/17YRdVb

3. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel Swiss: Little Snow in Zurich. Jangan lupa untuk mencantumkan:

Nama, akun twitter, dan email.

4. Setiap komentar yang kamu tinggalkan di tiap postingan dan twit selama proyek #STPC berlangsung akan mendapat 1 entry. Misalnya, kamu ngetwit link review + giveaway Swiss juga meninggalkan komentar, maka kamu mendapatkan 2 entries.

5. Jangan lupa, besok ada postingan interview bersama Alvi Syahrin. So, stay tuned ya.

6. Giveaway STPC dimulai dari tanggal 1 September – 30 September 2013. Kamu bisa mengisi kolom komentar + tweet giveaway ini selama event STPC berlangsung.

7. Pengumuman pemenang tanggal 5 Oktober 2013

Good luck🙂

20130330-114856.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on September 27, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 25 Comments.

  1. To be honest, saya belum pernah membaca tulisan Alvi Syahrin sebelumnya, saya pun baru tahu beliau terlibat dalam proyek STPC ini. Tapi dari review mbak Yuska yang bilang ‘Swiss ini romantic, sweet, and realistic at the same time!” saya jadi tertarik pengen tahu seperti apa tulisan Alvi Syahrin. Semoga terkaul dalam waktu dekat. Amin!

    -Dian-
    @dianmayy
    dianmayasariazis@gmail.com

  2. Aku udah baca seri ini Mbak. Menurutku ceritanya agak datar, tapi aku suka bagian prolog dan epilognya. Bahasa Alvi agak berbunga-bunga, menarik sebenernya, bisa jadi selingan setelah baca banyak kisah fantasi🙂

    Lulu
    namakulutfia[at]yahoo[dot]com
    @lulutfia_

  3. Rasanya aku jadi agak bingung ketika Mba Yuska bilang novel ini bagus, romantis, dan sebagainya tapi setelahnya bilang kalau ada beberapa bagian di novel ini yang terkesan kurang memuaskan bagi Mba Yuska. Bingungnya sih aku jadi ga nangkep berapa penilaian Mba Yuska akan novel ini.
    Karena aku juga jarang beli novel-novel Bukune dan koleksi STC-ku juga kebanyakan GagasMedia jadi ga tau STPC Bukune mana yang menarik minatku. ditunggu review STPC dan wawancara penulis STPC selanjutnya

    Ratri Aulianti
    @auliaaRatri
    aulian_rhatri@ymail.com

  4. Jujur, saya tertarik dengan reviewnya Mbak Yuska. Sangat berjalan dengan bagus. Sebenarnya saya belum pernah sama sekali membaca tulisan Alvi Syahrin, tapi dari review mbak Yuska yang bilang “novel ini tidak seperti kebanyakan novel romance yang ceritanya dibuat-buat” saya jadi ingin sekali membaca dan memiliki buku ini.

    Nikmal
    @_nikmal
    mnikmala@gmail.com

  5. Wow, sebenarnya aku sudah sering melihat novel ini malang melintang di toko buku. But…entah kenapa aku kurang begitu tertarik (mungkin pengaruh dari negara yg dipakai di stpc seri ini adalah Swiss, I’m not interesting yet with it:p) tapi, review di atas sepertinya mengubah pemikiranku. Aku jadi kembali teringat, ‘don’t judge a book by its cover’. Dan aku sadar, di antara ketidaktertarikanku dengan negara Swiss, ternyata ada cerita yang begitu menarik di dalamnya–like that review said. Jadi, aku ingin benar-benar membuktikan apakah nantinya aku akan menikmati cerita itu seperti aku menikmati review di atas, atau tidak? :p
    Hidya Nuralfi Mentari
    @hidyanuralfi
    hidya.nuralfi@gmail.com

  6. Wah, saya belum pernah membaca karya Mas Alvi. Jujur, saya jarang membaca roman karangan pria karena saya tipe orang yang lebih suka cerita yang mellow tapi kuat dan diintrepretasikan oleh perempuan–semacam girl power gitu. Tapi sangat menarik jika Mas Alvi membawa atmosfir yang sama di dalam buku ini. Dan tentu, semakin menambah rasa penasaran saya terhadap buku ini.
    Mbak Yuska, as always, memberikan komentar yang menggelitik. Sangat tergoda. Dan Mbak Yuska harus bertanggungjawab karenanya;)

    Natasha Adelina
    @natashey
    natasha.adelina@gmail.com

  7. Review-nya oke… hingga aku tertarik pengen baca. Tapi memang sebelum baca review ini pun memang sudah berniat baca.

    Tammy @alizarinnn
    keikokukien28@gmail.com

  8. Wua… saya juga ikut kaget waktu dibilang bahwa penulisnya cowok yang mampu memberikan kesan kuat pada buku ini seperti yang diutarakan dalam review>< Well best regards! Khairisa R. P / @rd_lite / reddishdelight@yahoo.co.id

  9. Reviewnya termasuk cukup gamblang. Tanpa bertele2 aku langsung bisa tahu nilai plus dan minus di novel ini. Membuat aku dg mudah menyimpulkan apakah novel ini pantas masuk di deretan wishlit teratasku atau tidak

    Dian S
    @dianputuamijaya
    dian_putu26@yahoo.com

  10. Wah, ada yang dingin-dingin nih… Hehehe..
    Sebenarnya, saya berteman sama Mas Alvi di goodreads, tapi saya sama sekali belum baca novelnya =.=”

    Dari reviewnya… apa ya? Saya suka ketika review ini membuat saya tertarik tentang setting di novel ini. Terasa sekali dinginnya🙂 *padahal baru review lho*

    Tapi, bisakah kalimat yang mengatakan tentang jalan cerita seperti karakter yang meninggal atau ditinggalkan tidak dijabarkan? Pembaca seperti saya ini, kalau liat review sedih, jadi semangat membacanya berkurang. u,u

    Untuk pendapatnya tentang narasi dan alur cerita novel ini, saya rasa malah semakin terlihat kalu review ini bagus. Kenapa? Saya suka dengan review yang selalu mengulas bagian-bagian novel yang kurang greget, agar penulis bisa berkarya lebih baik ke depannya. Yuuuu~

    Lain waktu, semoga saya mempunyai kesempatan membaca buku ini *komat-kamit baca doa*

    Salam hangat,

    Nanda Febri
    @milo389
    febrifebruary03@gmail.com

  11. makin nggak sabar baca. harus antri dari jadwal. suka banget dengan diksi Kak Alvi di Dilema, pun kemistri para tokohnya. berharap di Swiss kurang lebih sama–barangkali lebih setelah menilik review di atas.🙂
    -Ahmad Turkhamun-
    turkhamun_ahmad[at]yahoo
    [dot]com
    @thuthur22r

  12. iin ekawati markus

    gak sabar baca novel yang satu ini. authornya cowok, nulis yang romantis? well, bener-bener gak sabar pengen baca. aku pikir kak Yuska yang bakalan nge-review. but honestly, kita udah bisa tahu gimana sih novel ini dari review ini.

    TYSM for the time.
    for give us some review from #STPC novel

    iin ekawati markus
    indahstewart@gmail.com
    @nila_adam

  13. Aku jarang baca novel penulis Indonesia, tapi pas baca paragraf pertama review ini tentang penulis laki-laki yang menulis novel romansa, aku jadi inget Prima Santika, penulis buku Jane Austen and Three Weddings. Prima Santika seingetku laki-laki, kan ya, Mbak? Aku suka JATW, salah satu novel metropop yang paling aku suka. Aku inget banget pas baca buku itu, aku nggak nyangka ternyata romance metropop bisa sebagus ini. Aku pikir semuanya bakal boring, dangkal, tipikal, dll. Dan aku lebih kaget lagi ketika tahu penulisnya laki-laki.

    Jujur aku nggak begitu tertarik sama setting sebuah buku, tapi selalu menyenangkan kalau membahas tokoh-tokohnya. Dari review buku ini, kemungkinan besar saya tidak akan menyukai Yasmine, karena buat saya Yasmine kedengarannya ‘too pretty’; perempuan yang disukain banyak cowok. Tipe-tipe lugu, tapi modis dan keren karena hobinya pada fotografi. Bukan tipe perempuan panutan saya.

    Thanks for the chance, Mbak Yuska..
    Nama: Fenny Herawati
    akun twitter: @fennyusuf
    email: fennyherawatiyusuf[at]yahoo[dot]com

  14. Tertarik banget baca review ini. biasanya kalo baca review Swiss belum ada yang bikin menarik sampe kayak gini: )

  15. Tertarik banget baca review ini. biasanya kalo baca review Swiss belum ada yang bikin menarik sampe kayak gini: )

    Amalia Larasanty
    @ayashamalia
    AmaliaLarasanty@yahoo.co.id

  16. Aku udah punya novel ka Alvi yang dilema. tapi yang Swiss belum punyaaa…
    Setelah baca review ini jadi pengen punyaaa…

    Amalia Larasanty
    @ayashamalia
    Amalialarasanty@yahoo.co.id

  17. “Too much naration”, kadang emang ganggu banget sih. Tapi karakter-karakternya idup banget. Tambahan lagi ini romance yang ditulis cowok.
    Makin gak sabar buat baca, apalagi setttingnya Swiss. WOW
    Eh, covernya keren banget yak. Jadi inget covernya MONTASE yang juga cuma berupa sketsa

    gea
    @harovansi
    gea.harovansi@gmail.com

  18. sebagai penyuka buku romantis tis tis… saya juga musti baca novel ini🙂 thx review-nya kak

    vicky septiana
    @6002theSepti
    vickyseptiana@yahoo.com

  19. baru baca karya penulis yang Dilema, penasaran juga sama buku ini terlebih aku sangat penasaran dengan negara Swiss, semoga beran keren dan lebih bagus dari karya perdana penulis🙂

    Sulis
    @peri_hutan
    zhuelhiezATyahooDOTcoDOTid

  20. Belum pernah baca karya dari Alvi Syahrin sih sebelumnya, karena sepertinya kalau pas ditoko buku, bukunya seperti kurang menghipnotis mata aku
    hehehe
    Setelah membaca review yang diposting ini membangkitkan sedikit rasa penasaran sih, nanti kalau ada kesempatan aku akan baca salah satu karya dari penulis, dan semoga bagus dan bisa membuat jatuh cinta dengan gaya penulisannya🙂

    Intan Ratnasari
    @_tantintun
    ymmot_in@hotmail.com

  21. Terlalu banyak narasi -_- saya juga kurang suka, kalo ceirtanya hanya banyak narasi dibandingkan dengan dialog, karena menurut saya, kurang greget jadinya😀

    dari review yang dibuat, walaupun panjang dan sedikit terbelit-belit bahasanya tapi tetap saya masih bisa menangkap maksud cerita dari Swiss ini.
    Saya kurang suka dengan tulisan yang kadang pakai bahasa inggris kadang ke indonesia, lebih enaknya konsisten mau pakai bahasa apa. Saya pribadi, jadinya banyak melewati kata-kata yang ditulis >,<

    Delta Kenda Ramadita
    @DeltaYordani
    iam(dot)deltayordani(at)gmail(dot)com

  22. Assalamualaikum, salam kenal yah🙂
    saya ushie, blogger dari Sulawesi..
    Hem, sepertinya novel little snow in Zurich pasti merupakan novel yang menarik untuk di baca…
    Zurich memang kota yang indah, apalagi penulisnya seorang laki-laki yang sukses menggambarkan keromantisan kota ini dengan sempurna.
    Pengen baca novelnya, cuman lagi sibuk-sibuknya kuliah, jadi belum sempat maen ke toko buku…
    Pengen kenal kota ini lebih jauh lewat tulisan hangat penulisa dalam novel ini…
    Insya Allah dalam waktu dekat, meluncur hunting novelnya🙂
    Makasih yah…
    Wassalam

    Fauzia Ningrum Syaputri (Ushie)
    @ushiecewekhujan
    Ushie_vgirl@yahoo.com

  23. Baru semalam saya selesai baca buku ini, padahal udah lumayan lama belinya, awalnya seperti kurang menarik, mungkin krn jarang baca novel romance, n mungkin krn double reading ma inferno jd kesannya kurang. Akhirnya mmg harus diputuskan bwt selesaikan yg mana duluan. Yup Alvinya ternyata yg first finish.. Setelah dibaca bener2 ternyata buku ini bagus, walaupun masih berharap ada yg lebih dr ceritanya (mungkin dr segi yasmine yg benar2 suffer waktu jalan bareng dylan, or waktu rakel benar2 ngerasa sakit waktu ga ketemu yasmine atau pd saat harus pergi ke new york tp ga sempat say goodbye). Selain itu saya suka settingnya, mungkin krn saya pencinta kota2 unik didunia (n itu kenapa saya beli buku ini), romansa remajanya keluar (natural banget n i like it) n sampai akhirnya saya tau bahwa yg tulis buku ini anak laki2 remaja yg punya imajinasi luar biasa. Congrats Alvi, ciptakan lagi buku2 bagusmu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: