#STPC Interview: Meet the Author Windry Ramadhina @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

windrySudah lebih dari setengah bulan kita keliling dunia bersama serial Setiap Tempat Punya Cerita. Nggak kerasa kita sudah melewati London kemarin. Sebelum terbang ke destinasi selanjutnya, Lust and Coffee berhasil mencegat penulis London: Angel yang karyanya sudah sangat dikenal, antara lain Memori dan Montase yang banyak disukai pembaca. Penasaran dengan pembuatan London di balik layar? Simak wawancara dengan Windry Ramadhina berikut ini ^^

Dapat ide untuk novel London dari mana? Siapa yang menentukan ‘destinasi’ judul cerita dalam serial ini: penulis, editor, atau sistem undian?

London, sama seperti novel saya yang sebelumnya: Montase, merupakan pengembangan dari cerpen. Pada 2008, saya menulis cerpen berjudul “Singin’ In The Rain” yang terinspirasi dari lagu berjudul sama gubahan grup musik Jepang L’Arc~en~Ciel. Cerpen itu mengambil lokasi di hadapan London Eye, berkisah tentang pemuda Indonesia dan gadis Eropa misterius yang bertemu secara singkat di bawah hujan. Saat diminta menulis London, saya teringat pada cerpen itu.

Sebagai novel, pastinya London memiliki kisah yang jauh lebih rumit dari “Singin’ In The Rain”. Tetapi, unsur utamanya tetap sama: hujan, malaikat, dan keajaiban cinta. Hujan sangat dekat dengan London. Dan, saya punya kepercayaan tersendiri mengenai hujan. Kepercayaan ini yang ingin saya bagikan kepada pembaca.

Mengenai ‘destinasi’, kota-kota ditentukan oleh editor. Untuk Gagasmedia: Paris, Roma, Melbourne, London, dan Tokyo. Penulis-penulis diminta untuk memilih salah satu kota. Saya memilih London karena sejak lama ingin mengembangkan “Singin’ In The Rain” menjadi novel.

Saya suka sekali dengan nama kedua tokoh dalam novel ini: Gilang dan Ning. Dapat ide untuk menamakan tokoh dari mana?

Terima kasih. Dalam London, saya sengaja menghindari nama yang berbau Inggris untuk tokoh utama Indonesia agar pembaca bisa menikmati suasana perjalanan dan keterasingan. Jadi, saya memilih nama yang sangat Indonesia. Gilang berarti ‘cahaya’. Ning berasal dari kata ‘bening’. Keduanya adalah sesuatu yang tercetus saat saya memikirkan malaikat.

Sebenarnya, tokoh-tokoh London yang diberi nama hanya mereka yang memiliki peranan penting dalam cerita: Gilang, Ning, Ellis, Lowesley, dan Ayu (jika dirangkai, nama mereka akan membentuk angel). Sementara itu, tokoh-tokoh pendukung tidak diberi nama. Mereka sebatas mendapat julukan: Brutus, Hyde, V, dll. Julukan-julukan mereka diambil dari tokoh-tokoh fiksi terkenal. Ini supaya pembaca tidak bingung–supaya saya tidak bingung juga.

Butuh berapa lama untuk riset novel ini?

Lima bulan–ini waktu yang diberikan oleh editor kepada saya untuk menulis London. Saya riset sambil menulis.

Sebutkan tiga kata yang dapat mewakili London!

London sebagai kota atau London sebagai novel?

Sebagai kota: Sendu. Kuno. Tetapi, sekaligus modern.

Sebagai novel: Hujan. Malaikat. Cinta

Cover London keren banget! Apa penulis punya andil dalam menentukan cover buku?

Penulis selalu dimintai pendapat oleh desainer sampul. Tetapi, hasil akhir sangat ditentukan oleh suara redaksi, staf promosi, dan staf pemasaran. Saya setuju sampul London cantik. Warnanya sesuai dengan harapan saya: merah. Sangat London.

Punya kenangan khusus dengan London?

Kenangan khusus? Tidak ada. Tetapi, ketertarikan saya pada London berawal dari Tate Modern, galeri seni kontemporer yang dirancang oleh arsitek kesukaan saya. Dan, ternyata London memang kota seni. Karena itu, saya banyak bercerita tentang seni dalam novel ini.

Ada kejadian menarik selama proses penulisan novel London?

Proses penulisan London mengalir secara mengherankan. Para tokoh, konflik mereka, dan lokasi-lokasi tercetus dengan mudah, lalu terangkai satu sama lain dengan sendirinya. Seolah-olah, semua itu sudah lama bersembunyi dalam kepala saya. Padahal, tidak.

Saat memilih Fitzrovia, saya tidak tahu daerah itu adalah pusat seni–bidang yang kebetulan ditekuni oleh Ning. Saya jatuh cinta pada Fitzrovia karena suasananya–pada Fitzroy Tavern, lebih tepatnya. Dan, di sana ada gang yang sangat pas untuk dijadikan tempat tinggal Ning, yang sesuai dengan bayangan saya: Colville Place. Letaknya hanya seratus meter dari Fitzroy Tavern. Di sekitarnya, banyak galeri-galeri kecil–yang kemudian memunculkan tokoh Finn.

Lalu, tidak jauh ke arah Soho, ada toko payung tua bernama James Smith & Sons. Payung adalah elemen penting dalam London, sangat erat kaitannya dengan ide dasar cerita. Dan, di sebelah Tate Modern, tempat kerja Ning, ada Shakespeare Globe Theatre yang mewakili dunia Gilang: sastra. Toko payung, galeri, dan teater itu sendiri sangat menginspirasi.

Adakah curhat terselubung dalam novel London?

Banyak hal yang saya suka atau percaya tertuang dalam London, tetapi saya tidak curhat dalam tulisan.

Apa proyek selanjutnya yang akan Windry kerjakan setelah London?

Saya baru saja menyelesaikan naskah dewasa muda beberapa waktu lalu. Naskah tersebut sedang dibaca editor. Ada juga naskah lain yang sempat terbengkalai lama dan saat ini saya berusaha menyelesaikannya. Setelah itu, mungkin saya akan melanjutkan kisah Gilang. Atau, menulis roman sejarah. Atau, rehat. Saya belum tahu.

Lagu yang cocok sambil menikmati novel London?

Saya rasa, lagu bukan sesuatu yang pas untuk melengkapi London, melainkan hujan. Hujan yang malu-malu, ditambah sofa yang nyaman, kopi atau teh hangat, dan jendela di sisi yang sesekali bisa kita intip di sela-sela bab.

Tetapi, kalau memang menginginkan lagu, coba dengarkan “Singin’ In The Rain” L’Arc~en~Ciel yang menjadi sumber inspirasi novel ini.

Terima kasih banyak atas waktunya untuk menjawab 10 pertanyaan dari saya ^^

Jangan kemana-mana, karena minggu depan ada liputan London: Angel Tea Party with Windry Ramadhina. So, stick around ^^

Kisses,

20130725-125307.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on September 21, 2013, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 11 Comments.

  1. iin ekawati markus

    thank buat kak Yuska yang dengan senang nge post interviewnya… tapi kak…, kenapa vakumx LAMA banget. jadi bosan gak entry dari kak Yuska… ^_^

  2. saya ngerasa salut, amazed, dan envy sama gimana keinspirenya kak windry yang tertutur dalam interview ini T T apalagi karena menuliskan tentang London yang selalu saya inginkan untuk datangi di masa depan, hehe. jadi ingin dengerin lagu singni’ in the rain juga, selain pengen bisa baca bukunya, kalau aja saya menang yah insya Allah gak perlu beli :”’ #PLAK (Amin). Rasanya kayaknya “mudah” sekali, gitu, bagi kak windry, selamat ya kak >< terima kasih dan regards… Khairisa R. P / @rd_lite / reddishdelight@yahoo.co.id

  3. London: Angel emang keren bgt…
    Aku jadi makin penasaran sama cerpennya. Mba Win.. aku mau bacaa dong!! >D<

    see u tomorrow in Black House

  4. jd pnsaran dgn singing in the rainnya

    @Litaa_FAN

  5. Perjuangan mbak windry selama 5 bulan buat menyelesaikan novel ini berbuah hasil, novel London nya jadi best seller di gramedia Palembang ^^

    sepertinya, mbak windry ini fans beratnya L’Arc~en~Ciel =D

  6. Sejujurnya aku belum pernah baca karya mb Windry. Tapi, anehnya saat membaca interview ini aku menangkap rasa yang nyaman dan pas juga ada unsur …ah g tahu apa, yg jelas jawaban2 itu terasa berbeda saat aku membaca interview lainnya.
    Apa ini indikator aku bakalan cocok sama tulisan mbak Windry ya? Yah, jadi penasaran sama London ‘kan?
    Dan hujan. Aku jg suka sekali dg hujan mbak. Tp hujan yg tenang tanpa angin, & tanpa petir, jg hujan yg tak terlalu lebat.
    Semoga suatu saat aku bisa jodoh sama London nya mbak Windry ya?!

    Dian. S
    @dianputuamijaya
    dian_putu26@yahoo.com

  7. Tahu yang ada di kepala saya?

    Saya pengen beli tiket ke london, Lalu menengadahkan kepala dan merasakan percikan hujan di muka saya.

    Gila novel ini bikin aku nengis kejer gara2 si Mr. Lowesley. Kereeen!

  8. Takjub dengan pemilihan nama tokoh dalam novel London,
    bisa unik gitu😀

    Intan Ratnasari
    @_tantintun
    ymmot_in@hotmail.com

  9. yeay akhirnya salah satu penulis favku diinterview ^^ jadi tahu kalo Angel ternyata kepanjangan dari tokoh utama buku London🙂

  10. Wah, belum pernah baca karya Mbak Windry. Baca interview ini jadi tambah penasaran sama London. Apalagi kombinasi elemen novel ini: London, hujan, seni, menarik sekali. Tambah penasaran^^

    Natasha Adelina
    @natashey
    natasha.adelina@gmail.com

  11. Saya ngefans sama mbak windy…
    Wah ternyata nama2 tokoh utamanya kalau dirangkai bisa jadi ANGEL.
    Sama saya juga suka hujan, punya ritual sendiri ketika hujan, dan juga suka laruku. Huhui (googling lagu singin in the rain).
    Wah, jadi berikutnya mbak windy mau bikin roman sejarah ternyata. Ditunggu ^_^

    gea
    @harovansi
    gea.harovansi@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: