#STPC Interview: Meet the Author Riawani Elyta @Bukune

20130819-105102.jpg

riawani

Halo,

Ketemu lagi dengan segmen Meet the Author. Setelah membahas novel First Time in Beijing, kali ini Lust and Coffee berhasil mewawancarai penulisnya, Riawani Elyta. Simak interview berikut tentang tidbits di balik pembuatan novel First Time in Beijing.

Bisa diceritakan dari mana dapat ide untuk novel First Time in Beijing?

Idenya terinspirasi dari film seri “Kitchen Musical” yang dibintangi Christian Bautista. Bagi penggemar film seri populer, film seri ini mungkin terasa monoton, karena settingnya hanya di restoran dan diselingi tarian dan nyanyian seperti opera. Tetapi bagi saya, disitu letak keunikannya. Ini film seri pertama pernah saya tonton, yang menyajikan dunia kuliner secara komplit. Bahkan konflik antar tokohnya pun, masih terhubung dengan aktivitas kuliner. Awalnya saya ingin menulis novel Beijing ini dengan hampir semua settingnya di restoran, seperti film tersebut, tetapi mengingat proyek STPC adalah penggabungan kisah cinta dan travelling, maka tempat-tempat lain di Beijing turut dijadikan setting, sehingga pembaca juga bisa merasakan petualangan tokohnya (Lisa) saat pertama datang ke Beijing selain lika-likunya bergelut di dunia restoran

Tema novel ini menarik, cooking competition. Apa Ria suka memasak? Dapat darimana idenya?

Tidak. Saya lebih suka membuat kue J Idenya dari keinginan saya untuk menyajikan cerita tentang perjuangan dalam dunia usaha, saya pilih kuliner karena saya suka excited kalau membayangkan makanan J. Selain terinspirasi dari film Kitchen Musical, juga dari novel Jepang berjudul Kitchen, ini tentang kecintaan tokohnya pada dapur dan semua elemen dapur termasuk makanan. Jadi melalui novel ini, saya juga ingin menyampaikan bahwa kesuksesan itu harus diperjuangkan, dengan disiplin dan komitmen kuat untuk belajar, dan salah satu kuncinya adalah dengan memiliki passion atau mencintai aktivitas yang kita lakukan

Berapa lama proses penulisan novel ini?

Proses penulisannya sekitar 2 bulan, plus revisi, totalnya sekitar 3 bulan

Satu kata yang bisa mendeskripsikan Beijing:

Cinta – kuliner – chef – kultur : Novel yang merupakan harmonisasi kisah cinta, perjuangan, keteguhan hati, kasih sayang keluarga, dilatarbelakangi dunia kuliner, kultur bisnis orang china dan setting kota Beijing sebagai salah satu pusat peradaban dunia

Jika novel First Time in Beijing difilmkan, siapa yang cocok untuk memerankan:

Lisa : Laura  Basuki

Daniel : Glenn Alinskie / Roger Danuarta

Yu Shiwen : Agnes Monica / Chelsea Olivia

Saya suka dengan novel berbau kultur, seperti Beijing ini. Apa yang dilakukan Ria ketika riset? Apa ada model keluarga asli seperti keluarga Lisa?

Saya mengumpulkan semua bahan tertulis yang bisa mendukung proses penulisan, diantaranya travelling guide negeri China, kumpulan chinese wisdom, kultur masyarakat china, kamus online bahasa Mandarin juga wawancara tertulis tentang terjemahan bahasa pada teman yang pernah bekerja di Hongkong.

Kalau model keluarga asli tidak ada, jadi keluarga Lisa hanya fiktif belaka. Tetapi sebagian pengalaman Lisa bersumber dari pengalaman saya juga, saya pernah tinggal di luar negeri bersama keluarga yang anak-anaknya sama sekali nggak peduli dengan saya.

Ada pengalaman menarik selama proses penulisan novel ini?

Yang menarik menurut saya, adalah ketika proses revisi novel ini. Pada saat yang sama, saya juga sedang menulis empat novel lain yang rata-rata punya deadline sekitar 1-2 bulan atas order penerbit juga yang saya tulis untuk diikutkan pada lomba novel. Maka, pada waktu yang benar-benar hectic ini, saya harus bisa membagi fokus yang sama besar juga menjaga agar “feel” tokoh cerita yang berbeda-beda itu tidak tertukar-tukar atau justru seragam, mengingat semua novel punya karakter tokoh utama yang berbeda-beda. Mengerjakan ini benar-benar jadi tantangan tersendiri buat saya, karena baru kali pertama, saya mengerjakan beberapa novel dalam waktu bersamaan dan masing-masing terikat dateline yang ketat. Jadi untuk menyiasatinya, dalam sehari saya bagi waktu, pagi untuk nulis novel A, sore untuk novel B, malam untuk novel C. Saya juga pasang target dalam sehari minimal saya harus bisa menulis 5 halaman

Bisa share playlist yang Ria dengarkan ketika menggarap novel ini?

Saya nggak pake playlist, selama ini, satus-satunya novel saya yang ditemani playlist hanya “Yang Kedua” (Bukune, 2012) karena ini memang novel tema musikal. Kalo pake playlist, saya malah nggak konsen nulis.

Apa proyek novel selanjutnya yang akan Ria kerjakan?

Saya sedang menulis novel romance dengan latar belakang penyelamatan lingkungan, dalam hal ini penyelamatan satwa langka, progress-nya baru jalan tiga puluh persen, dan insya Allah akan diterbitkan di Bukune juga.

Ada tips singkat untuk penulis yang ingin mengirim naskahnya ke Bukune? Apa saja yang harus diperhatikan?

Kenali segmen Bukune dengan cara membaca novel-novel terbitannya, tulis cerita sesuai segmen tersebut dengan plot dan alur yang baik, ketik yang rapi lalu penuhi semua syarat pengiriman sebelum mengirim naskah. Jangan lupa berdoa yang khusyu agar naskahnya diterima.

Terima kasih banyak untuk wawancaranya yang menyenangkan. Ditunggu karya Ria selanjutnya ya ^^

Until next time.

20130725-125307.jpg

 

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on September 15, 2013, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 20 Comments.

  1. iin ekawati markus

    suka sama interviewx kak Ria… ada tips lagi utk pnulis sebelum mengirim naskah ke bukune. tapi pas kak Yuska tanya satu kata tntang novel kak Ria… di jawabx lebihhh…. hehehe.. dimaafin deh!!!!

    iin ekawati markus
    indahstewart@gmail.com
    @nila_adam

  2. oh iya ya, 1 kata, bukan 1 kalimat *plak*

  3. setuju bgt sama org yg cocok buat meranin.
    untuk tipsnya , thanks…

    lita andriana
    @Litaa_FAN
    yangchen85@yahoo.com

  4. wah seneng ya bisa memertemukan kesukaan di dunia kulineri dengan kesukaan menulis gitu :Db jadi mungkin penggalian untuk menghidupkan latar restoran dkk nya bisa dengan lebih enjoy, meski saya kira bukan hal yg gampang tentunya^^a

    kalau mau dibilang juga saya kira restoran di beijing bisa kok disebut “tempat yg punya cerita” untuk seri ini hehe… ceritanya malah bahkan sampai melibatkan lomba masak ya? xDb keren!😀

    salut juga atas keprofesionalan kak ria yg ttep bisa keep up dengan pekerjaan di novel lainnya… jadi tambah tips juga untuk bagi2 waktu😀 hehe dan rasanya agakagak mirip saya juga kalau gak perlu harus pake playlist waktu nulis😀 *plak*

    Terimakasih banyak buat kak yuska juga yang udah semakin mendekatkan pembaca dan peminat seperti saya dengan wonders of #STPC that can be offerred :Db

    Warmest regards,
    Khairisa R.P
    @rd_lite
    reddishdelight@yahoo.co.id

  5. Khairisa : kalo untuk lomba masaknya hanya sekilas aja, fokusnya lebih ke lika liku tokohnya belajar memasak dan mengelola restoran🙂

  6. Halo Mbak Ria….

    Muehehehe… Saya juga suka sama Kitchen Musical-nya Christian Bautisata loh🙂 Soalnya, di restoran itu banyak banget nari-nari sama nyanyinya. Jadi bisa liat wajahnya Bang Chiristian nyanyi sambil pake baju putih ala Chef. Hahaha.. Kembali ke topik.

    Saya belum punya kesempatan untuk membaca novel ini. Tapi, saya udah pengen banget baca novelnya. Soalnya, temanya lain daripada yang lain. Tema kuliner untuk dijadikan novel, rasanya masih asing di telinga saya. Tapi, saya makin penasaran.

    Wah, ternyata Mbak Ria risetnya cukup dalam juga ya. Baca ini, baca itu, tanya sini, tanya situ, buka ini, buka itu. Nggak kebayang kalo saya juga harus riset kayak gitu. Saya emang payah T.T

    Satu lagi… Mbak Ria, Mbak bikin saya iri. Gimana bisa Mbak Ria bagi waktu untuk mengerjakan novel secara bersama-sama. Itu rasanya susah pangkat dua milyar buat saya. Aku pasti udah tepar😥

    Semoga semangat menulis Mbak Ria menulis ke saya. Hehehehe😀

    Salam hangat,

    Nanda Febri
    @milo389
    febrifebruary03@gmail.com

  7. Febri : toss, ada juga ternyata, sesama fans kitchen musical, (or fans Chris bautista? Hehe ), yang jelas, sy kapok nulis bareng2 kaya’ gitu lagi, teparrr, hihihi

  8. Nggak nyangka, ternyata novel ini di tulis bersamaan dg beberapa novel. Wao… g kebayang ribetnya kayak apa. Aku yg nulis 1 tulisan saja ribetnya g ketulungan. Ya, mungkin beda lah, profesional dan masih belajar😀

    Menurut mbak Ria sendiri, menulis bersamaan seperti itu berpengaruh dg hasilnya g?

    Tp, aku salut sama mbak Ria, kerja kerasnya g ada yg ngalahin. Sukses ya!!!

    Dian. S
    @dianputuamijaya
    dian_putu26@yahoo.com

  9. Dian : kalo hasil, saya serahin penilaiannya ke pembaca aja deh, hehe, apapun masukan yg positif sy jadiin bahan koreksi

  10. Sama2, Makasih juga udah baca n reviewnya. Iya nih aq paling banyak dapet kritik soal bahasa mandarin. Perlu belajar lebih intensif nih kayanya:-)

  11. wah kayaknya pas banget nih, aku lagi ngumpulin cerita romance yang berbau kuliner🙂

  12. Ternyata susah yah buat satu buku saja, risetnya butuh mendalam >,,< penasaran niih ^^;

    • loh, komenan saya sebagian hilang >,<
      diulang lagi yah ^^;
      saat mbak ria tinggal diluar negeri, anak-anak dari "keluarga angkat" saat disana, tidak peduli sama mbak ria. Tidak pedulinya disitu maksudnya gimana yah? Apakah mbak ria tidak diajak bicara selama tinggal disana atau gimana?🙂 Ada rasa sedih tidak?
      semoga dijawab sama mbak ria ^^

  13. Hai delta, ya kira2 spt itu deh:-) hampir gak pernah diajak bicara, kalo sy nanya ya baru dijawab, tapi kalo ortunya baik. Kadang2 sedih juga, jadi inget rumah, tapi lama2 terbiasa juga:-)

  14. Jujur aku belum pernah baca novel Mba sebelumnya, tapi setelah salah satu penulis favoritku -Mba Ifa Avianty- bilang langsung ke aku kalo novel First Time In Beijing ini bagus, aku jadi kepingin beli, dan emang pengen melengkapi seri STPC
    Aku pengen tau, apa sebenernya Mba udah pernah ke Beijing? kalo belum apakah sulit risetnya?
    atau kalo suatu hari nanti nulis lagi novel yang bersetting di luar negri dan mba belum pernah kesana gimana cara mengatasi kesulitan dalam mengumpulkan data-datanya?

  15. Aulia : saya belum pernah ke Beijing. Alhamdulillah fasilitas internet dan cukup banyak buku yang memberi info tentang Beijing cukup membantu, letak kesulitannya adalah bagaimana melebur latar Beijing dalam cerita dengan baik supaya tak terkesan tempelan atau justru terlihat seperti buku travelling. Jadi ketika saya menceritakan pengalaman tokoh ceritanya waktu di great wall misalnya, saya mencoba untuk tidak sekadar menuturkan apa yang mereka lihat, tapi apa yang mereka rasakan dan kesan tokohnya dari pengalaman itu.
    Kalo nanti saya nulis novel latar LN lagi, insya Allah saya mau riset lebih dalam dan kalo memungkinkan, punya narasumber yg pernah tinggal di kota ybs. Salam buat mbak ifa ya, dia juga penulis favoritku🙂

  16. Wah, sebenarnya saya belum pernah (dan bisa dibilang, kurang tertarik) sama dunia kuliner. Tapi, seperti biasa, review Mbak Yuska dan obrolan dengan sang author, bisa bikin penasaran. Hihihi. Seru kali, ya? Apalagi belum pernah kepikiran tentang Beijing dan seluk beluknya. Jadi penasaran;)
    Sukses terus, ya, Mbak Yuska dan Mbak Ria!:D

    Natasha Adelina
    @natashey
    natasha.adelina@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: