[Book Review + Giveaway] Melbourne: Rewind by Winna Efendi @Gagasmedia

20130819-105102.jpg

book_info

20130819-084810.jpg

Judul Buku: Melbourne: Rewind (Setiap Punya Cerita #4)
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: Juni 2013
Jumlah Halaman: 324
ISBN: 978-979-780-645-3
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Romance, Travel Literature
Harga: Rp. 52,000
Beli di: Pinjam sama Luna
Kalimat pertama:

Pagi ini tak berbeda dengan pagi sebelumnya. Tapi bisa berbeda dengan pagi sesudahnya.

book_blurb

Pembaca tersayang,
Kehangatan Melbourne membawa siapa pun untuk bahagia. Winna Efendi menceritakan potongan cerita cinta dari Benua Australia, semanis karya-karya sebelumnya: Ai, Refrain, Unforgettable, Remember When, dan Truth or Dare.
Seperti kali ini, Winna menulis tentang masa lalu, jatuh cinta, dan kehilangan.
Max dan Laura dulu pernah saling jatuh cinta, bertemu lagi dalam satu celah waktu. Cerita Max dan Laura pun bergulir di sebuah bar terpencil di daerah West Melbourne. Keduanya bertanya-tanya tentang perasaan satu sama lain.
Bermain-main dengan keputusan, kenangan, dan kesempatan. Mempertaruhkan hati di atas harapan yang sebenarnya kurang pasti.
Setiap tempat punya cerita.
Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari Melbourne bersama pilihan lagu-lagu kenangan Max dan Laura.
Enjoy the journey,
EDITOR

thoughts

Melbourne: Rewind adalah novel kedua seri STPC yang gue baca. Gue sengaja membaca randomly alias nggak sesuai urutan karena alasan tidak ada keterkaitan antara buku satu dengan yang lain.

Kesan pertama: covernya cantik, seperti biasa. Sentuhan feminin Levina Lesmana pas banget dengan menggunakan warna kuning (yang untungnya bukan kuning terang, karena gue fobia warna kuning) dan layout sederhana untuk mewakili Melbourne yang cozy. Gue selalu merasa Melbourne itu cozy dan laid back, nggak seruwet Sydney. Dan memang benar, seperti kesan gue, Winna membawa suasana nyaman dan tenang dalam novelnya ini.

Adegan dimulai dari penuturan Max tentang masa kecilnya, lalu awal mula ia bertemu dengan Laura, perempuan asal Indonesia yang quirky karena menyukai musik lama dan indie, dan hobi mendengarkan walkman. Ketahuilah bahwa gue sangat cinta musik dan cinta banget sama musik. Waktu lihat cara Winna membagi bab dengan track a la CD, gue langsung semangat membaca novel ini. Novel ini terasa musikal sekali, dan gue jadi gatel pengin ngeklik youtube untuk mendengarkan lagu-lagunya.

Max dan Laura terlibat dalam hubungan putus-sambung. Setelah putus dari Laura, Max berpacaran dengan Viv, perempuan Australia yang memiliki tujuan jelas dalam hidupnya. Hampir dua tahun mereka berpacaran (dan tinggal bareng di Darlinghurst Apartment), lalu akhirnya selesai karena Max merasa she’s not the one.

Keduanya kembali dekat-Max dan Laura. Tanpa ikatan, tanpa beban. Deskripsi Winna sangat manis ketika menggambarkan date hangout a la Max dan Laura. Bekerja pagi menyingsing lalu mencari sarapan, menonton film di Rooftop, dulu-duluan datang ke St. Kilda karena yang kalah harus mentraktir. Saya suka. Gaya menulis tidak meledak-ledak. Seperti sungai yang mengalir tenang, namun mampu menggiring pembaca hingga ke hulu sungai yang beriak. Biasanya, gue kurang suka dengan tipe buku seperti ini, namun Winna berhasil memikat gue.

Gue merasa memiliki koneksi dengan Evan: si Aquarius penyuka warna biru. Ditambah dia juga gila musik, sama dengan Laura. Somehow, gue merasa, jika Evan, Max dan Laura adalah nyata, we can be great buddies. We could talk about underrated artists for hours. I kinda miss that moment *sigh*.

Laura memiliki sahabat, yaitu Cee dan Paris, kucingnya. Kedua sahabatnya itu berperan penting dalam membawanya pada perkenalan dengan Evan, si vet yang memikat hati Laura. Nah lho, bagaimana dengan Max? Silahkan baca sendiri Melbourne:Rewind-nya ya.

Karakter-karakter di novel ini nggak bombastis, tajir abis, dan sebagainya. Walau memakai setting luar negeri, tidak ada kesan borju dan pamer kekayaan. Semua terasa wajar. Lalu, lokasi-lokasi di novel ini juga bukan destinasi turis, sehingga gue berasa benar-benar diajak jalan-jalan menyusuri Melbourne yang tenang dan artsy, seperti yang digambarkan oleh Winna (sedikit mengingatkan gue dengan San Francisco). Porsinya juga pas, nggak kurang dan nggak lebih.

Tempat-tempat di Melbourne yang menarik buat dikunjungi (based on the novel):

20130903-084950.jpgSt. Kilda Beach Photo by: Deepak

20130903-085724.jpgChocolate Kooglhoupf from Monarch Cakes, St. Kilda Photo from here

20130903-094448.jpgState Library Victoria Photo from here

20130904-103154.jpgVic Market di mana Max dan Laura suka membeli jam donut yang lezat itu. Pic from here

20130904-103930.jpgDixons Recycled tempat berburu vinyls dan cd lawas. Pic from here

Kebayang asyiknya menyusuri pantai St. Kilda, lalu mampir di Monarch Cakes. Lalu, esok paginya seharian menelusuri koleksi buku di State Library Victoria sambil tiduran di atas rumput di area perpustakaan tersebut sambil menyeruput es jeruk. Sorenya berburu CD di Dixons, lalu belanja ke Vic Market sambil mencicip penganan di sana.

Ok, ada sedikit protes untuk novel ini:
One of Laura’s favorite movies is A Moment To Remember. Lalu ada adegan Max mendengarkan lagu Someday We’ll Know. Setahu gue, judul film tersebut adalah A Walk To Remember yang dibintangi Mandy Moore based on Nicholas Spark’s novel. Sedangkan A Moment To Remember adalah rom-flick Korea yang dibintangi oleh Jung Woo Sung.

Overall, gue puas dengan Melbourne. This novel is about music, books, and romance. Gue ingin segera hunting novel karya Winna yang lain.

quotes

Masa lalu punya cara tersendiri untuk mengejutkanmu, tanpa pertanda. (hal. 24)

Manusia nggak bisa milih kapan waktu yang tepat untuk jatuh cinta. (hal. 61)

Siapa yang bisa mengukur takaran kebahagiaan sesungguhnya? Kita bahagia dengan apa yang kita punya, itu udah cukup. (hal. 80)

Insting wanita lebih tajam daripada otak pria. (hal. 100)

Buat gue, perasaan paling nggak enak sedunia adalah sesal. Apa pun yang lo lakukan, lo nggak akan bisa menekan tombol rewind untuk kembali ke momen saat segalanya berubah. (hal. 122)

dream_cast

Saat membaca novel ini, visualisasi di kepala adalah orang-orang di bawah ini. Novel ini kayaknya keren juga kalau diangkat ke layar lebar. Atau mungkin dibuat omnibus dari semua novel serial #STPC yang ada.

melbcast
20130725-125152.jpg

Need a second opinion?

Mia Membaca Review here
Kata-kata Dicta Review here
Kubikel Romance Review here

Submitted for:

New Authors Reading Challenge here

IRRC 2013 here

STPCGA

Yuk, yang mau mendapatkan 3 paket novel serial #STPC @Gagasmedia @Bukune merapat kemari. Caranya gampang banget:

1. Follow akun @Gagasmedia @Bukune dan @WinnaEfendi

2. Twit link review + giveaway ini dengan kalimat seperti ini:

Mau dapetin paket novel #STPC dari @yuska77 @Gagasmedia @Bukune? Klik aja http://wp.me/p1d1V6-VU

3. Isi di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai review novel Melbourne: Rewind. Jangan lupa untuk mencantumkan:

Nama, akun twitter, dan email.

4. Setiap komentar yang kamu tinggalkan di tiap postingan dan twit selama proyek #STPC berlangsung akan mendapat 1 entry. Misalnya, kamu ngetwit link review + giveaway Melbourne juga meninggalkan komentar, maka kamu mendapatkan 2 entries.

5. Jangan lupa, besok ada postingan interview bersama Winna Efendi. So, stay tuned ya.

6. Giveaway STPC dimulai dari tanggal 1 September – 30 September 2013. Kamu bisa mengisi kolom komentar + tweet giveaway ini selama event STPC berlangsung.

7. Pengumuman pemenang tanggal 5 Oktober 2013

Good luck🙂

20130330-114856.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on September 11, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 36 Comments.

  1. Melbourne… Ini nih serial STPC yang saya cari. Tapi, waktu di Gramedia stoknya udah habis. *Langsung nangis*
    Karena saya belum baca, saya jadi bener-bener pengen beli novel ini secepatnya. Uh… reviewnya benar-benar menggoda. Rasa penasaran saya langsung meningkat drastis.
    Dari reviewnya, entah kenapa saya langsung teringat novelnya Orizuka yang Infinitely Yours. Kenapa? Karena ada playlist lagunya. Saya juga baca beberapa review yang disarankan di atas, dan saya makin…. heboh.
    Saya mulai berpikir, ide untuk membuat novel dengan playlist lagu sebagai pembatas Babnya, kayaknya kereen. Dan saya nggak sabar, membaca karya Mbak Winna efendi satu ini, karena karya Mbak Winna efendi yang Remember When berhasil membuat saya kecewa.
    Teruuusss…visualisasi tentang tokoh yang diberikan tadi, bikin saya ngiler. OMAIGAD.. Max-nya totally damn hot.
    Belum lagi, katanya tadi Mbak Winna mengulas tentang tempat yang jarang dijadikan sebagai destinasi liburan. Dan itu malah bikin mata saya berbinar. Makin luas dong pengetahuan saya tentang tempat menarik. Hehehehe

    Salam hangat,

    Nanda Febri
    @milo389
    febrifebruary03@gmail.com

  2. Reviewnya cukup detail, bahkan tahu beberapa kesalahan judul filmnya. Tp, cara penyampaiannya harus lebih cantik. Bocoran cerita jg sesuai porsi, tapi g bikin orang penasaran.
    Untuk beberapa artis yg diajukan jd cast novel ini, aku setuju banget.😀

    Kira2 begitu!!!

    Dian. S
    @dianputuamijaya
    dian_putu26@yahoo.com

  3. meski di satu sisi sempat mengira kalau entri even STPC selanjutnya setelah interview dgan kak Kireina Enno adalah bakal ketemu juga dengan editor/ilustrator dari barcelona te amo (berhubung saya kira novel tsb adalah dari Bukune yg berarti akan “beda kru” juga) …

    saya sama sekali gak nolak untuk dibawa ke “tempat” baru lagi, randomly as mbak yuska said untuk ke Melbourne sekarang😀

    Saya jadi ikutan merasa excited untuk bisa merasakan sendiri pengalaman membaca seperti yg diceritakan kak yuska ini😀 ada musik, cozyness dan segala macemnya. ternyata nama besar winna efendi memang menjanjikan hal yg juga menjanjikan😀

    saya juga senang mengetahui informasi kalau mbak winna sudah menyajikan melbourne dalam potretpotret tempat yg “gak turis”, lalu juga dengan “playlist” setiap bab… therefore saya juga jadi ingin tahu bagaimana proses “pembangunan” yg dilakukan mbak winna untuk menyajikan novel ini😀 will stay tuned for the writer’s interview😀

    terima kasih banyak untuk reviewnya yang makin indulging😀

    Regards,
    Khairisa R.P
    @rd_lite
    reddishdelight@yahoo.co.id

  4. iin ekawati markus

    reviewnyaa kakak gk muluk-muluk, singkat tpi ngena. pkokx detailx bsa dlihat. eh tpi sdikit pnasaran sama sosok sosok evan…. kyakx mw hunting bku ini gara2 reviewx kk….

    sukses selalu kak yuska

    iin ekawati markus
    @nila_adam
    indahstewart@gmail.com

  5. Selalu terpesona dengan karya Winna Efendi. Aku udah baca yang Refrain, Unforttable, Ai, Truth or Dare, dll. Makin terpesona adalah Winna ini salah satu penulis Indonesia yang produktif, dalam setahun bisa menghasilkan beberapa buku.

    Wow, ini reviewnya lengkap banget. Mengulas tempat-tempat di Melbourne yang menarik buat dikunjungi plus gambaran tokohnya jika diangkat ke layar lebar.

    Luckty Giyan Sukarno
    @lucktygs
    emangkenapa_pustakawin[at]yahoo[dot]com

    URL Share:
    Twitter: https://twitter.com/lucktygs/status/377791990198325249
    Facebook: https://www.facebook.com/luckty/posts/10201886431542797
    Blog: http://catatanluckty.blogspot.com/2013/09/giveaway-melbourne-rewind-by-winna.html

    #TebarGaramKeberuntungan
    #MerapalJampiJampiBuntelan

    ƪ(˘⌣˘)┐ƪ(˘⌣˘)ʃ┌(˘⌣˘)ʃ

  6. Reviewnya keren banget! Lengkap dari segi manapun. Review Melbourne, Rewind ini nampilin sebaik-baiknya info yang ada di dalem novel dan tentunya bikin sama-sama ngayal juga. Mulai dari diberi keterangan tentang sisi travel di Melbourne, berbagai quotes-nya. Dan meresensikan dengan kata-kata yang gampang dipahami. Trus dengan meneliti lebih dalam sedikit kesalahan ketidaksengajaan mungkin di playlist Rewind. Juga favoritku itu bagian “dream cast”-nya. We have sama deep thoughts :p

    Nama : Zamilla Alfajri

    @zamillaalfajri

    milladio@yahoo.co.id

  7. udah baca buku ini dan ini reviewnya http://kubikelromance.blogspot.com/2013/06/melbourne-rewind.html

    yang jadi Max cakep banget :)) rela deh rela kalau dibikin film asal dia yang meranin tapi nggak suka yg jadi Laura.
    alurnya agak lambat jadi harus bersabar dan banyak flashbacknya, untuk bahasa yang dipakai kak Winna indah dan mak jleb, punyaku sampai menghabiskan post-it :))

    Sulis
    @peri_hutan
    zhuelhiez[at]yahoo[dot]co[dot]id

  8. love this revieww !!

    suka ” dreamcastnya” menurutku sih cocok.. yg jadi max namanya sapa ?

    jadi tambah kepengen baca novel ini .. sebenernya mau beli , tapi ternyata habis !!

    penasaran dengan playlist + tempatnya.. dan pastinya karna yang nulis kak winna. karyanya bagus semua..

  9. Buku ini… masih saya baca sekarang dan masih separuh jalan lagi sampai habis halaman bukunya.

    Awalnya agak deg-degan baca review Mbak Yuska, tapi untung aja gak ada spoiler sedikit pun, walau clue sekilas ada dan gak bikin ganggu. Malah bikin saya makin menggebu baca bukunya sampai habis *dan meski ditahan dulu karena masih jam kantor*

    Review Mbak Yuska yang ini: “Seperti sungai yang mengalir tenang, namun mampu menggiring pembaca hingga ke hulu sungai yang beriak.” saya setuju! Gaya menulis Winna di buku ini enak banget. Gak meledak-ledak, kesannya kaya sedang di dalam cafe, sambil minum teh atau kopi, dan diiringi dengan lagu-lagu yang menenangkan.

    Dan terakhir, dreamcast-nya itu loh. Pas banget :))

    Tammy Rahmasari
    @alizarinnn
    keikokukien28@gmail.com

  10. Aku punya temen deket yang sekarang lagi ngejar mimpi di Melbourne. Dia cerita kalo di sana toko-toko pada tutup early gak kayak di Bali yang malah makin malem makin rame. Kayaknya bener deh kok suasananya adem kayak Yuska bilang ;p
    Kalo buku-bukunya Winna sih emang selalu ngena kalo di aku🙂
    *a fan detected*

    Share:
    Blog: http://crescentonivy.blogspot.com/2013/09/list-giveaway-buku-bbi-september-2013.html
    Tweet: https://twitter.com/Dmigia/status/377987331765960704

    Ashtrie Karana Putrie
    @Dmigia
    shinigami_light @ ymail. com

  11. Review yang komplit plit plit plit plit… jadi malu dengan reviewku di blog *lirik blog yang sering hiatus*. Sampe ada Dream Casts-nya segala😀 itu yang jadi Laura sam Cee mukanya bikin jiwa fanboy-ing-ku kumat xD

    Nama: Ariansyah
    email: ariansyahabo@gmail.com
    akun twitter: @ariansyahABO

    share: https://twitter.com/ariansyahABO/status/378094094913773568

  12. *ngebayangin mb yuska baca novel ini dan ngerasa gue banget karena novelnya musik banget*
    hehhe
    your elements in reviewing from now on settle like this? it’s really nice
    good review ^^

    ziyy @faraziyya
    arimifauziyyah@gmail.com

  13. Haloo ^^ salam kenal. ^^

    Saya belom sempat beli buku nya -__- padahal kalo dari review orang, bukunya sangat menarik. >,< Sama seperti mbak, Saya juga baca STPC nya enggak berurutan =))

    saya suka cara mbak bikin reviewnya, walaupun tidak panjang yang diuraikan, tetapi maksud dari reviewnya kena. Ditambah lagi, saya sudah sering baca-baca review Melbourne:Rewind, tapi, review punya mbak punya ciri khas sendiri. ^^
    Penambahan gambar-gambar, juga bikin lebih menarik .
    Duh, yang jadi dream castnya Max, ganteng nyaaaa :$

    saya setujuh dengan protes mbak :p saat baca tulisan "A Moment To Remember" dipikiran saya langsung teringat film korea, sedangkan "A Walk To Remember" baru film barat =))
    *karena udah nonton ke dua film tersebut, jadinya ikutan protes hahaha*

    Nama : Delta Kenda Ramadita
    Akun twitter : @DeltaYordani
    email: iam(dot)deltayordani(at)gmail(dot)com

  14. Ehm. Boleh tanya nggak? Yang jadi Max siapa ya namanya? Sumpah saya bingung googling gimana T.T

  15. Aiiih Ya ampun, ada aa’Jeremy gilbert yg unyu adeknya Elena di dream cast buat Max❤
    Karena aku belum baca melbourne jadi aku harap semoga nasibnya Max yg 'diperanin' Steven R. McQueen ngga patah hati ya, soalnya waktu jadi Jeremy sering patah hati ditinggal mati pacarnya :"
    haha malah curcol..
    Menurutku reviewnya udah lengkap kap kap kok mbak, dari deskripsi cerita, penggambaran tempat yang membuat kita pengen ke sana, quotes yang diambil dari novel, lalu kejelian mengenai film yang salah judul, dan bahkan masih dilengkapi dengan dream cast juga😀

    Intan Ratnasari
    @_tantintun
    ymmot_in@hotmail.com

  16. Seperti kali ini, Winna menulis tentang masa lalu, jatuh cinta, dan kehilangan.Mempertaruhkan hati di atas harapan yang sebenarnya kurang pasti.
    -Melbourne, Winna Efendi

    kata-katta tersebut memasuki relung pikiran. Seakan terus menghantui dimanapun saya berada. Di saat yang sama, entah karena apa, saya selalu mengalami kegagalan dalam membeli Melbourne.

    Melbourne. Memberikan sebuah atmosfir dari hal yang paling ekstensial yang pernah saya rasakan. Sudah sejak lama, saya mengagumi hal-hal yang berbau Australia. Saya pengagum Uluru. Saya pengagum Bumerang.

    Sudah sejak lama, lebih lama dari keluarnya Melbourne dan saya selalu gagal membelinya,

    Zaki Prafitra H
    Jec_kie
    zackytgbr@yahoo.com

  17. sangat suka dengan gaya penulisan Winna Efendi dan buku ini salah satu list buku yang ingin saya baca, semoga dapat memilikinya
    Uli
    @UliKerenza
    kerenz_zia@yahoo.co.id

  18. Baca review nya Mbak Yuska kayaknya nih buku bagus banget yah? ㅋㅋㅋ
    Sampe direkomendasiin masuk ke layar lebar?
    Pengeen bacaa sayaa..😀

    Windy Kurnia Pradita
    niapradita@gmail.com
    @windyuchiha

  19. Memang keahlian Mbak Yuska ya, buat bikin ngiler. Jadi heran sendiri.

    Winna Effendi, salah satu inspirator saya. Draf 1-nya telah membawa saya dalam perjalanan penuh naik-turun dalam memulai langkah-langkah tertatih pertama sebagai penulis. Semoga saja perjalanan itu ada hasilnya suatu hari nanti, meski belum bisa saya rasakan sekarang :”

    Untuk itu, saya memang ketagihan baca karya-karya Mbak Winna yang kesemuanya sweet dengan takaran yang sangat tepat. Kadang klise memang bertebaran, tapi dapat dilihat bahwa Mbak Winna sangat apik dan telaten meletakkan masing-masing pion ceritanya. Sangat amat tidak sabar untuk membaca lebih banyak lagi karya Mbak Winna!

    Natasha Adelina
    @natashey
    natasha.adelina@gmail.com

  20. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkk aku suka semua karya-karyanya kak Winna!
    semua karya kak Winna aku punya mulai dari novel pertamanya sampe novel sebelum ini
    tapi aku belum baca buku ini😦😦😦 semoga aku menang, wish me luck!

    setelah aku baca review ini, aku tau kalau aku baca buku ini -walaupun aku ga menang dan harus beli langsung- aku ga akan nyesel
    karena seperti sebelum-sebelumnya pun aku ga pernah nyesel membeli buku-bukunya kak Winna Efendi
    dari awal pembuatan novel ini, kak Winna sering ngeshare semua perjalanan pembuatan buku ini lewat twitter dan aku gak pernah ketinggalan ‘mantengin’ timeline kak Winna
    nah, karena itu aku pengen liat langsung bukti nyata semua perjalanan itu.
    aku pengen katemu Laura dan Max di Melbourne!

    Shyntia Hani Tiara Putri
    @tiaraaaaputri
    shyntia_hani@yahoo.com
    hani_shyntia@yahoo.com

  21. Thanks for review ka Yuska..
    baca review ini bikin aku makin penasaran. Sempet mau beli di TBO tapi ternyata stoknya habis. Eh tapi aku baca juga sih di beberapa review lain yang bilang sebel sama Laura. Katanya dia plin-plan banget. Gimana itu Ka Yuska???

    Ratri Aulia
    @auliaaRatri
    aulian_rhatri@ymail.com

  22. Saat mengetahui bahwa Winna Efendi masuk dalam proyek Setiap Tempat Punya Cerita yang diusung Gagas Media, saya jadi dilema. Nah lho? apa hubungannya?
    Hehehe.
    Sebenarnya tidak ada hubungannya secara langsung sih, cuma saya sudah meniatkan dalam hati akan membaca serial STPC ini secara berurutan. Tapi kemudian nama Winna Efendi bikin saya ragu akan membaca Melbourne.

    Hmm, saya percaya tidak ada tulisan yang jelek, yang ada hanya tulisan yang sesuai & tidak sesuai dengan selera kita. Namun sayangnya, setelah membaca Refrain, Glam Girls, Ai dan yang terakhir Remember When, entah kenapa no matter how hard I try to force myself, saya tidak bisa menyukai tulisan Winna Efendi. No offense. Untuk fans mak WInna, saya minta maaf. Tapi inilah yang saya rasakan.

    Entahlah saya tidak bisa menikmati kisah dan karakter yang Winna ciptakan. Tadinya saya pikir karena saya belum mengenal tulisan-tulisannya secara menyeluruh, tapi kemudian setelah membaca lagi dan lagi, saya makin gak sreg. Sekali lagi maafkan ugly truth ini. Ya balik lagi ini soal selera, bukan? jadi kemudian saya menerima, mungkin tulisan Winna Efendi memang bukan selera saya.

    Tapi, bukan berarti kalo besok-besok ada teman yang memberikan atau meminjamkan Melbourne, kemudian saya tolak. Ya nggaklah. Dari awal kan saya kan sudah meniatkan akan membaca lengkap serial STPC. Jadi, kalo semisal saya ‘berjodoh’ dengan novel ini, saya akan menerima dengan tangan terbuka. :))

    PS: Maaf ya mbak Yuska, saya jadi curcol. Hehe

    Sincerely,
    -Dian-
    @dianmayy
    dianmayasariazis@gmail.com

  23. Hai, Kak🙂

    Seperti biasa, reviewnya selalu bagus… Bahkan ada tambahan gambar dari beberapa tempat yang dipakai dalam novelnya plus gambar orang-orang yang dirasa cocok sebagai tokoh-tokohnya.. Keren!🙂

    Resita Putri
    @ResitaPutri_07
    resitaputri1@gmail.com

  24. Hai, Kak.. Makasih udah adain giveawaynya ya😉
    Jujur, saya belum baca salah satu pun seri STPC =_= *dilema*
    Review nya bagus kok.. Tempatnya sampai dicari hahaha..
    Cast nya juga.. Saya entah mungkin karena pengetahuannya kurang, jadi suka ga bisa bikin cast versi sendiri.. reviewnya juga mengalir dengan lancar😉 membuat makin patah hati belum baca seri STPC hahaha

    Olivia N (Oli_Lizzy)
    @OliviaNirjana
    olive1412@gmail.com

  25. Seri ini sudah ada di antrian baca, tapi belum mulai >_<

    Max ini tokoh bule ya? Jadi pengen tahu gimana penggambaran hubungan bule sama cewek Indonesia di novel ini. Apalagi settingnya di luar negeri😀

    Lulu
    namakulutfia[at]yahoo[dot]com
    @lulutfia_

  26. entah ya, saya sudah baca review novel2 penulis terkenal disini dan dari poin ‘kalimat pertama’nya saya tahu dan mengakui dari kalimat pertamanya saja sudah menarik dan out of the box. Jadi mereka (termasuk Winna Efendi) gak salah ya jadi penulis yg sukses😀
    #okeinicumabasabasigakjelas

    cuss ke review!
    saya juga dapat melihat kak Yuska ini saking suka sama Melbourne jadi reviewnya pun lengkap-komplit-detil TANPA sop iler, salute!😀
    dari pendapatnya, checked.
    dari kilas ceritanya, checked.
    dari foto2 settingnya, double checked.
    dari foto2 Dream Castnya, triple checked😄 (omg………. penasaran akut sama karakter Max, sampe2 digambarin sebegitu gregetnya sama kak Yuska. aishhhh)

    Amelia
    @meliarawr
    fantasy_narnia@yahoo.com

  27. aihhh seruuu kayanya nih ceritanya ><
    mau bca juga dong🙂

  28. Ada typo di,
    Saya suka. Gaya menulis tidak meledak-ledak. Seperti sungai yang mengalir tenang, namun mampu menggiring pembaca hingga ke hulu sungai yang beriak. Biasanya, gue kurang suka dengan tipe buku seperti ini, namun Winna berhasil memikat gue.

    Itu ada yang pake ‘saya’, ada yang pake ‘gue’ Kak. Kesalahan nulis kali ya? Hehe.

  1. Pingback: End of the Year #ReadingCram: Top Ten Books in 2013 | lustandcoffee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: