[Book Review] Perfect Match by Jodi Picoult @Gramedia

book_info

20130731-101334.jpg

Judul Buku: Perfect Match (Pasangan Sempurna)
Penulis: Jodi Picoult
Penerjemah: Julanda Tantani
Penerbit: GPU
Tahun Terbit: 2010 (Mei, Cetakan I)
Jumlah Halaman: 504
ISBN: 9789792257687
Kategori: Novel Fiksi Terjemahan
Genre: Drama, Crime, Family
Harga: Rp. 35,000
Beli di: Bazaar Gramedia @ Lotte Bintaro
Kalimat pertama:

Ketika akhirnya monster itu benar-benar muncul dari balik pintu, dia mengenakan topeng.

book_blurb

Nina Frost, pengacara untuk anak-anak yang dianiaya. Bekerja keras memastikan sistem hukum yang memiliki banyak lubang bisa menahan para pelaku kejahatan di belakang terali. Tapi ketika anak laki-lakinya yang berusia lima tahun, Nathaniel, mengalami trauma karena penganiayaan seksual, Nina dan suaminya, Caleb—seorang pengrajin batu yang tenang dan praktis—hancur, tercabik-cabik dalam amarah dan keputusasaan di hadapan sistem pengadilan yang menggelikan, sesuatu yang Nina kenal dengan baik. Dengan mudahnya kejujuran dan pembelaan absolut Nina dijungkirbalikkan, dan dengan membabi buta dia mencari sendiri keadilan bagi anaknya—apa pun konsekuensinya, apa pun pengorbanannya.

thoughts

Nathaniel adalah anak dari pasangan Nina dan Caleb Frost. Dulunya ia anak yang periang, walau masih cadel dan kurang bisa melafalkan huruf L dan R dengan baik. Nathaniel juga gemar mendengarkan The Beatles, terutama White Album. Ketika lagu Rocky Racoon tidak lagi membuat Nathaniel riang, Nina mulai bertanya-tanya tentang perubahan drastis pada anaknya.
Nina dan gurunya, Ms. Lydia, mendapati Nathaniel yang berbeda. Ia jadi pemurung, mudah marah, juga mengompol.
Nathaniel juga beberapa kali melakukan tindakan yang membahayakan dirinya, seperti melompat dari monkey bar yang tinggi, juga menenggelamkan dirinya di dalam bak mandi.
Nathaniel juga melakukan aksi diam, membuat orangtuanya bingung dan cemas.
Setelah diperiksa oleh dokter, Nathaniel dirujuk untuk menemui seorang psikiater. Dan ternyata misteri yang terkubur di dalam diri Nathaniel itu terkuak. Nathaniel mengalami pelecehan seksual yang membuatnya trauma. Karena keterbatasan Nathaniel dalam berbahasa, ia sulit mengekspresikannya karena ia sendiri tidak tahu namanya.
Di ruang praktek dokter, ia meraih sebuah boneka laki-laki dan menempelkan sepotong krayon di daerah bokongnya. Seketika itu, Nina yang berprofesi sebagai asisten jaksa wilayah yang biasanya menangani kasus serupa yang dialami anak orang lain, lemas dan menangis sambil memeluk Nathaniel (bagian ini yang bikin airmata gue meleleh).

Salah satu ciri anak korban pelecrhan adalah DID (Dissociative Identity Disorder) di mana anak tersebut ingin menjadi orang/pribadi lain, atau mengasosiasikannya dengan tokoh tertentu. Seperti Nathaniel yang tiba-tiba ingin menjadi Batman dan tidak mengijinkan Nina untuk menjadi Robin. Memang wajar sekali anak-anak berpura-pura menjadi Batman atau Spiderman, namun scene Nathaniel yang ingin dipanggil Batman tersebut membuat gue bergidik.

Dua orang pria dewasa dicurigai melakukannya pada Nathaniel. Yang pertama adalah Patrick, teman dekat Nina sejak kecil, yang mencintai Nina secara diam-diam, dan masih dekat dengan keluarga Nina. Yang kedua adalah Caleb, suami Nina yang juga ayah kandung Caleb. Peristiwa itu membuat hubungan antara kedua suami istri itu renggang. Caleb diusir dari rumah, membuat Nathaniel terluka dan menyalahkan diri sendiri.

Nina dan Nathaniel mempelajari bahasa isyarat untuk membantu Nathaniel bicara. Ditengah kefrustrasiannya, Nathaniel menemukan gambar yang ia cari selama ini. Ia merobeknya, dan menunjukkannya pada Nina dan psikiater yang membantunya dalam terapi. Terkuaklah sosok monster yang melakukan kejahatan seksual pada Nathaniel. Nina berhasil menyeretnya ke persidangan. Peristiwa tak terduga pun terjadi. Nina menembak kepala orang yang diduga telah menghancurkan Nathaniel. Mulai detik itu, kehidupan Nina dan keluarganya berubah.

Perfect Match adalah novel karya Jodi Picoult yang gue baca untuk pertama kali. Dulu gue pernah menonton My Sister Keeper namun hanya sekilas. Satu kata untuk mendeskripsikan novel ini adalah disturbing. Beberapa kali gue harus menyeka airmata dan rehat sejenak demi cooling down dari adegan-adegan yang membuat gue ‘terganggu’.
Novel dengan tema pelecehan seksual selalu membuat gue bergidik, namun gue masih suka untuk membacanya. Sadomasochist ya?
Lalu, Jodi juga piawai dalam mendeskripsikan cerita dari berbagai sudut pandang berbeda (multiple POVs). Pada awalnya gue harus membaca dua kali jika sedang berganti POV. Namun, setelah 1/4 buku, gue sudah bisa mengikuti alurnya Jodi dengan lancar.
Kemampuan Jodi mengupas ranah hukum dan kegetiran kisah keluarga patut diacungi jempol. Love it!

Dalam beberapa hal, gue merasa memiliki kemiripan dengan Nina, terutama dalam hal kesabaran menghadapi anak yang sedikit terlambat bicara.
Gue merasakan kecemasan Nina dan Caleb sewaktu mengajari Nathaniel melafalkan kata-kata dengan baik, karena AJ juga seperti itu. Sempat khawatir kalau AJ mengalami speech delay. Tapi, gue meyakinkan diri bahwa setiap anak dibekali kemampuan berbahasa secara alami, jadi gue biarkan saja ia tumbuh demikian adanya. Gue membantu AJ untuk berbicara dengan lafal yang baik. Mungkin karena gue mengajari bahasa Indonesia dan Inggris dalam waktu bersamaan, membuat AJ jadi bingung bahasa. Selama ini, tontonan AJ memang channel berbahasa Inggris, jadi mau nggak mau gue mengajari keduanya. Lambat laun, AJ bisa mengikuti walau masih cadel dan beberapa kata terdengar seperti bahasa alien.

Membaca Perfect Match membuat gue ingin terus memeluk AJ, melindunginya dan tidak ingin lepas. Di titik ini, gue nggak bisa menyalahkan orangtua yang overprotective pada anak. Mungkin gue juga akan seperti itu setelah membaca buku ini.

Satu lagi yang bikin gue parno adalah ketika si pelaku berkata bahwa ia mencintai anak-anak. Pikiran gue langsung tertuju pada Michael Jackson dan kasus-kasusnya dulu.

quotes

Kejadian traumatik bisa melekat seperti duri di tenggorokan seorang anak. (hal. 33)

Bagaimana anak orang lain bisa lebih penting daripada anakmu sendiri? (hal. 52)

Pikiran kita bisa membuat tubuh kita sakit. (hal. 58)

Di mana Tuhan waktu peristiwa itu terjadi? (hal. 92)

Patrick pernah berkata mereka sengaja merendahkan suhu di ruang pemeriksaan sepuluh derajat lebih rendah daripada ruang-ruang lainnya di kantor polisi, untuk membuat si terdakwa merasa tidak nyaman. (hal. 123)

Mungkin ada benih kejahatan bahkan dalam diri orang-orang yang paling jujur sekalipun. (hal. 315)

Hubungan antarmanusia seringkali seperti ikatan tali yang rumit, sehingga butuh kehadiran manusia lain yang ahli melepaskan ikatan itu. (hal. 130)

tidbits

* Berdasarkan statistik, 1 dari 3 anak perempuan dan 1 dari 5 anak laki-laki mengalami kekerasan seksual sebelum menginjak usia 18 tahun.

* 90 persen korban kekerasan seksual mengenal pelaku. 68 persennya dilakukan oleh anggota keluarga.

* 13.6 juta kasus kekerasan pada anak dilaporkan setiap tahunnya di US.

* 80 persen dari orang dewasa berusia 21 tahun yang mengalami kekerasan sewaktu kecil menderita setidaknya satu gangguan psikologis.

*14 persen narapidana pria dan 36 persen narapidana wanita mengalami kekerasan seksual maupun fisik sewaktu kecil.

* Children of God, salah satu sekte yang didirikan di Huntington Beach, California, tahun 1968, melakukan ritual persembahan dengan melakukan kekerasan seksual pada anak-anak di bawah umur. Sekte ini pernah dilarang di Indonesia.

* River Phoenix (1970-1993) pernah diwawancarai oleh majalah Detail mengenai kasus kekerasan seksual yang menimpanya. Ia dan keluarganya (yang hippie) pernah menjadi anggota sekte Children of God. Phoenix mengaku ia mengalami kekerasan seksual ketika ia berusia 4 tahun. Pendapat River tentang sekte tersebut, “They’re disgusting. They’re ruining people’s lives”.

* Selain Children of God (yang sekarang sudah berganti nama menjadi Family International), banyak sekte yang melakukan kekerasan kepada anak dibawah umur, seperti Mormon (mantan anggotanya banyak yang merilis buku tentang kejahatan dalam lingkungan keagamaan tersebut). Pemuka agama mainstream juga beberapa kali dilaporkan karena melakukan kekerasan seksual pada anak-anak.

* Bahkan guru sekolah juga ada yang melakukan pelecehan seksual pada murid. Kejadian tragis dan traumatis ini pernah menimpa seorang teman di SD. Ia pernah disangka kesurupan karena berlaku aneh, namun setelah gue sadari, ia mungkin trauma hingga menjadi histeris di sekolah.

20130725-125152.jpg

dream_cast

Seandainya novel ini difilmkan, aktris/aktor yang cocok untuk mewakili tokoh-tokohnya:

pm

Need a second opinion?
Baca juga resensi dari teman-teman BBI:

Vaan Opan @ Kandang Baca link
B.Zee @ Bacaan B.Zee link
Maria @ Lemari Hobby Bukuku link

Submitted for:
Jodi Picoult Reading Challenge here

New Authors Reading Challenge here

Until next time.

20130330-114856.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on August 9, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 7 Comments.

  1. waa, ada link ke tempatku, thank you, hehe.

    gara2 buku ini aku jd ngefans sm Jodi Picoult. so far sih baru baca 3, meski sama2 tema keluarga, konfliknya & alurnya kaya. memang di beberapa bagian spt agak ‘maksa’, tp aku tetep suka, terutama kedalaman risetnya🙂

  2. hihihhi, sama-sama. Biar ikutan bloghop juga yang baca review ini ^^

    pengalaman pertama bersama Jodi, suka banget walau depressing dan suram.

    setuju, risetnya kaya.

  3. sejak baca My Sister’s Keeper saya jadi hgefans sama JP. Sayangnya Gramedia ga lagi menerjemahkan buku beliau. Terakhir baca yg Sing Me Home tentang LGBT

  4. Desty: Buku ini membuatku jatuh cinta pada JP. Langsung ngefans, walau temanya sebenernya agak berat jika dibanding dengan Nicholas Sparks. Sing Me Home aku mau baca. Mau koleksi semua bukunya ^^

  1. Pingback: 15 Day Book Blogging Challenge Day 11: 5 Best Posts | lustandcoffee

  2. Pingback: End of the Year #ReadingCram: Top Ten Books in 2013 | lustandcoffee

  3. Pingback: 12 Tahun Gagasmedia #TerusBergegas @Gagasmedia | lustandcoffee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: