Confessions of a Former Book Snob

20130825-075754.jpg

Lazy Sunday hari ini sama sekali nggak lazy. Entah kenapa, hari ini lagi musim kondangan. Jalur protokol juga agak padat karena ada pawai salah satu ormas. Ditambah dengan dangdutan yang (biasanya) sampai semalam suntuk dari hajatan belakang rumah, membuat gue nggak bisa tidur siang.

Enough with the rants, bahasan kali ini adalah benefits of being a book blogger. Gue hanya mau share beberapa keuntungan sebagai book blogger yang gue rasakan.

1. Networking

Baru beberapa bulan gabung dengan BBI, jaring pertemanan gue sudah sangat meluas hingga ke luar pulau Jawa. Teman gue bertambah, follower blog dan Twitter juga ikut nambah. Selain menjalin hubungan dengan sesama penggila buku, gue berkesempatan untuk mendapat teman baru dari pembaca blog. Selain itu, sedikit demi sedikit gue juga mulai kenal dengan orang-orang dari penerbit yang menawarkan gue untuk mereview buku-buku new release.

2. Freebies

Siapa sih yang nggak suka dapat buku gratisan? Selama gue ngeblog buku, gue sudah banyak banget mendapat buku gratis dari penerbit, menang kuis, juga hadiah dari teman-teman sesama blogger. Kesempatan untuk swap juga terbuka lebar.

3. Writing exercise

Selain mereview dan ngeblog di Lust and Coffee, gue juga belajar menulis fiksi. Memang di blog ini hue tidak menulis cerpen atau FF, namun latihan menulis rutin seperti sekarang ini, misalnya, adalah latihan yang sangat berguna untuk memgasah kemampuan menulis fiksi. Semakin sering menulis, kita jadi tahu kelebihan dan kekurangan kita.

4. Rise to Fame

Tujuan gue menulis blog bukan untuk mencari ketenaran (lebih baik gue melamar ke rumah produksi Multivision untuk main sinetron aja kalau mau ngetop, hehehe). Namun, menjadi reviewer yang dikenal luas mendatangkan keuntungan juga bagi blogger. Seperti Ijul, misalnya. Ia adalah salah satu blogger buku yang populer di Indonesia. Ijul diajak kerjasama oleh salah satu penerbit raksasa untuk memajukan dunia buku. Ia sering diajak untuk menghadiri launching buku, dan banyak lagi.

5. Sponsorship

Gue beberapa kali mendapatkan sponsor berupa buku-buku untuk dijadikan hadiah kuis dari penerbit. Selain bisa ‘megintip’ bukunya untuk diresensi, gue juga senang bisa merancang event berhadiah buku untuk pembaca di Indonesia, karena tujuan gue adalah melestarikan budaya membaca. Sekali kita mendapat ‘sponsor’, maka untuk ke depannya jika kita akan mengadakan event, pihak penerbit tidak akan ragu untuk memberikan sponsor berupa buku.

6. Challenge

Ngeblog buku bukan hanya menulis review. Supaya blog kita terlihat menarik dan banyak dikunjungi, kita harus kreatif. Banyak sekali bookish meme juga reading challenge yang bisa diikuti untuk mengurangi timbunan di rak. Posting artikel tentang segala yang berbau buku juga sangat menarik dan menantang. Misalnya: mewawancarai penulis/editor, sesama blogger, atau menulis pengalaman kita berburu buku ke berbagai pelosok, hingga ke luar negeri.

So, tunggu apa lagi? Untuk kamu yang suka membaca, kita mulai yuk kebiasaan ngeblog buku🙂

Happy Sunday!

20130330-114856.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on August 5, 2013, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. aku gak pernah menjudges seseorang karena bacaan. Kalau menurutku pribadi, genre itu cuma label dari pasar dan penerbit sama seperti manusia dan stereotype. Yang menentukan bagus ngga nya tuh buku yah balik ke buku itu sendiri. Dulu waktu SMU aku juga bacaannya Harlequin tapi bosan trus beralih ke Young Adult. Sekarang lagi coba jadi omni book reader untuk memerkaya bacaaan dan gaya penulisan. Ngga semua buku romance itu cheesy atau trashy, ada historical romance yg ceritanya berbobot walau ngga banyak. Dan soal LOTR, itu fantasy kelas berat, maksudku benar-benar kelas berat karena ngga gampang bacanya. Bahasanya sastra githu dan LOTR itu bacaan wajib mahasiswa Harvard jurusan sastra Inggris. Aku pernah punya LOTR tapi akhirnya aku giveaway karena gak sanggup bacanya. Ngga semua YA itu ceritanya standar, ada juga YA yg bagus macam TFIOSnya John Green. Kalau dicibir karena genre sih belum pernah tapi kalau dicibir karena beli buku melulu sering dan di kehidupan nyataku ngga banyak temanku yg suka buku atau malah mungkin gak ada.

    • Iya, genre ada untuk memudahkan pengkatalogan perpustakaan/toko buku barangkali. Aku juga belum pernah baca LOTR karena takut ga kuat😐

      Balik lagi ke masalah selera, kita nggak bisa ganggu gugat ya. Bebas-bebas aja. Ooh, kalo book hoarder mah jangan ditanya. Aku juga sering kena omel gara-gara beli buku mulu😄

      Sent from my iPad

  2. Danielle Steel bagus-bagus lho bukunya! Aku sukaa.. ahahaha.. Tapi terbatas ke historical fictionnya aja. Kalo yang contemporary-nya, aku akui risetnya bagus, tapi plotnya mirip-mirip dan soap opera banget. hahahayy… Boleh lah dicoba Once in a Lifetime sama Mirror Image. *lha jadi OOT*
    Kalo tentang ngejudge siih.. secara, seleraku bacaan enteng smua, jadi nggak ngejudge pembaca lain. Paling kalo seleranya nggak cocok sama aku blognya ya nggak pernah aku buka. lalalalaaa…

  3. Aku pernah mencibir diri sendiri karena bacaannya non-fiksi terus. Sekarang sudah bertobat. Banyakan beli novel bahkan buku puisi aku beli :p
    Nice post, btw.

  4. Hua.. Aku juga kena karma karena sebelumnya pernah bilang kalau aku bukan pencinta fantasy dan hanya akan menikmati Harry Potter. Ternyata Tolkien menggodaku dengan terlalu kuat.
    Pernah kok punya pengalaman enggak enak soal genre favorit, padahal kan favorit bukan berarti kita enggak baca buku yang lain. Ini seperti makanan. Suka tahu bukan berarti enggak mau makan tempe, kan? Hehe..
    Ebook dan paperback, yah..itu juga masih dalam dilema ya, aku juga enggak suka ebook karena masalah kenyamanan baca tapi ebook itu “ringan” karena cuma perlu bawa gadget.
    At the end, it always about choice. Setiap orang itu unik.
    Tinggal kita aja yang mau beradaptasi dengan “baik” atau “ngotot” :p

  5. Aku juga kena karma Mbak Yuska . Dulu menghindari romance, sekarang g baca romance bisa sakaw, hahahah. Dibilang abnormal gara2 suka genre pararom? Pernah dan yang bilang temen sendiri. Hahaha, kenapa pas itu aku g balas ke dia kalau genre hisrom bikin dia delusional pengen kawin sama bangsawan ya? X)
    Tapi karena aku anak baik, jadi aku diam aja😛
    Ngomong2 masalah book snobbery, grup “itu” kan banyak banget book snobsnya, hehehe

  1. Pingback: 15 Day Book Blogging Challenge Day 11: 5 Best Posts | lustandcoffee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: